• Tidak ada hasil yang ditemukan

Statistik Deskriptif

Dalam dokumen Pengaruh Tindakan Penagihan Pajak Aktif (Halaman 76-85)

METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik Analisis

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), median, standar deviasi,minimum, maksimum dan range. Statistik deskriptif merupakan statistik yang menggambarkan atau mendeskripsikan data menjadi sebuah informasi yang lebih jelas dan mudah untuk dipahami.Dalam deskriptif data penelitian ini terdiri dari :

a. Mean (rata-rata hitung)

Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut. Rumus untuk menghitung mean adalah sebagai berikut :

Keterangan : Me = Mean

∑ = Sigma (Jumlah) Xi = Jumlah individu n = Jumlah sampel b. Median (nilai tengah)

Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai tengah dari kelompok data yang disusun urutannya dari terkecil sampai yang terbesar, atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil (Sugiyono, 2002 : 40). Rumus untuk menghitung median adalah sebagai berikut :

Keterangan : Md = Median

b = Batas bawah, dimana median akan terletak n = Banyaknya data atau jumlah sampel

F = Jumlah semua frekuensi sebelum kelas median f = Frekuensi kelas median

c. Standar Deviasi (Simpangan Baku)

Standar deviasi merupakan simpangan nilai dari data yang telah disusun dalam tabel distribusi frekuensi atau data bergolong. Rumus untuk standar deviasi adalah sebagai berikut :

S =

) 1 (

)

( 1 2

n

X X

Keterangan :

S = Simpangan Baku

X1 = Nilai X ke-1 sampai ke-n X = Rata-rata nilai

N = Jumlah sampel d. Minimum

Minimum adalah nilai yang paling kecil dalam data.

e. Maksimum

Maksimum adalah nilai yang paling besar dalam data.

f. Range

Range adalah selisih antara nilai maksimum dan minimum dalam suatu kelompok nilai.

Rumus :

Keterangan :

Xn = Nilai Maksimum X1= Nilai Minimum 2. Uji Asumsi Klasik

Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data yang merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Bukan berarti dengan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya otomatis hasil data penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini tergantung dari kondisi obyek yang diteliti.

Range = Xn – X1

Penggunaan uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan atas model regresi yang digunakan pada penelitian ini. Tujuan lainnya untuk memastikan bahwa di dalam model regresi yang digunakan mempunyai data yang terdistribusikan secara normal, bebas dari autokorelasi, multikolinieritas serta heterokedistisitas.

Pengukuran asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian inimeliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokolerasi.

a. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2011:160) : ‟‟uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal‟‟. Model regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Menurut Ghozali (2011:160) ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan :

1) Analisis grafik

Menurut Ghozali (2011:163) pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan dengan menggunakan analisi grafik adalah :

a) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal yaitu mengikuti atau mendekati bentuk lonceng, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal yaitu tidak mengikuti atau mendekati bentuk lonceng, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Menurut Ghozali (2011:163): „‟uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati, secara visual kelihatan normal padahal secara statistik bisa sebaliknya‟‟.

Oleh sebab itu untuk menghindari kesalahan yang mungkin terjadi, maka uji normalitas dalam penelitian ini juga akan dilakukan dengan analisis statistik.

2) Uji Kolmogorov-Smirnov

Untuk menentukan uji ini didasarkan kepada Kolmogorov-Smirnov Test terhadap model yang diuji. Menurut Ghozali (2011:32), uji KolmogorovSmirnov dilakukan dengan membuat hipotesis : H0 : Data residual terdistribusi normal, apabila sig. 2-tailed > α = 0.05 Ha : Data residual tidak terdistribusi normal, apabila sig. 2-tailed < α = 0.05

b. Uji Heterokedastisitas

Menurut Ghozali (2011:139) : ”uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain”. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011:139).

Cara yang paling umum yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED.

Menurut Ghozali (2011:139) dasar analisis untuk menentukan ada atau tidaknya heteroskedastisitas dengan scatterplot yaitu :

1) Jika ada pola tertentu ,seperti titik-titik yang membentuk suatu pola tertentu, yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik–titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Analisis dengan Grafik Plots memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah pengamatan, semakin sulit untuk mengintepretasikan hasil grafik plot (Ghozali, 2011:141).

Untuk mengatasi kelemahan dari Grafik Plots tersebut, maka dalam penelitian ini juga akan dilakukan uji statistik untuk menjamin keakuratan hasil pengujian. Uji statistik yang dipilih adalah uji Glejser, dasar pengambilan keputusan uji heteroskedastisitas melalui uji Glejser adalah :

1) Apabila sig. 2-tailed < α = 0.05, maka telah terjadi heteroskedastisitas.

2) Apabila sig. 2-tailed > α = 0.05, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2011:105): „‟uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)‟‟. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkolerasi, maka variabelvariabel ini tidak orgonal. Variabel

orgonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali 2011:105).

Ada beberapa cara yang digunakan untuk mendeteksi multikolonieritas, akan tetapi untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas dalam model regresi dalam penelitian ini dilihat dari tolerance value atau variance inflation factor (VIF). Adapun pemilihan tolerance value atau variance inflation factor (VIF) dalam penelitian ini karena cara ini merupakan cara umum yang dilakukan dan dianggap lebih handal dalam mendeteksi ada- tidaknya multikolonieritas dalam model regresi serta pengujian dengan tolerance value atau variance inflation factor (VIF) lebih lengkap dalam menganalisis data.

Dasar pengambilan keputusan dengan tolerance value atau variance inflation factor (VIF) dapat disimpulkan sebagai berikut :

1) Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

2) Jika nilai tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

d. Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2011:110) “uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya)”. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi, model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali,,2011:110).

Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji Durbin-Watson (DW Test), karena jumlah pengamatan dalam penelitian ini berjumlah dibawah 100 yaitu hanya 95 pengamatan (Ghozali, 2011- 113). Uji autokorelasi dilakukan dengan membuat hipotesis :

H0 : Tidak ada autokorelasi Ha : Ada autokorelasi

Menurut Ghozali (2011:111), pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat melalui tabel berikut :

Tabel 3.3

Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Durbin Watson

Hipotesis Nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No Decision dl ≤ d ≤ du Tidak ada korelasi negative Tolak 4 − dl < d < 4 Tidak ada korelasi negative No Decision 4 − du ≤ d ≤ 4 − dl

Tidak ada korelasi positif atau negatif

Tidak Ditolak du < d < 4 – du

Sumber : Ghozali (2011: 111)

Dalam dokumen Pengaruh Tindakan Penagihan Pajak Aktif (Halaman 76-85)

Dokumen terkait