BAB III METODE PENELITIAN
B. Pembahasan
3. Intervensi Keperawatan
Menurut PPNI (2018) Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan (PPNI, 2019). Tahap perencanaan dapat disebut sebagai inti atau pokok dari proses keperawatan sebab perencanaan merupakan keputusan awal yang memberi arah bagi tujuan yang ingin dicapai, hal yang akan dilakukan, termasuk bagaimana, kapan, dan siapa yang akan melakukan tindakan keperawatan. Dalam penyusunan rencana tindakan keperawatan untuk klien, keluarga dan orang terdekat perlu dilibatkan secara maksmial (Asmadi, 2008). Peneliti telah membuat intervensi keperawatan sesuai dengan buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Menurut buku SIKI, terdapat
empat tindakan dalam intervensi keperawatan yang terdiri dari observasi, teraupetik, edukasi dan kolaborasi.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 1 dengan diagnosa keperawatan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum yaitu observasi : Observasi respirasi rate dan heart rate, teraupetik : Latih nafas dalam dengan cara tiup balon, edukasi : Motivasi pasien banyak minum, edukasi keluarga untuk melatih nafas dalam, kolaborasi : kolaborasi pemberian terapi nebulizer. Pada klien 2 dengan diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum yaitu observasi : Monitor status oksigen pasien, Monitor status respirasi (frekuensi,irama nafas), teraupetik : Auskultasi suara nafas catat jika ada suara nafas tambahan, Atur poisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi, Lakukan fisioterapi dada jika perlu, edukasi : Ajarkan teknik batuk efektif untuk mengeluarkan secret, kolaborasi : Kolaborasi pemberian O2, kolaborasi pemberian terapi nebulizer, kolaborasi pemberian antibiotik. Pada klien 1 belum menggunakan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), sedangkan pada klien 2 sudah menggunakan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) namun belum menggunakan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan nafas menggunakan SIKI dan SLKI yaitu setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan bersihan jalan napas (L.01001) meningkat. Dengan kriteria hasil : Batuk efektif, Produksi sputum menurun, Mengi menurun, Wheezing menurun, Dispnea menurun, Gelisah menurun, Frekuensi napas membaik, Pola napas membaik.
Rencana tindakan dalam diagnose bersihan jalan nafas tidak efektif meliputi observasi : identifikasi kemampuan batuk, Monitor adanya retensi sputum, Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas, Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas), Auskultasi bunyi napas, terapeutik : Atur posisi semi fowler atau fowler, Berikan minum hangat, Lakukan fisioterapi dada, jika perlu, Berikan oksigen, jika perlu, edukasi : Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif, Ajarkan teknik batuk efektif, Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ke- 3 dan kolaborasi : Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik atau ekspektoran, jika perlu.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 1 dengan diagnosa keperawatan ansietas berhubungan dengan krisis situasional yaitu observasi : Monitor tingkat kecemasan pasien, teraupetik : Lakukan terapi bermain pada pasien. Pada klien 2 dengan diagnosa cemas berhubungan dengan lingkungan yang asing yaitu
observasi : Identifikasi tingkat kecemasan, teraupetik : Pertahankan yang sikap tenang dan meyakinkan, Melakukan terapi bermain, edukasi : Jelaskan prosedur dan aktivitas yang akan dilakukan kepada orang tua dan anak, Anjurkan orang terdekat anak untuk tetap bersama anak sesering mungkin.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan ansietas berhubungan dengan krisis situasional menggunakan SIKI dan SLKI yaitu Setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan tingkat ansietas (L.09093) menurun. Dengan kriteria hasil : Perilaku gelisah menurun, Perilaku tegang menurun, Diaforesis menurun, Konsentrasi membaik, Pola tidur membaik, Frekuensi pernapasan dan nadi membaik,Tekanan darah membaik. Rencana tindakan dalam diagnosa ansietas meliputi Observasi : Monitor tanda-tanda ansietas, Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, Monitor respons terhadap terapi relaksasi, teraupetik : Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan, Pahami situasi yang membuat ansietas, Dengarkan dengan penuh perhatian, Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan, Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan, Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama, edukasi : Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, Latih kegiatan pengalihan untuk
mengurangi ketegangan
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 1 dengan diagnosa resiko infeksi dibuktikan dengan tindakan invasif yaitu observasi : Observasi luka tusukan, Monitor TTV, teraupetik : Lakukan dressing infuse, edukasi : Edukasi keluarga pasien untuk mengenali tanda- tanda infeksi, kolaborasi : Kelola pemberian obat antibiotik. Pada klien 2 dengan diagnosa Risiko infeksi behubungan dengan efek prosedur invasive yaitu observasi : Monitor tanda gejala infeksi sistemik dan local, teraupetik : Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan, Batasi pengunjung bila perlu, Lakukan perawatan infus, edukasi : Mengajarkan keluarga tentang tanda gejala infeksi, Ajarkan cara menghindari infeksi, kolaborasi : Kolaborasi pemberian antibiotik.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolus kapiler yaitu observasi : Observasi Tanda tanda vital anak (nadi, repirasi, suhu), Kaji frekuensi, Kedalaman dan kemudahan pernafasan, Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku anak apakah terdapat sianosis, teraupetik : Lakukan dressing infuse, edukasi : Edukasi keluarga pasien untuk mengenali tanda- tanda infeksi, kolaborasi : Kelola pemberian obat antibiotik.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolus kapiler menggunakan SIKI dan SLKI yaitu Setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan pertukaran gas (L.01003) meningkat. Dengan kriteria hasil : Dispnea menurun, Bunyi napas tambahan menurun, Napas cuping hidung menurun, PCO2 membaik, PO2 membaik, Takikardi membaik, Ph arteri membaik. Rencana tindakan dalam diagnosa resiko infeksi meliputi Observasi : Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas, Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot, ataksik), Monitor adanya sumbatan jalan napas, Auskultasi bunyi napas, Monitor saturasi oksigen, Monitor nilai AGD, Monitor hasil x-ray thoraks, Monitor kecepatan aliran oksigen, Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen, Terapeutik : Tetap berikan oksigen saat pasien ditransportasi, Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen, Kolaborasi penggunaan oksigen saat aktivitas dan/atau tidur.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan diagnosa Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas yaitu observasi : Observasi Tanda tanda vital anak (nadi, repirasi, suhu), Kaji frekuensi pernapasan, teraupetik Memberikan posisi semi fowler, kolaborasi : Kolaborasi pemberian Oksigen.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada
intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas menggunakan SIKI dan SLKI Setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan pola napas (L.01004) membaik. Dengan kriteria hasil : Tekanan ekspirasi meningkat, Tekanan inspirasi meningkat, Dispnea menurun, Penggunaan otot bantu napas menurun, Frekuensi napas membaik, Kedalaman napas membaik. Rencana tindakan dalam diagnosa hipertermia meliputi Observasi : Monitor bunyi napas, Monitor sputum, Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas, Monitor kemampuan batuk efektif, Monitor adanya sumbatan jalan napas, Palpasi kesimetrisan ekspansi paru, Monitor saturasi oksigen, Edukasi : Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi, Ajarkan teknik batuk efektif.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan diagnosa Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit yaitu observasi : monitor suhu tubuh sesering mungkin, monitor warna kulit, nadi dan RR, teraupetik : berikan kompres pada lipat paha dan aksila, selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh, kolaborasi : kolaborasi pemberian obat antipiretik untuk menurunkan panas.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada
intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan hipertermia berhubungan dengan proses penyakit menggunakan SIKI dan SLKI yaitu Setelah dilakukan intervensi keperawatan, maka termoregulasi (L.14134) membaik dengan kriteria hasil : Menggigil menurun, Kulit merah menurun, Kejang menurun, Pucat menurun, Takikardi menurun, Takipnea menurun, Bradikardi menurun, Hipoksia menurun, Suhu tubuh membaik, Suhu kulit membaik, Tekanan darah membaik. Rencana tindakan dalam diagnosa hipertermia meliputi Observasi : Identifikasi penyebab hipertermia, Monitor tanda-tanda vital, Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu, Monitor intake dan output cairan, Monitor warna dan suhu kulit, Monitor komplikasi akibat hipertermia, Terapeutik : Sediakan lingkungan yang dingin, Longgarkan atau lepaskan pakaian, Basahi dan kipasi permukaan tubuh, Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat, Berikan cairan oral, Ganti linen setiap hari jika mengalami keringat berlebih, Lakukan pendinginan eksternal (mis. kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila, Edukasi : Anjurkan tirah baring, Anjurkan memperbanyak minum, Kolaborasi : Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu, Kolaborasi pemberisn antibiotik, jika perlu
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan diagnosa defisit pengetahuan berhubungan dengan
kurang terpapar informasi yaitu observasi : Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien mengenai proses penyakit, edukasi : Jelaskan Patofisiologi penyakit dengan cara yang tepat, Gambarkan tanda gejala yang muncul pada penyakit dengan cara yang tepat, Melakukan pendidikan kesehatan, Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi menggunakan SIKI dan SLKI yaitu Setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan tingkat pengetahuan (L.12111) meningkat. Dengan kriteria hasil : Perilaku sesuai anjuran meningkat, Verbalisasi minat dalam belajar meningkat, Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, Kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat. Rencana tindakan dalam diagnosa hipertermia meliputi Observasi : Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat, Teraupetik : Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, Berikan kesempatan untuk bertanya, Edukasi : Jelaskan
faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan resiko defisit nutrisi yaitu observasi : Kaji status nutrisi anak, Kaji adanya alergi makanan atau minuman, Monitor turgor kulit, Monitor muntah pada anak, Monitor pertumbuhan dan perkembangan anak, teraupetik Ukur tinggi/panjang badan dan berat badan anak, kolaborasi : Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit.
Intervensi asuhan keperawatan pada klien yang mengacu pada intervensi yang telah disusun peneliti berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang telah dipilah sesuai kebutuhan klien anak dengan Bronkopneumonia dengan resiko defisit nutrisi menggunakan SIKI dan SLKI yaitu Setelah dilakukan intervensi, maka diharapkan status nutrisi (L.03030)membaik. Dengan kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, Diare menurun, Berat badan membaik, Indeks Massa Tubuh (IMT) membaik, Nafsu makan membaik. Rencana tindakan dalam diagnosa resiko defisit nutrisi meliputi Observasi : Identifikasi status nutrisi, Monitor asupan makanan, Monitor berat badan, Terapeutik : Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi, Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein, Berikan suplemen makanan, jika perlu, Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi, Berikan makanan sesuai keinginan, jika
memungkinkan, Edukasi : Anjurkan orang tua atau keluarga membantu memberi makan kepada pasien, Kolaborasi : Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu, Kolaborasi pemberian antiemetil sebelum makan, jika perlu.
Intervensi asuhan keperawatan yang akan dilakukan oleh peneliti pada klien 2 dengan resiko jatuh dibuktikan dengan usia kurang dari sama dengan 2 tahun yaitu observasi : Mengidentifikasi perilaku dan factor yang mempengaruhi risiko jatuh, Mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan potensi untuk jatuh, teraupetik Memasang pagar pengaman tempat tidur, Merendahkan tempat tidur, edukasi : Jelaskan kepada keluarga pasien tentang factor risiko yang memicu jatuh (PPNI, 2018).