BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Konsep Keperawatan Anak
6. Konsep Hospitalisasi
Hospitalisasi adalah pengalaman penuh cemas baik bagi anak maupun keluarganya. Kecemasan utama yang dialami dapat berupa perpisahan dengan keluarga, kehilangan kontrol, lingkungan yang asing, kehilangan kemandirian dan kebebasan. Reaksi anak dapat dipengaruhi oleh perkembangan usia anak, pengalaman terhadap sakit, diagnosa penyakit, sistem dukungan dan koping terhadap cemas (Nursalam, 2013).
b. Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi dalam waktu lama dengan lingkungan yang tidak
efisien teridentifikasi dapat mengakibatkan perubahan perkembangan emosional dan intelektual anak. Anak yang biasanya mendapatkan perawatan yang kurang baik selama dirawat, tidak hanya memiliki perkembangan dan pertumbuhan fisik yang kurang optimal, melainkan pula mengalami gangguan hebat terhadap status psikologis. Anak masih punya keterbatasan kemampuan untuk mengungkapkan suatu keinginan.
Gangguan tersebut dapat diminimalkan dengan peran orang tua melalui pemberian rasa kasih sayang.
Pada saat hospitalisasi anak akan mengalami stres karena lingkungan yang asing bagi anak. Stres yang di alami anak akan menimbulkan banyak reaksi misalnya terhadap penyakit atau masalah diri anak pra sekolah seperti perpisahan, tidak mengenal lingkungan, hilangnya kasih sayang, body image maka akan beraksi seperti regresi yaitu hilangnya kontrol, displacement, agresi (menyangkal), menarik diri, tingkah laku protes, serta lebih antaranya mengalami ketakutan saat petugas kesehatan akan melakukan perawatan pada anak (Wahyuni, 2016). Anak-anak dapat bereaksi terhadap stress hospitalisasi sebelum mereka masuk, selama hospitalisasi dan setelah pemulangan. Konsep sakit yang dimiliki anak bahkan lebih penting dibandingkan usia dan kematangan intelektual dalam memperkirakan tingkat kecemasan sebelum hospitalisasi (Utami, 2014). Berikut ini adalah dampak hospitalisasi terhadap anak usia prasekolah menurut (Nursalam, 2013), sebagai berikut :
1) Cemas disebabkan perpisahan
Sebagian besar kecemasan yang terjadi pada anak pertengahan sampai anak periode prasekolah khususnya anak berumur 6-30 bulan adalah cemas karena perpisahan. Hubungan anak dengan ibu sangat dekat sehingga perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan terhadap orang yang terdekat bagi diri anak. Selain itu, lingkungan yang belum dikenal akan mengakibatkan perasaan tidak aman dan rasa cemas.
2) Kehilangan kontrol
Anak yang mengalami hospitalisasi biasanya kehilangan kontrol. Hal ini terihat jelas dalam perilaku anak dalam hal kemampuan motorik, bermain, melakukan hubungan interpersonal, melakukan aktivitas hidup sehari-hari activity daily living (ADL), dan komunikasi. Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak akan kehilangan kebebasan pandangan ego dalam mengembangkan otonominya. Ketergantungan merupakan karakteristik anak dari peran terhadap sakit. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan cara negatif, anak akan menjadi cepat marah dan agresif. Jika terjadi ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronis), maka anak akan kehilangan otonominya dan pada akhirnya akan menarik diri dari hubungan interpersonal.
3) Luka pada tubuh dan rasa sakit (rasa nyeri)
Konsep tentang citra tubuh, khususnya pengertian body
boundaries (perlindungan tubuh), pada kanak-kanak sedikit sekali berkembang. Berdasarkan hasil pengamatan, bila dilakukan pemeriksaan telinga, mulut atau suhu pada rektal akan membuat anak sangat cemas. Reaksi anak terhadap tindakan yang tidak menyakitkan sama seperti tindakan yang sangat menyakitkan. Anak akan bereaksi terhadap rasa nyeri dengan menangis, mengatupkan gigi, menggigit bibir, menendang, memukul atau berlari keluar.
4) Dampak negatif dari hospitalisasi lainya pada usia anak prasekolah adalah gangguan fisik, psikis, sosial dan adaptasi terhadap lingkungan
64 A. Pendekatan (Desain Penelitian)
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dalam bentuk review kasus untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada klien anak dengan bronkopneumonia. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi identifikasi data hasil pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
B. Subyek Penelitian
Pada penelitian ini, subyeknya ialah 2 klien anak yang dirawat di rumah sakit. Kriteria untuk sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Subyek anak terdiri dari 2 orang anak baik laki-laki maupun perempuan 2. Anak dengan diagnosa medis bronkopneumonia
3. Anak yang berusia 1 bulan sampai dengan 14 tahun
C. Batasan Istilah (Definisi Operasional)
Menurut Sugiyono (2015) definisi operasional adalah suatu sifat atau nilai dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Definisi Operasional pada studi kasus ini adalah : 1. Bronkopneumonia
Bronkopneumonia adalah istilah medis yang digunakan untuk menyatakan peradangan yang terjadi pada dinding bronkiolus dan jaringan
paru di sekitarnya yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing. Penyakit ini sering menyerang anak karena anak belum dapat membentuk kekebalan tubuh sendiri. Pada kasus ini untuk menentukan bronkopneumonia adalah berdasarkan diagnosa medis dan laporan medik yang dapat diketahui dalam catatan rekam medik pasien.
2. Asuhan Keperawatan Anak dengan Bronkopneumonia
Asuhan Keperawatan anak dengan bronkopneumonia merupakan suatu proses tindakan keperawatan yang diberikan secara langsung kepada pasien anak yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi untuk mengatasi masalah anak dengan bronkopneumonia.
D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian pada kasus ini yaitu klien 1 di RSUD Wonosari Gunung Kidul dan klien 2 di RSUD Samarinda Medika Citra. Waktu penelitian pada klien 1 yaitu 30 Maret – 1 April 2018 dan klien 2 yaitu 9 Mei – 11 Mei 2019.
E. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini berupa studi kasus dengan metode case riview melalui tahap sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengidentifikasi laporan asuhan keperawatan terdahulu maupun melalui media internet.
2. Mahasiswa melapor ke pembimbing untuk konsultasi mengenai kasus yang telah diperoleh.
3. Setelah disetujui oleh pembimbing, kemudian membuat review kasus dari kedua klien.
F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
Adapun cara pengumpulan data yang akan digunakan pada penyusunan karya ilmiah ini, antara lain :
a. Wawancara
Wawancara yaitu hasil anamnesis berisi tentang identitas klien, keluhan utama, riwayat peyakit sekarang-dahulu-keluarga dan lain-lain. Sumber data dari klien, keluarga atau rekam medik.
b. Observasi dan pemeriksaan fisik
Observasi yang dapat dilakukan dari hasil laboratorium. Pemeriksaan fisik dengan menggunakan teknik : inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi pada tubuh klien.
c. Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan data yang didapatkan dari pemeriksaan diagnostik.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Alat atau instrument pengumpulan data menggunakan format pengkajian Asuhan Keperawatan Anak sesuai yang digunakan oleh literature.
G. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data dimaksudkan untuk membuktikan kualitas data atau informasi yang diperoleh dalam penelitian sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Penelitian ini keabsahan dan ditujukan dengan integritas peneliti dalam melakukan asuhan keperawatan dan menggali sumber informasi dari klien dan keluarga yaitu menggunakan integritas peneliti (karena peneliti menjadi instrument utama), keabsahan data dilakukan dengan memperpanjang waktu pengamatan atau tindakan, sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi dari tiga sumber data utama yaitu klien, perawat, dan keluarga klien yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
H. Analisis Data
Pada studi kasus, analisis data diolah menggunakan aturan-aturan yang disesuaikan dengan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan. Dalam analis data, data yang dikumpulkan dikaitkan dengan konsep, teori, prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah keperawatan.
Cara analisis data :
1. Validasi data, teliti kembali data yang telah terkumpul.
2. Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan bio-psoko-sosiospiritual.
3. Membandingkan data-data hasil pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi yang abnormal dengan konsep teori antara 2 responden.
4. Membuat kesimpulan tentang kesenjangan (masalah keperawatan) yang ditemukan.
68
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian tentang asuhan keperawatan anak dengan Bronkopneumonia dalam bentuk Review kasus.
Pengambilan data dilakukan dengan mengambil hasil laporan askep dari media internet dengan jumlah sampel 2 klien. Klien 1 diambil dari penelitian Mulyani (2018) dengan judul Penerapan Teknik Nafas Dalam Pada Anak Balita Dengan Bronkopneumonia Di RSUD Wonosari Kabupaten Gunungkidul. Klien 2 diambil dari penelitian Chairunisa (2019) dengan judul Karya Tulis Ilmiah Asuhan Keperawatan Anak Dengan Bronkopneumoniia di Rumah Sakit Umum Samarinda Medika Citra.
Adapun hasil penelitian diuraikan sebagai berikut : A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian klien 1 dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari yang terletak di kabupaten Gunungkidul. RSUD Wonosari terletak di jalan Taman Bhakti no 06, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta (555812). RSUD Wonosari memiliki banyak ruangan, salah satunya yaitu bangsal Dahlia. Bangsal Dahlia merupakan bangsal khusus untuk anak-anak. Bangsal Dahlia dibagi menjadi 2 yaitu Dahlia 1 khusus untuk penyakit yang infeksius dan Dahlia 2 untuk penyakit non infeksius.
Di bangsal Dahlia 1 terdapat 20 tempat tidur dan 2 tempat tidur untuk ruang isolasi (Mulyani, 2018).
Lokasi penelitian klien 2 dilakukan di RS Samarinda Medika Citra yang terletak di Jalan Kadrie Oening No.86 RT.35 Air Putih Samarinda Ulu Kota Samarinda Kalimantan Timur. RS Samarinda Medika Citra adalah Rumah Sakit milik Perusahaan korporasi yang bersifat RSU, diurus oleh PT. Pandan Harum perusahaan dan tercatat ke dalam RS tipe C.
Rumah Sakit ini teah teregistrasi mulai 12 Juli 2013 dengan Nomor Surat Ijin 503/RS-002/DKK/VI/2013 dan tanggal surat ijin 16 April 2014 dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda dengan sifat tetap, dan berlaku sampai 2019. Setelah menjalani akreditasi Rumah Sakit seluruh Indonesia dengan proses penahapan I akhirnya ditetapkan surat lulus akreditasi rumah sakit (Chairunisa, 2019).
2. Hasil Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Bronkopneumonia a. Pengkajian
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Identitas Klien Anak dengan Bronkopneumonia
Identitas Klien Klien 1 Klien 2
Nama An. A An. I
Nomor Registrasi 63.40.xx 00.19.05.xx
Tanggal Lahir/Umur 01 Juni 2015 (3 tahun) 11 Januari 2017 (2 tahun)
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
Nama
Ayah
Ibu
Tidak ada data Ny. S
Tn. I Ny. A Umur
Ayah
Ibu
Tidak ada data Tidak ada data Pekerjaan
Ayah
Ibu
Tidak ada data Buruh
Wiraswasta IRT Pendidikan
Ayah
Ibu
Tidak ada data SMP
SMP SD
Alamat Karangmojo, Gunungkidul Jl. Muara Badak Darma
Gabar Toko 5
No. Telp/HP Tidak ada data Tidak ada data
Agama Tidak ada data Islam
Suku/Bangsa
Ayah
Ibu
Tidak ada data Jawa
Bugis Bugis Masuk RS Tanggal 29 Maret 2018 8 Mei 2019 Tanggal Pengkajian 29 Maret 2018 9 Mei 2019
Di Rawat di ruangan Ruang Dahlia Ruang Perawatan Anak Keluhan Utama Ibu mengatakan anaknya
batuk berdahak
Orang tua mengatakan anaknya batuk berdahak Riwayat Penyakit
Sekarang
Ibu pasien mengatakan bahwa pasien mengalami batuk berdahak dan demam selama 2 hari.
Orang tua pasien mengatakan anaknya batuk-batuk ± 3hari, demam dan kesulitan bernafas kemuadian anak dibawa ke klinik BOHC dan mendapatkan tindakan pemeriksaan laboratorium,pemasangan O2, fisioterapi dada, dan terapi obat : antrain 2mg, ranitidine ¼ amp, cefotaxime 250mg, gentamicin 20 mg, nebu combiven kemudian anak dirujuk ke RS SMC pada tanggal 8 mei 2019. Ibu mengatakan dirumah megguanakan obat nyamuk bakar.
Masa Prenatal Ibu pasien mengatakan tidak terdapat komplikasi saat kehamilan
Ibu mengatakan hamil Anak I selama 39 minggu dan Anak I merupakan anak ke 3
Natal Tidak ada data Ibu mengatakan selama
hamil, Anak I tidak ada keluhan kesehatan Post Natal Ibu pasien mengatakan
Persalinan normal dibantu oleh bidan. BB : 3000 gr, PB : 57 cm. Asi ekslusif selama 6 bulan
Ibu mengatakan
melahirkan Anak I secara Normal dengan Berat 3300 gram
Masa Neonatal Tidak ada data Tidak ada data Riwayat Masa
Lampau
Tidak ada data Ibu pasien mengatakan anaknya belum pernah dirawat dirumah sakit.
Pasien tidak ada riwayat alergi, penyakit menular/
kronik, penggunaan obat, dan operasi riwayat
imunisasi tidak lengkap.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit menular atau pun menurun.
Ibu pasien mengatakan memiliki penyakit asma Riwayat Sosial Ayah pasien yang mencari
nafkah. Keluarga sering bersosialisasi dengan tetangga seperti saat gotong royong, rasulan, arisan dan pengajian
Orang tua Anak I mengatakan anak sering meniru kegiatan yang dilakukan ibunya
misalnya menyapu lantai
Pemeriksaan DDST (Pemeriksaan tumbuh kembang tidak dapat dilakukan karena anak sedang sakit.
Informasi yang diberikan diperoleh dari orangtua)
Pasien sudah dapat mencuci tangan dan mengeringkan sendiri, menyebut nama teman, memakai kaos ,mengambil makanan, gosok gigi tanpa bantuan, dan bermain ular tangga.
Namun belum bisa berpakaian tanpa bantuan.
Pasien dapat berdiri 1 kaki 1 detik, berdiri 1 kaki 2 detik, berdiri 1 kaki 3 detik, loncat jauh, melempar bola tangan ke atas. Pasien dapat berbicara sebagian
dimengerti, menyebut 4 warna, mengetahui 2 kegiatan, menanyakan 2 kata sifat, menyebut 1 warna, kegunaan 2 benda, menghitung kubus, kegunaan 3 benda, mengetahui 34 kegiatan, berbicara semua dimengerti, mengerti kata depan, mmengetahui 3 kata sifat Pasien dapat meniru garis vertikal, menyusun menara dari 8 kubus,
menggoyangkan ibu jari, memilih garis yang lebih panjang, menggambar O, dan mencontoh +
Orang tua Anak I mengatakan anak sering meniru kegiatan yang dilakukan ibunya misalnya menyapu lantai. Anak I dapat menendang bola kecil tanpa berpegangan pada benda apapun. Anak I mampu mengucapkan kata kakek, nenek, dan paman.
Anak I dapat melepaskan celananya secara mandiri
Lain-lain Tidak ada data Ibu klien mengatakan di rumah menggunakan obat nyamuk bakar
Sumber : Mulyani (2018) & Chairunisa (2019)
Berdasarkan hasil tabel pengkajian 4.1 diatas didapatkan beberapa data kesenjangan pada pengkajian yaitu klien 1 yaitu saat dilakukan pengambilan data berusia 3 tahun sedangkan saat dilakukan pengambilan data klien 2 berusia 2 tahun. Perbedaan juga terdapat pada suku kedua orang tua pasien, pada klien 1 orang tua bersuku Jawa, sedangkan pada klien 2 orang tua bersuku bugis. Pada klien 1 keluhan utama batuk berdahak, demam, dan sesak sedangkan klien 2 batuk berdahak, demam, sesak nafas, tidak nafsu makan, dan menangis saat melihat perawat/orang asing. Kedua klien memiliki keluhan awal masuk yaitu batuk berdahak. Pada riwayat penyakit keluarga, klien 1 tidak memiliki penyakit keturunan, sedangkan pada klien 2 ibu klien memiliki riwayat penyakit asma.
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fisik Klien Anak dengan Bronkopneumonia
Pemeriksaan Umum Klien 1 Klien 2
Keadaan Umum KU:Sedang KU: Sedang
Kesadaran Kes: Composmentis (GCS:
E4M6V5)
Kes: Composmentis (GCS:
E4M6V5) Tanda-tanda vital S : 35,5 ℃
N : 100x/menit RR : 42X/Menit
S : 38,1℃
N :106x/menit.
RR : 43x/menit Status Gizi Ibu pasien mengatakan
pasien makan 3xsehari dengan porsi nasi lauk sayur, terkadang makan buah. Diit dari rumah sakit dihabiskan meskipun sedikit demi sedikit.
Ibu mengatakan anak I makan 1- 2x sehari dengan jenis makanan seperti nasi, lauk pauk, sayur.
Ibu mengatakan tidak ada pantangan dan alergi makanan anak I menyukai nugget. Untuk minuman ibu mengatakan anak I masih minum ASI , air putih, teh.
Ibu mengatakan sejak sakit anak tidak nafsu makan hanya makan 1-2 sendok.
Pemeriksaan Fisik
1) Kepala Kepala : Kepala simetris Telinga :
Telinga tidak terdapat kotoran telinga, tidak terdapat
Kepala :
Muka Simetris, rambut berwarna hitam dan sulit dicabut, ubun ubun besar menutup
gangguan pendengaran.
Mata:
Konjungitva tidak anemis Hidung :
Terdapat pernafasan cuping hidung
Rongga Mulut dan Lidah : pernafasan menggunakan mulut dan hidung, mukosa bibir baik
Telinga :
Telinga tidak terdapat serumen, bersih Mata:
Sklera putih, tidak cekung, pupil isokor, refleks cahaya (+), konjungtiva tidak anemis
Hidung :
Tidak terdapat rinorea, terdapat pernafasan cuping hidung
Rongga Mulut dan Lidah : Bibir tidak kering, tidak pucat, Lidah tidak tremor /kotor, gigi tidak
mengalami caries, ukuran tonsil normal
2) Leher Tidak terdapat pembesaran kelenjar
Kelenjar getah bening teraba, tiroid tidak teraba, posisi trakea letak ditengah tidak ada kelainan
3) Dada Inspeksi :
tidak terdapat retraksi dada, terlihat penggunaan otot- otot pernafasan tambahan.
Palpasi :
tidak terdapat massa, dan tidak terdapat nyeri tekan.
Perkusi :
tidak terdapat pembesaran jantung
Auskultasi :
terdengar suara ronchi, terdengar suara grok-grok
Keluhan :
Anak I mengalami sesak nafas, dan batuk berdahak Inspeksi :
Bentuk dada simetris, frekuensi nafas 42 kali/menit, irama nafas tidak teratur cepat dan dangkal, terdapat cuping hidung saat bernafas, terdapat penggunaan otot bantu nafas, anak I menggunakan alat bantu nafas, nassal kanul 2 lpm
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan, getaran lemah pada kedua paru Perkusi :
Redup pada kedua paru Auskultasi :
Suara nafas ronki
4) Jantung Tidak ada kelainan Inspeksi
- Tidak terlihat adanya pulsasi iktus kordis - CRT < 2 detik - Tidak ada sianosis Palpasi
- Ictus Kordis teraba di ICS 5 - Akral Hangat
Perkusi
- Batas atas : ICS II line sternal dekstra
- Batas bawah : ICS V line midclavicula sinistra
- Batas kanan : ICS III line sternal dekstra
- Batas kiri : ICS III line sternal sinistra
Auskultasi
- BJ II Aorta : Dub, reguler dan intensitas kuat - BJ II Pulmonal : Dub, reguler dan intensitas kuat - BJ I Trikuspid : Lub, reguler dan intensitas kuat - BJ I Mitral : Lub, reguler dan intensitas kuat - Tidak ada bunyi jantung tambahan Tidak ada kelainan 5) Punggung Tidak ada data Tidak ada data 6) Perut bising usus 2x/ menit,
terdapat massa di perut bagian kiri bawah , tidak terdapat nyeri tekan.
Inspeksi :
Bentuk perut datar, mengikuti gerak saat bernafas, tidak terdapat bekas luka operasi Auskultasi
Peristaltik usus 6 x/menit Palpasi :
Tidak terdapat massa ataupun juga tumor, nyeri tekan tidak ada
Perkusi
Timpani, tidak ada nyeri ketuk ginjal
7) Genetalia Kebersihan genetalia bersih, tidak ada lesi
Anak I Kebersihan genetalia bersih, tidak mengalami kelainan pada alat kelamin 8) Anus dan
Rektum
Anus bersih Tidak ada kelainan pada anus
9) Ekstermitas tidak terdapat kelemahan otot Anak I Pergerakan sendi bebas, tidak ada kelainan ekstermitas, tidak ada kelainan tulang belakang, kulit normal, turgor kulit baik, Kekuatan otot : 5 5
5 5 Sumber : Mulyani (2018) & Chairunisa (2019)
Berdasarkan hasil tabel 4.2 pengkajian keadaan umum ditemukan data bahwa pada klien 1 respirasi 42x/menit(sesak), sedangkan pada klien 2 respirasi 43x/menit(sesak) dan suhu 38,1(febris). Terdapat
pernafasan cuping hidung, terdapat penggunaan otot bantu pernafasan dan terdengar suara ronchi pada saat auskultasi thoraks pada kedua klien.
Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Penunjang Klien Anak dengan Bronkopneumonia
Pemeriksaan penunjang Klien 1 Klien 2
Laboratorium Pemeriksaan lab darah lengkap tanggal 29/03/2018
1. Hemoglobin 12,3 g/dl 2. Leukosit 7500 10³/ul 3. Eosinofil 0%
4. Basophil 1%
5. Stafilokokus 3%
6. Seg 41%
7. Limphosit 4%
8. Monosit 8%
9. Trombosit 341000 10.Hematokrit 35%
Pemeriksaan lab darah Lengkap : 07 Mei 2019 1. Leukosit 6400 103/ul 2.Trombosit 337.000 10’6/ul
3. Hemoglobin 9,0 g/dl 4. Hematokrit 29,1 %
Rontgen Foto Rontgen Thorax
tanggal 29 Maret 2018 Kesan : Bronchitis dd Bronchopnumonia Cor Normal
Foto Rontgen Thoraks AP/PA Tanggal 08/05/2019
- Result : sinus, diagfragma dan cor normal
- Pulmo : perselubungan pada para cardial perihiler, terutama dextra
- Kesan : Bronkopneumonia Sumber : Mulyani (2018) & Chairunisa (2019)
Berdasarkan tabel 4.3 diatas hasil pemeriksaan penunjang laboratorium darah lengkap terdapat penurunan hasil pada klien 1 hemoglobin :12,3 gr/dl (normal), leukosit: 7500 (normal), hematokrit:
35%, sedangkan klien 2 hemoglobin: 9 gr/dl, leukosit : 6400 (normal), hematokrit :29,1 %. Hasil rontgen kedua klien terdapat kesan bronkopneumonia.
Tabel 4.4 Skala Resiko Jatuh Humpty Dumpty Klien dengan Bronkopneumonia
Penggunaan Medikamentosa
Penggunaan multiple : sedatif, obat hipnosis, barbiturat, fenotiazin, anti depresan, pencahar,
diuretik, narkose
3
Tidak ada data
- Penggunaan salah satu obat diatas 2
Penggunaan medikasi lainnya/tidak ada
Medikasi 1
Jumlah Skor Humpty Dumpty - 12
Sumber : Mulyani (2018) & Chairunisa (2019)
No Parameter Kriteria Nilai Anak 1
(Skor)
Anak 2 (Skor) 38
Usia
< 3 Tahun 4
Tidak ada data
4
3-7 Tahun 3
7-13 Tahun 2
≥ 13 Tahun 1
Jenis Kelamin Laki-Laki 2
Tidak ada data
1
Perempuan 1
Diagnosis
Diagnosa Neurologi 4
Tidak ada data
3 Perubahan Oksigenasi (Diagnosis
respiratorik,
dehidrasi, anemia, anoreksia, sinkop, pusing, dsb)
3
Gangguan Perilaku /Psikiatri 2
Diagnosis Lainnya 1
Gangguang Kognitif
Tidak menyadari keterbatasan dirinya 3
Tidak ada data
1 Lupa akan adanya keterbatasan 2
Orientasi baik terhadap diri sendiri 1
Faktor Lingkungan
Riwayat Jatuh/bayi diletakkan di tempet tidur
Dewasa 4
Tidak ada data
3 Pasien menggunakan alat bantu/ bayi
diletakkan dalam tempat tidru bayi/perabot rumah
3 Pasien diletakkan di tempat tidur 2
Area diluar rumah sakit 1
Pembedahan/Sedasi/Ane stesi
Dalam 24 jam 3
Tidak ada data
-
Dalam 48 jam 2
> 48 jam atau tidak menjalani
pembedahan/sedasi/anestesi 1
Berdasarkan tabel 4.4 diatas hasil skala resiko jatuh Humpty Dumpty pasien anak pada klien 1 tidak dilakukan penilaian resiko jatuh, sedangkan pada klien 2 setelah dilakukan penilaian didapatkan hasil skor berjumlah 12 dimana termasuk golongan resiko jatuh tinggi.
Tabel 4.5 Penatalaksanaan Terapi Pasien Anak dengan Bronkopneumonia
Penatalaksanaa Terapi
Anak 1 Anak 2
Ceftriaxone 1x425 mg Dexametasone (IV) 3x 1/2 ampul
Inf KAEN 3A 20 tpm (mikro) Paracetamol (PO) 3x 1 ctm
Salbutamol 0,8 mg + Ambroxol ¼ tab (3x1 pulv)
Sanpicilin (IV) 4x 300mg Alco DMP (PO) 3x1/2 ctm IVFD D5 1/2 10 tpm
Nebul Ventoline Nacl 2,5 cc/6 J
Sumber : Mulyani (2018) & Chairunisa (2019)
Berdasarkan hasil tabel 4.5 penatalaksanaan terapi klien 1 mendapatkan terapi ceftriaxone (antibiotik), infus KAEN, salbutamol (selective beta-2-adregenergic agonists), ambroxol (mukolitik), ventoline (selective beta-2-adregenergic agonists). Sedangkan pada klien 2 mendapatkan terapi dexametasone (kortikosteroid), paracetamol (analgesik), sanpicilin (antibiotik), Alco DMP (simpamomimetik)
b. Diagnosa Keperawatan
Tabel 4.6 Daftar Diagnosa Keperawatan Pasien Anak dengan Bronkopneumonia
No
Anak 1 Anak 2
Tanggal ditemukan
Diagnosa Kep Tanggal
ditemukan
Diagnosa Kep 1 30/03/2018 Bersihan jalan nafas tidak
efektif
09/ 05 /2019 (D.0001) Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan produksi sputum DS :
DS:
Ibu pasien mengatakan pasien batuk selama 2 hari, demam saat malam hari dan sesak nafas
DO:
Terdengar suara ronkhi RR : 42x/menit Terdapat penggunaan otot-otot pernafasan
Ibu An.I mengatakan anaknya batuk berdahak
Ibu mengatakan anaknya masih sesak
DO :
Suara nafas ronki pada kedua lapang paru
Pernafasan cepat dan dangkal
Anak tidak mampu mengeluarkan dahaknya secara mandiri
Otot bantu pernafasan dada
Terdapat cuping hidung
Frekuensi nafas 42x/i 2 30/03/2018 Resiko infeksi
DS: -
DO: Terpasang infuse KAEN 20 tpm di tangan sebelah kiri
09/ 05/2019 (D.0003) Gangguan pertukaran gas b.d membrane alveolus kapiler DS :
Ibu mengatakan anak I kesulitan bernafas DO :
terdengar bunyi nafas tambahan (ronkhi) pada kedua lapang paru
terdapat pernafasan cuping hidung
pola nafas cepat dan dangkal
kesadaran composmentis (E4V5M6)
warna kulit kemerahan