BAB II KAJIAN PUSTAKA
H. Jadwal Penelitian
Pelaksanaan kegiatan penelitian direncanakan dengan jadwal sebagai berikut :
41
No Jenis Kegiatan
Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Penyusunan Proposal Penelitian 2 Konsultasi Proposal Penelitian 3 Seminar Proposal Penelitian 4 Malaksanakan Penelitian 5 Interpretasi Dan Analisis Data 6 Penulisan Skripsi
7 Bimbingan Dan Konsultasi Skripsi 8 Penyajian Ujian Skripsi
42 A. Deskripsi Wilayah Penelitian
1. Sejarah singkat Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Somba Opu
Sekolah ini pada awalnya pecahan dari Sekolah Menengah Kejuruan Industri (SMKI) Negeri Ujung Pandang. Pada tahun 1984 pihak Direktorat Pendidikan Seni dan Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendirikan sekolah yang berkiprah dalam bidang kerajinan yang selanjutnya disebut Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK) Somba Opu dan pada tahun yang sama sekolah tersebut menerima siswa sebanyak 26 siswa pada jurusan kerajinan kayu. Seiring dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan penduduk, jurusan ini semakin bertambah terus sesuai dengan tuntutan industry dan tuntutan masyarakat sehingga sekolah ini mulai merekrut banyak siswa tapi masih sangat terbatas karena belum memiliki gedung. Sekolah ini masih bekerjasama dengan SMKI kepanjangan dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia yang sekarang sudah menjadi SMKN 1 dan sekolah ini menjadi SMKN 2.
Dalam perkembangannya, jurusan ini terus bertambah diantaranya kerajinan kayu yang pertama, kemudian kerajinan keramik, kerajinan batik, dan kerajinan logam 4 pilar utama yang menjadi dasar sekolah ini. Karena semakin besarnya tuntutan industri, sehingga ditahun 1995 jurusan batik ini dirubah menjadi jurusan tekstil dan bertambah terus sampai ada yang
43
namanya ree engenering yaitu teknik rekayasa yang melihat penggunaan pasar yang besar itu sepert apa, sehingga sekolah ini mengadakan panitia keci-kecilan dan ternyata Sulawesi Selatan membutuhkan bukan saja kerajinan tapi juga teknologi maka dicantumkanlah teknik las (pengelasan), teknik kendaraan ringan (otomotif) kemudian desain komunikasi visual sehingga menjadi 9 jurusan yang dari awalnya hanya 1 jurusan dengan jumlah siswa sekarang sekitar 1200-an siswa.
Sekolah ini berprestasi, baik dari prestasi siswa, prestasi guru sampai ke tingkat nasional yang dicatat oleh piala dan dengan prestasi itu pada tahun 2005 sekolah ini dipercaya menjadi sekolah rintisan berstandar internasional karna sampai sekarang masih bekerjasama dengan luar negeri yang lumayan bagus dimana siswa melakukan praktikum industry di kuala lumpur.
Susunan Pemerintahan SMKN 2 Sommba Opu dari awal sampai saat ini adalah :
1) Drs. H. Ahmad Tona (1984-1995)
2) Drs. H. Abdul Rajab Ramlan (1995-1996) 3) Drs Abd Rais R, M.M (1995-2000)
4) Dra. Yayu Wahyuni Yuritman, M.Si (2000-Sekarang)
Penelitian ini berlokasi di Jalan Mesjid Raya Sungguminasa Kabupaten Gowa. Lokasi penelitian yang dimaksud adalah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Somba Opu Kecamatan Somba Opu Kabupaten dengan luas wilayah 2 hektar.
2. Visi dan Misi Sekolah Visi :
Menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan yang terpercaya, terkemuka serta berwawasan lingkungan untuk menghasilkan SDM yang bertaqwa dan professional
Misi :
1. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kejuruan sesuai karakter wilayah
2. Meningkatkan kerjasama dengan dunia usaha dan industry, instansi, lembaga terkait dan partisipasi masyarakat
3. Meningkatkan kesadaran budaya dan peduli lingkungan 4. Berkontribusi pada pengembangan karakter budaya local Tujuan :
1. Menanamkan Kepada Warga Sekolah Nilai-Nilai Religious Berbasis Iman Dan Taqwa
2. Mengadopsi nilai-nilai budaya local bugis-makassar dan Sulawesi selatan pada umumnya dalam melaksanakan pedidikan dan pelatihan kejuruan
3. Meningkatkan kompetensi kejuruan peserta didik sehingga mampu bersaing dalam dunia kerja
4. Menyelenggarakan pendidikan berbasis industry dan IT
45
5. Meningkatkan dan mempererat jalinan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industry, baik domestic maupun mancanegara, serta menjalin kemitraan dengan lembaga pemerhati lingkungan
6. Menanamkan nilai-nilai kebersamaan antara warga sekolah dan orang tua siswa dalam hal kebersihan, keindahan, dan kerindangan lingkungan sekolah
7. Terbentuknya satuan tugas (task-force) dalam penanganan limbah praktik pada masing-masing bengkel
8. Kesadaran berbudaya dan peduli lingkungan di sekolah menjadi komitmen seluruh warga sekolah dalam melaksanakan tugas baik kegiatan belajar mengajar maupun tugas pendukung lainnya
9. Membumikan istilah “TANGKASA, tangan kita ambil sampah”
dalam lingkungan SMKN 2 Somba Opu 3. Keadaan Pendidik
Pendidik Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Somba Opu (SMKN) pada Tahun pelajaran 2014/2015 berjumlah 45 guru (terlampir).
4. Keadaan Siswa
Jumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Somba Opu (SMKN) pada Tahun pelajaran 2014/2015 sebanyak 1.228 siswa (terlampir).
B. Proses Terbentuknya Solidaritas Terhadap Perilaku Tawuran Siswa Di Kabupaten Gowa
Rasa kebersamaan dalam suatu kelompok tertentu yang menyangkut tentang kesetiakawanan dalam mencapai tujuan dan keinginan yang sama yang dinamakan solidaritas. Wacana solidaritas bersifat kemanusiaan dan mengandung nilai adiluhung (mulia/tinggi), tidaklah aneh kalau solidaritas ini merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Memang mudah mengucapkan kata solidaritas tetapi kenyataannya dalam kehidupan manusia sangat jauh sekali seperti yang terjadi Kabupaten Gowa sebagaimana menurut wakil kepala sekolah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Somba bahwa :
membentuk solidaritas antar siswa sangat di butuhkan saat ini dan tentunya kami mengaharapkan bantuan seluruh wali kelas dan guru-guru yang lain serta osis untuk senantiasa melakukan sosialisasi terkait dengan pentingnya kerja sama satu sama lain demi menciptakan suasana yang aman dan damai ( wawancara dengan MA, 24 / 07 / 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa solidaritas dapat terbentuk bukan Karena kebetulan melainkan adanya usaha dan usaha yang dimaksud adalah dukungan dari seluruh wakil dan guru-gur sekolah dalam mensosialisasikan pentingnya kerja sama serta menjalani hubungan baik dengan teman sebagaimana menurut Pieget dalam teori pertemanan dikatakan bahwa hubungan pertemanan sebaya lebih demokratis dibanding hubungan antara anak dan orang tua.
Dalam ajaran islam solidaritas sangat ditekankan karena Solidaritas salah satu bagian dari nilai Islam yang mengandung nilai kemanusiaan
47
(humanistic) sebagaimana yang di ungkapkan oleh salah satu guru Mate- matika bahwa :
Pembentukan solidaritas sangatlah di butuhkan dalam mengatasi masalah moralitas yang terjadi dalam beberapa dekade ini seperti tawuran dan tentunya ini sangatlah bertentangan dengan tujuan pendidikan yang membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa ( wawancara dengan AT, 24 / 07 / 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti mendeskripsikan bahwa proses pembentukan solidaritas sangatlah penting bagi siswa serta lingkungan setempat khusunya lingkungan sekolah Karena lingkungan sekolah adalah lembaga yang akan menjadi contoh khususnya bagi masyarakat sekitar Karena kegagalan siswa termasuk kegagalan guru dan sekolah terkait.
Dalam kehidupan yang modern saat sekarang ini tidak dapat kita pungkiri bahwa pengaruh globalisasi semakin terasa baik perilaku maupan pada moral siswa dan yang paling di harapkan untuk mengatasi masalah ini adalah lembaga sekolah akan tetapi sampai saat ini sekolah belum mampu bahkan sekolah di jadikan tempat berkumpul untuk menyusun stratagi dan menyerang satu sama lain. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh siswa kelas 2 jurusan tehnik alat berat bahwa :
Sebenarnya osis sudah menjadi wadah untuk menjalin kerjasama dengan kelas lain akan tetapi biasanya pengaruh dari luar sekolah yang membuat kami salah langkah sehingga terjadilah tawuran diantara kami ( wawancara dengan HR, 24 / 07/ 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa pengaruh eksternal juga memicu terjadinya disintgrasi antar siswa hal tersebut terlihat dari kerja keras osis dalam mencakup siswa untuk memberikan
pemahaman tentang pentingnya saling memahami dan saling menghargai satu dengan yang lain.
Hal senada di ungkapkan oleh siswa kelas 2 jurusan tehnik alat berat namun dia menambahkan bahwa :
Osis di sekolah tidak cukup untuk menyadarkan kami karena pengaruh di lingkungan kami lebih berat sehingga kami tidak mampu menahannya jika sudah terbawa emosi ( wawancara dengan MR, 24 / 07/ 2015)
Berdasarkan wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa pengaruh eksternal lebih berat dibanding pengaruh yang ada di sekolah osis misalnya karena jiwa muda yang masih membara kerap kali mambuat siswa selalu ingin mencoba sesuatu yang baru meskipun mereka tahu bahwa itu salah.
Menurut siswa kelas 2 jurusan tehnik otomotif bahwa :
Proses terbentuknya solidaritas adalah dengan adanya sosialisasi wali dan guru serta pengurus osis terkait dengan pentingnya menjaga, dan menghargai satu sama lain sehingga terbentuk kerja sama, kemanan dan ketentraman tanpa adanya konflik dan pertikaian ( wawancara dengan MA, 24 / 07/ 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa terbentuknya solidaritas tidak terlepas dari bantuan dari wali kelas, guru dan kepala sekolah sehingga ketentraman dan kedamaian dapat diwujudkan demi kepentingan bersama.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh siswa kelas 2 jurusan teknik otomotif namun dia menambahkan bahwa :
Menurut saya pembentukan solidaritas dalam sekolah diwadahi oleh osis sehingga diantara siswa yang satu dengan yang lain terbentuk tali persaudaraan dalam lingkungan sekolah. Akan tetapi, pengaruh dari lingkungan yang tidak baik memberikan pengaruh negative terhadap saya sehingga sangat diperlukan sebuah wadah untuk edukasi solidaritas dan
49
pegaulan negative seperti tawuran ( wawancara dengan MR, 24 / 07/
2015 )
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa osis sudah menjadi wadah yang tepat untuk terciptanya kerukunan antar siswa agar terhindar dari perilaku yang tidak baik seperti tawuran.
Hal berbeda di ungkapkan selaku siswa kelas 2 jurusan tehnik kendaraan ringan bahwa :
Terbentunya solidaritas seharusnya di mulai dari kesadaran diri sendiri serta mampu memposisikan diri yakni sebagai pelajar harusnya memperlihatkan contoh sebagai pelajar bukan malah memperlihatkan hal negative seperti tawuran dan lain sebagainya ( wawancara dengan IA, 24 / 07/ 2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka peneliti medeskripsikan bahwa guru dan pengurus osis sangatlah berperan dalam proses terbentuknya solidaritas serta pentingnya kesadaran diri sendiri sehingga apa yang di inginkan dapat tercapai dengan baik.
Dalam fenomena seperti tawuran dan lain sebagainya yang berhubungan siswa tentunya perlu ada partisipasi masyarakat dan orang tua sebagai pengontrol apabila anak sudah beranjak dari sekolah menuju rumah sebagimana yang diungkapkan orang tua siswa bahwa :
Membentuk kerukunan antara anak itu harusnya melibatkan orang tua dan masyarakat yakni orang tua butuh laporan dari sekolah terkait perkembangan anak begitupun sebaliknya sehingga menghindari kesalahpahaman antara pihak sekolah dan orang tua apabila terjadi sesuatu pada anak didikannya ( wawancara dengan HS, 30 / 07/ 2015 )
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat mendeskripsikan bahwa kerukunan dapat diwujudkan dengan meminta bantuan orangtua masing dalam membantu melakukan pengawasan di rumah karena tidak dapat
dipungkiri bahwa apa yang terjadi di sekolah hanyalah hasil pelampiasan dari masalah eksternal mereka sendiri.
Hal berbeda diungkapkan oleh yang juga selaku orang tua siswa bahwa : Sebenarnya sangat dibutuhkan sejak dini pengetahuan mengenai solidaritas dikarenakan solidaritas sangat berpengaruh dalam pergaulan sehari-hari anak baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan bermain, sebab jika seorang anak tidak memiliki pengetahuan solidaritas yang baik, maka mereka menganggap tawuran adalah cara penyelesaian masalah yang baik maka sangat dibutuhkan orang tua memiliki pengetahuan solidaritas dan mengajarkan kepada anaknya bahwa solidaritas adalah tali persaudaraan atau kesetiakawanan dalam menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan ( wawancara dengan AH, 30 / 07/ 2015 )
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa sangat penting untuk memberikan pengetahuan mengenai solidaritas yang baik kepada anak sejak dini agar solidaritas tersebut tidak mengarah ke hal-hal yang negative terutama dalam menyelesaikan masalahnya didalam kelompoknya.
Menurut salah satu masyarakat setempat bahwa :
sebenarnya proses terbentunya solidaritas siswa terhadap tawuran itu tergantung dari sekolah,lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat.
Seharusnya 3 komponen ini bekerjasama untuk membentuk pola pikir anak dalam berperilaku karena 3 komponen sangat berpengaruh dalam pembentukan sifat dan sikap seorang anak sehingga tawuran dapat diminimalisir dengan solidaritas orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam mengontrol perilaku tawuran siswa agar tercipta ketertiban dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. ( wawancara dengan FS, 30 / 07/
2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa korelasi antara pihak sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sengatlah penting karena anak dapat pengawasan secara penuh baik saat di sekolah maupun di rumah serta di lingkungan masyarakat.
51
C. Bagaimana solidaritas bekerja terhadap perilaku tawuran siswa di Kabupaten Gowa
Solidaritas sosial terjadi karena dalam bersolidaritas benar- benar memliki rasa untuk saling tolong-menolong satu sama lain sedangkan faktor lain dari terbentuknya solidaritas sosial adalah adanya interaksi yang menjadi faktor utama dalam bersolidaritas sosial terutama dalam hal pembangunan., karena jika di dalam solidaritas sosial tidak ada atau mengalami kegagalan interaksi akan menghambat terjadinya solidaritas sosial. Dalam hal ini Wakil Kepala Sekolah menyatakan bahwa :
Solidaritas bekerja dalam hal ini kerjasama dalam mengatasi masalah tawuran di lakukan dengan sangat hati-hati dan teliti seperti melakukan pelatihan kepemimpinan dan lain sebagainya sehingga jiwa kepahlawana dapat tumbuh dalam pribadi anak didik dan tentunya akan memiliki kepekaan terhadap teman-teman yang lain ( wawancara dengan MA, 24 / 07 / 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa solidaritas bekerja dalam mengatasi tawuran haruslah penuh hati-hati dan harus mengetahui masalah dari tuwuran itu sebagai menurut Imam Anshori Saleh (2004:159-160) tawuran adalah perilaku kolektif yang
“memberdayakan” potensi agresifitas negatif didasari oleh solidaritas keremajaan dalam rangka menunjukan keunggulan jati diri tanpa memperhatikan norma, aturan dan kaidah agama meskipun berakibat sangat fatal dan mengganggu ketertiban dan kepentingan masyarakat
Menurut salah seorang guru menyatakan bahwa :
Solidaritas bekerja dapat lebih efektif apabila melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mengantispasi perilaku menyimpang yang merupakan bawaan dari hasil pergaulan bahkan sampai pada masalah keluarga
seperti keluarga broken home dan lain sebaginya ( wawancara dengan AT, 24 / 07 / 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa solidaritas bekerja tidak serta merta berjalan sesuai yang diharapkan tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak misalnya orangtua siswa, guru maupun masyarakat luas sehingga efektiktifitas solidaritas bekerja dapat berjalan dengan baik dan sesuai tujuan yang ingin dicapai tentunya dengan kepentingan bersama.
Solidaritas bekerja sangatlah di butuhkan dengan melihat permasalahan yang sudah sampai pada lembaga pendidikan yang dimana lembaga pendidikan adalah wadah dalam mengembangkan potensi akan tetapi pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kenyaataan sebagaimana yang di ungkapkan oleh siswa bahwa :
Dengan adanya solidaritas bekerja maka perilaku kami dapat terarah ke hal yang lebih baik dimana dahulu masih suka buang waktu ke hal yang kurang baik akan tetapi sekarang kami gunakan untuk baca buku di perpustakaan, diskusi dengan teman terkait dengan masalah mata pelajaran ( wawancara dengan HR, 24 / 07/ 2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa manfaat solidaritas bekerja dapat dirasakan oleh berbagai pihak terkuhusus pihak yang sering melakukan tawuran yakni hidup mereka lebih terarah dan masa depan mereka semakin cerah dengan memfokuskan usaha pada cita-cita.
Lebih lanjut di ungkapkan oleh Muh. Riski bahwa :
Dengan memperbanyak diskusi maka keilmuan akan semakin mendalam serta fikiran yang sia-sia tidak akan di lakukan seperti tawuran dan lain sebagainya dan hal ini bisa terjadi karena penguatan solidaritas bekerja kepada seluruh siswa khususnya siswa yang sering terlibat dalam tawuran ( wawancara dengan MR, 24 / 07/ 2015 ).
53
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa dengan mengalihkan perhatian kearah yang lebih baik akan lebih efektif untuk mengatasi tawuran misalnya membentuk forum-forum diskusi dan hal-hal positif lainnya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh kedua siswa menyatakan bahwa :
Semangat solidaritas bekerja sangat memotivasi siswa yang dahulunya bersifat apatis serta lama kelamaan menjadi propokator untuk masuk dalam kelompok pelajar yang beriman dan bertakwa kepada tuhan di samping itu kita juga harus menggali potensi dalam diri sebagai bentuk rasa syukur kepada yang maha kuasa ( wawancara dengan MA dan MR, 24 / 07/ 2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka peneliti mendeskripsikan bahwa solidaritas bekerja sangatlah penting bagi kehidupan siswa saat ini karena dimana bisa membantu siswa dalam membentuk kerja sama dalam proses belajar dan bermain tanpa adanya kekerasan sehingga terbentuk rasa nyaman.
D. Bagaimana bentuk solidaritas siswa terhadap perilaku tawuran di Kabupaten Gowa
Bentuk-bentuk solidaritas yang masih sering di adopsi dalam masyarakat adalah Terjaganya rasa persaudaraan dan pertemanan terhadap sesama, Timbulnya rasa kepedulian terhadap teman dan keluarga, Lebih peka terhadap lingkungan sekitar, Terjalinnya kekompakan terhadap teman namun khusus Solidaritas di Kabupaten Gowa Wakil Kepala Sekolah berpendapat bahwa :
Bentuk solidaritas yang sering di lakukan khususnya di kabupaten Gowa diantaranya membentuk Tim sepakbola, kelompok-kelompok belajar dan masih banyak yang lain yang termasuk kebiasaan siswa khususnya di
Kabupaten Gowa yang memiliki budaya Siri na Pacce ( wawancara dengan MA, 24/07/2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa pembentukan tim-tim juga kerap kali membantu dalam melancarkan solidaritas karena dengan membantuk tim misalnya tim sepak bola yang ada di kabupaten Gowa otomatis solidaritas akan muncul karena sepak bola butuk kerja sama bukan perseorangan.
Lebih lanjut diungkapkan oleh Salah satu guru bahwa :
Bentuk–bentuk solidaritas khususnya sebagai siswa di Kab. Gowa disamping kesadaran sendiri serta atas bimbingan guru dan orang tuanya karena tanpa adnya dukungan antara keduanya maka semuanya akan sia-sia (wawancara dengan AT, 24/07/2015)
Berdasarkan hasil wawancara diats peneliti mendeskripsikan bahwa dalam membentuk kerjasama maka perlunya mencari metode yang lebih efektif misalnya membentuk kelompok footsal, kelompok belajar serta adanya dukungan penuh dari orang tua dan guru dan tentunya atas dasar kesadaran sendiri.
Secara psikologi perkelahian yang melibatakan pelajar usia remaja di golongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (jurvinile delygency).
Kenakalan remaja dalam hal perkelahian dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk berkelahi, keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
55
2. Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada dalam suatu organisasi tertentu atau genk. Disini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk perkelahian. Sebagai anggota tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan sekelompoknya. Seperti yang kita ketahui, pada masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada di lingkup kelompok teman sebayanya.
Dalam hal di atas kerap kali tawuran terjadi karena keinginan melakukan hal yang lebih secara cepat serta adanya kelompok tersendiri yang tidak terarah sehingga sewaktu-waktu perkelahian bisa terjadi atas dasar dorongan dari kelompok tersebut tapi bukan karena dari hati nurani sebagaimana yang di ungkapkan oleh siswa bahwa :
Bentuk – bentuk solidaritas juga sering kami lakukan dalam kelompok kami akan tetapi bentuk solidaritas tersebut tidak terarah sehingga apa yang kami lakukakan terkadang salah misalnya tawuran dengan teman sendiri tapi berbeda jurusan ( wawancara dengan MA, 24 / 07/ 2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa rasa solidaritas yang diberikan remaja, seringkali berada di jalur yang salah.
Sebaiknya perlu ditekankan ulang akan pentingnya mengendalikan rasa solidaritas dengan akal pikiran sehat dan jiwa toleransi antar manusia yang tinggi. Solidaritas tidak selalu ikut-ikutan dalam hal buruk.
Hal tersebut di benarkan oleh teman siswa tersebut namun dia menambahkan bahwa :
Solidaritas yang kami lakukan lebih kuat karena tidak boleh meninggalkan teman dalam keadaan apapun jika dalam masalah apa pun termasuk dalam konflik karena dari awal memang kita di ajar oleh ketua tim untuk melakukan hal tersebut ( wawancara dengan MR, 24 / 07/ 2015 ).
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka peneliti mendeskripsikan bahwa kekuatan solidaritas dalam kelompok siswa termasuk dalam kelompok tawuran juga sangatlah kuat sehingga bisa mengalahkan hati nurani sendiri.
Solidaritas yang di inginkan oleh seluruh masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa adalah solidaritas dalam hal yang positif dimana bisa membangun anak untuk lebih mandiri dan lebih peka terhadap kondisi apa pun baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat sebagaimana yang di ungkapkan oleh Orang tua siswa bahwa :
Bentuk solidaritas yang di harapkan adalah bentuk solidaritas yang bersifat membangun misalnya melakukann pembinaan tersendiri baik di luar sekolah maupun di lingkungan sekolah sehingga waktu kosong yang biasa di gunakan untuk melakukan hal yang melanggar norma dapat teratasi dengan baik (wawancara dengan AH, 30/07/2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti mendeskripsikan bahwa ada baiknya sekolah juga memberikan tempat bagi anak didik untuk mengasah minat atau bakat yang mereka miliki , misalnya pada akhir pekan khusus untuk kegiatan ekstrakurikuler, pramuka, outbond, atau kegiatan yang bermanfaat lainnya. Sehingga tidak menimbulkan kebosanan disekolah dan dapat mengantisipasi bolos sekolah , atau membuat onar serta tindakan- tindakan yang memicu konflik , atau sebut saja tawuran. Juga, sekolah bisa membuat suatu kegiatan atau seminar tentang dampak negatif dari aksi