PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana proses pembentukan solidaritas siswa terhadap perjuangan di SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa. Bagaimana Solidaritas Siswa Melawan Perilaku Perkelahian di SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penulis berharap penelitian ini dapat mengembangkan ketrampilan dan penguasaan ilmu yang telah diperoleh peneliti selama mengikuti program studi kependidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar selama ini. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat memberikan informasi bagi masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian perkelahian pelajar yang terjadi di lingkungan sekitar.
KAJIAN PUSTAKA
Perilaku Tawuran
Pada masa peralihan ini, yaitu dari masa kanak-kanak ke tahap selanjutnya, anak mulai secara intensif mencari jati dirinya, apalagi lingkungan sosial pada masa remaja ditandai dengan perubahan sosial yang signifikan. Generasi muda ini umumnya berpikiran pendek, sangat emosional, agresif, tidak mampu mengenali nilai-nilai etika, dan cenderung suka melakukan tindakan berisiko. Situasi keluarga penuh dengan konflik yang kuat antar anggota keluarga dan adanya suasana penolakan dari orang tua, sehingga anak merasa ditinggalkan dan sendirian.
Pada umumnya anak nakal tersebut menderita gangguan jiwa yang cukup berat, diantaranya adalah rasa cemas, perasaan tidak aman terus-menerus, perasaan terancam, terpojok, perasaan bersalah atau bersalah, dan lain-lain. Karena perubahan perilaku anak nakal neurotik terjadi atas dasar konflik mental yang sangat serius atau mendalam, maka mereka akan meneruskan perilaku buruknya hingga dewasa dan tua. Menurut Kartini Kartono, kenakalan remaja secara tegas dan jelas diartikan sebagai suatu gejala suatu penyakit sosial pada anak dan remaja, yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga berkembanglah bentuk-bentuk perilaku yang menyimpang.
Faktor lingkungan sekitar tidak selalu baik dan bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anak, lingkungan tersebut terkadang dihuni oleh orang dewasa dan remaja yang bersifat kriminal dan anti sosial, sehingga dapat merangsang reaksi emosional yang buruk pada anak puber dan remaja yang masih belum stabil mentalnya. Dengan demikian, remaja tersebut mudah tertular pola kriminal, asusila, dan antisosial.
Hasil Penelitian yang Relavan
Untuk mengetahui bagaimana kita mengkategorikan solidaritas, kita mengacu pada teori solidaritas Emile Durkheim. Menurut Emile Durkheim, solidaritas merupakan salah satu bentuk pembagian kerja. Ia membedakan dua tipe utama: solidaritas mekanis dan solidaritas organik. Solidaritas mekanis adalah solidaritas yang didasari atas rasa percaya dan solidaritas serta diikat oleh hati nurani kolektif, yaitu suatu sistem kepercayaan dan perasaan yang merata di antara seluruh anggota masyarakat. Berbeda dengan solidaritas mekanis yang berdasarkan hati nurani kolektif, solidaritas organik didasarkan pada hukum dan nalar.
Dalam hal ini peneliti menghubungkan teori identitas sosial, dimana teori ini awalnya bersumber dari teori perbandingan sosial Festinger (1954) yang mengatakan bahwa individu akan berusaha memandang orang lain yang memiliki perbedaan kecil dan mirip satu sama lain. Solidaritas merupakan sebuah kata yang mempunyai arti dan makna dalam kaitannya dengan kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan dan juga kesetiakawanan. Di lingkungan sahabat dan keluargalah kita bisa merasakan rasa solidaritas atau kebersamaan yang tinggi. Rasa solidaritas akan timbul dengan sendirinya apabila manusia satu dengan yang lain, yang lain mempunyai kemiripan satu sama lain dalam beberapa hal. Oleh karena itu, rasa solidaritas sangat penting untuk dibangun oleh individu dengan individu lain atau kelompok tertentu dengan kelompok lain.
Mereka mengatakan bahwa mereka mempunyai rasa solidaritas yang tinggi, sehingga jika temannya ikut tawuran, hendaknya siswa lain juga ikut tawuran. Perkelahian adalah perselisihan antara dua kelompok yang menimbulkan kerusakan, kerugian dan permusuhan. Perkelahian merupakan fenomena yang tergolong patologis dan diakibatkan oleh tingginya solidaritas suatu kelompok, namun sekaligus perkelahian mengandung gejala konflik sosial dan negatif. agresivitas pada individu yang terlibat Jadi jika masalah yang jelas adalah perkelahian itu sendiri harus dicegah.
Jenis Penelitian
Lokasi dan Subjek Penelitian
Subyek penelitian adalah pihak-pihak yang menjadi sasaran penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi.
Informan Penelitian
Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek penelitian atau informan antara lain: siswa, guru, orang tua siswa dan masyarakat yang tinggal di Kabupaten Gowa dimana siswa sering terlibat tawuran, yang akan memberikan informasi berdasarkan pemahaman, pengalaman, pengetahuan dan perasaan mengenai pernyataan. . pernyataan yang diserahkan.
Teknik Pengumpulan Data
Hasil dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang melengkapi atau mendukung hasil wawancara dan observasi lapangan. Data dari dokumentasi juga bisa kita gunakan sebagai data yang kita gunakan untuk mengingat detail, gambaran lokasi, jika kita lupa sesampainya di rumah. Yakni peneliti yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari orang yang diamati atau dijadikan sumber data.
Melalui partisipasi maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan akan mengungkap tingkat signifikansi setiap perilaku atau gejala yang terjadi.
Teknik Analisis Data
Data solidaritas dan perjuangan mahasiswa yang peneliti peroleh selama penelitian dari observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi telah diseleksi dan dipilah mana yang penting dan perlu untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian. dirumuskan sedemikian rupa agar data-data penting tidak terbengkalai dan menumpuk tanpa pemisahan yang jelas.
Teknik Pengabsahan Data
Jadwal Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa pengaruh luar juga menjadi pemicu terjadinya perbedaan pendapat dikalangan siswa, hal ini terlihat dari kerja keras OSIS dalam melibatkan siswa dalam pemberian. Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa terbentuknya solidaritas tidak lepas dari bantuan guru kelas, guru dan kepala sekolah dalam mewujudkan kedamaian dan ketenangan demi kebaikan bersama. Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa OSIS menjadi wadah nyata untuk menciptakan kerukunan antar siswa agar terhindar dari perilaku buruk seperti perkelahian.
Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa hubungan antara sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting karena anak mendapat pengawasan penuh baik di sekolah maupun di rumah dan di masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti memaparkan bahwa solidaritas kerja dalam menghadapi perselisihan harus hati-hati dan harus mewaspadai permasalahan pertengkaran, karena menurut Imam Anshori Saleh perselisihan merupakan perilaku kolektif. Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa dengan mengalihkan perhatian ke arah yang lebih baik maka akan lebih efektif dalam mengatasi pertengkaran yang terjadi, misalnya dengan membentuk forum diskusi dan hal-hal positif lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa rasa solidaritas yang diberikan remaja seringkali berada pada jalur yang salah. Wawancara dengan salah satu responden siswa kelas XI jurusan teknik alat berat, dalam hal ini MR.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Proses Terbentuknya Solidaritas Terhadap Perilaku
Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti dapat mendeskripsikan bahwa keharmonisan dapat dicapai dengan meminta bantuan setiap orang tua dalam melakukan pengawasan di rumah karena tidak dapat melakukannya sendiri. Berdasarkan hasil wawancara di atas, peneliti memaparkan bahwa sangat penting untuk mengajarkan anak tentang solidaritas yang baik sejak dini, agar solidaritas tidak mengarah pada hal-hal negatif, terutama ketika menyelesaikan masalah dalam kelompok. Kerja Solidaritas, dalam hal ini kerjasama dalam mengatasi permasalahan perkelahian dilakukan dengan sangat hati-hati dan menyeluruh, seperti mengadakan pelatihan kepemimpinan dan lain sebagainya, sehingga dapat tumbuh jiwa kepahlawanan dalam diri siswa dan dengan sendirinya akan mempunyai kepekaan. terhadap teman yang lain (wawancara dengan MA.
Dengan memperbanyak diskusi maka ilmu akan semakin mendalam dan tidak akan terlaksana pemikiran-pemikiran yang sia-sia seperti tawuran dan lain sebagainya, hal ini bisa terjadi karena menguatkan solidaritas kerja seluruh siswa terutama siswa yang sering terlibat tawuran (wawancara dengan MR.Bentuk) Kita juga sering melakukan solidaritas dalam kelompok kita, namun bentuk solidaritas ini tidak terlalu fokus sehingga yang kita lakukan terkadang salah, misalnya berkelahi dengan teman sendiri tetapi berbeda jurusan (wawancara dengan MA. Berdasarkan Hasil wawancara diatas Peneliti menjelaskan bahwa kekuatan solidaritas terdapat pada kelompok mahasiswa, sedangkan kelompok pejuang juga sangat kuat sehingga mampu mengalahkan hati nuraninya sendiri.
Bentuk solidaritas yang diharapkan adalah bentuk solidaritas yang konstruktif, misalnya memberikan pembinaan tersendiri baik di luar sekolah maupun di lingkungan sekolah, sehingga waktu luang yang biasanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma dapat termanfaatkan dengan baik. terselesaikan (wawancara dengan AH Bentuk solidaritas siswa hendaknya menjadi perhatian pihak sekolah karena keadaan siswa saat ini sangat memprihatinkan, sehingga sangat penting untuk membimbing dan menggunakan ilmu agama untuk mengendalikan diri selain kendali dari guru. dan orang tua (wawancara dengan FS.
Solidaritas bekerja terhadap perilaku tawuran
Bentuk solidaritas siswa terhadap perilaku tawuran
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Kepada para kepala sekolah khususnya kepala SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa agar selalu memberikan motivasi kepada seluruh siswanya dan selalu melakukan pemeriksaan dan evaluasi baik langsung maupun tidak langsung agar segala bentuk kesenjangan yang ada di lapangan dapat teratasi dengan baik. dan cepat Kita sangkal, bahwa waktu senggang dapat mendorong anak untuk melakukan perbuatan seperti tawuran, dll, semua itu akibat dari kecerobohan guru dalam memanfaatkan waktu kelas dan kegagalan kepala sekolah dalam mengontrol bawahannya. Kepala sekolah, khususnya Kepala SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa harus tegas memberikan sanksi yang jelas bagi guru yang lalai menjalankan tugasnya dan memberikan penghargaan kepada guru yang rajin bekerja. tugas, ini mungkin tampak aneh, tapi dampaknya besar. Perlu adanya korelasi antar aparat pemerintah dalam hal ini kepala dinas pendidikan beserta jajarannya, pihak sekolah dan masyarakat untuk memperlancar komunikasi agar permasalahan yang timbul dapat mudah terselesaikan dan tentunya tepat sasaran.
Heru Adi, Makna dan Arti Solidaritas, diakses 26 Juni 2015 (http://hikarimedia.blogspot.on/2014/05/makna-arti-sebuah- .solidarity.html). Iit Junior, Solidaritas sesama, Diakses tanggal 26 Juni 2015. http://nastani .blogspot.com/2013/01/solidaritas-terhadap-sesama.html) Sahid raharjo, Pengumpulan Data Penelitian dan Observasi Diakses 26. Penelitian, kunjungan di 26 Juni 2015 (http://windi-mp.blogspot.com/2013/01/empat-kajian-theor-dan-metodologi.html).
Sebagai seorang guru, apakah selama ini Anda ikut serta dalam menangani tawuran siswa? Bagaimana Anda mendukung aksi mahasiswa, seperti membentuk solidaritas mahasiswa untuk mengatasi perkelahian?