• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Tawuran

Dalam dokumen i : Khae*rddin, S.Pd., M.Pd (Halaman 33-50)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Perilaku Tawuran

Perilaku tawuran merupakan salah satu kenakalan remaja yang sering terjadi disekitar kita. Siapa sebenarnya remaja dan mengapa perilaku delinkuen sering terjadi dikalangan remaja? Basri (1996:67) mengemukakan bahwa para ahli psikologi dan pendidikan belum sepakat mengenai rentangan usia remaja. Ada yang berpendapat bahwa usia remaja berkisar antara 13-19 tahun, namun ada pula yang berpendapat antara 13-21 tahun. Remaja adalah individu yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggungjawab. Pada masa ini jiwa remaja mengalami sturm und drang (penuh dengan gejolak).

Pada masa peralihan ini yaitu dari masa anak-anak menuju tahap selanjutnya, anak mulai gencar melakukan pencarian identitas diri apalagi lingkungan sosial pada masa remaja ini ditandai dengan perubahan sosial yang

cepat yang terkadang mengakibatkan kesimpangsiuran norma (keadaan anomie).

Anomie menurut Durkheim (dalam Sarwono, 1997:84) adalah normlessness yaitu suatu sistem sosial di mana tidak ada petunjuk atau pedoman bertingkah laku.Masa remaja ini disebut juga dengan masa physiological learning and social learning yaitu adanya kematangan fisik dan sosial. Bila anak mampu melewati tahap-tahap perkembangannya dengan baik maka ia akan memiliki kematangan emosional yang baik.

Hall (dalam Rifai, 1987:112) berasumsi bahwa remaja mengalami stress and strain (kegoncangan dan kebimbangan), akibatnya para remaja melakukan penolakan-penolakan pada kebiasaan rumah, mengasingkan diri, para remaja bersifat sentimental, mudah tergoncang dan bingung. Perkembangan kejiwaan yang tidak mendapat penjelasan sebagaimana mestinya akan selalu menjadi pertanyaan yang mengganggu dan sangat mengusik ketenangan hidup kaum remaja. Oleh karena itu, remaja harus dibantu dalam menemukan identitas dirinya, sebab di masa ini sosok remaja dihadapkan pada banyak pilihan yang akan sangat menentukan masa depannya.

Dalam buku Dr. Kartini Kartono (2014:49-56) pembagian lain juvenile delinquency ialah berdasarkan ciri kepribadian yang defek, yang mendorong mereka menjadi delinkuen. Anak-anak muda ini pada umumnya bersifat pendek pikiran, sangat emosional, agresif, tidak mampu mengenal nilai-nilai etis, dan cenderung suka menceburkan diri dalam perbuatan yang berbahaya. Hati nurani mereka hamper tidak dapat digugah, beku. Tipe delinquensi menurut struktur kepribadian ini dibagi atas :

15

1. Delinkuensi terisolir

Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari para remaja delinquen;

merupakan elompok mayoritas. Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis. Perbuatan kejahatan mereka disebabkan atau didorong oleh factor berikut :

a. Kejahatan mereka tidak didorong oleh motivasi kecemasan dan konflik batin yang tidak dapat diselesaikan, dan motif yang mendalam, akan tetapi lebih banyak dirangsang oleh keinginan meniru, ingin conform dengan norma gangnya.

b. Mereka kebanyakan berasal dari daerah-daerah kota yang transisional sifatnya yang memiliki subkultur criminal. Sampai pada suatu saat dia ikut menjadi anggota salah satu kelompok gang tersebut. Di dalam gang ini anak merasa diterima, mendapatkan kedudukan terhormat, pengakuan, status sosial, dan prestise tertentu.

c. Pada umumnya anak delinkuen tipe ini berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, tidak konsekuen dan mengalami banyak prustasi. Situasi keluarga dipenuhi dengan konflik hebat di antara sesams anggota keluarga, dan ada suasana penolakan oleh orang tua, sehingga anak-anak merasa disiakan serta kesepian.

d. Sebagai jalan keluarnya anak memuaskan semua kebutuhan dasarnya ditengah lingkungan anak-anak kriminal. Gang tersebut memberikan pada dirinya perasaan aman, diterima, bahkan bisa mendapatkan bimbingan untuk menonjolkan egonya.

2. Delinkuensi neurotik

Pada umumnya anak-anak delinkuen tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak aman, merasa terancam, tersudut dan terpojok, merasa bersalah atau berdosa, dan lain-lain. Ciri tingkah laku mereka antara lain:

a. Tingkah laku delinkuennya bersumber pada sebab-sebab psikologis yang sangat dalam, dan bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima norma dan nilai subkultur gangnya yang criminal itu saja juga bukan berupa usaha untuk mendapatkan prestise sosial dan simpati dari luar.

b. Tingkah laku kriminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan. Karna itu tindak kejahatan mereka merupakan alat pelepas bagi rasa ketakutan, kecemasan dan kebigunan batinnya yang jelas tidak terpikulkan oleh egonya.

c. Anak delinkuen neurotik ini banyak berasal dari kelas menengah, yaitu dari lingkungan konvensional yang cukup baik kondisi social ekonominya.

Oleh karna perubahan tingkah laku anak-anak delinkuen neurotic ini berlangsung atas dasar konflik jiwani yang serius atau mendalam sekali, maka mereka akan terus melanjutkan tingkah laku kesejahatannya sampai usia dewasa dan umur tua.

17

3. Delinkuensi psikopatik

Delinkuensi psikopatik ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari kepentingan umum dan segi keamanan, meraka merupakan oknum criminal yang paling berbahaya. Ciri tingkah laku mereka ialah:

a. Hampir seluruh anak delinkuen psikopatik ini berasal dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian keluarga, berdisiplin keras namun tidak konsisten, dan selalu menyiakan anak-anaknya.

b. Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan pelanggaran. Karna itu sering meledak tidak terkendali.

c. Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau tidak dapat diduga-duga.

d. Mereka selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial yang berlaku. Juga tidak peduli terhadap normal subkultur gangnya sendiri.

4. Delinkuensi defek moral

Defek (defect, defectus) artinya: rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang.

Delinkuensi defek moral mempunyai ciri:

a. Selalu melakukan tindak asosial atau anti sosial, walaupun pada dirinya tidak terdapat penyimpangan dan ganguan koknitif, namun ada disfungsi pada intelingsinya.

b. Kelemahan dan kegagalan para remaja dilinkuen tipe ini iyalah mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingkah langkunya yang jahat juga tidak mampu mengendalikan dan mengaturnya.

c. Mereka merasa cepat puas dengan prestasinya, namun sering perbuatan mereka disertai agresivitas yang meledak. Mereka juga selalu bersikap bermusahan terhadap siapa pun juga, karna itu mereka selalu melakukan perbuatan kejahatan.Anak muda yang defek moralnya itu biasanya menjadi penjahat yang sukar diperbaiki.

Jadi, kenakalan remaja dapatlah diartikan sebagai suatu tindakan yang melanggar norma-norma masyarakat atau norma hukum pidana di mana pelakunya adalah seseorang yang masih di bawah umur yaitu berkisar antara 13- 21 tahun, yang pelaku ketahui bahwa apabila perbuatannya diketahui oleh petugas hukum maka pelaku bisa dikenai sanksi/ hukuman, akibat yang ditimbulkan adalah dapat mengganggu ketentraman diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Graham (dalam Sarwono, 1997:54), ada beberapa faktor penyebab kelainan perilaku anak dan remaja antara lain:

1. Faktor Lingkungan seperti : Kemiskinan di kota-kota besar; Gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu-lintas, bencana alam, dan Iain-lain), Migrasi.

2. Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dan Iain-lain), Keluarga yang tercerai-berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan lain-Iain), Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga, Kematian orang tua, Orang tua sakit berat atau cacat, Hubungan antar anggota

19

keluarga tidak harmonis, Orang tua sakit jiwa, Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran, kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat, dan Iain-Iain.

3. Faktor Pribadi, seperti : Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan Iain-Iain), Cacat tubuh, Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri.

Tawuran dalam kamus bahasa Indonesia (2005:1151) dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang yang didasari dengan berbagai macam alasan. Hal ini bisa dikarenakan rasa setiakawan, balas dendam, salah paham, merasa terusik, ataupun sebab-sebab sepele lain (Rahman Assegaf, 2004:

63). Menurut Kartini Kartono (2003:6-7) secara tegas dan jelas memberikan batasan kenakalan remaja merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Sedangkan menurut Imam Anshori Saleh (2004:159-160) tawuran adalah perilaku kolektif yang

“memberdayakan” potensi agresifitas negatif didasari oleh solidaritas keremajaan dalam rangka menunjukan keunggulan jati diri tanpa memperhatikan norma, aturan dan kaidah agama meskipun berakibat sangat fatal dan mengganggu ketertiban dan kepentingan masyarakat. Imam Anshori Saleh (2004:141) perkelahian massal siswa antar sekolah adalah bentuk-bentuk tindakan kekerasan yang terjadi antara dua kelompok pelajar yang berbeda sekolah yang satu sama lain mempunyai perasaan permusuhan atau persaingan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tawuran adalah perkelahian antara dua kelompok atau lebih yang bertikai secara perkataan atau tindakan akibat potensi agresifitas negatif yang didasari oleh solidaritas keremajaan dalam rangka menunjukan keunggulan jati diri tanpa memperhatikan norma, aturan dan kaidah agama sehingga berakibat fatal dan mengganggu ketertiban masyarakat. Perkelahian beramai-ramai antar sekolah yang seringkali tidak sadar melakukan tindak kriminal dan anti sosial itu pada umumnya adalah para remaja yang duduk di bangku sekolah menengah.

Rasa setia kawan, solidaritas dan kesediaan berkorban demi nama besar kelompok sendiri akan sangat dihargai oleh setiap anggota kelompok khususnya oleh pimpinan gerombolan tersebut. Kelompok ini menumbuhkan kerelaan berkorban dan saling tolong menolong setiap saat khususnya pada waktu saat saat kritis.Karena itu bagi anak anak muda tadi sekolah sendiri yang menjadi satu realita yang berdiri, berdiri atas semua kepentingan maka tantangan dan kesakitan hati jasmani yang diderita oleh seorang anggota kelompok secara otomatis menjadi tantangan dan kesakitan hati bagi segenap anggota kelompok dan harus di balaskan dengan keras.Karena itulah kelompok harus melakukan balas dendam lewat perkelahian massal antar kelompok atau antar sekolah demi gengsi kelompok.

Didalam perkelahian antar sekolah anak-anak remaja merasa bersemangat aman dan terlindung. Sebab di dalamnya merasa lebih kokoh, kuat dan bisa memainkan peranan penting seperti yang mereka harapkan, kelompok ini di

21

anggap sebagai dasar bagi martabat dan harga diri mereka yang mana sang ego mendapat arti khusus, punya posisi dan bisa memainkan peranan yang menonjol.

1. Faktor penyebab terjadinya perkelahian antar sekolah atau tawuran Menurut Kartini Kartono (2010: 110-128) adalah sebagai berikut : a. Faktor internal

Tawuran pelajar terjadi disebabkan oleh internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi keadaan. Faktor internal ini terdiri dari empat komponen yaitu :

1) Reaksi frustrasi negatif

Dimana remaja melakukan adaptasi yang salah terhadap semua pola kebiasaan dan tingkah laku patologis sebagai akibat dari pemasukan konflik-konflik batin pada remaja secara salah sehingga menimbulkan mekanisme reaktif atau respon yang keliru.

2) Gangguan pengamatan dan tanggapan pada remaja

Tanggapan remaja bukan merupakan cerminan dari realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengelohan batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang salah sehingga remaja berubah menjadi agresif dan eksplosif dalam menghadapi segala macam tekanan dan bahaya dari luar.

3) Gangguan berpikir dan intelegensi pada diri remaja

Remaja yang sehat pasti mampu membetulkan kekeliruannya sendiri dengan jalan berpikir logis dan mampu

membedakan fantasi dari kenyataan. Jadi ada realita testing yang sehat. Sebaliknya remaja yang terganggu jiwanya akan memperalat pikirannya sendiri untuk membedakan dan membenarkan gambaran semu dan tanggapan yang salah.

Akibatnya, reaksi dan tingkah laku remaja menjadi salah kaprah, bisa menjadi liar tidak terkendali dan selalu memakai cara-cara kekerasan dan perkelahian dalam menanggapi segala kejadian.

4) Gangguan perasaan atau emosional pada remaja

Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan.Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan remaja. Jika semua harapan, keinginan dan kebutuhan manusia terpuaskan, maka remaja akan merasa bahagia dan senang. Sebaliknya jika keinginan, harapan dan kebutuhannya tidak terpenuhi, remaja akan mengalami kekecewaan dan banyak rasa frustasi sehingga mengalami perasaan yang penuh ketegangan

b. Faktor eksternal

Dikenal pula sebagai alam sekitar, faktor sosial atau faktor sosiologis adalah semua perangsang dan pengaruh dari luar yang menimbulkan perilaku tertentu pada remaja (tindak kekerasan, kejahatan, tawuran). Faktor eksternal terdiri dari tiga komponen yakni :

23

1) Faktor keluarga

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam melakukan proses sosialisasi dan pribadi remaja. Ditengah keluarga remaja belajar mengenal makna cinta kasih, simpati, loyalitas, ideologi bimbingan dan pendidikan.Keluarga memberikan pengaruh menentukan pada pembentukan watak kepribadian remaja dan menjadi pondasi primer bagi perkembangan remaja. Baik buruknya struktur keluarga memberikan dampak baik atau buruknya perkembangan jiwa dan jasmani anak.

2) Faktor lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan

Remaja seringkali merasa frustasi, tertekan dan terbelenggu didalam peraturan sekolah yang mereka anggap tidak adil. Disatu pihak pada diri remaja ada dorongan naluriah untuk bergiat, aktif dinamis, banyak bergerak dan berbuat. Tetapi dipihak lain remaja dikekang ketat oleh disiplin mati disekolah serta sistem regimentasi dan sistem sekolah dengar. Remaja tidak menemukan kesenangan dan kegairahan belajar di sekolah yang disebabkan oleh berbagai kekurangan-kekurangan sekolah seperti suasana belajar dikelas yang monoton dan menjenuhkan, tidak adanya fasilitas yang memadai dari sekolah.

3) Faktor lingkungan masyarakat

Faktor lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak.Lingkungan ada kalanya dihuni oleh orang dewasa serta remaja yang kriminal dan anti sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesens yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola-pola kriminal, asusila dan anti sosial. Pola inilah yang sangat mudah menjalar kepada remaja.

Menurut Kusmiyati dkk (2007: 90) penyebab tawuran antar pelajar antara lain sebagai berikut :

a) Kondisi keluarga, yaitu kurangnya perhatian orang tua.

b) Perwujudan untuk mencari jati diri.

c) Solidaritas yang tinggi karena perasaan senasib dan sepenanggungan.

d) Perasaan iri, benci, dan dendam terhadap kelompok pelajar lain.

e) Kondisi ekonomi keluarga yang kurang.

f) Menjaga gengsi kelompok.

g) Kurangnya sarana aktifitas fisik seperti lapangan olahraga dan sarana hiburan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan suatu stimulus atau rangsang terhadap respon yang bakal muncul pada diri

25

remaja. Selain itu faktor lain penyebab terjadinya tawuran pelajar adalah dikarenakan adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya antara lain: reaksi frustasi negatif, gangguan tanggapan dan pengamatan, gangguan berpikir dan intelegensi, gangguan perasaan atau emosional yang terjadi pada remaja, perwujudan untuk mencari jati diri. Sedangkan faktor eksternalnya antara lain: faktor keluarga, kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik, faktor lingkungan (sekolah, masyarakat), faktor lingkungan masyarakat.

2. Berikut ini dampak karena tawuran siswa:

a) Kerugian fisik, siswa yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian.

b) Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya: rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu saling melempar batu dan mengenai rumah warga.

c) Terganggunya proses belajar mengajar.

d) Menurunnya moralitas para siswa.

e) Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai.

Teori-teori yang mendukung 1. Teori Pertemanan

Peer group adalah adalah kelompok pertemanan dengan teman sebaya. Menurut Piaget, hubungan diantara teman sebaya lebih demokratis disbanding hubungan-hubungan antara anak dan orang tua. Hubungan

antarteman sebaya lebih diwarnai oleh semangat kerjasama dan saling memberi dan menerima diantara anggota keompok. Menurut Piaget, dalam keluarga, orang tua dapat memaksakan berlakunya aturan keluarga. Dalam kelompok teman sebaya, aturan perilaku dicari dan diuji kemanfaatannya secara bersama-sama.Ketika anak tumbuh semakin dewasa, peran keluarga dalam perkembangan social semakin berkurang dan digantikan oleh kelompok dan teman sebaya.

2. Teori Perilaku Menyimpang

Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Merton bahwa perilaku menyimpang merupakan bentuk dari adaptasi terhadap situasi tertentu.

Merton mengidentifikasi 5 cara adaptasi, diantaranya :

a. Komformitas, adalah perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut atau cara konvensional dan melembaga.

Contoh : seorang anggota kelompok etnis Aceh berperilaku sebagai orang Aceh

b. Inovasi, adalah perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan oleh masyarakat. Tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat.

Contoh : penggunaan obat bius pada dokter untuk tujuan membius orang yang akan di operasi itu boleh tetapi jika disalahgunakan merupakan perbuatan yang menyimpang.

27

c. Ritualisme, adalah perilaku yang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat.

Contoh : upacara ngaben di Bali

d. Retretism, (pengasingan diri) adalah perilaku yang meninggalkan, baik tujuan konvensional maupu cara pencapaiannya.

Contoh : pecandu obat bius, pemabuk dll.

e. Rebellion, (pemberontakan) adalah penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan dengan tujuan baru.

Contoh : para reformotor agama.

3. Teori Sosialisasi

Pertimbangan memilih pendekatan ini karna teori ini memusatkan perhatian atau penjelasan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Salah seorang ahli teori belajar yang banyak diikuti tulisannya adalah Edwin H. Sutherland (dalam Atrmasasmita,1992:13). Ia menamakan teorinya dengan asosiasi diperensial. Menurut Sutherland, penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan peguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpan, terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya yang menyimpang.

Ditingkat kelompok, perilaku menyimpang adalah suatu konsekuensi dari terjadinya konflik normative. Artinya, perbedaan aturan

sosial diberbagai kelompok sosial, seperti sekolah, lingkungan, tetangga, kelompok teman sebaya atau keluarga, bias membingungkan individu yang masuk kedalam komunitas-komnitas tersebut, situasi itu dapat menyebabkan ketegangan yang berujung menjadi konflik normative pada diri individu. Jadi seandaikan di sekolah seorang murid diajarkan nilai- nilai kejujuran, tetapi diluar skolah, entah itu keluarga, organisasi sosial, atau limgkungan masyarakat yang lebih luas, nilai-nilai kejujuran telah ditinggalkan, maka perbedaan norma diantara berbagai kelompok sosial yang dialami murid tersebut dapat saja melunturkan nilai-nilai kejujuran yang diajarkan di sekolahnya.

Meskipun teori Sutherland ini secara spesifik digunakan untuk menganalisis kejahatan dan perilaku menyimpang yang mengarah pada tindak kejahatan, tetapi teori ini juga bisa digunakan untuk menganalisis bentuk-bentuk lain dari perilaku menyimpan, seperti pelacuran, kecanduan obat-obatan, alkoholisme, perilaku homo seksual. Teori asosiatif diferensial memilki empat proposisi yaitu:

a. Perilaku menyimpang adalah hasil dari proses pelajar atau yang dipelajari. Ini berarti bahwa penyimpangan bukan diwariskan atau diturunkan, bukan juga hasil dari intelegensi yang rendah atau karna kerusakan otak.

b. Perilaku menyimpang dipelajari oleh seseorang dalam interaksinya dengan orang lain dengan melibatkan proses komunikasi yang intens.

29

c. Bagian utama dari belajar tentang perilaku menyimpang terjadi didalam kelompok-kelompok personal yang intim atau akrab.

Sedangkan median massa seperti TV, majalah atau Koran hanya memainkan peran sekunder dalam mempelajari penyimpangan.

4. Teori Kontrol

Ide utama dibelakang teori kontrol adalah bahwa penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hokum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum. Oleh sebab itu para ahli teori kontrol menilai perilaku menyimpan adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk menaati hukum. Dalam konteks ini, teori kontrol sosial paralel dengan teori konformitas.

Salah satu ahli yang mengembangkan teori ini adalah Hirschi (1969, dalam Atrmasasmita, 1992).kurang lebih ada empat unsure utama di dalam control sosial , yaitu :

a. Attachement atau kasih sayang adalah sember kekuatan yang muncul dari hasil sosialisasi di dalam kelompok primernya (misalnya:keluarga), sehingga individu punya komitmen kuat untuk patuh pada aturan.

b. Commitment atau tanggung jawab yang kuat pada aturan dapat memberikan kerangka kesadaran tentang masa depan. Bentuk

komitmen ini antara lain berupa kesadaran bahwa masa depannya akan suram apabila ia melakukan tindakan menyimpang.

c. Involvement, artinya dengan adanya kesadaran tersebut, maka individu akan terdorong berperilaku parisipatif dalam terlibat di dalam ketentuan-ketentuan yang telah ditetepkan masyarakat.

Believe atau kepercayaan, kesetian, dan kepatuhan pada norma-norma social atau aturan masyarakat pada akhirnya akan tertanam kuat pada diri seseorang dan itu berarti aturan social telah selfenforcing dan eksistensinya (bagi setiap individu) juga semakin kokoh.

Dalam dokumen i : Khae*rddin, S.Pd., M.Pd (Halaman 33-50)

Dokumen terkait