• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jasa dan Pemikiran Sang Cendekiawan

Dalam dokumen Sang Pendidik - Universitas Diponegoro (Halaman 139-147)

Religius

Prof. H. Abdullah Kelib, S.H.

Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip

Prof. Miyasto merupakan salah satu tokoh

yang dapat dijadikan panutan bagi kita semua. Terutama yang berprofesi sebagai dosen. Almarhum bukan hanya pendidik, namun juga seorang ilmuwan dan cendekiawan yang cermat, teliti dan religius

Sederet amanah jabatan pernah diemban oleh Prof. Miyasto.

Yang menonjol di antara jabatan tersebut, antara lain, Pembantu Dekan I FE Undip (1993), Pembantu Rektor I Undip (1998), Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah (2000), dan Tenaga Ahli Lemhannas RI (2008).

Di lingkungan Yayasan Alumni Undip sendiri, Prof. Miyasto pernah diberi amanah sebagai Wakil Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip pada tahun 2016. Beliau menggantikan posisi Drs. Sigit Pramono, MBA. yang ditugaskan ke Bank Dunia.

Puncak amanah yang diemban Prof. Miyasto adalah Ketua

Prof. Miyasto sangat mencintai pekerjaannya sebagai dosen.

Sebab, beliau yakin kegiatan

mengajar merupakan transfer

of knowledge untuk berbagi ilmu

sehingga diyakini sebagai amalan

yang tidak akan pernah terputus

Pembina Yayasan Alumni Undip pada 2021. Yayasan Alumni Undip merupakan Lembaga yang menaungi Universitas Semarang (USM).

Selama memegang amanah Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip, beliau concern melanjutkan apa yang telah dicanangkan oleh Prof Muladi, Ketua Pembina sebelumnya, yaitu terlaksananya Good University Governance (GUG) secara konsisten di Universitas Semarang.

Sebagai langkah awal pelaksanaan tugasnya, beliau telah menuangkan pokok-pokok pemikirannya sebagai Ketua Tim penyusunan buku Sejarah Universitas Semarang Jilid 2, sebagai lanjutan buku Sejarah Universitas Semarang Jilid 1 yang telah lebih dulu terbit. Selain itu, beliau merupakan Ketua Tim penyusunan Sejarah dan Perkembangan Yayasan Alumni Undip dan Ketua Tim Penyempurnaan Statuta Universitas Semarang.

Beliau menyadari, menjadi Ketua Pembina adalah tugas yang berat. Namun, beliau yakin bahwa dengan kerja sama yang baik dari seluruh stakeholder Yayasan dan USM, visi Yayasan dan visi USM akan dapat dicapai.

Visi USM adalah menjadi universitas yang menghasilkan sumber daya insani yang profesional dan beradab serta berkeindonesiaan, berwawasan teknologi informasi, dan pembangunan berkelanjutan yang mampu bersaing baik secara nasional maupun global.

Yayasan Alumni Undip menyadari akan menghadapi tantangan serius ke depan, di mana tingkat persaingan universitas yang sangat kuat, tidak hanya di dalam negeri

melainkan juga dengan universitas dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Tantangan dengan dinamika lingkungan strategis yang cepat berubah tak dapat dihindari, terutama perubahan teknologi informasi.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, telah dirumuskan kunci sukses utama, yaitu kapasitas USM dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Jumlah mahasiswa yang banyak di USM perlu didukung SDM yang memadai, baik dosen maupun karyawan. Dosen dan karyawan di USM dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mampu membangun karakter mahasiswa yang profesional berdasarkan iman dan taqwa. USM membangun lulusan yang tidak hanya pintar tapi juga sekaligus bermoral bagus agar menjadi kontributor terhadap pembangunan nasional.

Di samping pemikiran-pemikiran untuk memajukan USM, Prof. Miyasto juga seorang cendekiawan yang religius. Hal tersebut tampak dari kegiatan-kegiatan beliau sebagai takmir masjid di lingkungan tempat tinggal beliau. Beliau juga dikenal sangat peduli pada pelaksanaan ibadah di Masjid Baitur Rasyid di Kampus USM agar tetap tertib dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Prof. Miyasto sangat mencintai pekerjaannya sebagai dosen.

Sebab, beliau yakin kegiatan mengajar merupakan transfer of knowledge untuk berbagi ilmu sehingga diyakini sebagai amalan yang tidak akan pernah terputus sebagaimana Hadist Rasulullah:

Apabila anak Adam meninggal dunia maka amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.”(HR.Muslim)

Sedekah jariyah adalah sedekah yang diberikan dalam bentuk apa pun namun memberi manfaat yang panjang tiada putus bagi orang lain. Sedekah Jariyah merupakan sedekah memberikan manfaat banyak bagi orang lain.

Sehingga pahalanya pun akan terus mengalir kepada orang yang melakukan sedekah ini meski orang tersebut telah meninggal dunia. Inti dari sedekah ini adalah niat yang tulus serta ikhlas. Bukan karena mengharap pujian dan kebanggaan dari mata manusia lainnya.

Sementara, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berguna bagi orang lain dalam hal kebaikan. Selama ilmu yang diajarkan tersebut masih digunakan dan dimanfaatkan oleh orang lain maka selama itu pula pahala yang tiada henti akan mengalir terus kepada orang yang memberikan ilmu yang bermanfaat tersebut. Sekalipun orang yang memberikan ilmu tersebut telah meninggal dunia.

Adapun anak yang saleh adalah anak yang dididik dengan sangat baik oleh orang tuanya sehingga anak tersebut menjadi anak yang taat kepada Allah SWT dan selalu mendoakan orang tuanya.

Dalam kehidupan kita berbaur di masyarakat, perlu meneladani Hadist Nabi:

Diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah bersabda:

“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik- baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia,” (HR Thabrani dan Daruquthni).

Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat sudah seharusnya kita saling membantu dan menjadi berguna bagi orang lain. Kita diperintah untuk melakukan hal baik dan ramah serta menghindari perbuatan yang tercela bahkan merugikan orang lain,

Sebagai penutup, pengalaman dan kesaksian saat

berinteraksi dengan Prof Miyasto, mengingatkan saya pada Hadist:

“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab: “Yang Haram tersentuh api neraka adalah orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.”

(HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani).

Hayyin

Yakni orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tanda-tanda orang ini yaitu, tidak labil dan tidak gampang marah, memiliki pertimbangan yang penuh saat dihadapkan pada masalah, jarang memaki, melaknat, dan tersulut berita yang sampai padanya.

Layyin

Yakni orang yang lembut dan kalem, baik dalam bertutur kata atau berbuat. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri serta segalanya tertata rapi. Orang-orang seperti ini juga tidak suka melakukan pemaksaan pendapat.

Qarib

Supel, akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan. Tidak acuh tak acuh, cuek dan gampang berpaling. Biasanya orang seperti ini juga murah senyum, wajahnya berseri-seri dan enak dipandang.

Sahl

Orang yang baik hati memudahkan urusan orang lain, tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan membuat orang lain menghindar.

Pada intinya, orang yang haram tersentuh api neraka adalah mereka yang selalu menjaga hubungan baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan manusia (habluminannas). Di mata saya, begitulah sosok Prof.

Miyasto.

A

Prof. Miyasto dengan senyum khas bergambar dengan latar belakang Panser Anoa besutan Pindad. Pengangkut personel lapis baja ( Armored Personnel Carrier) ini antara lain sudah dimiliki oleh angkatan bersenjata Malaysia dan Brunai.

― Albert Einstein

Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?

Jargon ini konon sangat lekat dengan tipikal birokrat. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seantero dunia. Bahkan, si penerima Nobel Fisika, Albert Einstein pun menengarai sistem birokrasi adalah lonceng kematian bagi terlahirnya karya-karya terbaik. Namun agaknya, ini tidak berlaku untuk Prof. Miyasto. Di tiap level jabatan dan amanah dalam ranah birokrasi yang beliau emban, hasilnya diakui dan diapresiasi. Leadership- nya yang tegas tapi lembut dirasakan oleh semua anak buah dan kolega. Ia berani tampil memikul tanggung jawab akibat kesalahan yang dilakukan anak buah. Sembari, memberikan arahan yang sesuai sehingga kesalahan yang sama tidak diulang. Nasehat yang bakal diingat sepanjang hayat, menjadi suluh keberhasilan mereka.

Birokrat

Dalam dokumen Sang Pendidik - Universitas Diponegoro (Halaman 139-147)