• Tidak ada hasil yang ditemukan

Priyayi Penolong Kesulitan Orang

Dalam dokumen Sang Pendidik - Universitas Diponegoro (Halaman 96-102)

Dewi Safitri

Angkatan 92 IESP FE Undip. Saat ini bekerja untuk CNN Indonesia.

Barang siapa melapangkan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat. Barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan

penderitaannya di dunia dan akhirat. (HR Muslim) Saya akan langsung mengaku saja: saya tidak kenal Prof.

Miyasto almarhum. Sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi Undip tahun 1992-1998, tentu saja Almarhum adalah sosok terkenal di kampus. Semua mahasiswa tahu, Pak Miyasto (nama populernya ketika belum bergelar professor) adalah salah satu mesin akademik terpenting dalam operasi Fakultas Ekonomi saat itu, khususnya pada jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan.

Pak Mi mengampu antara lain mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro dan Ekonometrika, dua mata kuliah yang saya dengan susah payah (dan beberapa kali mengulang) berhasil lewati dengan nilai ala kadarnya. Ini mata kuliah yang, menurut saya, kompleks, menuntut pemahaman konsep, literasi cukup dan dasar matematika memadai – seluruhnya, celakanya, saya tak kuasai dengan baik. Saya tidak ingat apa saja yang diajarkan dalam mata kuliah

tersebut, demikian pula hakul yakin Pak Mi sama sekali tak ingat pernah punya mahasiswa dengan kapasitas pas-pasan seperti saya.

Persinggungan dengan Pak Mi terjadi

jauh setelah periode kuliah ini berlangsung.

Alkisah tahun 1997 Indonesia berada di ambang krisis.

Nilai rupiah rompal, dunia usaha kesulitan bayar likuiditas, korporasi kelabakan membayar utang dalam dan luar negeri dan begitu pula pemerintah. Kepercayaan publik pada sistem keuangan rontok dan rusuh kemudian terjadi di berbagai tempat.

Di Semarang, situasi jauh lebih terkendali. Setidaknya aksi kekerasan dan konflik terbuka tidak parah. Cuma gelombang PHK dan pengangguran baru bertambah di mana-mana, sama seperti di berbagai kota lain. Saya belum lulus kuliah saat itu, masih berstatus mahasiswa tak kunjung lulus karena sudah hampir enam tahun terdaftar di Fakultas Ekonomi. Di rumah, Ibu sudah wanti-wanti tak akan

meneruskan membayar biaya kuliah kalau tak segera lulus.

Di kampus, teman seangkatan sudah sangat jarang ditemui karena kebanyakan sudah lulus dan bahkan bekerja atau menikah.

Supaya tak terlalu kelihatan menganggur, sejak beberapa tahun sebelumnya saya menyambi kerja. Ndilalah ada saja

Tidak jelas wangsit dari mana,

tiba-tiba saja muncul ide

menghadap Pak Miyasto. Kenal

pribadi tidak, lha gimana, wong

nilai mata kuliahnya saja babak-

belur.

yang mempercayakan pekerjaan mulai dari mengajarkan Bahasa Inggris untuk anak TK, les untuk anak SD dan SMP sampai puncaknya, membantu para konsultan di sebuah lembaga konsultansi ekonomi dan pembangunan di dekat kampus. Dengan kualifikasi mepet, seorang senior di kampus berbaik hati memberi kesempatan bekerja di situ.

Kantor konsultan ini seingat saya membayar kami, para asisten, sebesar Rp300 ribu sebulan. Ini tidak jelek, dengan membandingkan ongkos sewa kamar kost saat itu berkisar Rp60 ribuan, potong uang makan dan transport, 300 ribu ini sangat berharga.

Singkat cerita hidup berjalan cukup lumayan: ada uang di tangan tiap bulan dan, untuk sementara, pikiran tertekan karena tak kunjung lulus bisa dihalau karena rutinitas bekerja. Ada kabar baik pula: kontrak para asisten akan diperpanjang setelah habis. Itu berarti pemasukan terjamin dan status pengangguran mungkin bisa dihindari agak lebih lama.

Kenyataannya, krisis moneter membikin semua harapan ini ambyar. Tak ada kontrak diperpanjang. Sebagian besar karyawan diterminasi karena kondisi keuangan perusahaan seret akibat sepinya pekerjaan konsultasi. Pemerintah daerah dan entitas lain yang selama ini jadi klien loyal harus mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan lebih urgen, tidak termasuk biaya konsultasi.

Apa boleh buat. Akhirnya jadi pengangguran juga. Sekolah tidak lulus-lulus, penghasilan tidak ada, pekerjaan tidak punya – lengkap. Seingat saya, ini adalah salah satu poin paling stressful dari pengalaman hidup sekitar dua abad saat

itu. Saya butuh pekerjaan dan penghasilan, dengan satu atau lain cara.

Tidak jelas wangsit dari mana, tiba-tiba saja muncul ide menghadap Pak Miyasto. Kenal pribadi tidak, lha gimana, wong nilai mata kuliahnya saja babak-belur. Kenal dalam

kapasitas luar akademik, apalagi. Intinya tak ada keterkaitan dengan Pak Mi kecuali bahwa beliau dan saya merupakan bagian dari sivitas akademika di kampus yang sama.

Saya menduga, mungkin saat itu sempat ada mendengar reputasi Pak Mi suka membantu mahasiswa, setelah saya ingat-ingat lagi rasanya tidak juga. Pokoknya ada dorongan kuat untuk menghadap beliau dan mohon bantuan.

Alhasil setelah ikut duduk-duduk di bangku tembok depan ruang Dekan (Pak Mi sudah jadi dekan saat itu) dari kejauhan nampak beliau hendak masuk ruangan. Begitu pintu tertutup saya cepat ikut menyelinap masuk ke dalam dan tanpa diminta, duduk saja di depannya. Sejak malam sebelumnya strategi yang saya atur saat menghadap adalah matur saja to the point, sukur-sukur bisa memancing rasa kasihan beliau.

Saya sampaikan kebutuhan soal kerja, penghasilan, tekanan untuk lulus dan kesediaan bekerja keras bila diberi kesempatan. Beliau tak banyak bicara. Mengambil secarik kertas berkop Dekan, menuliskan beberapa larik

Sungguh menyedihkan bahwa

setelah mendapat berbagai

kemudahan dan pertolongan

ini saya lupa apakah pernah

menyempatkan diri kembali

menemui Prof Mi untuk sekedar

menyampaikan terima kasih.

kalimat. Kira-kira kalau tak salah ingat bunyinya: “... yang bersangkutan adalah mahasiswa FE butuh pekerjaan mohon dibantu ...”.

Tidak pakai pertanyaan panjang-lebar, tanpa tes, tanpa curiga apa-apa dan lembar katebeletje itu pun diserahkan pada saya. Besoknya surat singkat itu sudah berada di tangan Kepala Unit Pengabdian Masyarakat (lebih sering disebut Lemlit - lembaga penelitian, sayap riset ilmu sosial ekonomi Undip) di Tembalang. Kepala unit ini, Drs Sundarso, jelas memberi penghormatan besar pada Pak Mi.

Lewat perantara surat beliau, saya langsung dipekerjakan dengan pangkat mentereng: asisten peneliti. Pekerjaannya mulai dari mengangkat telepon, mengetik naskah sampai memeriksa cetakan bila laporan penelitian selesai.

Bayarannya sebulan Rp350 ribu dan bonus Rp150 uang lump sum tiap satu laporan selesai diarsipkan. Jadi jumlahnya bisa mencapai Rp500 ribu per bulan. Alhamdulillah,

sampai kemudian akhirnya lulus saya juga lolos dari lubang pengangguran.

Sungguh menyedihkan bahwa setelah mendapat berbagai kemudahan dan pertolongan ini saya lupa apakah pernah menyempatkan diri kembali menemui Prof Mi untuk sekedar menyampaikan terima kasih. Hingga hari ini, rasanya

masih gela sekali. Beliau tidak dapat manfaat apa-apa dari bantuannya kepada saya, eh saya bilang terima kasih saja tidak. Apa boleh buat, rasa malu dan sesal ini nampaknya mesti saya bawa sepanjang hayat.

Beberapa puluh tahun setelah kisah katebeletje itu lakon Harry Potter dan petualangan sihirnya dari Inggris meledak

sangat populer di dunia. Ceritanya mengingatkan saya sekali lagi pada Pak Mi. Di tengah berbagai kesulitan Potter berjuang menegakkan keadilan dengan segala tantangan, Kepala Sekolah di Perguruan Tinggi sihir Hogwarts, Albus Dumbledore, menyemangati Potter dengan mengatakan:

“help will be given to those who ask for it”.

Belakangan saya tahu dari beberapa teman seangkatan, senior dan junior, Pak Mi memang pemurah dan penolong pada banyak orang. Mereka yang datang membawa masalah dijawab dengan solusi. Pak Mi adalah Albus Dumbledore untuk saya dan banyak orang lainnya. Saya nyaris tak ingat apapun soal mata kuliah Ekonomi Mikro atau Ekonometrika.

Tapi kebaikan dan sifat ringan tangan almarhum Pak Miyasto insyaallah akan selanjutnya abadi dalam kenangan.

Sugeng tindak, Prof. Saya menjadi saksi, Panjenengan adalah pribadi yang layak mendapat tempat terhormat di alam keabadian. Semoga Allah SWT senantiasa menurunkan rahmat-Nya.

A

Sang Penolong

Dalam dokumen Sang Pendidik - Universitas Diponegoro (Halaman 96-102)