Kurdinanto Sarah
Anggota Kelompok Keahlian (KK) Ilmu Kemanusiaan ITB, Wakil Ketua Institut
Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI)
Kedinasan Mengenalkan Saya Kepada Sosok Almarhum Prof. Miyasto
Mengagetkan. Itulah respon saya saat mendengar sahabat saya, Prof.Miyasto telah berpulang ke Rahmat Allah SWT pada tanggal 24 Maret 2021 lalu. Saya langsung terbayang persahabatan semasa sama-sama bekerja di Kantor
Lemhannas RI.
Awal berkenalan dengan Prof Miyasto di sekitaran tahun 2007/2008 saat almarhum resmi menjadi Tenaga Ahli Pengkaji bidang Ekonomi di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Sedangkan saya adalah Tenaga Ahli
Pengkaji bidang Iptek merangkap sebagai Wakor (Wakil Koordinator-pen) Tenaga Ahli Pengkaji Lemhannas RI. Interaksi kami dengan almarhum terjalin dengan baik dan menjadi lebih intensif di kala kami beserta beberapa teman lainnya mendapat penugasan khusus yaitu Perumusan Pengukuran Ketahanan
Nasional dari Gubernur Lemhannas saat itu.
Penugasan Gubernur tersebut sangat menantang untuk diselesaikan, tantangannya ada di rumusan akademis bagaimana sesuatu yang sifatnya kualitatif bisa terukur secara kuantitatif. Variabel ketahanan nasional cukup kompleks karena itu untuk melakukan pengukuran diperlukan kesepakatan-kesepakatan dari pakar-pakar ketahanan nasional khususnya pakar yang memang setiap hari menggeluti variabel tertentu. Jadi bisa dibayangkan pendapat pakar-pakar yang berbeda sudut pandangnya harus dikerucutkan menjadi satu kesepakatan pakar. Tanpa academic leader yang mumpuni kesepakatan tidak akan pernah terjadi dan tidak pernah terumuskan.
Sesama Dosen
Dikarenakan saya juga datang dari perguruan tinggi sebagai staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB), komunikasi
“Prinsip kebenaran dan
kejujuran akademik adalah
ciri utama almarhum dalam
merumuskan elemen-elemen
pengukuran ketahanan
nasional terutama saat
merumuskan variabel,
indikator dan parameter
ketahanan nasional.”
antar kami berdua sangat nyambung seperti layaknya komunikasi sesama dosen.
Prinsip kebenaran dan kejujuran akademik adalah ciri utama almarhum dalam merumuskan elemen-elemen pengukuran ketahanan nasional terutama saat merumuskan variabel, indikator dan parameter ketahanan nasional.
Ada puluhan variabel, ratusan indikator dan ratusan
parameter yang membentuk level of our national resilience.
Imajinasi, seperti quote nya Albert Einstein (abad 19) yaitu imagination is more important than knowledge adalah kata penyemangat berhasilnya rumusan sebagai bahan diskusi dalam forum FGD sebagai forum penyempurna.
Forum FGD diselenggarakan terus menerus dengan dukungan dari lembaga. Peserta FGD adalah seluruh stakeholder yaitu seluruh institusi pemerintah terkait, baik sipil maupun TNI dan Polri. Lemhannas dipimpin Gubernur mendapat kesempatan memaparkan hasil tim Kurtannas (Pengukuran Ketahanan Nasional) di hadapan Panglima TNI beserta jajarannya dan juga di hadapan Kapolri beserta jajarannya di Markas Besar masing-masing. Hasil paparannya mendapat tanggapan positif ditandai dengan adanya
program-program lanjutan.
Kunjungan K/L ke Lemhannas suatu hal yang biasa, tetapi tidak di hari kamis sore dan hari Jumat karena almarhum harus menyelesaikan tugas di Semarang di Undip. Demikian pula kunjungan Kepala UKP4 beserta jajarannya datang sebagai tamu Gubernur Lemhannas juga tertarik untuk berdiskusi. Diskusi berlangsung di gedung Pancagatra lantai 8. Semua tamu pimpinan lembaga umumnya berkesempatan
mendatangi Laboratorium Kurtannas di gedung Pancagatra lantai 8. Bisa dikatakan unit ini seolah-olah menjadi etalase lembaga.
Selain itu, kunjungan-kunjungan Bappeda Provinsi sesuatu hal biasa, bahkan MOU sudah banyak di tanda tangani khususnya agar Lemhannas melakukan seri pelatihan bagi aparat pemerintah daerah karena hasil kajian Kurtannas sangat membantu dalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah, ini pengakuan mereka.
Lembaga sangat mendukung terhadap Tim Kurtannas, yaitu kami bersama seorang guru besar dari Universitas Trisakti, seorang guru besar Undip dan seorang anggota TNI AU berpangkat Kolonel (kemudian promosi, sekarang berpangkat Marsda), dan tentunya seluruh personil Lemhannas anggota tim. Terima kasih Lemhannas.
Acungan Jempol dari Gubernur Lemhannas RI
Ketika usia saya memasuki usia 65 tahun bulan April 2015 maka sebagai staf pengajar/dosen di ITB yang bukan GB, adalah saat saya purna tugas. Demikian pula penugasan saya sebagai Tenaga Ahli Pengkaji/Wakor Tenaga Ahli Pengkaji di Lemhannas RI juga selesai. Bentuk pernyataan yang ingin saya sampaikan menutup paragraf ini, adalah bahwa dua Gubernur Lemhannas RI saat saya aktif yaitu Prof.Muladi (alm) dan Prof.Budi Susilo Soepandji mengacungkan dua jempol kepada alm Prof.Miyasto. Membanggakan tentunya.
Selesai mengabdi di Lemhannas, pada tahun yang sama (2015) saya mengabdi di instansi Badan Keamanan Laut (Bakamla RI). Sebagai Koordinator Pokja di Bakamla RI, saya tetap berkomunikasi dengan baik. Beliau pernah diundang
sebagai narasumber pada satu kesempatan FGD yang diselenggarakan oleh Bakamla RI, beliau menyampaikan pemikiran-pemikiran Kurtannas. Gayung bersambut kemungkinan metodologi kurtannas diaplikasikan untuk para stake holder di laut. Sejak FGD tersebut kajian tentang Pengukuran Ketahanan Nasional Di Laut berlangsung, kemudian juga menjawab persoalan penggabungan hasil dengan Pengukuran Ketahanan Nasional yang dibangun oleh Lemhannas RI. Pengukuran di Lemhannas lebih bertitik berat pada ruang darat(an) sedangkan yang direncanakan akan dibangun di Bakamla pada ruang laut(an). Sayang sekali, rencana tersebut belum terlaksana karena suatu sebab.
Walaupun ide besar (menurut kami) tersebut di atas belum terlaksana, satu hal yang dapat saya nyatakan bahwa almarhum Prof Miyasto telah menunjukkan dedikasi dan loyalitas keilmuan bagi siapa pun dan di manapun benar- benar tidak terbantahkan. Tidak berlebihan kiranya beliau merupakan contoh yang perlu ditiru oleh siapa pun.
A
Sekian dan Selamat Jalan Sahabat Prof Miyasto.
Terima kasih.