BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental, adalah suatu prosedur penelitian yang dilakukan dengan memberikan perlakuan/intervensi pada subjek penelitian, dengan tujuan menilai pengaruh suatu perlakuan pada variabel independen terhadap variabel dependen. Desain penelitian ini menggunakanquasi experimental(eksperimen semu) tanpa pembanding atau eksperimen pura-pura. Disebut demikian karena eksperimen jenis ini belum memenuhi persyaratan seperti cara dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan-peraturan tertentu. Rancangan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik one group pre test and post test design, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk menilai satu kelompok saja secara utuh (Notoatmodjo, 2012). Pendekatan penelitian one group pre test and post test design tanpa menggunakan kelompok pembanding (kontrol), tetapi pada penelitian ini pengujian pertama (pre test) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program). Adapun desain penelitiannya adalah sebagai berikut :
39
B.
Gambar 3.1 Desain Penelitian Ekperimen Semu (Sugiyono, 2014) Keterangan :
O1 : Pre-test diberikan sebelum pemberian relaksasi nafas
O2 : Post test diberikan setelah pemberian relaksasi nafas dalam u X1 : Pemberian relaksasi nafas dalam
Perlakuan latihan relaksasi napas dalam dilakukan selama 2 kali sehari selama 2 minggu. Pertemuan pertama dengan responden dilakukan pengukuran kecemasan (pre test). Setiap prosedur latihan relaksasi nafas dalam ini diulangi sebanyak 4 kali setiap gerakan dan dilakukan 2 kali sehari selama kurang lebih 10 menit (Nipa, 2017). Peneliti mendampingi responden sebanyak 2 kali dalam seminggu melakukan latihan relaksasi napas dalam.
Responden diberikan prosedur latihan relaksasi napas dalam dan lembar observasi kemampuan pasien melakukan latihan relaksasi napas yang diisi responden saat dan setelah melakukan latihan relaksasi napas dalam. Setelah pertemuan terakhir, responden dilakukan pengukuran skor kecemasan untuk nilaipost test.
C. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 3 Februari – 16 Februari 2020 di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara. Tanggal 3 Februari 2020 Pengukuran ( Pre Test ) dan Tanggal 16 Februari 2020 Pengukuran (Post Test).
O1 X O2
D. Populasi dan Sampel.
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien ibu hamil yang hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara berjumlah 18 orang.
2. Sampel Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa sampel adalah obyek yang akan diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi dimana dalam mengambil sampel penelitian menggunakan teknik-teknik tertentu. Total sampling karena jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian, sampel dalam penelitian ini adalah pasien ibu hamil yang hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara berjumlah 18 orang, dengan kriteria sebagai berikut :
a. Skor kecemasan ringan dan sedang.
b. Usia kandungan > 5 bulan (> 20 minggu) c. Ibu hamil tanpa penyakit penyerta.
d. Ibu hamil bersedia menjadi respoden penelitian.
e. Mengikuti penelitian hingga selesai.
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll) menurut Soeparto, dkk dalam Nursalam (2011).
1. Variabel bebas/independentmerupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2014). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah teknik relaksasi nafas.
2. Variabel terikat/dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2014). Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kecemasan pada pasien ibu hamil yang hipertensi.
F. Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi oleh orang lain (Nursalam, 2011).
Tabel 3.2. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
No Variabel Definisi Alat ukur Hasil Skala
1. Variabel
Independen : Teknik relaksasi nafas dalam
Bentuk asuhan
keperawatan, yang dalam hal ini perawat
mengajarkan kepada klien bagaimana cara
melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana
menghembuskan napas secara perlahan
Check list SOP teknik relaksasi nafas dalam
- Rasio
2. Variabel
Dependen :
Kecemasan ibu hamil hipertensi sebelum
pelaksanaan teknik relaksasi nafas dalam
Kecemasan ibu hamil hipertensi sebelum
pelaksanaan teknik relaksasi nafas dalam
Pengukuran kecemasan sebelum dilakukan intervensi teknik relaksasi nafas dalam.
Pengukuran kecemasan sesudah dilakukan intervensi teknik relaksasi nafas dalam.
Kuesioner Skala HARS
1. Tidak ada gejala : 0 2. Ringan : 3. Sedang :1 4. Berat : 32 5. Sangat
berat : 4
Kuesioner Skala HARS 1. Tidak ada
gejala : 0 2. Ringan : 3. Sedang :1 4. Berat : 32 5. Sangat
berat : 4
1. Tidak ada kecemasan : jika skor kurang dari 2. Ringan6 : jika skor 7 – 3. Sedang14 : jika skor 15 – 27 4. Berat : jika
skor lebih dari 27 1. Tidak ada
kecemasan : jika skor kurang dari 2. Ringan6 : jika skor 7 – 14 3. Sedang :
jika skor 15 – 27 4. Berat : jika
skor lebih dari 27
Rasio
Rasio
G. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data atau informasi yang relevan dengan permasalahan penelitian (Indrawan dan Yaniawati, 2014). Dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data penelitian, diperlukan peralatan dan bahan yang digunakan meliputi kuesioner skala HARS.
H. Analisa Data Penelitian 1. Analisa Univariat
Analisis univariat merupakan analisis yang dilakukan untuk menjelaskan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam
analisa ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi. Pada penelitian ini menganalisis distribusi frekuensi reaponden berdasarkan karakeristik responden.
2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis data yang menganalisis dua variabel, analisis ini sering digunakan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh x dan y antar variabel satu dengan lainya. Dalam penelitian ini analisis bivariat dilakukan untuk menguji pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menggunakan uji hipotesis numerik berpasangan. Analisis data yang dilakukan yaitu analisis bivariat menggunakan uji t berpasangan (paired sampel t test). Sebelumnya paired sampel t test harus memenuhi syarat yaitu data terdistribusi normal, variabel yang dihubungkan berbentuk numerik dan kategorik (Sugiyono, 2016). Formula yang dilakukan untukpaired sampel t testadalah :
T = d SD_d/Vn Keterangan:
D = rata-rata deviasi/selisih sampel 1 dengan sampel 2
SD_d = standar deviasi dari deviasi/selisih sampel 1 dan sampel 2 Keputusan ujidengan tingkat kemaknaan 95% atau α = 0,05 yaitu:
1) Apabila ρ value < 0,05 maka hipotesis diterima yang berarti ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu
hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
2) Apabila ρ value > 0,05 maka hipotesis ditolak yang berarti tidak ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Alternatif analisis data jika data berdistribusi tidak normal yaitu menggunakanwilcoxon test.
I. Jalannya Penelitian
Jalannya penelitian merupakan prosedur pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Prosedur administrative
a. Mengajukan surat permohonan ijin penelitian kepada Pimpinan Puskesmas.
b. Mengajukan permohonan ijin pengumpulan data.
c. Menentukan responden penelitian sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.
d. Mendiskusikan waktu dan tempat pelaksanaan penelitian.
2. Prosedur teknis penelitian
Adapun tehnik dalam penelitian ini peneliti menghubungi melalui telepon atau mendatangi ke rumah responden untuk menjelaskan dan meminta kesediaan menjadi responden dengan cara hadir pada pertemuan di Aula Puskesmas sesuai kesepakatan dengan responden peneliti
menjelaskan kembali dan meminta persetujuan menjadi responden dengan mengisi informed concent, Kemudian responden diwawancarai dengan menggunakan kuesioner awal (sebelum relaksasi nafas dalam) yang memuat pertanyaan nama, umur, pekerjaan, jenis kelamin, pendidikan, kemudian kuesioner kecemasan.
a. Pengukuran kecemasan sebelum dan sesudah intervensi dengan cara : 1) Menyiapkan responden dan kuesioner.
2) Menjelaskan cara mengisi kuesioner 3) Responden mengisi kuesioner 4) Memeriksa jawaban responden
b. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, dengan cara : 1) Ciptakan lingkungan yang tenang
2) Usahakan responden tetap rileks dan tenang
3) Memberi aba-aba kepada responden untuk menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3.
4) Responden perlahan-lahan menghembuskan udara melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks
5) Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
6) Menganjurkan responden untuk menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut
7) Membiarkan telapak tangan dan kaki responden rileks.
8) Usahakan responden agar tetap konsentrasi atau mata sambil terpejam.
J. Etika Penelitian
Penelitian kesehatan yang mengikutsertakan subjek manusia harus memperhatikan aspek etik dalam kaitan menaruh hormat atas martabat manusia (Dahlan, 2014). Terdapat dua komponen yang penting dalam memberikan informasi tentang etika. Kedua komponen itu adalah isu etika dan informed consent. Pada bagian isu etika proposal penelitian ini, peneliti menyampaikan langkah-langkah yang akan dilakukan supaya peneliti memenuhi syarat etis seperti mengenai bagaimana data diperoleh, bagaimana menjaga kerahasiaan subjek penelitian, bagaimana data akan dipublikasikan, bagaimana izin penelitian akan diperoleh dari subjek penelitian, bagaimana melaporkan adverse event dan serious adverse event dan komisi etik mana yang akan melakukan penilaian kelayakan proposal penelitian (Dahlan, 2014).
Komponen kedua adalah formulir informed consent. Adapun syarat informed consentadalah sebagai berikut :
1. Aspek bahasa
Bahasa yang digunakan adalah bahasa untuk orang awam.
2. Aspek kelengkapan dokumen
Footer dan headerformulir harus ada informasi judul penelitian, versi dan tanggalinformed consentdibuat,informed consentdewasa atau untuk anak, tempat penelitian dan nomor subjek penelitian.
3. Aspek kelengkapan informasi
Informasi yang diberikan kepada calon subjek harus lengkap. Informasi tersebut diklasifikasikan menjadi dua elemen, yaitu elemen dasar dan elemen tambahan, yang termasuk ke dalam elemen dasar yaitu:
a. Penjelasan bahwa kegiatan adalah sebuah penelitian.
b. Tujuan penelitian dan mengapa calon subjek diminta untuk ikut serta.
c. Prosedur penelitian.
d. Resiko potensial dan rasa tidak enak yang akan dialami calon subjek.
e. Manfaat langsung bagi subjek f. Prosedur alternatif
g. Penjagaan kerahasiaan data
h. Kompensasi bila terjadi kecelakaan dalam penelitian i. Partisipasi adalah sukarela dan
j. Nama dan alamat peneliti yang harus dihubungi bila terjadi kecelakaan atau bila subjek bertanya.
Elemen tambahan bagianinformed consentyaitu sebagai berikut : a. Perkiraan jumlah subjek yang akan diikutsertakan
b. Kemungkinan mendapat timbul resiko yang belum diketahui.
c. Subjek dapat dikeluarkan dari penelitian.
d. Bahaya potensial (bila ada) bagi subjek yang mengundurkan diri.
e. Kemungkinan timbulnya biaya bagi perusahaan asuransi kesehatan akibat keikutsertaan calon subjek dalam penelitian.
f. Insentif bagi subjek (bila ada).
4. Aspek kelengkapan persetujuan.
Harus ada informasi mengenai nama subjek, usia, tanda tangan dan tanggal penandatanganan yang harus ditulis oleh subjek sendiri. Pada bagian persetujuan juga harus ada nama peneliti, tanda tangan dan tanggal penandatanganan yang harus diisi sendiri oleh peneliti. Bila diperlukan peneliti harus membuat beberapa formulir persetujuan, misal formulir persetujuan untuk subjek dewasa yang sadar tetapi tidak mampu untuk membubuhkan tanda tangan, formulir persetujuan dewasa yang tidak sadar, formulir persetujuan anak dan lain-lain.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian mengenai pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara dengan jumlah responden sebanyak 18 orang, diperoleh sebagai berikut:
1. Karakteristik Responden
Mengidentifikasi karakteristik ibu hamil yang hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan umur responden, umur kehamilan, pendidikan dan pekerjaan dilakukan dengan analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi yaitu sebagai berikut:
Tabel 4.1. Karakteristik Ibu Hamil yang Hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Karakteristik Responden Jumlah Persentase (%) Umur Responden
21-30 tahun 13 72,2
≥ 31 tahun Umur Kehamilan
20-25 minggu 26-30 minggu Pendidikan SDSMP
SMAPerguruan tinggi
5 117
12 114
27,8 61,138,9
11,15,6 61,122,2 Pekerjaan
IRTPNS Swasta Pedagang Petani/Nelayan
102 13 2
55,611,1 16,75,6 11,1
Jumlah Responden 18 100
Sumber : Data Primer, 2020
50
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa karakteristik ibu hamil yang hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara sebagian besar umur antara 21-30 tahun berjumlah 13 orang (72,2%), umur kehamilan antara 20-25 minggu berjumlah 11 orang (61,1%), pendidikan terakhir tamat SMA berjumlah 11 orang (61,1%) dan pekerjaan sebagai IRT berjumlah 10 orang (55,6%).
2. Tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Analisis univariat untuk menjelaskan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2. Rata-rata skor tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Kelompok Pengukuran Mean SD Min-
Max 95%CI Tingkat
Kecemasan Intervensi Sebelum
(Pre) 15,89 6,220 9-25 13,66-
18,89
Sumber : Data Primer, 2020
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa skor rata-rata tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu 15,89, dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 4.3. Kriteria tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Kelompok Pengukuran Kriteria N %
Tingkat
Kecemasan Intervensi Sebelum
(Pre) Ringan
Sedang 9
9 50
50
Sumber : Data Primer, 2020
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kriteria tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat tingkat kecemasan ringan dan sedang yang masing-masing berjumlah 9 orang (50%).
3. Tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Analisis univariat untuk menjelaskan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4. Rata-rata skor tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Kelompok Pengukuran Mean SD Min-
Max 95%CI Tingkat
Kecemasan Intervensi Sesudah
(Post) 11,22 4,870 6-22 9,11-
13,44
Sumber : Data Primer, 2020
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa skor rata-rata tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu 11,22, dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 4.5. Kriteria tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Kelompok Pengukuran Kriteria N %
Tingkat
Kecemasan Intervensi Sesudah
(Post) Tidak ada Gejala Ringan Sedang
59 4
27,850
Sumber : Data Primer, 2020 22,2
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kriteria tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara sebagian besar tingkat kecemasan ringan berjumlah 9 orang (50%), kemudian tidak ada gejala berjumlah 5 orang (27,8%) dan tingkat kecemasan sedang berjumlah 4 orang (22,2%) .
4. Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sebelum dilakukan analisis data uji t berpasangan (paired sampel t test) harus memenuhi syarat uji normalitas. Pada penelitian ini dilakukan uji normalitas menggunakan shapiro wilk, dimana data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikannya > 0,05 dan berdistribusi tidak normal jika nilai signifikannya < 0,05. Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6. Uji normalitas tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum dan sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Pengukuran Kelompok Mean Median 95%
CI p
Tingkat Kecemasan
Sebelum (Pre) Sesudah
(Post)
Intervensi 15,89 11,22
15 10
12,80-18,98 8,80-13,64
0,080 0,070
Sumber : Data Primer, 2020
Berdasarkan tabel uji normalitas di atas diperoleh nilai signifikansi untuk tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara nilai signifikansi 0,080 > 0,05 yaitu data berdistribusi normal. Begitupula tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara nilai signifikansi 0,070 > 0,05 yaitu data berdistribusi normal. Sehingga data baik sebelum maupun setelah dilakukan tindakan pada kelompok intervensi yaitu berdistribusi normal yang berarti syarat uji t berpasangan (paired sampel t test)terpenuhi.
Hasil analisis pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.7. Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Kecemasan Pada Ibu Hamil Dengan Hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara
Variabel Kelompok Pengukuran Mean
±SD Beda
Mean t p
Kecemasan Intervensi Pre
Post 2,50±0,514
1,94±0,725 0,56 4,610 0,000
Sumber: Data Primer, 2020
Berdasarkan tabel 4.7 diperoleh beda mean kelompok intervensi antara kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam dengan kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi setelah melakukan teknik relaksasi nafas dalam sebesar 0,56 danp value0,000
< 0,05, yang artinya Ha diterima yaitu terdapat pengaruh teknik relaksasi
nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara diketahui bahwa nilai beda mean kelompok intervensi antara kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam dengan kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi setelah melakukan teknik relaksasi nafas dalam sebesar 0,56 dan p value0,000 <
0,05, yang artinya Ha diterima yaitu terdapat pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara.
Untuk skor rata-rata tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sebelum melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu 15,89 dengan kriteria tingkat kecemasan ringan dan sedang yang masing-masing berjumlah 9 orang (50%). Kemudian skor rata-rata tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi sesudah melakukan teknik relaksasi nafas dalam di Puskesmas Prangat Kabupaten Kutai Kartanegara mengalami penurunan menjadi 11,22, dengan kriteria sebagian besar tingkat kecemasan ringan berjumlah 9 orang (50%), kemudian tidak ada gejala berjumlah 5 orang (27,8%) dan tingkat kecemasan sedang berjumlah 4 orang (22,2%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Sudaryani (2017) menunjukkan bahwa setelah dilakukan penerapan teknik distraksi relaksasi (nafas dalam) ibu merasa nyamn dan rileks, sehingga terjadi penurunan tekanan darah meskipun tidak signifikan. Maka teknik relaksasi nafas dalam dapat menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil dengan pre-eklampsia.
Didukung pula Ayumi (2014) menunjukkan bahwa ada pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil hipertensi di Puskesmas Kendit Kecamatan Kendit Situbondo.
Kehamilan pada umumnya merupakan ujian berat bagi seorang wanita dan menimbulkan ketakutan serta kecemasan pada dirinya. Kecemasan yang timbul biasanya akibat informasi yang salah mengenai kehamilan dan kelahiran, harapan yang ada dalam pemikirannya dan penolakan bayi dalam kandungannya.
Gangguan suasana perasaan dan kecemasan pada ibu merupakan faktor terjadinya pre-eklampsia. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiko hipertensi adalah tingkat kecemasan pada ibu hamil. Ibu hamil yang mengalami kecemasan akan meningkatakan resiko pre-eklampsia. Pada ibu hamil dengan pre-eklampsia dibutuhkan cara untuk mengatasi kecemasan dalam menghadapi persalinan, hal ini melibatkan strategi coping untuk mengatasi keadaan dari situasi yang menekan, menantang atau mengancam. Disisi lain perawat berperan besar dalam penanggulangan hipertensi melalui pendekatan non farmakologi. Intervensi yang termasuk dalam pendekatan non farmakologis salah satunya adalah dengan teknik ditraksi relaksasi (nafas dalam). Melakukan distraksi relaksasi nafas dalam dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah. Hal ini
dikarenakan nafas dalam merupakan suatu usaha untuk inspirasi dan ekspirasi sehingga berpengaruh terhadap peregangan kardiopulmonal (Sudaryani, 2017).
Relaksasi nafas dalam adalah suatu teknik merilekskan ketegangan otot yang dapat membuat pasien merasa tenang dan bisa menghilangkan dampak psikologis stres pada pasien. Relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan yang dalam ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dalam secara perlahan (Teti, 2015).
Menurut Smeltzer & Bare (2002) dalam Teti (2015) tujuan teknik relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stres fisik maupun emosional yaitu menurunkan kecemasan.
Penatalaksanaan nonfarmakologis terapi relaksasi nafas dalam untuk menurunkan kecemasan pada ibu hamil dengan hipertensi, dikarenakan terapi relaksasi nafas dalam dapat dilakukan secara mandiri, relatif mudah dilakukan dari pada terapi nonfarmakologis lainnya, tidak membutuhkan waktu lama untuk terapi, dan dapat mengurangi dampak buruk dari terapi farmakologis bagi pibu hamil dengan hipertensi. Ketidakstabilan emosi ibu hamil dengan hipertensi mempengaruhi tingkat kecemasan ibu hamil. Ibu hamil dengan hipertensi berpotensi terkena hipertensi kronis setelah masa kehamilannya selesai.
Hipertensi kronis sendiri dikaitkan dengan banyak sekali penyakit, misalnya stroke dan penyakit jantung koroner. Adapun aliran darah plasenta yang tidak lancar menyebabkan janin tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi yang