• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Sumber Data

Dalam dokumen analisis putusan pengadilan niaga makassar (Halaman 59-62)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Jenis dan Sumber Data

46 A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Negeri Niaga Makassar dengan mengambil putusan dari Pengadilan Negeri Niaga Makassar sebagai salah satu sumber bahan hukum untuk digunakan dalam penelitian ini serta meakukan wawancara terhadap hakim pengadilan. Adapun putusan yang diambil yakni putusan Nomor: 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga MKs.

1. Sumber Hukum Primer

Sumber hukum primer, adalah bahan hukum yang bersifat otoritatif karena berasal dari hukum yang mengikat atau yang dirancang oleh pihak yang berwenang. Dimana bahan hukum primer ini meliputi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dan

2. Sumber Hukum Sekunder

Sumber hukum sekunder, adalah bahan hukum yang merupakan bagian atau yang menjelaskan bahan hukum primer. Dimana bahan hukum sekunder berisi data primer yang kemudian dijelaskan dan menjadi bahan hukum utama dalam penelitian ini berupa jurnal-jurnal, buku-buku yang berkaitan dengan judul penelitian, artikel dan hasil penelitian yang berkaitan dengan kepailitan.

D. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Ada tiga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yakni:

1. Wawancara

Wawancara yakni teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data secara langsung di lapangan. Dimana penulis melakukan wawancara dengan responden yang terkait dengan penelitian, yakni Hakim Pengadilan Negeri Niaga Makassar.

2. Dokumentasi

Dokumentasi yakni teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan melihat atau menganalisa dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau orang

lain mengenai subjek. Seperti yang diketahui bahwa sejumlah besar fakta maupun data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Dalam hal ini, penulis melakukan dokumentasi dengan melihat dokumen seperti peraturan dan putusan, maupun gambar atau data yang memiliki keterkaitan dengan judul penelitian.

3. Studi Kepustakaan

Penelitian kepustakaan yakni bentuk penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun atau melakukan penelusuran dalam dokumendokumen atau keterangan-keterangan yang dibutuhkan untuk penelitian ini. Dalam hal ini, penulis akan menganalisa perbandingan pelaksanaan yang akan didapatkan dari literatur-literatur hukum, peraturan perundang-undangan, internet, dan semua bahan hukum yang memiliki keterkaitan dengan permasalahan yang dibahas.

E. Analisis Data

Semua data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis dengan metode analisis kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif dan empiris. Analiss Kualitatif yang dimaksud disini yakni analisis yang dilakukan dengan melakukan penjabaran secara jelas mengenai kenyataan atau keadaan atas suatu objek dalam bentuk kalimat untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan terinci terkait dengan permasalahan hingga kita mudah untuk menarik suatu kesimpulan.

49 A. Hasil Penelitian

1. Posisi Kasus

Perkara yang dibahas dalam penelitian ini yakni kepailitan yaitu debitornya meninggal dunia dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks. Permohonan pailit terhadap Alm. Ivan Limbunan sebagai Termohon I dengan penggantinya yakni Fransiska Ida yang merupakan istri almarhum sebagai Termohon II. Adapun Para Pemohon yakni Muhammad Saleh Dg. Sewang sebagai Pemohon Pailit I, Hudy Auw sebagai Pemohon Pailit II, H. Muh Radi Rasdha sebagai Pemohon Pailit III, dan Marji Rumpak sebagai Pemohon Pailit IV. Termohon I telah meminjam sejumlah uang dari keempat Kreditor dengan total Rp.3.310.239.000,00. Para pemohon mengirimkan surat somasi kepada Termohon namun dibalas dengan Surat Jawaban Somasi oleh isteri Termohon Pailit I mengenai pengakuan utang sebagaimana yang diajukan dalam somasi disertai pernyataan mengenai meninggalnya Termohon Pailit I pada Tanggal 26 Juni 2020 serta adanya sengketa mengenai warisan dari si Termohon.

Hingga setelah berbagai upaya yang dilakukan oleh Para Pemohon I hingga Pemohon IV untuk mendapatkan haknya masing-masing, mereka pun melakukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga pada Tanggal 12 Oktober 2021. Permasalahannya kemudian dalam pembuktian untuk permohonan

pailit yang diajukan oleh para Pemohon adalah karena permohonan utang dilakukan oleh para setelah lewat waktu 90 hari setelah Termohon I yakni Alm. Ivan Limbunan telah meninggal dunia. Dimana dalam Pasal 210 UU KPKPU yang menyatakan bahwa “Permohonan Pailit Terhadap Debitor yang sudah meninggal dunia harus diajukan paling lambat 90 hari setelah si Debitor meninggal dunia” sementara para Pemohon memang baru mengentahui bahwa Termohon I telah meninggal setelah melayangkan somasi pertamanya masing-masing yang telah lewat selama 1 tahun 3 bulan.

2. Gugatan Pailit

Terhadap duduk perkara yakni antara permohonan pemohon terhatap termohon bahwa:

a. Bahwa pada tanggal 9 September 2011, TERMOHON PAILIT I telah meminjam uang dari PEMOHON PAILIT I sebesar Rp. 200,000,000,- (dua ratus juta rupiah) berdasarkan bukti kwitansi tanggal 9 September 2011 yang ditandatangani oleh TERMOHON PAILIT I. Oleh karena i tu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT I

b. Bahwa dalam kurun waktu Februari 2015 sampai dengan Mei 2015, TERMOHON PAILIT I telah meminjam uang sebesar Rp. 110.239.000 (seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh Sembilan ribu rupiah) kepada PEMOHON PAILIT II dengan rincian sebagai berikut :

1) Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) tanggal 28 Februari 2015 bilyer giro No. CL 229576;

2) Rp. 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) tanggal 4 Maret 2015 bilyet giro No. CL 529895;

3) Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) tanggal 12 Maret 2015 bilyet giro No. CL 529890;

4) Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah) tanggal 31 Maret 2015 bilyet gi ro No. CL 229577;

5) Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) tanggal 19 Maret 2015 bilyet giro No. CL 529896;

6) Rp. 9.289.000 (Sembilan juta dua ratus delapan puluh Sembilan ribu rupiah) tanggal 8 April 2015 bilyet giro No. CL 226419

7) Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) tanggal 18 April 2015 bilyet giro No. CL 226421;

8) Rp. 10.950.000 (sepuluh juta Sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) kwitansi tanda terima.

Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT II;

c. Bahwa pada tanggal 5 Februari 2011, TERMOHON PAILIT I telah meminjam uang kepada PEMOHON PAILIT III sebesar Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) berdasarkan bukti kwitansi tanggal 5 Februari 2011; Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT III;

d. Bahwa dalam hal ini PEMOHON PAILIT IV berdasarkan Akta Notaris Nomor: 01, tertanggal 1 Maret 2014, PEMOHON PAILIT IV telah memberikan pinjaman kepada TERMOHON PAILIT I sebesar Rp.

2,500,000,000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) dengan jaminan berupa 15 (lima belas) bidang tanah dan bangunan kepada PEMOHON PAILIT IV dihadapan Notaris MICHIKO SODIKIM di Makassar sebagaimana tertuang dalam Perjanjian dan Persetujuan Akta Notaris Nomor : 01, tertanggal 1 Maret 2014 sehingga secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I telah mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman sebesar Rp. 2,500,000,000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) kepada PEMOHON PAILIT IV; Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT II;

Dengan berdasarkan fakta-fakta dan alasan-alasan hukum tersebut di atas, dan dengan terpenuhinya segala ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) jo.

Pasal 8 ayat (4) UU No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, mohon kiranya Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar yang memeriksa, mengadili dan memutus Permohonan a quo berkenan memberikan Putusan sebagai berikut:

a. Menerima dan mengabulkan Permohonan Para Pemohon Pailit untuk seluruhnya;

b. Menyatakan Para Pemohon Pailit adalah Kreditur dari Para Termohon Pailit;

c. Menyatakan dan menetapkan TERMOHON PAILIT I, yaitu ALM. IVAN LIMBUNAN beralamat di Jl. Sungai Saddang Baru No. 18 Makassar dan TERMOHON PAILIT II, yaitu FRANSISKA IDA (ISTRINYA ALM.

IVAN LIMBUNAN) beralamat di Jl. Lasandara No. 14 Korumba, Kec.

Mandonga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara 93111, PAILIT dengan segala akibat hukumnya;

d. Mengangkat Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar sebagai Hakim Pengawas;

e. Menunjuk dan mengangkat :

1) MUHAMMAD ARSYAD, S.H. Kurator & Pengurus , yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No.

AHU-256AH.04.03-2020, tertanggal 13 Juli 2020;

2) MUHAMMAD FADHIL PUTRA RUSLI, S.H. Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-310AH.04.03-2020, tertanggal 12 Agustus 2020;

3) NURHAMLI, S.H., M.H., Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No.

AHU-270AH.04.03-2021, tertanggal 13 April 2021;

4) MUSDALIFAH, S.H. Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No.

AHU-236.AH.04.03-2017, tertanggal 13 Desember 2017. Sebagai Tim Kurator dalam proses Kepailitan.

f. Menghukum Para Termohon Pailit untuk membayar segala biaya yang timbul dalam Perkara ini.

Terhadap gugatan yang dilayangkan para pemohon terhadap termohon sangat mengharap agar segala gugatan yang dilayangkan dapat diterima berdasarkan segala fakta-fakta dan alasan-alasan hukum yang diajukan dan mendapatkan apa yang diharapkan yakni putusan yang seadil-adilnya.

3. Amar Putusan Pailit

Dimana amar putusan hakim dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks memutus bahwa:

1. Mengabulkan Permohonan Para Pemohon Pailit tersebut untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Debitor Pailit I Alm. Ivan Limbunan beralamat di Jalan Sungai Saddang Baru Nomor 18, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan dan Termohon Pailit II Fransiska Ida (Istri Alm. Ivan Limbunan) beralamat di Jalan Lasandara Nomor 14, Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;

3. Menunjuk Burhanuddin, S.H., M.H., Hakim Niaga di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar sebagai Hakim Pengawas;

4. Mengangkat Kurator:

a. Muhammad Arsyad, S.H., Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU-256AH.04.03-2020, tertanggal 13 Juli 2020;

b. Muhammad Fadhil Putra Rusli, S.H., Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU-310AH.04.03-2020, tertanggal 12 Agustus 2020;

c. Nurhamli, S.H., M.H., Kurator & Pengurus yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU-270AH.04.03-2021, tertanggal 13 April 2021;

d. Musdalifah, S.H., Kurator & Pengurus yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU-236.AH.04.03-2017, tertanggal 13 Desember 2017;

Sebagai Tim Kurator dalam proses Kepailitan;

5. Menetapkan biaya kepailitan dan imbalan jasa Kurator akan ditetapkan kemudian setelah proses kepailitan berakhir;

6. Menghukum Para Debitor untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp2.495.000,00 (dua juta empat ratus sembilan puluh lima ribu rupiah);

B. Pembahasan

1. Analisis Unsur-Unsur Debitor Pailit Dalam Putusan Pailit Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks

a. Unsur “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih”

Syarat pertama dalam permohonan pailit adalah adanya debitor menurut Pasal 1 angka 3 UU KPKPU dijelaskan bahwa debitor adalah orang yang mempuyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasanya dapat ditagih di muka pengadilan, jadi syarat adanya debitor menjadi syarat mutlak dalam permohonan pailit.

Syarat bahwa debitor harus memiliki minimal dua kreditor sangat terkait dengan filosofi lahirnya hukum kepailitan. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa hukum kepailitan merupakan realisasi dari pasal 1132 KUH Perdata. Dengan demikian jelas bahwa debitor tidak dapat dituntut pailit, jika debitor tersebut hanya mempunyai satu kreditor.

Dengan disahkannya Undang-undang nomor 37 Tahun 2004 UU Kepailitan. Sebagai pencabutan atas undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 telah terdapat kepastian mengenai pengertian “kreditor”. Pasal 1 angka 2 undang-undang Nomor 37 tahun 2004 memberikan definisi kredtor sebagai berikut:

Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena per- janjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.

Lebih lanjut dalam Pasal 2 ayat (1) juga dijelaskan bahwa:

Yang dimaksud dengan “Kreditor” dalam ayat ini adalah baik kreditor konkuren, kreditor separatis maupun kreditor preferen. Khusus mengenai kreditor separatis dan kreditor preferen, mereka dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas kebendaan yang mereka miliki terhadap harta Debitor dan haknya untuk didahulukan.

Bilamana terdapat sindikasi kreditor maka masing-masing Kreditor adalah Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2.

Terkait dengan unsur ini, dalam putusannya majelis hakim mempertimbangkan bahwa:

1) Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Debitor adalah Orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang pelunasannya dapat ditagih dimuka pengadilan (Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU);

2) Menimbang, bahwa sedangkan yang dimaksud dengan Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih dimuka pengadilan (Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 37 tahun 2004);

3) Menimbang, bahwa dari pengertian “Kreditor dan Debitor”

sebagaimana tersebut pada pasal 1 angka 1 dan angka 2 Undang- Undang No. 37 Tahun 2004 tersebut di atas, maka Kreditor adalah pihak yang memiliki tagihan atau hak tagih berupa pembayaran sejumlah uang, yang hak tersebut timbul karena adanya perjanjian maupun karena Undang-Undang, Sedangkan Debitor adalah pihak yang memiliki kewajiban membayar sejumlah uang yang timbul karena perjanjian utang piutang maupun perjanjian lainnya atau yang timbul karena Undang- Undang;

4) Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari

atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang- Undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi, maka memberi hak kepada Kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor (Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 );

5) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.15., Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit I sebesar Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);

6) Menimbang, bahwa berdsarkan bukti PP30. sampai dengan bukti P.39. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit II yang totalnya mencapai Rp.110.239.000,00 (seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah);

7) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.39. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit III sebesar Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

8) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.41. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit IV sebesar Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah);

9) Menimbang, bahwa Termohon Pailit I (alm. Ivan Limbunan) dan ahli warisnya melalui kuasa hukumnya membenarkan hutang- hutang tersebut di atas;

10) Menimbang, bahwa terhadap kedudukan hukum Termohon Pailit II Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 23 Undang-undang Nomor 37 tahun 2004, dijadikannya Termohon Pailit II sebagai pihak dalam perkara ini sudah tepat;

11) Menimbang, bahwa dengan demikian dari fakta tersebut di atas Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II dalam perkara ini mempunyai 4 (empat) Kreditor yaitu Pemohon Pailit I, Pemohon Pailit II, Pemohon Pailit III dan Pemohon Pailit IV;

12) Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat syarat Ad.1 tersebut telah terpenuhi;

Lebih lanjut, terkait dengan unsur ini, yang memeriksa perkara ini di tingkat pertama menyatakan bahwa (Herianto, S.H., M.H, hakim ketua, Wawancara, 09/01/2023) :

“unsur “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih”

telah memenuhi syarat terhadap perkara yang diajukan oleh pemohon terhadap termohon dengan dibuktikannya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan dalam putusan No. 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks, terhadap hal tersebut permohonan pernyataan pailit dapat diajukan ke Pengadilan Niaga.

Berdasarkan penjelasan sebagaimana yang telah penulis uraikan terkait dengan unsur “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih” yang lebih lanjut disesuaikan dengan pertimbangan-pertimbangan hakim dalam Putusan No. 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks serta hasil wawancara dengan hakim ketua di perkara ini, penulis menyimpulkan bahwa unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Mulai dari kriteria debitor dan kreditur yang telah dibuktikan dan diterima serta diyakini oleh majelis hakim.

Dimana debitor yang terdiri dari dua pihak yakni atas nama Alm. Ivan Lambunan selaku Termohon I dan isterinya atas nama Fransisca Ida selaku Termohon II. Dan Kreditur yang terdiri dari empat orang yakni, atas nama Muhammad Saleh Dg. Sewang selaku Pemohon I, Hudy Auw selaku Pemohon II, H. Muh. Radi Rasdha selaku Pemohon III, dan Marji Rumpak, Drg. selaku Pemohon IV.

b. Unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”

Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) yang dimaksud dengan "utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih" adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase.

Adapun utang sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka (6) UU KPKPU, yang dimaksud dengan utang yakni kewajiban yang dapat atau dapat diekspresikan dalam uang, dalam mata uang Indonesia atau mata uang asing, baik secara langsung atau dikemudian hari atau secara bersyarat, kontraktual atau bersyarat, yang harus dipenuhi oleh debitor dan jika tidak dipenuhi pemberian hak kepada kreditur untuk pengakuan hukum terhadap harta kekayaan debitor .

Uraian diatas menggambarkan bahwa pengertian utang disini mungkin muncul bukan hanya karena perjanjian utang atau perjanjian pinjaman, tetapi juga hasil dari peraturan atau perjanjian yang dinilai dengan uang.

Kejelasan pengertian utang di dalam Pasal 1 butir (6) ini dirasakan lebih nyata di banding Undang-Undang Kepailitan sebelumnya yang tidak menjabarkan pengertian dari utang tersebut.64

64 Brata Yoga Lumbanraja, Siti Malikhatun Badriyah, Irma Cahyaningtyas, Op.Cit., hal 158.

UU KPKPU yang menjelaskan bahwa istilah utang yang jatuh tempo dan dapat ditagih dimaknai sebagai kewajiban membayar utang yang telah dilunasi karena sudah disepakati, percepatan waktu pemulihan yang telah disepakati, pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang atau karena keputusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase. Ada perbedaan antara arti utang yang telah jatuh tempo dan utang yang telah dapat ditagih. Utang yang jatuh tempo atau utang yang telah expired atau due otomatis menjadi utang yang tertagih, tapi utang yang telah dapat ditagih belum tentu utang yang kadaluwarsa telah jatuh tempo.

Menegaskan uraian di atas, utang hanya akan dibayarkan jika menurut perjanjian atau kontrak pinjaman, utang tersebut telah mencapai waktu pembayaran yang ditentukan dalam kontrak oleh debitor.65

Terdapat dua pendapat sehubungan dengan unsur “utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat pihak yang menganggap unsur “jatuh waktu” dan “dapat ditagih”

sebagai satu kesatuan dan ada yang tidak. Jika mengikuti pendapat yang pertama, maka harus menggantungkan pada perjanjian yang mendasari hubungan hukum di antara debitor dan kreditor. Hal yang dapat menjadi permasalahan adalah apabila tidak diatur secara jelas kapan suatu perjanjian jatuh tempo, maka akan lebih sulit untuk diputuskan apakah kreditor telah dapat menagihnya atau belum. Sedang jika mengikuti pendapat yang kedua, maka diperbolehkan untuk melakukan suatu

65 Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No. 37 Tahn 2004 Tentang Kepailitan, (Jakarta: Grafiti, 2010), hal. 20.

penagihan meskipun utang tersebut belum jatuh waktu (jika diatur dalam perjanjian).

Berikut ini pertimbangan hakim terkait dengan unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks:

1. Menimbang, bahwa Undang-Undang tidak memberikan penjelasan kapan Debitor dinyatakan dalam keadaan berhenti membayar, namun menurut Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung : “Debitor dikatakan berhenti membayar tidak harus diartikan sebagai keadaan dimana Debitor memang tidak mempunyai kesanggupan lagi untuk membayar hutang-hutangnya kepada salah seorang atau lebih kreditor, akan tetapi termasuk pula keadaan dimana Debitortidak berprestasi lagi pada saat permohonan pailit diajukan ke pengadilan” ;

2. Menimbang, bahwa pengertian Utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang maupun karena putusan pengadilan arbiter atau Majelis Arbitrase ( penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 );

3. Menimbang, bahwa dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 109/KMA/SK/IV/2020 tentang Pemberlakuan Buku Pedoman Penyelsaian Perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang poin 5.1.3 huruf e bagian iii

“Menentukan jatuh waktu, apabila tidak dicantumkan dalam perjanjian atau tidak ada kesepakatan tentang jatuh waktu, maka jatuh waktu ditentukan pada saat utang tersebut ditagih”;

4. Menimbang, bahwa sebagaimana yang telah dipertimbangkan di atas bahwa Termohon Pailit I dan Termohon Palit II ada memiliki hutang kepada Pemohon Pailit I sebesar Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II ada memiliki hutang kepada Pemohon Pailit II sebesar Rp.110.239.000,00 (seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah), Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II ada memiliki hutang kepada Pemohon pailit III sebesar

Dalam dokumen analisis putusan pengadilan niaga makassar (Halaman 59-62)

Dokumen terkait