BAB IV PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Yang dimaksud dengan “Kreditor” dalam ayat ini adalah baik kreditor konkuren, kreditor separatis maupun kreditor preferen. Khusus mengenai kreditor separatis dan kreditor preferen, mereka dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak agunan atas kebendaan yang mereka miliki terhadap harta Debitor dan haknya untuk didahulukan.
Bilamana terdapat sindikasi kreditor maka masing-masing Kreditor adalah Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2.
Terkait dengan unsur ini, dalam putusannya majelis hakim mempertimbangkan bahwa:
1) Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Debitor adalah Orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang pelunasannya dapat ditagih dimuka pengadilan (Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU);
2) Menimbang, bahwa sedangkan yang dimaksud dengan Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih dimuka pengadilan (Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 37 tahun 2004);
3) Menimbang, bahwa dari pengertian “Kreditor dan Debitor”
sebagaimana tersebut pada pasal 1 angka 1 dan angka 2 Undang- Undang No. 37 Tahun 2004 tersebut di atas, maka Kreditor adalah pihak yang memiliki tagihan atau hak tagih berupa pembayaran sejumlah uang, yang hak tersebut timbul karena adanya perjanjian maupun karena Undang-Undang, Sedangkan Debitor adalah pihak yang memiliki kewajiban membayar sejumlah uang yang timbul karena perjanjian utang piutang maupun perjanjian lainnya atau yang timbul karena Undang- Undang;
4) Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari
atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang- Undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi, maka memberi hak kepada Kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor (Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 );
5) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.15., Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit I sebesar Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah);
6) Menimbang, bahwa berdsarkan bukti PP30. sampai dengan bukti P.39. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit II yang totalnya mencapai Rp.110.239.000,00 (seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah);
7) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.39. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit III sebesar Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
8) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.41. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit IV sebesar Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah);
9) Menimbang, bahwa Termohon Pailit I (alm. Ivan Limbunan) dan ahli warisnya melalui kuasa hukumnya membenarkan hutang- hutang tersebut di atas;
10) Menimbang, bahwa terhadap kedudukan hukum Termohon Pailit II Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 23 Undang-undang Nomor 37 tahun 2004, dijadikannya Termohon Pailit II sebagai pihak dalam perkara ini sudah tepat;
11) Menimbang, bahwa dengan demikian dari fakta tersebut di atas Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II dalam perkara ini mempunyai 4 (empat) Kreditor yaitu Pemohon Pailit I, Pemohon Pailit II, Pemohon Pailit III dan Pemohon Pailit IV;
12) Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat syarat Ad.1 tersebut telah terpenuhi;
Lebih lanjut, terkait dengan unsur ini, yang memeriksa perkara ini di tingkat pertama menyatakan bahwa (Herianto, S.H., M.H, hakim ketua, Wawancara, 09/01/2023) :
“unsur “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih”
telah memenuhi syarat terhadap perkara yang diajukan oleh pemohon terhadap termohon dengan dibuktikannya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan dalam putusan No. 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks, terhadap hal tersebut permohonan pernyataan pailit dapat diajukan ke Pengadilan Niaga.
Berdasarkan penjelasan sebagaimana yang telah penulis uraikan terkait dengan unsur “Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih” yang lebih lanjut disesuaikan dengan pertimbangan-pertimbangan hakim dalam Putusan No. 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks serta hasil wawancara dengan hakim ketua di perkara ini, penulis menyimpulkan bahwa unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Mulai dari kriteria debitor dan kreditur yang telah dibuktikan dan diterima serta diyakini oleh majelis hakim.
Dimana debitor yang terdiri dari dua pihak yakni atas nama Alm. Ivan Lambunan selaku Termohon I dan isterinya atas nama Fransisca Ida selaku Termohon II. Dan Kreditur yang terdiri dari empat orang yakni, atas nama Muhammad Saleh Dg. Sewang selaku Pemohon I, Hudy Auw selaku Pemohon II, H. Muh. Radi Rasdha selaku Pemohon III, dan Marji Rumpak, Drg. selaku Pemohon IV.
b. Unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”
Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) yang dimaksud dengan "utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih" adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase.
Adapun utang sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka (6) UU KPKPU, yang dimaksud dengan utang yakni kewajiban yang dapat atau dapat diekspresikan dalam uang, dalam mata uang Indonesia atau mata uang asing, baik secara langsung atau dikemudian hari atau secara bersyarat, kontraktual atau bersyarat, yang harus dipenuhi oleh debitor dan jika tidak dipenuhi pemberian hak kepada kreditur untuk pengakuan hukum terhadap harta kekayaan debitor .
Uraian diatas menggambarkan bahwa pengertian utang disini mungkin muncul bukan hanya karena perjanjian utang atau perjanjian pinjaman, tetapi juga hasil dari peraturan atau perjanjian yang dinilai dengan uang.
Kejelasan pengertian utang di dalam Pasal 1 butir (6) ini dirasakan lebih nyata di banding Undang-Undang Kepailitan sebelumnya yang tidak menjabarkan pengertian dari utang tersebut.64
64 Brata Yoga Lumbanraja, Siti Malikhatun Badriyah, Irma Cahyaningtyas, Op.Cit., hal 158.
UU KPKPU yang menjelaskan bahwa istilah utang yang jatuh tempo dan dapat ditagih dimaknai sebagai kewajiban membayar utang yang telah dilunasi karena sudah disepakati, percepatan waktu pemulihan yang telah disepakati, pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang atau karena keputusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase. Ada perbedaan antara arti utang yang telah jatuh tempo dan utang yang telah dapat ditagih. Utang yang jatuh tempo atau utang yang telah expired atau due otomatis menjadi utang yang tertagih, tapi utang yang telah dapat ditagih belum tentu utang yang kadaluwarsa telah jatuh tempo.
Menegaskan uraian di atas, utang hanya akan dibayarkan jika menurut perjanjian atau kontrak pinjaman, utang tersebut telah mencapai waktu pembayaran yang ditentukan dalam kontrak oleh debitor.65
Terdapat dua pendapat sehubungan dengan unsur “utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat pihak yang menganggap unsur “jatuh waktu” dan “dapat ditagih”
sebagai satu kesatuan dan ada yang tidak. Jika mengikuti pendapat yang pertama, maka harus menggantungkan pada perjanjian yang mendasari hubungan hukum di antara debitor dan kreditor. Hal yang dapat menjadi permasalahan adalah apabila tidak diatur secara jelas kapan suatu perjanjian jatuh tempo, maka akan lebih sulit untuk diputuskan apakah kreditor telah dapat menagihnya atau belum. Sedang jika mengikuti pendapat yang kedua, maka diperbolehkan untuk melakukan suatu
65 Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No. 37 Tahn 2004 Tentang Kepailitan, (Jakarta: Grafiti, 2010), hal. 20.
penagihan meskipun utang tersebut belum jatuh waktu (jika diatur dalam perjanjian).
Berikut ini pertimbangan hakim terkait dengan unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks:
1. Menimbang, bahwa Undang-Undang tidak memberikan penjelasan kapan Debitor dinyatakan dalam keadaan berhenti membayar, namun menurut Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung : “Debitor dikatakan berhenti membayar tidak harus diartikan sebagai keadaan dimana Debitor memang tidak mempunyai kesanggupan lagi untuk membayar hutang-hutangnya kepada salah seorang atau lebih kreditor, akan tetapi termasuk pula keadaan dimana Debitortidak berprestasi lagi pada saat permohonan pailit diajukan ke pengadilan” ;
2. Menimbang, bahwa pengertian Utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang maupun karena putusan pengadilan arbiter atau Majelis Arbitrase ( penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 );
3. Menimbang, bahwa dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 109/KMA/SK/IV/2020 tentang Pemberlakuan Buku Pedoman Penyelsaian Perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang poin 5.1.3 huruf e bagian iii
“Menentukan jatuh waktu, apabila tidak dicantumkan dalam perjanjian atau tidak ada kesepakatan tentang jatuh waktu, maka jatuh waktu ditentukan pada saat utang tersebut ditagih”;
4. Menimbang, bahwa sebagaimana yang telah dipertimbangkan di atas bahwa Termohon Pailit I dan Termohon Palit II ada memiliki hutang kepada Pemohon Pailit I sebesar Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II ada memiliki hutang kepada Pemohon Pailit II sebesar Rp.110.239.000,00 (seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah), Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II ada memiliki hutang kepada Pemohon pailit III sebesar
Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), Termohon Pailit I dan Termohon Pailit II ada memiliki hutang kepada Pemohon Pailit IV sebesar Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah);
5. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit I pada tanggal pada tanggal 27 September 2021 sesuai dengan bukti PP.2. (TT.I-22, TT.I-23) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;
6. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit II pada tanggal 28 September 2021 sesuai bukti P.17 dan bukti P.20 (TT.I-29, TT.I-30) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 30 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;
7. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit III pada tanggal 30 September 2021 sesuai bukti PP.21 (TT.I-27, TT.I-28) telah mengirimkan surat teguran kepada Termohon Pailit II agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;
8. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit IV pada tanggal 27 September 2021 sesuai bukti PP.6 dan PP.42 (TT.I-25, TT.I-26) telah mengirmkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunsi pinjaman tersebut;
9. Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.44., PP.19., P.44., (bukti TP.I-31, TP.I-32., TP.I-33) para Termohon Pailit tidak berkehendak membayar hutang-hutangnya;
10. Menimbang, bahwa dari fakta tersebut di atas terbukti Debitor (para Termohon Pailit) tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih;
11. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat syarat Ad.2 tersebut telah terpenuhi;
Lebih lanjut, terkait dengan unsur ini, yang memeriksa perkara ini di tingkat pertama menyatakan bahwa (Herianto, S.H., M.H, hakim ketua, Wawancara, 09/01/2023):
Unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih” telah memenuhi syarat terhadap perkara yang diajukan oleh pemohon terhadap termohon dengan dibuktikannya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan dalam putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks dan memenuhi untuk diajukan ke pengadilan niaga.
Berdasarkan semua hal yang telah penulis uraikan terkait dengan unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih” yang dikaitkan dengan pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks serta hasil wawancara dengan hakim ketua, penulis menyimpulkan bahwa unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan sesuai dengan pendapat hakim.
Dimana dapat dilihat sendiri bahwa Pemohon Pailit I pada tanggal pada tanggal 27 September 2021 sesuai dengan bukti PP.2. (TT.I-22, TT.I-23) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut, adapun Pemohon Pailit II pada tanggal 28 September 2021 sesuai bukti P.17 dan bukti P.20 (TT.I-29, TT.I-30) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 30 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut, sedang Pemohon Pailit III pada tanggal 30
September 2021 sesuai bukti PP.21 (TT.I-27, TT.I-28) telah mengirimkan surat teguran kepada Termohon Pailit II agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut, dan Pemohon Pailit IV pada tanggal 27 September 2021 sesuai bukti PP.6 dan PP.42 (TT.I-25, TT.I-26) telah mengirmkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunsi pinjaman tersebut. Namun, berdasarkan bukti PP.44., PP.19., P.44., (bukti TP.I-31, TP.I-32., TP.I- 33) para Termohon Pailit tidak berkehendak membayar hutang- hutangnya.
Dari fakta ini, dapat dilihat bahwa para pemohon pailit atau yang selanjutnya kita sebut sebagai para kreditur telah melakukan penagihan utang, namun tidak ada satupun yang dibayar oleh termohon atau yang dalam hal ini kita sebut sebagai debitor.
c. Unsur “baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”
Maksud dari frasa baik atas permohonannya sendiri yakni bahwa permohonan pailit diajukan sendiri oleh debitor yang tidak dapat lagi melunasi utang-utangnya dan telah memenuhi ketentuan yang diatur dalam UU KPKPU. Adapun terkait dengan unsur atas permohonan satu atau lebih kreditornya adalah bahwa permohonan pailit diajukan
oleh kreditor selaku pemilik hak atas utang terhadap pihak yang dimohonkan pailit.
Berikut ini pertimbangan hakim terkait dengan unsur “baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya” dalam Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks:
1. Menimbang, bahwa sebagaimana yang telah dipertimbangkan ketika mempertimbangkan syarat dijatuhkan putusan pailit pada ad.1 tersebut di atas, bahwa telah terbukti para Termohon Pailit mempunyai dua atau lebih kreditor;
2. Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.47, PP.48 dan PP.49 telah ternyata bahwa Para Pemohon Pailit melalui kuasa hukumnya telah mengajukan permohonan pailit terhadap para Termohon Pailit;
3. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat syarat Ad.3. tersebut telah terpenuhi;
Lebih lanjut, terkait dengan unsur ini, yang memeriksa perkara ini di tingkat pertama menyatakan bahwa (Herianto, S.H., M.H, hakim ketua, Wawancara, 09/01/2023):
unsur “baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya” telah memenuhi syarat terhadap perkara yang diajukan oleh pemohon terhadap termohon dengan dibuktikannya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan.
Dalam putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks yang mengajukan permohonan pailit yakni masing-masing kuasa hukum para pemohon. Dan permohonan yang diajukan telah memenuhi syarat sebagaimana yang diatur dalam Pasal ini, yakni terkait unsur “Debitor
yang mempunyai dua atau lebih Kreditor atau lebih” dan unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”. Maka berdasarkan analisis penulis, unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan.
2. Upaya Hukum Debitor Atas Putusan Pailit Nomor 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks
Dalam hukum kepailitan dikenal dua macam upaya hukum, yakni upaya hukum biasa sebagaimana diatur dalam UU KPKPU yang hanya satu tingkatan saja, yakni berupa kasasi ke Mahkamah Agung (Pasal 11 ayat (1) UU KPKPU). Ditiadakannya upaya hukum banding karena dalam proses kepailitan yang menyangkut harta kekayaan, diperlukan diperlukan proses hukum yang cepat. Terhadap putusan kasasi yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap kemudian dapat diajukan upaya hukum luar biasa yakni Peninjauan Kembali berdasarkan Pasal 14 ayat (1) UU KPKPU. Lebih lanjut, berikut bunyi Pasal 11-14 UU KPKPU terkait dengan upaya hukum dalam kepailitan:
a. Pasal 11
(1) Upaya hukum yang dapat diajukan terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah kasasi ke Mahkamah Agung.
(2) Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lambat 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan kasasi diucapkan, dengan mendaftarkan kepada Panitera Pengadilan yang telah memutus permohonan pernyataan pailit.
(3) Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), selain dapat diajukan oleh Debitor dan Kreditor yang merupakan pihak pada persidangan tingkat pertama, juga dapat diajukan oleh Kreditor lain yang
bukan merupakan pihak pada persidangan tingkat pertama yang tidak puas terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit.
(4) Panitera mendaftar permohonan kasasi pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan pendaftaran
b. Pasal 12
(1) Pemohon kasasi wajib menyampaikan kepada Panitera Pengadilan memori kasasi pada tanggal permohonan kasasi didaftarkan.
(2) Panitera wajib mengirimkan permohonan kasasi dan memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pihak termohon kasasi paling lambat 2 (dua) hari setelah permohonan kasasi didaftarkan.
(3) Termohon kasasi dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada panitera Pengadilan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah tanggal termohon kasasi menerima memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan panitera Pengadilan wajib menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi paling lambat 2 (dua) hari setelah kontra memori kasasi diterima.
(4) Panitera wajib menyampaikan permohonan kasasi, memori kasasi, dan kontra memori kasasi beserta berkas perkara yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung paling lambat 14 (empat belas) hari setelah tanggal permohonan kasasi didaftarkan.
c. Pasal 13
(1) Mahkamah Agung wajib mempelajari permohonan kasasi dan menetapkan hari sidang paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.
(2) Sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi dilakukan paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.
(3) Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.
(4) Putusan atas permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
(5) Dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara anggota dengan ketua majelis maka perbedaan pendapat tersebut wajib dimuat dalam putusan kasasi.
(6) Panitera pada Mahkamah Agung wajib menyampaikan salinan putusan kasasi kepada Panitera pada Pengadilan Niaga paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan kasasi diucapkan.
(7) Jurusita Pengadilan wajib menyampaikan salinan putusan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada pemohon kasasi, termohon kasasi, Kurator, dan Hakim Pengawas paling lambat 2 (dua) hari setelah putusan kasasi diterima.
d. Pasal 14
(1) Terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 13 berlaku mutatis mutandis bagi peninjauan kembali.
Adapun alasan-alasan pengajuan kasasi terhadap putusan Pengadilan Niaga didasarkan pada ketentuan Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, antara lain:
a. Pengadilan Niaga tidak berwenang atau melampaui batas wewenang.
b. Pengadilan Niaga salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.
c. Pengadilan Niaga lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Permohonan kasasi diajukan oleh debitor dan kreditur maupun kreditur lain yang tidak puas terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit. Prosedur kasasi terkait putusan kepailitan diawali dengan pemohon mendaftarkan permohonannya beserta memori kasasi kepada panitera
pengadilan (Herianto, S.H., M.H, hakim ketua, wawancara, 09/01/2023), batas waktunya paling lama delapan hari setelah tanggal putusan diucapkan.
Setelah pendaftaran, paling lambat dua haru setelahnya panitera wajib mengirimkan berkas permohonan beserta memori kepada pihak termohon kasasi. Paling lambat tujuh hari setelah menerima memori kasasi, termohon memiliki kesempatan untuk mengajukan kontra memori kasasi. Paling lambat 14 hari setelah pendaftaran, panitera mengirimkan berkas permohonan, memori dan kontra memori kasasi berkas perkara yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung (MA). Lalu tanggal sidang ditetapkan oleh MA paling lambat dua hari setelah tanggal permohonan kasasi. Proses sidang kasasi berdasarkan UU Nomor 37 Tahun 2004 dibatasi paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima Mahkamah Agung. Pembacaan putusan dibatasi waktunya paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima Mahkamah Agung. Salinan putusan wajib dikirimkan Mahkamah Agung kepada Panitera Pengadilan Niaga paling lambat tiga hari setelah tanggal pengucapan putusan.
Terkait dengan Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks, pengajuan upaya hukum kasasi sesuai dengan syarat yang sebelumya telah penulis jelaskan di atas yakni pada Pasal 30 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa masing-masing pihak dapat mengajukan