PENDAHULUAN
Latar Belakang
Akan tetapi, hal yang dapat menghambat kreditor untuk mendapatkan haknya yaitu jika debitor yang akan dimohonkan pailit telah meninggal dunia. Hak dan kewajiban mengenai harta warisan, mewaris sebagai penggantian hak dan kewajiban seseorang yang telah meninggal dunia.
Rumusan Masalah
Pasal tersebut berada pada rana yang multi tafsir, olehnya pemohon dibebankan kewajiban untuk membuktikan kapan kreditor sebagai pemohon mengetahui debitor meninggal dunia dan tanggal tersebut yang menjadi penentu jangka waktu yang dimaksud dalam ketentuan pasal 210 UU KPKPU. Terkait dengan hasil putusan tersebut di atas, termohon II atau isteri dari termohon yang meninggal dunia melakukan upaya hukum banding hingga kasasi.
Tujuan Penelitian
Ketentuan ini menyatukan syarat utang yang telah jatuh waktu dan utang yang telah dapat ditagih. Dengan demikian, ada perbedaan antara pengertian “utang yang telah jatuh waktu” dan “utang yang telah dapat ditagih”. Debitor adalah orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.
Unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”. Ada perbedaan antara arti utang yang telah jatuh tempo dan utang yang telah dapat ditagih. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat pihak yang menganggap unsur “jatuh waktu” dan “dapat ditagih”.
Menimbang, bahwa dari fakta tersebut di atas terbukti Debitor (para Termohon Pailit) tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih;. Unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih” telah memenuhi syarat terhadap perkara yang diajukan oleh pemohon terhadap termohon dengan dibuktikannya berdasar pada pertimbangan-pertimbangan dalam putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks dan memenuhi untuk diajukan ke pengadilan niaga. Terkait dengan Unsur-Unsur Debitor Pailit Dalam Putusan Pailit Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks sebagaimana yang diatur dalam Pasal ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Kedua, unsur “dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih”, dan Unsur “baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya”.
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Aspek Hukum Kepailitan
- Pengertian Kepailitan
- Sumber Hukum Kepailitan di Indonesia
- Persyaratan Debitor dinyatakan Pailit
- Prinsip-Prinsip Kepailitan
- Pihak-Pihak yang dapat Mengajukan Permohonan Pailit
- Kepailitan terhadap Harta Peninggalan
- Akibat Hukum Kepailitan
Perjanjian Utang Piutang
- Pengertian Perjanjian Utang Piutang
- Pihak-Pihak dalam Perjanjian Utang Piutang
- Perjanjian Kreditor dengan Debitor Dalam Utang Piutang
- Hak dan Kewajiban Pihak-Pihak dalam Perjanjian Utang
Pengertian utang piutang sama dengan perjanjian pinjam meminjam yang dijumpai dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1754 di jelaskan bahwa “Perjanjian pinjam meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah barang-barang tertentu dan habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam keadaan yang sama pula.”49. Perjanjian utang-piutang sebagai sebuah perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban kepada kreditor dan debitor yang bertimbal balik. Inti dari perjanjian utang-piutang adalah kreditor memberikan pinjaman uang kepada debitor, dan debitor wajib mengembalikannya dalam waktu yang telah ditentukan disertai dengan bunganya.
Perjanjian utang piutang sebagaimana diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata, kewajibankewajiban kreditor tidak banyak diatur, pada pokoknya kreditor wajib menyerahkan uang yang dipinjamkan kepada debitor setelah terjadinya perjanjian. Hak debitor dalam perjanjian utang piutang adalah menerima pinjaman sejumlah uang dari kreditor yang sebelumnya telah disepakati besarnya antara kedua belah pihak. Kewajiban debitor dalam perjanjian utang piutang pada pokoknya mengembalikan utang dalam jumlah yang sama disertai dengan pembayaran bunga yang telah diperjanjikan, dalam jangka.
Kedudukan Ahli Waris dalam Perjanjian Utang Piutang
Berdasarkan aturan yang telah tercantum di dalam KUH Perdata, bahwa ahli waris yang diutamakan adalah ahli waris ab intestato. Secara umum berdasarkan tatanan hukum keperdataan yang ada kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah sebagai berikut: 58. Pasal 833 ayat 1 KUHPerdata menentukan bahwa ahli waris itu menurut hukum memiliki segala barang, segala hak dan segala piutang dari si peninggal warisan.
Hak dan kewajiban pewaris secara otomatis menjadi hak dan kewajiban ahli waris, sekalipun ahli waris belum atau tidak mengetahui adanya pewarisan. Dapat dikatakan bahwa bagi ahli waris yang menerima warisan baik menerima secara murni maupun menerima dengan hak istimewa juga berkewajiban untuk melunasi utang yang ditinggalkan oleh pewaris. Dengan demikian jelaslah bahwa menurut KUHPerdata ahli waris memiliki kewajiban hukum untuk membayar utang pewaris.
Tipe Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Negeri Niaga Makassar dengan mengambil putusan dari Pengadilan Negeri Niaga Makassar sebagai salah satu sumber bahan hukum untuk digunakan dalam penelitian ini serta meakukan wawancara terhadap hakim pengadilan.
Jenis dan Sumber Data
Oleh karena i tu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT I. Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT II;. Bahwa pada tanggal 5 Februari 2011, TERMOHON PAILIT I telah meminjam uang kepada PEMOHON PAILIT III sebesar Rp.
Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit III sebesar Rp lima ratus juta rupiah);. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit III pada tanggal 30 September 2021 sesuai bukti PP.21 (TT.I-27, TT.I-28) telah mengirimkan surat teguran kepada Termohon Pailit II agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;. Terkait dengan Putusan Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks, Termohon Pailit II mengajukan upaya hukum kasasi.
Tehnik Pengumpulan Bahan Hukum
Analisis Data
dua milyar lima ratus juta rupiah) kepada PEMOHON PAILIT IV; Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT II;. Termohon Pailit I telah meminjam uang kepada Pemohon Pailit II yang totalnya mencapai Rp seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah); . 7) Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.39. TT.I-22, TT.I-23) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;.
Menimbang, bahwa Pemohon Pailit II pada tanggal 28 September 2021 sesuai bukti P.17 dan bukti P.20 (TT.I-29, TT.I-30) telah mengirimkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 30 September 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut;. Menimbang, bahwa Pemohon Pailit IV pada tanggal 27 September 2021 sesuai bukti PP.6 dan PP.42 (TT.I-25, TT.I-26) telah mengirmkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunsi pinjaman tersebut;. Menimbang, bahwa sebagaimana yang telah dipertimbangkan ketika mempertimbangkan syarat dijatuhkan putusan pailit pada ad.1 tersebut di atas, bahwa telah terbukti para Termohon Pailit mempunyai dua atau lebih kreditor;.
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Bahwa dalam kurun waktu Februari 2015 sampai dengan Mei 2015, TERMOHON PAILIT I telah meminjam uang sebesar Rp. seratus sepuluh juta dua ratus tiga puluh Sembilan ribu rupiah) kepada PEMOHON PAILIT II dengan rincian sebagai berikut : . 1) Rp. lima ratus juta rupiah) berdasarkan bukti kwitansi tanggal 5 Februari 2011; Oleh karena itu, maka secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman tersebut kepada PEMOHON PAILIT III;.
Bahwa dalam hal ini PEMOHON PAILIT IV berdasarkan Akta Notaris Nomor: 01, tertanggal 1 Maret 2014, PEMOHON PAILIT IV telah memberikan pinjaman kepada TERMOHON PAILIT I sebesar Rp. dua milyar lima ratus juta rupiah) dengan jaminan berupa 15 (lima belas) bidang tanah dan bangunan kepada PEMOHON PAILIT IV dihadapan Notaris MICHIKO SODIKIM di Makassar sebagaimana tertuang dalam Perjanjian dan Persetujuan Akta Notaris Nomor : 01, tertanggal 1 Maret 2014 sehingga secara hukum selanjutnya TERMOHON PAILIT I telah mempunyai kewajiban untuk mengembalikan pinjaman sebesar Rp. Ivan Limbunan beralamat di Jalan Sungai Saddang Baru Nomor 18, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan dan Termohon Pailit II Fransiska Ida (Istri Alm. Ivan Limbunan) beralamat di Jalan Lasandara Nomor 14, Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;.
Pembahasan
September 2021 sesuai bukti PP.21 (TT.I-27, TT.I-28) telah mengirimkan surat teguran kepada Termohon Pailit II agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2021 untuk segera melunasi pinjaman tersebut, dan Pemohon Pailit IV pada tanggal 27 September 2021 sesuai bukti PP.6 dan PP.42 (TT.I-25, TT.I-26) telah mengirmkan surat teguran kepada para Termohon Pailit agar dalam waktu 2x24 jam atau bertepatan dengan tanggal 29 September 2021 untuk segera melunsi pinjaman tersebut. Menimbang, bahwa berdasarkan bukti PP.47, PP.48 dan PP.49 telah ternyata bahwa Para Pemohon Pailit melalui kuasa hukumnya telah mengajukan permohonan pailit terhadap para Termohon Pailit;. Ivan Limbunan beralamat di Jalan Sungai Saddang Baru Nomor 18, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan dan Termohon Pailit II Fransiska Ida (Istri Alm.
Terhadap permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi, hakim pada tingkat kasasi mempertimbangkan bahwa sesudah putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar tersebut diucapkan dengan dihadiri oleh Para Termohon Pailit pada tanggal 30 November 2021, terhadap putusan tersebut Termohon Pailit II melalui kuasanya berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 5 Desember 2021 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 6 Desember 2021 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 1/Pdt.Sus-Pailit/2021/PN Niaga Mks., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Makassar, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Makassar pada tanggal itu juga. Menghukum Pemohon Kasasi dahulu Termohon Pailit II untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi yang ditetapkan sebesar Rp lima juta rupiah);. Terhadap upaya yang dilakukan oleh pihak Pemohon Kasasi merupakan hak setiap termohon pailit untuk mengajukan upaya Kasasi, setiap perkara baik Perdata, Pidana, Tata Usaha Negara, dan lain sebagainya berhak mengajukan upaya terhadap putusan seperti yang telah di jelaskan dalam pasal 29 dan 30 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 jo Undang- Undang Nomor 5 tahun 2004 tentang Mahkama Agung.
Serta Pemohon Kasasi sebagai isteri almarhum Termohon Pailit I yang juga merupakan Termohon Pailit II pada putusan Nomor 1/Pdt.Sus- Pailit/2021/PN Niaga Mks adalah pihak yang wajib membayar seluruh utang suaminya, karena kedudukannya sebagai ahli waris yang secara hukum menguasai harta dari Termohon Pailit I. Dan terhadap upaya hukum kasasi ini, Mahkmah Agung menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi dan menguatkan keputusan Pengadilan Niaga untuk mempailitkan Pemohon Kasasi yang sebelumnya adalah Termohon Pailit II.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Kepada masyarakat dalam membuat perjanjian utang piutang sebaiknya lebih memahami konsekuesi adanya hutang piutang yang ditinggalkan sehingga akan berdampak kepada harta benda dan memberatkan ahli waris nantinya, agar tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari serta tidak merugikan pihak manapun. Majelis hakim harus mempertimbangkan hasil putusan apakah akan menimbulkan pengaruh dan dampak negatif terhadap masyarakat, dengan kata lain hakim harus mengambil putusan yang adil dan bijaksana dengan mempertimbangkan akibat hukum dan dampak yang terjadi dalam masyarakat. Peranan Dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hilangnya Hak Seorang Ahli Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”, Jurnal Lex Privatum, Volume 6 Nomor 9. Akibat Kepailitan Terhadap Harta Peninggalan Dikaitkan Dengan Undangundang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”, Jurnal Lex Et Societatis Volume 6, Nomor 2. Kedudukan Ahli Waris Penanggung Perseorangan Pada Perseroan Terbatas Yang Dipailitkan Secara Bersama-Sama”, Diponegoro Law Journal, Volume 5, Nomor 3.