METODE ILMIAH DAN METODE PENELITIAN
2.5 Jenis-jenis Metode Penelitian
Berdasarkan pengelompokan metode penelitian di atas, jenis-jenis metode penelitian, antara lain, dapat dibedakan sebagai berikut.
(1) Metode Penelitian Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif adalah pengamatan yang meli-batkan pengukuran dengan tingkatan tertentu. Pengamatan dilakukan dengan cara mencatat dan menghitung dengan ukuran tertentu. Penelitian dengan metode kuantitatif men-cakup jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata, atau perhitungan statistik lainnya. Jadi, metode penelitian kuantitatif melibatkan diri pada “perhi-tungan”, “angka”, “jumlah” ataupun “kuantitas”. Alat-alat yang digunakan, misalnya, tabel dan grafik.
(2) Metode Penelitian Kualitatif
Metode penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan, tetapi lebih mem-prioritaskan pada mutu, kualitas, isi, ataupun bobot data dan bukti penelitian. Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5), dalam bukunya Qualitative Research for Education, metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang meng-hasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku data yang dapat diamati. Pen-dekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Sementara itu, Kirk dan Miller (1986:9) dalam buku-nya Reliability and Validity in Qualitative Research, mebuku-nyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial atau humaniora yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya.
(3) Metode Penelitian Historis/Kesejarahan
Metode penelitian historis adalah metode penyelidikan yang kritis terhadap keadaan, perkembangan, dan pengalaman pada masa lampau serta menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. Pe-neliti dapat menggunakan sumber-sumber kearsipan, seperti dokumen, foto, manuskrip, dan sebagainya yang telah terjadi pada masa lampau, kemudian menyusun dan menceritakan kembali masa lampau tersebut.
(4) Metode Penelitian Deskriptif
Metode penelitian deskriptif adalah metode pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat terhadap objek penelitian.
Tujuan metode deskriptif adalah membuat deskripsi, gam-baran-gambaran atau lukisan data dan fakta secara sistema-tis, faktual, dan akurat. Metode deskripftif dapat dipilah-pilah lagi menjadi: (a) metode survai, (b) metode deskriptif berkesinambungan, (c) studi kasus, (d) studi komparatif, (e) analisis kerja dan aktivitas, (f) studi pustaka atau doku-mentasi, dan (g) studi waktu dan gerakan.
(5) Metode Penelitian Eksperimental
Metode penelitian eksperimental adalah metode penelitian yang dilakukan dengan mengadakan rekayasa terhadap objek penelitian serta adanya kontrol dalam melakukan pe-nelitian sebab-akibat. Bapak metode pepe-nelitian eksperimen-tal adalah Galileo Galilei (1564—1642 M) yang menolak ada-nya hukum Aristoteles (384—322 SM). Suatu penelitian menggunakan metode eksperimental sering digunakan para peneliti ilmu pengetahuan alam dengan memanfaatkan laboratorium.
(6) Metode Penelitian Grounded Research
Metode penelitian grounded research adalah suatu metode pe-nelitian yang mendasarkan pada fakta dan menggunakan
analisis perbandingan dengan bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuk-tikan teori, dan mengembangkan teori yang dilakukan pe-neliti secara bersamaan antara pengumpulan data dengan analisis data.
(7) Metode Penelitian Content Analysis
Metode penelitian content analysis adalah suatu penelitian yang berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Ter-dapat dua macam analisis, yaitu analisis isi laten dan analisis isi komunikasi (Ratna, 2008:48—49). Analisis isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis isi komunikasi akan menghasilkan makna. Sebagaimana halnya metode kualitatif, dasar metode analisis konten adalah mendasarkan pada penafsiran atau interpretasi teks.
(8) Metode Penelitian Komparatif
Metode penelitian komparatif adalah membandingkan dua hal atau lebih objek penelitian dari pelbagai aspek. Dalam penelitian sastra metode komparatif bersifat positivistik (Yaapar. 1999). Kajiannya bercorak binari (duaan) dan ber-tumpu pada rapports defaits, artinya perhubungan faktual antara dua buah objek yang diteliti secara pasti. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian komparatif adalah me-ngumpulan data lebih dari satu yang setipe, sejenis, atau semotif, lalu menganalisis, menafsirkan, dan menilai objek penelitian. Oleh karena objeknya lebih dari satu, setiap objek harus ditelaah, barulah hasil penelaahan tersebut diperban-dingkan. Dalam perbandingan ada tiga hal yang menjadi titik pengamatan, yaitu kemiripan (serupa), kesamaan, dan perbedaan. Hasil perbandingan dapat menjadi penyimpang-an atas objek ypenyimpang-ang diteliti, atau sebaliknya justru sebagai pelestarian, peneguhan, dan pemantapan hipotesis peneli-tian. Pada dasarnya metode komparatif dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu (1) metode komparatif diakronis, mem-bandingkan dua atau lebih objek yang berbeda periodenya, dan (2) metode komparatif sinkronis, membandingkan dua atau lebih objek yang sezaman atau satu periode. Dapat saja metode komparatif dipadukan dengan metode kejarahan sehingga menjadi metode historis komparatif.
(9) Metode Penelitian Kajian Budaya
Metode penelitian kajian budaya adalah kajian kritis terha-dap berbagai gejala kebudayaan yang terjadi di sekitar ma-nusia (Ratna, 2011:267). Dalam penelitian sastra, kajian budaya berangkat dari penolakan terhadap pemisahan an-tara sastra tinggi dengan sastra rendah, sastra serius dengan sastra populer (Faruk, 2012:73). Objek metode penelitian ka-jian budaya dapat memumpunkan pada aspek-aspek kebu-dayaan, seperti yang disampaikan Koentjaraningrat (1974:82; 1992:1—8) meliputi: (1) peralatan kehidupan manu-sia, seperti rumah, pakaian, alat-alat rumah tangga, peralatan bekerja, kendaraan, dan berbagai bentuk peralatan kebutuh-an hidup mkebutuh-anusia sehari-hari; (2) mata pencaharikebutuh-an, seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, perdagang-an, dan sebagainya dengan sistem ekonomi dan produksinya masing-masing; (3) sistem kemasyarakatan, seperti kekera-batan, organisasi sosial, politik, hukum, dan sebagainya; (4) sistem bahasa dan sastra, baik lisan maupun tulisan; (5) kese-nian dengan berbagai jenisnya, seperti seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya; (6) sistem pengetahuan, meliputi berbagai bentuk pengalaman manusia dalam kaitannya dengan hakikat objektivitas, fakta empiris; dan (7) sistem religi, berbagai bentuk pengalaman manusia dalam kaitan-nya dengan subjektivitas, keyakinan, dan berbagai bentuk kepercayaan.
Dalam politik kebudayaan nasional, pemahaman tentang kebudayaan Indonesia secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yakni kebudayaan nasional (yang sering disebut dengan kebudayaan Indonesia) dan kebudayaan nusantara (Taum, 2011).
Yang pertama adalah kebudayaan kesatuan Indonesia, yang bersifat modern; sedangkan yang kedua adalah kebudayaan-kebudayaan daerah yang pada umumnya bersifat tradisional.
Salah satu titik berat kebudayaan nasional itu adalah nasionalis-me dan bersifat perkotaan, sedangkan kebudayaan nusantara masih tetap berorientasi kepada kehidupan pedesaan, alam agra-ris, kemaritiman, dan kelisanan. Sudah saatnya pembagian se-perti ini dihilangkan dalam konteks perumusan sebuah strategi kebudayaan bangsa.
Dimaksud dengan strategi kebudayaan adalah usaha manu-sia untuk menemukan jawaban-jawaban yang tepat dan sikap yang paling dapat dipertanggungjawabkan mengenai pertanya-an-pertanyaan besar yang berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia (Peursen, 1976). Strategi kebudayaan berkaitan dengan perubahan paradigma budaya dan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri ke dalam perubahan itu. Studi akademis ten-tang strategi budaya menjadi perhatian para ahli humaniora dan futurolog, seperti Berger (1967), August Comte, Peursen (1976), Alvin Toffler, dan Huntington. Setiap bangsa yang ingin maju memiliki dan membutuhkan strategi kebudayaan.
3.1 Pengantar
Penelitian sastra pada hakikatnya merupakan cabang ke-giatan penelitian dengan mengambil objek sastra. Objek sastra sebagai materi penelitian dapat meliputi sastra lisan (sastra rakyat), sastra tulis (manuskrip), dan sastra modern (cetak).
Sastra lisan dapat meliputi cerita rakyat, dongeng, legenda, mi-tos, teater rakyat, dan nyanyian atau puisi rakyat. Sarana ekspresi sastra lisan secara umum menggunakan bahasa daerah dari si pemilik sastra lisan tersebut. Apabila akan mengadakan peneli-tian sastra lisan, maka peneliti harus terjun ke lapangan untuk melakukan perekaman, wawancara, penyebaran kuesioner, pen-transkripsian hasil rekaman ke bahasa tulis, dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, sastra tulis yang masih dalam bentuk manuskrip biasanya menggunakan aksara daerah atau aksara Arab-Melayu (huruf Jawi, Pegon). Apabila akan mengadakan penelitian sastra tulis yang masih dalam bentuk manuskrip, maka perlu dilakukan pengalihan aksara dari aksara daerah atau Arab-Melayu ke dalam aksara Latin (transliterasi), dan apabila manuskrip itu ditulis dalam bahasa daerah juga harus menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Adapun apabila akan mengadakan penelitian sastra dengan objek sastra modern dalam bentuk cetak, misalnya sastra Indonesia modern berak-sara Latin, tentu akan lebih mudah melakukannya dibandingkan