C. Derivatif
1. Jenis-jenis Sekuritas Derivatif
Sekuritas derivatif yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia secara umum terbagi menjadi enam macam yaitu sebagai berikut:22 a. Warrant
Warrant merupakan derivatif atau turunan dari efek sebenarnya, yaitu saham biasa. Warant juga merupakan hak umtuk membeli saham atau obligasi dari satu perusahaan dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya oleh penerbit waran atau emiten.23
22 Eugene Brigham dkk, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hal. 333.
23 Iswi Hariyani dan R. Serfianto, Buku Pintar Hukum Bisnis Pasar Modal: Strategi Tepat Investasi Saham, Obligasi, Warant, Right, Opsi, Reksadana, dan Produk Pasar Modal Syariah, (Jakarta: Visi Media, 2010), hal. 228.
Warrant merupakan instrumen turunan dari saham atau obligasi. Warrant adalah salah suatu surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahan yang memberikan hak kepada pemegangnya, untuk membeli saham perusahaan dengan harga tertentu selama periode tertentu pula.
Masa warrant biasanya adalah enam bulan atau lebih. Dalam warrant akan disebutkan jumlah saham yang bisa dibeli, harga eksekusi dan tanggal jatuh tempo. Harga Warrant tidak akan pernah lebih besar daripada harga efek utamanya karena harganya tergantung pada harga efek utamanya. Investasi war- rant tidak memperoleh dividen, dan tidak mempunyai hak suara dalam perusahaan karena bukan pemegang saham perseroan.
Biasanya warrant dijual bersamaan dengan surat berharga lainnya, namun setelah memasuki pasar, maka warrant diperdagangkan secara tersendiri.24
Kelemahan dari waran adalah perolehan bunga yang lebih rendah, hilangnya kesempatan mendapatkan keuntungan/ capi- tal gain dan menurunnya nilai earning per share karena saham terdilusi. Dalam emisi obligasi waran diterbitkan sebagai pemanis atau sweetener untuk menarik minat para calon pembeli obligasi.25 b. Right
Right merupakan produk turunan dari saham. Kebijaksanaan right merupakan upaya emiten atau pihak perusahaan yang menerbitkan saham untuk menambah jumlah saham yang beredar, guna menambah modal bagi perusahaan.26
Right adalah hak yang diberikan kepada pemilik saham biasa untuk membeli saham baru yang diterbitkan emiten. Hak dalam instrumen right sering disebut dengan preemptive right, yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang saham lama di suatu perusahaan berkenaan dengan penerbitan saham yang baru.27
24 Sri Susilo dkk, Op. cit., hal. 203.
25 M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta:
Kencana, 2004), 205.
26 Sunariyah, Op.cit., hal. 51.
Dampak yang akan timbul jika pemegang saham lama tidak menggunakan hak ini adalah dilusi atau berkurangnya proporsi kepemilikan saham, mengurangi ROI (return on investment) akibat bertambahnya jumlah saham yang beredar, dan mengecilnya DPS (dividend per share) atau nilai dividen dibanding nilai nominal saham.28
Mekanisme right bersifat operasional,di mana hak untuk membeli saham pada harga tertentu pada waktu yang telah ditetapkan dan diberikan pada pemegang saham lama masa perdagangan berkisar 1-2 minggu.29
Ada dua tujuan diadakannya right yaitu: yang pertama agar pemilik saham lama dapat mempertahankan pengendaliannya atas perusahaan, dan yang kedua untuk mencegah penurunan nilai kekayaan pemilik saham lama.
c. Future
Future adalah kontrak berjangka untuk membeli atau menjual suatu aset dengan penyerahan dilakukan di masa mendatang dengan harga pasar yang telah disepakati.30
Future biasa digunakan untuk mengunci harga komoditas atau meminimalisir fluktuasi harga barang. Dalam perkembangan perdagangan future, aset atau komoditi yang bisa diperjualbelikan tidak hanya terbatas pada komoditi pertanian dan pertambangan saja, tapi juga sudah mencakup aset finansial seperti valuta asing.31 Oleh karena itu, sekarang berkembang beberapa jenis future, yaitu ada future keuangan, future komoditi, future mata kurs uang asing, dan future tingkat bunga.
Mekanisme perdagangan future di bursa dikenal dengan sistem marking to market sehingga future lebih maksimal menghindari akumulasi kerugian perusahaan daripada forward. Salah satu
28 Panji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal Indonesia, Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), hal. 73.
29 Muhammad Firdaus NH, Sistem Kerja Pasar Modal Syariah, (Jakarta: ITC Cempaka Mas, 2005), hal. 27.
30 J. Bodie dkk, Investasi (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hal. 75.
31 Eduardus Tandelilin, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio (Yogyakarta:
BPFE, 2001), hal. 298. Lihat pula Sunariyah, Op.cit., hal. 272.
pusat perdagangannya adalah central clearing houses di Chi- cago Board of Trade, USA.
d. Option
Option atau opsi merupakan instrumen keuangan derivatif pal- ing menarik dan banyak dikembangkan enam tahun belakangan ini. Option adalah suatu efek yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli atau menjual sejumlah aset tertentu dengan harga yang telah ditetapkan pada waktu mendatang.32 Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Pasal 1 angka 5, opsi adalah hak yang dimiliki oleh pihak untuk membeli atau menjual kepada pihak lain sejumlah efek pada harga dan dalam waktu tertentu. Terdapat dua macam opsi yakni:
1) Call option atau option beli, memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli aset pada harga tertentu yang disebut harga penyerahan (exercise price atau strike price).
Sebaliknya pada put option, pemegang option berhak untuk menjual saham aset tertentu sesuai harga yang telah ditetapkan. Option fleksibilitasnya sangat tinggi, jangkauan luas, dapat dikembangkan cakupannya serta sangat menguntungkan.33
2) Put option adalah sebuah perjanjian yang dalam hal ini pembeli opsi membayar premi untuk mendapat hak (bukan kewajiban) untuk menjual (go short) kontrak pada harga tertentu dari penjual opsi.34 Oleh karena itulah para inves- tor banyak yang menyukainya dan memilih option untuk investasi dibandingkan instrumen investasi lainnya.
e. Forward
Forward mugkin merupakan instrumen keuangan derivatif paling tua yang pertama kali berkembang di Chicago, USA sekitar tahun 1970. Forward adalah kontrak jual beli aset
32 Arthur JK, Op.cit., hal. 329.
33 Panji Anoraga dan Piji Pakarti, Op.cit. 71.
34 Tri Hendro dan Conny Tjandra Rahardja, Bank dan Institusi Keuangan Non Bank di Indonesia, (Yogyakarta: UPP TIM YKPN, 2014), hal. 361.
tertentu dengan harga yang telah ditetapkan dan transaksi dilakukan pada waktu mendatang yang disepakati.35
Forward pada dasarnya hampir sama dengan future. Perbedaannya hanya pada mekanisme perdagangan. Forward lebih sering diterbitkan di pasar over the counter, sedangkan future diperdagangkan di bursa. Forward tidak memakai sistem mark- ing to market, sedangkan future menggunakannya. Oleh karena tidak memakai sistem marking to market ini, forward sangat rentan akan risiko akumulasi kerugian pada akhir periode, lalu diluncurkanlah forward untuk mengurangi dan menutupi kelemahan tersebut.36
Forward secara umum terbagi dua yaitu: a. Forward purchased, adalah kontrak pembelian valuta asing di muka yang terjadi antara nasabah dengan bank devisa; dan b. Forward rate agreement, adalah kontrak untuk menentukan besaran tingkat bunga simpanan.
f. Swap
Swap adalah kontrak penukaran mata uang pada saat sekarang dan waktu yang akan datang antara nasabah dengan bank devisa.
Swap atau Currency Swap adalah kontrak konversi kewajiban utang dalam mata uang berbeda. Salah satu keuntungan swap adalah dapat mengurangi risiko tingkat kurs mata uang asing dalam waktu yang lama.37
Dengan kata lain, Currency Swap dipakai sebagai suatu upaya untuk restrukturisasi aset mata uang asing agar bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian di masa yang akan datang.
Ada dua variasi dalam instrumen swap, yaitu a. Swap pertukaran aliran kas dengan penentuan waktu; dan b. Swap pertukaran aliran kas dengan penentuan mata uang berbeda. Salah satu pusat perdagangan swap yang terkenal di dunia adalah pasar Eurodollar di London, Inggris, dengan standar LIBOR atau London Interbank Offering Rate, yaitu tingkat bunga antar bank di London.38
35 Muhamad, Op.cit., hal. 159.
36 M. Mamduh Hanafi, Op.cit., hal 712.
37 Arthur JK, Op.cit., hal. 329.
38 M. Mamduh Hanafi, Op.cit., hal. 705.