BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar murid setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif tipe IOC. Indikator yang digunakan adalah kriteria ketuntasan belajar yaitu murid dinyatakan tuntas belajar apabila memperoleh nilai minimal 70 dari nilai ideal dan tuntas secara klasikal apabila dicapai minimal 70% dari murid dalam kelas tersebut dinyatakan tuntas belajar.
43 A. Hasil Penelitian
Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengadakan konsultasi dengan Kepala Sekolah SD Negeri 1 Watampone pada tanggal 17 November 2014 dalam hal pelaksanaan penelitian. Setelah itu peneliti melakukan diskusi dengan pihak guru kelas VI untuk mendiskusikan rencana penelitian. Peneliti melakukan diskusi singkat dengan guru kelas VI tentang jadwal penelitian yang akan dilaksanakan. Penelitian ini mulai pada hari Selasa tanggal 18 November 2014. Dalam pelaksanaan tindakan peneliti bertindak sebagai guru (pelaksanaan pembelajaran) dan guru kelas VI berindak sebagai observer.
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama 1 bulan.Deskripsi proses penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari 4 pertemuan (2 x 35 Menit). 4 pertemuan terdiri dari 3 kali pertemuan kegiatan mengaja dan 1 kali pertemuan untuk kegiatan tes akhir siklus. Setiap tahapan siklus terjadi empat rangkaian kegiatan antara lain: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data tentang hasil belajar murid yang diambil dari tes setiap akhir siklus akan dibahas secara kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan data tentang hasil observasi dianalisis secara kualitatif.
44
November 2014. Pada siklus I ini dilakukan 4 kali pertemuan dengan 3 kali kegiatan mengajar (lampiran 5, 8 dan 11) dan 1 kali kegiatan tes akhir siklus. Pada siklus ini dilaksanakan tes yang diikuti oleh semua murid yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Adapun data nilai hasil belajar siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Statistik Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus I
Statistik Nilai Statistik
Subjek 26
Nilai ideal 100
Nilai tertinggi
90 Nilai terendah
20 Nilai rata-rata
64,61
Standar KKM 70
Sumber : Lampiran 23
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 26 murid SD Negeri 1 Watampone yang mengikuti tes diperoleh nilai tertinggi adalah 90, nilai terendah adalah 20, dan rata-rata (mean) hasil belajar yaitu 64,61 dari nilai ideal yang mungkin dicapai adalah 100.
45
Tabel 4.2 Distribusi Frekuansi dan Persentase Nilai Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus I
No. Nilai Kategori Frekuansi Persentase (%)
1 0-45 Sangat rendah 5 19,23
2 46-54 Rendah 0 0
3 55-69 Sedang 6 23,07
4 70-84 Tinggi 8 30,78
5 85-100 Sangat tinggi 7 26,92
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 23
Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh bahwa dari 26 murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone yang mengikuti tes, terdapat 5 murid (19,23%) yang berada dalam kategori sangat rendah, tidak ada murid (0%) yang berada pada kategori rendah, 6 murid (23,07%) yang berada pada kategori sedang, 8 murid (30,78%) yang berada pada kategori tinggi, dan 7 murid (26,92%) berada pada kategori sangat tinggi.
Jika ditinjau dari tabel 4.1 dan tabel 4.2 dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata hasil belajar murid kelas VI yaitu 64.61 berada pada interval 55- 69. Dengan demikian dapat dikatakan nilai rata-rata hasil belajar IPS
46
Negeri 1 Watampone pada siklus I setelah pembelalajaran menggunakan model Inside Outside Circle (IOC) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus I
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 11 42,30
≥ 70 Tuntas 15 57,69
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 23
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.3 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.1 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus I Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.1 di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
46
Negeri 1 Watampone pada siklus I setelah pembelalajaran menggunakan model Inside Outside Circle (IOC) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus I
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 11 42,30
≥ 70 Tuntas 15 57,69
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 23
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.3 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.1 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus I Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.1 di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
Tidak Tuntas Tuntas 42,30%
57,69%
46
Negeri 1 Watampone pada siklus I setelah pembelalajaran menggunakan model Inside Outside Circle (IOC) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus I
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 11 42,30
≥ 70 Tuntas 15 57,69
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 23
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.3 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.1 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus I Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.1 di atas maka dapat dilihat bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah
47
belum memuaskan secara klasikal karena ketuntasan yang dicapai pada siklus I ini hanya 57,68% sedangkan dikatakan tuntas secara klasikal jika ketuntasan mencapai minimal 70%.
b. Analisia Data Hasil Observasi Siklus I
Data hasil observasi merupakan data tentang partisipasi murid dalam pembelajaran dan penguasaan aktivitas guru dalam mengunakan model Inside Outside Circle (IOC) sebagai sarana pembelajaran. Pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Guru kelas VI bertindak sebagai observer dan peneliti bertindak sebagai guru. Observer (guru kelas VI) mengisi lembar observasi yang telah disiapkan untuk mengamati aktivitas guru (peneliti) dan aktivitas murid pada saat proses pembelajaran berlangsung. Lembar observasi diisi berdasarkan petunjuk yang tertulis pada lembar observasi.
1) Hasil Observasi Aktivitas Murid pada Siklus I
Data aktivitas murid pada siklus I diperoleh melalui hasil lembar observasi selama proses pembelajaran di setiap pertemuan. Adapun descriptif tentang aktivitas murid selama mengikuti proses pembelajaran pada siklus I (lampiran 6,9 dan 12) dapat dilihat pada tabel berikut:
48
rata (%)
1 2 3 4
1 Murid yang hadir mengikuti pelajaran
20 22 23
T E S
S I K L U S
I
21,67 79,50 2 Murid yang memperhatikan
penjelasan guru dengan
12 16 17 15 60
3 Murid yang menerima pembagian kelompok tanpa protes.
19 18 18 18,33 70,50
4 Murid yang membantu temannya dalam mendalami materi.
14 13 16 14,33 55,12
5
Murid yang mampu
memberikan informasi dengan baik pada saat menggunakan model IOC.
13 15 17 15 60
6
Murid yang antusias dan semangat tanpa paksaan dalam belajar menggunakan model IOC
18 19 19 18,67 71,81
7 Murid yang menjawab pertanyaan guru.
14 15 19 16 61,54
8 Murid yang bertanya kepada ke guru
12 17 18 15,67 60,27
Sumber : Lampiran 6, 9 dan 12
Berdasarkan tabel 4.4 di atas pada siklus I dilakukan 4 kali pertemuan dengan 3 kali pertemuan kegiatan pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus dengan jumlah murid keseluruhan yaitu 26 orang. Aktivitas murid dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut:
49
ratakan jumlah yang hadir mengikuti pelajaran pada siklus I yaitu 21,67 dengan persentase 79,50%
b) Murid yang memperhatikan penjelasan guru dengan pada pertemuan pertama ada 12 murid, pada pertemuan kedua ada 16 murid dan pada pertemuan ketiga ada 17 murid. Jika dirata- ratakan maka jumlah murid yang memperhatikan penjelasan guru selama siklus I yaitu 15 dengan persentase yaitu 60%.
c) Murid yang menerima pembagian kelompok tanpa protes.pada pertemuan pertama ada 19 murid, pada pertemuan kedua ada 18 murid dan pada pertemuan ketiga ada 18 murid. Jika dirata- ratakan maka jumlah murid yang menerima pembagian kelompok tanpa protes selama siklus I yaitu 18,33 dengan persentase yaitu 70,50%.
d) Murid yang membantu temanya dalam mendalami matari pada pertemuan pertama ada 14 murid, pada pertemuan kedua ada 13 murid dan pada pertemuan ketiga ada 16 murid. Jika dirata- ratakan jumlah murid yang membantu temannya dalam mendalami materi selama siklus I yaitu 14,33 dengan persentase yaitu 55,12%.
50
ada 17 murid. Jika dirata-ratakan jumlah murid yang mampu memberikan informasi dengan baik pada saat menggunakan model IOC selama siklus I yaitu 15 dengan persentase yaitu 60%.
f) Murid yang antusias dan semangat tanpa paksaan dalam belajar menggunakan model IOC pada pertemuan pertama yaitu 18 murid, pada pertemuan kedua ada 19 murid dan pada pertemuan ketiga ada 19 murid. Jika dirata-ratakan jumlah murid yang antusias dan semangat tanpa paksaan dalam belajar menggunakan model IOC selama siklus I yaitu 18,67 dengan persentase yaitu 71,81%.
g) Murid yang menjawab pertanyaan guru pada pertemuan pertama yaitu 14 murid, pada pertemuan kedua ada 15 murid dan pada pertemuan ketiga ada 19 murid. Jika dirata-ratakan jumlah murid yang menjawab pertanyaan guru selama siklus I yaitu 16, dengan persentase yaitu 61,54%.
h) Murid yang bertanya kepada ke guru pada pertemuan pertama ada 12 murid, pada pertemuan kedua ada 17 murid dan pada pertemuan ketiga ada 18 murid. Jika dirata-ratakan jumlah murid yang bertanya kepada ke guru selama siklus I yaitu 15,67 dengan persentase yaitu 60,27%.
51
mata pelajaran IPS murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada siklus I sebagai berikut :
Tabel 4.5 Distribusi Skor Aktivitas Guru pada Siklus I Jenis
Kegiatan Indikator/ Deskriptor Pertemuan ke-
1 2 3 4
Kegiatan awal
- Mengecek kesiapan belajar murid dan kondisi ruang kelas - Membaca doa sebelum belajar dan mengecek kehadiran murid - Apersepsi dan memotivasi murid - Menyampaikan tujun
pembelajaran
3 3 4
T
E
S
A
K
H
I
R Kegiatan
Inti
- Guru membahas materi secara singkat.
- Guru membagi murid menjadi 2 kelompok secara heterogen.
- Pembentukan kelompok lingkaran luar dan lingkaran dalam. Guru membagi murid dalam bentuk kelompok dan kepada setiap anggota kelompok berdiri membentuk lingkaran dalam melingkar menghadap keluar dan lingkaran luar berdiri melingkar menghadap kedalam.
Dengan demikian antara anggota lingkaran dalam dan lingkaran luar saling berpasangan disebut kelompok asal
- Memberikan tugas. Guru memberikan tugas tiap-tiap pasangan asal sesuai dengan indikator pembelajaran yang dirumuskan
3 3 3
- Berdiskusi. Memberikan waktu secukupnya untuk berdiskusi kepada tiap-tiap pasangan
52
kelompok lingkaran dalam bergerak berlawanan arah dengan anggota kelompok lingkaran luar. Setiap pasangan membentuk pasangan baru.
Pasangan ini wajib memberi informasi berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok asal, demikian seterusnya. Pergerakan akan berhenti jika anggota kelompok lingkaran dalam dan lingkaran luar bertemu dengan pasangan asal. Hasil diskusi tiap- tiap kelompok besar tersebut dipaparkan sehingga terjadilah diskusi antar kelompok.
- Penilaian dan mengevaluasi.
Guru memberikan ulasan dan mengevaluasi hal-hal yang telah didiskusikan
- Guru meminta murid untuk bertanya jika masih ada yang kurang dipahami.
2 3 3
S
I
K
L
U
S
I
Kegiatan Akhir
- Guru bersama dengan murid menyimpulkan materi pelajaran - Memberikan tugas berupa PR
untuk dikerjakan di rumah - Memberikan motivasi dan
pesan-pesan moral - Salam dan doa
2 2 3
Jumlah 10 11 13
Rata-rata 2,5 2,75 3,25
Persentase (%) 62,5 68,75 81,25
Sumber : lampiran 7,10 dan 13
53
pertemuan kedua yaitu 68,75% dan pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 81,25% terlaksana kegiatan yang telah direncanakan.
c. Analisis dan Refleksi Siklus I
Pada siklus I yang dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan kegiatan pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus di peroleh beberapa hal yang menjadi bahan refleksi untuk dapat melanjutkan penelitian ke siklus II, diantaranya sebagai berikut:
1) Komunikasi antara guru dan murid belum terjalin baik. Terlihat pada saat guru meminta untuk bertanya hanya sebagian kecil murid yang bertanya. Hal ini mungkin disebakan karena murid balum terbiasa dengan pembawaan guru sehingga takut atau malu untuk bertanya.
2) Murid kesulitan dalam belajar secara kelompok. Hal ini terlihat pada pada saat pembagian kelompok kecil siswa ramai berebutan anggota meskipun sudah dibagi anggotanya oleh peneliti, pada saat diskusi kecil, kelompok siswa yang pintar mengerjakan soal sendiri tanpa membawa serta kelompoknya, pada saat pembentukan kelompok inti siswa masih bingungan dalam membentuk kelompok inti dan rumit untuk melakukannya.
3) Antusias dan semangat murid untuk belajar sambil bermain menggunakan model Inside Outside Circle (IOC) dapat dikatakan
54
informasi dan keterlambatan dalam mengumpulkan tugas yang diberikan serta banyaknya murid yang mengeluh ketika waktu yang telah ditentukan untuk mengumpul tugas telah habis, namun mereka belum menyelesaikan secara sempurna.
Beberapa kendala yang dihadapi pada siklus I ini dijadikan sebagai refleksi untuk melakukan perbaikan pada pelaksanaan siklus II diantaranya;
1) Sesering mungkin guru berinteraksi dengan murid baik didalam kelas maupun diluar kelas sehingga rasa takut ataupun malu dapat berkurang dan komunikasi dapat dapat terjalin dengan baik.
2) Guru menanamkan rasa saling membutuhkan diantara murid, sehingga rasa egois yang dimiliki murid berkurang dan kegiatan kelompok dapat berjalan dengan baik.
3) Memberikan motivasi yang dapat menggali rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri murid, serta memberikan penghargaan.
2. Siklus II
a. Analisis Data Hasil Belajar Siklus II
Setelah melihat hasil tes akhir siklus I, hasil yang diperoleh belum mencapai standar yang telah ditetapkan. Maka semua yang ada pada siklus I dilakukan perbaikan pada pelaksanaan siklus II. Proses belajar
55
Hasil tes akhir siklus II pada murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone melalui penggunaan model Inside Outside Circle (IOC) dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6 Statistik Hasil belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Siklus II
Statistik Nilai Statistik
Subjek 26
Nilai ideal 100
Nilai tertinggi 100
Nilai terendah 45
Nilai rata-rata 80,19
Standar KKM 70
Sumber : Lampiran 21
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 26 murid SD Negeri 1 Watampone yang mengikuti tes diperoleh nilai tertinggi adalah 100, nilai terendah adalah 45, dan rata-rata (mean) hasil belajar yaitu 80,19 dari nilai ideal yang mungkin dicapai adalah 100.
Apabila nilai hasil belajar murid dikelompokkan kedalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti yang disajikan pada tabel 4.7 berikut ini:
56
1 0-34 Sangat rendah 1 3,85
2 35-54 Rendah 1 3,85
3 55-69 Sedang 2 7,69
4 70-84 Tinggi 12 46,15
5 85-100 Sangat tinggi 10 38,46
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 21
Berdasarkan tabel 4.7 diperoleh bahwa dari 26 murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone yang mengikuti tes, ada 1 murid (3,83%) yang berada pada kategori sangat rendah, terdapat 1 murid (3,83%) yang berada pada kategori rendah, 2 murid (7,69%) yang berada pada kategori sedang, 12 murid (46,15%) yang berada pada kategori tinggi, dan 10 murid (38,46%) berada pada kategori sangat tinggi.
Jika ditinjau dari tabel 4.6 dan tabel 4.7 dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata hasil belajar murid kelas VI yaitu 80,19 berada pada interval 70- 84. Dengan demikian dapat dikatakan nilai rata-rata hasil belajar IPS murid kelas VI melalui penerapan model Inside Outside Circle (IOC) pada siklus II berada pada kategori tinggi.
Untuk melihat persentase ketuntasan hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone Kabupaten Bone pada siklus II setelah
57
Negeri 1 Watampone pada Siklus II
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 4 15,38
≥ 70 Tuntas 22 84,62
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 21
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.8 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.2 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus II Berdasarkan tabel 4.8 dan gambar 4.2 di atas maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah dilakukan tindakan belajar melalui penggunaan model Inside Outside Circle (IOC) terdapat 4 murid (15,38%) yang berada pada kategori tidak tuntas dan 22 murid (84,62%) yang berada pada kategori tuntas. Ini
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
57
Negeri 1 Watampone pada Siklus II
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 4 15,38
≥ 70 Tuntas 22 84,62
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 21
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.8 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.2 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus II Berdasarkan tabel 4.8 dan gambar 4.2 di atas maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah dilakukan tindakan belajar melalui penggunaan model Inside Outside Circle (IOC) terdapat 4 murid (15,38%) yang berada pada kategori tidak tuntas dan 22 murid (84,62%) yang berada pada kategori tuntas. Ini
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
Tidak Tuntas Tuntas 15,38%
84,62%
57
Negeri 1 Watampone pada Siklus II
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≤ 70 Tidak tuntas 4 15,38
≥ 70 Tuntas 22 84,62
Jumlah 26 100
Sumber : Lampiran 21
Jika persentase ketunatasan belajar pada tabel 4.8 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
Gambar 4.2 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Siklus II Berdasarkan tabel 4.8 dan gambar 4.2 di atas maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar murid kelas VI SD Negeri 1 Watampone setelah dilakukan tindakan belajar melalui penggunaan model Inside Outside Circle (IOC) terdapat 4 murid (15,38%) yang berada pada kategori tidak tuntas dan 22 murid (84,62%) yang berada pada kategori tuntas. Ini
58
belum mencapai ketuntasan secara perorangan memerlukan perbaikan dan pendekatan secara individual.
Berdasarkan uraian mengenai hasil dari siklus I maupun siklus II maka terlihat perubahan yang terjadi pada murid baik pada peningkatan hasil belajar maupun peningkatan aktivitas murid dan guru sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk melihat secara jelas peningkatan hasil belajar yang terjadi setelah penggunaan model Inside Outside Circle (IOC) pada mudid kelas VI SD Negeri 1 Watampone dari siklus I hingga Siklus II (lampiran ), selain itu perhatikan tabel berikut :
Tabel 4.9 Perbandingan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Setiap Siklus
Siklus Rata- rata
Tidak Tuntas Tuntas
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
I 64,61 11 42,30% 15 57,68%
II 80,19 4 15,38% 22 84,63%
Sumber : Lampiran 22
Jika perbandingan hasil belajar pada tabel 4.9 dituangkan dalam bentuk diagram maka akan tampak seperti gambar berikut:
59
Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Setiap Siklus
Tabel 4.9 dan gambar 4.3 diatas menunjukkan bahwa tejadi peningkatan hasil belajar murid dari siklus I ke siklus II. Dilihat dari nilai rata-rata pada siklus I adalah 64,61 sedangkan nilai rata-rata pada siklus II adalah meningkat menjadi 80,19. Dilihat dari ketuntasan belajar pada siklus I frekuensi murid yang tidak tuntas adalah 11 murid sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tidak tuntas menurun menjadi 4 murid. Dan jika dilihat pada siklus I frekuansi murid yang tuntas adalah 15 murid, sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tuntas meningkat menjadi 22 murid. Jika dilihat dari persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus I persentase yang tidak tuntas adalah 42,30%
sedangkan pada siklus II persentase yang tidak tuntas menurun menjadi 15,38%. Begitu pula jika dilihat pada siklus I persentase yang tuntas adalah 57,69% sedangkan pada siklus II persentase yang tuntas adalah 84,63%.
0 20
Rata-rata
59
Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Setiap Siklus
Tabel 4.9 dan gambar 4.3 diatas menunjukkan bahwa tejadi peningkatan hasil belajar murid dari siklus I ke siklus II. Dilihat dari nilai rata-rata pada siklus I adalah 64,61 sedangkan nilai rata-rata pada siklus II adalah meningkat menjadi 80,19. Dilihat dari ketuntasan belajar pada siklus I frekuensi murid yang tidak tuntas adalah 11 murid sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tidak tuntas menurun menjadi 4 murid. Dan jika dilihat pada siklus I frekuansi murid yang tuntas adalah 15 murid, sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tuntas meningkat menjadi 22 murid. Jika dilihat dari persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus I persentase yang tidak tuntas adalah 42,30%
sedangkan pada siklus II persentase yang tidak tuntas menurun menjadi 15,38%. Begitu pula jika dilihat pada siklus I persentase yang tuntas adalah 57,69% sedangkan pada siklus II persentase yang tuntas adalah 84,63%.
Rata-rata Frekuensi Tidak Tuntas
Persentase Tidak Tuntas
Frekuansi Tuntas
Persentase Tuntas
11 15
4 15,38
59
Gambar 4.3 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Murid Kelas VI SD Negeri 1 Watampone pada Setiap Siklus
Tabel 4.9 dan gambar 4.3 diatas menunjukkan bahwa tejadi peningkatan hasil belajar murid dari siklus I ke siklus II. Dilihat dari nilai rata-rata pada siklus I adalah 64,61 sedangkan nilai rata-rata pada siklus II adalah meningkat menjadi 80,19. Dilihat dari ketuntasan belajar pada siklus I frekuensi murid yang tidak tuntas adalah 11 murid sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tidak tuntas menurun menjadi 4 murid. Dan jika dilihat pada siklus I frekuansi murid yang tuntas adalah 15 murid, sedangkan pada siklus II frekuensi murid yang tuntas meningkat menjadi 22 murid. Jika dilihat dari persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus I persentase yang tidak tuntas adalah 42,30%
sedangkan pada siklus II persentase yang tidak tuntas menurun menjadi 15,38%. Begitu pula jika dilihat pada siklus I persentase yang tuntas adalah 57,69% sedangkan pada siklus II persentase yang tuntas adalah 84,63%.
Siklus II
60 murid.
b. Analisis Data Hasil Observasi Siklus II
1) Hasil Observasi Aktivitas Murid pada Siklus II
Data aktivitas murid pada siklus II diperoleh melalui hasil lembar observasi selama proses pembelajaran di setiap pertemuan. Adapun descriptif tentang aktivitas murid selama mengikuti proses pembelajaran pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Aktivitas dan Sikap Murid pada Siklus II
No. Komponen yang Diamati
Pertemuan ke- Rata- rata
Persentase (%)
1 2 3 4
1 Murid yang hadir mengikuti pelajaran
20 26 24
T E S
S I K
23,33 89,73 2 Murid yang memperhatikan
penjelasan guru dengan
18 21 22 20,33 78,19
3 Murid yang menerima pembagian kelompok tanpa protes.
18 22 22 20,67 79,5
4 Murid yang membantu temannya dalam mendalami materi.
18 20 22 20 76,93
5
Murid yang mampu memberikan informasi dengan baik pada saat menggunakan model IOC.
19 21 21 20,33 78,19
61
I I 7 Murid yang menjawab
pertanyaan guru.
18 21 23 20,67 79,5
8 Murid yang bertanya kepada ke guru
18 20 22 20 76,93
Sumber : Lampiran 15,18 dan 21
Berdasarkan tabel 4.10 di atas pada siklus II dilakukan 4 kali pertemuan dengan 3 kali pertemuan kegiatan pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus dengan jumlah murid keseluruhan yaitu 26 orang. Aktivitas murid dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut:
a) Murid yang hadir mengikuti pelajaran pada pertemuan pertama ada 20 murid, pada pertemuan kedua 26 murid dan pada pertemuan ketiga menurun disebabkan karena sakit menjadi 24 murid. Jika dirata-ratakan jumlah yang hadir mengikuti pelajaran pada siklus II yaitu 22,33 dengan persentase 89,73%
b) Murid yang memperhatikan penjelasan guru dengan pada pertemuan pertama ada 18 murid, pada pertemuan kedua ada 21 murid dan pada pertemuan ketiga ada 22 murid. Jika dirata- ratakan maka jumlah murid yang memperhatikan penjelasan guru selama siklus II yaitu 20,33 dengan persentase yaitu 78,19%.
c) Murid menerima pembagian kelompok tanpa protes pada pertemuan pertama ada 18 murid, pada pertemuan kedua ada 22 murid dan pada pertemuan ketiga ada 22 murid. Jika dirata-