PENGERTIAN TENTANG TOTAL DEPRAVITY
Istilah “total depravity” berasal dari abjad “T” pada akronim TULIP, yang merupakan poin pertama dari “fi ve points of Calvinism” (Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, Perseverance of the Saints).1 Yang dimaksud dengan total depravity (kebobrokan menyeluruh) atau total inability2 adalah kebobrokan yang meliputi seluruh aspek natur manusia sejak Adam, sehingga hakikat manusia disebut berdosa (“Man is wholly sinful by nature”). Kebobrokan atau kebejatan itu terkandung di dalam manusia dan telah meresap atau menyusup ke dalam seluruh eksistensinya.3 Dengan demikian, total depravity menunjuk pada luasnya atau scope dosa di dalam kehidupan manusia, bukan pada kedalaman atau gradasi dosa manusia. Dalam konteks defi nisi, dapat dikatakan tidak ada yang memberikan penjelasan lebih rinci dan tepat dibanding Roger Nicole:
[T]otal depravity is that evil is at the very heart and root of man. It is at the very foundation, at the deepest level of human life. Th is evil does not corrupt merely one or two or certain particular avenues of the life of man but is pervasive in that it spreads into all aspects of the life of man.
1Walaupun TULIP biasa disebut “fi ve points of Calvinism,” ada teolog yang kelihatannya kurang setuju dengan batasan “lima poin”; lih. mis. Edwin H. Palmer yang berkata: “Calvinism is not restricted to fi ve points: It has thousands of points” dan menurutnya Calvinisme amat luas:
“it is as broad as the Bible” (Th e Five Points of Calvinism [Grand Rapids: Baker, 1972] 5).
2Dalam hal ini saya mengikuti pilihan Loraine Boettner yang menyamakan istilah total depravity dengan total inability (The Reformed Doctrine of Predestination [Philadelphia:
Presbyterian and Reformed, 1977] 61). Bila tetap mau dibedakan, dapat dikatakan bahwa akibat dari total depravity terciptalah keadaan total inability. Istilah lain yang dipakai oleh beberapa penulis adalah “righteous incapability,” “inherited depravity,” “radical corruption,” “spiritual inability,” “moral inability,” atau “human depravity,” semua dengan pengertian yang tidak jauh berbeda dengan “total depravity.”
3Menurut Gerald Bray, “every part of our being has been aff ected by [sin]” (“Sin in Historical Th eology” dalam Fallen: A Th eology of Sin [ed. Christopher W. Morgan & Robert A. Peterson;
Wheaton: Crossway, 2013] 178).
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 182
It darkens his mind, corrupts his feelings, warps his will, moves his aff ections in wrong directions, blinds his conscience, burdens his subconscious, affl icts his body. Th ere is hardly any way in which man is called upon to express himself in which, in some way, the damaging character of evil does not manifest itself. Evil is like a root cancer that extends in all directions within the organism to cause it dastardly eff ects.4
Menurut Nicole, dalam total depravity pikiran manusia menjadi gelap, perasaan menjadi korup, kehendaknya terdistorsikan, afeksinya terbawa kepada arah yang salah, hati nuraninya menjadi buta, alam bawah sadarnya menjadi tertindih berat, dan tubuhnya menjadi terhambat oleh sejenis pen- deritaan yang sulit dipahami. Yang hendak ditekankan di sini adalah luasnya rembesan kebobrokan ke dalam sanubari manusia akibat dosa.
Bila total depravity ditinjau dari sudut inherited corruption (atau moral pollution), maka selain kehilangan original righteousness (kebenaran asali), di dalam manusia juga telah hadir polusi5 internal yang tidak tertahankan berupa sebuah depravatio (jadi bukan hanya privatio, yaitu hilangnya sesuatu). Bernard L. Ramm benar ketika ia mencatat:
Roman Catholic theology usually interprets Original Sin as privatio (a lack, a loss, a defi ciency), not as depravatio (an actual turn towards sin and evil). Original Sin defi ned as privatio is, however, too academic. It cannot account for the aggressive, demonic, sadistic, and devilishly inven- tive dimension of human sinning. Th e heart is desperately wicked, not merely deprived.6
Maksudnya, karena hati manusia sejak kejatuhan Adam sudah korup, maka penjelasan tentang dosa asali tidak dapat hanya dilihat (seperti dalam teologi Katolik) sebagai privatio (kurang sesuainya atau hilangnya sesuatu pada manusia), melainkan harus dilihat dari aspek depravatio, yakni bobroknya atau jahatnya seluruh aspek keberadaan manusia.
4Standing Forth: Collected Writings of Roger Nicole (Fearn, Ross-shire: Christian Focus, 2002) 430 [tambahan bold dari saya].
5Penekanan pada kata “polusi” juga datang dari Th omas R. Schreiner: “Human beings do not enter the world in a neutral state or slightly inclined to evil, according to Paul [Rom 5:18-19].
Th ey are polluted by the sin of Adam and enter the world as sinners, condemned and destined for death” (Paul: Apostle of God’s Glory in Christ [Downers Grove: InterVarsity, 2001] 149 [kata penegasan pada aslinya]).
6Off ense to Reason: A Th eology of Sin (Vancouver: Regent College Publishing, 1985) 87-88 [bold dari saya].
Akibat Dosa (2): Kebobrokan Menyeluruh 183
Mirip dengan penjelasan di atas, beberapa ratus tahun yang lalu dengan mengacu pada inti sari Reformasi abad 16, Pengakuan Iman Westminster menjabarkan tentang kondisi manusia yang dikaitkan dengan realitas dosa asali maupun ajaran tentang imputasi:
Man fell into a state of sin by his disobedience and so completely lost his ability to will any spiritual good involving salvation. Consequently fallen man is by nature completely opposed to spiritual good, is dead in sin, and is unable by his own strength either to convert himself or to prepare himself for conversion.7
Frasa “completely opposed to spiritual good” merupakan indikasi yang penting, yaitu seluruh keberadaan manusia—jadi bukan hanya satu aspek saja, misalnya, kehendak atau rasio—yang terdampak oleh dosa. Bila dalam bondage of the will kita berbicara tentang satu bagian saja, yakni (perhambaan) kehendak, maka dalam total depravity seluruh bagian atau aspek dari manusia secara total tercemar dan sebetulnya seluruh eksistensi manusia menentang segala sesuatu yang bernilai rohani.
Hal ini berarti manusia setelah kejatuhan Adam dikatakan mati di dalam dosa di dalam segenap keberadaannya: “By this sin they fell from their original righteousness and communion with God, and so became dead in sin, and wholly defi led in all the parts and faculties of soul and body.”8 Yang hendak ditekankan adalah akibat dosa Adam yang diimputasikan kepada keturunannya, umat manusia kehilangan kebenaran asali dan jauh dari Tuhan Allah, dan semua bagian dan perangkat jiwa dan tubuh seanteronya tercemar. Setelah pelanggaran Adam, manusia mewarisi kerusakan asali dan dari sanalah setiap orang benar-benar mengalami kebobrokan dan ketidakmampuan pada segenap keberadaannya: “From this original corruption, whereby we are utterly indisposed, disabled, and made opposite to all good, and wholly inclined to all evil, do proceed all actual transgressions.”9
Secara negatif, kebobrokan menyeluruh bukan berarti bahwa semua manusia telah menjadi jahat sejahat-jahatnya dan juga tidak dengan sendiri- nya menunjukkan bahwa kadar kejahatan manusia telah mencapai level
7Westminster Confession of Faith (Orlando: Evangelical Presbyterian Church, 2017) IX. 3 [penegasan dari saya].
8“Th e Westminster Confession” dalam Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition: Vol. 2: Creeds and Confessions of the Reformation Era (ed. Jaroslav Pelikan & Valerie Hotchkiss; New Haven: Yale University Press, 2003) 6.2.
9“Th e Westminster Confession” 6.4.
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 184
atau tingkat yang tertinggi (2Tim. 3:13), dan setiap orang yang belum lahir baru akan melakukan setiap macam dosa.10 Jadi, penguasa lalim di abad 20 seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Joseph Stalin, Slobodan Milosevic, Saddam Hussein, Kim Jong Un, atau pembunuh berantai yang sadis, seperti Jack the Ripper, Ted Bundy, Hengky Tupanwael, Kusni Kasdut, sehari-harinya adalah orang-orang yang santun,11 bertutur kata halus, penyayang keluarga dan anak- anak kecil, suka membantu orang susah, mengasihi istri dan bapak ibunya, tetapi pada sisi lain mereka adalah orang berdosa dan berperilaku sadis. Hal ini menunjukkan bahwa dosa telah meresap dan mencemari manusia secara keseluruhan, sekalipun demikian seseorang masih dapat berpikir jernih dan bahkan memiliki perilaku (dari satu sisi) sebagai orang yang bertanggung jawab, memiliki disiplin dan pengabdian, mencapai prestasi yang tinggi dalam seni, arsitektur, teknologi dan sains, dan mempunyai kepedulian terhadap segala kebutuhan sosial banyak orang.
Kebobrokan menyeluruh juga tidak berarti orang berdosa sama sekali tidak dapat berbuat baik kepada sesamanya (bdk. Mrk. 10:21; Mat. 7:11; 5:46- 47; Tit. 1:15). Orang bukan Kristen atau orang ateis pun dapat memperlihatkan perbuatan yang baik, perbuatan yang bertanggung jawab untuk karitas dan kepedulian terhadap kaum marjinal, dan memiliki kasih kepada sesama,12
10Anthony A. Hoekema, Created in God’s Image (Grand Rapids: Eerdmans, 1986) 152.
11Misalnya, saudara kandung Pol Pot (yang juga disebut Saloth Sar) bilang begini sewaktu mengenang sang penguasa ketika masih berusia muda, namun yang belakangan disebut tiran berjubah monster (karena sudah membunuh 3 juta penduduk Kamboja, bangsanya sendiri):
“‘He was a very polite boy; he never caused trouble,’ Mr. Saloth Seng recalled today, in words that were repeated by another brother and a sister who still live nearby” (https://www.nytimes.
com/1997/08/06/world/pol-pot-s-siblings-remember-the-polite-boy-and-the-killer.html).
William Branigin pada 3 Juli 1997 mengungkapkan sebuah kesaksian dari Mey Mann, teman sekolah sang diktator Pol Pot (yang selalu menampilkan wajah lembut seperti rembulan dan yang biasa menyebut dirinya “Brother Number One”): “As Mey Mann remembers him, Saloth Sar was ‘a joyful, pleasant boy who loved life,’ a friendly and warm-hearted ‘bon vivant’ with little interest in politics. Th at was in 1949, when Mey Mann, Saloth Sar and 20-odd other Cambodian students sailed to France to continue their educations. Over the next 14 years, as both men became fellow communists and high school teachers in Phnom Penh, Mey Mann said, ‘I didn’t see any cruelty in him. . . . He didn’t seem mean at all’” (“Pol Pot: Lover of Life Became Instrument of Death,” https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1997/07/03/pol-pot-lover-of-life- became-instrument-of-death/27b23a8c-ae80-4f0b-b142-b5c52cff 73e8/?noredirect=on&utm_
term=.4de3a5cb43bc). Artinya, di balik sikap santun, ramah, dan murah senyum dari seseorang pada suatu masa kehidupan bisa saja suatu hari orang itu bermetamorfosis menampilkan “the real person” yang ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat.
12Bagi Louis Berkhof, perbuatan baik memperlihatkan adanya ketulusan dalam relasi sosial: “It is admitted that even the unrenewed possess some virtue, revealing itself in the relations of social life, in many acts and sentiments that deserve the sincere approval and gratitude of their fellow-men, and that even meet with the approval of God to a certain extent” (Systematic Th eology [Grand Rapids: Eerdmans, 2018] 247).
Akibat Dosa (2): Kebobrokan Menyeluruh 185
namun demikian perbuatan baik atau karitas dalam nama agama sekalipun di hadirat Tuhan tetap akan dikategorikan perbuatan manusia dalam dosa karena mengalir dari hati yang tidak mengasihi Allah13 (Rm. 14:23b, “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”).
Kebobrokan menyeluruh bila ditinjau dari perspektif wahyu umum menunjukkan bahwa orang berdosa pun masih mempunyai kesadaran akan keberadaan Allah (innate knowledge of God) dan kemampuan membedakan baik dan jahat melalui suara hati (Rm. 2:15). Artinya, pada semua orang berdosa pun masih berfungsi dua perangkat elementari yang immaterial sifatnya: pertama, sensus divinitatis (sense of the divine), yaitu benih agama, atau kesadaran akan eksistensi yang Ilahi berupa seberkas pengetahuan tentang Allah, dan kedua, suneidesis (conscience), yaitu hati nurani yang bekerja sebagai saksi (merekam perbuatan manusia) dan hakim (memvonis dan membangkitkan kerja guilty feeling, sehingga orang berdosa minimal akan merasa terhukum dalam hati kecilnya). Dengan demikian, manusia di luar Kristus tetap memiliki sensitivitas terhadap ajaran baik buruk secara religiositas maupun moralitas.
Maka dalam konteks ini perlu dicatat bahwa kebobrokan menyeluruh tidak dapat langsung diinterpretasikan bahwa gambar Allah pada manusia terhapuskan sampai hilang (karena secara konstitusional atau struktural masih ada); yang benar adalah gambar Allah itu telah mengalami disfungsi (kerusakan) atau telah terseleweng sebegitu rupa sehingga manusia tidak sanggup lagi memuliakan Dia, sekalipun dalam batas tertentu masih memiliki kesadaran akan eksistensi Allah secara umum di dalam batinnya.
LANDASAN BIBLIKAL TENTANG TOTAL DEPRAVITY Terminologi “total depravity” (secara harfi ah istilah “kebobrokan total”) memang tidak dijumpai dalam Alkitab, namun bila ada kalangan yang mengatakan Alkitab tidak mengajarkan tentang topik ini, ia keliru secara permanen. Alkitab dari PL hingga PB marak memberi indikasi mengenai kebobrokan manusia setelah Taman Eden. Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, terjadi yang disebut disintegrasi atau disfungsi pada seluruh
13Menurut Leonard J. Coppes: “Everything that unregenerate man does or thinks is undergirded by rebellious inclinations against God or motivations that are sinful” (Are Five Points Enough?: Th e Ten Points of Calvinism [Manassas, VA: Reformation Education Foundation, 1980] 44). Lihat juga Hoekema dengan opini yang sama: “Th e unregenerate person can still do certain kinds of good and can exercise certain kinds of virtue. Yet even such good deeds are neither prompted by love to God, nor done in voluntary obedience to the will of God” (Created in God’s Image 152).
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 186
keberadaan manusia. Akibat kejatuhan Adam terdampak pada seluruh manusia tanpa kecuali dan sejak Kejadian 3 akibat kejatuhan manusia, setiap aspek kehidupannya setelah itu (pikiran, kehendak, emosi, bahkan tubuhnya) terdampak korupsi dan polusi dosa.
Di dalam PL, luasnya dan dalamnya keberdosaan manusia sejak awal telah dinyatakan, misalnya dalam Kejadian 6:5 fi rman Tuhan berkata: “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Bila kita membandingkannya dengan terjemahan NRSV akan terlihat perbedaan:
“Th e LORD saw that the wickedness of humankind was great in the earth, and that every inclination of the thoughts of their hearts was only evil continually.”
Perbedaan itu terdapat pada kata “only” yang diterjemahkan “selalu” dalam TB. Seolah-olah mengomentari kata “only” itu, Yohanes Calvin menuliskannya begini: “as if he [God] would deny that there was a drop of good mixed with it.”14 Maksudnya, di hadirat Tuhan Allah kedalaman dosa di hati manusia begitu tak terkira sehingga hanya membuahkan kejahatan secara terus-menerus dan tidak terlihat setetes pun kebaikan di dalamnya. Kejahatan manusia, sebagai buah dari dosa, telah merambah secara luas dan mendalam ke arah inti aspek internal manusia, yaitu hati.15
Dengan perkataan lain, dosa dan kejahatan manusia sudah merembes ke setiap bagian dari aspek internal manusia dan itu terlihat pada perilaku dan tabiat setiap orang sehingga di hadapan Tuhan tidak ada seorang pun yang benar. Mazmur 14:1-3 berkata: “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.
TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Terjemahan NIV dua kali memakai kata “corrupt” (ay. 1
“busuk” dan ay. 3 “bejat”) yang menunjukkan kondisi polusi dosa yang telah merambah pada semua orang.16 Hasilnya adalah vonis fi rman Tuhan yang
14Commentaries on the First Book of Moses Called Genesis (Grand Rapids: Baker, 1996) 1:248.
15Dalam analisis Victor P. Hamilton terhadap ayat ini ia mencatat: “Th e situation is further aggravated because such depravity controls not only man’s actions but also his thoughts. . . . Th e mind, too, has been perverted” (Th e Book of Genesis: Chapters 1-17 [Th e New International Commentary on the Old Testament; Grand Rapids: Eerdmans, 1990] 273).
16Lihat Willem A. VanGemeren, Psalms (Expositor’s Bible Commentary; Grand Rapids:
Zondervan, 2008) 5:176-177.
Akibat Dosa (2): Kebobrokan Menyeluruh 187
sama pada semua orang: “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh:
yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa” (Pkh. 7:20).
Maka tidaklah heran bila Yeremia 17:9 mengungkapkan sebuah fakta:
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Kata “sudah membatu” dalam Alkitab versi NKJV diterjemahkan “desperately wicked” (amat sangat jahat), atau versi NASB memakai istilah “desperately sick” (sakit parah), atau lebih jelas oleh NIV dimaknai sebagai “beyond cure” (tak tersembuhkan), yang memberikan indikasi terbentuknya sebuah kondisi yang irreversible (tidak dapat berubah).
Kondisi ini sudah sesuai dengan yang disebut dalam Pengkhotbah 9:3, “Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.” Sungguh begitu bejat dan fana kondisi manusia secara universal, sehingga fi rman Tuhan mengungkap realitas apa adanya:
“Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin” (Yes. 64:5b-6).
Di dalam PB, konsep kebobrokan menyeluruh ini semakin dipertajam mula-mula oleh Tuhan Yesus yang berkata: “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:21-23). Konteks keluarnya pernyataan tersebut adalah percakapan (lebih tepatnya, perdebatan) Yesus dengan orang Farisi yang mempermasalahkan mengenai sesuatu yang sangat lahiriah, yakni soal mencuci tangan sebelum makan (yang rupanya di-monitor oleh orang Farisi bahwa murid-murid Yesus mengabaikannya). Lalu Yesus menjawab kritik mereka dengan memberikan argumen: “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (ay. 15). Jadi, sekali lagi, persoalan utama manusia bukanlah tentang apa yang masuk ke dalam manusia yang berbahaya, melainkan yang keluar dari atau timbul dari dalam hati manusialah yang mendatangkan kebobrokan secara total.
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 188
Dalam dunia modern sekarang ini, urusan “hati” manusia dianggap hanya berelasi dengan lingkup emosi semata, tetapi dalam dunia literatur PL- PB, pembicaraan tentang “hati,” menurut R. T. France, ada kaitannya dengan
“spiritual and intellectual processes, including the will.”17 Maka, sekali lagi, lingkup kebobrokan manusia dalam hati bukan hanya pada emosinya saja, melainkan meliputi pikiran, kehendak, atau proses yang berhubungan dengan aspek intelek maupun spiritual. Apa artinya? Artinya, lingkup total depravity itu, selain sangat ekstensif (luas) dan sangat intensif (dalam), ia juga menjadi sangat radikal (radix, root, akar atau core, inti), yaitu telah masuk ke sanubari yang paling inti pada esensi dan eksistensi manusia.
Akan mengejutkan bagi orang modern bila mereka membaca Efesus 4:17-18 di mana rasul Paulus menuliskan perkataan seperti ini: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Bayangkan: bila seorang profesor fi lsafat atau pengusaha mapan atau seorang ilmuwan yang ahli dalam artifi cial intelligence, quantum computing, dan biotechnology, atau seorang fi lsuf genius sekaligus ateistis, atau bahkan some crazy rich Asians, membaca dua ayat ini, apakah yang akan menjadi reaksi mereka? Secara imajiner barangkali ada yang merespons sebagai berikut:
“Itu perkataan yang tidak betul: Pikiran saya jernih koq dan bermanfaat bagi masyarakat; saya bisa mengajar di lingkungan akademik, melakukan riset, mengerti banyak hal dalam dunia ini secara terang benderang; saya tidak bodoh sama sekali, karena itu saya tahu bagaimana mencari uang dan memakai harta untuk bersenang-senang, tetapi di tengah-tengah kehidupan saya, hati saya tetap peduli kepada kebutuhan dunia di sekitar saya. Jadi perkataan Alkitab di atas benar-benar keliru sekali.”
Memang secara negatif sudah disebutkan sebelumnya bahwa total depravity tidak berarti orang berdosa tidak dapat berbuat baik, berkiprah dalam masyarakat, dan akan melakukan kejahatan ini itu secara maksimal.
Pengertiannya tidak seperti itu, apalagi orang sekuler yang di luar iman tidak merasakan fakta bahwa dosa telah “darkened in their understanding” (4:18) dan mereka mengalami “hardness of heart” (4:18). Artinya, persoalan noetic
17Th e Gospel of Mark (New International Greek Testament Commentary; Grand Rapids:
Eerdmans, 2002) 291.