1Kisah ini dikutip dan di-parafrasa-kan dari tulisan Marguerite Shuster, “Th e Mystery of Original Sin,” Christianity Today 57/3 (April 2013) 39. Kemudian Shuster meneruskan: “His answer is unlikely to be popular with a generation schooled to cultivate self-esteem, to pursue its passions and chase self-fulfi llment fi rst and foremost. Aft er all, we say, there are reasons for our failures and foibles” (h. 39).
PENDAHULUAN
Gilbert Keith Chesterton (1874-1936) adalah seorang penulis, jurnalis, fi lsuf, orator dan teolog awam terkenal kelahiran Inggris. Di dunia Barat boleh dikata ia adalah penulis piawai dan pemikir terbesar abad 20 sehingga dijuluki dengan istilah “Prince of Paradox.” Pada suatu kali ia ditanya oleh seorang wartawan dengan sebuah pertanyaan “What is wrong with this world?” (Apa yang salah dengan dunia ini?). Waktu itu situasi di Eropa sedang dilanda perang antarnegara, para politikus sangat korup, kejahatan merajalela, hukum sulit ditegakkan, pendidikan tidak berjalan dengan baik, lingkungan hidup rusak, dan cukup banyak orang kaya malah memperlihatkan ketamakan di tengah membanjirnya penduduk miskin di mana-mana. Chesterton sama sekali tidak menyebut atau menanggapi semua situasi kompleks yang sedang melanda dunia pada waktu itu. Ketika didesak lagi dengan pertanyaan yang sama: “What is wrong with this world?,” ia menjawab dengan dua kata saja: “I am”1 (Sayalah [yang salah]; maksudnya, sayalah [sumber permasalahan dalam dunia ini]).
Pernyataan itu adalah pengakuan yang jujur, apa adanya, dan sangat biblikal, sebab di dalam dan melalui Alkitab dan iman Kristen, kita menemukan jawaban bahwa dosa pada manusialah (pada “saya” dan pada “semua orang”) yang menjadi penyebab segala situasi bobrok dan korup dalam dunia dulu maupun sekarang. Bukankah fi rman Tuhan mengatakan: “tidak ada manusia yang tidak berdosa” (1Raj. 8:46) dan Pengkhotbah 7:20 berkata: “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa”?
Maka, kalau hendak bersikap jujur, dosa pada manusialah yang merupakan revelation dan jawaban terhadap pertanyaan “what is wrong with this world?” Bila ditelusuri secara asal-usul dari perspektif biblikal, dapat dikatakan bahwa dosa
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 90
pertama di Taman Eden-lah yang telah mencemari dan merusak struktur ciptaan Allah yang baik, sehingga mendatangkan kutukan, kekacauan, kejahatan, ketamakan, korupsi, pembunuhan, penderitaan, dan akhirnya kematian.
Tetapi harus diakui tidak mudah di zaman modern ini berbicara tentang dosa pertama atau dosa asali yang terjadi dalam Kejadian 3. Bapa Gereja Agustinus pernah mengungkapkan kesulitan ini ketika ia menulis: “Nothing is so easy to denounce, nothing is so diffi cult to understand”2 (tidak ada yang begitu mudah untuk ditolak, tidak ada yang begitu sulit untuk dimengerti) selain ajaran tentang dosa asali. Baginya, diskusi atau perdebatan tentang topik ini akan berlangsung seperti “pertempuran” yang kontroversial dan itu sudah terjadi selama berabad-abad. Walaupun begitu, Marguerite Shuster, seorang dosen teologi dan preaching di Fuller Th eological Seminary, mengatakan bahwa Reinhold Niebuhr sendiri memberikan sebuah pernyataan bahwa dosa asali adalah satu-satunya doktrin Kristen yang dapat diverifi kasi atau dibuktikan melalui pengalaman semua manusia:
Maybe there is something to Chesterton’s answer after all. In fact, theologian Reinhold Niebuhr was fond of saying that original sin—the idea that every one of us is born a sinner and will manifest that sinfulness in his or her life—is the only Christian doctrine that can be empirically verifi ed.
Everyone, whether a criminal or a saint, sins. Insofar as that dismal verdict is true, it’s hardly surprising that there is a great deal wrong with the world.3 Jadi yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah pengakuan bahwa ada sesuatu yang salah atau tidak beres pada umat manusia sejak Adam, apalagi kita semua sudah mengalaminya, baik yang masih melakukan dosa ataupun yang sudah percaya dan ditebus oleh Kristus melalui jalan salib. Tetapi pengakuan itu rupanya tidak mudah; justru selama ini doktrin tentang dosa asali mengalami penolakan dari luar (yaitu dari kalangan sekularis4 maupun dari para pemikir
2Dikutip dari Henri A. G. Blocher, Original Sin: Illuminating the Riddle (Downers Grove:
Apollos, 2009) 15.
3“Th e Mystery of Original Sin” 40.
4Lihat Richard J. Coleman yang mengatakan: “To ask what it means to be human is to inquire into one of life’s deepest and most important questions. For that reason it is an ancient question with a long and varied history. Greek philosophers were not the fi rst to probe what it means to be a good or virtuous person. Th e ancient religions of Asia refl ected a more deeply felt tension between the human as creature and the human who possessed a divine spirit. But nowhere was the inquiry so critical and defended with such vehemence than in Christianity, and in particular the defense of the doctrine of original sin against heretical views” (“Saving Original Sin from the Secularists,”
Th eology Today 70/4 [2014] 394). Secara tidak langsung yang ia maksudkan sebagai “heretical
Universalitas Dosa 91
evolusionis5) bahkan dari dalam tubuh kekristenan (misalnya kaum feminis).6 Sekalipun ajaran ini dipaparkan dalam Alkitab (mis. Rm. 5:12, 18-19; Mzm.
51:5), tetap saja formulasi doktrin ini mendapatkan kritik dari teolog tertentu.
Contohnya, Emil Brunner (1889-1966), seorang teolog neoortodoks dan dialektika dari Swiss, berpendapat bahwa ajaran dosa asali sebetulnya tidak dikenal dalam Alkitab,7 karena ayat-ayat seperti Roma 5 dan Mazmur 51 tidak secara tegas mengajarkan tentang dosa yang diwariskan melalui keturunan alami atau hubungan antara dosa dan kelahiran. Kalaupun ada realitas kema- tian pada keturunan Adam, hal itu terjadi karena mereka sendiri melakukan dosa perbuatan. Menurutnya, dosa asali hanyalah ajaran bapa gereja Agustinus, bukan ajaran Alkitab.8
Sebenarnya apa yang dikatakan Brunner tidak terlalu tepat, sebab Agustinus menjelaskan dengan saksama doktrin dosa asali yang disebutnya sebagai ajaran yang disinggung dalam Alkitab. Misalnya, rasul Paulus sendiri memberikan
views” adalah pemikiran kaum sekularis yang ingin melampaui keterbatasan diri manusiawi:
“Th e hope that drives modern-day secular optimism is the confi dence that we can transcend our instinctual nature, and it is that confi dence that must be thoroughly examined. . . ” (h. 403).
5Misal Karl Giberson, seorang yang dulunya Kristen namun kemudian menjadi skeptik yang evolusionis, berkata: “Christianity emerged in a diff erent time and must be prepared to evolve like everything else. . . . In the Christian tradition, humanity’s problem is referred to as sin, blamed on Adam . . . such a viewpoint is no longer tenable, and we must learn to get along without it. Th ere is no original sin and there was no original sinner” (Saving the Original Sinner:
How Christians Have Used the Bible’s First Man to Oppress, Inspire, and Make Sense of the World [Boston: Beacon, 2015] 176).
6Ronald H. Stone, “Reinhold Niebuhr and the Feminist Critique of Universal Sin,” Journal of Feminist Studies in Religion 28/1 (Spring 2012) 91-96 dan Bob E. Patterson, “‘Original Sin’
Revisited: McClendon, Niebuhr, and Feminist Th eology,” Perspectives in Religious Studies 27/1 (Spring 2000) 73-85.
7Dalam kata-kata Brunner, kisah dalam Kejadian 3 “is no longer historically credible” (Man in Revolt: A Christian Anthropology [Philadelphia: Westminster, 1947] 120). Sebagian teolog lain memberikan alasan bahwa keempat Injil dan Yesus tidak pernah menyinggung soal dosa asali, padahal Yesus berbicara tentang Adam dan Hawa. Bila doktrin ini sedemikian penting, mengapa Ia tidak membicarakannya sama sekali? Lihat Patricia A. Williams, “Sociobiology and Original Sin,” Zygon 35/4 (December 2000) 800.
8Th e Christian Doctrine of Creation and Redemption (Dogmatics: Vol. II; Philadelphia:
Westminster, 1952) 103-107. Padahal dalam bukunya yang lain, dengan cukup baik ia mende- fi nisikan dosa sebagai “ . . . rebellion against God and separation from Him. Sin, fundamentally, is the revolt of the creature against the Creator, the attempt of the creature to escape from dependence on God, in order not to be under God, and related to God, but to be without God, that is, not only to be conditionally, but unconditionally, free. Not worldly pleasure, but the striving for unconditional freedom; the striving to be autonomous; the will of the tenant to be the lord (see Matt. 21:33 ff .), is the root of sin. It is only because man is freed from the Creator that he falls into a false relation with his fellow creatures, into love of the world and love of self, the false love of pleasure and the destruction of community by the setting up of the self as an idol” (Revelation and Reason [Philadelphia: Westminster, 1946] 50-51).
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 92
argumen sederhana seperti ini: Kita harus berpikir dan mengaku: sebelum ada hukum Taurat, dosa sudah bereksistensi (Rm. 5:13, Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia). Lalu pertanyaannya, mengapa antara periode Adam sampai periode Musa—pada masa itu, sekali lagi, tidak ada hukum Taurat—ada sesuatu yang tidak normal terjadi pada semua manusia, yaitu kematian? (Rm. 5:14, Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam.) Maksudnya kira-kira begini: keberdosaan manusia sejak Adam semakin nyata diperlihatkan oleh hukum Taurat (Rm. 5:13b, dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat), tetapi pada periode antara Adam dan Musa waktu itu hukum Taurat belum turun. Meskipun begitu ada satu fakta yang abnormal yang tidak dapat dipungkiri oleh semua orang, yaitu hadirnya maut atau kematian. Jadi mestinya semua orang berpikir dengan akal sehat begini: Dari mana datangnya maut atau apa sebabnya kematian hadir di dalam dunia?9
Saya setuju dengan sebagian perkataan Shirley B. Page, yaitu defi nisi tentang dosa Adam ini tergantung pada interpretasi masing-masing orang:
A Christian defi nition of sin depends upon our interpretation of the Adam and Eve myth in Genesis. Th e story makes man very defi nitely responsible for the entrance of sin into the world; on the other hand, it involves all men in the consequences of the sin of the “fi rst” man. Th us is provided the source of tension which has disturbed Christians for centuries. Is man to be held responsible for the state of sin in which he fi nds himself, or can he blame Adam through heredity? Is man capable of not sinning or is he
“not able not to sin?” Can he save himself or is he so entangled in the sin of the race that only a divine gift of grace can save him?10
9C. E. B. Cranfi eld, misalnya, mencatat begini: “. . . for the fact that men died during this period of the law’s absence (v. 14) shows clearly enough that in this sense their sin was indeed registered”
(A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans [International Critical Commentary; Edinburgh: T & T Clark, 1975] 1:282 [penegasan dari saya]). Kata “registered”
dapat diterjemahkan “tercatat,” “terdaft ar,” “terekam,” atau “tersertifi kasikan.”
10“Some Further Observations on Sin and Sickness,” Journal of Pastoral Care 13/3 (Fall 1959) 147. Saya katakan “sebagian” karena tidak setuju dengan istilah “myth” yang dipakai Page. Walaupun pengakuannya di atas cukup baik, namun sebenarnya ia menolak konsep dosa asali: “Th e traditional interpretation or doctrine of original sin based upon Rom. 5:12-13, 18-19, affi rms that all men are guilty because of the sin of the fi rst man; that sin is transmitted by heredity through the evil of sexual reproduction and is compounded by the sins of daily life. Th is formulation should be rejected. . . .” (h. 147).
Universalitas Dosa 93
Interpretasi masing-masing peneliti Alkitab tentang Kejadian 3 akan sangat menentukan seperti apa pengertian dia tentang dosa Adam. Pada bagian ini kita akan membahas secara detail mengenai topik dosa asali (original sin) dan doktrin tentang penghitungan dosa Adam pada seluruh umat manusia (impu- tation) dari beberapa pandangan yang pernah muncul dalam sejarah pemikiran teologi Kristen selama beberapa ratus tahun belakangan ini.
DOSA ASALI
Pembicaraan tentang dosa di dalam Alkitab dimulai dari Kejadian 3 yaitu sejak kejatuhan Adam di Taman Eden, dan pelanggaran yang dilakukan Adam disebut sebagai “transgression of being, not doing”11 (yaitu pelanggaran karena posisi atau status Adam, bukan pelanggaran yang berhubungan dengan apa yang dilakukan Adam). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa karena posisi Adam sebagai kepala covenant—ketika ia memilih ikut memakan buah dari pohon yang dilarang Tuhan itu—ia secara sadar melanggar perintah atau perkataan Tuhan, dan dengan cara itu mendatangkan akibat pada seluruh keturunannya. Jadi tepatlah apa yang Paulus tuliskan: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).12
Perhatikan: Paulus menyebut “dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang.” Mengapa “satu” orang; bukankah di Taman Eden yang melang- gar perintah Tuhan ada dua orang? (Mestinya pembela kaum feminis senang dengan ayat ini, sebab ayat ini meng-exclude-kan Hawa.) Bukankah di 1 Timotius 2:13 ia menulis: “Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”? (Gara-gara ayat ini kuping kelompok feminisme “panas” lagi.) Inilah yang harus diperhatikan:
11Townsend, “Eve’s Answer to the Serpent” 417.
12Diskusi tentang dosa asli memang mengacu pada Roma 5 (khususnya ayat 12-21); misalnya, Millard Erickson, seorang teolog Baptist, mengakui hal ini: “All of us, apparently without excep- tion, are sinners. By this we mean not merely that all of us sin, but that all of us have a depraved or corrupted nature which so inclines us toward sin that it is virtually inevitable. How can this be? What is the basis of this amazing fact? Must there not be some common factor at work in all of us? It is as if some antecedent or a priori factor in life leads to universal sinning and universal depravity. But what is this common factor, which is oft en referred to as original sin? Whence is it derived, and how is it transmitted or communicated? We fi nd the answer in Romans 5” (Christian Th eology [Grand Rapids: Baker, 1985] 631 [bold dari saya]).
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 94
Paulus sedang berbicara tentang posisi dan status Adam, bukan Hawa, dan ia tidak sedang berbicara tentang dosa Adam dan dosa Hawa, melainkan “dosa itu” (dalam bentuk tunggal, bukan bentuk jamak: dosa-dosa). Hal ini memberi indikasi Roma 5:1213 sedang membahas tentang “dosa itu” yang merupakan
“transgression of being” dari “satu orang” yakni Adam sebagai kepala covenant yang bertanggung jawab mewakili seluruh umat manusia, sehingga ketika Adam disebut berdosa (karena “dosa itu”) seluruh umat manusia disebut berdosa di dalam Adam.
Untuk itu, bila kita ingin mendefi nisikan “original sin,” sebaiknya mengu- tipnya dari Louis Berkhof yang menyebutnya secara singkat sebagai “the sinful state and condition in which men are born”14 (keadaan atau kondisi berdosa dalam mana manusia dilahirkan). Disebut demikian karena: dosa itu berasal dari akar asali atau yang paling mula-mula dari umat manusia, dosa itu ada pada kehidupan setiap orang sejak lahir (innate sin), sehingga ini memberi petunjuk dosa tersebut tidak dapat dikatakan timbul dari hasil imitasi atau pengaruh lingkungan atau alam kehidupan manusia. Dosa tersebut adalah akar yang dalam dari semua dosa yang ada, yaitu dosa status yang mencemarkan kehidupan manusia. Jadi dosa asali tidak berasal dari konstitusi atau struktur asali manusia pada penciptaan, sebab apabila hal ini benar, maka hal itu dapat disimpulkan bahwa Allah telah menciptakan manusia sebagai seorang yang naturnya sudah memiliki benih dosa. Secara negatif juga dapat dikatakan bahwa dosa asali bukan dosa pelanggaran yang dilakukan oleh Adam; yang benar adalah dosa asali adalah akibat dosa Adam, bukan dosa atau pelanggaran itu sendiri. John Murray, sambil mengutip Yohanes Calvin, memberikan catatan yang senada:
13Perlu diketahui bahwa perdebatan tentang isi, termasuk eksegese, terhadap Roma 5:12 tidak hanya terjadi pada zaman modern sekarang ini, melainkan sudah ada sejak zaman sesudah rasul Paulus, bapa-bapa gereja, sampai Agustinus; lih. David Weaver, “From Paul to Augustine:
Romans 5:12 in Early Christian Exegesis,” St. Vladimir’s Th eological Quarterly 27/3 (1983) 187-206 dan Fr. Panayiotis Papageorgiou, “Chrysostom and Augustine on the Sin of Adam and Its Consequences,” St. Vladimir’s Th eological Quarterly 39/4 (1995) 361-378. Bahkan dosa asali bukan hanya diajarkan dalam Roma 5:12 saja, melainkan juga seluruh PB; lih. Charles A.
Gieschen, “Original Sin in the New Testament,” Concordia Journal 31/4 (October 2005) 359-375.
14Systematic Th eology (Grand Rapids: Eerdmans, 1996) 244. Mirip dengan defi nisi Berkhof, teolog ternama dari Calvin Th eological Seminary, Anthony A. Hoekema, menerangkan dosa asli yang dibedakan dengan dosa perbuatan: “Original sin is the sinful state and condition in which every human being is born; actual sin, however, is the sins of act, word, or thought that human beings commit” (Created in God’s Image [Grand Rapids: Eerdmans, 1986] 143). Jadi Hoekema mem- buat kontras antara peccator originaliter (original sin) dengan peccator actualiter (actual sin).
Universalitas Dosa 95 . . . the sin by which posterity is ruined is the depravity which stems from the sin of Adam, the corrupted human nature which is the consequence of Adam’s apostasy and which is communicated to and transfused into us by propagation.15
Menurut Henri Blocher, dosa asali secara historis dimulai dari Adam, yang karena ketidaktaatannya mendatangkan sebuah pelanggaran yang serius dan efek dosa Adam itu membawa akibat pada “universal sinfulness,” yang dapat ditelusuri pada generasi-generasi turun-temurun yang bermula dari satu orang leluhur, yakni Adam. Efek dosa itu menjalar pada umat manusia sejak mereka dilahirkan dan ini meliputi bobroknya segenap aspek keberadaan batiniah.
Selengkapnya ia berkata:
[O]riginal sin is universal sinfulness, consisting of attitudes, orientations, propensities, and tendencies which are contrary to God’s law, incompatible with his holiness, and found in all people, in all areas of their lives.16
Perlu diperhatikan bahwa efek dari dosa asali sifatnya “inherited” (diwariskan) dan sama sekali bukan berasal dari perbuatan-perbuatan manusia, dan dosa itu sudah meresap pada setiap orang, pada seluruh area kehidupannya, dan pada segenap aspek immaterial yang internal yang tidak terlihat.
INHERITED GUILT
Dosa asali membawa akibat yang menurut Wayne Grudem termanifestasikan pada dua jenis kondisi yang diwariskan kepada seluruh umat manusia sejak Adam: pertama, Adam mewariskan inherited guilt, yaitu semua manusia diperhitungkan berdosa (guilty) di dalam Adam,17 dan kedua, Adam mewariskan inherited corruption, yaitu semua manusia memiliki natur berdosa (sinful nature) karena dosa Adam.18 Istilah “inherited guilt” berkaitan dengan dosa pelanggaran Adam dalam statusnya sebagai kepala covenant membawa akibat pada keturunannya, yakni semua manusia dianggap berdosa dan bersalah karena Adam. George C. Westberg berkata:
15“Th e Imputation of Adam’s Sin: Second Article,” Westminster Th eological Journal 19/1 (November 1956) 32 [kata-kata tekanan pada tulisan asli].
16Original Sin 18.
17Systematic Th eology 494-495.
18Systematic Th eology 496-497.
PUDARNYA KONSEP DOSADALAM DUNIA KEKINIAN 96
Th e fi rst Adam did not bring sin into the world by setting a bad example, but his one act wrought a constitutional change of unholiness within his heart. Th at act resulted in an innate corrupting principle that transmitted itself just as his natural features are transmitted. Because he had two feet rather than four, so all his descendants are bipedal: and as he became a sinner, so each member of the race became a sinner. . . . Without giving a reason for it, the Apostle simply and positively states it as a matter of fact that in the fall of Adam the whole human race not only inherited a sinful nature, but that we were all involved in the guilt of Adam.19
Menurut Westberg, Paulus tidak memberikan alasan mengapa dosa itu lang- sung dikenakan kepada semua manusia, karena Paulus mengungkapkannya secara langsung sebagai sebuah fakta bahwa “we were all involved in the guilt of Adam.” Istilah yang dipakai Michael Horton juga hampir sama: “we are guilty as sinners in Adam.”20 Intinya, mau tidak mau semua manusia terdampak dosa status dari Adam dan efek dosa itu adalah munculnya guilt yang sifatnya universal pada semua orang sebagai akibat adanya sebuah perintah yang dilanggar oleh satu orang.21
Barangkali sebagian pihak yang terbiasa mengembangkan pola berpikir yang rasionalistis akan mempermasalahkan konsep inherited guilt dengan argumen-argumen berikut: “Kenapa saya disebut-sebut harus ikut menang- gung dosa pelanggaran Adam; saya ‘kan tidak ada di sana (di Taman Eden) dan jelas belum dilahirkan pada waktu itu, koq saya dilibatkan dalam keja- tuhannya? Bukankah ini tidak adil dan tidak rasional sama sekali? Lagi pula, bukankah Adam berdosa dalam kesementaraan (yakni dalam sejarah), mengapa Tuhan menghukum dia dan seluruh umat manusia dalam kekekalan (neraka kekal dan api kekal)?” Bahkan yang lebih ekstrem ada yang pernah
19“Th e Two Adams: Exposition of Romans 5:12-21,” Bibliotheca Sacra 94/373 (January-March 1937) 39-40 [kata-kata penegasan dari saya].
20Th e Christian Faith 426.
21Tidak semua pemikir atau teolog injili setuju dengan istilah “inherited guilt” atau “universal sin”; salah satunya adalah Mark Rapinchuk yang memiliki keyakinan dan alasan bahwa “ . . . it seems that an insistence on inherited sin requires a conclusion of absolute Universalism. If sin is universally applied (every human being without exception), then so must salvation be universally applied” (“Universal Sin and Salvation in Romans 5:12-21,” Journal of the Evangelical Th eological Society 42/3 [September 1999] 430). Menurut saya, argumen yang diberikan Rapinchuk telah ditarik terlalu jauh, sebab tidak ada yang pernah mengaitkan antara kedua konsep itu (dosa dan keselamatan) dari segi keuniversalannya.