• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN PARIGI MOUTONG

Dalam dokumen PDF Sejarah Kabupaten Parigi Moutong (Halaman 101-127)

Sebuah Bukti Kabupaten Mandiri di Indonesia

P

emekaran Kabupaten Parigi Moutong, yang selanjutnya disebut Parigi Moutong saja, dari Kabupetan Donggala sebagai suatu momen penting dalam perjalanan sejarahnya. Pemekaran untuk menjadi daerah otonom juga ditentukan oleh kehidupan ekonomi masyarakatnya. Dunia yang dimaksud itu, adalah keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas ekonomi, di sektor agricultur, manufactur, dan service. Ketiga sektor ini berkonstribusi penting terhadap perkembangan Parigi Moutong sebagai daerah otonom yang sangat maju di Sulawesi Tengah.

Ketiga sektor ekonomi dapat dikategorikan ke dalam beberapa bidang (bidang) ekonomi. Jika membaca buku-buku statistik terbitan pemerintah di Indonesia, kategorisasi ini tidak ditemukan. Begitu pula dalam sensus ekonomi yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali.

Kategorisasi tersebut adalah pertama, Sektor Agricultur terdiri atas 6 (enam) bidang yaitu pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan, dan budidaya tanaman. Setiap bidang ini masih dapat diklasifikasikan lagi. Pertanian biasanya dibedakan menjadi pertanian lahan basah (sawah) dan pertanian lahan kering (ladang dan tegalan).

Ketiga sistem pertanian ini sering disebut sebagai sistem pertanian Pulau Jawa (lahan basah) dan luar Jawa (lahan kering).1 Ada tiga sistem

1 Kuntowijoyo dalam penelitian di Madura menyatakan, “pemanfaatan tanah di Madura, seperti juga di Jawa, biasanya diklasifikasi menjadi empat tipe; sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegal, dan sawah rawa. Begitu juga, hutan kecil nipah, ladang pohon buah-buahan, dan kebun di pekarangan rumah merupakan sumber-sumber pajak penghasilan dan sektor pertanian di Madura”.Kuntowijoyo, Perubahan Sosial pada Masyarakat Agraris: Madura 1830-1942 (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2001), hlm. 35.

pertanian yaitu sawah, kebun, dan tegalan (kebun di pekarangan rumah). Sementara hutan kecil nipah, biasanya menjadi bagian dari sebuah kebun. Pada kasus tertentu seperti di Pulau Sulawesi, hutan nipah kemudian beralih menjadi tambak.

Kedua, Sektor manufactur. Sektor ini umumnya dibedakan dalam beberapa bidang, yakni penggalian (tambang), industri pengolahan, pabrik, dan energi. Dari empat bidang itu, yang paling banyak terdapat di aras lokal yakni industri pengolahan. Walaupun nilai ekonomisnya relatif rendah, tetapi bidang ini dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Industri pengolahan yang dimaksud adalah (1) industri makanan, minuman, dan tembakau; (2) tekstil, barang dari kulit dan alas kaki; (3) pengolahan kayu dan hasil hutan lainnya; (4) kertas dan barang cetakan; (5) pupuk, kimia dan barang dari karet; (6) semen dan barang galian bukan logam; dan (7) industri alat angkutan, mesin dan peralatannya. Tidak semua industri pengolahan ada di suatu daerah. Penggalian juga ada di hampir seluruh daerah tingkat dua di Indonesia, khususnya jenis tambang tipe C seperti pasir dan batu yang menjadi sumber kehidupan masyarakat kecil di pedesaan maupun kota-kota kecil. Kemudian pada spot-spot tertentu terdapat potensi-potensi energi (mineral dan panas bumi). Kebiasaan umum di kota-kota kabupaten didirikan pabrik-pabrik berskala kecil, dan hanya pada kota-kota tertentu didirikan pabrik-pabrik besar.

Ketiga, service (jasa). Sektor ekonomi ini menjadi ciri khas sebuah kota, tetapi dalam perkembangan kini, sektor jasa juga telah masuk di daerah-daerah pedesaan. Hal ini cukup signifikan terlihat di berbagai daerah. Sektor ini dapat diklasifikasikan menjadi tujuh bidang yaitu listrik dan air bersih, pertukangan, perdagangan, hotel dan restoran serta warung makanan siap saji, angkutan, komunikasi, keuangan (bank dan lembaga keuangan non bank), persewaan dan jasa perusahaan, dan pelayanan pemerintah dan swasta (sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi, dan perorangan dan rumah tangga).

Ketiga sektor ekonomi ini, baik agricultur, manufactur, dan service sebenarnya saling mendukung antara satu dengan yang

lainnya. Sebab, perkembangan satu sektor ekonomi ditentukan pula oleh peningkatan di sektor lainya, walaupun dianggap lebih kecil dari yang lainya. Perkembangan itu begitu riil, sehingga dapat dianalisa dengan membandingkan antara satu sektor dengan yang lainnya. Pola perbandingan ini pada hakikatnya akan mengarah pada kehadiran sektor ekonomi andalan daerah tersebut. Sehingga yang tampak nantinya, yakni sebuah perbandingan secara temporal, khususnya pada periode awal pasca pemekaran.

Sejak tahun 1960 (sampai sekarang), penuntutan daerah otonom di tahun 1960, sektor agricultur menjadi andalan masyarakat, bahkan tim penuntut. Sektor ini dihadirkan sebagai sumber keuangan tim penuntutan Pemekaran Parigi Moutong.

Geliat ekonomi yang tampak melalui klasifikasi tadi, menjadikan suatu daerah, secara ekonomi terlihat mengalami kemajuan akibat peningkatan pendapatan daerah dan pendapatan perkapita keluarga maupun perorangan. Apalagi ketiga sektor ekonomi itu tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Salah satu sektor ekonomi akan tegak berdiri, jika ditopang atau didukung oleh sektor ekonomi lainnya. Geliat dan kontestasi sektor-sektor tersebut menyebabkan majunya satu masyarakat secara ekonomi. Salah satu daerah yang menarik diteliti secara mendalam adalah Parigi Moutong. Daerah tingkat dua yang belum lama mekar dari Kabupaten Donggala sebagai kabupaten induknya ini telah memperlihatkan sebuah pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kondisi ekonomi daerah ini ditunjang oleh potensi ekonomi yang memadai. Kenyataan ini yang menjadikan daerah ini mudah berkembang, melampaui pencapaian kabupaten-kabupaten di Sulawesi Tengah.

Potensi ekonomi daerah ini, Parigi Moutong harus diakui cukup banyak. Secara teoritis, potensi ekonomi ini terkait dengan sumber daya, sehingga disebut potensi sumber daya. Ada dua kategori sumber daya, yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dalam ilmu ekonomi, kedua sumber daya ini memiliki tempat yang cukup istimewa dalam pembangunan bangsa. Sebagaimana kenyataan

sebenarnya bahwa Parigi Moutong memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Tanah yang subur, sehingga dapat dijadikan sawah dan perkebunan. Padi tumbuh dengan indahnya dihampir seluruh wilayah kabupaten ini. Sejak dari Sausu hingga Moutong.

Kebun kelapa tumbuh menjulang dengan gagahnya di sepanjang pantai daerah ini – hingga ke kaki-kaki gunung yang cukup jauh ke pedalaman. Di tepi-tepi jalan hingga ke pegunungan tampak tanaman kakao tumbuh dengan megahnya, seakan memberi sebuah kepastian ekonomi bagi penduduk daerah itu. Sungguh sebuah pemandangan indah, jika berjalan menyusuri daerah itu.

Potensi sumber daya alam yan g memadai cukup membantu upaya pemekaran dan pembangunan setelahnya. Begitu juga dengan sumber daya manusianya yang cukup pula. Olehnya itu, sumber daya manusia penting sifatnya dalam dunia ekonomi, khususnya dalam pembangunan. Menurut Astrid S. Susanto, “proses pembangunan mau tidak mau merupakan proses yang melibatkan perubahan dalam lembaga-lembaga dan perkembangan tradisionil sebelumnya, kadang-kadang mengubah fungsinya, kadang-kadang menghentikan fungsi semulanya sama sekali. Yang jelas ada bahwa pembangunan mencukupi perubahan dalam kebiasaan hubungan antar manusia yang meliputi bidang politik, pendidikan, agama, keluarga, dan stratifikasi masyarakat.2

Membicarakan sumber daya manusia dalam kacamata ilmu ekonomi, berarti juga membicarakan sebuah ruang lingkup. Ruang lingkup inilah juga menjadi batasan studi pada bab ini. Sebab itu, ada

2 Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi Dan Perubahan Sosial (Bandung: Rineka Cipta, 1978), hlm. 303. Bandingkan dengan Li yang menyatakan bahwa pembangunan terencana adalah cara efisien untuk mencapai banyak tujuan. Pembangunan, dalam bentuk yang mereka (mafia Berkeley) gambarkan, akan menghilangkan pengaruh politisi dan pejabat model lama yang memobilisasi rakyat melalui himbauan emosional; akan menghilangkan sikap-sikap tradisional dan tidak rasional;

akan mengurangi kemiskinan yang menjadi lahan subur komunisme; dan akan menyediakan kerangka kerja yang dapat digunakan pemerintah untuk berkomunikasi dengan rakyat menyediakan kerangka kerja yang dapat berkomunikasi dengan rakyat dan memperoleh persekutuan.Tania Murray Li, The Will To Improve: Perencanan, Kekuasaan dan Pembangunan (Yogyakarta: Marjin Kiri, 2012), hlm. 107.

hal yang perlu diketahui secara mendalam, yakni dalam perspektif ekonomi sumber daya (manusia) ada beberapa klasifikasi penting, yaitu dinamika pertumbuhan penduduk, ketenagakerjaan di dalamnya menyangkut struktur ketenagakerjaan dan perkembangan sektor formal maupun informal, manusia di sektor agribisnis, urbanisasi, transmigrasi, dan pembangunan ekonomi.3 Dua potensi ekonomi;

sumber daya alam dan sumber daya manusia dapat dijadikan sebagai barometer pencapaian ekonomi suatu daerah. Apalagi setelah menjadi salah satu daerah otonom, maka situasi perekonomiannya semakin meningkat, karena kedua jenis sumber daya ini telah dikelolah secara mandiri. Dengan pengelolahan yang terencana dan memadai dapat menggiring masyarakat luas terlibat dalam setiap usaha ekonomi yang ada. Pertumbuhan ekonomi masyarakat dilihat dari kehadiran sektor andalan masyarakat.

Jika menilik pada variabel judul penelitian ini, Sejarah Kabupaten Parigi Moutong, maka perspektif sejarah menjadi katalogus utama dalam penulisan ini. Sehingga secara metodologis, pandangan Kuntowijoyo mengenai sejarah ekonomi dijadikan acuan. Beliau berpendapat bahwa variasi kedaerahan ini disebabkan ini sebabkan oleh perbedaan ekologi, struktur sosial, pengaruh luar dan budaya setempat. Di setiap daerah pun tidak selalu ada keseragaman tingkat perkembangan ekonomi, di tengah-tengah ekonomi enclave pertanian tradisional, hadir pula ekonomi perkebunan besar.4 Berarti di tengah perkembangan ekonomi kaum pribumi, ekonomi kapitalistik datang dengan sejumlah teknologi mereka untuk merubah laju pertumbuhan perekonomian sebuah daerah. Walaupun demikian, proses produksi tetap ditentukan oleh faktor produksi sebagai sebuah persyaratan utamanya. Faktor Produksi terdiri dari empat komponen, yaitu tanah,

3 Lihat Mulyadi S., Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Pembangunan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 1, 15-245.

4 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Edisi Kedua) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 92.

modal, tenaga kerja, dan skill atau manajemen (pengolahan).5 Dalam ekonomi real, keempat persyaratan itu sangat mutlak sifatnya sebagai pendukung proses pemasaran.6 Perkembangan ekonomi daerah ini menjadi acuan pokok dalam pemekaran daerah ini. Berdasarkan dua sudut pandang, yaitu ekonomi real dan potensi ekonomi daerah tersebut, pemekaran Parigi Moutong menjadi sebuah fenomena sejarah politik dan mungkin sosial yang dapat dianalisa berdasarkan perspektif sejarah ekonomi.

EKONOMI REAL

Pemekaran Parigi Moutong sebagai salah satu daerah otonom tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi real yang terus bertumbuh menjadi kemapanan. Kemapanan ekonomi yang dimaksud ini, yakni dapat dilihat dari daya dukung tiga sektor ekonomi yang ada di daerah tersebut. Kondisi demikian mengingatkan pada konteks awal munculnya perlawanan kaum Paderi di Sumatera Tengah. Membaca buku Dobbin mengenai Minangkabau 1784-1847, dapat ditemukan kenyataan bahwa faktor geografis suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap kebangkitan Islam dan gerakan Paderi. Tanah yang subur

5 Moehar Daniel, Pengantar Ekonomi Pertanian (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hlm. 5.

6 Pemasaran yang dimaksud itu ditentukan oleh unsur-unsur saluran pemasaran dan sistem pemasaran. Unsur-unsur saluran pemasaran adalah adanya kelompok lembaga pemasaran, adanya kegiatan atau fungsi-fungsi yang dilaksanakan oleh lembaga tersebut, dan adanya arah pergerakan produk serta pemlikannya dari produksi ke lingkungan komsumsi. Sementara sistem pemasaran ada empat, yaitu (a) sistem pemasaran konvensional yaitu suatu sistem di mana hubungan antar produsen, grosir, dan pengecer sangat longgar; (b) sistem pemasaran saluran vertikal yaitu suatu system di mana produsen, grosir dan pengecer bertindak dalam suatu keterpaduan; (c) sistem pemasaran horizontal yaitu adanya kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang bergabung untuk memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul; (d) sistem pemasaran saluran ganda yaitu menggabungkan beberapa gaya pengeceran dengan pengaturan fungsi distribusi dan manajemen dan memimpinnya dari belakang secara sentral. Djasmin Saladin, Ringkasan Praktis Teori dan Disertai Tanya – Jawab: Unsur-Unsur Inti Pemasaran Dan Manajemen Pemasaran (Bandung: Penerbit Mandar Maju, 1991), hlm. 49.

sehingga dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman padi, lada, gambir, kopi, dan ada juga mineral yang bernilai ekonomis tinggi. Kopi juga tumbuh dan menghasilkan banyak biji kopi yang dapat diekspor ke luar Sumatera oleh para pedagang lokal maupun mancanegara yang sengaja mencari komoditas itu. Kemudian di bagian timur yang memiliki sungai-sungai besar, seperti sungai Inderagiri, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, serta Sungai Batang Hari juga menjadi entreport komoditas di pedalaman bagian tengah Sumatera itu untuk dipasarkan ke Singapura. Berbagai macam jenis industri hadir untuk mengolah berbagai hasil bumi, dan industri lainnya.7

Jika membandingkannya dengan keadaan ekonomi di Parigi Moutong, jelas berbeda. Tetapi ada kondisi historis yang hampir sama (mirip), di mana lingkungan geografis sangat menentukan jalannya sejarah ekonomi, khususnya lahirnya keinginan masyarakat Parigi Moutong memekarkan diri menjadi daerah otonom. Alam yang kaya dengan berbagai hasil tambang, dan tanah yang subur sangat cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian maupun perkebunan.

Sawah membentang luas, di dataran rendah yang dapat dialiri air, baik secara tradisional maupun dengan menggunakan sistem irigasi canggih. Walaupun sebenarnya tidak semua kecamatan memiliki areal persawahan yang memadai, bahkan tidak ada. Begitu juga dengan areal perkebunan di daerah dataran yang agak tinggi, Sehingga lereng-lereng perbukitan dan bahkan pegunungan ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman perkebunan. Tepi pantai yang membentang panjang di sepanjang Teluk Tomini ini dapat ditemui, dibeberapa tempat kawasan tambak. Walaupun terlihat kurang luas, tetapi kawasan tambak ini juga ikut memberi konstribusi bagi pendapatan masyarakat. Secara eknomis, perikanan darat (tambak) ini sangat membantu memenuhi permintaan akan ikan, karena kebutuhan yang terus bertambah. Teluk Tomini juga telah menyediakan sumber daya ikan yang sangat melimpah. Sumber daya lainnya juga melimpahnya.

7 Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi:

Minangkabau 1784-1847 (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008), hal. 1-169.

Areal tanam padi (sawah) daerah ini ada di hampir semua kecamatan. Hampir keseluruhan dataran rendah di Parigi Moutong, khususnya dataran yang memiliki sungai dan dapat dialiri oleh sistem irigasi telah dijadikan sawah. Sistem pertanian sawah sangat ditentukan oleh sistem irigasi yang merupakan sarana penting guna meningkatkan produktivitas lahan (sawah). Irigasi yang baik menjadi tumpuan peningkatan produksi beras (gabah) setiap hektar sawah maupun untuk meningkatkan hasil panen per tahun.8

Luas lahan pertanian di Parigi Moutong pada tahun 2009, tampak mengalami penurunan jika dibandingkan dengan luas lahan pada empat tahun sebelumnya. Tahun 2005, luas lahan pertanian sawah di setiap kecamatan, yaitu Kecamatan Sausu 13.701 Ha dengan produksi 60.723 ton, Parigi 7.478 Ha dengan produksi 33.621 ton, Ampibabo 3.636 Ha dengan produksi gabah 15.824 ton, Tinombo 2.996 Ha dengan produksi gabah 13.374 ton, Tomini 8.367 Ha dengan produksi gabah 37.618, dan Moutong 8.987 Ha dengan produksi gabah 41.700 ton. Jika ditotalkan secara keseluruhan, maka luas lahan mencapai 45. 165. Jika dibandingkan dengan keadaan pada tahun sebelumnya, luas lahan pertanian sawah mengalami fluktuasi jumlah, seperti 2004 (36.837 Ha), 2003 (46.527 Ha), dan 2002 (46.294 Ha).

Dari paparan di atas tersebut ada tiga hal yang dapat dijadikan dasar untuk membaca data-data luas areal sawah. Pertama,sawah selalu diidentikkan dengan sistem pertanian di Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari artikel Wim Ravesteijn bahwa pada tahun 1885, pemerintah Hindia Belanda memulai serangan peradaban besar-besaran dalam bidang irigasi. Namun sistem irigasi pertanian ini terfokus di Jawa. Serangan itu terdiri dari penciptaan karya-karya irigasi modern, pengaturan manajemen irigasi dan perencanaan aktivitas pembangunan.9 Ketiga hal inilah yang terus dikembangkan ke seluruh Indonesia, termasuk Bali,

8 Lihat Sjofjan Asnawi, “Peranan dan Masalah Irigasi dalam Mencapai dan Melestarikan Swasembada Beras” dalam Prisma 2, 1988,hlm. 12.

9 Wim Ravesteijn, Controling Water, Controling People: Teknik Irigasi Dan Pembentukan Pemerintahan di Hindia Belanda Timur, ...

artinya pulau ini kecipratan perkembangan teknologi pertanian di Jawa.

Sementara Sulawesi Tengah mulai tersentuh perkembangan teknologi tersebut pada awal abad ke-20. Olehnya itu, di daerah ini termasuk Parigi Moutong, sawah identik dengan kedatangan orang Jawa dan Bali di kawasan ini, khususnya terkait dengan transmigrasi. Harus disadari pula bahwa tidak hanya dua suku itu yang ikut transmigrasi, masih ada kelompok suku lain, seperti Sunda, Lombok, Banjar, dan Bugis, serta Toraja. Tetapi yang paling dominan adalah Jawa dan Bali, maka sistem pertanian irigasi (sawah) di Parigi Moutong sangat identik dengan kedua suku itu. Kedua, melihat luas areal persawahan di setiap kecamatan di Parigi Moutong tersebut, sebuah pandangan lain mengenai transmigran dapat dihadirkan. Pasca kemerdekaan, Kecamatan Parigi dan Kecamatan Moutong menjadi salah satu lokasi transmigrasi di Donggala saat itu.

Kecamatan Lambunu merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Moutong.10 Sementara Kecamatan Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi adalah hasil pemekaran Kecamatan Parigi. Daerah ini merupakan kawasan transmigrasi yang didominasi oleh orang-orang Bali.11 Kemudian Kecamatan Kasimbar yang juga memiliki areal persawahan seluas 1.217 Ha merupakan hasil pemekaran Kecamatan Ampibabo pada tahun 2004. Di kecamatan ini, warga transmigran didominasi oleh orang Bali. Selain itu, ada juga Bugis dan Tajio.12 Begitu juga ketika melihat luas

10 Moutong kini telah dimekarkan menjadi Kecamatan Taopa, Bolano Lambunu, Lambunu, ....

11 Lihat Rosmawaty, Perubahan Taraf Hidup Warga Masyarakat Lokal Sekitar Daerah Transmigrasi Di Kecamatan Parigi Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah (Surabaya: Tesis PPs Universitas Airlangga, 1998), hal. 73-79; Gloria J. Davis, Parigi: A Sosial History of The Balinese Movement To Central Sulawesi, 1907-1974 (Desertasi Stanford University, 1976); Gloria J. Davis, “Berbagai Cara Beradaptasi: Kaum Migran Bali Di Sulawesi Tengah” dalam Colin MacAndrews dan Rahardjo (Ed), Pemukiman Di Asia Tenggara dan Transmigrasi di Indonesia: Suatu Perbandingan (Yogyakarta: UGM Press, 1979), hal. 182-189; Gloria J. Davis, “Transmigrasi Swakarsa: Kasus Parigi”

dalam Joan Harjono (Peny.), Transmigrasi: Dari Kolonisasi Sampai Swakarsa (Jakarta:

Gramedia untuk YOI, 1982), hal. 113-122.

12 Mengenai keberadaan transmigran Orang Tajio (Pendau) telah dibahas tuntas oleh Masita, Sejarah Pemukiman Suku Tajio di Kasimbar (Palu: Skripsi FKIP UNTAD, 2006), hal. 18-56.

areal persawahan kecamatan lain, maka indikasi seperti tadi, di mana kelompok transmigran menjadi penentu utama perkembangan sawah di wilayah tersebut. Ketiga, Daerah (kota) Parigi, khususnya Parigi, Parigi Utara, dan Parigi Tengah, tidak memiliki areal persawahan yang luas, seperti kecamatan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari sudut pandang berdasarkan pada fakta geografis yang ada. Sebagai ibukota Kabupaten Parigi Moutong, perekonomian “Kota” Parigi tumbuh dengan pesat dengan tidak menjadikan sektor agrikultur sebagai basic ekonomi yang utama. Hal demikian juga dapat dilihat di Kecamatan Moutong, kecamatan mulai bertransformasi secara ekonomi menuju ke sektor jasa. Walaupun ini belumlah sepenuhnya riil.

Perkebunan kelapa (Cocos nucifera), cengkeh, kakao dan kopi menjadi andalan masyarakat Kabupaten Parigi Moutong. Daerah ini tidak memiliki perkebunan besar, hanya perkebunan rakyat saja. Walaupun ada juga beberapa orang kaya yang memiliki areal perkebunan yang cukup luas. Kelapa menjadi komoditas andalan di wilayah ini. Tumbuhan kelapa tumbuh subur di sepanjang pantai mengikuti jalur jalan Trans Sulawesi yang melewati kabupaten ini.

Kelapa diolah menjadi kopra. Umumnya masyarakat Parigi Moutong membuat kopra sebagai sumber ekonominya. Beberapa kecamatan, seperti Sausu, Ampibabo, Toribulu, Tinombo Selatan, Tinombo, Tomini, Palasa, dan Moutong menjadikan kelapa sebagai salah satu komoditas penting di bidang perkebunan. Kelapa telah diusahakan sejak dulu, jauh sebelum masyarakat mengenai tanaman cengkeh, kakao dan kopi. Dari ketiga komoditas yang baru saja disebutkan tadi, kakao adalah komoditas andalan di samping kelapa.

Perkebunan kakao cukup luas di daerah. Hampir keseluruhan daerah dataran tinggi atau dataran rendah yang tidak dapat dialiri air telah dijadikan perkebunan kakao. Tanaman kakao telah menjadi primadona baru, ketika harga kopra mengalami fluktuasi sejak akhir tahun 1980-an. Periode 1990-an, kakao menjadi salah satu pilihan penting dalam berbicara mengenai komoditas pilihan. Dalam beberapa kasus, areal tanaman kakao terus meluas sehingga mengancam lahan persawahan untuk beralih fungsi menjadi lahan perkebunan kakao.

Lahan persawahan yang pada periode awal transmigrasi, sekitar 1970-1985, terus mengalami transformasi menjadi lahan kebun, sehingga sawah menjadi berkurang.

Tahun 1999, luas areal perkebunan kelapa di Parigi Moutong adalah seluas 27.456,72 Ha dengan produksi sebesar 34.447,46 ton.13 Perkebunan cengkeh seluas 4.799,60 Ha dengan jumlah produksi cengkeh sebesar 273,77 ton. Angka ini dapat dirincikan bahwa Kecamatan Ampibabo memiliki perkebunan seluas 3.619 Ha dengan produksi 195,34 ton, Tinombo seluas 463,30 Ha dengan hasil produksi 30,95 ton, Parigi seluas 303,30 Ha dengan produksi sebanyak 17,58 ton, Tomini seluas 251 Ha dengan jumlah produksi 19,29 ton, Moutong seluas 151 Ha dengan produksi 10 ton, dan Sausu seluas 123 Ha dengan produksi 0,61 ton.14

Sementara perkebunan kakao di daerah ini cukup luas, yaitu seluas 22.981,46 Ha dengan produksi sebesar 21.001,91 ton. Tanaman kakao cukup banyak ditemukan di Kecamatan Ampibabo, dengan areal lahan seluas 6.585,10 Ha dan memproduksi 8.552,51 ton kakao kering, sedangkan paling sedikit ditemukan di Kecamatan Moutong hanya seluas 2.141,94 Ha dan memproduksi 1.625,36 ton. Komoditi Kakao ternyata mampu menyumbang sekitar 99% ekspor dari Parimo senilai US$ 61.981.246,42. Dari 412.142 ton produksi kakao nasional, Sulawesi Tengah menempati urutan kedua setelah Sulawesi Selatan, adapun urutan produsen kakao nasional sebagai berikut: Sulawesi Selatan 35,15%, Sulawesi Tengah 14,21%, Sulawesi Tenggara 16,34%, Sumatera Utara 10,85%, Jawa Timur 3,52%, dan daerah lainnya 19,92. Hingga saat ini kakao dari Kabupaten Parigi Moutong masih

13 Areal tanaman kelapa terbesar ada di Kecamatan Moutong (8.945 Ha dengan produksi 9.991,47 ton), disusul Tomini (5.553,75 Ha dengan produksinya 8.029,25 ton), kemudian Ampibabo (4805,22 Ha dengan produksi 7.778,43 ton), seterusnya Parigi (4.690,75 Ha dengan produksi 5.512,83 ton), berikutnya Tinombo (3.055 Ha dengan produksinya 2.862,06 ton), dan Sausu (407 Ha dengan produksi 273,42 ton).

BPS Kabupaten Donggala, Kabupaten Donggala Dalam Angka 1999 (Donggala: BPS Kabupaten Donggala, 2000), hlm. 182.

14 Ibid. 182-187.

Dalam dokumen PDF Sejarah Kabupaten Parigi Moutong (Halaman 101-127)