M
embaca perkembangan dan perubahan sejarah Kabupaten Parigi Moutong di Provinsi Sulawesi Tengah dapat memberikan gambaran kepada kita terhadap masyarakat yang plural dalam dinamika yang tinggi. Pada awalnya masyarakat daerah ini tersebar kedalam beratus bahkan beribu-ribu komunalitas yang tersebar di berbagai gunung-gunung dan bukit-bukit dalam satu kesatuan genealogis. Mereka memisahkan diri antara kesatuan genealogis lainnya sehingga oleh Werteim dikenal sebagai sebuah masyarakat “komunal” yang dipimpin oleh “Olongian” dan atau“Kemagauan.” Pimpinan yang dinamakan “Magau” di wilayah suku Kaili di atas tanah Suku To Bulu Gavu, Suku To Sido, Suku To Bulu Viro, dan Suku To Bulu Ngkalaki. Kemudian “Olongian” di wilayah suku Lauje di atas tanah keolongianan Olongian Lambunu/Olongian Lampasio, Olongian Bolano, Olongian Boinampal, Olongian Siavu, Olongian Sipayo, dan Olongian Sidole kemudian berubah menjadi
“Raja” sebagai konsekuensi logis dari pertautan komunalitas masyarakat Parigi Moutong dengan Hindia Belanda. Keadaan seperti itu, berlangsung hingga datangnya imperialisme Belanda ke daerah ini sehingga konsep Magau dan olongian berubah menjadi konsep yang namanya “Raja” Raja inilah yang dijadikan Pemerintahan Hindia Belanda sebagai wakil representasi dari masyarakat yang plural di wilayah Parigi Moutong. Pada awal abad ke-20 Pemerintah Hindia Belanda mengadakan kontrak politik yang disebut sebagai Perjanjian Pendek (Korte Verklaring) dengan “Raja-Raja” seperti RoE di Tojo, Ta Lasa di Poso, Owolu Marunduh di Mori, Kabodi di Napu dan termasuk Daeng Malino dan Idjenggi yang direpresentasikan sebagai wakil dari kerajaan di wilayah Parigi Moutong. Namun, masuknya Hindia Belanda
sebagai suatu kekuatan politik di tanah Parigi Moutong juga dibayar mahal oleh putra-putra terbaik daerah ini sebagai pejuang yang tidak tunduk kedalam integrasi politik kolonial Belanda. Pejuang tanah ini antara lain Tombolotutu yang bertahan dengan pandangannya sendiri sebagai bentuk nasionalisme sendiri.
Begitu berlanjut ke Zaman Jepang dan kemerdekaan hingga Orde baru bahkan Orde Reformasi, putra-putri daerah ini masih gigih memperjuang kan haknya sebagai suatu bangsa yang merdeka.
Mereka menuntut Kabupaten bagi daerahnya. Selama 39 tahun Kabupaten itu diperjuangkan, benih ditanam sejak tanggal 8 Juni 1963 yakni adanya pembentukan Panitia Penuntut Pembentukan kabupaten. Setelah diketahui arah perjuangan yang pasti dan jelas maka tanggal 23 Desember 1965 sebagai terbentuknya Yayasan Pembangunan Wilayah Pantai Timur dengan Akte Notaris nomor 33 tahun 1965. Saat inilah diketahui arah, tujuan dan hakekat Pembentukan Kabupaten secara yuridis Formal. Setelah 39 tahun kemudian baru impian dan tujuan itu terpai yakni pada tanggal 2 Juli 2002 persmian Kabupaten Parigi Moutong dinyatakan lahir. Jadi, Kabupaten Parigi Moutong berada dalam kandungan cita-cita selama 39 tahun dan lahir secara normal dari daya dan upaya masyarakatnya.
Kabupaten Parigi Moutong yang diperjuangkan sejak 1963 dan terbentuk atau lahir pada tahun 2002 hingga sepuluh tahun 2012 sudah dilakukan pemekaran Kecamatan demi kemajuan maupun agenda kedepan Kabupaten ini. Hal yang menarik dan perlu mendapat komentar, yakni dua hal, yakni sejarah besar di masa lalu menjadi faktor penentu utama didirikan atau disepakatinya sebuah kecamatan. Asumsi ini diambil setelah melihat sejarah kecamatan-kecamatan tersebut yang memang merupakan bekas wilayah kerajaan. Ada dua kerajaan besar di wilayah ini, yakni Arajang Moutong yang berkedudukan di Moutong dan Ke-magau-an Parigi yang berkedudukan Parigimpuu. Arajang Moutong membawahi tiga buah daerah otonom, yaitu (1) Olongian Siavu yang berkedudukan di Tinombo, (2) Olongian Sipayo yang berkedudukan di Bandoyong, dan (3) Magau Sigenti yang berkedudukan di Malanggo. Demikian juga
dengan Kemagauan Parigi yang membawahi beberapa kerajaan kecil lainnya, seperti Kerajaan Sausu, Kerajaan Ampibabo berkedudukan di Ampibabo, Kerajaan Toribulu di Toribulu, dan Kerajaan Kasimbar di Kasimbar. Dari bekas wilayah kekuasaan tradisional ini kemudian muncul kecamatan-kecamatan baru. Wilayah bekas kerajaan tersebut menjadi salah satu dasar penentuan batas kecamatan itu sekarang.
Parigi Moutong hadir sebagai sebuah kabupaten yang maju, melewati beberapa kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah bahkan di Indonesia. Sebuah kenyataan sejarah yang sangat menarik untuk dipelajari oleh generasi berikutnya. Perkembangan jumlah kecamatan dari lima (1952) kemudian berubah menjadi enam (1996), dan kini menjadi dua puluh tiga (2012) adalah catatan penting tersendiri.
Sebagai sebuah daerah pemekaran, pertambahan jumlah kecamatan yang tidak biasanya. Masyarakat Parigi telah mensejarahkan dirinya dalam bentuk Kabupaten Parigi Moutong dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Kehadiran kelompok transmigran (Bali, Jawa, Sunda, dan lain-lain) yang ikut berperan dalam perkembangan Kabupetan Parigi Moutong kini. Namun demikian, dalam hal ini tidak boleh juga dinafikan keberadaan masyarakat pribumi di daerah ini. Kesediaan masyarakat pribumi menerima para pendatang perlu diapresiasi lebih jauh agar harmonisasi kehidupan masyarakat Parigi Moutong tetap seperti sekarang. Saling memberi peran yang sama dalam berbagai akses, akses ekonomi, politik, budaya dan sosial. Kelompok transmigran kini menjadi bagian penting dalam masyarakat Parigi Moutong. Mereka mulai terlibat dalam berbagai bidang kehidupan, bukan hanya pada bidang agraris saja, artinya mereka kini mulai merambah ke bidang usaha lain seperti pada sektor manufaktur (industri) dan service (jasa). Ini catatan paling penting.
Secara ekonomis, daerah ini mengalami perkembangan yang begitu signifikan, tetapi masih ada beberapa aspek yang belum termanfaatkan dengan baik, yaitu potensi kawasan Teluk Tomini, dan potensi sektor informal yang mulai menggeliat dengan baik. Kehadiran kota di desa menjadi penyebabnya. Dan sinergitas antara penduduk
lokal dan para transmigran adalah bukti konkritnya sekarang. Parigi Moutong lebih maju dari daerah lain di Sulawesi Tengah. Namun satu hal yang sangat dibutuhkan sekarang, yakni konsistensi masyarakat mungkin juga para petinggi negara ini dalam menjaga dinamika perkembangan ini agar tetap teratur.
Pada akhirnya, sejarah kecamatan di Parigi Moutong itu sebenarnya dapat dilihat dari tiga sisi penting. Pertama, keterkaitan antara luas wilayah kerajaan dengan wilayah kecamatan (sebagian saja), sebenarnya menjelaskan bahwa sejarah menjadi bagian penting dari penentuan ini. Dengan demikian, masyarakat Parigi Moutong memahami bahwa perkembangan yang terjadi di daerah itu adalah sebuah perkembangan sejarah itu sendiri. Kedua, pemekaran kecamatan menjadi salah satu trend di Parigi Moutong. Sejak tahun 2004, pemekaran pun mulai marak. Hingga tahun 2012, telah 17 (tujuh belas) kecamatan baru telah berhasil dimekarkan. Hal ini menyebabkan muncul elite-elite lokal baru di Parigi Moutong, maka ada sebuah konsespi yang coba ditawarkan yaitu memperbanyak peluang berkuasa dengan mempersempit wilayah kekuasaan. Secara praktis, pemekaran akan menciptakan lapangan kerja baru, walaupun jumlahnya tidak seberapa. Tetapi secara politis, hal ini akan menarik dilihat perkembangannya sepuluh tahun mendatang. Persaingan politik akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Parigi Moutong.
Ketiga, kecamatan-kecamatan yang ada masih mendasarkan diri pada kehidupan agraris, walaupun beberapa kecamatan sudah mulai melirik sektor di luar sektor pertanian dan perkebunan. Mereka mulai melihat peluang ekonomi di sektor industri dan perikanan. Sektor jasa juga mulai bangkit, sehingga ke depan, sektor ini menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah di Parigi Moutong. Olehnya itu, kehadiran kecamatan-kecamatan ini juga diharapkan untuk ikut menumbuhkan berbagai sektor ekonomi di daerah ini. Peluang usaha yang juga terbuka lebar menjadi catatan tersendiri dalam upaya pengembangan dan pembanguan ekonomi daerah itu. Akhirnya, pemekaran kecamatan yang begitu gencar di Parigi Moutong perlu diikuti dengan kesiapan (mental) aparaturnya agar predikat sebagai
kabupaten termaju di Sulawesi Tengah hanya isapan jempol belaka.
Tidak ada yang diragukan, potensi daerah ini masih melimpah, peran setiap kecamatan menjadi vital kedudukannya, mereka seharusnya yang dijadikan unjung tombak pembangunan suatu daerah. Parigi Moutong akan mengalami situasi yang tidak bersahabat, di mana rakyat mulai merasa segala kebutuhan hidup mereka tidak terpenuhi lagi.
Pemekaran di Indonesia pada masa reformasi hakekatnya adalah upaya menyempitkan wilayah supaya efektif dan efisien pengelolaan dan pelayanan kepada publik. Demikian juga pemekaran pada masa otonomi daerah merupakan upaya melebarkan kekuasaan kepada elit-elit lokal di daerah sebagai upaya distribusi kekuasaan.
Pembagian-pembagian wilayah dalam otonomi daerah berdampak pada pemahaman masyarakat terhadap kepemilikan tanah sehingga memunculkan persoalan-persoalan baru berupa batas-batas wilayah.
Batas wilayah itu mengindikasikan benturan antara pemahaman tradisional dengan pemahaman modern akibat dari sistem otonomi daerah. Selain itu, pendistribusian kekuasaan juga mengindikasikan persaingan-persaingan secara tajam antara elit-elit lokal yang menciptakan gap diantara kekeluargaan yang telah terbangun lama sehingga konflik komunal muncul dalam proses distribusi kekuasaan di daerah. Wilayah Indonesia yang begitu luas dirasakan oleh masyarakat Indonesia di tiap-tiap provinsi, kabupaten, kota, dan desa sebagai sesuatu yang harus dimekarkan supaya pelayanan publik efektif dan efisien.
Kekuasaan yang bertumpu pada seorang di daerah yang luas membuat masyarakat merasa tidak dilayani secara maksimal. Salah satu alasan pemekaran suatu wilayah adalah bentuk pelayanan publik yang tidak maksimal karena jauh dari pusat pemerintahan.
Ritman Paudi salah seorang tokoh pemuda pemekaran Parigi Moutong membuat kalkulasi tentang pelayanan publik dari seorang guru yang mengurus administrasi sekolah di kabupaten dengan memakan waktu seminggu karena guru tersebut tinggal di Moutong dan mengurus di ibu kota kabupaten di Banawa yang memakan
waktu perjalanan hampir sehari. Ada satu artikel penting tentang otonomi daerah dan pemekaran yakni artikel Leo Agustino yang berjudul “Pilkada dan Pemekaran Daerah Dalam demokrasi Lokal di Indonesia: Local Strongmens and Roving Bandits,” menjelaskan banyak tentang kepentingan elit di tingkat local yakni prilaku orang kuat dan perbanditan di tingkat lokal sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan otonomi daerah dalam rangka implementasi politik lokal. Namun belum banyak menjelaskan tentang bagaimana wilayah- wilayah disempitkan oleh sistem otonomi daerah dan penguasa yang bertambah lebih banyak di daerah. Uraian ini akan mempersoalkan Bagaimana proses perkembangan penyempitan wilayah dalam pemekaran kabupaten sehingga memunculkan banyak peluang penguasa di tingkat lokal
Pada tahun 1999 Wilayah Kabupaten Donggala sebagai kabupaten induk dari Kabupaten Parigi Moutong memiliki wilayah seluas 16.703,56 kilo meter persegi.1 Wilayah ini dibagi dalam delapan belas kecamatan yakni: Kulawi, Dolo, Sigi Biromaru, Parigi, Marawola, Banawa, Tawaeli, Ampibabo, Sindue, Sirenja, Balaesang, Damsol, Tinombo, Tomini, Mouton, Sojol, Sausu, dan Palolo.
Sementara, wilayah Parigi Mouotong yang mau dimekarkan hanya enam kecamatan yakni: Parigi, Ampibabo, Tinombo, Tomini, Mouton, dan Sausu. Enam Kecamatan ini yang menjadi kecamatan awal Kabupaten Parigi Moutong sebagai kecamatan dasar pertimbangan pembentukan Kabupaten Parigi Moutong. Pemekaran Kabupaten Donggala pada tahun 2002 dengan mendirikan Kabupaten Parigi Moutong wilayah 16.703,56 kilo meter persegi itu dikurangi sebesar 6.231,85 kilo meter persegi2 untuk wilayah Adminitrasi Kabupaten Parigi Moutong. Kabupaten Donggala yang ditinggalkan tinggal seluas 10,471.71 yang tersebar dalam 12 kecamatan. Media lokal Mercusuar memuat sebuah tulisan yang berjudul PARIGI PISAH,
1 Kabupaten Donggala Dalam Angka 1999 (Banawa: BPS Donggala, 2000), hal. 3.
2 Kabupaten Parigi Moutong Dalam Angka 2005 (Parigi: BPS Parigi Moutong, 2006), hal. 1.
DONGGALA “MATI”3 yang dibahas bahwa wilayah Pantai Timur sampai penyumbang pendapatan daerah sekitar 65 persen di PAD Kabupaten Donggala. Arsyad Dg. Rahmatu ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Potensi Daerah (LP4D) menyatakan bahwa akibat keluarnya Palu dari Donggala, sekitar 30 persen potensi Donggala terserap. Sementara itu 55 persen pendapatan asli daerah (PAD) Donggala pada saat itu berasal dari Wilayah pantai Timur.
“Jadi hanya sekitar 15 persen Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Donggala saat itu diperoleh di luar wilayah itu tadi. Itu realitas kalau sudah begitu masak Parigi akan dimekarkan. Tapi komitmennya tetap harus dimekarkan begitu cuma waktunya yang belum pas.” Alasan ini menjadi salah satu argumentasi Parigi Moutong belum dimekarkan pada tahun 1999 dari wilayah Kabupaten Donggala karena wilayah Parigi Moutong merupakan penyumbang PAD yang terbesar bagi Kabupaten Donggala pada waktu itu.
Pendirian Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2002 berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Parigi Moutong yang dimuat dalam Lembaran Negara tahun 2002 nomor 23, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4185 dan gubernur menugaskan Longki Janggola sebagai Pejabat Bupati sementara Kabupaten Parigi Moutong. Sementara Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2002 dipegang oleh Awalunsyah Passau. Bupati dan Ketua DPRD di wilayah Donggala sejak tahun 2002 sudah menciptakan dua orang Bupati yakni H.N. Bidja dan Longki Janggola dan dua orang Ketua DPRD Sutomo Borman dan Awalusyah Passau. Pelebaran kekuasaan terjadi lagi di tingkat kecamatan karena sejak wilayah Parigi Moutong sewaktu Kabupaten Donggala hanya enam kecamatan, yakni Parigi, Ampibabo, Tinombo, Tomini, Mouton, dan Sausu saja dan setelah tahun 2005 kecamatan itu bertambah menjadi delapan kecamatan, yakni: Sausu, Parigi, Ampibabo, Kasimbar, Tinombo, Tomini, Mouton,
3 Arsyad PARIGI PISAH, DONGGALA “MATI”, Mercusuar, Kamis, 12 agustus 1999/29 Rabiul Alkhir 1420 hijriah.
dan Bolano Lambunu. Konsekuensi dari perubahan tahun 1999 ke tahun 2005 adalah menciptakan delapan (8) orang camat dari hanya enam (6) orang camat.
Ada juga elit DPRD yang tercipta dari adanya Kabupaten Parigi Moutong yang baru terbentuk antara lain semua anggota DPRD Kabupaten Donggala yang berasal dari daerah pemilihan Parigi Moutong dialihkan ke DPRD Kabupaten Parigi Moutong. Pada rapat paripiurna pertama DPRD Kabupaten Parigi Moutong pada tanggal 17 Februari 2003 tercatat nama-nama anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong antara lain: muh. Mubasyir, Yahya Lampasio, Muh.
Jufri Kadidi, Syafruddin S. Kalia, Nur Alam Muis, Sukiman Dg. Palatu, I Ketut Mardika, Andi Tjimbu Tagunu, Sutomo Borman, Muh. Qasim Abd. Madjid, Dewana Lagandja, Taufik Borman, M. Awalunsyah Passau, Salam Kamu Tanjemai, Effendi Lumbang Tobing, Ni Wayan lely Pariani, Syahrun Balike, Nico Rantung, Muh. Mubasyir, Harifton Y.
Labatjo, Syahrir, Saud Abas, Moch Sujoko, H. A. Lubis, Rais D. Adam, dan yang tidak hadir Badar Amir Al Amri. Selain elit DPRD dan camat sebagai pimpinan wilayah kecamatan yang tercipta sebagai akibat dari pemekaran wilayah Kabupaten Donggala dengan menciptakan Kabupaten Parigi Moutong juga ada kepala-kepala dinas dan badan.
Pada siding pertama DPRD Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 29 orang masing-masing: Iswan labolong Kabag Keuangan, Isman R. Tiangso Kepala dispenda, Masrin Maeli S. Kedis Perikanan dan Kelautan, M. Natsir T Sekda, Nyoman Sri Adijaya Kepala Kantor Perpustakaan, Rustam M. Pido Kepala Infokom, A.K. Sumadin Kabag Hukum, Victor Siregar Kepala PLN, Saleh Lapuna Kepala BNI, Anwar Yabi Kabag Umum, Yos Mondolu Sekretaris Pemerintah, Ndali J. Salimu Kepala Catatan Sipil Kependudukan dan KB, A.H. Tawainella Kadis Kesejahteraan Sosial, Sukhirman Andi Rapped an Ilham Pattacalla Nuansa Pos, Azwar Ng. Palimbui, Muh. Syafaat T., Syahrir H. Yunde, Maryam Hasyim, Kesbang Linmas, Nirman J. Winter Kabag Linmas, Badrun Kadis Perhubungan, Nurdin lamasipato Kabag Pemerintahan, Yahya Sulianto BRI, Anshari A. Ka RSU, Nahyun B. Kadis Pertanian, Mukramin, Kadis Perkebunan dan Kehutanan, Rustam Dg. Rahmatu
kepala Bappeda, Haslan Lasinau Kepala Perindakop, Darwis Rahmatu Camat Tomini, Hamkah R. Suwu Camat Tinombo, Taswin Pidu Ka Bapedalda, Ahmad Yani Camat Sausu, dan Kamiluddin Passau Camat Parigi.
Jumlah camat Kabupaten Parigi Moutong lima tahun kemudian di tahun 2010 dari delapan (8) orang camat bertambah menjadi sebanyak dua puluh (20) kecamatan4 lebih dari dua kali lipat, yaitu:
Sausu, Torue, Balinggi, Parigi, Parigi Selatan, Parigi Barat, Parigi Utara, Parigi Tengah, Ampibabo, Kasimbar, Toribulu, Siniu, Tinombo, Tinombo Selatan, Tomini, Mepanga, Palasa, Mouton, Bolano Lambunu, dan Taopa. Pada tahun 2005 pimpinan wilayah berupa camat dari delapan orang menjadi duapuluh orang camat, belum lagi pemekaran- pemekaran desa yang akan menambah penguasa-penguasa baru berupa kepala desa di seluruh pelosok Kabupaten Parigi Moutong.
Contoh pemekaran yang semakin menyempitkan wilayah adalah Kecamatan Parigi yang berubah menjadi lima kecamatan yakni Kecamatan Parigi, Kecamatan Parigi Tengah, Kecamatan Parigi Utara, Kecamatan Parigi Barat, dan Kecamatan Parigi Selatan. Pada tahun 2010 Kecamatan Parigi membawahi 10 desa yakni Olaya, Pombalowo, Mertasari, Maesa, Loji, Masigi, Bantaya, Kampal, Bambalemo, dan Lebo, Kecamatan Parigi Tengah membawahi 6 desa yaitu: Petapa, Binangga, Pelawa, Jononunu, Pelawa Baru, dan Matolele, Kecamatan Parigi Utara membawahi 5 desa, yakni: Pangi, Toboli, Avolua, Toboli Barat, dan Sakina Jaya, Kecamatan Parigi Barat membawahi 5 desa, yakni: Kayuboko, Parigimpuu, Baliara, Air Panas, dan Jonokalora dan Kecamatan Parigi Selatan membawahi 8 desa, yakni: Tindaki, Nambaru, Sumbersari, Masari, Dolago, Boyantongo, Lemusa, dan Olobaru. Hal itu berarti dari satu camat berubah menjadi lima orang camat dengan 34 kepala desa sebagai elit dalam lokal wilayah Parigi di Ibukota Kabupaten Parigi Moutong.
4 Kabupaten Parigi Moutong Dalam Angka 2010 (Parigi: BPS Parigi mouton, 2010), hal. 1.
Berdasarkan temuan-temuan penting yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa sejarah adalah guru kehidupan (Historia Vitae Magistra), sebagai wacana untuk belajar dari masa lalu kita sebagai suatu masyarakat Parigi Moutong harus tetap bersatu padu membangun daerah ini. Selama tigapuluh sembilan tahun Kabupaten ini diperjuangkan, setelah terbentuk maka penelitian ini menyarankan bahwa: Studi ini adalah studi awal untuk menguak tabir proses perjalanan panjang daerah ini hingga seperti yang dibentuk sekarang ini. Oleh karena itu, hasil penelitian ini harus dijadikan dasar-dasar pembentukan kebijakan untuk perbaikan nasib kedepan. Kepada para peneliti lanjutan, jadikanlah hasil kajian ini sebagai modal dasar untuk melangkah ke arah yang lebih tuntas lagi. Penelitian sejarah terkait dengan filosofi yang menyatakan bahwa “setiap generasi menulis sejarahnya sendiri,” inilah hasil karya generasi kami terhadap Sejarah Kabupaten Parigi Moutong. Kami sarankan bahwa hari ulang tahun Kabupaten ini harus bersifat Yuridis Formal ditambah dengan jejak-jejak historis yang otentik dan faktual. Akhirnya, setiap penelitian memiliki bobot ilmiah berdasarkan kajian disiplin masing- masing karena penelitian ini adalah penelitian sejarah maka masih ada peluang untuk meneliti kembali Kabupaten Parigi Mouton dari perspektif sejarah berdasarkan temanya seperti sejarah kebudayaan, sejarah sosial, sejarah politik, sejarah ekonomi dan semacamnya.
Juga ada sejarah desa, sejarah kecamatan, sejarah DPRD dan lain sebagainya untuk kepentingan studi Kabupaten Parigi Moutong di masa depan.
294