• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMEKARANNYA DI PARIGI MOUTONG

Dalam dokumen PDF Sejarah Kabupaten Parigi Moutong (Halaman 127-152)

J

alan panjang perjuangan pemekaran Kabupaten Parigi Moutong, sejak tahun 1963, sangat ditentukan oleh keterlibatan penduduk di beberapa kecamatan. Sejak tahun 1952, ketika Kabupaten Donggala diresmikan sebagai salah satu kabupaten di bawah Afdeeling Sulawesi Tengah. Hal ini ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Tengah Dan Pembagian Wilayahnya Dalam Daerah-Daerah Swatantra. Bab I Pasal 1 Peraturan Pemerintah tersebut berbunyi bahwa Wilayah Daerah Sulawesi Tengah dibagi dalam dua daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah-tangganya sendiri, yaitu: (1) Daerah Donggala, yang meliputi daerah administratip Donggala menurut surat keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 25 Oktober 1951 Nr 633 yang diubah terakhir tanggal 30 April 1952; dan (2) Daerah Poso, yang meliputi daerah administratip Poso menurut surat keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 25 Oktober 1951 Nr 33 yang diubah terakhir tanggal 30 April 1952. Peraturan pemerintah ini kemudian dikenal sebagai awal lahir dan terbentuknya kecamatan, artinya sebuah konsep baru yang berbeda dengan konsep distrik yang diperkenalkan sejak tahun 1913. Walaupun kecamatan telah ada, tetapi konsep distrik belum hilang sama sekali.

Kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Donggala pada periode sebelum pemekaran Kabupaten Parigi Moutong dapat dikategorisasikan dalam tiga konsepsi, yaitu wilayah Teluk Palu, wilayah Pantai Barat, dan wilayah Pantai Timur. Ketiganya sangat penting dalam membentuk pemerintahan di daerah tingkat dua tersebut. Wilayah-wilayah ini kemudian berubah dan mengalami perubahan cukup signifikan sekali, wilayah Teluk Palu berkembang menjadi Kota Palu (1994) dan Kabupaten Sigi (2008). Pantai Barat

terus-terusan berusaha memisahkan diri dari Kabupaten Donggala, namum belum berhasil, artinya masih banyak kendala yang ditemui oleh wilayah tersebut. Sementara Pantai Timur juga belum lama dimekarkan, yakni pada bulan Desember 2002. Pemekaran ini secara ekonomis, mungkin akan merugikan kabupaten induk, namun itu semua adalah keinginan masyarakat di wilayah tersebut.

Salah satu wilayah penting di Kabupaten Donggala pada masa itu adalah Pantai Timur. Wilayah Pantai Timur yang dikatakan sebagai cikal-bakal Parigi Moutong sekarang, memiliki tanah yang subur dan menjadi pusat budidaya kelapa oleh penduduknya. Saat itu, Pantai Timur terdiri atas 5 (lima) kecamatan saja. Kelima kecamatan itulah yang kini bertransformasi menjadi 23 (dua puluh tiga) kecamatan lagi. Olehnya itu, fenomena transformasi wilayah ini menarik untuk dikaji dalam sejarah. Sebab sudah dapat dipastikan jika transformasi jenis ini dapat mempengaruhi kehidupan sosial-politik, ekonomi dan bahkan budaya. Sehingga dalam tulisan ini, item ini menjadi titik tolak pembahasan penulis.

Pasca pemekaran tahun 2002, Parigi Moutong pun berbenah.

Semangat otonomi daerah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999, yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang- Undang Nomor 25 tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, daerah tingkat dua ini melakukan upaya pelayanan publik agar lebih dekat dengan rakyat. Salah satu interpretasi dan caranya yakni melakukan pemekaran kecamatan di Parigi Moutong.

Terhitung sejak tahun 2003,telah berdiri enam belas kecamatan lain.

Setiap kecamatan itu memiliki cerita panjang yang sangat beragam.

Tulisan ini nantinya, berusaha menghadirkan perubahan sejarah yang terjadi di Parigi Moutong dengan mengelompokkan kecamatan- kecamatan itu berdasarkan aspek temporalnya, yaitu sebelum dan sesudah pemekaran. Membicarakan kecamatan sebelum pemekaran hanya ada enam saja. Namun lima di antaranya telah lama berdiri, sejak Kabupaten Donggala berdiri. Saat itu masih dinamakan distrik saja. Bahkan ada juga kecamatan yang telah eksis sejak awal abad ke

20, ketika afdeeling Midden Celebes dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda. Distrik-distrik tersebut merupakan cikal-bakal berdirinya kecamatan, bahkan Parigi Moutong terpisah dari Donggala, hampir seabad kemudian. Inilah yang menarik dalam kajian ini. Walaupun sebenarnya, kajian ini secara keseluruhan diawali dari tahun 1963, saat Panitia Penuntut Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Parigi Moutong (?) yang dipimpin oleh Andi Pelawa Tagunu (Ketua), Hasim Marasobu (Sekretaris), dan Ahim Daeng Rahmatu (Bendahara).

Ini menjadi satu bagian penting dari sejarah Parigi Moutong.

Transmigrasi sebagai Bagian Penting Pemekaran

Catatan penting dalam tulisan ini, yaitu menghadirkan sejarah kecamatan Parigi Moutong dalam dua babak penting. Babak pertama dimulai dari sejak lahirnya Donggala sebagai sebuah daerah otonom di Sulawesi Tengah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1952, pada BAB I (Daerah Dan Tempat Kedudukan Pemerintahan Daerah) Pasal 1 dinyatakan bahwa wilayah daerah Sulawesi Tengah dibagi dalam dua daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah-tangganya sendiri, yaitu (1) Donggala, yang meliputi daerah administratif Donggala, menurut surat keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 25 Oktober 1951 Nr 633 yang diubah terakhir tanggal 30 April 1952. (2) Daerah Poso yang meliputi daerah administratif Poso, menurut Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 25 Oktober 1951 Nr 33 yang diubah terakhir tanggal 30 April 1952. Dari terbentuknya dua swapraja ini, memungkin hadirnya elite- elite baru di daerah ini. Parigi Moutong juga menjadi bagian penting dari daerah yang baru mekar itu.

Wilayah tersebut menjadi salah satu penyanggah utama daerah pemekaran itu. Tahun 1952 menjadi penanda awal lahirnya Parigi Moutong. Tetapi tidak banyak orang tahu, mengenai hal ini, dan memahami hal tersebut. Ada hal yang menarik di satu sisi ketiga membicarakan Parigi Moutong pada awal tahun 1950-an itu, yakni pengakuan negara dan adanya upaya yang lebih. Kehadiran partai- partai politik juga memberi nuasa lebih beragam terhadap upaya

ini. Tidak ada penjelasan rinci mengenai jumlah kecamatan dan distrik yang ada di wilayah Parigi Moutong di tahun awal berdirinya Kabupaten Donggala.

Setelah Donggala resmi dimekarkan dengan bupati pertamanya, Intje Naim Daeng Mamanggung, maka wilayah kekuasaannya sangat luas. Mulai dari Buol di utara, hingga Pipikoro di selatan. Begitu juga di sebelah barat dan timur. Sehingga pelayanan terhadap masyarakat tidak memadai. Persoalan ini yang menjadi alasan. Maka tidak mengherankan jika kemudian pada tahun 1961, nama-nama kecamatan itu telah mengalami perubahan yang cukup besar. Sejak saat itu, Parigi Moutong berada dalam kekuasaan Donggala.

Tahun 1961, konsep distrik masih berlaku. Bersamaan dengan berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah terpisah dari Provinsi Sulawesi Utara Tengah, maka konsep distrik pelan-pelan hilang, berganti dengan konsep kecamatan. Sejak saat itulah, kata kecamatan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah sebuah daerah hingga pusat (baca: Jakarta). Tahun 1961, jumlah kecamatan di Kabupaten Donggala adalah 7 (tujuh) kecamatan, yakni Palu Timur, Palu Tengah, Palu Barat, Dolo Utara, Dolo Selatan, Sigi-Dolo/Biromaru, Sigi-Dolo/

Bora, Sub Oinu, Kulawi Utara, Kulawi Selatan, Banawa Tengah, Banawa Balaesang, Banawa Dampelas, Tawaeli Utara, Tawaeli Selatan, Parigi Utara, Parigi Tengah, Parigi Selatan, Montong (baca: Muotong), Menteng/Tinombo, dan Tomini. Jika dicermati dari 21 (dua puluh satu) kecamatan tersebut, hanya 6 (enam) kecamatan saja yang ada di wilayahParigi Moutong. Keenam kecamatan itu adalah Parigi Utara, Parigi Tengah, Parigi Selatan, Moutong, Menteng/Tinombo, dan Tomini. Kecamatan-kecamatan ini tumbuh dan terus berkembang seiring perubahan administratif yang terjadi di Sulawesi Tengah.

Tahun 1963, ketika nama Swapraja digantikan dengan kecamatan.

Dengan demikian, Kecamatan – yang dulunya disebut Swapraja – Moutong terbagi atas Sub Camat Tinombo berkedudukan di Tinombo, Sub Camat Tomini berkedudukan di Tomini, dan Sub Camat Moutong berkedudukan di Moutong. Begitu juga dengan Swapraja Parigi berubah menjadi Kecamatan Parigi yang terbagi dalam dua

sub kecamatan, yaitu Kecamatan Ampibobo dan Kecamatan Parigi sendiri. Di antara lima kecamatan ini, Kecamatan Parigi merupakan yang terluas. Pertanyaan pun hadir, bagaimana dengan kecamatan lain seperti Kecamatan Parigi Utara, Parigi Tengah, Parigi Selatan?

Rupanya kecamatan-kecamatan itu digabungkan menjadi Sub Camat Parigi dan Camat Ampibabo.

Konsepsi membagi wilayah ini menjadi lima kecamatan ini dikukuhkan pada tahun 1964, saat Provinsi Sulawesi Tengah berdiri.

Hanya ada lima kecamatan saja. Kelima wilayah kecamatan tersebut menjadi bagian terpenting dari wilayah Donggala. Apalagi setelah masyarakat Jawa, Bali, Sunda, dan lain-lain datang dalam proyek transmigrasi. Perubahan signifikan pun terjadi. Hal ini direkam para peneliti mengenai wilayah tersebut.

Perubahan yang diberikan oleh keberadaan transmigrasi, yakni pertambahan jumlah penduduk dan adanya modernitas di pedesaan Pantai Timur. Modernisasi yang terjadi di Parigi Moutong periode 1969-1996, yakni (1) munculnya kota-kota kecil, (2) hadirnya wilayah ini, khususnya Parigi sebagai lumbung Padi Sulawesi Tengah, (3) perubahan lahan tidur menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang sangat potensial di kawasan tersebut, dan (4) dimekarkannya Kecamatan Sausu dari Kecamatan Parigi. Keempat hal itu adalah pertanda adanya kemajuan yang dicapai di kawasan tersebut sebagai akibat dari kedatangan masyrakat transmigrasi, sekaligus ada hal yang perlu diketahui lebih jauh yakni masyarakat Parigi Moutong (masyarakat pribumi, masyarakat yang sudah cukup lama menghuni daerah ini), seperti orang Kaili, Tajio, Lauje, Tialo, Pendau di Kasimbar, Taje di Petapa, dan suku-suku kecil lainnya mulai mengalami proses marginalisasi yang jika tidak segera diselesaikan dengan baik akan berdampak pada kehilangan identitas masyarakatnya.

Persoalan yang perlu diperdalam lagi, yakni munculnya kota-kota kecil di wilayah Parigi Moutong sekarang. Pertengahan tahun 1970- an, beberapa desa atau dusun mulai berkembang menjadi sebuah kota kecil. Sebut saja Kota Raya, Lambunu, Kasimbar, Toribulu, Sausu, Torue, Tolai, dan Toboli. Desa-desa ini mengalami perkembangan

yang sangat jauh, sehingga terjadi perubahan yang cukup menonjol di berbagai bidang. Tidak dinafikan memang, jika pada dasarnya kemunculan kota-kota kecil di pedesaan Parigi Moutong ini merupakan sebuah bentuk transformasi geografis.

Transmigrasi sebagai salah satu penyebab kenyataan sekarang di Parigi Moutong sejak tahun 1962, dan berakhir pada tahun 1981.

Berikut sebuah kutipan panjang yang diambil tulisan Haliadi bahwa:

Salah satu hal yang menarik sebagai suatu kesimpulan yang ditampilkan adanya rekonstruksi sejarah di Parigi mengenai transmigran Parigi. Kesimpulan itu menyatakan bahwa “Gerakan kolonisasi pertanian di Parigi Timur yang begitu hebat ini tidak dapat dipahami tanpa analisis peranan dua factor” penentu, yakni:

Pertama, ada kelompok orang buangan dari Bali ke Parigi sejak tahun 1906. Kedua, ada persaingan orang Bali yang beragama Kristen dengan Orang Bali yang beragama Hindu di Parigi.

Khusus mengenai transmigran Bali di Parigi, sebagaimana hasil penelitian Muriel Charras dan Gloria J. Davis, menunjukkan beberapa tahap perkembangan masyarakat Bali di Parigi sebagai transmigran, yakni terbentuknya kampung Bali di Parigi (1906), transmigran Kristen (1959), pasca konflik politik tahun 1965, dan transmigran swakarsa (1974-1982). Keempat tahapan ini pada akhirnya hadir sebagai sebuah bentuk pengesahan terhadap keberadaan transmigran di Parigi.

Charras menceritakan bahwa tahun 1906, ada 11 laki-laki dan tujuh orang wanita Bali yang datang ke Parigi. Mereka datang dari Pulau Banda, Maluku. Mereka ditempatkan satu kilo dari Kota Parigi yang sekarang ini dinamakan Mertasari. Pada tahun 1928, mereka berjumlah tidak pernah melebihi 40 keluarga. Pada tahun 1952, seorang Bali meminta kepada pemerintah untuk memberikan tanah untuk persiapan transmigran dan diberikan Tana Boa. Kemudian, pada akhirnya kelompok Bali di Parigi dipaksa untuk membuka diri dengan masyarakat lokal orang Kaili. Tercatat ada 13 perkawinan antara suku dan terdapat enam orang pemeluk agama Hindu telah beralih menganut agama Islam.

Salah satu bukti menarik dari keberadaan Orang Bali, yakni adanya Upacara Tabuh Rah. Mengenai upacara ini, I Ketut Suasana menulis bahwa penyelenggara Tabuh Rah dalam upacara Butha Yadnya ini dikatakan sebagai tradisi keagamaan. Tabuh Rah ini hanya diselenggarakan di kalangan masyarakat Hindu etnis Bali dan ketentuan yang berlaku tidak bersumber dari Kitab Weda, melainkan bersumber dari prasasti-prasasti dan rontal-rontal. Meskipun pelaksanaannya tidak bersumber dari Kitab Weda. Namun kewajiban penyelenggaraannya dipandang sebagai bagian dari peribadatan keagamaan, sebab (1) tardisi merupakan salah satu sumber hokum adat dalam agama Hindu di samping sumber-sumber hukum lainnya.

(2) Tradisi ini mengandung nilai yang bersifat magis religius, yang sejalan dengan sifat masyarakatnya yang sangat religious. Inilah yang kemudian menimbulkan suatu keyakinan bahwa pelaksanaan ajaran agama dipandang kurang mantap tanpa melaksanakan tradisi.

(3) Tradisi dipandang sebagai warisan dari leluhur yang harus dijaga kelangsungannya dan dipangdang sebagai perwujudan rasa hormat terhadap leluhur jika melaksanakannya. Juga terdapat mitos bahwa tidak melaksanakan atau menyimpang atau melanggar tradisi akan mendapat sanksi dari roh leluhur. (4) Tradisi dipandang sebagai wujud ekspresi solidaritas masyarakat, dan sekaligus berfungsi sebagai alat integratif dikalangan mereka, sehingga jika tidak melaksanakan atau menyimpang atau melanggar tradisi tersebut dapat mendatangkan sanksi sosial atau moral dari masyarakat. Penyelenggaraan Tabuh Rah dapat berupa mempertarungkan (menyabung) ayam sebanyak tiga kali partai pertarungan sampai darah-darah ayam yang bertarung itu bertaburan ke tanah di tempat diselenggarakannya upacara itu.

Transmigrasi Orang Kristen. Tahun 1959, ada 9 keluarga Bali yang beragama Kristen di Blimbingsari pindah ke Tana Boa. Mereka ini yang membangun Desa Massari. Kemudian di Nambaru yang sudah dipersiapkan untuk 200 orang pengungsi Filipina, tetapi hingga tahun 1957, areal ini belum juga dipenuhi (ditempati), maka pemerintah setempat pada tahun 1962 meminta kepada orang Bali untuk menempatinya. Sehingga tujuh keluarga (Bali yang beragama

Hindu) pindah dari Tana Boa. Mereka menyeberangi Sungai Dolago yang terkenal dengan arus derasnya. Kedatangan para transmigran Kristen mengakibatkan pendapat yang ada di Sulawesi Tengah bahwa orang Bali itu beragama Hindu, perlu dikaji kembali. Sebab kenyataan yang ada di Parigi Moutong tidaklah demikian. Ada penduduk transmigran Bali yang memeluk Agama Kristen. Hal ini dipertegas oleh ahsil penelitian Gloria J. Davis bahwa pembagian menurut Agama, transmigran Bali di Parigi adalah 30 Keluarga Kristen di Masari dan 12 di Nambaru, serta 35 di Tanalanto. Tujuh keluarga Hindu di Massari.

Pasca prahara politik tahun 1965, dua ratus keluarga telah diberangkatkan ke Parigi. Perlu dicermati pula, bahwa kedatangan mereka pada masa awal Orde Baru menjadi sangat menarik. Ada dua asumsi yang perlu dikemukakan, di mana pasca G30S, Bali menjadi ajang kekerasan yang merenggut nyawa manusia. Banyak orang kehilangan tempat tinggal, sehingga kwalitas hidup masyarakat di pulau itu sangat memprihatinkan. Apalagi sebelum tahun 1965, pada tahun 1963, Gunung Agung – gunung yang dikeramatkan oleh Orang Bali – mengalami erupsi yang dahsyat. Banyak tanaman, ternak dan mata pencaharian masyarakat yang hancur. Keadaan ekonomi menjadi sulit. Timbullah kekerasaan di mana-mana, dan yang paling memprihatinkan ketika banyak orang (PKI) yang dibunuh tanpa proses hukum, pengadilan yang jelas. Mereka inilah yang membangun Desa Astina, Kecamatan Torue. Pembukaan pemukiman transmigran Torue, 95 keluarga transmigran umum asal Jawa Tengah datang untuk membangun Desa Purwosari, desa ini tidak jauh dari Desa Astina.

Mereka inilah yang kemudian membangun Torue hingga seperti sekarang, menjadi kota kecil, dan pada akhirnya dimekarkan menjadi satu kecamatan di Parigi Moutong. Berlanjut lagi pada tahun 1969, muncul kelompok transmigran swakarsa. Menurut Charras bahwa tahun 1969, di sebelah timur Astina dibangunlah sebuah pemukiman baru yang bernama Tolai, termasuk Lebagu. Selain transmigran juga ada orang Bada dan Besoa yang tinggal di Tolai yang diurus kedatangannya oleh R. Tumakaka. Pada tahun 1970, pengenalan padi hibrida di Parigi telah memungkinkan transmigran melakukan panen

2-5 kali panen dalam setahun. Kenyataan inilah yang mengukuhkan daerah Parigi menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Kabupaten Donggala.

Awal Tahun 1981, Pemerintah Donggala membuka pemukiman transmigrasi di Mepanga. Menurut Haliadi bahwa:

Transmigrasi Mepanga terdiri atas 3 unit, yakni: Unit Mepanga I, Unit Mepanga Ongka II, dan Unit Mepanga Ongka III. Lokasi transmigrasi ini berada di Desa Mensung dan Desa Malino.

Transmigran Mepangan I berasal dari Bali sebanyak 100 KK atau 444 jiwa, Jawa Timur sebanyak 200 atau 939 jiwa, DKI sebanyak 100 KK atau 268 jiwa, DIY sebanyak 100 atau 350 jiwa dengan jumlah keseluruhan 636 KK atau 2.855 jiwa. Pengelolaan wilayah transmigran Mepanga I terdiri atas pekarangan seluas 125 ha, ladang seluas 375 ha untuk tahap pertama,kemudian pengembangan tahap 1981 pekarangan seluas 138 ha, ladang seluas 425 ha, sawah seluas 636 ha, dan kebun seluas 35 ha.

Transmigrasi sebagai salah satu sumber daya (manusia) yang memberi pengaruh cuku8p besar terhadap perekonomian Parigi Moutong. Ada tiga hal yang dipengaruhi oleh kedatangan para tramisgran, yaitu (1) perubahan yang cukup signifikan terlihat dari munculnya pusat-pusat perekonomian di daerah ini yang pada awalnya hanyalah desa biasa, bahkan hutan balatentara.

(2) Keberadaan para transmigrasi juga memberikan bukti adanya peningkatan produksi gabah dan beras. Peningkatan ini tidak serta merta begitu saja, melainkan karena adanya perubahan yang cukup besar. (3) Para transmigran yang datang dan bermukim di daerah ini, sangat banyak jumlahnya. Pada tahun 2005, jumlahnya 76.110 jiwa yang berasal dari 17.529 Kepala Keluarga, dan tahun sebelumnya pun demikian 16.902 KK dengan jumlah penduduk 74.376 jiwa.

Transmigrasi umum dan swakarsa merupakan dua jenis transmigrasi di Parigi Moutong. Keduanya berbeda jumlahnya, transmigrasi umum 6.868 KK atau 29.363 jiwa, sedangan transmigrasi swakarsa berjumlah 10.661 KK atau 46.747 jiwa. Tahun sebelumnya adalah 6.808 KK atau 29.617 tetapi tahun berikutnya 10.052 KK

dengan jumlah 44.759 jiwa saja. Tahun 2008, jumlah KK berubah dari tiga tahun sebelumnya, yakni 6.868 dengan 29.417 jiwa untuk transmigrasi umum. Dan juga transmigrasi swakarsa yang berjumlah 11.259 KK dengan jumlah penduduk 49.205 jiwa. Jika keduanya dijumlahkan, menjadi 18.127 dengan 78.622 jiwa.

Jumlah begitu banyak terdapat di Kecamatan Sausu dan Bolano Lambunu. Kemudian jumlah transmigran yang ditempatkan di Sausu lebih banyak dari kecamatan lainnya. Jumlah terbanyak kedua berada di Bolano Lambunu. Tujuan penempatan transmigrasi sangat sederhana sekali, yakni untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Tujuan lainnya, dari transmigrasi ini, yaitu untuk menghadirkan kota-kota baru di desa-desa sekitar daerah penempatan mereka. Sehingga sejak tahun 1990-an, beberapa kota kecil di desa-desa Parigi Moutong mulai terdengar, seperti Kota Raya, Lambunu, Sausu, Tolai, Toribulu, dan Kasimbar. Menariknya, kota- kota kecil di desa ini dihuni oleh masyarakat pribumi.

Transmigran begitu sangat berperan dalam terjadinya perubahan di wilayah Pantai Timur. Banyak sekali lahan tidur yang diubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Olehnya itu, kawasan ini menjadi salah satu yang sangat potensial secara ekonomi dan politik. Sehingga tidak mengherankan jika sejak tahun 1960-an, masyarakat di daerah itu telah berkeinginan untuk memekarkan diri. Walaupun hingga awal milenium ketiga, hal itu belum juga terealisasikan. Namun masyarakat Parigi Moutong tetap berharap.

Kecamatan Pendukung Pemekaran

Penjelasan sebelumnya, sebenarnya telah menyinggung sepintas mengenai beberapa kecamatan yang telah mendukung pemekaran tersebut. Upaya politik para tokoh lokal, didukung pula oleh kehadiran lima kecamatan awal dan ditambah lagi dengan Kecamatan Sausu yang dimekarkan dari Kacamatan Parigi. Olehnya itu, dalam sub-bab ini berusaha menjelaskan sejarah kecamatan-kecamatan tersebut (sedapat mungkin) dari berbagai sudut pandang untuk membedakan buku ini dari tulisan-tulisan lainnya. Kemudian alasan paling pokok

yakni semua komponen kecamatan, baik pemerintah maupun masyarakatnya telah memberi konstribusi terhadap keinginan mekar dari Kabupaten Donggala tersebut.

Kecamatan Moutong

Salah satu kecamatan tertua di Parigi Moutong adalah Kecamatan Moutong. Keberadaannya pun bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Donggala. Kecamatan ini mengambil nama dari bekas Kerajaan Moutong di Pantai Timur, Teluk Tomini. Kerajaan ini telah ada sejak tahun 1762, dengan raja pertamanya yang bernama Pataikaci (1762-1778). Kerajaan ini terus bertahan hingga tahun 1960, dengan raja terakhirnya yang bernama Kuti Tombolotutu.

Kecamatan tersebut sudah ada sejak tahun 1918, seperti pernyataan berikut ini:

Tahun 1913 untuk menagtur sistem pemerintahan yang lebih baik, pemerintah kolonialisme Belanda menjadikan wilayah kerajaan Moutong dan kerajaan Parigi menjadi satu Onder Afdeling Parigi yang berkedudukan di Tinombo, yang dikepalai oleh seorang Kepala Landschap di Tinombo, tetapi karena sesuatu sebab, tahun 1918 Controliur berkedudukan di Parigi.

Onder Afdeling Parigi terbagi atas 2 Landscap yakni Landschap Parigi berkedudukan di Parigi dan Landschap Moutong berkedudukan di Tinombo.

Lanscap Moutong dibagi lagi menjadi 2 distrik, yaitu:

• - Distrik Moutong di Moutong

• - Distrik Tinombo di Tinombo.

Kondisi ini terus bertahan hinggan Tentara Pendudukan Jepang datang menggantikan Hindia Belanda. Begitu juga saat Indonesia merdeka. Barulah pada tahun 1960, Distrik dihapuskan diganti dengan kecamatan. Setelah itu, kepemimpinan feodal yang ada di Moutong pun diakhiri. Olehnya itu, sampai sekarang jumlah Camat yang pernah bertugas di Kecamatan tersebut, sebanyak 16 (empat belas) orang. Mereka adalah Abdullah Borman (1960-1965), , Dantje Tolaga, BA (1965-1967), Samadi Huntuyongo (1968-1970), Muksin Tandju, BA (1970-1972), Latif Linggulemba (1972-1973), Drs. Ardjad

Labido (1973-1975), Kisman Salumpu BA (1975-1977), Mochammad Asmuni (Kapten Pol; 1978-1979), Iskandar Paudi, BA (1979-1989), Ahmad Ladoali (1990-1993), Drs. Mustamiruddin Borman (1994- 1998), (1999-2001), Drs. Wahyuddin Wahab (2002-2003), Agar Daeng Manessa, BBA (2003-2005), Mahmud M. Tandju, SH., MH (2005- 2009), dan Syafruddin Amtaris, S. Sos. Apa yang dapat dijelaskan dari kenyataan ini? Walaupun sudah dikatakan bahwa pergantian status dari wilayah Swapraja menjadi kecamatan, telah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mencoba peruntungan lain; menjadi pegawai negeri. Kesempatan inilah yang banyak dimanfaatkan oleh para generasi muda Parigi Moutung (khususnya Moutong) di masa awal berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah untuk melanjutkan pendidikannya. Sehingga hasil yang terlihat sekarang, cukup signifikan, karena sebagian besar Camat Moutong itu bergelar Sarjana Muda dan Sarjana Strata Satu.

Pada awal terbentuknya, pada tahun 1961, Kecamatan Moutong terdiri atas 7 desa yaitu Utadenggi, Gio, Taopa, Lambunu, Bolano, Ongka, dan Montong (baca: Moutong) dengan jumlah penduduk sebanyak 7.216 jiwa laki-laki dan 6.618 jiwa perempuan, sehingga keseluruhannya berjumlah 13.834 jiwa. Setelah berlalu selama empat puluh delapan tahun, jumlah penduduk di kecamatan itu sebanyak 19.173 jiwa, dengan 4.339 kk. Jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Moutong tercatat sejumlah 9.748 jiwa dan perempuan 9.425 jiwa. Kecamatan Moutong mempunyai rata-rata penduduk per rumah tangga sebanyak 4 jiwa per rumah tangga.

Jumlah desa ini kemudian terus bertambah dan terus bertambah.

Hingga pada tahun 2003, berjumlah 23 desa. Tahun berikutnya, Kecamatan Moutong mengalami fase pemekaran kecamatan dengan memekarkan Kecamatan Lambunu yang beribukota di Lambunu. Masih tahun yang sama, Kecamatan Bolano Lambunu dimekarkan dari Kecamatan Lambunu pada tanggal 5 Desember 2004. Akhirnya sekarang, Kecamatan Moutong tinggal memiliki 12 desa saja. Desa-desa tersebut adalah Sejoli, Bolouatang Olonggota, Moutong Timur, Moutong Tengah, Lobu, Moutong Barat, Labuan,

Salumpengut, Aedan Raya, Gio, Pon. Lalap, dan Tuladenggi Pantai.

Pemekaran Parigi Moutong telah memberi pengaruh besar terhadap geografi, administrasi dan demografi. Sebab, dengan alasan untuk mendekatkan pelayanan pemerintahan terhadap masyarakat, maka pemekaran menjadi salah satu solusi penting untuk menjawab keinginan masyarakat agar memudahkan mereka dalam mengurus daerahnya sendiri.

Hal menarik dari Kecamatan Moutong sebagai kecamatan tua, yakni pada tahun 1960 telah berdiri sebuah Sekolah Menengah Pertama Daerah (SMPD) di Moutong. Walaupun hanya sebagai sekolah daerah (swasta) tetapi sekolah ini telah menghasilkan banyak sekali murid yang berhasil dalam berbagai bidang kehidupan sekarang.

Sebelumnya telah ada sekolah pertama, yakni Sekolah Rakyat – sekolah ini dibangun setelah SR Tinombo. Guru-guru di sekolah tersebut antara lain Abdul Fatah Haruna, Zet Surantina, Kumontoy, Jamalu Masanang, Pue Akibu, dan Kepala Sekolahnya adalah Hasanu.

Banyak sudah murid-murid dari Sekolah Rakyat tersebut. Seperti Abdul Latif Sulangka, Baron Darise, Kalatu Saboila, dan Hipi Anggu.

Dengan demikian, selain perubahan status wilayah Moutong tadi, berdirinya Sekolah Rakyat juga memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan masyarakat Kecamatan tersebut. Tidak hanya keluarga elite tradisional yang dapat mengenyam pendidikan, tetapi juga penduduk yang merasa mampu meraih pendidikan layak ikut menjadi bagian dari dunia pendidikan di kecamatan itu.

Keadaan terkini (pasca pemekaran) di Moutong dapat dikatakan bahwa semua desa di Kecamatan Moutong dapat dilalui kendaraan bermotor, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Hubungan antara desa dan ke ibukota kecamatan mudah. Luas Kecamatan Moutong yaitu ± 515,69 km². maka kepadatan penduduk di daerah ini sebesar 43 orang/km². Fasilitas tingkat pendidikan formal yang ada di Kecamatan Moutong pada tahun 2009 masing-masing tercatat TK/PADU (Pendidikan Anak Dini Usia) sebanyak 6 unit, SD/MI 18 unit, SLTP/MTs 4 unit dan SMU/MA sebanyak 3 unit. Fasilitas kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat dan

Dalam dokumen PDF Sejarah Kabupaten Parigi Moutong (Halaman 127-152)