BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
Pengertian belajar secara luas adalah aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. sedangkan definisi belajar Menurut pendapat James O.
Whittaker mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.18
Belajar baca Al-Qur‟an adalah perubahan-perubahan tingkah laku yang terjadi pada setiap individu-individu yang awalnya tidak bisa menjadi bisa dan mampu membaca Al-Qur‟an dengan baik dan benar sesuai kaidah-kaidah yang telah dipelajari.
Pelaksanaan dalam proses pembelajaran memiliki beberapa komponen yang terdapat dalam proses belajar-mengajar, antara lain: materi pelajaran, metode mengajar, peralatan dan media, evaluasi.19 Sedangkan pelaksanaan belajar baca Al-Qur‟an adalah suatu proses kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat materi belajar baca Al-Qur‟an, metode belajar baca
Al-Qur‟an, media belajar baca Al-Qur‟an, yang mana komponen-komponen tersebut harus terpenuhi demi tercapainya tujuan pembelajaran baca Al-
18Aunurrahman, Belajar Dan Pembelajaran ( Pontianak: Alfabeta, 2014), 35.
19 Mukniah, Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ( Jember: STAIN Jember Press, 2013), 35
Qur‟an yang efektif. Sebab itu pelaksanaan belajar baca Al-Qur‟an yang baik dan benar harus sesuai kaidah-kaidah yang telah ditentukan antara lain:
1. Langkah-langkah Pemberian Materi Belajar Baca Al-Qur’an Bagi Lanjut Usia
Materi belajar baca Al-Qur‟an adalah materi pelajaran yang diajarkan saat belajar membaca Al-Qur‟an.20 Di antara materi belajar baca Al-Qur‟an sebagai berikut:
a. Fashohah meliputi:
1) Al Waqfu Wal Ibtida‟ (menentukan cara berhenti dan memulai dalam membaca Al-Qur‟an) Waqof menurut bahasa adalah berhenti. Sedangkan menurut istilah adalah menghentikan suara dan perkataan sebentar (menurut adat) untuk bernafas. Sedangkan Ibtida‟ menurut bahasa adalah memulai, sedangkan menurut istilah adalah memulai bacaan sesudah seorang qori mewaqofkan bacaannya.21 Secara garis besar terbagi menjadi empat yaitu:
a) Idithirori (
لراىرًطٍضا
) artinya terpaksa, yaitu dilakukan seorang qori‟ dikarenakan dlorurot, seperti: kehabisan nafas, batuk, lupa dan sebagainya.b) Inthidhori (
لراظًتنا
) artinya berhenti untuk menunggu, Waqof ini hanya diberlakukan bagi seseorang yang mendalami/mempelajari qiro‟ah sab‟ah.
20Abdurrohim Hasan, Muhammad Arif, Abdul Rouf, Strategi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Tilawati (Surabaya: Pesantren Al-Qur‟an Nurul Salah Surabaya: 2010), 11.
21 A. Hariri Shoheh, Abdullah Afif, Panduan Ilmu Tajwid (Jombang, Unit Tahfidh Madrasatul Qur An Tebuireng Jombang Jatim, 2013), 39.
c) Iktibari (
لًراىبًتخا
) artinya berhenti untuk diuji. bagi seorang pengajar Al-Qur‟an memutus-mutus ayat pada anak didiknya untuk memudahkan dalam pengajaran.d) Ikhtiyari (
لًراىيًتخا
) artinya berhenti pada kalimat yang pilihan, adalah waqof yang ada unsur kesenjangan, bukan karena sebab- sebab yang tersebut di atas.222) Muro‟tul huruf wal harokat (Yaitu kesempurnaan mengucapkan huruf dan harokat
Tabel 2.2
Huruf Hijaiyah Berharokat
َ ا =A َ د= DA َ ض= DHO َ ك= KA
َ ب= BA َ ذ= DZA َ ط= THO َ ل=LA
َ ت= TA َ ر= RO َ ظ= ZHO َ م= LA
َ ث = TSA َ ز= ZA َ ع= „A َ ن=NA
َ ج= JA َ س= SA َ غ= GHO َ و= WA
َىح = HA َ ش= SYA َ ف= FA َ ه=HA
َ خ= KHO َ ص= SHO َ ق= QO َ ء=A
َ ي=YA
3) Muro‟atul kalimat wal ayat Contoh Muro‟atul kalimat :
- انرٍػيًهىظَوضٍعىػبًلٍَميهيضٍعىػبَىفاىكٍَوىلىك - انرٍػيًدىقَوءٍيىشَِّليكَىلىعَيللهاَىفاىكىك
22 Ibid., 40.
Contoh Muro‟atul ayat :
َ
َ
َ
َ
َََ
َ
َ
َ
ََََ
َ
ََ َ َ
َ
َ
ََ َ َ
ََ
َ
ََ َ َ
َ
َ
ََ َ َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َََ
َ
b. Tajwid meliputi:
1) Makhorijul huruf (
ًَؼكيريلحاَيجًراىىمَ ) َ
Makhorijul huruf Menurut Imam Ibnu Al-Jazary, tempat keluarnya huruf-huruf (Makharij al-huruf) hijaiyah itu ada tuju belas kemudian diringkas menjadi lima (5) makhraj, antara lain 23 a) Al- Jauf (
َيؼٍوىلجا)
: Lobang mulut . Contoh:ٍَنًًرىك - َيمٍيًحىر ََ
b) Al-Halqu (
َيقٍلىلخا):
Tenggorokan Huruf-huruf di antaranya:غ,خ ,ع,حَ,ء,ق
c) Al-lisan (
َيفاىسًللا)
: lidah Huruf yang keluar dari lisan diantaranya:تَ,دَ,طَ,ر,فَ,ؿَ,صَ,جَ,شَ,مَ,ؾَ,ؽ
d) Asy Syafataini (dua bibir) huruf yang keluar dari dua bibir diantaranya: ف,و,ب ,م
e) Al Khoisyum (janur hidung) yaitu tempat keluarnya huruf gunnah ( ّم, ّن ).ketika melafadkan huruf tersebut seakan-akan hidung tersebut berdetar.24
23 Faisol, Cara Mudah Belajar Ilmu Tajwid ( Malang,: UIN-Maliki Press, 2010), 7.
24Afif, Panduan Ilmu, 24-27.
2) Sifatul huruf (
ًَؼكريلحاَيتافًص
)a) Al-Hams (
سملذا
) : menurut bahasa artinya samar tau tidak terang. Huruf-huruf hams ada sepuluh yang terkumpul dalam kalimat :ٍَتىكىسَهصٍخ َىشَيويثىحىف
b) Al-Jarh
(رهلجا
) menurut bahasa artinya tampak atau terang.misalnya :
ٍَأىبَيأًَأَىأ
-ٍَبَاىبَيبَ ًبَىبأب
c) Al-Syiddah (
ةدشلا
)menurut bahasa artinya kuat. Huruf-hurufnya ada delapan yang terkumpul dalamkalimat:
ٍَتىكىبَِّطىقٍَد ًجىأ
d) Al-Rikhwah (
ةوخرلا)
menurut bahasa artinya lunak atau kendor.Misalnya :
ٍَخىبَيخًَخَىخ َ - ٍَغىبًَغَيغَىغ
e) Al-Tawassuth (
طسوتلا
) menurut bahasa ialah tengah-tengah yaitu huruf apabila diucapkan atau dimatikan suaranya antara tertahan dan terlepas. Yakni antara syiddah dan rikhwah.Misalnya:
ٍَلىبَيؿَ ًؿَىؿ َ – ٍَنىبَيفًَفَىف
f) Al-Isti’laa’ (
ءلاعتسلاا)
menurut bahasa berarti naik atau terangkat.Huruf-hurufnya ada tujuh yang terkumpul dalam kalimat :ظًقَ وطٍغىضََّصيخ
g) Al-Istifaal (
ؿافتسلاا
) menurut bahasa artinya turun atau ke bawah.h) Al-Ithbaaq (
ؽابطلاا )
menurut bahasa artinya melekat. Huruf- hurufnya ada empat, yaitu :ظ - ط - ض - ص
i) Al-Infitaah
(حاتفنلاا
) menurut bahasa artinya terbuka. huruf- hurufnya ialah semua huruf selain huruf-huruf ithbaaq.j) Al- Idzlaaq
( تامصلاا
) menurut bahasa artinya ujung. Huruf- hurufnya ialah :ََّرًفَِّبيلٍَنًم
k) Al- Ishmaat
(تامصلاا
) menurut bahasa artinya menahan atau diam, Yaitu huruf-huruf yang tidak bertempatan diujung lidah atau bibir.25
25 Faisol, Cara Mudah, 22.
3) Ahkamul Huruf (Hukum-hukum bacaan huruf dalam Al-Qur‟an) Hukum bacaan dalam Al-Qur‟an ada delapan antara lain:
a) Hukum nun mati dan tanwin terbagi menjadi lima macam yaitu:26
(1) Idhar Halqi
( ىقلحراهظا ) َ
Menurut bahasa (etimology) adalah jelas auatu tampak, menurut istilah (terminology) adalah melafadkan huruf idhar dari makhrojnya dengan suara jelas atau terang tanpa disertai dengung.27 Hukum bacaan disebut idhar halqi apabila nun sukun (
ٍَف
) atau tanwin bertemu dengan hurufء - ق - ح - خ - ع -
غ .
Contoh:َوتىنىسىح َ ٍَنًم
(2) Idghom Bighunnah (
ونغبَـاغدا
)Idgom menurut bahasa (etimology) adalah memasukkan sesuatu pada sesuatu. Menurut istilah (terminology) adalah bertemunya huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga kedua huruf tersebut seperti satu huruf yang bertasdid.28 Hukum bacaan disebut idghom binghunnah, yakni apabila nun sukun
(ٍَف)
atau tanwin bertemu dengan huruf( ك - ـ - ف - م - ).
Contoh :لىمٍعىػيٍَنىمىف َ
(3) Idghom Bilaghunnah (
ونغلابَـاغدا)
Idghom artinya memasukkan atau mentasydidkan.
Bilagunnah artinya tidak mendengung. Hukum bacaan disebut idghom bilagunnag yakni apabila (
ٍَف
) dan tanwin26 Basori Alwi Murtadho, Pokok-Pokok Ilmu Tajwid ( Malang: CV Rahmatka, 2009), 32-35.
27 Afif, Panduan Ilmu, 4.
28 Ibid., 4.
bertemu dengan huruf
ؿ
-ر
. Cara bacanya yaitu dengan mengidhomkan nun atau tanwin pada hurufؿ
-ر
tanpamendengung.29 Contoh:
ميكىلهرٍػيىخ
(4) Iqlab (
بلاقا
)Menurut bahasa (etimology) yaitu membaik atau menukar, sedangkan menurut istilah (terminology) adalah membunyikan huruf nun sukun atau tanwin dengan bunyi mim dan disertai dengung.30 Hukum bacaan disebut iqlab apabila (
ٍَف
) atau tanwin bertemu dengan huruf (ب
).Contoh:
اىمًدٍعىػبٍَنًم
(5) Ikhfa‟ (
ءافخا
)Menurut bahasa (etimologi) yaitu menyamarkan, menurut istilah (terminologi) adalah menyamarkan bunyi nun sukun atau tanwin dengan disertai dengung.31 Hukum bacaan disebut ikhaf yakni apabila nun sukun (ٍَف) bertemu dengan huruf 14 yaitu. -
ث
–ج َ
-د
-ذ
-ز
-س
-ش َ
-ص
-ض
-ط
-ظ
-ؼ
-ؽ.
Contoh :َىفٍويهىػتٍنيم
29 Suyuti, Ilmu Tajwid Lengkap, (t.tp: sangkala, t.t), 15
30 Afif, Panduan Ilmu, 6.
31 Ibid,.6.
b) Hukum Bacaan Mim Sukun
(ٍَـ)
Hukum bacaan mim sukun adalah apabila ada mim yang mati
(ٍَـ)
bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah, maka akan mempunyai tiga hukum bacaan.(1) Idhar Syafawi (
لوفشَراهظا
)Apabila ada mim sukun
(ٍَـ
) bertemu dengan huruf yang 26, huruf hijaiyah selain(ـ)
dan(ب).
Contoh:ٍَمًهٍيىلىع
ٍَميهىػتٍرىدٍنىاىء
(2) Ikhfa‟ Syafawi
(لوفشَءافخا )
Hukum bacaan disebut ikhfa‟ syafawi, yakni apabila mim sukun
(ٍَـ )
bertemu dengan huruf ba‟)ب . (
Contoh:
اىًبٍَِميكىقىػبىس
(3) Idghom Mimi (
ىميمَـاغدا
) Hukum bacaan disebut idghom mimi atau idghom mutamatsilain yakni apabila mim sukun(ٍَـ )
bertemu dengan huruf mim (ـ
).32Contoh:َىٍيًنًمٍؤهمٍَميتٍنيكٍَفًا
c) Idghom (
ـاغدا
)Bacaan idghom dibagi menjadi tiga di antaranya:
(1) Idghom Mutamatsilain (
يلثَامتمَـاغدا
) Yaitu apabila ada dua huruf yang sama baik makhroj dan sifatnya seperti ba‟
32 Suyuti, Ilmu Tajwid, 25-30.
mati (
ٍَب
) bertemu dengan ba‟ (ب)
atau dal mati (ٍَد
) bertemudengan dal (
د
). Contoh :ٍَميكىضٍعىػبٍَبىتٍغىػي
(2) Idghom Mutaqoribain (
يبراقتمَـاغدا َ
) Apabila ada dua huruf yang berdekatan baik makhrojnya maupun sifatnya. Contoh :ٍَب
Bertemuـ
=اىنىعَّمٍبىكٍرًا َ
(3) Idghom Mutajanisain (
يسنَاجتمَـاغدا
)Yakni apabila ada suatu huruf yang sukun berhadapan dengan huruf yang berharokat, kedua-duanya itu sama makhrojnya tapi lain sifatnya.33 Contoh :
ٍَت
bertemu dengan
ط = ًَىتىفًئاَّطٍَتَّىمٍَذًا َ
d) Ghunnah
Apabila ada huruf mim bertasydid
(ٌَـ)
dan nun yang bertasydid(ٌَف)
maka hukum bacaannya disebut ghunnah.Contoh:
ٌَفًإَ,ٌثَّ, ًساَّنلاَِّبىرًب
e) Qolqolah menurut bahasa (etimologi) berarti mengucapkan atau memantulkan, sedangkan menurut istilah (terminology) adalah memantulkan bunyi huruf qolqolah ketika mati. Ada hurufnya ada 5 yaitu:
َد - ج َ - ب َ - ط َ - ؽ
. Contohفٍويلىعٍىيََ,ىفٍويعىطٍقىػي
33 Ibid., 32-36.
f) Hukum Lam Ta‟rif (
فيرعتلاَ ـلا
) Hukum Lam ta‟rif ada dua macam yaitu:(1) Idhar Qomariyah (
ةيرمقَراهظا
)Apabila alif dan lam (ل ) bertemu dengan salah satu
ا
huruf qomariyah yang berjumlah empat belas (14) yaitu:
َا قَـَمَؽَعَؼَخَكَؾَجَحَغَب
Contoh:
رٍنْىٍلاا
(2) Idghom Syamsiyah (
ةيسشمَ ـاغدا
) idghom syamsiah yakni apabila alif dan lam (ؿا
) bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah selain huruf-huruf qomariyah, yaitu :رَذَدَثَت َز َ فَؿَظَطَضَصَشَس.
Contoh:َيباَّوَّػتلا
g) Lam Tipis Dan Tebal (
قيقرت َ - َميخفت
)(1) Lam dibaca tebal (
ةمٌخفلداَـلا
) Apabila ada huruf Lam (ؿ
)yang terdapat dalam perkataan Allah ( َاللّ) dan didahului oleh huruf berharokat fathah atau dhommah. Contoh:
َيللهاىءاىشٍوىلىك,
َىللهاٍويقَّػتاىك
(2) Lam dibaca tipis (
ةققرلداَـلا
)Huruf lam (ل) yang terdapat dalam semua perkataan bahasa arab selain perkataan Allah ( هاللّ) harus dibaca tipis (
قيقرت).
Contoh:
ًَدىقيعٍلاَ ًفِ
,ٍَميكينٍػيًدٍَميكىل
h) Ro‟ Tipis Dan Tebal (
قيقرت َ - َميخفت
)(1) Ro‟ dibaca tebal
(ميخفت)
Contoh:َهرٍػيىخ ,َهرٍويفىغ , انراىهىػن
(2) Ro‟ dibaca tipis
(قٍيًقٍرىػت)
Contoh:َهقٍيًرىف ,ٍَمًىًراىيًد , ٍَجًرٍخىا
4) Ahkamul Mad Wal Qosr (hukum bacaan panjang dan pendek dalam Al-Qur‟an )
Memanjangkan bacaan suara huruf dengan panjang satu alif atau dua harokat, dua alif atau empat harokat dan tiga alif atau enam harokat disebu bacaan Mad. Bacaan mad terbagi menjadi 16 antara lain:
a) Mad Asli Atau Mad Thobi‟i )
ىعيبطَ دمَ (
Mad asli dan mad thobi‟I Yaitu apabila ada wawu mati ( و ) jatuh setelah dhommah, ya‟ mati ( ي ) jatuh setelah kasroh dan (ا) alif jatuh setelah fathah. Contoh:َيؿٍويقىػيَ,ىلٍيًقَ,ىؿاىقَ,اهيًحٍويػن
b) Mad Wajib Muttashil (
لصتمَبجاكَدم)
Hukum bacaan disebut mad wajib muttashil yakni apabila ada mad thobi‟I bertemu dengan hamzah (ء) berharokat hidup didalam satu kata/kalimat. Contoh :
َنءآىعيدَ,يءآىرٍفىصَ,يءآلدٍاَيوٍنًم
c) Mad Jaiz Munfashil (
ٍَلًصىفٍػنيمٍَزًئاجذم
)Yakni apabilamad thobi‟I berhadapan dengan hamzah (ء) di lainperkataan. Contoh:
اندىبىاَآىهٍػيًفَ,ىؿًزٍنيأآىًبِ
d) Mad Lazim Mutsaqqol kilmi
( ىملكَلقثمَـزلاَدم َ )
Hukum bacaan disebut mad lazim mutsaqqol kilmi yakni apabila mad thobi‟I berhadapan dengan huruf yang bertasdid di dalam satu perkataan. Contoh :
َىفٍوِّلآٌضلاييهَُ,ىٍيًلآٌضلاىلاىك
e) Mad Lazim Mukhoffaf Kilmi (
ىملكَففمََـزلاَدم َ
)Hukum bacaan disebut mad lazim mukhoffaf kilmi yakni apabila mad thobi‟I bertemu dengan huruf yang berharokat sukun tidak diakhiri perkataan. Contoh :
َىفٍلاآ
f) Mad Layyin (
دمنيل
)Hukum bacaan disebut mad layyin yakni apabila ada huruf mad, baik berupa wawu sukun
(ٍَك)
atau yaa‟ sukun(ٍَم)
didahului oleh huruf yang berharokat fathah. Contoh :
َ, ًب ٍَيىغٍلاًب
ٍَميكٍيىلىعَ,ًوٍيىلىع
g) Mad Aridl Lissukun (
فوكسلَضراعَدم
)Hukum bacaan disebut mad „aridl lissukun yakni apabila ada mad thobi‟I atau mad layyin dan sesudahnya ada waqof ( tempat berhenti). Contoh :
َيمًًبَِ,ًباىقًعٍلايدٍيًَدىشَ,َ وباىسًحًٍَيْىغًب
َىٍلاا
َيباىبٍس
h) Mad Shilah Qoshiroh (
ةيْصقَةلصَدم
)Hukum bacaan mad shilah qoshiroh yakni apabila ada huruf HA‟ dhomir/ kata ganti orang (benda ) ketiga yang berupa (
وى_ق
) berada sesudah huruf hidup (berharokat) . Contoh :َيةىدٍقيعًَهًدىيًبَ,ٍميت ٍَنيكًَوٍلٍويسىرىكَ,ىدٍنًعًَوًب
i) Mad Shilah Thowilah (
ةليوطَةلصَدم
)Hukum bacaan disebut mad shilah thowilah yakni apabila ada mad shilah qoshiroh bertemu dengan hamzah
(ء)
didahului oleh huruf yang berharokat hidup. Contoh :
َ,اىذًاىىيرٍمىا
ََّلاًاَيويلٍويسىرىك
j) Mad Iwadl (
ضوعدم
)Hukum bacaan disebut mad „iwadl yakni apabila ada fathah tatain ( ً ) yang jatuh apa waqof ( pemberhentian ) pada akhir kalimat (selain pada ta‟ marbutoh ) atau disebut mad ganti tanwin sehingga tanwin tidak berbunyi lagi.Contoh :
اَّمَّلَنلاٍكىاَ,انمٍيًلىاانب اىذىع
k) Mad Badal (
دلددب
)Hukum bacaan disebut mad badal yakni apabila ada hamzah
(ء)
bertemu dengan mad yang berasal dari hamzah sukun, kemudian hamzah ini diubah dengan diganti dengan alif(ا) َك م -
. Contoh :َيفاىٍيًْإَ,اٍويػتٍكيأ
l) Mad Lazim Harfi Mukhoffaf (
ففمََفِرحَـزلاَدم )
Hukum bacaan disebut mad lazim mukhoffaf yakni apabila ada permulaan surat dari Al-Qur‟an terdapat salah satu atau lebih dari huruf-huruf haa‟
(ح
) yaa‟(م)
tho‟ (ط)
ha‟( ق)
dan ro‟
(ر).
Huruf -huruf Contoh :وطَ,سيَ,مح َ
m) Mad Lazim Harfi Mutsaqqol (
لقثمَفِرحَـزلاَدم
)Hukum bacaan disebut mad lazim harfi mutsaqqol kayi apabila permulaan surat dari Al-Qur‟an terdapat salah satu atau lebih dari huruf-huruf nun (
ف
), qof(ؽ
), shod(ص),
ain(ع)
, sin(س)
, lam(ؿ)
, kaf(ؾ)
, dan mim(ـ).
Contoh :َ,ٌمسطَ,ضٌلداَ,ٌلما َ
n) Mad Lazim Musyabba‟ (
حبشمَـزلاَدم
)Hukum bacaan disebut mad lazim musyabba‟adalah seperti mad lazim harfi mustaqqol, hanya saja sesudah mad terdapat suara huruf mati yang tidak diighomkan atau ditasydidkan.Contoh :
ؽ,ص
o) Mad Tamkin (
يكتمَدم )
Hukum bacaan disebut mad tamkim yaitu apabila ada ya‟ sukun
(ٍَم)
yang didahului dengan ya yang bertasydid dan harokatnya kasroh(َِّم)
Contoh :َِّي َِّميٍلااَ ًفَِ,ىٍيِّػيًناَّبىرَ,ٍميتٍيِّػييحَاىذًاىك َ
p) Mad Farq (
ؽرفَ دم
) Hukum bacaan disebut mad farq adalah satu mad yang di dalam Al-Qur‟an hanya terdapat diempat tempat.34Contoh :
ًٍَيىػيىػثٍػنيٍلااًمىأَىـَّرىحًَنٍيىرىكََّذلاأ
c. Ghorib dan Musykilat
1) Pengertian gorib dan musykilat
Gorib adalah bacaan-bacaan dalam Al-Qur‟an yang cara membacanya tidak sesuai dengan kaidah ilmu tajwid secara umum.
Musykilat adalah bacaan dalam Al-Qur‟an yang mengandung kesulitan dalam membacanya sehingga harus berhati- hati.35
2) Macam-macam bacaan ghorib ada 12 antara lain:
a) Isymam (
ٍَـاىٍشمًا)
bacaan )اىن َىمٍاىتىلا
) nun dibaca isymam mencucu dan isymamnya setelah idghom (ghunnah ). Kalimat asalnya adalah (اىنيػنمَأتلا)
b) Naql )
ٍَلىقىػن(
harokat kasroh hamzahnya( َهمٍسًا)
pada lafadh (َسئب
َيمٍسلإا
) dipindahkan (naql) pada huruf sebelumnya.c) Tashil,)
َهلٍيًهٍسىت( َ
Hamzah kedua dibaca tashil (dipermudah membacanya) dengan menempati makhroj antara alif dan hamzah.
34 Ibid., 63-82.
35 Abdurrohim Hasan, Myhammad Arif, Abdul Raof, Strategi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Tilawati (Surabaya : Pesantren Al-Qur‟an Nurul Falah Surabaya , 2010), 11.
d) Imalah
)ٍةىلاىمًا)
Kataاهيرلر
ro‟ dibaca imalah (condong) yaitu membaca antara harokat fathah dan kasroh ( dibawahnya taqlil) e)انا
Menurut Imam Hafsh pada dhomir muttasil mutakallim wahdah semuanya dibaca dengan pendek. Hal ini dikarenakan pada aslinya, bahwa asal (انا
) adalah (َىفىا
) tanpa alif. Sedangkan nun diberi alif ituf) Ibdalul huruf, mengganti huruf, yaitu mengganti hamzah dengan huruf yang munasabah dengna harokat hamzah yang pertama, hal ini dikarenakan adanya dua hamzah yang berkumpul dalam satu kalimat Contoh:
(َىنًيتمكيا)
asalnya (َىنًيتميأيأ)
,(
نيويتإ)
asalnya (نيو ) ٍَتإإ
,(اويتٍكيأ)
asalnya(اويتٍأيأ)
Kalimat-kalimat tersebut bias dijadikan ibtida‟/ permula, maka harus memakai kaidah ibdal contoh :نتمكيا , َ نىوتٍيًا , اويتكيأ
g) ha‟ dibaca pendek karena menjadi jawaban
(فإ)
syaratiyah, sebelumnya ha‟ dhomir ada huruf mati yang dibuang asalnya (ٍَميكىليهىضٍرىػي)
)ىضٍرىػي َ - َىيًضىرَ( َ
Yaitu pada kalimat (َيوىضٍرىػياكيريكٍشىتٍَفًإك َ
ٍَميكىل)
: (surat Az- Zumar ayat 7 jus 23) h)َىرٍػيًراىوىػق
dibacaاىرٍػيًراىوىػق
(1) Jika berhenti (waqof ) pada (
اىرٍػيًراىوىػق
) yang pertama, maka Ro‟yang terakhir dibaca panjang (satu alif).
(2) Jika diwasolkan, maka Ro‟ lafadh (
اريراوق ) َ
yang pertama dibaca pendek karena kalimat ini termasuk isim ghoiru munshorif,(3) Jika waqof pada (
رياوق
) yang kedua, maka Ro‟nya dibaca sukun dan jika washol dibaca pendek (satu harokat) karena kalimat tersebut adalah isim ghoiru munshorif.i) Saktah )
ٍَةىتٍكَّسلىاَ(
Menahan sejenak bacaan dengan tahan nafas.Hal ini disebabkan agar tidak salah dalam pengertiannya. Ukuran berhentinya adalah sekitar satu alif. Contoh :
ٍَؽا َىر
(ةتكس)َىمٍَن َىلَ َىكًَقٍَي
j) Lafadh (
انا
)Lafadh ana (
انا
) yang menjadi dhomir munfashil mutakallim wahdah, ketika diwasolkan semuanya dibaca pendek, Akan tetapi jika waqof ( berhenti) dibaca panjang ( satu alif) Seperti:انَءاقلَ,َانَءاج
Sedangkan lafadh ana yang bukan dhomir tetap dibaca panjang seperti kalimat:
(ـانلأا ), (اوبانا ), (ٌَيسانا)
k) Raum
(ـكرلا)
Yaitu meminimalisikan (menyedikitkan) suara huruf paling akhir atau harokat huruf itu tidak ditempakkan secara penuh (sepertiga huruf ), biasanya dijumpai pada akhir kalimat yang diwaqofkan. Walaupun ada yang berpendapat bacaan ini dinamakan ikfa‟ bimakna jaded. Contoh :
ٍَرٍصىعٍلاىك َ - ٍَرٍجىفلٍاىك
l) Sujud Tilawah
Sujud tilawah adalah sujud dikarenakan membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur‟an tertentu.Disunnahkan bagi Qori‟ untuk melakukan sujud tilawah ketika mendengarka atau membaca ayat-ayat sajadah.36
(
ةداجسلاَتايا
) hal ini sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW ketika membaca ayat tersebutd. Suara dan Lagu
1) Suara adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.37 Dalam belajar membaca Al-Qur‟an di tekankan harus jelas dan lantang
2) Lagu adalah berbagai irama yang meliputi suara instrument dan bernyanyi.38 Dalam mempelajari baca Al-Qur‟an seorang qori‟ harus faham terhadap lagu yang di suarakan.
Lagu-lagu dalam membaca Al-Qur‟an itu ada 8 antara lain:
a) Lagu Bayati dan Rosta Alan Nawa
Lagu bayyati (husaini) terdiri dari 12 bentuk, dan tiga tingkatan suara yaitu: qoror-jawab-jawabul jawab, dengan satu fariasi yaitu syuri.
b) Lagu Shoba(Maya)
Lagu shoba terdiri dari 5 bentuk, dengan 3 fariasi, yaitu: ajami, mahur (muhur) dan bastanjar.
36Afif, Panduan Ilmu, 47.
37Susilo Riwayadi, Suci Nur Anisyah, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia ( Surabaya: Sinar Terang ), 402.
38Ibid., 250.
Sedangkan tingkatan suaranya ada 2 yaitu jawaban dan jawabul jawab. Lagu shoba pertama disebut lagu dasar(asli)
c) Lagu Hijaz (Hijazi)
Lagu hijazi terdiri dari 7 bentuk dan 4 macam fariasi, yaitu: kard, kard kurd, nakriz dan kurd, sedangkan untuk tingkatan suara ada yaitu: jawab, jawabul jawab dan qoror. Lagu pertama disebut lagu asli (hijaz asli).
d) Lagu Nahawand (Iraqi)
Lagu nahawand terdiri dari 5 bentuk dan 2 fariasi/selingan, yaitu: nuqrosy dan murokkab. Ciri-ciri fariasi nuqrosy adalah bernada rendah / turun (mirip dengan ajami dalam lagu soba).Sedangkan fariasi murokkab bernada tinggi menanjak.Adapun tingkatan suaranya ada 2, yaitu jawab dan jawabul jawab. Lagu pertama disebut lagu asli (nahawand asli),
e) Lagu Sika
Lagu sika terdiri dari 6 bentuk dan 4 fariasi/selingan, yaitu: misri, turki, roml, uroq.
Sedangkan tingkatan suaranya ada 2. Yaitu: jawa dan jawabul jawab. Lagu pertama disebut lagu asli (sika misir). Ayat untuk
f) Lagu Rost dan Rosta Alan Nawa
Lagu rost dan rosta alan nawa pada bagian ini biasanya selalu bergabung satu sama lainnya, artinya:
kalau mendahulukan lagu rast, maka mesti dilanjutkan (disambung) dengan rasta alan nawa. Lagu rast/rasta alan nawa terdiri dari 3 fariasi, yaitu: usyaq zanjinan (zinjiran) dan syabir alarros. Tingkatan suaranya ada 2:
jawab dan jawabul jawab.
g) Lagu Jiharka
Lagu jiharka terdiri dari 4 bentuk dan 1 fariasi yaitu kurdi. Sedangkan tingkatan suaranya ada 2: jawab dan jawabul jawab. Lagu pertama disebut lagu asli (jiharka asli).
h) Lagu Banjaka (Rakbi)
Lagu banjaka/ rakbi hanya khusus untuk lagu- lagu pada bacaan tartillul Qur‟an dan lagu-lagu nyanyian (qosidah) saja, dan jarang sekali bahkan hamper tidak pernah sama sekali diterapkan/dipakai dalam bacaan seni tilawatil Qur‟an khusunya di Indonesia, kemungkinan karena lagu tersebut kurang
begitu cocok bila diterapkan dalam seni baca Al-Qur‟an sebagai nama lagu-lagu lainnya.39
2. Metode Belajar Baca Al-Qur’an Bagi Lanjut Usia
Kata metode berasal dari istilah Yunani yaitu Meta yang berarti melalui, dan Hodos yang berarti jalan yang dilalui. Jadi metode berarti jalan yang dilalui. Menurut bahasa Arab, metode diungkapkan dengan istilah Tariqah atau Uslub, yang menurut Al-Jurjani berarti sesuatu yang memungkinkan untuk sampai dengan benar kepada tujuan yang diharapkan. Macam-macam Metode Belajar Baca Al-Qur‟an:
Metode baca Al-Qur‟an dikalangan para Ahlul Qurro‟ wal Ada‟
ada empat antara lain:
a. Tahqiq
(قيقتح)
memcaba Al-Qur‟an dengan menempatkan hak-hak huruf yang sesungguhnya. Yaitu menempatkan makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlul Qorro‟. Metode ini baik sekali untuk kalangan Mubtadiin (pemula)b. Tartil
(ليترت)
bacaan Al-Qur‟an dengan pelan-pelan tanpa tergesah- gesah dengan memperhatikan makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad- qoshr dan hukum-hukum bacaan, sehingga suara bacaan menjadi jelas.Seperti bacaan Mahmud Al Qushairi. Bacaan tartil belum tentu tahqiq akan tetapi tahqiq sudah pasti tartil.
c. Tadwir
(ريكدت)
membaca Al-Qur‟an antara bacaan yang cepat dengan bacaan yang pelan (sedang)
39 M. Misbachul Munir, Pedoman Lagu-Lagu Tilawatil Qur’an (Malang: Apollo Lestari, 1997), 35.