BAB III METODE PENELITIAN
C. Pembahasan Temuan
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dengan metode penelitian observasi, wawancara dan dokumentasi maka peneliti menemukan beberapa hal sebagai berikut:
1. Langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember.
Berdasarkan paparan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dapat diketahui bahwa langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember yaitu ada dua tahap diantaranya:
a. Belum bisa membaca Al-Qur’an maka langkah-langkah pemberian materi sebagai berikut: pembukaan yang diawali dengan salam dan membaca basmalah. Pemberian materi berupa pengenalan huruf hijaiyah berharokat fathah, latihan baca makhroj, perubahan huruf- huruf, huruf sambung, pengenalan huruf panjang berbunyi aa, ii, uu,
pengenalan huruf hijaiyah berharokat fathatain, kasrohtain, dan dhumatain, pengenalan huruf hijaiyah bertsydid, bacaan al-syamsiah dan al-qomariah, bacaan kalimat sambung, bacaan lam jalalah, cara mewaqofkan, pengenalan huruf-huruf awal surat. Dilanjut dengan pertanyaan dari jamaah lalu penutup dan doa
b. Sudah bisa baca Al-Qur’an : pembukaan yang diawali dengan salam dan membaca basmalah bagi pemula yang belum bisa baca Al-Qur’an.
Sudah bisa membaca Al-Qur’an maka langkah-langkah pemberian materi sebagai berikut: diawali dengan pembukaan yang diawali dengan salam lalu doa dan membaca Al-Fatihah dan dilanjut murojaah dari hafalan yang telah dihafalkan setelah itu setoran hafalan setiap jamaah dan secara bergilir. Lanjut pemberian materi dalam pemberian materi ustadz memberikan contoh beberapa kata lalu di ulangi bersama-sama setelah itu dilanjutkan oleh jamaah sampai satu ayat dan dua ayat seterusnya dan diulangi bersama-sama. seperti itu sampai jamaah yang terakhir. Setelah itu tanya jawab. Langkah terakhir penutup doa dan salam. Dalam langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al- Qur’an bagi lanjut usia Pemberian ilmu tajwid kita berikan dengan cara yang sederhana tidak dihafalkan akan tetapi di praktekkan berkali-kali.
Lalu mereka akan terbiasa, materi makhorijul huruf, sifatul huruf tidak diberikan secara khusus artinya mengalir melihat kondisi jamaah.
Karena yang belajar baca Al-Qur’an bukan anak-anak melainkan orang
yang sudah tua-tua yang memiliki penurunan baik fisik ataupun daya ingat.
Temuan tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Abuddin Nata, yaitu:
“ Material atau bahan sebagai sumber pengajaran adalah sesuatu yang memiliki pesan untuk tujuan pengajaran. Pesan pengajaran yang disampaikan kepada siswa tersebut dengan menggunakan alat penampilan, seperti buku paket, audio-tape, video-tape, film, peta, bola dunia, grafik, dan sebagainya.”.87
Berdasarkan pendapat tersebut bahwa pemberian materi belajar baca Al-Qur’an harus terdapat buku ajar yang mana buku ajar tersebut sebagai rujukan dalam proses belajar mengajar. Meteri belajar baca Al- Qur’an bagi lanjut usia berupa buku PPBQ, buku jus 1 dan Al-Qur’an.
Teori tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Muhammad Safrodin, yaitu:
“Huruf hijaiyah merupakan dasar utama untuk mengenal tulisan Al-Qur’an, mengetahui letak-letak keluarnya huruf atau makharijul huruf, untuk memudahkan pelafalan setiap huruf, dan tahap selanjutnya yaitu mempelajari tanda baca atau konsonan vocal berupa fathah, kasrah, dan dhomah dan mempelajari ilmu tajwid untuk menguasai cara membaca Al-Qur’an yang benar, mulai tanda baca hingga teknik membacanya.”88
Berdasarkan pendapat tersebut bahwa langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an harus dimulai dari yang mudah ke yang sulit langkah dasar pengenalan huruf hijaiyah yang terdapat dalam sumber belajar berupa buku PPBQ dan praktik membaca Al-Qur’an jika sudah
87 Abudidin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), 297.
88 Muhammad Safrodin, Belajar Sendiri Membaca Al-Qur’an Dari Nol Hingga Mahir, (Yogyakarta, 2011), 1.
mahir. Langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia berbeda dengan anak-anak.
Teori tersebut didiskusikan dengan terori yang dikemabngkan oleh Yudrik Jahja, yaitu:
“Usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia yang di antara 40 sampai 60 tahun. Masa ini pada akhirnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun, biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan kekuatan daya ingat. Usia madya dibagi menjadi dua subbagian, yaitu usia madya dini yang membentang dari usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang terbentang antara usia 50 tahun sampai 60 tahun ”.89
Berdasarkan pendapat tersebut bahwa usia tua atau lanjut usia adalah dibagi menjadi dua bagian usia madya dini dan usia madya lanjut.
Yang mana pada masa tersebut sudah mengalami perubahan-perubahan baik secara jasmani dan mental dan diikuti penurunan daya ingat. Sebab itu dalam pemberian materi belajar baca Al-Qur’an tidak ada paksaan dalam pelafalan huruf melihat kondisi jamaah.
Berdasarkan temuan yang sudah didialogkan dengan teori-teori tersebut dapat dipahami bahwa langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember adalah dengan meberikan buku ajar untuk yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan yang sudah bisa membaca Al-Qur’an dan didalam buku ajar terdapat tahapan-tahapan materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia. Pemberian materi belajar baca Al-Qur’an tidak sama dengan pemberian materi terhadap anak usia
89 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Kancana, 2011), 254
dini, karena lanjut usia sudah mengalami perubahan fisik, jasmani, menurunnya daya ingat. Oleh karena itu dalam pemberian materi berupa makhorijul huruf, sifatul huruf tidak diberikan secara khusus melainkan melihat kondisi jamaah. Apabila memungkinkan maka akan diberi apabila tidak memungkinkan maka tidak ada paksaan. Pemberian hafalan diberikan secara berangsur-angsur minimal satu ayat. Sebab itu pemberian hafal tidak ditekankan harus hafal karna melihat usia yang sudah lanjut.
2. Metode belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia
Metode belajar baca Al-Qur’an menggunakan metode jibril yang mana seorang guru memberi contoh lalu ditirukan oleh jamah hal itu dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang minimal tiga kali. Saat pemberian contoh sang ustadaz sangat berhati-hati dalam membacanya dan bacaanya sesuai dengan makhorijul huruf, sifattul huruf dan kaidah ilmu tajwid dan bernada.
Temuan tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Abuddin Nata, yaitu:
”Metode dapat diartikan sebagai cara-cara atau langkah-langkah yang digunakan dalam menyampaikan sesuatu gagasan, pikiran atau wawasan yang disusun secara sistematik dan terencana serta didasarkan pada teori, konsep dan prinsip tertentu yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu terkait terutama ilmu psikologi, manajemen, dan sosiologi”.90
Berdasarkan teori tersebut metode belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia adalah suatu cara yang dilakukan oleh ustadz dalam menyampaikan materi belajar baca Al-Qur’an dengan tujuan tercapainya
90 Abudidin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), 176.
proses belajar mengajar yang dapat memberikan pengetahuan, pemahaman, mempergunakan dan menguasai bahan pembelajaran. Metode yang digunakan metode jibril atau talqin, tahqiq dan tartil.
Teori tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Bahirul Amali Herry, yaitu:
”Talqin adalah cara pengajaran hafalan yang dilakukan oleh seorang guru dengan membaca suatu ayat, lalu ditirukan oleh sang murid secara berulang-ulang hingga menancap dihatinya.91 Memabaca secara pelan-pelan dan mengikuti bacaan juga dilakukan Rasulullah saat membaca selalu menggerak-gerakkan lidahnya (Mengulang-ngulang bacaan) karena takut lupa”.92
Berdasarkan teori tersebut bahwa metode belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia menggunakan metode jibril atau bisa disebut dengan metode talqin yang artinya ustadz saat proses pembelajaran membimbing suatu bacaan lalu ditirukan oleh jamaah PPBQ dan dilakukan minimal tiga kali.
Teori tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh A. Hariri Sholeh dan Abdullah Afif, yaitu:
“Tahqiq membaca Al-Qur’an dengan menempatkan hak-hak huruf sesungguhnya. Yaitu menentukan makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad qoshr dan hukum-hukum bacaan yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlul Qorro”.93
Berdasarkan teori tersebut bahwa metode belajar baca Al-Qur’an menggunakan metode tahqiq yang mana seorang ustadz memberikan contoh dengan menempatkan hak-hak huruf sesungguhnya. Menentukan
91Bahirul Amali Herry, Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Quran ( Yogyakarta : Proyou, 2012), 83.
92 Ibid,. 88.
93 A. Hariri Sholeh, Abdullah Afif, Panduan Ilmu Tajwid (Jombang, Unit Tahfidh Madsrasahtul Quran Tebuireng Jombang Jatim, 2013) 3
makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad qoshr dan hukum-hukum bacaan.
Dan jamaah membaca Al-Qur’an melihat kondisi apabila menungkinkan maka menggunakan metode tahqiq apabila jamaah tidak memungkinkan maka tidak memaksa.
Teori tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh A. Hariri Sholeh dan Abdullah Afif, yaitu:
“Tartil adalah bacaan Al-Qur’an dengan pelan-pelan tanpa tergesah-gesah dengan memperhatikan makhorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad qoshr dan hukum-hukum bacaan, sehingga suara bacaan menjadi jelas”.94
Berdasarkan teori tersebut bahwa metode belajar baca Al-Qur’an bukan hanya menggunakan metode tahqiq akan tetapi menggunakan metode tartil juga. Yang mana saat membaca Al-Qur’an membacanya dengan pelan-pelan tanpa tergesa-gesa dengan memperhatikan makhorijul huruf, sifatul huruf, mad qoshr dan hukum-hukum bacaan sehingga suara bacaan menjadi jelas.
Berdasarkan temuan yang sudah didialogkan dengan teori-teori tersebut dapat dipahami bahwa metode adalah cara yang digunakan oleh guru atau utsadz dalam pembelajaran dengan tujuan tercapainya tujuan belajar baca Al-Qur’an. Pemberian metode harus sesuai dengan karakteristik jamaah oleh karena itu ustadz menggunakan metode talqin yang artinya menirukan dan diulang-ulang. Membaca Al-Qur’an harus sesuai dengan hukum bacaan dengan itu ustadz menggunakan metode
94 Ibid., 3.
tahqiq dan tartil yang mana saat memberikan contoh kepada jamaah ustadz menempatkan hukum bacaan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
3. Media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
Media yang digunakan saat proses pembelajaran menggunakan media berbasis manusia baik yang belum bisa baca Al-Qur’an maupun yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Artinya seorang ustadz sebagai penyampai, penyimpan, materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia.
Temuan tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Hujairi AH Sanaky, yaitu:
”Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan dapat digunakan untuk menyampaikan pesan. Maka dapat dikatakan bahwa, bentuk komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan. Bentuk-bentuk stimulasi dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realitas, gambar gerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam”95
Berdasarkan teori tersebut bahwa media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia ada sebuah alat yang berfungsi dan dapat digunakan untuk menyampaikan materi belajar baca Al-Qur’an. Dan dapat memberi stimulus kepada jamaah. Media yang digunakan belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia menggunakan media berbasis manusia.
Teori tersebut didiskusikan dengan teori yang dikembangkan oleh Rif’an Humaidi, yaitu:
95Hujair AH Sanaky, Media Pembekajaran Interaktif-Inovatif (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2013), 3.
”Media berbasis manusia adalah orang (people) yang bertindak sebagai penyimpan, pengelola, penyajian pesan. Dalam lingkup ini misalnya seorang guru, dosen, tutor, trainer, peserta didik, tokoh masyarakat atau orang yang lain yang memungkinkan berinteraksi dengan peserta didik”.96
Berdasarkan teori tersebut media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia menggunakan media berbasis manusia yang mana seorang guru sebagai penyampai, pengelola, penyaji pesan belajar baca Al-Qur’an.
Setelah temuan-temuan didiskusikan dengan teori dapat dipahami bahwa media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia adalah sebuah alat bantu yang dapat menyampaikan, menyimpan, mengelolah materi belajar baca Al-Qur’an dengan mudah difahami oleh jamaah.
Tabel 4.2 Hasil Temuan
Fokus Penelitian Hasil Temuan
1 2
1. Langkah-langkah
pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia (LANSIA) melalui program pelatihan baca Al-Qur’an (PPBQ) ini ada dua tahapan.
1. Jamaah yang belum bisa baca Al- Qur’an langkah-langkah pemberian materi sebagai berikut : pembukaan yang diawali dengan salam dan membaca basmalah. Pemberian materi berupa pengenalan huruf hijaiyah berharokat fathah, latihan baca makhroj, perubahan huruf- huruf, huruf sambung, pengenalan huruf panjang berbunyi aa, ii, uu, pengenalan huruf hijaiyah berharokat fathatain, kasrohtain, dan dhumatain, pengenalan huruf hijaiyah bertsydid,
96 Rif’an Humaidi, Media Pembelajaran Konsep Dan Implementasi (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 33.
bacaan al-syamsiah dan al-qomariah, bacaan kalimat sambung, bacaan lam jalalah, cara mewaqofkan, pengenalan huruf-huruf awal surat. Dilanjut dengan pertanyaan dari jamaah lalu penutup dan doa
2. Sudah bisa baca Al-Qur’an maka langkah-langkah pemberian materi di antaranya: diawali dengan pembukaan yang diawali dengan salam lalu doa dan membaca Al-Fatihah dan dilanjut murojjah dari hafalan yang telah dihafalkan setelah itu setoran hafalan setiap jamaah dan secara bergilir.
Lanjut pemberian materi dalam pemberian materi ustadz memberikan contoh beberapa kata lalu di ulangi bersama-sama setelah itu dilanjutkan oleh jamaah sampai satu ayat dan dua ayat seterusnya dan diulangi bersama- sama. seperti itu sampai jamaah yang terakhir. Setelah itu tanya jawab.
Langkah terakhir penutup doa dan salam. Pemberian ilmu tajwid di berikan dengan cara yang sederhana tidak di hafalkan akan tetapi di prktekkan berkali-kali. Lalu mereka akan terbiasa
1 2
2. Metode belajar baca Al- Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
1. Metode untuk yang belum bisa baca Al-Qur’an maka metode yang digunakan ustadz adalah metode jibril yang artinya ustadz memberi contoh satu huruf hijaiyah lalu ditirukan oleh jamaah dan diulang-ulang minimal tiga kali pengulangan.
2. Bagi yang sudah bisa membaca Al- Qur’an maka metode ustadz adalah ustadz memberi contoh beberapa kata lalu ditirukan oleh jamah dan diulangi minimal tiga kali pengulangan dan ayat selanjudnya di baca oleh jamaah dan ditirukan oleh jamaah yang lain hal ini dilakukan secara bergilir. Saat pemberian contoh sang ustadaz sangat berhati-hati dalam membacanya dan
bacaanya sesuai dengan makhorijul huruf, sifattul huruf dan kaidah ilmu tajwid dan
3. Media belajar baca Al- Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
Media yang digunakan saat proses pembelajaran ada dua macam yaitu
1. untuk yang belum bisa baca Al-Qur’an menggunakan media alat tunjuk dan media berbasis manusia.
2. Untuk yang sudah bisa membaca Al- Qur’an menggunakan media berbasis manusia.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di PTPN XII Kaliwates Kabuparen Jember tentang pelaksanaan belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelarihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember, maka peneliti dapat menarik kesimpulan dan jawaban dari fokus penelitian sebagai berikut:
1. Langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember.
Langkah-langkah belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an ini ada dua tahapan. Tahapan yang pertama bagi jamaah belum bisa baca Al-Qur’an. Kedua tahap bagi yang sudah bisa membaca Al-Qur’an. Kedua tahap tersebut saat pemberian materi menggunakan langkah-langkah pemberian materi belajar baca Al- Qur’an yang berbeda.
2. Metode belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
Metode belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia menggunakan metode jibril atau metode talqin yang mana seorang guru memberi contoh lalu ditirukan oleh jamah hal itu dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang minimal tiga kali. Metode tahqiq dan tartil. Metode tahqiq
dan tartil adalah bacaanya sesuai dengan makhorijul huruf, sifattul huruf dan kaidah ilmu tajwid dan bernada hal ini tidak dianjurkan akan tetapi melihat kondisi jamaah, apabila jamaah mampu membaca dengan tahqiq dan tartil maka ustdaz menganjurkannnya.
3. Media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia melalui program pelatihan baca Al-Qur’an di PTPN XII Kaliwates Kabupaten Jember
Media belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia menggunakan media berbasis manusia yang mana ustadz sebagai penyampai, penyimpan, pengelola materi belajar baca Al-Qur’an bagi lanjut usia.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti memberikan saran – saran sebagai berikut:
1. Lembaga Program pelatihan baca Al-Qur’an (PPBQ)
Perlu ada buku pedoman belajar baca Al-Qur’an, dengan adanya buku pedoman maka jamaah akan lebih terarahkan materi yang dipelajari dan seorang ustadz akan lebih mudah saat memiliki pedoman dalam melakukan proses belajar mengajar
2. Ustadz PPBQ
Perlu adanya konsistensi saat memulai pelajaran baca Al-Qur’an.
3. Jamaah PPBQ
Selalu semangat dan istiqomah meskipun usia tidak lagi muda.
Aunurrahman. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Bandung:
CV J-ART.
Basri, Hasan . 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Baqi, Muhammad Fu’ad’ Abdul . 1993. Terjemah Al-Lu’lu’ Wal Marjan.
Semarang: Al-Ridha.
Crewel, John W. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed .Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Daryanto. 2011. Media Pembelajaran. Bandung: PT. Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
Departemen Agama. 2004. Al-Qur’an Dan Terjemahannya Al-Jumanatul ‘Ali.
Djaluddin. 2012. Cepat Membaca Al-Quran dengan Metode Tunjuk Silang.
Jakarta: Kalam Mulia.
Faisol. 2010. Cara Mudah Belajar Ilmu Tajwid, Malang: UIN- Maliki Press.
Hamidi. 2010. Metode Penelitian Kualitati Pendekatan Praktis Penulisan Proposal Dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.
Hasan, Abdurrohim, Muhammad Arif, Abdul Rouf. 2010. Strategi Pembelajaran Al-Qur’an Metode Tilawati. Surabaya: Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah Surabaya.
Hasanuddin. 1995. Perbedaan Qira’at Dan Pengaruhnya Terhadap Istimbath Hukum Dalam Al-Quran. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Herry, Bahirul Amali. 2012. Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al- Quran.Yogyakarta : Proyou.
Humaidi, Rif’an. 2013. Media Pembelajaran Konsep Dan Implementasi. Jember:
STAIN Jember Press.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.
Melong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Miles, B Matthew. dan A. Michael Hubberman. 2014. Analisis Data Kualitatif, terj. Tjetjep Rohendi Rohidi , Jakarta: UI Pers.
Mukniah. 2013. Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jember:
STAIN Jember Press.
Mundir. 2013. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Jember: STAIN Press.
Munir, Ahmad, Sudarsono. 1994. Ilmu Tajuwid Dan Seni Baca Al-Qur’an.
Jakarta: Reka Cipta.
Munir, Misbachul. 1997. Pedoman Lagu-Lagu Tilawatil Qur’an. Malang: Apollo Lestari.
Murtadho, Basori Alwi. 2009. Pokok-Pokok Ilmu Tajwid. Malang: CV RAHMATKA.
Nata, Abudidin . 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:
Kencana.
Nasih, Ahmad Munjid Nasih, Lilik Nur Kholidah. 2013. Metode Dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Rafika Aditama.
Nadzir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Riyadi, Susilo, Suci Nur Anisyah. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya:
Sinar Terang.
Rohmaniah, Siti. 2015. Hubungan Metode Pembelajaran Metode Ummi Terhadap Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa Di Sekolah Dasar Al-Ikhlas Lumajang Tahun Pelajaran 2015/2016, Jember: IAIN Jember.
Romadon. 2017. Penerapan Metode Ummi Dalam Pembelajaran Baca Al-Qur’an Pada Orang Dewasa Di Madrasah Diniyah Al-Furqon Jember. Jember:
IAIN Jember.
Safrodin, Muhammad. 2011. Belajar Sendiri Membaca Al-Qur’an Dari Nol Hingga Mahir, Yogyakarta.
Sanaky, Hujair AH. 2013. Media Pembekajaran Interaktif-Inovatif . Yogyakarta:
Kaukaba Dipantara.
Shihab, Quraish. 1992. Membumikan Al-Quran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
Shoheh, Hariri, Abdullah Afif. 2013. Panduan Ilmu Tajwid. Jombang: Unit Tahfidh Madrasatul Qur’an Tebu Ireng Jombang Jatim.