• Tidak ada hasil yang ditemukan

Subjek Penelitian

Dalam dokumen penerapan pembelajaran bahasa reseptif (Halaman 32-53)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Subjek Penelitian

kelompok B (5-6 tahun), Sedangkan peneliti yang sekarang fokus pada kelompok A (4-5 tahun)

1 2 3 4 5 6 2 Arik Arifiana 2019 Penggunaan

Metode

Bercerita Untuk Meningkatkan Bahasa Reseptif Anak Usia Dini Di Raudhatul Athfal Al-Fatah Kasian Serut Panti Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

a. Peneliti

terdahulu dengan yang sekarang sama-sama membahas mengenai bahasa reseptif anak b. Sama-sama

menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif c. Pengumpulan

data sama-sama menggunakan metode:

Wawancara, Observasi dan Dokumentasi.

d. Subjek penelitian sama-sama fokus pada kelompok A (4-5 tahun).

a. Peneliti yang terdahulu menggunakan variabel melalui metode bercerita sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan variabel melalui metode bisik berantai

3 Andi Opu

Denna Matahari Suryadi

2020 Kemampuan Bahasa Reseptif (Menyimak) Melalui Permainan Bisik Berantai Pada Anak Didik

Kelompok A Di Tk Islam

Uminda Kota Makassar

a. Peneliti terdahulu dengan yang sekarang sama- sama membahas mengenai bahasa reseptif anak.

b. Subjek

penelitian sama- sama fokus pada kelompok A (4-5 tahun).

a. Peneliti yang terdahulu menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK), sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif.

b. Peneliti yang terdahulu menggunakan teknik pengumpulan data metode observasi dan dokumentasi

sedangkan penelitian yang sekarang

menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1 2 3 4 5 6 4. Nurul Khasanah 2016 Pengaruh

Metode Bercerita Terhadap Kemampuan Bahasa Reseptif Pada Anak Kelompok B Tk Pertiwi II Metuk Mojosongo Boyolali Tahun Ajaran 2014/2015

a. Peneliti

terdahulu dengan yang sekarang sama-sama membahas mengenai bahasa reseptif pada anak

a. Peneliti yang terdahulu menggunakan jenis penelitian eksperimen, sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif.

b. Peneliti yang terdahulu menggunakan variabel melalui metode

bercerita sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan variabel melalui metode bisik berantai

c. Peneliti yang terdahulu menggunakan teknik pengumpulan data metode observasi sedangkan penelitian yang sekarang

menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

d. Subjek penelitian terdahulu fokus pada kelompok B (5-6 tahun), Sedangkan peneliti yang sekarang fokus pada kelompok A(4-5 tahun)

5. St. Sholikhah 2019 Kemampuan Bahasa Melalui

Permainan Pesan Berbisik Pada Kelompok A Raudhatul Athfal Perwanida 02 Tegalwangi Umbulsari Jember Tahun Pelajaran 2018/2019

a. Subjek penelitian sama-sama fokus pada kelompok A (4-5 tahun).

b. Peneliti yang terdahulu sama- sama

menggunakan jenis Penelitian

kualitatif deskriptif.

a. Peneliti yang terdahulu menggunakan variabel melalui metode pesan berbisik sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan variabel melalui metode bisik berantai

1 2 3 4 5 6 c. Peneliti yang

terdahulu sama- sama

menggunakan teknik

pengumpulan data metode

wawancara, observasi, dan dokumentasi.

b. Peneliti yang terdahulu membahas mengenai bahasa sedangkan peneliti yang sekarang membahas mengenai bahasa reseptif

Dari penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas, baik deskripsi maupun tabel persamaan dan perbedaan daat digunakan sebagai acuan penelitian sekarang, agar lebih mudah dalam mendeskripsikan hasil penelitiannya. Oleh karena itu peneliti membuat persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini. Adapun persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini pada pembahasan perkembangan bahasa reseptif dan kemampuan berbahasa anak usia dini. Perbedaannya terletak pada jenis penelitian dan metode yang digunakannya, pada penelitian terdahulu terdapat jenis penelitian kuantitatif, eksperimen, dan penelitian tindakan kelas, sedangkan jenis penelitian ini adalah field research. Pada penelitian terdahulu terdapat metode bercerita, dan metode pesan berbisik sedangkan pada penelitian ini menggunakan metode bisik berantai dalam pengembangan bahasa reseptif pada anak Kelompok A di RA Riyadlul Qori’in Jember.

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, posisi teori penelitian kualitatif diletakan sebagai perspektif atau pisau analisis, bukan untuk diuji.23 1. Bahasa Reseptif

a. Pengertian Bahasa Reseptif

Bahasa reseptif atau sering disebut dengan menyimak merupakan kegiatan meresepsi, mengolah, serta menginterpretasi suatu permasalahan dengan melibatkan pancaindera seseorang.24 Banyak yang menganggap sama antara menyimak, mendengarkan dan mendengar, sebenarnya ada perbedaan makna antara ketiganya.

Menyimak adalah kegiatan proses mendengarkan dengan sungguh- sungguh dengan unsur kesengajaan dan sampai taraf menanggapi apa yang disampaikan oleh penutur. Mendengarkan ada unsur sengaja untuk mendengarkan penutur tetapi tidak menanggapi apa yang disampaikan penutur hanya sampai taraf memahami apa yang disampaikan oleh penutur. Sedangkan mendengar hanya mendengar

23 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 46

24 Askarman Laia, Menyimak Efektif, (Banyumas : Penerbit Lutfi Gilang, 2020), 1

bunyi tanpa unsur kesengajaan dan tidak memahami makna yang disampaikan oleh penutur.25

Adapun pengertian bahasa reseptif menurut beberapa para ahli sebagai berikut:

Bahasa reseptif menurut Tarigan, yaitu suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informai, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.26

Dalam kamus besar bahasa indonesia bahasa reseptif adalah mendengar (memerhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang).27 Menyimak bukan hanya mendengarkan sesuatu yang “masuk telinga kanan keluar telinga kiri” atau sebaliknya. Menyimak adalah mendengar untuk memahami apa yang dikatakan orang lain dengan proses serius yang tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kebiasaan dan refleks.28

Menurut Hijriyah, hakikat dari bahasa reseptif itu adalah suatu rentetan proses, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi, menyusun penafsiran, memanfaatkan hasil penafsiran, dan proses penyimpanan,

25 Artifa Sorraya & Yunita Anas, Menyimak Apresiatif, (Malang : MNC Publishing,2019), 3

26 Henry Gutur Tarigan, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung : Penerbit Angkasa Bandung, 2008), 31

27 Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,2010),941

28 Rita Kurnia, Bahasa Anak Usia Dini, (Yogyakarta : Deepublish, 2019),21

serta proses menghubung-hubungkan hasil penafsiran itu dengan keseluruhan pengetahuan dan pengalaman.29

Pengertian bahasa reseptif menurut Arifin dkk, yaitu keterampilan berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Artinya, dalam kegiatan menyimak seseorang harus mengaktifkan pikirannya untuk dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa, memahaminya, dan menafsirkan maknanya sehingga tertangkap pesan yang disampaikan pembicara.30

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahasa reseptif adalah sebuah kegiatan mendengarkan bahasa lisan yang dituturkan seseorang baik sengaja atau tidak sengaja, yang kemudian ditangkap dan diproses oleh otak lalu ditafsirkan maknanya sehingga dengan begitu bahasa lisan yang didengar bisa di fahami dan mudah diingat.

b. Tujuan Bahasa Reseptif

Adapun tujuan bahasa reseptif antara lain :

1) Bahasa reseptif (menyimak) untuk belajar dimana orang tersebut bertujan agar ia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara.

2) Bahasa reseptif (menyimak) untuk menikmati dimana orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu

29 Umi Hijriyah, Menyimak Strategi Dan Implikasinya Dalam Kemahiran Berbahasa, (Lampung : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat IAIN Raden Intan Lampung, 2016),3

30 Bustanul Arifin dkk, Menyimak , (Tangerang Selatan : Penerbit Universitas Terbuka,2014),1.13

dari materi yang diujarkan atau diperdengarkan atau dipagelarkan (teruatama sekali dalam bidang seni).

3) Bahasa reseptif (menyimak) untuk mengevaluasi dimana orang menyimak dengan maksud agar ia dapat menilai apa-apa yang dia simak (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tidak logis, dan lain-lain).

4) Bahasa reseptif (menyimak) untuk mengapresiasi dimana orang yang menyimak dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (misalnya: pembacaan berita, puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, dan pendebatan).

5) Bahasa reseptif (menyimak) untuk mengkomunikasikan ide-ide dimana orang yang menyimak bermaksud agar ia dapat menkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan- perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.

6) Bahasa reseptif (menyimak) untuk membedakan bunyi-bunyi dimana orang yang menyimak bermaksud agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedaskan arti (distingtif), mana bunyi yang tidak membedakan arti biasanya ini terlihat pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asik mendengarkan ujaran pembicara asli (native speker).

7) Bahasa reseptif (menyimak) untuk memecahkan masalah dimana orang yang menyimak bermaksud agar dia dapat memecahkan

masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.

8) Bahasa reseptif (menyimak) untuk meyakinkan dimana orang yang menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan. 31

c. Manfaat Bahasa Reseptif (menyimak)

1) Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informatif yaitu memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.

2) Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita.

3) Memperkaya kosakata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata-kata yang digunakan lebih variatif.

4) Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka, dan objektif.

5) Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.

6) Meningkatkan citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus dan bahasanya. Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sikap apresitif, sikap menghargai karya

31 Umi Hijriyah, Menyimak Strategi, 21

atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera estetis kita.32

d. Ragam Bahasa Reseptif

1) Menyimak ekstensif adalah menyimak sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu dibawah bimbingan langsung dari seorang guru.

2) Menyimak intensif lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta perlu dibawah bimbingan langsung guru, menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.

3) Menyimak Konsentratif adalah memusatkan pikiran, perasaan, ingatan, perhatian kepada salah satu objek. Dalam menyimak konsentratif diperlukan pemusatan menyeluruh terhadap bahan yang disimak. Penyimak dapat melakukan konsentrasi yang tinggi.

4) Menyimak Interogatif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut.33

32 Rita Kurnia, Bahasa Anak Usia Dini, 23

33 Dewi Pusposari, Menyimak Kritis (Buku Panduan Untuk Mata Kuliah Menyimak Kritis), (Malang : MNC Publishing, 2022), 4

e. Faktor yang Mempengaruhi Bahasa Reseptif 1) Faktor Fisik

Faktor fisik dan lingkungan fisik penyimak merupakan faktor yang penting dalam menentukan keefektifan serta kualitas keaktifannya dalam menyimak. 34

2) Faktor Psikologis

Faktor psikologis melibatkan sikap-sikap dan sifat-sifat pribadi, yaitu faktor-faktor psikologis dalam menyimak. Faktor- faktor ini antara lain mencakup masalah-masalah :

a) Prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara dengan aneka sebab dan alasan

b) Keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi serta masalah pribadi

c) Kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas d) Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya

perhatian sama sekali pada pokok pembicaraan

e) Sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.35

Sebagian atau semua faktor tersebut diatas dapat mempengaruhi kegiatan menyimak kearah yang merugikan yang tidak kita diinginkan, dan hal ini mempunyai akibat yang buruk bagi penyimak.

34 Askarman Laia, Menyimak Efektif, 17

35 Askarman Laia, Menyimak Efektif, 17

f. Teknik Bahasa Reseptif Efektif

Untuk dapat menyimak dengan baik, perlu dipertimbahngkan beberapa syarat menyimak efektif berikut :

1) Menyimak Dengan Berkonsentrasi

Yang dimaksud dengan menyimak berkonsentrasi ialah memusatkan pikiran perasaan, dan perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara. Untuk dapat memusatkan perhatian terhadap bahan simakan dengan baik, penyimak harus dapat menghindari gangguan menyimak, baik yang berasal dari dirinya sendiri ataupun yang berasal dari luar.

2) Menelaah Materi Simakan

Untuk menelaah materi simakan, penyimak dapat melakukan hal-hal berikut ini: (a) mencari arah dan tujuan pembicaraan, (b) mencoba membuat penggalan-penggalan pembicaraan dari awal sampai akhir, (c) menemukan tema sentral (pokok pembicaraan), (d) mengamati dan memahami alat peraga (media) sebagai penegas materi simakan, dan (e) memperhatikan rangkuman (jika penicara membuat rangkuman) yang disampaikan pembicara.

3) Membuat Catatan

Kegiatan menyimak yang baik ialah kegiatan menyimak yang diikuti dengan kegiatan mencatat. Yang perlu dicatat dalam kegiatan menyimak ialah hal-hal yang dianggap penting bagi

penyimak. Catatan itu merupakan langkah awal dalam memahami bahan simakan.36

g. Tahap-tahap Bahasa reseptif

1) Isolasi: Pada tahap ini sang penyimak mencatat aspek aspek individual kata lisan dan memisah-memisahkan atau mengisolasikan bunyi-bunyi, ide-ide, fakta-fakta, organisasi-organisasi khusus, begitu pula stimulus stimulus lainnya.

2) Identifikasi: Sekali stimulus tertentu telah dapat dikenal maka suatu makna, atau identifikasi pun diberikan kepada setiap butir yang berdikari itu.

3) Integrasi : Kita mengintegrasikan atau menyatupadukan apa yang kita dengar informasi lain yang telah kita simpan dan rekam dalam otak kita. Oleh karena itulah maka pengetahuan umum sangat penting dalam tahap ini. Karena kalau proses menyimak berlangsung, kita harus terlebih dahulu harus mempunyai beberapa latar belakang atau pemahaman mengenai bidang pokok pesan tertentu. Kalau kita tidak memiliki bahan penunjang yang dapat dipergunakan untuk mengintegrasikan informasi yang baru itu, maka jelas kegiatan menyimak itu akan menemui kesulitan atau kendala.

4) Inspeksi: Pada tahap ini, informasi baru yang telah kita terima dikontraskan dan dibandingkan dengan segala informasi yang telah kita miliki mengenai hal tersebut. Proses ini akan menjadi paling

36 Dewi pusposari, Menyimak Kritis,12

mudah berlangsung kalau informasi baru justru menunjang prasangka atau atau prakonsepsi kita. Akan tetapi, kalau informasi baru itu bertentangan dengan ide-ide kita sebelumnya mengenai sesuatu, maka kita harus mencari serta memilih hal-hal mana dari informasi itu yang lebih mendekati kebenaran.

5) Interprestasi: Pada tahap ini, kita secara aktif mengevaluasi apa-apa yang kita dengar dan menelusuri dari mana datangnya semua itu.

Kita pun mulailah menolak dan menyetujui, mengakui dan mempertimbangkan informasi tersebut berikut sumber-sumbernya. 37 h. Teknik Peningkatan Keterampilan Bahasa Reseptif atau Daya Simak

Selanjutnya utuk menigkatkan keterampilan bahasa reseptif atau meingkatkan daya simak, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan diantaranya adalah :

1) Teknik Loci

Teknik loci merupakan salah satu teknik mengingat yang paling tradisional. Teknik ini pada dasarnya merupakan teknik mengingat dengan cara memvisualisasikan materi yang harus diingat dalam ingatan penyimak. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari urutan informasi dengan informasi lain yang serupa, dan mencocokkan hal-hal yang akan diingat dengan lokasi tersebut.

37 Askarman Laia, Menyimak Efektif, 13

2) Teknik Penggabungan

Teknik penggabungan merupakan teknik mengingat dengan cara menghubungkan (menggabungkan) pesan pertama yang akan penyimak ingat secara berantai dengan pesan kedua, ketiga, dan seterusnya. Pesan berantai itu dihubungkan pula dengan imaji-imaji tertentu yang perlu divisualkan secara jelas dalam pikiran. Untuk mencegah terjadinya lupa pada pesan pertama (pesan yang akan dimatarantaikan), pesan pertama perlu dihubungkan dengan lokasi yang akan mengingatkan pada item tadi.

3) Teknik Fonetik

Teknik fonetik melibatkan penggabungan angka-angka, bunyi-bunyi fonetis, dan kata-kata yang mewakili bilangan bilangan itu dengan pesan yang akan diingat. Teknik ini dapat membentuk imaji visual yang kuat untuk masing-masing kata yang berhubungan dengan bilangan dan membentuk penggabungan visual antara masing-masing pesan yang akan diingat secara berurutan dengan masing-masing kata yang terbentuk dari kata-kata yang divisualisasikan.38

2. Bisik Berantai

a. Pengertian Bisik Berantai

Masyarakat Indonesia khususnya pada zaman dahulu, sudah tidak asing lagi dengan permainan satu ini. Permainan bisik berantai

38 Dewi Pusposari, Menyimak Kritis, 14

masih termasuk permainan tradisional yang perlu di lestarikan oleh anak-anak zaman sekarang. Meski permainan ini sederhana, tetapi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Berikut ini adalah beberapa pengertian bahasa reseptif menurut para ahli :

Permainan bisik berantai menurut Musfiroh dan Tatminingsih adalah permainan yang dapat digunakan sebagai metode untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak pada aspek bahasa, yaitu melatih indra pendengaran ketika anak berusaha mendengar suara yang sangat pelan (bisikan) dan berusaha memahami pesan yang harus disampaikan.39

Sedangkan menurut Agus dkk, Permainan dinamakan bisik berantai karena setiap pemain secara berurutan harus membisikkan suatu kalimat kepada pemain berikutnya. Kalimat yang harus dibisikkan itu adalah kalimat hasil menyimak bisikan pemain sebelumnya dan materi yang dikomunikasikan harus disesuaikan dengan taraf perkembangan siswa atau anak.40

Piqri berpendapat bahwa Permainan ini merupakan sebuah kegiatan dimana seorang pengajar membisikkan ujaran kepada seorang peserta didik, kemudian peserta didik tersebut membisikkan ujaran tersebut kepada peserta didik lain secara beruntun, kemudian

39 Tadkirotun Musfiroh & Sri Tatminingsih, Modul Bermain dan Permainan Anak, ( Tangerang: Universitas Terbuka, 2015), 8.48.

40 Agus dkk, Permainan Bahasa (Media Pembelajaran Bahasa Indonesia), (Takalar:

Ahmar Cendekia, 2021), 19

setelah ujaran tersebut sampai kepada peserta didik yang berada pada barisan akhir, maka peserta didik terakhir tersebut harus menyampaikan ujaran tersebut dan pengajar harus memeriksa apakah ujaran tersebut benar atau salah.41

Dari beberapa pengertian diatas bisa diartikan bahwa permainan bisik berantai adalah sebuah permainan yang dimainkan secara berkelompok yang mana pengajar membisikan sesuatu kalimat yang kemudian kalimat itu dibisikan secara beruntun ke anak lainnya, yang mana permainan ini mengadalkan kefokusan dalam menyimak, pendengaaran dan daya ingat yang cukup kuat.

Permainan bisik berantai biasanya dimainkan tanpa alat, sehingga dapat dimainkan kapan saja, namun guru juga dapat memodifikasi permainan sehingga dapat menggunakan media supaya tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.42

b. Tujuan Permainan Bisik Berantai

Tujuan Dari permainan bisik berantai menurut Muthmainnah yaitu:

1) Menstimulasi kecermatan indra pendengaran.

2) Meningkatkan konsentrasi.

3) Mengembangkan kemampuan bahasa (kosokata).

4) Membangun keakraban dengan teman.43

41 Muhammad Hairul Piqri, Belajar Asik Dengan Permainan Bahasa Arab, (Bogor : Guepedia, 2021), 24

42 Tadkirotun Musfiroh & Sri Tatminingsih, Modul Bermain, 8. 24

43 Muthmainnah, 100 Permainan Anak Usia Dini, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), 33.

c. Manfaat Permainan Bisik Berantai

Manfaat bermain dari permainan bisik berantai yakni:

1) Menjadikan anak senang berada di dalam kelas.

2) Mengajari anak agar lebih teliti.

3) Mengajari anak supaya cepat tanggap dalam menghadapi sesuatu.

4) Belajar berkomunikasi secara lisan yang tepat dan benar.

5) Menambah perbendaharaan kata.44 d. Cara Bermain Permainan Bisik Berantai

Dari berbagai penjelasan para ahli mengenai definisi bisik berantai sangatlah bermacam-macam, sama halnya dengan langkah- lagkah dari bermain bisik berantai sagat beragam. Namun pada intinya permainan bisik berantai ini sama-sama membisikan kalimat secara beruntun untuk melatih bahasa anak terutama bahasa reseptifnya.

Adapun cara bermain permainan bisik berantai menurut Agus sebagai berikut :

1) Pertama, guru menjelaskan peraturan permainan.

2) Kedua pemain dibagi atas dua regu. Setiap regu terdiri dari tujuh sampai sepulu pemain.

3) Ketiga, Setiap Regu berdiri berderet disisi kelas yang berlawanan.

4) Keempat, Regu A mendapat giliran pertama.Guru membisikkan kalimat pertama pada siswa pertama dalam regu itu.

44 Zahratur Rahma, “Penerapan Permainan Bisik Berantai Untuk Mengembangkan Bahasa Anak Usia 5-6 Tahun Di Kb Tunas Harapan Tanjung Bintang Lampung Selatan”, (Skripsi, Universitas Negeri Islam Raden Intan, Lampung, 2019), 37

5) Kelima, Siswa tersebut, setelah mendengar bisikan dari guru, membisikkan kapada siswa berikutnya. Siswa berikutnya pun melakukan hal yang serupa, sehingga bisikan itu akhirnya sampai ketelinga siswa terakhir. Siswa terakhir itu harus mengucapkan kalimat yang didengarnya itu keras-keras.

6) Keenam, Guru menjelaskan mengenai kata terkahir yang diucapkan sebagai evaluasi pembelajaran sekaligus memahami kata yang dibisikkan.45

e. Kelebihan dan kekurangan Permainan bisik berantai 1) Kelebihan

a) Dapat meningkatkan keaktifkan anak didik dalam pembelajaran melalui bermain.

b) Meningkatkan kemampuan bahasa anak dalam hal ini komunikasi lisan.

c) Meningkatkan rasa percaya diri anak karena berani untuk ikut serta dalam permainan.

2) Kekurangan

a) Kekurangannya yaitu menimbulkan situasi kelas yang ramai atau riuh.

b) memerlukan waktu cukup lama, menimbulkan siswa yang terlalu aktif.

c) menimbulkan interaksi siswa dan guru yang kurang kondusif.46

45 Agus dkk, Permainan Bahasa, 20

BAB III

METODE PENELITIAN

Iskandar Dinata No.50 Klanceng Desa Ajung, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember.

Alasan mengapa peneliti memilih lokasi penelitian ini karena adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru disekolah yaitu mengenai penerapan pembelajaran bahasa reseptif anak kelas A, yang memang terdapat beberapa anak yang kurang fokus memahami atau menyimak suatu pelajaran sehingga mempengaruhi belajarnya baik di sekolah maupun dirumah, dan di RA Riyadlul Qori’in merupakan salah satu lembaga yang menerapkan permainan bisik berantai namun semenjak pembelajaran daring (dalam jaringan) permainan ini tidak bisa dimainkan kembali. Tujuan permainan ini diadakan pada saat sebelum pandemi bukan untuk bertujuan meningkatkan bahasa reseptif anak, tetapi hanya sekedar mengasah otak anak sekaligus mengisi pembelajaran olah fisik, namun setelah daring selesai guru mulai memfokuskan permainan ini untuk mengasah atau menstimulasi bahasa reseptif anak. dari penjelasan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian di sini adalah informan yang dapat memberikan informasi terkait data yang akan dicari menentukan sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan dengan teknik purposive yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu.50 Dengan demikian informasi yang dipilih dalam penelitian ini yaitu orang-orang yang dianggap bersangkutan dan

50 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2017), 216

Dalam dokumen penerapan pembelajaran bahasa reseptif (Halaman 32-53)

Dokumen terkait