BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
1. Penguatan Pendidikan Karakter
a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karkter
Penguatan adalah segala bentuk respon yang merupakan bagian dari odifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku peserta didik, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik peserta didik atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan.28
Sedangkan menurut Usman, penguatan adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan atau koreksi. Atau, penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpastisipasi dalam interaksi belajar mengajar.29
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog jerman F.W.Foerster. terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis Spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan Normatif. Yang menjadi
28Farida Rahim, Pengajaran Membaca Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2018), 117.
29Usman, Menjadi Guru..., 80-81.
prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Menurut Lickona bahwa untuk mendidik karakter dan nilai nilai yang baik, termasuk di dalamnya nilai keimanan kepada Tuhan YME diperlukan pembinaan terpadu atara ketiga dimensi sebagaimana gambar berikut (modifikasi dari penulis untuk menunjukkan pentingnya Penciptaan Suasana Religius).30
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang dipelopori oleh Filsuf Prancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan yang meredusir pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.31
Pendidikan dan karakter merupakan dua istilah yang berdiri makna dan hakikatnya masing-masing, namun akan memiliki makna khusus, ketika keduanya digabungkan kedalam satu tema khusus.
Meskipun demikian pendidikan karakter memiliki konsentrasi tersendiri, yaitu terbentuknya sebuah karakter siswa-siswi melalui proses pendidikan.
30 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 59.
31Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2011), 37.
Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata didik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntutan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan kata pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.32
Pendidikan menurut john dewey adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelectual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Tujuan pendidikan dalam hal ini agar generasi muda sebagai penerus generasi tua dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma tersebut dengan cara mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang melatarbelakangi nilai-nilai dan norma-norma hidup dan kehidupan. Pendidikan karakter, alih-alih disebut pendidikan budi pekerti, sebagai pendidikan moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam tindakan nyata.33
Dengan demikian, Pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri manusia dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradap. Pendidikan bukan hanya sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana
32Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 263.
33Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2011), 67.
pembudayaan dan penyaluran nilai. Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan.34
M. Furqon Hidayatullah mengutip pendapatnya Rutland yang mengemukakan bahwa karakter berasal dari kata bahasa latin yang berarti “dipahat”, Seecara harfiah, karakter artinya kualitas mental, kekuatan moral, atau reputasinya Hornby dan Parnwell dalam kamus psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau mmoral, misalnya kejujuran seseorang; biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.35
Menurut Simon Philips dalam buku refleksi karakter bangsa, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.36
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.37
34Ibid., 69.
35 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: DIVA Press, 2013), 28.
36Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2011), 70.
37Ibid., 29.
Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona yang mendasarkan pada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Ia menegaskan bahwa karakter yang baik adalah apa yang diinginkan untuk anak-anak. Lickona juga menyitir pendapat Michael Novak, seorang filsuf komtemporer, yang mengemukakan bahwa karakter merupakan campuran yang harmonis dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi Religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang yang berakal sehat yang ada dalam sejarah.38
Pendidikan karakter berasal dari kata pendidikan dan karakter.
Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri individu dan masyarakat menjadi beradab. Sedangkan karakter memiliki persamaan makna dengan kepribadian. Kepribadian merupakan sifat khas seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima lingkungan.39
Dari pengertian karakter diatas, dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia maupun lingkungan, yang terwujud dalam pikiran,
38Marzuky, Pendidikan karakter Islam, (Jakarta: Amzah, 2017), 20.
39Doni A Koesoema, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern, (Jakarta:
Grasindo, 2007), 80.
sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatannya berdasarkan norma- norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.40
Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada siswa-siswi, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukannya. Dengan demikian, pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak dan pendidikan moral. Selanjutnya, Frye menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja untuk membantu seseorang memahami, menjaga, dan berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter mulia.41
Penguatan pendidikan karakter merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakzan bagian dari gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).42 Dalam pasal 3 Perpress No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan pendidikan Karakter berbunyi, “PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam pendidikan karakter terutaman mmeliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, displin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah
40Marzuky, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Imprint Bumi Aksara, 2015), 21.
41Ibid., 23.
42Imas kuniasih dan Berlin sani, Pendidikan karakter internalisasi dan metode pembelajaran di sekolah, (Jogjakarta: Kata Pena, 2017), 171.
air, mmenghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.”43
Jadi pendidikan karakter adalah suatu pembelajaran yang mendidik guna memperbaiki akhlak seseorang dan budi pekerti agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.44
b. Nilai–Nilai Penguatan Pendidikan Karakter
Pendekatan penanaman nilai (Inculcation Approuch) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Menurut pendekatan ini, tujuan pendidikan nilai adalah diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan.45
1) Religius 2) Jujur 3) Toleransi 4) Disiplin 5) Kerja keras 6) Kreatif 7) Mandiri 8) Demokratis 9) Rasa ingin tahu
43Perpress_Nomor_87_Tahun_2017.
44Peneliti, Observasi, Banyuwangi, 11 Februari 2019.
45Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2011), 108.
10) Semangat kebangsaan 11) Cinta tanah air
12) Menghargai prestasi 13) Bersahabat/komunikatif 14) Cinta damai
15) Gemar membaca 16) Peduli lingkungan 17) Peduli sosial
18) Tanggung jawab dll.46
c. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pemmbentukan diri secara terus mmenerus (on going foration).47
Pendidikan karakter juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kopetensisi
46 Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &
Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 112.
47 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: DIVA Press, 2013), 42.
lulusan. Melalui pendidikan karakter, di harapkan siswa-siswi mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari- hari.48
Jalaluddin dalam buku Teologi Pendidikan membagi Tujuan pendidikan Islam dalam beberapa dimensi, di antaranya :
1) Dimensi hakikat penciptaan manusia, yaitu pendidikan bertujuan untuk membimbing perkembangan siswa-siswi secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah yang setia.
2) Dimensi tauhid, yaitu pendidikan bertujuan mengarahkan manusia sebagai hamba Allah yang bertakwa kepada-nya.
3) Dimensi moral, yaitu pendidikan bertujuan upaya pengenalan terhadap nilai-nilai yang baik, kemudian diinternalisasikan, serta diaplikasikan dalam sikap dan perilaku melalui pembiasaan.
4) Dimensi perbedaan individu, yaitu pendidikan bertujuan usaha membimbing dan mengembangkan potensi siswa-siswi secara optimal, menyesuaikan perkembanganya dengan kadar kemampuan dari potensi yang dimilikinya masing-masing.
5) Dimensi sosial, yaitu pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia agar berperan dalam statusnya sebagai an-Nas (makhluk Sosial), Abdullah (hamba pengabdi Allah), dan khalifah Allah.
48 Ibid., 43.
6) Dimensi profesional, yaitu pendidikan bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi siswa-siswi sesuai dengan bakat masing- masing.
7) Dimensi ruang dan waktu, yaitu pendidikan bertujuan pada dua tujuan utama, yakni upaya untuk memperoleh keselamatan hidup di dunia dan kesejahteraan hidup di akhirat.49
Hal ini sejalan dengan firman Allah Q.S. al-Baqarah [2]: 201:
Artinya: “Dan di antar mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka’.”50
Konklusi dari tujuan pendidikan diatas adalah:
1) Dimensi keimanan dan ketakwaan siswa-siswi kepada Allah SWT.
2) Dimensi pemahaman atau pengetahuan tentang ilmu keIslaman.
3) Dimensi pengalaman dari ilmu yang sudah didapat.51 d. Fungsi Penguatan Pendidikan Karakter
Sebagaimana dikutip dari Akhmad Fikri bahwa fungsi pendidikan karakter adalah:
1) Pengembangan: pengembangan potensi dasar peserta didik agar berhati, berpikiran, dan berperilaku baik;
49Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &
Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 105.
50Al-Qur’an. al-Baqarah: 201.
51Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &
Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 106.
2) Perbaikan: memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur untuk menjadi bangsa yang bermartabat;
3) Penyaring: untuk menyaring nudaya yang negatif dan menyerap budaya yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa untuk meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Adapun fungsi pendidikan karakter menurut kementrian Pendidikan Sosial adalah:
1) Pengembanagn potensi dasar, agar”berhati baik, berpikir baik, dan berperilaku baik.
2) Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik.
3) Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.52
e. Tahap-Tahap Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter membutuhkan proses atau tahapan secara sistematis dan gradual, sesuai dengan fase pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ary Ginanjar Agustin, pembangunan karakter tidaklah cukuphanya dimulai dan diakhiri dengan penetapan misi. Akan tetapi, hal ini perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup.53
52Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &
Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 105.
53 Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Mebangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, (Jakarta:
Arga, 2008), 278.
Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan yang diketahuinya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut.
Pengembangan karakter dalam sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku. Hal ini dapat dilakukan secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia internasional.54
Sementara itu, Furqon Hidayatullah55 mengklasifikasikan pendidikan karakter dalam beberapa tahap. Berikut beberapa tahap tersebut.
1) Tahap Penanaman Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan perwujudan dari niat dan tekad untuk melalukan tugas yang diemban. Misalnya, anak diberi tanggung jawab menunggu toko di rumah dari pukul 17.00-17.30 WIB. Ternyata, ia melakukan tugas dengan baik, dan meinta izin
54 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), 87.
55Furqan Hidayatullah, Pendidikan Karkater: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), 32.
saat berhalangan. Ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri.
2) Tahap Penanaman Kepedulian
Kepedulian adalah empati kepada orang lain yang diwujudkan dalam bentuk memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Anak diajari menolong temannya yang sedang dilanda musibah. Misalnya: mengunjungi teman yang sedang sakit, membawakan makanan, mengajari teman tentang materi yang belu dipahami, berbagi ketika sedang makan, dan lain sebagainya.
3) Tahap Penanaman Pentingnya Bermasyarakat
Bermasyarakat adalah simbol kesediaan seseorang untuk bersosialisasi dan bersinergi dengan orang lain. Bermasyarakat berarti meluangkan sebagian waktu untuk kepentingan orang lain.
Beraasyarakat identik dengan bercengkrama, bergaul, dan gotong- royong.56
f. Tips Efektif Pendidikan Karakter di Sekolah 1) Menanamkan keikhlasan
Dunia Pendidikan merupakan dunia pengabdian yang suci bagi bangsa dan negara. Tugas utama pendidikan adalah melahirkan kader-kader penerus bangsa yang berkualitas tinggi, baik moralitas, intelektualitas,dan spiritualnya. Menurut Imam Ghazali, seseorang bisa ikhlas jika mempunyai keyakinan bahwa
56 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: Diva Press, 2013), 93.
hanya Allah-lah yang memiliki kekuatan. Sedangkan manusia dan seluruh makhluk tidak mepunyai kekuatan apa-apa. Dari sini seseorang yang melakukan pekerjaan apapun tidak mengharapkan balasan dari orang lain karena hanya Allah SWT Yang bisa membalasnya.
2) Membuat program praktik pendidikan karakter
Pendidikan karakter membutuhkan jam terbang tinggi dalam rangka menanamkan karakter kerja keras, disiplin, pantang menyerah, suka berproses, dan mempunyai mental kuat untuk mengalahkan lawan. Sebab, dari sanalah akan teruji mentalitas dan paradigma berpikir anak dalamm menghadapi situasi dan kondisi sesulit apa pun.
Untuk itu, perlu dipikirkan bersama seandainya disetiap sekolah membuat praktik pendidikan karakter, misalnya selama satu bulan sesuai dengan bakat dan minat siswa, Masing-masing sekolah seyogianya mempunyai agenda praktik tersebut, Sehingga pendidikan karakter tidak berhenti pada tataran teori yang membosankan dan dijadikan bahan tertawaan di kelas, masyarakat, dan media. Para pengambil kebijkan di sekolah sudah saatnya melakukan terobosan ide dan strategi dalam pembinaan karakter yang berkualitas, karakter yang menjadi pondasi dalam meraih kesuksesan gemilang di masa depan, masa kompetisi dan tantangan yang berjalan secara ketat, keras, dan penuh resiko.
Saat ini, sulit sekali menjupai lembaga pendidikan yang menerapkan progra praktik pendidikan karakter. Sehingga, kenyataan ini menjadi peluang bagi semua lembaga pendidikan untuk melakukan uji coba, terus mengevaluasi, dan mengembangkannya secara progresif demi keberhasilan pendidikan karakter di sekolah.57
Dari beberapa nilai-nilai karakter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa point karakter yang diangkat oleh peneliti, dimana point nilai karakter tersebut berkaitan dengan judul yang peneliti angkat, yaitu religius, peduli sosial, dan tanggung jawab.
a) Nilai Religius
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa religius berarti: bersifat religi atau keagamaan, atau yang bersangkut paut dengan religi (keagamaan). Penciotaan suasana religius berarti menciptakan suasana atau iklim kehidupan keagamaan.58
yaitu segenap cinta Tuhan dan Segenap ciptaannya, nilai ini merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apabila seseorang bisa mencintai Tuhannya, kehidupan akan penuh kebaikan.59
57 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: Diva Press, 2013), 177.
58 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 61.
59Akhmad Muhamimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, (Jogjakarta: AR-RUZZ Media, 2011), 30.
Jadi nilai religius juga sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Dalam konteks pendidikan agama Islam ada yang bersifat vertikal dan Horizontal. Yang vertikal berwujud hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah), misalnya shalat, doa, puasa, khataman, al-Qur’an, dan lain-lain. Yang horizontal berwujud hubungan manusia dengan sesama (habl min an-nas), dan hubungan mereka dengan lingkungan alam sekitarnya.60
Nilai religius meliputi 3 macam, yaitu:
(1) Habl min Allah (Hubungan manusia dengan Tuhannya) seperti membaca al-Qur’an sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, Shalat dhuha, shalat dhuhur, dan membaca kitab ta’limul muta’alim.
(a) Habl min Allah (Hubungan manusia dengan Tuhan- Nya).
Perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah adalah ucapan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, akhlak manusia yang baik kepada Allah adalah manusia yang mengucapkan dan bertingkah laku yang terpuji
60 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 61.
kepada Allah SWT, baik ucapan melalui ibadah langsung kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, maupun melalui perilaku tertentu yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah di luar ibadah tersebut.61
Tata kehidupan itu perlu diatur dengan norma- norma aturan syari’ah yang diambil dari ajaran-ajaran Islam. Sebab, setiap manusia selain hidup di dunia juga akan menjalani kehidupan akhirat yang kebahagiaan atau kesengsaraannya ditentukan oleh akumulasi pahala dan dosa dari perbuatan-perbuatan baik atau jahat di dunia. Sementara ketentuan-ketentuan hukum yang diambil dari ajaran Islam termasuk bagian yang menyediakan pahala tersebut. Dengan demikian, kenyamanan, serta kebahagiaan dalam kebahagiaan dalam kehidupan dalam kehidupan dunia ini, juga akan membawa pada kebahagiaan akhirat kelak.
Dalam pada itu, secara psikologis setiap manusia senantiasa mengakui adanya kekuatan supranatural sehingga melahirkan berbagai kegiatan ibadah untuk melakukan kontak dengan kekuatan tersebut. Islam, lewat ajaran-ajaran syari’ahnya mengajarkan bagaimana
61Zainudin Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 33.
hubungan dengan Tuhan dilakukan dan bagaimana segala perbuatan ini dipertanggungjawabkan di hadapannya.62
Akhlak kepada Allah diatas akhlak kepada makhluk, sebab Allah adalah Khaliq yang menciptakan semua makhluk. Dengan demikian, akhlak kepada Allah adalah akhlak terpenting yang harus dipahami dan diaplikasikan seorang Muslim di dalam kehidupannya.
Bahkan pada batas tertentu seseorang dianggap tidak beriman ketika ia tidak memiliki akhlak kepada Allah dengan semestinya.
Akhlak kepada Allah terkait dengan respons imani dan amali seorang hamba kepada Tuhannya. Hal ini memiliki korelasi objektif dengan hak-hak Allah yang harus dipenuhi seorang makhluk. Di antaranya adalah pengakuan asasinya terhadap eksistensi ketauhidan Allah. Manusia yang berakhlak kepada Tuahannya adalah mereka yang mentahidkanNya dan tidak menserikatkan-Nya.63
Tauhid adalah mengesakan Allah, mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dasar agama Islam adalah iman kepada Allah yang Maha Esa, yang disebut
62Ramli Nur, Revolusi Akhlak: Pendidikan Karakter (Tangerang: Tsmart, 2016), 20.
63Ibid., 30.
dengan tauhid. Tauhid dapat berupa pengakuan bahwa Allah SWT satu-satunya yang memiliki sifat rububyyah dan uluhiyyah, serta kesempurnaan nama dan sifat.64
Hakikat pembagian tauhid tersebut dan bagaimana seorang makhluk berakhlak dengan-Nya. a) tawhid rubbubiyyah. b) tauhid uluhiyyah c) tauhid al- as-sifat
i. Tawhid rubbubiyyah.
Tawhid rubbubiyyah adalah mentauhidkan Allah dengan amal dan pernyataan yang tegas bahwa Allah adalah Tuhan, Raja, Pencipta semua makhluk.
Cakupan tawhid rububiyyah tidak saja mengakui bahwa Allah semesta yang berkuasa untuk menciptakan alam semesta dan mengaturnya, tetapi juga mengakui kekuasaan Allah untuk mematikan dan menghidupkan makhlukNya, memuliakan dan menghinakan makhluk, serta mengangkat dan menurunkan seseorang dari kekuasaanya. Dia juga memberikan perlindungan dan keamaan kepada siapasaja yang dikehendakinya. Juga tugas Allah untuk memberi rezki kepada seluruh makhlukNya.65
64Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Jakarta: amzah, 2016), 183.
65Ramli Nur, Revolusi Akhlak: Pendidikan Karakter (Tangerang: Tsmart, 2016), 33.