• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Mahasiswa Nindia Fiadelima di IAIN Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Mahasiswa Nindia Fiadelima di IAIN Jember"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

NINDIA FIADELIMA NIM. T20151076

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

DESEMBER 2019

(2)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

NINDIA FIADELIMA NIM. T20151076

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

DESEMBER 2019

(3)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

NINDIA FIADELIMA NIM. T20151076

Disetujui Pembimbing

Prof. Dr. Hj. Titiek Rohanah H., M.Pd NIP. 19531011 197803 2 001

(4)

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu Persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Hari : Kamis

Tanggal : 28 November 2019 Tim Penguji

Ketua Sekretaris

Nuruddin, M.Pd.I Rusydi Baya'gub,M.Pd.I

NIP. 197903042007101002 NIP. 197209302007101002 Anggota :

1. Hafidz, S.Ag, M.Hum ( )

2. Dr. Hj. Titiek Rohanah Hidayati, M.Pd ( )

Menyetujui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP. 19640511 199903 2 001

(5)































Artinya : Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al-Baqarah/2: 195).*

*Al-Qur’an dan Terjemahnya, Lembaga Percetakan Al-Qur’an Kementrian Agama RI, 2010.

(6)

1. Kedua orang tuaku yang tercinta yaitu Bapak Hadi Sucipto dan Ibu Sugiarti yang selalu menjadi penyemangat hidupku dikala jenuh dalam menuntut ilmu dan dukungan baik materi maupun non-materi.

2. Semua keluargaku tersayang yang selalu mendukung saya dalam menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

3. Untuk Pupung Indrawan yang selalu memberi motivasi, nasehat, semangat dan juga support agar segera terselesaikannya karya ilmiyah ini.

4. Khususnya teman saya yang ikut andil selama penulisan karya ilmiah ini ini yaitu Firoh dan Nadhir.

5. Sahabat, orang terdekat, orang yang tersayang dan yang sayang sama aku, teman yang saling membantu selama penulisan karya ilmiyah ini.

6. Dosen pembimbing saya Prof. Dr. Hj. Titiek Rohanah. H, M.Pd yang senantiasa sabar dalam membimbing saya yang tidak punya ilmu mengenai skripsi.

7. Segenap dosen serta guru-guru yang telah membekali banyak ilmu.

8. Almamater tercinta IAIN Jember, terimakasih karena telah memberikan saya kesempatan untuk menuntut ilmu selama ini.

9. Untuk teman mahasiswa kelas A2 yang telah mejadi bagian dari hidupku selama berada di kota Jember.

(7)

pencipta dan penguasa seisi alam semesta, yang mana berkat taufik, hidayah, beserta inayah-Nya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Upaya Orang Tua Dalam Membina Kepribadian Anak Pada Era Digital Di Sumberagung Pesanggaran Banyuwangi.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang revolusioner dunia Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni adanya addinul Islam.

Setelah melalui beberapa tahapan rintangan dalam sistematika penulisan skripsi ini, tiada kata yang pantas untuk dilontarkan selain ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Keberhasilan dan kesuksesan ini penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM Selaku Rektor IAIN Jember yang telah memfasilitasi kami selama proses kegiatan belajar mengajar.

2. Dr. H. Mukni’ah, M.Pd.I Selaku Dekan FakultasTarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam IAIN Jember, yang telah mengesahkan secara resmi tema penelitian ini sehingga penyusunan skripsi berjalan dengan lancar.

3. Prof. Dr. Hj. Titiek Rohanah H., M.Pd Selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan di tengah-tengah kesibukan beliau meluangkan waktu memberikan bimbingan dan pengarahan.

(8)

5. Bapak dan ibu Dosen serta segenap karyawan akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam IAIN Jember, yang telah tanpa lelah membekali ilmu pengetahuan, dan

6. Semua pihak yang turut membantu terselesainya skripsi ini.

Semoga segala amal yang telah Bapak/ Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang terbaik dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini.

Akhirnya tidak ada yang penulis harapkan kecuali ridho Allah SWT. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis dan bagi para pembaca.

Aamiin...

Jember, Oktober 2019

Nindia Fiadelima

(9)

Pendidikan karakter merupakan suatu usaha pembentukan akhlak yang baik terhadap perkembangan emosional, spiritualitas dan kepribadian seseorang.

Oleh karena itu pendidikan karakter merupakan bagian yang sangat penting dalam membangun jati diri bangsa. Terdapat 18 nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan dalam jiwa anak bangsa, namun untuk memenuhi 18 karakter tersubut diperlukan usaha yang sangat keras. Dengan dibentuknya karakter-karakter tersebut tentu Negara ini berharap seorang pendidik dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berintegritas dan juga lebih baik.

Fokus penelitian meliputi: (1) Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai religius siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019? (2) Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai peduli sosial siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019? (3) Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai tanggung jawab siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019.

Tujuan penelitian meliputi: Mendeskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai religius siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019. (2) Mendiskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai peduli sosial siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019. (3) Mendiskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai tanggung jawab siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019.

Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Teknik pengambilan sample menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknis analisis data menggunakan deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini adalah (1) Proses Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai religius siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019. (2) Proses Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai peduli sosial siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019. (3) Proses Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai tanggung jawab siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019.

Kata Kunci: Penguatan Pendidikan Karakter, Laskar Zakat, Infaq, dan Shadaqah.

(10)

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR BAGAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Definisi Istilah... 11

F. Sistematika Pembahasan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A. Penelitian Terdahulu ... 15

B. Kajian Teori ... 18

1. Kajian Tentang Penguatan Pendidikan Karakter ... 19

a. Pengertian Pendididkan karakter ... 19

b. Nilai-Nilai Karakter ... 24

c. Tujuan Pendidikan Karakter ... 25

(11)

2. KajianTentang Zakat, Infaq, dan Shadaqah ... 45

a. Pengertian Zakat, Infaq, dan Shadaqah... 45

b. Tujuan dan Manfaat Zakat, Infaq, dan Shadaqah ... 51

BAB III METODE PENELITIAN ... 52

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 52

B. Lokasi Penelitian... 53

C. Subyek Penelitian... 53

D. Teknik Pengumpulan Data... 54

E. Analisis Data ... 58

F. Keabsahan Data ... 61

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 62

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA... 66

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 66

B. Penyajian Data dan Analisis Data ... 75

C. PembahasanTemuan... 94

BAB V PENUTUP... 106

A. Kesimpulan ... 106

B. Saran-saran ... 108

DAFTAR PUSTAKA ... 109

(12)

4.2 sarana dan Prasarana ...74 4.3 matrik Temuan Penelitian ...92

(13)

4.1 Sholat Dhuha Dan Sholat Dzuhur ...79 4.2 Penggalangan Dana ZIS 88...88

(14)

xi 3. Pedoman Penelitian

4. Jurnal Penelitian 5. Surat Izin Penelitian

6. Surat Keterangan Selesai Penelitian 7. Surat Permohonan Ijin Penelitian

8. Surat Penetapan Pengurus Laskar ZIS Tahun 2017 9. Daftar Penerimaan Bantuan Dana Lawatan Pendidikan 10. Daftar Nama Lembaga Penerima Zakat Fitrah

11. Daftar Nama Penerima Zakat Fakir atau Miskin

12. Daftar Hasil Penggalanan Dana Bantuan Gempa di Lombok 13. Daftar Siswa Yatim, Piatu dan Berkebutuhan Khusus

14. Dokumentasi Pengukuhan Laskar ZIS Oleh BAZNAZ Tahun 2016 15. Pelantikan Laskar ZIS Tahun 2016

16. Dokumentasi 17. Biodata Penulis

(15)

Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara di dunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Secara umum, pengertian pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.1

Pendidikan karakter sesungguhnya telah lama menjadi roh dan semangat dalam praksis pendidikan di Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, kebijakan pendidikan memang diarahkan pada pembentukan karakter, sebagaimana digagas oleh para pendiri bangsa. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal, seperti Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Moh Natsir, dll. Telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai bentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami.2

Menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 yaitu:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.”3

1Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Offset, 2012), 36.

2Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana, 2007), 4.

3 Undang-Undang. Ri No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Rhusty Publisher, 2009).

(16)

Sedangkan menurut Salahudin dan Alkrienciehie pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.4

Karakter adalah suatu sifat potensial yang baik, yang dapat diidentifikasi melalui sikap dalam perbuatan sehari – hari.5 karakter sendiri identik dengan akhlak sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatanya berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.6

Menurut Salahudin dan Alkrienciehie pendidiknan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan.7 Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam 3 kehidupan, sehingga anak atau siswa-siswi

4Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakkter: Pendidikan berbasis agama dan Budaya bangsa, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 79.

5Heru kurniawan, sekolah kreatif, ( Yogyakarta : AR-RUZZ MEDIA, 2016), 188.

6Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, ( Jakarta: Imprin Bumi Aksara, 2017), 21.

7Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakkter: Pendidikan berbasis agama dan Budaya bangsa, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 45.

(17)

memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta dan kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.8

Menurut Perpress Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter bahwa PPK memiliki tujuan :

“Membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi Peserta Didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia, dan merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, siswa-siswi , masyarakat, dan lingkungan keluargadalam mengimplementasikan PPK.”9

Tujuan pendidikan karakter akan menjadikan pribadi siswa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki kepribadian yang utuh. Pribadi yang takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agama, menjadi tujuan utama pendidikan di Indonesia karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragama, terlihat dari sila pertama dalam pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saat ini dampak globalisasi membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa. Padahal, pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu di tanamkan sejak dini kepada anak-anak. Dari berbagai peristiwa menunjukkan bahwa masyarakat ternyata mampu melakukan tindak kekerasan yang sebelumnya mungkin belum pernah terbayangkan. Hal itu karena globalisasi telah

8E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), 1-2.

9Perpress_Nomor_87_Tahun_2017.

(18)

membawa kita pada “penuhanan” materi sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan tradisi kebudayaan masyarakat.10

Mengingat fakta demoralisasi sudah sedemikian akut, pendidikan sekolah selama ini bisa dikatakan gagal pada aspek karakter. Sekolah terlalu terpesona dengan target-target akademis, dan melupakan pendidikan karakter.11

Berangkat dari keprihatinan, penulis masih sangat jarang menjumpai remaja yang masih sekolah ataupun yang sudah dewasa untuk mudah mengulurkan tangan, gemar berbagi ataupun suka memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, penulis berpendapat bahwa hal seperti ini perlu mendapatkan perhatian seorang pendidik, dimana berkarakter sosial perlu adanya keteladanan dari pendidik, dilatih dan dibiasakan agar sedini mungkin siswa siswi mempunyai kesadaran akan pentingnya berbagi dan membantu satu sama lain. Selain itu penulis juga menyadari bahwa sebenarnya banyak sekolah atau madrasah yang menerapkan pendidikan karakter, tetapi yang peneliti tau tidak sedikit sekolah yang hanya menyediakan fasilitas dan hanya sebatas himbauan saja, padahal penguatan pendidikan karakter membutuhkan arahan, contoh, dan tahap-tahap agar pendidikan karakter benar-benar tertanam dalam pribadi siswa-siswi.

Dalam pada itu, secara psikologis setiap manusia senantiasa mengakui adanya kekuatan supranatural sehingga melahirkan berbagai kegiatan ibadah

10Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2011), 1.

11 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: Diva Press, 2013), 26.

(19)

untuk melakukan kontak dengan kekuatan tersebut. Islam lewat ajaran-ajaran syariahnya mengajarkan bagaimana berhubungan dengan Tuhan dilakukan dan bagaimana segala perbuatan ini dipertanggung jawabkan di hadapannya.12

Sejalan dengan paparan diatas, setiap manusia berada di tengah-tengah masyarakatnya dan senantiasa terikat dengan hubungan interpendensi, maka syari’ah dalam hal ini mengeluarkan norma-norma hukum untuk menata hubungan sosial tersebut. Dua hal inilah yang menjadi latar belakang persyari’atan hukum-hukum Islam bagi umat manusia. Oleh sebab itu, norma- norma ini bisa tegak kalau masyarakatnya memiliki kesadaran teologis dan moral yang cukup baik atau kekuatan pemimpin yang bisa memaksakan agar hukum tersebut dapat diterapkan. Namun untuk yang terakhir ini, penerapannya akan semu dan sangat tergantung kepada penguasa. Oleh sebab itu, secara sosiologid hal itu akan menimbulkan gejolak yang berkepanjangan13

Dengan demikian, maka Pengertian dari Laskar itu sendiri adalah pejuang, sedangkan ZIS merupakan singkatan dari Zakat, Infaq, dan Shadaqah. Zakat adalah ukuran yang telah ditentukan dari harta wajib zakat yang disalurkan kepada delapan golongan penerima zakat dengan syarat- syarat tertentu.14 Infaq adalah pemberian atau sumbangan harta selain zakat untuk hal kebaikan. Shadaqah adalah suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu.

12Ramli Nur, Revolusi Akhlak: Pendidikan Karakter, (Tangerang: Tsmart, 2016). 20.

13Ibid, 21.

14Fakhruddin al-Muhsin, Ensiklopedi Mini Zakat, (Bogor: Darul Ilmi, 2012), 7.

(20)

ZIS merupakan hal yang sudah tidak asing lagi dikalangan umat muslim, hal tersebut merupakan salah satu instrumental dalam mengentas kemiskinan. Dana yang terkumpul merupakan menjadi potensi besar yang dapat memberdayakan rakyat miskin yang kurang dilindungi oleh sistem jaminan sosial yang terprogram dengan baik. Selain itu dengan diadakan program Laskar ZIS di madrasah akan menumbuhkan karakter religius, peduli sosial, dan tanggung jawa. Sebagaimana yang telah Allah ta’ala perintahkan dalam surah al-Baqarah ayat 262 yang berbunyi :



















































Artinya : Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Q.S. al-Baqarah [262]: 2)15

Orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan cercaan terhadap orang yang diberi, misalnya dengan mengatakan, "Saya telah berbuat baik kepadamu dan telah menutupi keperluanmu" (atau menyakiti perasaan) yang bersangkutan, misalnya dengan menyebutkan soal itu kepada pihak yang tidak perlu mengetahuinya dan sebagainya (mereka memperoleh pahala) sebagai ganjaran nafkah mereka (di sisi Tuhan mereka. Tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka berduka cita) yakni di akhirat kelak.

15Al-Qur’an, 2:262.

(21)

Berdasarkan wawancara dengan bapak Drs. Syamsul Ma’rif yang dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun Pelajaran 2018/2019 yang bertempat di kecamatan Srono, yang mana di madrasah ini berupaya mengadakan satu kegiatan yang rutin di hari Jum’at atau biasa disebut LASKAR ZIS. Peneliti juga mendapatkan informasi bahwasanya Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi tidak hanya mewajibkan siswa-siswi saja yang wajib melaksanakan program Laskar ZIS ini, akan tetapi guru dan semua warga Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, karena cara yang terbaik dalam menanamkan karakter adalah memperlihatkan keteladanan.

Dalam kegiatan Laskar ZIS ini siswa-siswi dan semua warga Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi diwajibkan untuk selalu ber ZIS seikhlasnya setiap hari jumat sebelum kegiatan proses pembelajaran dimulai dan juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang wajib diikuti semua warga Madrasah, sehingga kewajiban tersebut menjadi kebiasaan siswa-siswi dalam kehidupan sehari- hari. program ini bertujuan untuk melatih dan membiasakan siswa-siswi untuk menjadi karakter yang religius peduli terhadap lingkungan sosial, saling membantu terhadap sesama. Program ini diketuai oleh siswi kelas XI yang bernama Puji Setiawan dan dibimbing langsung oleh Guru Man 3 Banyuwangi yang bernama Bu Shofia Wardani.16

16Syamsul Arif, Wawancara di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, 09-05-2019, 10.00 WIB.

(22)

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Laskar Zakat, Infaq, dan Shadaqah di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun Pelajaran 2018/2019”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah ditemukan diatas, maka fokus penelitian dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai religius siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019?

2. Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai peduli sosial siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019?

3. Bagaimana Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai tanggung jawab siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan di tuju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.17 Setiap penelitian mempunyai tujuan tertentu yag hendak dicapai. Demikian dengan penelitian kali ini. Berdasarkan fokus penelitian diatas. Maka penelitian ini bertujuan :

17Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. (Jember: IAIN Jember, 2018), 45.

(23)

1. Mendeskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai religius siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019

2. Mendiskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai peduli sosial siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019

3. Mendiskripsikan Penguatan Pendidikan Karakter dalam nilai tanggung jawab siswa melalui Laskar ZIS di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi yang diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan penelitian harus realistis.18

Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang Mengembangkan Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Laskar Zakat, Infaq, Shadaqah di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi Tahun 2019.

18Ibid.,45.

(24)

b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadikan refrensi dan memperkaya khazanah keilmuan di lembaga perguruan tinggi khususnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

2. Manfaat praktis a. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan untuk menambah wawasan penulis mengenai internalisasi nilai-nilai toleransi beragama melalui pendidikan non-formal dan sebagai bentuk latihan dan pengembangan dalam penulisan karya tulis ilmiyah

b. Bagi IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur perpustakaan lebih khusus bagi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam dan juga diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada mahasiswa

c. Bagi Man 3 Banyuwangi

Penelitian ini diharapkan untuk memberikan sumbangan pemikiran, moral, dan akhlak yang baik, serta implementasi bagi siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi

d. Bagi masyarakat umum

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran baik dimasyarakat luas dalam hal positif untuk menerapkan karakter yang kuat.

(25)

e. Bagi peneliti yang akan datang

Penelitian ini diharapkan menjadi pijakan dalam perumusan desain penelitian lanjutan yang lebih mendalam mengenai toleransi umat beragama dan sebagai bentuk latihan dan pengembangan dalam penulisan karya tulis ilmiyah.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaiman dimaksud oleh peneliti.19Adapun definisi istilah teruraikan sebagai berikut:

1. Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).20 Jadi yang peneliti maksud dengan penguatan pendidikan karakter disini adalah suatu program pendidikan yang ada di sekolah guna memperkuat karakter Religius, Peduli Sosial dam Tanggung Jawab siswa Melalui program Laskar ZIS.21

19Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 45.

20Imas Kuniasih dan Berlin sani, Pendidikan karakter internalisasi dan metode pembelajaran di sekolah, (Jogjakarta: Kata Pena, 2017) 171.

21 Peneliti, Observasi, Banyuwangi, 27 April 2019.

(26)

2. Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS)

Secara bahasa, zakat memiliki arti pengembangan dan pensucian.

Harta berkembangan melalui zakat dengan tanpa disadari. Selain itu, zakat mensucikan pelakunya dari dosa. Disebut zakat di dalam syariat karena adanya pengertian etimologis. Yaitu, karena zakat dapat membersihkan pelakunya dari dosa dan menunjukkan kebenaran imannya. Adapun caranya adalah dengan memberikan bagian harta yang telah mencapai nishab tahunan kepada fakir miskin dan lainnya yang berhak menerimanya. Zakat ini merupakan pelaksanaan rukun Islam yang ketiga.22

Infaq berarti membelanjakan harta sesuai dengan tuntunan agama, maka bersedekah kepada kaum fakir miskin dan membayar zakat juga disebut berinfaq. Demikian pula dengan penggunaan harta untuk kegiatan sosial kemasyarakatan.23

Sedekah berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata shadaqah. Di dalam al-Munjid kata shadaqah diartikan dengan pemberian yang niatnya mendapatkan pahala dari Allah, bukan sebagai penghormatan. Hukum shadaqah ini bisa wajib dan juga bisa menjadi sunat.24

ZIS berasal dari singkatan Zakat, Infaq dan Shadaqah ,ZIS merupakan suatu organisasi yang berada di Madrasah Aliyah Negeri 3

22 Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, Fikih wanita. (Jawa Barat: Fathan Media prima, 2017), 233.

23 Babun Suharto, Zakat Untuk Pendidikan: Opsi Strategis Investasi Sumberdaya Manusia.

(Jember: STAIN Jember Press, 2013), 19.

24Syafi’i Maskur,Kekuatan Sedekah, (Yogjakarta: Brilliant Books, 2011), 13.

(27)

Banyuwangi, dimana Laskar ZIS ini mulai didirikan pada tahun 2016/2017 dan pembimbing pendamping pertama adalah bu Anis.

Laskar ZIS diketuai oleh siswa yang bernama Puji Setiawan dan di dampingi langsung oleh salah satu guru di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi yang bernama Bu Shofia Wardhani. Setelah dilakukan pra observasi atau wawancara awal Laskar ZIS digerakkan bertujuan untuk membentuk karakter siswa, dari 18 nilai karakter terdapat 3 karakter yang berkaitan dengan adanya kegiatan Laskar ZIS yaitu Religius, Peduli sosial, dan Tanggung jawab.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan sampai bab penutup. Format penulisan sistematika pembahasan adalah bentuk deskripsi naratif, bukan seperti daftar isi. Adapun sistematika pembahasan dalam proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bab satu pendahuluan, pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.

Bab dua kajian kepustakaan, berisi tentang kajian kepustakaan yang meliputi penelitian terdahulu dan kajian teori.

Bab tiga metode penelitian, berisis tentang metode penelitian dipaparkan dengan pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data serta tahap tahap penelitian.

(28)

Bab empat paparan data dan analisis data, berisi tentang penyajian data dan analisis data serta pembahasan temuan dalam penelitian yang dilakukan.

Bab lima penutup, berisi tentang kesimpulan dari semua pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, sekaligus penyampaian saran bagi pihak yang terkait.

(29)

A. Penelitian Terdahulu

Pada penelitian ini akan mencantumkan beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan judul penelitiaan peniliti. Dengan tujuan untuk menjaga keaslian penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Adapun beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian peneliti diantaranya :

1. Hilda Firdiaztutik. 2018 (IAIN Jember): dengan judul ”Penguatan Pendidikan Karakter melalui Tim Afektif SD Al-Baitul Amien 02 Jember Tahun pelajaran 2017/2018.”25 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dalam pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purpossive sumpling, sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Adapun analisis datanya menggunakan model Milles dan Huberman, sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter religius, karakter disiplin, karakter tanggung jawab melalui tim afeksi. Adapun persamaan dari penelitian ini, penelitian tersebut dan penelitian ini sama-sama membahas tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif.

25Hilda Firdiaztutik, “Penguatan Pendidikan Karakter melalui Tim Afektif SD Al-Baitul Amien 02 Jember Tahun pelajaran 2017/2018”, (Skripsi, IAIN Jember, Jember, 2017).

(30)

Perbedaanya penelitian tersebut menggunakan variabel tim afeksi, sedangkan penelitian ini menggunakan Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS).

2. Diyah Zumaroh Rahmaniar. 2018 (IAIN Jember) dengan judul“Penguatan Pendidikan Karakter melalui pembelajaran Tahfidz Al-Quran di sekolah Dasar Islam Tompokersan Lumajang Tahun Pelajaran 2018/2019.”26 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dalam pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purpossive sumpling, sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Adapun analisis datanya menggunakan model Milles dan Huberman, sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter melalui pembelajaran tahfidz al-Quran. Adapun persamaan dari penelitian ini, penelitian tersebut dan penelitian ini sama-sama membahas tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif. Perbedaanya penelitian tersebut menggunakan variabel tahfidz al-Quran, sedangkan penelitian ini menggunakan variabel Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS).

3. Ulfa Nur Fitriana. 2016 (IAIN Jember) dengan judul “Penanaman Nilai- Nilai Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa Melalui Kegiatan

26Diyah Zumaroh Rahmaniar,Penguatan Pendidikan Karakter melalui pembelajaran Tahfidz al- Quran di sekolah Dasar Islam Tompokersan Lumajang Tahun Pelajaran 2018/2019”, (Skripsi, IAIN Jember, Jember, 2018).

(31)

Ekstrakulikuler Intitus Agama Islam Negeri Jember”.27 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purpossive sumpling, sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Adapun analisis datanya menggunakan model Milles dan Huberman, sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter melalui kegiatan ekstrakulikuler pramuka. Adapun persamaan dari penelitian ini, penelitian tersebut dan penelitian ini sama-sama membahas tentang Karakter dan menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif. Perbedaanya penelitian tersebut menggunakan variabel ektrakulikuler pramuka, sedangkan penelitian ini menggunakan variabel Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS).

Tabel 2.1 Persamaan Dan Perbedaan

No Nama Judul Penelitian Persamaan Perbedaan

1 Hilda

Firdiaztutik, IAIN Jember, 2018

Penguatan Pendidikan Karakter melalui Tim Afeksi SD Al-Baitul Amien 02 Jember Tahun 2017/2018.

 penelitian ini menggunakan metode penelitian yang sama yaitu kualitatif

deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field risearch).

 Persamaan penelitian ini

 Lokasi penelitian.

 Penelitian tersebut menggunakan variabel tim afeksi, sedangkan variabel peneliti ini

menggunakan Laskar ZIS (Zakat, Infaq dan

Shadaqah).

27 Ulfa Nur Fitriana, “Penanaman nilai-nilai Pendidikan karakter bagi mahasiswa melalui kegiatan ekstrakulikuler Intitus Agama Islam Negeri jember, (Skripsi, IAIN Jember, Jember, 2018).

(32)

yaitu sama-sama meneliti dan membahas tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

2 Diyah

Zumaroh, IAIN Jember, 2018.

Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Tahfidz al-Qu’an di Sekolah Dasar Islam

Tompokersan Lumajang Tahun Pelajaran 2018/2019.

 Jenis penelitian ini juga

menggunakan penelitian lapangan atau field research.

 Penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

 Lokasi penelitian.

 Penelitian tersebut menggunakan variabel Tahfidz al-Qur’an,

sedangkan variabel peneliti ini

menggunakan Laskar ZIS (Zakat, Infaq dan

Shadaqah).

3 Ulfa Nur Fitriana, IAIN Jember, 2016.

Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Institut Agama Islam Negeri Jember.

 penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang pendidikan karakter dan menggunakan penilitian kualitatitif.

 Lokasi penelitian

 Penelitian tersebut menggunakan variabel ekstrakulikuler pramuka,

sedangkan variabel peneliti ini

menggunakan Laskar ZIS (Zakat, Infaq dan

Shadaqah).

Dengan memperhatikan penelitian terdahulu, penelitian yang akan dilakukan ini layak dan penting untuk dilaksanakan karena dari ke penelitian tersebut masih menyisahkan celah yang bisa diperdalam.

(33)

B. Kajian Teori

1. Penguatan Pendidikan Karakter

a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karkter

Penguatan adalah segala bentuk respon yang merupakan bagian dari odifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku peserta didik, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik peserta didik atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan.28

Sedangkan menurut Usman, penguatan adalah segala bentuk respon, apakah bersifat verbal atau nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan atau koreksi. Atau, penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpastisipasi dalam interaksi belajar mengajar.29

Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog jerman F.W.Foerster. terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis Spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan Normatif. Yang menjadi

28Farida Rahim, Pengajaran Membaca Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2018), 117.

29Usman, Menjadi Guru..., 80-81.

(34)

prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.

Menurut Lickona bahwa untuk mendidik karakter dan nilai nilai yang baik, termasuk di dalamnya nilai keimanan kepada Tuhan YME diperlukan pembinaan terpadu atara ketiga dimensi sebagaimana gambar berikut (modifikasi dari penulis untuk menunjukkan pentingnya Penciptaan Suasana Religius).30

Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang dipelopori oleh Filsuf Prancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan yang meredusir pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.31

Pendidikan dan karakter merupakan dua istilah yang berdiri makna dan hakikatnya masing-masing, namun akan memiliki makna khusus, ketika keduanya digabungkan kedalam satu tema khusus.

Meskipun demikian pendidikan karakter memiliki konsentrasi tersendiri, yaitu terbentuknya sebuah karakter siswa-siswi melalui proses pendidikan.

30 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 59.

31Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2011), 37.

(35)

Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata didik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntutan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan kata pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.32

Pendidikan menurut john dewey adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelectual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Tujuan pendidikan dalam hal ini agar generasi muda sebagai penerus generasi tua dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma tersebut dengan cara mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang melatarbelakangi nilai-nilai dan norma-norma hidup dan kehidupan. Pendidikan karakter, alih-alih disebut pendidikan budi pekerti, sebagai pendidikan moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam tindakan nyata.33

Dengan demikian, Pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri manusia dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradap. Pendidikan bukan hanya sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana

32Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 263.

33Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2011), 67.

(36)

pembudayaan dan penyaluran nilai. Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan.34

M. Furqon Hidayatullah mengutip pendapatnya Rutland yang mengemukakan bahwa karakter berasal dari kata bahasa latin yang berarti “dipahat”, Seecara harfiah, karakter artinya kualitas mental, kekuatan moral, atau reputasinya Hornby dan Parnwell dalam kamus psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau mmoral, misalnya kejujuran seseorang; biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.35

Menurut Simon Philips dalam buku refleksi karakter bangsa, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.36

Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.37

34Ibid., 69.

35 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: DIVA Press, 2013), 28.

36Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2011), 70.

37Ibid., 29.

(37)

Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona yang mendasarkan pada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Ia menegaskan bahwa karakter yang baik adalah apa yang diinginkan untuk anak-anak. Lickona juga menyitir pendapat Michael Novak, seorang filsuf komtemporer, yang mengemukakan bahwa karakter merupakan campuran yang harmonis dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi Religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang yang berakal sehat yang ada dalam sejarah.38

Pendidikan karakter berasal dari kata pendidikan dan karakter.

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri individu dan masyarakat menjadi beradab. Sedangkan karakter memiliki persamaan makna dengan kepribadian. Kepribadian merupakan sifat khas seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima lingkungan.39

Dari pengertian karakter diatas, dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia maupun lingkungan, yang terwujud dalam pikiran,

38Marzuky, Pendidikan karakter Islam, (Jakarta: Amzah, 2017), 20.

39Doni A Koesoema, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern, (Jakarta:

Grasindo, 2007), 80.

(38)

sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatannya berdasarkan norma- norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.40

Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada siswa-siswi, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukannya. Dengan demikian, pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak dan pendidikan moral. Selanjutnya, Frye menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja untuk membantu seseorang memahami, menjaga, dan berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter mulia.41

Penguatan pendidikan karakter merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakzan bagian dari gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).42 Dalam pasal 3 Perpress No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan pendidikan Karakter berbunyi, “PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam pendidikan karakter terutaman mmeliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, displin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah

40Marzuky, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Imprint Bumi Aksara, 2015), 21.

41Ibid., 23.

42Imas kuniasih dan Berlin sani, Pendidikan karakter internalisasi dan metode pembelajaran di sekolah, (Jogjakarta: Kata Pena, 2017), 171.

(39)

air, mmenghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.”43

Jadi pendidikan karakter adalah suatu pembelajaran yang mendidik guna memperbaiki akhlak seseorang dan budi pekerti agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.44

b. Nilai–Nilai Penguatan Pendidikan Karakter

Pendekatan penanaman nilai (Inculcation Approuch) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Menurut pendekatan ini, tujuan pendidikan nilai adalah diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa dan berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan.45

1) Religius 2) Jujur 3) Toleransi 4) Disiplin 5) Kerja keras 6) Kreatif 7) Mandiri 8) Demokratis 9) Rasa ingin tahu

43Perpress_Nomor_87_Tahun_2017.

44Peneliti, Observasi, Banyuwangi, 11 Februari 2019.

45Mansur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab tantangan krisis Multidimensional, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2011), 108.

(40)

10) Semangat kebangsaan 11) Cinta tanah air

12) Menghargai prestasi 13) Bersahabat/komunikatif 14) Cinta damai

15) Gemar membaca 16) Peduli lingkungan 17) Peduli sosial

18) Tanggung jawab dll.46

c. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pemmbentukan diri secara terus mmenerus (on going foration).47

Pendidikan karakter juga bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kopetensisi

46 Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &

Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 112.

47 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: DIVA Press, 2013), 42.

(41)

lulusan. Melalui pendidikan karakter, di harapkan siswa-siswi mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari- hari.48

Jalaluddin dalam buku Teologi Pendidikan membagi Tujuan pendidikan Islam dalam beberapa dimensi, di antaranya :

1) Dimensi hakikat penciptaan manusia, yaitu pendidikan bertujuan untuk membimbing perkembangan siswa-siswi secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah yang setia.

2) Dimensi tauhid, yaitu pendidikan bertujuan mengarahkan manusia sebagai hamba Allah yang bertakwa kepada-nya.

3) Dimensi moral, yaitu pendidikan bertujuan upaya pengenalan terhadap nilai-nilai yang baik, kemudian diinternalisasikan, serta diaplikasikan dalam sikap dan perilaku melalui pembiasaan.

4) Dimensi perbedaan individu, yaitu pendidikan bertujuan usaha membimbing dan mengembangkan potensi siswa-siswi secara optimal, menyesuaikan perkembanganya dengan kadar kemampuan dari potensi yang dimilikinya masing-masing.

5) Dimensi sosial, yaitu pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia agar berperan dalam statusnya sebagai an-Nas (makhluk Sosial), Abdullah (hamba pengabdi Allah), dan khalifah Allah.

48 Ibid., 43.

(42)

6) Dimensi profesional, yaitu pendidikan bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi siswa-siswi sesuai dengan bakat masing- masing.

7) Dimensi ruang dan waktu, yaitu pendidikan bertujuan pada dua tujuan utama, yakni upaya untuk memperoleh keselamatan hidup di dunia dan kesejahteraan hidup di akhirat.49

Hal ini sejalan dengan firman Allah Q.S. al-Baqarah [2]: 201:































Artinya: “Dan di antar mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka’.”50

Konklusi dari tujuan pendidikan diatas adalah:

1) Dimensi keimanan dan ketakwaan siswa-siswi kepada Allah SWT.

2) Dimensi pemahaman atau pengetahuan tentang ilmu keIslaman.

3) Dimensi pengalaman dari ilmu yang sudah didapat.51 d. Fungsi Penguatan Pendidikan Karakter

Sebagaimana dikutip dari Akhmad Fikri bahwa fungsi pendidikan karakter adalah:

1) Pengembangan: pengembangan potensi dasar peserta didik agar berhati, berpikiran, dan berperilaku baik;

49Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &

Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 105.

50Al-Qur’an. al-Baqarah: 201.

51Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &

Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 106.

(43)

2) Perbaikan: memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur untuk menjadi bangsa yang bermartabat;

3) Penyaring: untuk menyaring nudaya yang negatif dan menyerap budaya yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa untuk meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Adapun fungsi pendidikan karakter menurut kementrian Pendidikan Sosial adalah:

1) Pengembanagn potensi dasar, agar”berhati baik, berpikir baik, dan berperilaku baik.

2) Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik.

3) Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.52

e. Tahap-Tahap Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter membutuhkan proses atau tahapan secara sistematis dan gradual, sesuai dengan fase pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ary Ginanjar Agustin, pembangunan karakter tidaklah cukuphanya dimulai dan diakhiri dengan penetapan misi. Akan tetapi, hal ini perlu dilanjutkan dengan proses yang dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup.53

52Salahuddin dan Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Karakter Berbasis Agama &

Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka setia, 2013), 105.

53 Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Mebangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, (Jakarta:

Arga, 2008), 278.

(44)

Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan yang diketahuinya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut.

Pengembangan karakter dalam sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku. Hal ini dapat dilakukan secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia internasional.54

Sementara itu, Furqon Hidayatullah55 mengklasifikasikan pendidikan karakter dalam beberapa tahap. Berikut beberapa tahap tersebut.

1) Tahap Penanaman Tanggung Jawab

Tanggung jawab merupakan perwujudan dari niat dan tekad untuk melalukan tugas yang diemban. Misalnya, anak diberi tanggung jawab menunggu toko di rumah dari pukul 17.00-17.30 WIB. Ternyata, ia melakukan tugas dengan baik, dan meinta izin

54 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), 87.

55Furqan Hidayatullah, Pendidikan Karkater: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), 32.

(45)

saat berhalangan. Ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri.

2) Tahap Penanaman Kepedulian

Kepedulian adalah empati kepada orang lain yang diwujudkan dalam bentuk memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Anak diajari menolong temannya yang sedang dilanda musibah. Misalnya: mengunjungi teman yang sedang sakit, membawakan makanan, mengajari teman tentang materi yang belu dipahami, berbagi ketika sedang makan, dan lain sebagainya.

3) Tahap Penanaman Pentingnya Bermasyarakat

Bermasyarakat adalah simbol kesediaan seseorang untuk bersosialisasi dan bersinergi dengan orang lain. Bermasyarakat berarti meluangkan sebagian waktu untuk kepentingan orang lain.

Beraasyarakat identik dengan bercengkrama, bergaul, dan gotong- royong.56

f. Tips Efektif Pendidikan Karakter di Sekolah 1) Menanamkan keikhlasan

Dunia Pendidikan merupakan dunia pengabdian yang suci bagi bangsa dan negara. Tugas utama pendidikan adalah melahirkan kader-kader penerus bangsa yang berkualitas tinggi, baik moralitas, intelektualitas,dan spiritualnya. Menurut Imam Ghazali, seseorang bisa ikhlas jika mempunyai keyakinan bahwa

56 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: Diva Press, 2013), 93.

(46)

hanya Allah-lah yang memiliki kekuatan. Sedangkan manusia dan seluruh makhluk tidak mepunyai kekuatan apa-apa. Dari sini seseorang yang melakukan pekerjaan apapun tidak mengharapkan balasan dari orang lain karena hanya Allah SWT Yang bisa membalasnya.

2) Membuat program praktik pendidikan karakter

Pendidikan karakter membutuhkan jam terbang tinggi dalam rangka menanamkan karakter kerja keras, disiplin, pantang menyerah, suka berproses, dan mempunyai mental kuat untuk mengalahkan lawan. Sebab, dari sanalah akan teruji mentalitas dan paradigma berpikir anak dalamm menghadapi situasi dan kondisi sesulit apa pun.

Untuk itu, perlu dipikirkan bersama seandainya disetiap sekolah membuat praktik pendidikan karakter, misalnya selama satu bulan sesuai dengan bakat dan minat siswa, Masing-masing sekolah seyogianya mempunyai agenda praktik tersebut, Sehingga pendidikan karakter tidak berhenti pada tataran teori yang membosankan dan dijadikan bahan tertawaan di kelas, masyarakat, dan media. Para pengambil kebijkan di sekolah sudah saatnya melakukan terobosan ide dan strategi dalam pembinaan karakter yang berkualitas, karakter yang menjadi pondasi dalam meraih kesuksesan gemilang di masa depan, masa kompetisi dan tantangan yang berjalan secara ketat, keras, dan penuh resiko.

(47)

Saat ini, sulit sekali menjupai lembaga pendidikan yang menerapkan progra praktik pendidikan karakter. Sehingga, kenyataan ini menjadi peluang bagi semua lembaga pendidikan untuk melakukan uji coba, terus mengevaluasi, dan mengembangkannya secara progresif demi keberhasilan pendidikan karakter di sekolah.57

Dari beberapa nilai-nilai karakter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa point karakter yang diangkat oleh peneliti, dimana point nilai karakter tersebut berkaitan dengan judul yang peneliti angkat, yaitu religius, peduli sosial, dan tanggung jawab.

a) Nilai Religius

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa religius berarti: bersifat religi atau keagamaan, atau yang bersangkut paut dengan religi (keagamaan). Penciotaan suasana religius berarti menciptakan suasana atau iklim kehidupan keagamaan.58

yaitu segenap cinta Tuhan dan Segenap ciptaannya, nilai ini merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apabila seseorang bisa mencintai Tuhannya, kehidupan akan penuh kebaikan.59

57 Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, ( Jogjakarta: Diva Press, 2013), 177.

58 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 61.

59Akhmad Muhamimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, (Jogjakarta: AR-RUZZ Media, 2011), 30.

(48)

Jadi nilai religius juga sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Dalam konteks pendidikan agama Islam ada yang bersifat vertikal dan Horizontal. Yang vertikal berwujud hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah), misalnya shalat, doa, puasa, khataman, al-Qur’an, dan lain-lain. Yang horizontal berwujud hubungan manusia dengan sesama (habl min an-nas), dan hubungan mereka dengan lingkungan alam sekitarnya.60

Nilai religius meliputi 3 macam, yaitu:

(1) Habl min Allah (Hubungan manusia dengan Tuhannya) seperti membaca al-Qur’an sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, Shalat dhuha, shalat dhuhur, dan membaca kitab ta’limul muta’alim.

(a) Habl min Allah (Hubungan manusia dengan Tuhan- Nya).

Perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah adalah ucapan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, akhlak manusia yang baik kepada Allah adalah manusia yang mengucapkan dan bertingkah laku yang terpuji

60 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 61.

(49)

kepada Allah SWT, baik ucapan melalui ibadah langsung kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, maupun melalui perilaku tertentu yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah di luar ibadah tersebut.61

Tata kehidupan itu perlu diatur dengan norma- norma aturan syari’ah yang diambil dari ajaran-ajaran Islam. Sebab, setiap manusia selain hidup di dunia juga akan menjalani kehidupan akhirat yang kebahagiaan atau kesengsaraannya ditentukan oleh akumulasi pahala dan dosa dari perbuatan-perbuatan baik atau jahat di dunia. Sementara ketentuan-ketentuan hukum yang diambil dari ajaran Islam termasuk bagian yang menyediakan pahala tersebut. Dengan demikian, kenyamanan, serta kebahagiaan dalam kebahagiaan dalam kehidupan dalam kehidupan dunia ini, juga akan membawa pada kebahagiaan akhirat kelak.

Dalam pada itu, secara psikologis setiap manusia senantiasa mengakui adanya kekuatan supranatural sehingga melahirkan berbagai kegiatan ibadah untuk melakukan kontak dengan kekuatan tersebut. Islam, lewat ajaran-ajaran syari’ahnya mengajarkan bagaimana

61Zainudin Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 33.

(50)

hubungan dengan Tuhan dilakukan dan bagaimana segala perbuatan ini dipertanggungjawabkan di hadapannya.62

Akhlak kepada Allah diatas akhlak kepada makhluk, sebab Allah adalah Khaliq yang menciptakan semua makhluk. Dengan demikian, akhlak kepada Allah adalah akhlak terpenting yang harus dipahami dan diaplikasikan seorang Muslim di dalam kehidupannya.

Bahkan pada batas tertentu seseorang dianggap tidak beriman ketika ia tidak memiliki akhlak kepada Allah dengan semestinya.

Akhlak kepada Allah terkait dengan respons imani dan amali seorang hamba kepada Tuhannya. Hal ini memiliki korelasi objektif dengan hak-hak Allah yang harus dipenuhi seorang makhluk. Di antaranya adalah pengakuan asasinya terhadap eksistensi ketauhidan Allah. Manusia yang berakhlak kepada Tuahannya adalah mereka yang mentahidkanNya dan tidak menserikatkan-Nya.63

Tauhid adalah mengesakan Allah, mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dasar agama Islam adalah iman kepada Allah yang Maha Esa, yang disebut

62Ramli Nur, Revolusi Akhlak: Pendidikan Karakter (Tangerang: Tsmart, 2016), 20.

63Ibid., 30.

(51)

dengan tauhid. Tauhid dapat berupa pengakuan bahwa Allah SWT satu-satunya yang memiliki sifat rububyyah dan uluhiyyah, serta kesempurnaan nama dan sifat.64

Hakikat pembagian tauhid tersebut dan bagaimana seorang makhluk berakhlak dengan-Nya. a) tawhid rubbubiyyah. b) tauhid uluhiyyah c) tauhid al- as-sifat

i. Tawhid rubbubiyyah.

Tawhid rubbubiyyah adalah mentauhidkan Allah dengan amal dan pernyataan yang tegas bahwa Allah adalah Tuhan, Raja, Pencipta semua makhluk.

Cakupan tawhid rububiyyah tidak saja mengakui bahwa Allah semesta yang berkuasa untuk menciptakan alam semesta dan mengaturnya, tetapi juga mengakui kekuasaan Allah untuk mematikan dan menghidupkan makhlukNya, memuliakan dan menghinakan makhluk, serta mengangkat dan menurunkan seseorang dari kekuasaanya. Dia juga memberikan perlindungan dan keamaan kepada siapasaja yang dikehendakinya. Juga tugas Allah untuk memberi rezki kepada seluruh makhlukNya.65

64Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak (Jakarta: amzah, 2016), 183.

65Ramli Nur, Revolusi Akhlak: Pendidikan Karakter (Tangerang: Tsmart, 2016), 33.

(52)

ii. Tauhid uluhiyyah.

Tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid al- ibadah, yaitu mentauhidkan Allah melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepadaNya. Seperti berdoa, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), zabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyariatkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukanNya.

Semua bentuk ibadah harus dilakukan hanya kepada Allah semata dengan ikhlas. Dalam pada itu, ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Sebab, hanya Allah yang berhak untuk diibadahi.

Oleh sebab itu, ketika seseorang tidak melakukan hak-hak Allah dalam hal ini, yakni tidak beribadah kepadaNya atau melakukan ibadah bukan kepadaNya atau bersamaNya, maka seseorang itu telah berakhlak buruk kepada Allah, bahkan untuk yang terakhir kali telah menjadikannya sebagai syirik.

iii. Tawhid al-asma’ wa as-sifat.

Berawal dari mentauhidkan Allah swt.

Perbedaanya, tauhid al-asma’ wa as-sifat adalah meninggalkan atau mengesakan Allah pada asma’

(53)

dan sifatNya, sementara dua bagian tauhid sebelumnyapada pada perbuatan Allah dan peribadahan kepadaNya.66

(2) Habl min an-nas (Hubungan manusia dengan sesama manusia) seperti membantu teman yang sedang kesusahan, berbagi bekal dengan teman.

(a) Habl min an-nas (Hubungan manuisa dengan manusia).

Hubungan horizontal menuntut manusia untuk berperan di tengah-tengah lingkungan masyarakat dan berusaha menciptakan lingkungan yang harmonis antar sesamanya. Hubungan ini secara luas juga mencakup seluruh aspek kehidupan dan lapangan pergaulan sosial yang berskala global baik hubungan dengan sesamanya maupun hubungan dengan alam sekitarnya. Secara singkat dapat dikatakan hubungan sosial itu mulai dari bentuk satuan yang terkecil, yaitu keluarga, masyarakat, sampa

Gambar

Tabel 2.1 Persamaan Dan Perbedaan
Tabel 4.3 Matrik Temuan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

PENGEMBANGAN KARAKTER RELIGIUS SISWA MELALUI PROGRAM PEMBELAJARAN PIDATO [Studi Kasus di Madrasah Aliyah (MA) Darul Huda Wonodadi

Bisa dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, bahwa dalam pengorganisasian (organizing) yang diterapkan oleh Lembaga Amil Zakat Infaq

Penelitian ini berjudul Penguatan Karakter Siswa Melalui Budaya Religius Di Madrasah Aliyah Nurul Huda Wates Wetan Ranuyoso Lumajang. Dengan fokus Penelitian yaitu

Beberapa hambatan atau kendala dalam penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PPKn Kelas X di Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Klaten berasal dari tiga sumber yakni:

Skripsi dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Ekonomi Terhadap Nilai Karakter Tanggung Jawab Siswa di Pondok Pesantren Madrasah Aliyah Darel Hikmah Pekanbaru” merupakan

Pasific Harvest Muncar Banyuwangi adalah ketersediaan barang mentah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar dan bahan baku untuk jenis-jenis produk tertentu yang sangat bergantung

Upaya guru kelas dalam pembentukan karakter tanggung jawab siswa kelas V di SD Negeri 47 Bengkulu Selatan yaitu: a melalui kegiatan rutin seperti tugas piket kebersihan, b melalui

Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa Lembaga Amil Zakat Yayasan Nurul Hayat dalam mendayagunakan dana ZIS ini membagi dana dana yang telah terhimpun menjadi lima 5 sektor yaitu