BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai prespektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, posisi teori dalam penelitian kualitatif diletakkan sebagai prespektif atau pisau analisis, bukan untuk diuji.23 1. Guru
a. Pengertian guru
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.24
Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, hanya saja ruang
23 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 46.
24 Undang-undang Republik Indonesia, No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 Ayat 1 (Bandung: Citra Umbara,2012),2.
lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar disekolah negri ataupun swasta.25
Menurut Zakiah Dradjat, Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua.26
b. Kompetensi guru
Kompetensi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru dalam Jaja Suteja: “Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesiannya”. 27Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tersebut, adalah “kompetensi guru sebagai mana meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.
28Adapun penjelasan dari beberapa kompetensi guru diatas sebagai berikut :
1) Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya
25 Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 45.
26 Zakiah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 39.
27 Jaja Suteja, Etika Profesi Keguruan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 39.
28 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
meliputi: a) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan b) Pemahaman terhadap peserta didik c) Pengembangan kurikulum atau silabus d) Perancangan pembelajaran e) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis f) Pemanfaatan teknologi pembelajaran g) Evaluasi hasil belajar dan h) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.29
2) Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang: a) Beriman dan bertakwa b) Berakhlak mulia c) Arif dan bijaksana d) Demokratis e) Mantap f) Berwibawa g) Stabil h) Dewasa i) Jujur j) Sportif k) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat l) Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri dan m) Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.30
3) Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk: a) Berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat secara santun b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan
29 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
30 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku dan e) Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
4) Kompetensi professional
Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan: a) Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu b) Konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.31 c. Karakteristik Guru
Guru yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut: 32 1) Memiliki keahlian pokok: a) meliputi pengetahuan tentang materi
pelajaran secara menyeluruh dan menunjukkan antusisme yang menular mendalami secara kontinyu b) menguasai materi lebih jauh dari sekedar yang tertuang dalam buku teks standar c) meneliti dan mengembangkan pikiran-pikiran penting dan asli mengenai materi
31 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
32 Sudarman Danim, dan Khairil, Psikologi Pendidikan (Dalam Perspektif Baru).
Bandung: Alfabeta, 2011), 244-245.
pelajaran khusus d) mendalami secara kontinyu mata pelajaran, menganalisis sifat dan cakupan materi pelajaran, dan mengevaluasi kualitas e) mengamati perkembangan secara teratur dalam mata pelajaran terkait dan pengembangan intelektual bidang lain yang menunjang f) memiliki minat yang kuat dalam isu-isu yang lebih luas demi pengembangan intelektual yang mengagumkan.
2) Ahli pedagogis, seperti menetapkan tujuan pembelajaran yang sesuai dan mampu mengkomunikasikannya dengan jelas, menunjukkan sikap positif dan kepercayaan terhadap siswa, serta secara kontinyu bekerja untuk mengatasi kendala yang mungkin menghambat kemajuan belajar, mengevaluasi dan menilai siswa secara adil dan cepat.
3) Komunikasi yang unggul: a) Menunjukkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan yang efektif b) Menunjukkan kemampuan berorganisasi dan ketrampilan perencanaan yang baik c) membantu siswa belajar menggunakan ketrampilan berkomunikasi yang efektif d) mendengarkan dengan penuh perhatian, bersemangat, dan menunjukkan keakraban e) Memanfaatkan alat pembelajaran secara tepat dan efektif.
d. peranan guru dalam proses belajar mengajar
Menurut Suparlan guru memiliki kesatuan peran dan fungsi yang tidak dapat dipisakan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Keempat kemampuan tersebut
merupakan kemampuan integratif, yang antaranya satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan.33 Berikut peranan guru dalam belajar mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut :
1) Informator
Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. Dalam pada itu berlaku teori komunikasi.
2) Organisator
Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehinga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar diri siswa.
3) Motivator
Peranan guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan untuk mendimanisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas), daya cipta (kreativitas), sehinga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting dalam interaksi belajar-mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan pendidik yang membutuhkan
33 Suparlan, Menjadi Guru Efektif, ( Yogyakarta: Hikayat, 2005),25.
kemahiran sosial, menyangkut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
4) Pengarah/director
Jiwa kepimimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan dan cita- cita, guru harus juga handayani.
5) Inisiator
Guru disini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.
Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya.
6) Fasilitator
Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar akan berlangsung secara efektif.
7) Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan guru sebagai penegah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengai atau memberi jalan keluar kemacetan dalam diskusi siswa. Mediator juga diartikan sebagai penyedia media. Bagaimana cara memakai dan mengorganisasikan media.
8) Pendidik
Sebagaai pendidik, guru harus membimbing dan menumbuhkan sikap dewasa dari pesertadidik. Guru adalah seorang pendidik formal, ia juga adalah sebagai toko dan panutan bagi para siswaya dan juga bagi orang-orang atau masyarakat disekitarya agar menjadi pendidik yang baik maka seorang guru perlu memiliki standar kepribadian tertentu yang mencakup, tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.34
2. Kemampuan Kognitif
a. Pengertian kompetensi anak usia dini
Pengertian kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.
b. Standard kompetensi anak usia dini
Pengembangan aspek-aspek pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini harus mengacu pada standar kompetensi anak usia dini antara lain sebagai berikut.35
1) Moral dan nilai-nilai agama
Nilai-nilai agama dan moral yang diajarkan pada anak usia dini adalah perilaku positif, kemandirian, disiplin, kejujuran dan
34 P. Ratu Ile Tokan, Manajemen Peneitian Guru untuk Pendidikan Bermutu (Jakarta: PT Grasindo, 2016), hlm. 298.
35 Standard kompetensi dalam pembelajaran, 02, 2014 , https://paud.anakbermainbelajar.blogspot.com.
perilaku lainnya. Kegiatan pembiasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai agama juga harus diberikan, seperti penguasaan terhadap do’a-do’a sehari-hari.
2) Fisik/motorik
Dalam hal ini pendidik harus mampu merangsang perkembangan fisik dan motorik anak sesuai dengan usia perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai permainan-permainan edukatif.
3) Sosial dan Emosional
Anak dididik untuk dapat mengembangkan kemampuan sosial melalui proses sosialisasi. Melalui aspek ini anak dibekali dengan kemamuan memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya, tentunya melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus.
4) Bahasa
Dalam aspek ini, anak didorong untuk menguasai kemampuan berkomunikasi sesuai dengan masa perkembangannya.
Kemampuan berbahasa dilihat dari usia perkembangan anak dapat dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode prelinguistik (0-1 tahun) dan periode linguistik (1-5 tahun).
5) Kognitif
Perkembangan kognitif anak biasanya mengacu pada pendapat Piaget yang membagi perkembangan kognitif anak
menjadi empat tahapan, yaitu periode sensorimotorik (usia 0-2 tahun), periode praoperiosaional (2-7 tahun), periode operasional konkrit (7-11 tahun) dan periode operasional formal (usia 11 sampai dewasa).
6) Seni
Kemampuan dibidang seni dapat dikembangkan dalam musik, seni tari, seni gambar dan keterampilan lainnya yang memberikan kemampuan seni estetik dan artistik kepada anak usia dini.
c. Pengertian Kognitif
Kemampuan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini. Kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan. Selanjutnya kognitif juga dapat diartikan dengan kemampuan belajar, berpikir, atau kecerdasan yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru, keterampilan untuk memahami apa yang terjadi dilingkungan, serta keterampilan menggunakan daya ingat dan menyelesaikan soal-soal sederhana.36
Menurut Piaget ada empat tahap dalam perkembangan kognitif (berpikir) anak.Tahap-tahap tersebut adalah tahap sensomotorik (baru
36 Khadijah, Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing,2016), 31.
lahir-2 tahun), tahap pra-operasional (2 tahun-7 tahun), tahap operasional konkret (7 tahun-11 tahun), dan tahap operasional formal (11 tahun-15 tahun keatas). 37Pada rentang usia 3-4 tahun sampai 5-6 tahun mulai memasuki masa pra sekolah yang merupakan masa kesiapan anak untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar.38
Kognitif merupakan suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan sesuatu.
Dapat juga dimaknai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan.39 Kemampuan kognitif juga merupakan salah satu kemampuan dasar yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya.Bidang pengembangan kognitif pada materi pengembangan mengenal konsep bilangan bertujuan agar anak mampu mengolah perolehan belajarnya, menemukan alternatif pemecahan masalah, pengembangan kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu, kemampuan memilah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan kemampuan berpikir secara teliti. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat
37 Khadijah, Pendidikan Prasekolah (Medan: Perdana Publishing, 2016), 105.
38 Khadijah, Media Pembelajaran Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing, 2015), 3.
39 Asbullah, Muslim, Pengaruh Media Gambar Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Usia Dini (Jurnal-Al- Mutha'aliyah STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang, 2017), 179.
kecerdasan yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ideide dan belajar.40
Sehubungan dengan kemampuan kognitif anak, terdapat beberapa klasifikasi tentang kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun.
Tujuan pengembangan kognitif diarahkan pada pengembangan kemampuan auditory (bunyi, indera pendengaran anak), visual (penglihatan, pengamatan, perhatian, tanggapan, dan persepsi, anak terhadap dalam lingkungan), taktik (pengembangan tekstur, indera peraba), aritmatika (penguasaan berhitung/konsep berhitung permulaan), geometri (konsep bentuk dan ukuran), dan sains permulaan (percobaan/demonstrasi).
d. Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan intelek/kognitif tersebut yaitu sebagai berikut:
1) Karakteristik Tahap Sensor-Motoris
Tahap sensor-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol adalah sebagai berikut:
a) Segala tindakan masih bersifat naluriah. b) Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indra. c) Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategorikan pengalaman. d) Individu
40 Puspita, Penggunaan Media Flashcard Terhadap Kemampuan Kognitif Mengenal Konsep Bilangan 1-10 Di Kelompok A TK Islam Insan L-Firdaus (Jurnal Universitas Negeri Surabaya), 2-3.
mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema sensor-motorisnya.
2) Karakteristik Tahap Praoperasional
Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik yang menonjol adalah sebagai berikut:
a) Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi b) Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide. c) Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat. d) Cara berfikir individu bersifat egosentris ditanfai dengan tingkah laku: berfikir imajinatif, berbahasa egosentris, dan menampakkan dorongan rasa ingin tahu yang tinggi.
3) Karakteristik Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret yaitu ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang telah tampak saja dan bagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berfikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berfikirnya sudah tampak sistematis dan logis. Artinya mudah memahami konsep pengertian yang dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.
4) Karakteristik Tahap Operasional Formal
Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik yang menonjol sebagai berikut:
a) Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. b) Individu mulai mampu berfikir logis dengan objek-objek yang bersifat abstrak. c) Individu mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis. d) Individu bahkan mulai mampu untuk mengintropeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai.41
e. Metode Perkembangan Kemampuan Kognitif
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Berkaitan dengan penerapan pengembangan kognitif pada anak usia dini, maka pendidik dapat menerapkan program kegiatan bermaian sambil belajar bagi anak usia dini dengan menggunakan metode yang tepat yang ada di jenjang PAUD.
Berikut ini macam-macam metode bermain sambil belajar dalam mengembangkan kognitif anak usia dini, sebagai berikut:42
41 Muhammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 31-32.
42 Khadijah, Pengembangan Kognitif AUD Teori dan Pengembangannya (Medan : Perdana Publishing, 2016), 87-119.
1) Metode Bermain
Kegiatan bermain merupakan wahana bagi anak dalam melakukan berbagai eksperimen tentang berbagai konsep yang diketahui dan yang tidak diketahui.
2) Metode Bercerita
Metode bercerita merupakan usaha penananman materi- materi pembelajaran agar membekas dalam bentuk pemahaman dan pengalaman pengembangan kognitif anak,43 atau merupakan cara mengajar dengan meredaksikan kisah untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung didalamnya, bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.44
3) Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pembelajaran oleh guru dengan jalan mengejukan pertanyaan dan siswa menjawab, atau cara penyajian pelajaran dalam bentuk sejumlah pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi ada pula dari siswa kepada guru.45
4) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi ialah suatu cara penyajian materi pembelajaran kepada anak dengan mengadakan percobaan dan
43 Khadijah, 92.
44 Junaidi, Arsyad, Metode Pendidikan Rasulullah SAW (Medan: Perdana Publishing, 2017), 26.
45 Junaidi, Arsyad, 25.
mengalami langsung serta membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajarinya, yang bertujuan agar anak mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu atau metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang disajikan.46
5) Metode Sosiodram
Metode sosiodrama ialah suatu dramatisasi untuk memecahkan suatu masalah yang didramatisasikan yang tidak menggunakan bahan tertulis, latihan terlebih dahulu dan tanpa menyruh anak untuk melafalkan ssuatu, selanjutnya dapat meningkatkan hubungan sosial melalui berkomunikasi, berekspresi dengan bermain peran dan biasanya menceritakan kehidupan sehari-hari anak, sehingga ini sangat membantu dalam megasah kecerdasan kognitif anak.47
f. Tujuan Mengembangkan Kognitif
Dalam mengembangkan kognitif bertujuan sebagai:
1) Belajar untuk memecahkan/menyelesaikan masalah yaitu dengan menggunakan informasi, sumber, dan materi yang diperoleh.
2) Berpikir logis, mengumpulkan dan menggunakan informasi yang masuk akal dengan cara membandingkan, membedakan,
46 Junaidi, Arsyad, 25.
47 Khadijah, Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing, 2016), 87-122.
mengontraskan, memilih, mengelompokkan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola.
3) Menampilkan dan berpikir secara simbolis menggunakan benda unik misalnya kursi menjadi kuda-kudaan.48
g. Standar Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini usia 4-5 Tahun 1) Belajar dan pemecahan masalah
a) Mengenal benda berdasarkan fungsi (pisau untuk memotong, pensil untuk menulis)
b) Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik (kursi sebagai mobil)
c) Mengenali konsep-konsep sederhana dalam kehidupan sehari- hari (gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb)
d) Mengetahui konsep banyak dan sedikit
e) mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri yang terkait dengan berbagai pemecahan masalah
f) Mengamati benda dan gejala dengan rasa ingin tahu g) Mengenal pola kegiatan dan menyadari pentingnya waktu h) Memahami posisi/ kedudukan dalam keluarga, ruang
lingkungan sosial (misal : sebagai peserta didik/anak/ teman) 2) Berfikir logis
a) Mengklasifikasikan benda berdasarkan fungsi, bentuk, atau warna atau ukuran
48 Nasriah, dkk Konsep Dasar PAUD (Medan: Unimed Press, 2013), 126.
b) Mengenal gejala sebab akibat yang terkait dengan dirinya c) Mengklasifikasikan benda kedalam kelompok yang sama atau
kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi
d) Mengenal pola (misal, AB-AB dan ABC-ABC) dan mengulanginya
e) Mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi ukuran atau warna 3) Berfikir simbolik
a) Membilang banyak benda atau sampai sepuluh b) Mengenal konsep bilangan
c) Mengenal lambang bilangan d) Mengenal lambang huruf 3. Media Dadu Angka
a. Pengertian media pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin, yakni “medius” yang secara harfiyah berati “tengah, pengantar atau perantara”. Media merupakan alat bantu guru dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik. Media juga termasuk alat komunikasi, karena pendidikan adalah proses komunikasi. Dalam pendidikan media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dan informasi, serta
mengandung materi intruksional dalam proses pembelajaran sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar . 49
Media adalah peranan penting yang dalam proses kegiatan belajar mengajar. Denggan adanya media. Proses kegiatan belajar mengajar akan semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan media diharapkan akan menumbuhkan dampak positif. Seperti munculnya proses pembelajaran yang lebih kondusif. Terjadinya umpan balik dalam proses belajar mengajar. Dan mencapai hasil yang optimal.50 Adapun manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa yaitu:
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkanya menguasi dan mencapai tujuan pembelajaran.
3) Metode belajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi veral melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga , apalagi jika guru mengajar setiap jam pembelajaran.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga kreativ lain seperti : mengamati, melakukan, menerankan, dan lain-lainya.
49 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: sebuah pengantar baru.( Jakarta : Referensi GP Press Group,2013).6.
50 Arsyad. Media pembelajaran. ( Jakarta : Rajawali Press, 2016 ). 56.
Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajaran, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana. Menyampaikan pesan atau media. Pesan yang dikomukasikan adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang ditantangkan oleh pengajar atau fasilator atau sumber lain kedalam simbol-simbol komunikasi, baik symbol verbal maupun visual.
Dengan demikian media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Selain itu media pembelajaran juga sanggat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan. Dengan adanya media pembelajaran anak akan lebih tertarik denggan tujuan dan materi pembelajaran akan tercapai dengan optimal.
b. Jenis Media Pembelajaran
Dilihat dari bahan buku dan alat pembuatanya, cara pembuatan dan cara pemanfaatnya, media pembelajaranya secara umum dapat dikelompokan menjadi :
1) Media pembelajaran sederhana yaitu media pembelajaran yang bahan baku untuk pemuatanya mudah dan bermanfaat dalam pembelajaran mudah digunakan tidak sulit.
2) Media pembelajaran modern bersifat elektronik dan kompleks yaitu media yang bahan bakudan alat pembuatanya sulit diperoleh
dan mahal harganya, dalam pembuatan dan pemanfaatannya memerlukan keahlian khusus yang memadai.51
c. Perangkat Media Pembelajaran
1) Materials adalah bahan yang digunakan untuk menyimpan materi pelajaran . Contoh : kertas, plastik, flim, cd, pita kaset, flasdick.
2) Equipment adalah berupa peralatan khusus yang digunakan untuk memperjelas penampilan materi pelajaran yang terdapat pada bahan, contohnya : ohp, tape record, kamera, televisi, laptop, computer, Vd, Proyektor dll.
3) Hardware yaitu perangkat keras berupa peralatan yang digunakan untuk menampilkan pesan ( materi) yang terdapat pada bahan, contohnya sama dengan contoh benda equipment.
4) Sofware yaitu perangkat lunak berapa isi pesan yang terdapat pada bahan yang akan disampaikan kepada murid. Contohnya : tulis,gambar,warna,suara,simbol,visual dan lain-lain.52
d. Fungsi dan Tujuan Media Pembelajaran
Dalam bidang pendidikan, media pembelajaran berfungsi sebagai sarana fisik untuk menyampaikan materi kepada siswa. Media pembelajaran adalah suatu alat untuk melakukan pengajaran yang berfungsi untuk menyampaikan materi pelajaran pada siswa dalam
51 Muhamad Yaumi, Media & Tekonologi Pembelajaran, ( Jakarta : Prenada Media Group,2018)7.
52 Usep Kustiawan, Pengembangan Media Pembelajaran Anak Usia Dini, ( Malang : Gunung Samudra, 2016)12.