i
PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF
MELALUI DADU ANGKA PADA KELOMPOK A1 DI TK DARMA WANITA AJUNG JEMBER
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Oleh : Rika Anitasari NIM : T20185083
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
NOVEMBER 2022
ii
PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF
MELALUI DADU ANGKA PADA KELOMPOK A1 DI TK DARMA WANITA AJUNG JEMBER
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
SKRIPSI
Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Hari : Kamis
Tanggal : 3 November 2022 Tim Penguji
Ketua
Dr.Istifadah S.Pd.,M.Pd.I NIP. 196804141992032001
Sekertaris
Ali Mukti, M.Pd
NIP.199112302019031007 Anggota:
1. Dr.H.ABD.Muhith, M.Pd.I ( )
2. Yuli Indarti, S.KM.M.Kes. ( )
Menyetujui
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP. 196405111999032001
iii
iv MOTTO
Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).
mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.1
1 Al-Qur’an (Q.S. At-Taubah: 122)
v
PESEMBAHAN
Rasa syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT sebanyak-banyaknya atas segala Rahmat hidayah-Nya sehingga terselesaikannya tugas akhir dengan lancar.
Sholawat serta salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan sepanjang masa. Terima kasih kepada engkau yang telah memberikan jalan dan kekuatan serta yang telah menghadirkan mereka memberikan motivasi, semangat, dan do’a kepada saya, sesungguhnya karena-Mu lah mereka ada Karena-Mu lah tugas akhir penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dan karena- Mu-lah kini penulis bisa menjadi yang berfikir, berilmu, beriman, dan bersabar.
Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk masa depan dalam meraih cita-cita dengan penuh syukur dan iringan do'a skripsi ini saya persembahkan kepada :
1. Kedua orang tua saya yaitu bapak Adenan dan ibu Suyati yang sangat saya sayangi dan cintai yang selalu mendidik, memberikan motivasi semangat, dan mendukung di setiap langkah saya, mendoakan di setiap waktu sehingga mampu menghatarkan saya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, memberikan kasih sayang jiwa dan raga, terima kasih untuk semuanya yang sudah kalian lakukan dan korbankan kepada saya. semoga saya menjadi seperti apa yang kalian harapkan.
2. Seluruh keluarga yang telah memberikan motivasi dan semangat khusunya nenek saya yang selalu senantiasa mendoakan dan tidak bosan-bosannya selalu memberikan saya motivasi dan semangat.
vi
KATA PENGANTAR
Segenap puji syukur penulis panjatkan kepada Allah karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Kognitif Melalui Dadu Angka Pada Kelompok A1 Di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022” sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana pendidikan, dapat terselesaikan dengan lancar.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya usaha yang maksimal, bimbingan, dan bantuan pihak lain. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. selaku Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah menerima penulis sebagai mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian ini.
3. Bapak Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd.I., Selaku Kajur PI dan Bahasa yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas dalam mengerjakan tugas akhir.
4. Ibu Dr. Istifadah, S.Pd, M.Pd.I. selaku Ketua Program Studi pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad
vii
Siddiq Jember yang telah memberikan pengarahan dan memberi izin dalam melakukan penelitian.
5. Ibu Yuli Indarti, S. KM., M. Kes. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan demi terselesaikannya skripsi ini.
6. Ibu Romdiyati, S.Pd ., selaku Kepala TK Darma Wanita Ajung Jember beserta jajaran stafnya yang telah berkenan memberikan waktunya dan memberikan informasi data yang dibutuhkan sehingga membantu proses penyelesaian skripsi ini.
7. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat beberapa kesalahan. Penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya skripsi yang sempurna. Akhirnya, semoga segala amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat dipergunakan sebagai mana mestinya.
Jember, 3 November 2022
Penulis
viii ABSTRAK
Rika Anitasari, 2022: Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Kognitif Melalui Dadu Angka Pada Kelompok A1 Di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022.
Kata Kunci: Peran Guru, Kemampuan Kognitif, Dadu Angka.
Kemampuan kognitif adalah kemampuan belajar, berfikir, atau kecerdasan yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru, ketrampilan untuk memahami apa yang telah terjadi dilingkungan, serta ketrampilan menggunakan daya ingat dan menyelesaikan soal-soal sederhana. Guru di TK Dharma Wanita Ajung Jember dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak, salah satunya dengan menggunakan media dadu angka.
Fokus penelitian ini adalah: 1) Bagaimana peran guru sebagai fasilitator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022? 2) Bagaimana peran guru sebagai motivator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022? 3) Bagaiman peran guru sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022?
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan peran guru sebagai fasilitator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022.
2) Mendeskripsikan peran guru sebagai motivator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022. 3) Mendeskripsikan peran guru sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi.
Analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Hasil dari penelitian ini adalah 1) Peran guru sebagai fasilitator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka yaitu, guru menyediakan alat dan bahan dadu angka, kartu bergambar dll, guru menyediakan bahan ajar RPPH, melakukan pendampingan selama kegiatan berlangsung. 2) Peran guru sebagai motivator dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka yaitu, mengkreasikan media dadu angka dengan alat lain, guru memberi pujian, guru memberi reward saat anak bisa menyebutkan dengan benar angka warna yang muncul pada dadu. 3) peran guru sebagai pendidik dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka yaitu, guru menjelaskan tata cara memainkan dadu angka, guru memberikan penguatan mengenai dadu angka, guru menyempurnakan kegiatan dadu angka dengan praktik.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Definisi Istilah ... 10
F. Sistematika Pembahasan ... 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13
A. Penelitian Terdahulu ... 13
B. Kajian Teori ... 21
BAB III METODE PENELITIAN ... 48
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 48
x
B. Lokasi Penelitian ... 49
C. Subjek Penelitian ... 49
D. Teknik Pengumpulan Data ... 50
E. Analisis Data ... 55
F. Keabsahan Data ... 59
G. Tahap-tahap Penelitian ... 61
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 63
A. Gambaran Objek Penelitian ... 63
B. Penyajian Data dan Analisis... 73
C. Pembahasan Temuan ... 83
BAB V PENUTUP ... 88
A. Kesimpulan ... 88
B. Saran- saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 90 LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Pernyataan Keaslian Tulisan 2. Matriks Penelitian
3. Surat Izin Peneitian
4. Surat Keterangan Selesai Penelitian 5. Jurnal Kegiatan Penelitian
6. RPPH
7. Penilaian Checklist 8. Denah Lokasi
9. Dokumentasi Penelitian
10. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran Media Dadu Angka 11. Biodata Penulis
xi
DAFTAR TABEL
No. Uraian Hal
2.1 Tabel persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu
dengan penelitian ini ... 17 4.1 Data jumlah guru TK Dharma Wanita Ajung Jember ... 69 4.3 Data peserta didik kelompok A TK Dharma Wanita Ajung Jember . 70 4.4 Data gedung TK Dharma Wanita Ajung Jember ... 71 4.5 Sarana pendukung pembelajaran TK Dharma Wanita Ajung Jember 71
xii
DAFTAR GAMBAR
No. Uraian Hal
4.1 Struktur Organisasi TK Dharma Wanita Ajung Jember ... 69
4.1 Guru Sedang Menyiapkan Peralatan Dadu Angka ... 74
4.2 Kegiatan anak sedang melakukan permainan dadu angka ... 75
4.3 RPPH Tk Dharma Wanita ... 76
4.4 Peran guru sebagai motivator ... 77
4.5 Guru mengkreasikan media dadu angka dengan alat lain ... 78
4.6 Kegiatan stimulasi materi tentang dadu angka ... 79
4.7 Proses pemberian arahan dan pemahaman tentang kegiatan dadu angka 80 4.8 Bunda azizatur Rohma saat berperan sebagai pendidik ... 82
1 BAB I PENDAHULUAN A. KONTEKS PENELITIAN
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Serta munculnya Direktorat pendidikan anak usia dini dalam pemerintahan. Sehingga dengan kebijakan itu menempatkan pendidikan anak usia dini dalam tatanan pemerintahan dan kehidupan masyarakat dengan kekuatan hukum yang jelas.1
Anak usia dini adalah anak yang rentang usianya 0-6 tahun, yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai aspek moral dan nilai agama, aspek sosial emosional, aspek kognitif, aspek bahasa, aspek fisik motorik, dan aspek seni sehingga untuk menunjang pendidikan yang selanjutnya. Dapat dipahami bahwa anak usia dini adalah individu yang berbeda dan memiliki keunikan.2 Selain itu, anak usia dini merupakan periode yang sangat menentukan kualitas seorang manusia dewasa. Anak usia dini yaitu suatu masa usia anak yang
1 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat (14).
2 Muhammad Fadillah, Desain Pembelajaran PAUD Tinjauan Teoretik & Praktik (Jojakarta:Ar-Ruzz Media,2014),18-19.
sangat berbeda dengan usia dewasa3 Dalam pertumbuhan dan perkembangan tersendiri pada dirinya, sehingga sering disebut dengan usia keemasan (golden age) yang dimana pada masa ini peserta didik mudah diberikan stimulasi yang berperan dalam mengembangkan seluruh aspeknya.
Guru adalah sosok yang dapat ditiru, digugu dan diteladani baik dari segi pengetahuan maupun kepribadian bagi peserta didiknya. Oleh karena itu, seorang guru harus berhati-hati dalam bertutur kata dan bertingkah laku. Tutur kata dan tingkah laku yang tidak tepat pada tempatnya akan berakibat buruk pada tumbuh kembang anak didik. Karena mereka bisa saja meniru tutur kata dan tingkah laku guru tanpa memperhitungkan benar salahnya4.
Anak-anak belajar dan menerima stimulus-stimulus untuk meningkatkan aspek perkembangannya melalui kegiatan sehari-harinya.
Aspek perkembangan tersebut adalah aspek perkembangan kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial emosional, dan moral agama. Pada periode sensitif yang dikemukan oleh Montessori (dalam Susanto 2011:50),5 adalah waktu yang tepat untuk memberikan kegiatan-kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan anak. Kelima aspek perkembangan diatas dapat distimulasi melalui berbagai kegiatan yang dilakukan anak setiap hari. Program pembelajaran di TK ada dua bidang utama yang harus dikembangkan pada anak, yaitu bidang pembentukan perilaku dan bidang kemampuan dasar.
3 MA.Muazar Habibi, Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini, (Yogyakarta:Deepublish, 2015),55.
4 Hamjah B. Uno & Nina Lamatenggo, Tugas Guru Dalam Pembelajaran (Jakarta:Bumi Aksara, 2016),1.
5 Ahmad, Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya ( Jakata: Kencana,2011), 2.
Dalam bidang pembentukan perilaku aspek perkembangannya meliputi perkembangan nilai-nilai agama dan moral, serta pengembangan sosial, emosional, dan kemandirian. Sedangkan dalam bidang kemampuan dasar aspek perkembangannya meliputi kemampuan berbahasa, kognitif, dan fisik motorik. Salah satu kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan adalah anak belajar mengenal lambang bilangan. Media dadu yang digunakan adalah dadu angka yang disetiap sisinya terdapat angka 1-6 Mengenal lambang bilangan merupakan pemahaman dasar bagi anak sebelum anak mengenal pembelajaran angka yang lebih rumit.
Didalam Islam dijelaskan bahwa manusia pada saat dilahirkan tidak mengetahui apapun, tetapi Allah membekalinya dengan kemampuan mendengar, melihat, mencium, merasa, dan hati untuk mendapatkan pengetahuan. Perkembangan kognitif adalah proses psikologis individu dalam mempelajari dan memikirkan segala sesuatu di lingkungannya yang didapatnya melalui indara dan hati. Mengenai pengindraan dan hati ini sesuai dengan penjelasan ini terdapat dalam Q.S. An-Nahl:78 yaitu:6
َراَصْبَْلْاَو َعْمَّسلا ُمُكَل َلَعَجَو اًئْيَش َنوُمَلْعَ ت َلَ ْمُكِتاَهَّمُأ ِنوُطُب ْنِم ْمُكَجَرْخَأ ُهَّللاَو َْلْاَو َنوُرُكْكَت ْمُكَّلَعَل َ َةِئْفْئ
﴿ ٨٧
﴾
Artinya : Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.7
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menjadikan kalian mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, setelah Dia mengeluarkan kalian dari dalam
6 Departemen Agama RI, Al-Kamil al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Tahun 2002 (Jakarta : CV. Darus Sunnah, 2013), 276.
7 Al-Qur’an, 16:78
perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang kemudian dengan itu kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang salah dengan yang benar, menjadikan pendengaran bagi kalian yang dengan itu kalian dapat mendengar suara-suara, sehingga sebagian kalian dapat memahami dari sebagian yang lain apa yang saling kalian perbincangkan, menjadikan penglihatan yang dengan itu kalian dapat melihat orang-orang, sehingga kalian dapat mengenal dan membedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain, dan menjadikan perkara-perkara yang kalian butuhkan didalam hidup ini, sehingga kalian dapat mengetahui jalan, lalu menempuhnya dan berusaha mencari rezeki agar kalian dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.8
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa kemampuan mendengar, melihat, dan berpikir manusia berkembang secara bertahap. Semakin dewasa seseorang semakin berkembang kemampuannya mendengar, melihat, dan akalnya akan semakin mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah.
Hikmah diciptakan kemampuan berpikir manusia secara brtahap agar dia mampu menjelaskan ketaatannya kepada Tuhan.9
Kognitif mengacu pada aktivitas mental tentang bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, disimpan, dan ditransformasi serta dipanggil kembali dan digunakan dalam aktivitas kompleks seperti berpikir. Kognitif adalah suatu proses berpikir kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai,
8 Ahmad Mustafa Al-Marahgi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi (Semarang: CV Toha Putra Semarang), 211.
9 Masganti Sit, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini,( Medan: Perdana Publishing ,2015), 72.
dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir.10
Media dadu angka adalah sebuah alat peraga buatan yang dapat digunakan untuk pembelajaran anak TK. Alat peraga dadu angka tersebut terbuat dari kertas karton yang dibentuk menyerupai dadu dan dipermukaan dadu diberi lambang bilangan yang akan diperkenalkan kepada anak. Dadu angka ini berfungsi untuk memperkenalkan angka-angka kepada anak yang dipergunakan pada proses pembelajaran mengenalkan lambang bilangan dan konsep bilangan11. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam pembuatan dadu angka antara lain: kertas karton, lem kertas, pensil,pensil warna dan perekat.
Mengingat begitu pentingnya kemampuan mengenal konsep bilangan bagi manusia, maka kemampuan mengenal konsep bilangan sangat perlu ditanamkan sejak usia dini, dengan berbagai media dan metode yang tepat dan tidak merusak tahap perkembangan anak. Apabila anak belajar mengenal konsep bilangan melalui cara yang sederhana, tetapi tepat dan mengena, serta dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan, maka otak anak akan terlatih untuk terus berkembang sehingga anak dapat menguasai bahkan menyukai kegiatan mengenal konsep bilangan tersebut. Selain itu juga akan memberi dampak positif bagi kehidupan anak sehari-hari.
10 Yuliani Nurani Sujiono & Bambang Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan jamak (Jakarta: PT Indeks,2010),23.
11 Markamah, "Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif Melalui Penggunaan Media Dadu Angka Kelompok B di TK Pertiwi 2 Sobokerto Ngemplak Boyolali Tahun Pelajaran 2013/2014" ( Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2014), 3.
Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini di TK Dharma Wanita Ajung Jember adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan media dadu angka, melalui media pembelajaran ini dapat menarik perhatian dan mendorong anak untuk menyukai kegiatan pembelejaran di dalam kelas. Selain memiliki program yang mendukung perkembangan kognitif anak usia dini di TK Dharma Wanita juga memiliki guru-guru yang kompeten dan terus mengarahkan peserta didiknya menjadi generasi yang unggul.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, terdapat sebuah keunikan tersendiri di dalam kelas ada sebuah media dadu angka yang didesain berbeda seperti dadu angka pada umumnya. Di sisi dadu ditempel kertas origami warna warni kemudian ditempel angka 1-6. Media dadu angka ini sangat bermanfaat bagi anak dimana anak akan lebih mudah mengenal warna dan angka.
Latar belakang yang mendorong penelitian ini adalah: 1) Guru TK Dharma Wanita berupaya berperan lebih baik dan bagus. 2) Lembaga TK Dharma Wanita Ajung Jember adalah salah satu lembaga yang telah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media pembelajaran dan juga mempunyai sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk menunjang pembelajaran di sekolah. 3) Dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna, mengenal konsep bilangan 1-6, dan lambang bilangan guru kelas A1 mempunyai cara tersendiri yang cukup menarik yaitu melalui alat media penunjang dadu angka. 4) Media dadu angka
yang digunakan di lembaga ini cukup menarik dan berbeda dari dadu angka pada umumnya karena dadu didesain lebih besar, lembaga tk dharma wanita ajung telah menerapkan kegiatan ini cukup baik sehingga peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut lagi mengenai kegiatan media dadu angka ini.12
Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka Di TK Dharma Wanita Ajung Jember melalui kegiatan pembelajaran menggunakan media dadu angka. Dengan demikian peneliti akan melakukan penelitian dengan judul "Peran Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Kognitif melalui Dadu Angka di TK Dharma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022". Melalui kegiatan pembelajaran menggunakan media dadu angka tersebut diharapkan dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak dengan baik. Anak dapat mengenal macam-macam warna, anak mampu mengenal konsep bilangan 1-6, anak mampu mengenal lambang bilangan .13
B. FOKUS PENELITIAN
Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Fokus penelitian ini berisi semua faktor permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui proses penelitian. Fokus penelitian harus disusun secara singkat, spesifik, operasional, jelas, tegas yang ditungkan dalam kalimat tanya.14
Adapun berdasarkan fokus penelitian ini adalah sebagai berikut :
12 Berdasarkan Observasi Awal di TK Dharma Wanita Ajung Jember, 10 Januari 2022.
13 Observasi di TK Dharma Wanita Ajung Jember, 26 Januari 2022.
14 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember : UIN KHAS Jember, 2021), 45.
1. Bagaimana peran guru sebagai fasilitator untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui permainan dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun pelajaran 2021/2022 ?
2. Bagaimana peran guru sebagai motivator Untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui permainan dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022 ?
3. Bagaimana peran guru sebagai pendidik untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022 ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.15 adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendiskripsikan peran guru sebagai fasilitator untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022
2. Mendiskripsikan peran guru sebagai motivator Untuk meningkatkan kemampuann kognitif anak melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022
15 Tim Penyusun, 45.
3. Mendiskripsikan peran guru sebagai pendidik untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui dadu angka pada kelompok A1 di TK Darma Wanita Ajung Jember Tahun Pelajaran 2021/2022
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian pada dasarnya berisi tentang konstribusi apa saja yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, pembaca, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan peneliti harus realistis. 16Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan menambah wawasan serta ilmu pengetahuan tentang meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian secara langsung dan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui Dadu angka.
16 Tim Penyusun, 45.
b. Bagi UIN KHAS Jember.
Penelitian ini diharapkan dapat menambah sumbangan wawasan baik dosen maupun mahasiswa khususnya calon guru Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan menjadi refrensi tambahan tentang meningkatkan kemampuan kognitif melalui dadu angka.
c. Bagi Lembaga Darma Wanita
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk dijadikan refrensi atau acuan dalam mendidik peseta didik dan menjadi bahan evaluasi pembelajaran sehingga jika ada kekurangan nantinya bisa diperbaiki.
E. DEFINISI ISTILAH
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah yang menjadi perhatian penelitian di dalam judul penelitian tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.17Dalam hal ini peneliti menuliskan beberapa definisi istilah yang menjelaskan tentang maksud dari judul penelitian yaitu sebagai berikut : 1. Peran Guru
Peran guru merupakan tugas, sikap, tindakan atau perilaku seorang yang dalam melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang guru yang memiliki tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
17 Tim Peyusun, 45-46.
mengevaluasi peserta didik Dalam penelitian ini lebih menitikberatkan pada peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan juga sebagai pendidik.
2. Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif anak adalah kemampuan anak dalam mengolah daya pikirnya yang dapat dilihat dari bagaimana cara mereka dalam bertindak, mengatasi suatu situasi dalam memecahkan masalah serta bagaimana sikap anak dalam mengambil keputusan.
Dalam penelitian ini kemampuan kognitif yang ingin dicapai yakni adalah kemampuan yang dimiliki anak yang berupa anak mampu mengenal macam-macam warna, anak mampu mengenal angka 1-6, anak mampu mengenal lambang bilangan.
3. Dadu angka
Media dadu angka adalah sebuah alat peraga yang di gunakan pada pembelajaran anak TK sebuah kubus kecil yang berisi enam sisi, pada keenam sisinya diberi lambang bilangan 1- 6 yang diatur sedemikian rupa untuk diperkenalkan kepada anak saat proses pembelajaran.
Dalam penelitian ini dadu yang digunakan oleh peneliti adalah dadu dibuat sedemikian rupa agak berbeda seperti dadu pada umumnya.
Berbentuk kubus kemudian ditiap sisi nya dilapisi dengan kertas origami warna warni kemudian ditempel angka 1-6 dan bentuknya didesain lebih besar dari bentuk dadu pada umumnya selain media dadu angka terdapat alat bantu lain yakni kartu bergambar. Dadu angka disini berhubungan dengan peningkatan kecerdasan kognitif.
F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Adapun uraian sistematika pembahasan. Secara keseluruhan penulisan skripsi terdiri atas lima bab, berikut penjelasannya:
Bab I, berisi tentang konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab II, berisi tentang kajian kepustakaan yang terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori. Bab ini membahas tentang kajian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan dan kajian teori yang dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan penelitian
Bab III, berisi tentang metode penelitian yang membahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisi data, keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.
Bab VI, berisi tentang penyajian dan analisis data yang berisi tentang gambaran objek penelitian, penyajian data, analisis data serta pembahasan temuan.
Bab V, berisi tentang penutup, yang memuat kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran yang bersifat konstruktif.
Selanjutnya skripsi diakhiri dengan daftar pustaka dan lampiran- lampiran sebagai pendukung pemenuhan kelengkapan data skripsi.
13 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak di lakukan, kemudian membuat ringkasannya baik penelitian yang terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi, artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah, dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, maka orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.18 Adapun penelitian terdahulu tersebut diantaranya :
1. Misnayani, 2018. Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan. Judul Skripsi: Meningkatkan kemampuan kognitif melalui permainan dadu angka kompleks pada anak Kelompok B PAUD TK Al-Aqsho Desa Lamomea Kecamatan Konda. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah 17 anak kelompok B PAUD TK Al-Aqsho Lamomea Kec Konda tahun pelajaran 2017/2018. Teknik Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, dokumentasi dan penilaian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: hasil penelitian menunjukkan perolehan nilai ketuntasan kemampuan anak meningkat setiap tahapannya dimana perolehan pada pra tindakan sebesar 35,29%,
18 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 46.
meningkat menjadi 70,58% pada tindakan siklus I dan mencapai 88,23%
pada tindakan siklus II. Maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan dalam meningkatkan kemampuan kognitif melalui permainan dadu angka kompleks dapat dilaksanakan secara optimal di kelompok B PAUD TK Al-Aqsho Lamomea Kec Konda. 19
2. Desi Tri Mulyani, 2019. Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan. Judul Skripsi: penerapan media gambar untuk meningkatkan perkembangan kognitif di RA At-Thohiriyah Sukajawa Kecamatan Bumi Ratu Nuban Lampung Tengah. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RA At-Thohiriyah Sukajawa Kecamatan Bumi Ratu Nuban Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020. Dapat disimpulkan adanya peningkatan perkembangan kognitif pada peserta didik yang setiap siklus ditandai dengan presentase indikator pencapaian yang meningkat pada kemampuan perkembangan kognitif dengan penilaian berkembang sesuai harapan (BSH). Pada siklus I di pertemuan ketiga dari 15 peserta didik yang memberikan hasil BSH yaitu sebesar
19 Misnayani, "Meningkatkan kemampuan kognitif melalui permainan dadu angka kompleks pada anak kelompok B PAUD TK Al-Agsho Lamomea Kec Konda" (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri, Kendari,2018).
33,33%. Pada siklus II di pertemuan ketiga dari 15 peserta didik yang memberikan hasil BSH yaitu sebesar 66,67%.20
3. Witri Khairani Lubis, 2019. Mahasiswa Universitas islam Negeri Sumatra Utara Medan. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan. Judul Skripsi: Pengaruh penggunaan media gambar terhadap kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun dalam mengenal konsep bilangan di TK Ummi Erni Tahun Ajaran 2018/2019.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi terstruktur atau kisi-kisi lembar observasi.
Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis (menggunakan uji t).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: menunjukkan 1) adanya pengaruh penggunaan media gambar terhadap kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun dalam mengenal konsep bilangan yaitu 4,6875 menjadi 23,125, 2) adanya pengaruh penggunaan media flash card terhadap kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun dalam mengenal konsep bilangan yaitu 4,125 menjadi 18,5625, 3) adanya perbedaan pengaruh penggunaan media gambar dengan flash card terhadap kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun dalam mengenal konsep bilangan yaitu dilihat dari nilai t hitung=19,3364 > t tabel=2,042. 21
20 Desi Tri Mulyani, "Penerapan Media Gambar Untuk Meningkatkan Perkembangan Kognitif di RA At-Thohiriyah Sukajawa Kecamatan Bumi Ratu Nuban Lampung Tengah" ( skripsi, Institut Agama Islam Negeri Metro, Lampung Tengah,2019).
21 Witri Khairani Lubis,"Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun Dalam Mengenal Konsep Bilangan Di TK Ummi Erni Tahun ajaran 2018/2019"( Skripsi,Universitas Islam Negeri Sumatra Utara Medan, Sumatra Utara,2019).
4. Salsa Billa Abidah, 2021. Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan. Judul Skripsi: Peran guru dalam meningkatkan kemandirian anak usia dini di TK Muslimat 001 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif degan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman, dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah: 1) profil kemandirian anak usia dini kelas B4 di TK Muslimat NU 001 Ponorogo secara umum berkembang sesuai harapan ditunjukkan pada anak yang mampu percaya diri dengan pilihannya, mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan seperti mengembalikan alat permainan di rak dan merapikan alat tulis yang telah dipakai, melakukan aktivitas di sekolah secara sendiri, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan berempati dengan teman; 2) peran guru sebagai pembimbing dalam meningkatkan kemandirian anak usia dini di TK Muslimat NU 001 Ponorogo adalah melakukan komunikasi yang aktif dengan orang tua, memberikan motivasi/pemahaman positif kepada anak, memberikan reward/penegasan untuk membangkitkan semangat anak, melakukan pendekatan pada anak yang kurang mampu berkomunikasi dengan teman; dan 3) peran guru sebagai pelatih dalam meningkatkan kemadirian anak usia dini di TK
Muslimat NU 001 adalah memberikan contoh dan memberikan pembiasaan dan pengulangan kegiatan kemandirian kepada anak secara konsisten.22
Tabel 2.1
Tabel Persamaan dan Perbedaan
antara Penelitian terdahulu dengan Penelitian ini
No Nama
Peneliti
Tahun Judul Persamaan Perbedaan
1 2 3 4 5 6
1. Misnayani 2018 Meningkatkan kemampuan kognitif melalui permainan dadu angka kompleks pada anak kelompok B PAUD TK Al- Aqsho Desa Lamomea kecamatan Konda
Penelitian
terdahulu dan penelitian yang sekarang sama- sama membahas tentang
kemampuan kognitif menggunakan media dadu angka
a. Peneliti yang terdahulu
menggunakan jenis penelitian tindakan kelas sedangkan peneliti yang sekarang
menggunakan jenis Penelitian kualitatif deskriptif
b. Subjek peneliti penelitian terdahulu Fokus pada
kelompok B sedangkan penelitian Yang sekarang fokus pada kelompok A
c. Teknik
pengumpulan data penelitian terdahulu menggunakan lembar observasi, dokumentasi, dan penilaian sedangkan
penelitian yang sekarang menggunakan observasi wawancara dan
22 Salsa Billa Abidah, "Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemandirian Anak Usia Dini Di TK Muslimat NU 001 Ponorogo" (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Ponorogo, 2021).
1 2 3 4 5 6 dokumentasi.
d. Tujuan penelitian terdahulu adalah untuk
mengetahui apakah ada peningkatan kemampuan kognitif dengan menggunakan metode
bermain dengan media dadu angka kompleks sedangkan tujuan penelitian
sekarang yaitu untuk
mengetahui peran guru dalam meningkatkan kemampuan kognitif malalui dadu angka 2. Desi Tri
Mulyani
2019 Penerapan Media Gambar Untuk
Meningkatkan Perkembangan Kognitif Di RA At-Thohiriyah Sukajawa Kecamatan Bumi Ratu Nuban Lampung Tengah
Penelitian terdahulu dan penelitian yang sekarang sama- sama membahas tentang
kemampuan kognitif.
a. Peneliti Yang terdahulu
menggunakan jenis Penelitian tindakan kelas (PTK) Sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan jenis penelitian kualitatif b. deskriptif
Subjek peneliti penelitian terdahulu Fokus pada kelompok B sedangkan
peneliti sekarang Fokus pada kelompok A a. Peneliti yang
terdahulu menggunakan
1 2 3 4 5 6 media gambar Sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan dadu angka b. Teknik
pengumpulan data penelitian terdahulu Menggunakan observasi dan dokumentasi sedangkan teknik pengumpulan data peneliti yang sekarang Menggunakan Observasi, wawancara, dan dokumentasi.
3 Witri Khairani Lubis
2019 Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun Dalam
Mengenal Konsep
Bilangan Di TK Ummi
Erni Tahun Ajaran 2018/2019
Penelitian terdahulu dan penelitian yang sekarang sama sama membahas tentang
kemampuan kognitif
a. Peneliti yang terdahulu menggunakan jenis penelitian kuantitatif
Sedangkan peneliti yang sekarang menggunakan jenis penelitian kualitatif Deskriptif b. Teknik
pengumpulan data penelitian
terdahulu menggunakan observasi terstruktur Atau kisi-kisi lembar observasi
sedangkan Teknik pengumpulan data penelitian
sekarang
1 2 3 4 5 6 menggunakan
observasi, wawancara dan dokumentasi Subjek peneliti penelitian terdahulu Fokus pada Kelompok B sedangkan subjek peneliti penelitian sekarang fokus pada kelompok A
4 Salsa Billa Abidah
2021 Peran guru dalam
Meningkatkan Kemandirian Anak Usia Dini Di TK Muslimat NU 001
Ponorogo
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang sama- sama membahas tentang peran guru
b. Metode penelitian
Penelitian terdulu dan penelitian sekarang sama- sama
menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian studi kasus
c. Teknik
pengumpulan data penelitian
terdahulu dan penelitian yang sekarang sama- sama
menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.
a. Teknik analisis data penelitian terdahulu menggunakan konsep miles dan huberman dengan langkah- langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sedangkan penelitian yang sekarang menggunakan teknik analisis data
Pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan
kesimpulan/verifikasi.
b. Keabsahan data penelitian terdahulu menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan
ketekunan, triangulasi sedangkan penelitian yang sekarang menggunakan
triangulasi teknik dan triangulasi sumber.
B. Kajian Teori
Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai prespektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, posisi teori dalam penelitian kualitatif diletakkan sebagai prespektif atau pisau analisis, bukan untuk diuji.23 1. Guru
a. Pengertian guru
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.24
Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, hanya saja ruang
23 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 46.
24 Undang-undang Republik Indonesia, No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 Ayat 1 (Bandung: Citra Umbara,2012),2.
lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar disekolah negri ataupun swasta.25
Menurut Zakiah Dradjat, Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua.26
b. Kompetensi guru
Kompetensi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru dalam Jaja Suteja: “Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesiannya”. 27Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tersebut, adalah “kompetensi guru sebagai mana meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.
28Adapun penjelasan dari beberapa kompetensi guru diatas sebagai berikut :
1) Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya
25 Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 45.
26 Zakiah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 39.
27 Jaja Suteja, Etika Profesi Keguruan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 39.
28 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
meliputi: a) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan b) Pemahaman terhadap peserta didik c) Pengembangan kurikulum atau silabus d) Perancangan pembelajaran e) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis f) Pemanfaatan teknologi pembelajaran g) Evaluasi hasil belajar dan h) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.29
2) Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang: a) Beriman dan bertakwa b) Berakhlak mulia c) Arif dan bijaksana d) Demokratis e) Mantap f) Berwibawa g) Stabil h) Dewasa i) Jujur j) Sportif k) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat l) Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri dan m) Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.30
3) Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk: a) Berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat secara santun b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan
29 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
30 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku dan e) Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
4) Kompetensi professional
Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan: a) Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu b) Konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.31 c. Karakteristik Guru
Guru yang unggul memiliki karakteristik sebagai berikut: 32 1) Memiliki keahlian pokok: a) meliputi pengetahuan tentang materi
pelajaran secara menyeluruh dan menunjukkan antusisme yang menular mendalami secara kontinyu b) menguasai materi lebih jauh dari sekedar yang tertuang dalam buku teks standar c) meneliti dan mengembangkan pikiran-pikiran penting dan asli mengenai materi
31 Jaja Suteja, Etika Profesi, 81.
32 Sudarman Danim, dan Khairil, Psikologi Pendidikan (Dalam Perspektif Baru).
Bandung: Alfabeta, 2011), 244-245.
pelajaran khusus d) mendalami secara kontinyu mata pelajaran, menganalisis sifat dan cakupan materi pelajaran, dan mengevaluasi kualitas e) mengamati perkembangan secara teratur dalam mata pelajaran terkait dan pengembangan intelektual bidang lain yang menunjang f) memiliki minat yang kuat dalam isu-isu yang lebih luas demi pengembangan intelektual yang mengagumkan.
2) Ahli pedagogis, seperti menetapkan tujuan pembelajaran yang sesuai dan mampu mengkomunikasikannya dengan jelas, menunjukkan sikap positif dan kepercayaan terhadap siswa, serta secara kontinyu bekerja untuk mengatasi kendala yang mungkin menghambat kemajuan belajar, mengevaluasi dan menilai siswa secara adil dan cepat.
3) Komunikasi yang unggul: a) Menunjukkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan yang efektif b) Menunjukkan kemampuan berorganisasi dan ketrampilan perencanaan yang baik c) membantu siswa belajar menggunakan ketrampilan berkomunikasi yang efektif d) mendengarkan dengan penuh perhatian, bersemangat, dan menunjukkan keakraban e) Memanfaatkan alat pembelajaran secara tepat dan efektif.
d. peranan guru dalam proses belajar mengajar
Menurut Suparlan guru memiliki kesatuan peran dan fungsi yang tidak dapat dipisakan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Keempat kemampuan tersebut
merupakan kemampuan integratif, yang antaranya satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan.33 Berikut peranan guru dalam belajar mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut :
1) Informator
Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. Dalam pada itu berlaku teori komunikasi.
2) Organisator
Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehinga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar diri siswa.
3) Motivator
Peranan guru sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan untuk mendimanisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas), daya cipta (kreativitas), sehinga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting dalam interaksi belajar-mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan pendidik yang membutuhkan
33 Suparlan, Menjadi Guru Efektif, ( Yogyakarta: Hikayat, 2005),25.
kemahiran sosial, menyangkut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
4) Pengarah/director
Jiwa kepimimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan dan cita- cita, guru harus juga handayani.
5) Inisiator
Guru disini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.
Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya.
6) Fasilitator
Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar akan berlangsung secara efektif.
7) Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan guru sebagai penegah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengai atau memberi jalan keluar kemacetan dalam diskusi siswa. Mediator juga diartikan sebagai penyedia media. Bagaimana cara memakai dan mengorganisasikan media.
8) Pendidik
Sebagaai pendidik, guru harus membimbing dan menumbuhkan sikap dewasa dari pesertadidik. Guru adalah seorang pendidik formal, ia juga adalah sebagai toko dan panutan bagi para siswaya dan juga bagi orang-orang atau masyarakat disekitarya agar menjadi pendidik yang baik maka seorang guru perlu memiliki standar kepribadian tertentu yang mencakup, tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.34
2. Kemampuan Kognitif
a. Pengertian kompetensi anak usia dini
Pengertian kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.
b. Standard kompetensi anak usia dini
Pengembangan aspek-aspek pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini harus mengacu pada standar kompetensi anak usia dini antara lain sebagai berikut.35
1) Moral dan nilai-nilai agama
Nilai-nilai agama dan moral yang diajarkan pada anak usia dini adalah perilaku positif, kemandirian, disiplin, kejujuran dan
34 P. Ratu Ile Tokan, Manajemen Peneitian Guru untuk Pendidikan Bermutu (Jakarta: PT Grasindo, 2016), hlm. 298.
35 Standard kompetensi dalam pembelajaran, 02, 2014 , https://paud.anakbermainbelajar.blogspot.com.
perilaku lainnya. Kegiatan pembiasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai agama juga harus diberikan, seperti penguasaan terhadap do’a-do’a sehari-hari.
2) Fisik/motorik
Dalam hal ini pendidik harus mampu merangsang perkembangan fisik dan motorik anak sesuai dengan usia perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai permainan-permainan edukatif.
3) Sosial dan Emosional
Anak dididik untuk dapat mengembangkan kemampuan sosial melalui proses sosialisasi. Melalui aspek ini anak dibekali dengan kemamuan memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya, tentunya melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus.
4) Bahasa
Dalam aspek ini, anak didorong untuk menguasai kemampuan berkomunikasi sesuai dengan masa perkembangannya.
Kemampuan berbahasa dilihat dari usia perkembangan anak dapat dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode prelinguistik (0-1 tahun) dan periode linguistik (1-5 tahun).
5) Kognitif
Perkembangan kognitif anak biasanya mengacu pada pendapat Piaget yang membagi perkembangan kognitif anak
menjadi empat tahapan, yaitu periode sensorimotorik (usia 0-2 tahun), periode praoperiosaional (2-7 tahun), periode operasional konkrit (7-11 tahun) dan periode operasional formal (usia 11 sampai dewasa).
6) Seni
Kemampuan dibidang seni dapat dikembangkan dalam musik, seni tari, seni gambar dan keterampilan lainnya yang memberikan kemampuan seni estetik dan artistik kepada anak usia dini.
c. Pengertian Kognitif
Kemampuan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini. Kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan. Selanjutnya kognitif juga dapat diartikan dengan kemampuan belajar, berpikir, atau kecerdasan yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru, keterampilan untuk memahami apa yang terjadi dilingkungan, serta keterampilan menggunakan daya ingat dan menyelesaikan soal-soal sederhana.36
Menurut Piaget ada empat tahap dalam perkembangan kognitif (berpikir) anak.Tahap-tahap tersebut adalah tahap sensomotorik (baru
36 Khadijah, Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing,2016), 31.
lahir-2 tahun), tahap pra-operasional (2 tahun-7 tahun), tahap operasional konkret (7 tahun-11 tahun), dan tahap operasional formal (11 tahun-15 tahun keatas). 37Pada rentang usia 3-4 tahun sampai 5-6 tahun mulai memasuki masa pra sekolah yang merupakan masa kesiapan anak untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar.38
Kognitif merupakan suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan sesuatu.
Dapat juga dimaknai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan.39 Kemampuan kognitif juga merupakan salah satu kemampuan dasar yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya.Bidang pengembangan kognitif pada materi pengembangan mengenal konsep bilangan bertujuan agar anak mampu mengolah perolehan belajarnya, menemukan alternatif pemecahan masalah, pengembangan kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu, kemampuan memilah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan kemampuan berpikir secara teliti. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat
37 Khadijah, Pendidikan Prasekolah (Medan: Perdana Publishing, 2016), 105.
38 Khadijah, Media Pembelajaran Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing, 2015), 3.
39 Asbullah, Muslim, Pengaruh Media Gambar Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Usia Dini (Jurnal-Al- Mutha'aliyah STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang, 2017), 179.
kecerdasan yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ideide dan belajar.40
Sehubungan dengan kemampuan kognitif anak, terdapat beberapa klasifikasi tentang kemampuan kognitif anak usia 5-6 tahun.
Tujuan pengembangan kognitif diarahkan pada pengembangan kemampuan auditory (bunyi, indera pendengaran anak), visual (penglihatan, pengamatan, perhatian, tanggapan, dan persepsi, anak terhadap dalam lingkungan), taktik (pengembangan tekstur, indera peraba), aritmatika (penguasaan berhitung/konsep berhitung permulaan), geometri (konsep bentuk dan ukuran), dan sains permulaan (percobaan/demonstrasi).
d. Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan intelek/kognitif tersebut yaitu sebagai berikut:
1) Karakteristik Tahap Sensor-Motoris
Tahap sensor-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol adalah sebagai berikut:
a) Segala tindakan masih bersifat naluriah. b) Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indra. c) Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategorikan pengalaman. d) Individu
40 Puspita, Penggunaan Media Flashcard Terhadap Kemampuan Kognitif Mengenal Konsep Bilangan 1-10 Di Kelompok A TK Islam Insan L-Firdaus (Jurnal Universitas Negeri Surabaya), 2-3.
mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema sensor-motorisnya.
2) Karakteristik Tahap Praoperasional
Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik yang menonjol adalah sebagai berikut:
a) Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi b) Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide. c) Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat. d) Cara berfikir individu bersifat egosentris ditanfai dengan tingkah laku: berfikir imajinatif, berbahasa egosentris, dan menampakkan dorongan rasa ingin tahu yang tinggi.
3) Karakteristik Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret yaitu ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang telah tampak saja dan bagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berfikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berfikirnya sudah tampak sistematis dan logis. Artinya mudah memahami konsep pengertian yang dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.
4) Karakteristik Tahap Operasional Formal
Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik yang menonjol sebagai berikut:
a) Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. b) Individu mulai mampu berfikir logis dengan objek-objek yang bersifat abstrak. c) Individu mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis. d) Individu bahkan mulai mampu untuk mengintropeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai.41
e. Metode Perkembangan Kemampuan Kognitif
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Berkaitan dengan penerapan pengembangan kognitif pada anak usia dini, maka pendidik dapat menerapkan program kegiatan bermaian sambil belajar bagi anak usia dini dengan menggunakan metode yang tepat yang ada di jenjang PAUD.
Berikut ini macam-macam metode bermain sambil belajar dalam mengembangkan kognitif anak usia dini, sebagai berikut:42
41 Muhammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 31-32.
42 Khadijah, Pengembangan Kognitif AUD Teori dan Pengembangannya (Medan : Perdana Publishing, 2016), 87-119.
1) Metode Bermain
Kegiatan bermain merupakan wahana bagi anak dalam melakukan berbagai eksperimen tentang berbagai konsep yang diketahui dan yang tidak diketahui.
2) Metode Bercerita
Metode bercerita merupakan usaha penananman materi- materi pembelajaran agar membekas dalam bentuk pemahaman dan pengalaman pengembangan kognitif anak,43 atau merupakan cara mengajar dengan meredaksikan kisah untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung didalamnya, bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.44
3) Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pembelajaran oleh guru dengan jalan mengejukan pertanyaan dan siswa menjawab, atau cara penyajian pelajaran dalam bentuk sejumlah pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi ada pula dari siswa kepada guru.45
4) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi ialah suatu cara penyajian materi pembelajaran kepada anak dengan mengadakan percobaan dan
43 Khadijah, 92.
44 Junaidi, Arsyad, Metode Pendidikan Rasulullah SAW (Medan: Perdana Publishing, 2017), 26.
45 Junaidi, Arsyad, 25.
mengalami langsung serta membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajarinya, yang bertujuan agar anak mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu atau metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang disajikan.46
5) Metode Sosiodram
Metode sosiodrama ialah suatu dramatisasi untuk memecahkan suatu masalah yang didramatisasikan yang tidak menggunakan bahan tertulis, latihan terlebih dahulu dan tanpa menyruh anak untuk melafalkan ssuatu, selanjutnya dapat meningkatkan hubungan sosial melalui berkomunikasi, berekspresi dengan bermain peran dan biasanya menceritakan kehidupan sehari-hari anak, sehingga ini sangat membantu dalam megasah kecerdasan kognitif anak.47
f. Tujuan Mengembangkan Kognitif
Dalam mengembangkan kognitif bertujuan sebagai:
1) Belajar untuk memecahkan/menyelesaikan masalah yaitu dengan menggunakan informasi, sumber, dan materi yang diperoleh.
2) Berpikir logis, mengumpulkan dan menggunakan informasi yang masuk akal dengan cara membandingkan, membedakan,
46 Junaidi, Arsyad, 25.
47 Khadijah, Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini (Medan: Perdana Publishing, 2016), 87-122.