BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
1. Kepemimpinan Kepala Madrasah a. Pengertian Kepala Madrasah
1) Kepala Madrasah
Kepala madrasah adalah pemimpin tertinggi di madrasah.
Masing-masing pemimpin mempunyai pola yang berbeda dalam menerapkan kepemimpinannya. Pemimpin dapat mempengaruhi, mengarahkan, dan mendorong orang-orang yang dipimpinnya dengan cara yang berbeda-beda pula24. Kepala Madrasah didefinisikan sebagai seseorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah tempat diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru dan murid yang menerima pelajaran25. Kepala Madrasah adalah seorang tenaga fungsional kepala yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara kepala yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran26. Wahjosumidjo menyatakan bahwa Kepala madrasah adalah seorang kepala (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan structural (kepala madrasah) di madrasah27.
24 Norhanuddin, Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Inovasi Pendidikan Di Mtsn Pangkalan
Bun Kabupaten Kotawaringin Barat, (Kalimantan : IAIN Palangkaraya, 2017)
25 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahanya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007)
26 Wahjosumidjo , Kepemimpinan kepala madrasah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007)
27 Wahjosumidjo , Kepemimpinan kepala madrasah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya , (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007)
2) Syarat-syarat menjadi Pemimpin
Syaikh Muhammad Mubarak dalam kitabnya Nizam al-Islam, menyebutkan ada empat syarat seseorang menjadi pemimpin, yaitu pertama, mempunyai akidah yang lurus. Kedua, mempunyai wawasan yang luas. Ketiga, mempunyai dedikasi mengabdi kepada umat.
Keempat, mempunyai komitmen yang kuat terhadap ajaran Islam.
Dari segi sinilah, umat Islam perlu meninjau dan mempertimbangkan kembali pilihannya28
Menurut al-Mawardi sebagaimana yang dikutif oleh Munawir Sjazali bahwa beliau menerangkan syarat-syarat menjadi pemimpin, yaitu sebagai berikut29:
a) Memiliki ilmu pengetahuan yang memungkinkan mereka memilih siapa yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi imam.
b) Wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengelola kepentingan umum serta Memiliki kecakapan manajerial dan memahami ilmu-ilmu administrasi dan manajemen dalam urusan duniawi.
c) Sehat pendengaran, penglihatan dan lisannya serta utuh anggota- anggota tubuhnya.
d) Sikap adil dengan segala persyaratannya.
28 Anisatun Muthi’ah, Pemimpin Ideal Dalam Perspektif Hadis, (Diya al-Afkar, Vol. 5, No. 1, 2017)
29 Munawir Sjazali, MA, Islam dan Tata Negara, ( UI – Press, Ed V,1990)
3) Kompetensi Kepala Madrasah
Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2017 Tentang kepala madrasah yaitu kepala madrasah harus memiliki kompetensi30 :
a) Kepribadian
Kemampuan personal dalam hal mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan bagi komunitas Madrasah, memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin. memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai Kepala Madrasah, bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, mengendalikan diri dalam menghadapi masalah sebagai Kepala Madrasah dan memiliki bakat minat sebagai pemimpin madrasah.
b) Manajerial
Kemampuan kepala madrasah dalam hal menyusun perencanaan madrasah dalam berbagai skala perencanaan, mengembangkan madrasah sesuai dengan kebutuhan, memimpin madrasah untuk pendayagunaan sumber daya madrasah secara optimal, mengelola perubahan dan pengembangan madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif, menciptakan budaya dan iklim madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik, mengelola guru
30 Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2017 Tentang Kepala Madrasah
dan staf dalam rangka pemberdayaan sumber daya manusia secara optimal, mengelola sarana dan prasarana madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal, mengelola hubungan antara madrasah dan masyarakat dalam rangka mencari dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan, mengelola peserta didik untuk penerimaan peserta didik baru dan pengembangan kapasitas peserta didik, mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional, mengelola keuangan Madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien, mengelola ketatausahaan madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan madrasah, mengelola unit layanan khusus dalam mendukung pembelajaran peserta didik di madrasah, mengelola sistem informasi madrasah untuk penyusunan program dan pengambilan keputusan, memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen madrasah; dan melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan madrasah sesuai prosedur dan melaksanakan tindak lanjutnya.
c) Kewirausahaan
Kemampuan Kepala Madrasah dalam hal menciptakan inovasi yang bermanfaat dan tepat guna bagi madrasah, bekerja
keras untuk mencapai keberhasilan madrasah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif, menciptakan inovasi yang bermanfaat dan tepat guna bagi madrasah, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan madrasah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif.
d) Supervisi
Kemampuan personal dalam hal merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan supervisi yang tepat, dan menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru untuk peningkatan profesionalisme guru
e) Sosial
Kemampuan kepala madrasah dalam hal bekerja sama dengan pihak lain guna kepentingan madrasah, berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan memiliki kepekaan sosial terhadap individu atau kelompok lain.
4) Fungsi Kepemimpinan Kepala Madrasah
Fungsi utama kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan ialah menciptakan situasi belajar dan mengajar yang baik sehingga para guru dan siswa dapat mengajar dan belajar dalam situasi yang baik. Fungsi kepemimpinan berhubungan dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organiasasi
dimana fungsi kepemimpinan harus diwujudkan dalam interaksi antar individu.
Fungsi kepemimpinan dalam pendidikan juga merupakan proses untuk menggerakkan, mengarahkan, mempengaruhi, memotivasi semua manusia dalam lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dalam mewujudkan hal tersebut, pemimpin harus bekerja sama dengan anggotanya.
Pemimpin harus memahami fungsinya sebagai pemimpin.
Fungsi kepemimpinan pendidikan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:31
a) Memikirkan dan merumuskan tujuan pendidikan dan menjelaskan kepada anggota untuk menjadi mampu bekerja sama dalam mencapai tujuan.
b) Mendorong setiap anggota untuk menganalisis situasi dan lingkungan kondisi untuk merumuskan rencana dan kegiatan yang dapat mengembangkan pendidikan.
c) Membantu setiap anggota dalam memberikan yang baik dan benar informasi sehingga mereka dapat melaksanakan semua tugas mereka.
d) Mengambil kesempatan yang bermanfaat untuk ditindaklanjuti oleh anggotanya.
31Sutarman, Leadership Competency Of School Principals, (India :Novateur Publication, 2020), 117
e) Membina dan memelihara kebersamaan dalam lingkungan pendidikan.
f) Mengusahakan keadaan yang kondusif, aman, nyaman dan menyenangkan di lingkungan agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
g) Menanamkan perasaan pada setiap anggota sebagai bagian dari komponen lingkungannya.
Menurut Rivai secara operasional fungsi pokok kepemimpinan dapat dibedakan sebagai berikut32:
1. Fungsi instruksi, fungsi ini bersifat komunikasi satu arah.
Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif.
Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultasi, fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya
32 Rivai,Veithzal, Manajemen Pemimpin dan Kepemimpinan Dalam Organisasi, (Jakarta : Rajawali Pers.2013), 13
konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan dalam pelaksanaan.
Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feedback) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.
Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
3. Fungsi partisipasi, dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
4. Fungsi delegasi, fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.
Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5. Fungsi pengendalian, fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
Menurut Terry dalam Sutrisno, fungsi pemimpin dalam organisasi dapat di kelompokkan menjadi empat, yaitu:33 (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) penggerakan; dan (4) pengendalian.
Duha menyatakan bahwa fungsi-fungsi pemimpin terdiri dari :34 1) Pengatur
Pemimpin bertugas untuk membuat segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan agar berlagsung dengan teratur, tertib, baik.
2) Pelindung
Sebagai aturan pada bawahannya, pemimipin harus mampu meyakinkan dan memberi rasa aman dan nyaman bagi bawahannya.
3) Pemelihara
Pemimpin akan berusaha untuk mempertahankan keberadaan dan keterlibatan bawahannya untuk terus bekerja di dalam organisasi.
4) Pembaharu
Untuk bisa mencapai organisasi dengan baik, fungsi lain yang harus dimiliki seseorang pemimpin adalah fungsi pembaharu yang
33 Edy, Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2016), 219
34 Duha, Timotius, Perilaku Organisasi, (Yogyakarta : Deepublish, 2016),105
mencakup: 1) Perencanaan, dilakukan agar penyusun dan pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan baik. 2) Pemimpin yang harus arif dan bijaksana dengan tidak bertahan pada kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukannya, tetapi bersedia menerima saran dan kritik bawahan. 3) Pemimpin mendorong agar situasi dan keadaan, beserta lingkungan kerja serta berbagai perangkat pekerjaan harus disesuaikan dengan perkembangan yang sedang trjadi di luar.
5) Pengawas
Pengawas yang dilakukan pemimpin bertujuan mengawal pelaksanaan pekerjaan dan kinerja para bawahannya.
Menurut Harbani bahwa fungsi kepemimpinan adalah sebagai berikut :35
a) Pimpinan sebagai penentu arah, yaitu seorang pimpinan harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dalam sebuah organisasi.
b) Pimpinan sebagai wakil dan juru bicara birokrasi, hal ini dimaksudkan pimpinan harus mampu melakukan usaha mengkoordinir seluruh anggota dan mewakili anggota tersebut dalam melakukan koordinasi dengan pihak luar dalam meningkatkan Kerja organisasi.
c) Pimpinan sebagai komunikator, hal ini bertujuan utnuk memberikan komunikasi baik didalam pihak organisasi maupun ke pihak luar orginisasi sebagi mengembangkan organisasi.
35 Pasolong, Harbani, Teori Administrasi Publik, (Bandung : Alfabeta,.2010), 21
d) Pemimpin sebagai mediator. Mediator merupakan sebuah wadah yang diperlukan dalam mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik atau masalah. Pemimpin diharapkan mampu melakukan mediasi secara baik dalam mengambil suatu keputusan untuk mencapai tujuan organisasi.
Dari beberapa fungsi kepemimpinan Kepala Madrasah tersebut yang dikaji dalam penelitian hanya 3 yaitu fungsi instruksi, fungsi konsultasi dan fungsi partisipasi karena peneliti bermaksud untuk mengobservasi fungsi kepala madrasah dari segi kemampuan berkomunikasi dua arah untuk menggerakkan, memperoleh umpan balik, memotivasi dan mengaktifkan orang lain agar melaksanakan perintah ataupun keikutsertaan dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaannya.
2. Pengembangan Kompetensi Profesional Guru a. Pengertian Kompetensi Profesional Guru
Kompetensi menurut Kepmendiknas 045/U/2002 adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab, yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu36.
Profesional menurut Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang
36 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008)
memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi37.
Di dalam UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa yang di maksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah38.
Jadi kompetensi profesional guru adalah aktivitas guru dalam melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan standar kompetensi yang harus dimiliki seorang guru yang telah ditetapkan dalam standar nasional pendidikan, dalam penguasaan akademik (mata pelajaran / bidang studi) secara luas dan mendalam yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya serta metode dan teknik mengajar yang sesuai yang dapat difahami oleh peserta didik, tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan.
b. Tujuan Pengembangan Profesional Guru
Adanya guru di sekolah bukanlah sesuatu hal yang dilakukan tanpa sebab dan tanpa tujuan. Berkenaan dengan masalah tujuan pengembangan Guru, Hasibuan mengemukakan bahwa tujuan dari pengembangan Guru diantaranya meliputi : (a) Meningkatkan produktivitas kerja. (b) Meningkatkan efisiensi. (c) Mengurangi kerusakan. (d) Mengurangi tingkat kecelakaan karyawan. (e)
37 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008)
38 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008)
Meningkatkan pelayanan yang lebih baik. (f) Moral karyawan lebih baik. (g) Kesempatan untuk meningkatkan karier karyawan semakin besar. (h) Technical skill, human skill, dan managerial skill semakin baik. (i) Kepemimpinan seorang manajer akan semakin baik. (j) Balas jasa meningkat karena prestasi kerja semakin besar. (k) Akan memberikan manfaat yang lebih baik bagi masyarakat konsumen karena mereka akan memperoleh barang atau pelayanan yang lebih bermutu.39
c. Karakteristik Kompetensi Profesional Guru
Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar guru mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengabaikan kemungkinan adanya perbedaan lingkungan sosial kultural dari setiap institusi sekolah sebagai indikator, maka guru yang dinilai kompeten secara profesional apabila40:
1) Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik- baiknya.
2) Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.
3) Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah.
39 Malayu Hasibuan S. P, Manajemen, Dasar, Pengertian, Dan Masalah Edisi Revisi, (Jakarta:
PT. Bumi Aksara)
40 Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: Bumi Aksara)
4) Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar dalam kelas.
Karakteristik kompetensi profesional guru adalah guru mampu mengembangkan tanggung jawabnya dengan baik, guru mampu melaksanakan peran-perannya secara berhasil, guru mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional, serta guru patut dicontoh oleh peserta didik karena guru itu harus mempunyai perilaku yang dapat dicontoh oleh murid-muridnya dan warga sekolah, sehingga dengan adanya karakteristik kompetensi profesional itu maka guru harus dapat mengelola aktivitas pendidikan dengan baik41.
d. Macam-Macam Kompetensi Profesional Guru
Di dalam buku Wina Sanjaya yang berjudul strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan mengemukakan bahwa kompetensi profesional guru meliputi42:
1) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan instisusional, tujuan kurikuler, dan tujuan pembelajaran.
2) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar, dan lain sebagainya.
41Yuli Dwi Indahwati, Strategi Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Ma Hidayatul Mubtadiin Tasikmadu Lowokwaru – Malang,(Malang:UIN Malang, 2018)
42 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2007),
3) Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya.
4) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran.
5) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.
6) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
7) Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran.
8) Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang, misalnya paham akan administrasi madrasah, bimbingan, dan penyuluhan.
9) Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berfikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.