A. Tinjauan Pustaka
5. Kalimat Efektif
tidak dapat dirubah menjadi dia membawakan saya. Unsur pelengkap adalah wajib dan dibutuhkan oleh predikat.
6) Pola SPOK
Predikat kalimat berpola SPOK, selain memerlukan subjek juga menuntut kehadiran objek dan keterangan. Contoh, Dia mengirimkan surat kabar ke kantor pusat. Unsur keterangan pada contoh tersebut tidak dapat dihilangkan, karena unsur itu dituntut kehadirannya oleh predikat. Begitu juga unsur objek wajib hadir, karena kalimat tersebut tidak dapat diubah menjadi dia mengirimkan ke kantor pusat. Perubahan tersebut menyebabkan informasinya tidak lengkap.
gagasan yang sama tepatnya di dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
Keefektifan kalimat dapat rusak atau salah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: pemakaian ejaan yang kurang tepat dan pemilihan kata yang tidak tepat (Soedjito, 1992: 129). Suatu kalimat dikatakan tidak efektif apabila kalimat itu tidak memberikan pengertian kepada pendengar atau pembaca sesuai dengan maksud penutur atau penulisnya (Santoso, 1990:
127). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca sesuai dengan maksud penutur atau penulis.
Enre dkk. (1994: 22) mengemukakan bahwa kalimat efektif adalah sejenis pemakaian bahasa, dikembangkan melalui waktu yang panjang dan paling luas digunakan. Ia adalah bahasa orang-orang terpelajar, dipakai dalam tulisan resmi pemerintahan dan lingkungan pekerjaan. Meskipun bahasa baku itu berbeda-beda menurut situasi pemakaiannya, namun ia tetap mempunyai konvensi tertentu yang dipatuhi secara teratur oleh semua pemakaianya. Soedjito (1992: 20), mengemukakan bahwa salah satu ciri kalimat efektif adalah gramatikal. Kalimat efektif memiliki ciri gramatikal, antara lain adalah:
1) unsur yang paling penting harus ada dalam kalimat, 2) aturan-aturan yang disempurnakan,
3) cara pemilihan diksi dalam kalimat.
Sinonim dalam bahasa Indonesia merupakan sinonim semu. Hal ini berarti kata-kata yang bersinonim itu pada umumnya hanya mempunyai kemiripan makna, sehingga masing-masing tidak dapat bervariasi secara bebas tanpa menimbulkan perubahan arti. Dalam menyusun sebuah kalimat, harus dipilih salah satu di antara kata yang bersinonim, maknanya sesuai dengan makna lingkungan kalimat yang dikehendaki. Pemilihan kata di antara kata-kata yang bersinonim yang tidak tepat akan menimbulkan kalimat yang tidak efektif. Kata membetulkan dan membenarkan, misalnya merupakan pasangan kata yang bersinonim. Namun, dalam suatu kalimat, kedua kata tersebut mempunyai perbedaan makna yang justru fundamental.
Perhatikan kedua kalimat berikut ini.
(1) Guru membetulkan jawaban siswanya.
(2)Guru membenarkan jawaban siswanya.
Kata membetulkan dalam kalimat (1) mengandung arti bahwa jawaban siswa itu salah, dan dibuat menjadi betul, sedangkan kata membenarkan dalam kalimat (2) berarti bahwa jawaban siswa tersebut sudah benar. Jadi, membenarkan di situ berarti guru mengatakan benar.
b. Syarat Kalimat Efektif
Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu, penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.
Ciri-ciri kalimat efektif selain yang dikemukakan oleh para ahli bahasa tersebut tampak pula berikut ini.
1) Kesatuan gagasan, yaitu kalimat harus memperlihatkan kesatuan gagasandan mengandung satu ide pokok. Sebuah kalimat dikatakan memiliki kesatuan gagasan apabila subjek, predikat, dan unsur-unsur lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal.
2) Kesejajaran, yaitu penggunaan bentukan kata atau frase imbuhan yang memiliki kesamaan, baik dalam fungsi maupun bentuknya.
Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
3) Kehematan, yaitu dalam kalimat tidak boleh menggunakan kata- kata yang tidak perlu. Setiap kata haruslah memiliki fungsi yang jelas.
4) Penekanan, yaitu bagian kalimat yang dipentingkan perlu ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain.
5) Kelogisan, yaitu kalimat harus mudah dipahami. Unsur pembentuknya harus memiliki hubungan yang logis atau dapat diterima oleh akal sehat (Wijaya dan Honiartri, 2004: 157-160) Selanjutnya, perlu dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya.
1) Keterpaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele. Misalnya :
"Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang- orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab."
Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona, contoh :
a) Surat itu saya sudah baca.
b) Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk :
a) Surat itu sudah saya baca.
b) Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
a) Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
b) Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah- rumah adat.
Seharusnya:
a) Mereka membicarakan kehendak rakyat.
b) Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
2) Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a) Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b) Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri atas bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu. "Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes."
Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal, sebagai berikut.
"Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang."
3) Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan:
a) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek. Perhatikan contoh:
(1) Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
(2) Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
(1a) Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
(2a) Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
b) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
1) Kata merah sudah mencakupi kata warna.
2) Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Perhatikan:
(1) Ia memakai baju warna merah.
(2) Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kalimat itu dapat diubah menjadi : (2a) Ia memakai baju merah.
(2a) Di mana engkau menangkap pipit itu?
c) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
(1) Kata naik bersinonim dengan ke atas.
(2) Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
(3) Dia hanya membawa badannya saja.
(4) Sejak dari pagi dia bermenung.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi : (3a) Dia hanya membawa badannya.
(4a) Sejak pagi dia bermenung.
d) Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya:
Bentuk Tidak Bentuk Baku :
para tamu-tamu => para tamu beberapa orang-orang => beberapa orang.
4) Penekanan
Suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
a) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
b) Membuat urutan kata yang bertahap Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
c) Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d) Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
e) Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
5) Kevariasian
Ciri kevariasian akan diperoleh jika kalimat yang satu dibandingkan dengan kalimat yang lain. Kemungkinan variasi kalimat tersebut sebagai berikut.
a) Variasi dalam Pembukaan Kalimat
Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektivitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan:
(1) Frase keterangan (waktu, tempat, cara) (2) Frase Benda
(3) Frase Kerja
(4) Partikel Penghubung Contoh:
(1) Mang Usil dari kompas menganggap hal ini sebagai suatu isarat sederhana untuk bertransmigrasi (Frase Benda)
(2) Dibuangnya jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini (Frase Benda)
(3) Karena bekerja terlalu berat dia jatuh sakit (Frase Penghubung)
b) Variasi dalam Pola Kalimat
Untuk efektifitas kalimat dan untuk menghindari suasana menoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi predikat – objek – subjek atau yang lainnya.
Contoh :
1) Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju. (S – P- O)
2) Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju doketr muda itu. (P – O – S)
3) Dokter muda itu oleh masyarakat desa Sukamaju belum dikenal. (S – O – P)
c) Variasi dalam Jenis Kalimat
Untuk mencapai efektivitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat Tanya atau kalimat perintah. Perhatikan contoh berikut.
… Presiden SBY sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati- hati memamakai bahan baker dan energi dalam negeri. Apakah kita menangkap peringatan tersebut?
Dalam kutipan tersebut terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam bentuk Tanya. Penulis tentu dapat mengatakannya dalam kalimat berita.
Akan tetapi, untuk mencapai efektifitas, ia memakai kalimat Tanya.
d) Variasi Bentuk Aktif-Pasif Perhatikan contoh berikut!
1a) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya. Kita hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya.
Bandingkan dengan kalimat berikut!
1b) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara. Lagi pula tidak perlu dipupuk kita hanya menggali lubang, menanam dan tinggal menunggu buahnya.
Kalimat-kalimat pada paragaf (1a) semuanya berupa kalimat aktif, sedangkan pada paragraf (1b) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan, bahwa kalimat-kalimat pada paragraf (1a) tidak bervariasi sedangkan paragraf (1b) bervariasi, namun hanya variasi aktif – pasif.
Konsep kalimat efektif dikenal dalam hubungan fungsi kalimat selaku alat komunikasi (Razak, 1998). Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung dengan sempurna. Keraf (1993) juga mengatakan bahwa penguasaan bahasa tidak saja mencakup persoalan kaidah-kaidah atau pola-pola kalimat bahasa, tetapi juga mencakup beberapa aspek lain. Misalnya, penguasaan secara aktif sejumlah besar perbendaharaan kata (kosakata), kemampuan
menemukan gaya yang paling cocok untuk menyampaikan gagasan- gagasan, dan tingkat penalaran (logika) yang dimiliki seseorang.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Berikut ini contoh kalimat yang kurang efektif. Kalimat (1) diambil dari sebuah tiket bus dan kalimat (2) diambil dari sebuah majalah.
(2) Jika bus ini mengambil penumpang diluar agen supaya melaporkan kepada kami.
Kalimat ini kurang jelas maksudnya karena ada bagian yang dihilangkan atau tidak sejajar. Siapakah yang diminta "supaya melaporkan kepada kami"? Ternyata imbauan ini untuk para penumpang yang membeli tiket di agen.
Jika demikian, kalimat ini perlu diubah menjadi :
(2a) Jika bus ini mengambil penumpang diluar agen, Anda diharap melaporkan kepada kami. Jika subjek induk kalimat dan anak kalimatnya dibuat sama, ubahannya menjadi
(2b) Jika bus ini mengambil penumpang diluar agen, harap dilaporkan kepada kami.
(3) Mereka mengambil botol bir dari dapur yang menurut pemeriksaan laboratorium berisi cairan racun. Apakah yang berisi cairan racun itu ? Jika jawabnya "dapur", kalimat ini sudah baik. Jika jawabnya
"botol bir", letak keterangannya perlu diubah menjadi :
(3a) Dari (dalam) dapur mereka mengambil botol bir yang menurut pemeriksaan laboratorium berisi cairan racun.