• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tinjauan Pustaka

4. Kalimat

a. Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, yang sekurang-kurangnya memiliki sebuah subjek dan predikat, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dapat dikatakan bahwa kalimat membicarakan hubungan antara sebuah klausa dan klausa yang lain (Arifin, 2008: 1).

Moeliono dkk. (Eds.) (2005: 254) memberikan batasan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran suatu teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. Kalau diperhatikan pengertian ini menekankan suatu kalimat itu biasa mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak lepas dari ketatabahasaan. Zainuddin (2002: 59) memberikan definisi kalimat, yaitu kesatuan ujaran terkecil, berintonasi, dan mengandung pikiran yang lengkap serta didukung situasi. Pendapat ini menyatakan bahwa suatu ujaran dapat dikatakan sebagai suatu kalimat apabila susunan katanya mengandung pikiran lengkap, berintonasi, dan didukung oleh situasi ketika berbicara.

Kalimat adalah gagasan kata berstruktur atau bersistem yang menimbulkan makna yang sempurna (Kusno, 1990: 127 ). Menurut Kusno bahwa makna sempurna adalah suatu makna yang dapat diterima oleh orang lain sesuai dengan makna yang dimiliki oleh pembuat kalimat.

Dalam wujud lisan kalimat diiringi oleh alunan titi nada, disela jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh penyerapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, tanda seru, dan sementara itu disertakan pula di dalamnya berbagai tanda baca yang berupa spasi atau ruang kosong, koma, titik dua, dan atau sepasang garis pendek yang mengapik bentuk tertentu.

Pada dasarnya kalimat merupakan gugusan kata berstruktur atau bersistem yang mampu menimbulkan makna yang sempurna (Saudin, 1994:

9). Jika dilihat dari segi ketatabahasaan, maka kalimat diartikan sebagai bagian dari ujaran atau teks yang memiliki makna yang utuh. Hal ini sejalan dengan pendapat Muslich (1990: 115) yang menyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana yang mengungkapkan pikiran dan perasaan yang utuh secara ketatabahasaan). Pendapat yang terakhir ini menitikberatkan kalimat pada jenis bahasa tulis.

Secara rinci, Kridalaksana (2001: 83) memberikan batasan kalimat sebagai berikut:

1) Satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.

2) Klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan suatu klausa yang membentuk satuan yang bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.

3) Konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satuan.

Dengan memperhatikan berbagai batasan tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada prinsipnya kalimat merupakan suatu bentuk yang memiliki kaidah dan kaidah tersebut harus dipatuhi. Suatu kalimat adalah uraian kata atau morfem yang susunannya tunduk pada kaidah.

Kaidah tata bahasalah yang menetapkan bagaimana morfem atau kata dapat tersusun untuk menyatakan makna yang khusus. Dengan demikian, memahami bahasa berarti memahami untaian morfem yang diizinkan oleh kaidah sintaksis disebut kalimat gramatikal. Yang dimaksud gramatikal adalah subsistem dalam organisasi bahasa di mana satuan-satuan bermakna bergabung untuk membentuk satuan-satuan yang lebih besar.

Dilihat dari cara penyampaiannya, kalimat dapat berwujud lisan dan tertulis. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh alunan titi nada, disertai oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi (Yunus dalam Daeng, 2005: 55). Dalam wujud tertulis, kalimat BM yang ditulis dengan huruf Latin

diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca, yaitu tanda titik (.) untuk kalimat berita; tanda tanya (?) untuk kalimat tanya; dan tanda seru (!) untuk kalimat perintah; sedangkan kalimat BM yang ditulis dengan aksara lontarak bentuk hurufnya hanya satu macam (tidak mengenal huruf kapital dan huruf kecil) dan tanda bacanya pun hanya satu jenis, yaitu titik tiga (...) yang dapat berfungsi sebagai titik, koma, dan titik koma, tanya, seru, dan lain-lain.

Berdasarkan batasan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ciri-ciri umum kalimat BM adalah (1) dapat berdiri sendiri sebagai ujaran yang lengkap, (2) diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan intonasi final, dan (3) konstituen dasarnya dapat berupa klausa, frasa, maupun kata.

Konstruksi yang konstituen dasarnya berupa klausa, frasa, dan kata dapat dilihat pada contoh berikut:

Contoh:

(1) Appilajaraki anakku ri kamarakna (ri bilikna).

’Belajar ia anakku di kamarnya.’

”Anak saya sedang belajar di kamarnya”

(2) Anak uluaku sannak rosokna nampa anak bungkoku sannak cokmokna.

’Anak sulungku sangat kurusnya baru anak bungsuku sangat gemuknya.’

”Anak sulung saya sangat kurus, tetapi anak bungsu saya sangat gemuk”

b. Pola Kalimat

Macam – macam pola kalimat, yaitu (1) pola subjek prdikat (SP); (2) pola subjek–predikat–objek (SPO); (3) pola subjek–predikat–keterangan (SPK); ( 4 ) pola subjek – predikat – objek – keterangan (SPOK) (Tjiptadi dan Negoro, 2003: 34 ).

1) Pola Subjek Predikat (SP)

Kalimat yang berpola subjek predikat ini disebut kalimat intrasitif artinya kalimat yang tidak mempunyai objek (Tjiptadi dan Negoro, 2003: 35).

2) Pola Subjek – Predikat – Objek (SPO)

Pola ini akan terbentuk jika predikatnya menggunakan kata kerja yang berawalan me-, sedangkan subjek dan objek menggunakan kata benda atau kata ganti. Kalimat yang berpola subjek predikat objek ini disebut kalimat transitif, atinya kalimat yang mempunyai objek (Tjiptadi dan Negoro, 2003:

85).

3) Pola Subjek – Predikat – Keterangan (SPK)

Pola ini merupakan kelanjuatn dari pola SP, karena itu subjek maupun predikatnya sama dan ditambah unsur keterangan.

4) Pola Subjek - Predikat - Objek – Keterangan (SPOK)

Pola ini merupakan kelanjutan dari pola SPO sehingga predikatnya tetap hanya kata kerja atau frasa kerja yang berawalan me-. Keterangan sebagai unsur tambahannya dapat mencakup semua unsur keterangan.

Dalam kalimat minimal terdiri atas unsur predikat dan unsur subjek.

Kedua unsur kalimat itu merupakan unsur yang kehadirannya selalu wajib. Di samping kedua unsur itu, dalam suatu kalimat kadang-kadang ada kata atau kelompok kata yang dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi status bagian yang tersisa sebagai kalimat, tetapi ada pula yang tidak.

Selanjutnya, unsur kalimat terdiri atas unsur wajib dan unsur tak wajib. Unsur wajib itu terdiri atas konstituen kalimat yang tidak dapat dihilangkan, sedangkan unsur tak wajib terdiri atas konstituen kalimat yang dapat dihilangkan (Moeliono, 2005). Untuk lebih jelasnya, berikut dipaparkan tentang pola-pola yang sering terjadi pada setiap kalimat:

1) Pola SP

Pola SP adalah pola yang predikatnya tidak menuntut adanya objek atau pelengkap serta keterangan. Contoh, Anak itu belajar. Kata belajar merupakan predikat yanag memerlukan objek yaitu anak itu.

2) Pola SPK

Pola ini menuntut adanya keterangan, dan keterangan itu bersifat wajib. Contoh, Dia masuk ke ruang tamu. Dari contoh tersebut, masuk merupakan predikat yang diikuti oleh keterangan yakni ke ruang tamu.

3) Pola SPO

Predikat pada kalimat yang berpola SPO menuntut adanya objek.

Contohnya, Kami menghargai pendapat tadi. Dari contoh tersebut, keberadaan objek merupakan wajib. Oleh karena itu, kalimat tersebut tidak dapat diubah menjadi kami menghargai.

4) Pola SPPel

Predikat kalimat berpola SPPel tidak memerlukan objek, yang diperlukan adalah pelengkap. Contoh, Surat kabar sudah merupakan kebutuhan. Keberadaan unsur setelah predikat pada contoh tersebut adalah wajib, karena kalimat tersebut tidak dapat diubah menjadi surat kabar sudah merupakan.

5) Pola SPOPel

Predikat kalimat berpola SPOPel menuntut kehadiran objek dan pelengkap sekaligus. Contoh, Dia membawakan saya oleh-oleh. Kehadiran unsur objek dan pelengkap pada contoh tersebut merupakan wajib karena

tidak dapat dirubah menjadi dia membawakan saya. Unsur pelengkap adalah wajib dan dibutuhkan oleh predikat.

6) Pola SPOK

Predikat kalimat berpola SPOK, selain memerlukan subjek juga menuntut kehadiran objek dan keterangan. Contoh, Dia mengirimkan surat kabar ke kantor pusat. Unsur keterangan pada contoh tersebut tidak dapat dihilangkan, karena unsur itu dituntut kehadirannya oleh predikat. Begitu juga unsur objek wajib hadir, karena kalimat tersebut tidak dapat diubah menjadi dia mengirimkan ke kantor pusat. Perubahan tersebut menyebabkan informasinya tidak lengkap.

Dalam dokumen pengaruh minat belajar bahasa indonesia dan (Halaman 45-52)

Dokumen terkait