Y = -0,149 X1+ 0,000 X2 + 0.473 2
Nilar R2y.x1.x2 atau Rsquare dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 10. Model Summary(b)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .726(a) .527 .508 6.862
a Predictors: (Constant), Penguasaan Kosakata, Minat Belajar b Dependent Variable: Keterampilan Menulis Kalimat Efektif
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh nilai py 2 (variabel sisa)dengan rumus py 2 = 1 – R2y.x1.x2 atau 1 - 0.527 = 0.473. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa kontribusi minat belajar (X1) terhadap keterampilan menulis kalimat efektif (Y) sebesar 0,146 atau 14,6%. Demikian halnya dengan kontribusi penguasaan kosakata (X2) terhadap keterampilan menulis kalimat efektif (Y) sebesar 0,720 atau 72,0%.
Secara umum, kontribusi minat belajar (X1) dan penguasaan kosakata (X2) secara simultan memengaruhi keterampilan menulis kalimat efektif (Y) sebesar R2square = 0,527 atau 52,7%. Sisanya 47,3% dipengaruhi oleh faktor- faktor lain yang tidak diuraikan dalam penelitian ini.
tampak pada hasil penelitian di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar. Tampak siswa dapat lebih mudah memahami pelajaran yang menarik minatnya, dan proses belajar akan berjalan lancar bila disertai dengan minat seperti pada pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar. Hal ini sejalan dengan teori Djamarah (2002: 133) bahwa minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan belajar siswa dalam rentangan waktu tertentu”. Hal ini berarti betapa pentingnya minat belajar siswa ditumbuhkan agar dapat melakukan aktivitas belajar dengan efektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar siswa di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar dikategorikan tinggi. Tingginya minat belajar siswa di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar berdampak positif pada kondisi psikologis dan aktivitas lain siswa untuk belajar seperti pada pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif. Hal ini diperkuat oleh teori The (1998: 28) yang mengemukakan pentingnya minat dalam belajar karena: 1) minat melahirkan perhatian yang serta merta, 2) minat memudahkan terciptanya konsentrasi, 3) minat mencegah gangguan perhatian dari luar, 4) minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan, dan 5) minat memperkecil kebosanan belajar dalam diri sendiri.
Hasil pengamatan menunjukkan pula bahwa minat dalam belajar bagi siswa di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar melahirkan perhatian yang serta merta. Perhatian siswa terhadap pelajaran terutama pembelajaran seperti pada pembelajaran kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar terjadi karena dua sebab, yaitu perhatian yang serta merta dan perhatian yang dipaksakan.
Perhatian yang serta merta terjadi secara spontan, bersifat wajar, dan tumbuh tanpa pemakaian daya kemauan dalam diri siswa. Hal ini disebakan oleh kreativitas guru di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar.
Berbeda dengan perhatian yang kadang dipaksakan kepada siswa untuk menggunakan daya kemauan untuk belajar.
Begitu banyaknya peran minat yang dapat memudahkan terciptanya konsentrasi siswa untuk mengikuti pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar. Di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar, minat yang ditumbuh kembangkan oleh guru memudahkan terciptanya konsentrasi dalam pikiran siswa. Perhatian serta merta yang diperoleh secara wajar atau tanpa pemakaian tenaga kemauan siswa akan memudahkan berkembangnya konsentrasi, yaitu pemusatan pemikiran siswa terhadap sesuatu pelajaran yang disampaikan oleh guru saat itu. Jadi, tanpa minat maka konsentrasi siswa terhadap pelajaran juga sulit dikembangkan dan dipertahankan. Siswa yang melakukan aktivitas belajar tanpa konsentrasi, maka sama saja dengan
menghamburkan waktu dan tenaga secara sia-sia karena pikirannya tidak tertuju kepada pelajaran.
Minat siswa dapat mencegah gangguan perhatian dari luar. Siswa tampak atusias dalam pembelajaran seperti pada pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat. Adanya minat untuk melakukan aktivitas belajar, telah meminimalisir terjadinya gangguan perhatian dari luar diri siswa, seperti orang berbicara. Siswa juga tiak mudah terganggu perhatiannya atau sering mengalami pengalihan perhatian dari pelajarannya kepada suatu hal lain jika minat belajarnya rendah. Hal ini biasa disebabkan dalam diri sudah ada minat, maka akan timbul perhatian terhadap apa yang dipelajari sehingga gangguan dari luar kurang diperhatikan dalam melakukan aktivitas belajar.
Fenomena juga tampak bahwa minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan siswa. Pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar sangat mudah melekat pada diri siswa. Hal ini tampak pada beberapa pertemuan ketika guru melakukan apersepsi. Rata-rata siswa memahami materi yang telah diajarkan.
Minat belajar memperkecil kebosanan belajar siswa di seperti pada pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar. Adanya minat dalam diri siswa untuk belajar dapat memperkecil timbulnya perasaan bosan dalam belajar, karena adanya dorongan belajar, bukan karena paksaan. Kejenuhan
melakukan aktivitas belajar dapat disebabkan oleh dari dalam diri siswa memang tidak ada minat untuk melakukan aktivitas belajar.
Pentingnya minat belajar dalam diri siswa agar dapat sukses dalam belajarnya di sekolah, memberi konsekuensi pada perlunya upaya untuk dapat membangkitkan minat siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
Menurut Slameto (2010: 57), upaya yang ditempuh untuk membangkitkan minat belajar siswa adalah “menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari”. Hal ini pula sesuai dengan teori Djamarah (2002: 133) bahwa upaya yang dapat ditempuh untuk membangkitkan minat belajar, yaitu: Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri siswa, sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.
Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan pengalaman yang dimiliki siswa, sehingga siswa mudah menerima bahan pelajaran. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan kondusif. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam konteks perbedaan individual siswa.
Berdasarkan pendapat di atas, maka berbagai upaya dalam membangkitkan minat belajar siswa yang tidak terlepas dari peran siswa itu sendiri untuk membangkitkan minat belajarnya sekaligus memerlukan rangsangan atau motivasi dari luar dirinya, seperti dari guru. Kondisi tersebut
memberi implikasi pada perlunya kemampuan guru untuk cara-cara membangkitkan minat belajar siswa di sekolah. Agar siswa belajar dengan baik, urid perlu mengetahui dan memahami tujuan belajar. Untuk itu, diperlukan adanya kondisi belajar siswa yang lebih kondusif.
Minat belajar siswa per individu pada pembelajaran penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat efektif di kelas V di SD se-Kecamatan Wajo Kota Makassar ternyata ada pula yang rendah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti tempat. Menurut siswa, kadang menjadi persoalan dan hambatan dalam belajar. Siswa belajar dengan dibatasi oleh waktu, misalnya di rumah saat mengulangi pelajaran yang diperoleh di sekolah.
Siswa belajar kurang maksimal karena kesibukan siswa di rumah yang ingin membantu orang tua dan sebagainya, di kelas ketika guru tidak masuk, siswa lebih memilih berhura-hura atau bermain-main. Pada aspek waktu juga menjadi penyebab kebiasaan belajar mandiri siswa. Rata-rata siswa telah kurang jadwal belajarnya. Bahkan ada siswa yang tidak belajar dengan intensitas dari jadwal yang ditetapkan. Sumber belajar juga menjadi kendala siswa, kurangnya referensi dan sumber belajar menjadi masalah siswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar mandiri. Hal ini wajar terjadi sebab siswa rata-raa berdomisili di daerah pedesaan sehingga sulit memperoleh sumber dan materi pembelajaran.
Secara personal, siswa juga mengutarakan bawa dari aspek cara belajar mandiri siswa yang tampak adalah belajar dengan santai. Siswa selalu tidak maksimal belajar jika tidak dimonitoring oleh guru. Kemandirian belajar siswa kurang tampak dengan sikap acuh dan tidak memiliki target setiap belajar.
Data dan uraian kebiasaan belajar mandiri siswa tersebut mengindikasikan bahwa siswa rata-rata kurang belajar mandiri, baik atas intruksi guru melalui penugasaan tidak terstruktur maupun atas inisiatif siswa sendiri. Kerajinan siswa ini dalam belajar mandiri tampak berdasarkan angket yang berisi tentang intensitas dan kondisi siswa dalam belajar mandiri. Hasil angket menunjukkan bahwa option yang rata-rata dijawab oleh siswa adalah selalu dan kadang-kadang. Selebihnya adalah jarang dan tidak pernah.
Berdasarkan penyajian hasil analisis data dapat diuraikan temuan penelitian ini tentang pengaruh minat dan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis kalimat efektif. Dapat dinyatatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara minat dan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis kalimat efektif. Sebagaimana pernyataan sebelumnya bahwa terdapat pengaruh yang positif antara minat dan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis kalimat efektif merupakan pernyataan yang logis. Hal ini dinyatakan sebab ditinjau dari perolehan nilai antara variabel X1 dan X2 teradap Y sangat sejalan. Artinya, nila minat
belajar siswa dikategorikan tinggi, nilai penguasaan kosakata tinggi, dan lebih tinggi pula nilai keterampilan menulis kalimat efektifnya.
Terdapatnya pengaruh minat dan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis kalimat efektif tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Keegan (dalam Rosyidah, 2010: 48) bahwa siswa yang memiliki minat dan kemandirian belajar akan melaksanakan kegiatan belajarnya dengan kemampuannya sendiri dengan penuh tanggung jawab serta belajar mandiri akan mendukung hasil belajar yang lebih baik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN