• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENELITIAN

1. Kalimat Perintah

Di dalam bahasa Indonesia, kalimat perintah biasa lazimnya memiliki ciri-ciri berikut: (1) berintonasi keras, (2) didukung dengan kata kerja dasar, dan (3) berpatikel pengeras –lah. Kalimat perintah jenis ini dapat berkisar antara perintah yang sangat halus sampai dengan perintah yang sangat kasar.

2) Kalimat Perintah Permintaan

Kalimat perintah permintaan adalah kalimat perintah dengan kadar suruhan sangat halus. Lazimnya, kalimat perintah permintaan disertai dengan sikap penutur yang lebih merendah dibandingkan dengan sikap penutur pada waktu menuturkan kalimat perintah biasa. Kalimat perintah permintaan ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan tolong, coba, harap, mohon, sudilah kiranya, dapatkah seandainya, diminta dengan hormat, dan dimohon dengan sangat.

3) Kalimat Perintah Pemberian Izin

Kalimat Perintah yang dimaksudkan untuk memberikan izin ditandai dengan pemakaian penanda kesantunan silakan, biarlah, diperkenankan, dipersilakan, dan diizinkan.

4) Kalimat Perintah Ajakan

Kalimat perintah ajakan biasanya digunakan dengan penanda kesantunan ayo, biar, mari, harap, hendaknya, dan hendaklah.

5) Kalimat Perintah Suruhan

Kalimat imperatif suruhan biasanya digunakan bersama penanda kesantunan ayo, biar, coba, harap, hendaklah, hendaknya, mohon, silakan, dan tolong.

c. Kalima Tanya

Kalimat tanya, yang juga dikenal dengan nama kalimat tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata tanya seperti apa, siapa, lerapa, kapan, dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah sebagai penegas. Kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan pada bahasa lisan dengan suara naik, terutama jika tidak ada kata tanya atau suara turun. Bentuk kalimat tanya biasanya digunakan untuk meminta (1) jawaban “ya” atau “tidak”, atau (2) informasi mengenai sesuatu atau seseorang dari lawan bicara atau pembaca (Alwi, Hasan, dkk., 2010: 366).

Kalimat tanya adalah kalimat yang mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Jawaban bisa berupa ya atau tidak atau berupa paparan yang panjang lebar. Halim dalam Tarmini (2013: 100) dalam bukunya yang berjudul Intonasi dalam Hubungannya dengan Sintaksis Bahasa Indonesia menyinggung perihal tanya yang dikaitkan dengan intonasi. Halim mengemukakan bahwa kalimat tanya merupakan kalimat tanya yang bergantung dengan jenis jawaban yang dikehendaki atau yang diharapkan. Ada dua tipe jawaban, pertama, jawaban yang menghendaki orang yang ditanya menjawab ya atau tidak dan kedua, jawaban yang menghendaki orang yang ditanya menjawab dengan pemaparan berupa informasi yang ditanyakan.

Kalimat yang berjawab ya-tidak dalam bahasa Indonesia dihasilkan melalui salah satu tiga cara: (i) dengan menggunakan indikator kata tanya apa dengan atau tanpa sufiks interogatif –kah; (ii) dengan menggunakan tanya –kah; dan (iii) dengan menggunakan intonasi. Selanjutnya tipe kalimat tanya kedua memerlukan penggunaan kata tanya apa, siapa di mana, berapa, kapan, sebagainya bergantung kepada masalahnya untuk mencari informasi baru. Halim mengemukakan bahwa kata tanya ini mengisi gatra sebutan kalimat yang bersangkutan.

Selanjutnya, Lapoliwa dalam Tarmini (2013: 100), mengemukakan perihal tanya dalam bagian tulisan disertasinya yang berjudul Klausa Pemerlengkapan dalam Bahasa Indonesia. Lapoliwa berpendapat bahwa kalimat tanya berdasarkan tujuan komunikatifnya dibedakan menjadi dua tipe kalimat tanya yaitu (i) kalimat tanya informatif dan (ii) kalimat tanya konfirmatoris. Jenis kalimat tanya informatif menuntut pendengar memberikan informasi kepada pembicara, sedangkan jenis kalimat tanya konfirmatoris menuntut pendengar supaya menyatakan setuju mengenai suatu (hal) yang diungkapkan oleh kalimat tersebut.

Kridalaksana dalam Tarmini (2013: 101), berpendapat bahwa tanya merupakan bentuk verba atau tipe kalimat yang dipergunakan untuk mengungkapkan pertanyaan. Kridalaksana menyinggung perihal tanya sehubungan dengan pembahasannya mengenasi kelas kata dalam bahasa Indonesia. Interogativa adalah kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui oleh pembicara. Kridalaksana membagi tanya menjadi tiga bagian, yaitu tanya dasar dan tanya turunan. Tanya dasar, seperti apa, bila,

bukan, kapan, ,mana, masa; tanya turunan, seperti apabila, apakah, apaan, apa- apaan, bagaimana, bagaimanakah, berapa, betapa, bilamana, bilakah, bukankah, dengan apa, di mana, ke mana, manakah, kenapa, mengapa, ngapain, siapa, yang mana, masakan; Tanya terikat, seperti-kah dan –tah.

Moeliono dan Dardjowijojo dalam Tarmini (2013: 101), mengemukakan bahwa kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang. Demikian halnya, Djajasudarma dalam Tarmini (2013:

101), mengemukakan bahwa makna kalimat diwujudkan dari tanggapan pendengar atau pembaca kalimat tersebut dan dikemukakan pula bahwa bentuk kalimat tanya biasanya digunakan untuk meminta (i) jawaban ya/tidak dan (ii) informasi sesuatu ataus eseorang dari kawan bicara atau pembaca. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kalimat tanya adalah kalimat yang berisi kalimat tanya yang dapat menghasilkan jawaban ya, tidak, atau sebuah informasi tentang sebuah kejadian.

Dengan demikian, pakar bahasa Indonesia umumnya membagi tanya menjadi dua bentuk, yaitu (i) bentuk kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan pertanyaan dengan jawaban ya/tidak dan (ii) bentuk kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan pertanyaan dengan jawaban berupa informasi.

Berikut ini adalah bagan tipe tanya yang dapat dikemukakan berdasarkan pakar bahasa tersebut.

a. Sistem Tanya

Konstruksi tanya bahasa Indonesia memiliki kode/ciri tanya tersendiri.

Halim dalam Tarmini (2013: 102), mengemukakan bahwa tipe tanya ya/tidak

dalam bahasa Indonesia dihasilkan melalui salah satu dari tiga cara: (i) dengan menggunakan indikator kata tanya apa dengan atau tanpa sufiks tanya -kah, (ii) dengan menggunakan tanya –kah, dan (iii) dengan menggunakan intonasi.

Tipe kalimat tanya dapat dibentuk melalui penggunaan kata tanya apa, siapa, di mana, berapa, kapan, dan sebagainya bergantung kepada masalahnya untuk mencari informasi baru. Halim mengemukakan bahwa kata tanya ini mengisi gatra sebutan kalimat yang bersangkutan.

Selanjutnya, Moeliono & Dardjowijojo dalam Tarmini (2013: 103), mengemukakan bahwa ada lima cara untuk membentuk kalimat tanya, yaitu (i) dengan menambahkan kata apa(kah), (ii) dengan membalikkan urutan kata, (iii) dengan memakai kata bukan atau tidak, (iv) dengan mengubah intonasi kalimat, dan (v) dengan memakai kata tanya. Demikian halnya, Djajasudarma dalam Tarmini (2013: 103) mengemukakan bahwa ada empat cara untuk membentuk kalimat tanya dari kalimat deklaratif, yakni (i) dengan menambah partikel penanyaapa(kah), dengan membalikkan susunan kata, (iii) dengan menggunakan kata bukan (kah) atau tidak (kah), (iv) dengan mengubah intonasi menjadi naik.

b. Penggunaan Partikel

Partikel merupakan salah satu alat tanya yang digunakan untuk membentuk kalimat tanya. Partikel itu sendiri mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal (Kridalaksana dalam Tarmini, 2013: 104). Moeliono

& Dardjowijojo dalam Tarmini (2013: 104), mengemukakan bahwa partikel tanya –kah memiliki sifat manasuka bergantung pada macam kalimatnya. Berikut ini adalah kaidah pemakainya.

1) Partikel –kah membentuk kalimat Tanya Diakah yang akan datang?

(Bandingkan: Dia yang akan datang.) Hari inikah pekerjaan itu selesai?

(Bandingkan: Hari ini pekerjaan itu harus selesai.)

2) Jika dalam kalimat tanya sudah ada kata tanya seperti apa, di mana, bagaimana, maka partikel –kah bersifat manasuka. Pemakaian kahmenjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.

Apakah ayahmu sudah datang?

Bagaimanakah penyelesaian soal ini?

Ke manakah anak-anak pergi?

3) Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya, maka –kah akan memperjelas bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya. Kadang-kadang urutan katanya dibalik.

Tanpa –kah, arti kalimatnya bergantung pada cara kita mengucapkannya dapat berupa kalimat berita atau kalimat tanya (Tarmini, 2013: 102-105).

d. Kalimat Berita

Menurut Kridalaksana (1993:104), menyebut kalimat berita dengan istilah kalimat deklaratif dan pada umumnya mendukung makna “menyatakan atau memberitakan sesuatu” dalam ragam tulis biasanya diberi tanda titik.

Kalimat berita adalah jenis kalimat yang isinya perihal informasi ataupun keterangan tentang suatu kejadian atau peristiwa yang sedang terjadi dalam periode tertentu. Kalimat ini memiliki maksud supaya lawan bicara atau pendengar dapat mengetahui suatu informasi maupun peristiwa.

Kalimat berita adalah suatu jenis kalimat yang isinya berupa informasi atau peristiwa yang dipaparkan. Kalimat ini berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada para pembaca atau pendengarnya agar mereka mengetahui informasi atau peristiwa yang sedang terjadi. Kalimat berita sendiri terdiri dari beberapa macam bentuk yaitu, kalimat berita langsung, kalimat berita tak langsung, kalimat berita positive, dan kalimat berita negatif.

1. Ciri-ciri Kalimat Berita

Untuk mengetahui apakah suatu kalimat merupakan kalimat berita apa bukan, perhatikan beberapa ciri-ciri kalimat berita sebagai berikut :

a) Dalam bentuk tulisan kalimat berita diawali dengan huruf kapital dan selalu diakhiri dengan tanda titik.

b) Dalam bentuk lisan kalimat berita ditandai dengan intonasi yang datar dan netral.

c) Yang paling penting adalah kalimat berita merupakan fakta opini seseorang atau kelompok.

2. Macam-macam Bentuk Kalimat Berita a. Kalimat Berita Posotif

Kalimat berita positif adalah kalimat yang berisi berita yang positif yang ditandai dengan tidak adanya pengingkaran atau penyangkalan Contoh:

a) Presiden Jokowi turun tangan langsung untuk mengatasi permasalahan antara KPK dan POLRI.

37

b) Budi memenangkan juara satu lomba membaca puisi setingkat provinsi.

c) Jakarta diterjang banjir akibat hujan yang turun terus-menerus selama 4 hari.

b. Kalimat Berita Negatif

Kalimat berita negative adalah kalimat berita yang isinya merupakan berita negative atau pengingkaran. Kalimat berita negative ditandai dengan adanya kata- kata, pengingkaran seperti tidak dan bukan :

Contoh:

a) Presiden Jokowi tidak jadi melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri yang baru.

b) Air terjun Lembah Hitam bukanlah tempat tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi.

c) Ancaman bom pada Hotel Merpati bukanlah omong kosong belaka.

c. Kalimat Berita Langsung

Kalimat berita langsung adalah kalimat berita yang memuat peristiwa atau kejadian yang berasal dari kutipan atau ujaran seseorang yang kembali disampaikan persis sesuai aslinya. Ciri Kalimat berita langsung dapat dilihat dari Intonasi pada kalimat kutipan yang bernada lebih tinggi daripada kalimat pengiringnya.

Contoh:

a) Ibu guru mengumumkan, ”Besok kalian belajar di rumah dan kembali lagi kesekolah pada hari senin.”

b) “Evakuasi bangkai pesawat Air Asia telah berhasil kami lakukan,” ujar ketua Basarnas pada konverensi pers.

c) Ayah memberitahu, “Nenek kamu sudah dipanggil oleh Allah Swt.”

d. Kalimat Berita Tidak Langsung

Kalimat berita tidak langsung adalah kalimat yang memuat kejadian/peristiwa yang dikutip oleh penutur namun tidak persis seperti apa yang disampaikan sumbernya. Dengan kata lain, penutur menyampaikan kembali apa yang telah disampaikan oleh narasumber. Kalimat ini dicirikan oleh intonasi yang menurun pada akhir kalimat.

Contoh:

a) Ibu mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun yang bersejarah bagi keluarga kami.

b) Presiden Jokowi mengintruksikan kepada menteri perikanan untuk menenggelamkan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia.

c) Presiden Samsung mengatakan bahwa tahun ini mereka akan melemparkan produk terbaru mereka di pasar Indonesia.

5. Al-Quran

Al-Quran adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan membacanya mendapatkan pahala. jadi pada prinsipnya pengertian Al-Quran adalah wahyu atau firman Allah Swt untuk menjadi petunjuk atau pedoman bagi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Ada dua golongan yang berbeda pendapat dalam mengartikan kata Al-Quran, yaitu:

a. Golongan pertama yang diwakili antara lain oleh Al- Lihyani berpendapat bahwa Al-Quran adalah bentuk masdar mahfudz mengikuti wazan Al- Ghufran dan ia merupakan mustaq dari kata Qara‟a yang mempunyai arti sama dengan tala.

b. Golongan kedua yang diwakili antara lain oleh az- zujaj berpendapat bahwa Al-Quran diidentikkan dengan wazan fulan yang merupakan musytaq dari lafal Al-Quran yang mempunyai arti al jam‟u. Ibnu Katsir juga berpendapat bahwa disebut Al-Quran karena di dalamnya memuat kumpulan kisah-kisah, amar maruf nahi munkar, perjanjian, ancaman, ayat ayat dan surat-surat lafal Al-Quran adalah bentuk masdar seperti kata ghufran dan khufran. Dari beberapa pendapat tersebut mereka sepakat bahwa Al-Quran adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, bagi yang membacanya merupakan ibadah dan mendapat pahala.

6. Surah An-Naba’

Surah An-Naba‟ (Arab: , "Berita Besar") adalah surah ke-78 dalam Al- Quran. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 40 ayat. Dinamakan An- Naba‟ yang berarti berita besar diambil dari kata An-Naba´ yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Dinamai juga Amma yatasaa aluun diambil dari perkataan Amma yatasaa aluun yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Surah ini dinamakan dengan Naba' karena keserasian dengan yang ada pada ayat ke-2 (naba'il azhim) dari surah ini. "Naba'"berarti berita [1]atau berita yang berguna. Nama-nama lainnya "Amma" (yang berarti dari berita apa) dan "Tasaul"

(satu sama lain saling bertanya); karena dimulai dengan "Amma Yatasaalun".

Berdasarkan pembahasan teoretis pada tinjauan pustaka di atas, pembahasan berikut akan diuraikan kerangka pikir yang melandasi penelitian ini. Peta konsep atau biasa juga disebut dengan kerangka pikir model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka pikir juga menjelaskan sementara gejala yang menjadi masalah penelitian. Pada umumnya kalimat merupakan gabungan beberapa kata yang memiliki struktur yang telah ditentukan.

Dalam bahasa tulis pengenalan ka limat agaknya perlu mempertimbangkan makna suatu kalimat. Jika suatu ujaran menyatakan makna lengkap atau menyampaikan suatu pikiran lengkap, ujaran itu dapat dikatakan sebagai kalimat.

Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang merupakan kumpulan firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw tujuan utama diturunkannya Al-Quran adalah untuk menjadi pedoman manusia dalam menata kehidupan supaya memperoleh kebahagiaan di dunia dan ak hirat. Agar tujuan itu dapat direalisasikan oleh manusia, maka Al-Quran datang dengan petunjuk- petunjuk, keterangan-keterangan, dan konsep-konsep, baik yang bersifat global maupun yang bersifat terinci, yang tersurat maupun yang tersirat dalam berbagai persoalan dan bidang kehidupan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data ini terdapat dalam penelitian kualitatif dimana deskripsi data berupa informasi, keterangan secara mendalam tentang suatu objek yang menjadi sasaran penelitian.

Hasil analisis data yang berupa temuan penelitian sebagai jawaban atas masalah yang hendak dipecahkan, haruslah disajikan dalam bentuk teori. Dalam menyajikan hasil temuan di atas, terdapat dua metode. Kedua metode ini adalah metode formal dan informal. Dalam penelitian ini menggunakan metode informal.

Metode penyajian informal adalah penyajian hasil analisis data yang menggunakan kata-kata biasa. Maka hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa bentuk kalimat perintah, kalimat tanya dan kalimat berita pada terjemahan Al-Quran surat An-Naba‟.

Bagan 1 : Kerangka Pikir Bahasa

Sintaksis

Analisis

Terjemahan Surah An-Naba'

Temuan

Kalimat Perintah Kalimat Tanya Kalimat Berita

Pendekatan Penelitian Menurut Creswell (2010:4), penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan studi kasus sebagai bagian dari penelitian kualitatif. Studi kasus berfokus pada spesifikasi kasus dalam suatu kejadian baik itu yang mencakup individu, kelompok budaya, ataupun suatu potret kehidupan. Selama tiga dekade, studi kasus telah didefinisikan oleh lebih dari 25 ahli. Creswell (2010: 20) mengatakan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu.

Pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri, yaitu:

a. Penyajian hasil penelitian ini berupa penjabaran tentang objek.

b. Pengumpulan data dengan latar alamiah.

c. Peneliti menjadi istrumen utama.

Berdasarkan pandangan di atas, maka pada dasarnya kehadiran peneliti di sini, selain sebagai instrumen, juga menjadi faktor penting dalam seluruh kegiatan penelitian.

B. Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini yaitu kutipan atau terjemahan Surah An-Naba‟.

Sumber data dalam penelitian ini dalam Al Quran Surah An-Naba‟ ayat 1 sampai 40.

Data dikumpulkan disertai dengan pencermatan terhadap konteksnya, hal ini sangat penting mengingat penelitian ini memakai ancangan sintaksis sebagai tinjauannya.

C. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013:62), teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapat data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam penelitian ini, ada dua langkah yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data, meliputi:

1. Teknik Baca

Teknik baca adalah teknik yang dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan membaca secara cermat dan teliti bentuk kalimat interogatif dan kalimat imperatif dalam terjemahan surah An-Naba‟.

2. Teknik Mencatat

Teknik catat adalah teknik yang digunakan peneliti dengan mencatat jenis-jenis kalimat yang merupakan kalimat interogatif dan kalimat imperatif yang terdapat dalam terjemahan surah An-Naba;.

Untuk mengumpulkan data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat dan teknik baca. Teknik catat adalah mencatat semua informasi penting, sedangkan teknik baca digunakan untuk menelaah sumber- sumber bacaan atau rujukan yang relevan, serta menelusuri sumber-sumber dan

data yang berkaitan secara langsung dengan pembahasan, baik itu dari buku maupun literatur lain. Adapun tahapan yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah :

1. Mengidentifikasi terjemahan yang termasuk dalam jenis kalimat interogatif dan kalimat imperatif.

2. Memberikan kode dengan dua warna spidol, berdasarkan jenis kalimat.

3. Mencatat data atau hal-hal penting yang telah didapatkan.

D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Mentranskrip data hasil bacaan

Setelah penulis memperoleh data berupa terjemahaan dari surah An-Naba‟

ayat 1 sampai 40 maka selanjutnya penulis mentranskrip data tersebut dengan cara menulis kembali semua hasil terjemahaan tersebut.

2. Mengidentifikasi atau mengklasifikasi data

Berdasarkan hasil transkrips i diperoleh data tertulis yang selanjutnya siap untuk diidentifikasi berdasarkan rumusan masalah yang terdapat pada penelitian ini.

Proses identifikasi berarti mengenali/menandai data untuk memisahkan bentuk kalimat tanya dan kalimat perintah yang dibutuhkan untuk tahap selanjutnya, dan mana yang tidak dibutuhkan. Dari proses identifikasi kemudian diberi kode yang sesuai dengan permasalahan yang akan dianalisis dan dibahas.

3. Menganalisis data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis sintaksis, digunakan untuk menjawab masalah bentuk kalimat perintah, kalimat tanya dan kalimat berita. Dalam analisis tersebut, data dikaji dari segi teori sintaksis tentang kalimat.

4. Menyimpulkan

Tahap terakhir menghasilkan simpulan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Simpulan ini menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan masalah penelitian ini.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah bentuk kalimat atau verba untuk mengungkapkan perintah atau keharusan atau larangan untuk melaksanakan suatu perbuatan.

Berikut analisis data dalam (QS An-Naba ayat 1 sampai 40):

Berdasarkan arti (QS An-Naba 78:30) “Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab.”

Menunjukkan penanda kata dasar “rasa” yang diikuti partikel “lah” yang merupakan bentuk kalimat perintah biasa. Dari ayat tersebut Allah memerintahkan untuk merasakan siksa yang abadi untuk orang orang durhaka, Allah tidak akan menambahkan kalian selain siksa di atas siksa yang kalian rasakan. Kalimat perintah biasa menggunakan ciri-ciri salah satunya diikuti oleh partikel “lah”.

Dokumen terkait