71
understanding... “. (tujuan penting dari pengajaran ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kemampuan memahamitual anak-anak).
3. Karakter Peduli Lingkungan
72
spesifik karakter merupakan perilaku yang khas dari seseorang yang membedakan ia dengan orang lain.
Sedangkan pendapat lain terkait dengan karakter, Pernyataan di atas diperkuat dengan pendapat dari Bohlin (2005: 159) menjelaskan bahwa karakter merupakan ciri khas masing-masing orang. Karakter menjadi pembeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Boblin juga menjelaskan bahwa karakter lebih dalam dari penampilan dan reputasi serta lebih dari sekedar kepribadian atau temperamen.
Karakter tidak secara otomatis terbentuk pada manusia, namun ada pembiasaan atau proses dalam pembentukannya. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Pala (2011: 23) bahwa karakter baik pada setiap orang tidak terbentuk secara otomatis, perlu dikembangkan dari waktu ke waktu melalui proses pengajaran, pemberian contoh, proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Hal ini berarti bahwa karakter bisa mengalami pertumbuhan yang dibentuk melalui kebiasaan. Berarti karakter yang ada pada seseorang bisa diubah, untuk itulah karakter merupakan proses yang terus menurus dan sepanjang hayat. Sesuai yang dnyatakan Abu et al (2015: 82) bahwa dalam mengembangkan karakter bukan dilihat dari hasilnya namun juga dari pembiasaan, dalam hal ini proses dalam menerapkan karakter.
Karakter pada diri seseorang ada karakter baik dan karakter buruk.
Melalui pendidikan diharapkan mampu membentuk karakter baik pada diri siswa. Karakter baik yang dimaksud Sojourner (Khoury: 49) yaitu sesuatu yang berhubungan dengan perilaku positif dan kebajikan, sedangkan
73
lawan dari karakter baik yaitu karakter buruk. Karakter buruk merupakan hal-hal yang berkaitan dengan sifat buruk atau perilaku buruk.
Pembentukan karakter bisa karena pengalaman seseorang, seperti yang dikemukakan oleh Naim (2012: 53) bahwa karakter dapat dibedakan menjadi dua yaitu karakter yang sebagaimana dilihat (character as seen) dan karakter sebagaimana dialami (character es experienced). Karakter yang ada pada seseorang mengacu pada serangkaian sikap (attitude), perilaku (behavior), motivasi (motivation), dan keterampilan (skill).
Lebih lanjut lagi, Lickona (2013: 72) menjelaskan bahwa pembentuk karakter ada tiga bagian yang saling terkait dan tidak bisa terpisahkan yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Hal ini berarti proses yang terjadi dalam karakter yaitu mengetahui yang baik dan buruk, menimbulkan niat dalam melakukan kebaikan dan pada akhirnya terbiasa melakukan kebaikan. Proses tersebut merupakan pembentukan karakter mulia (good character).
Berdasarkan pendapat para ahli dapat simpulkan bahwa karakter merupakan sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, yang membedakan dengan orang lain. karakter seseorang akan terlihat dari pola pikir, sikap, tutur kata, dan perilaku. Karakter dapat dibentuk dan diubah melalui kebiasaan.
b. Nilai Pembentuk Karakter
Nilai-nilai karakter menurut Suyadi (2015: 8-9) dan Kemendiknas (2011: 8) terdapat nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu berjumlah 18 karakter. Nilai karakter
74
bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, 18 karakter tersebut antara lain: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Media yang akan dikembangkan peneliti dalam penelitian ini hanya memuat karakter peduli lingkungan.
Namun dalam penerapan karakter, meskipun sudah terdapat 18 karakter disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah yang bersangkutan. Ini artinya setiap sekolah memiliki jenis nilai karakter bergantung pada situasi dan kondisi jenis karakter yang dibutuhkan siswa untuk mengahadapi kehidupan sehari-hari. Guru merupakan pemegang kunci dalam pembelajaran, baik itu secara akademik maupun pendidikan karakter (Dodds, 2016: 19). Selain faktor situasi dan guru, terdapat beberapa prinsip agar dalam penerapannya efektif.
Ghamrawi et al (2015: 130) terdapat beberapa hal prinsip dalam menerapkan karakter yaitu: (1) berlandaskan karakter yang baik; (2) pemberian pengertian karakter; (3) pendekatan pengembangan kakakter yang digunakan; (4) komunitas sekolah yang perduli; (5) memberikan contoh tindakan; (6) membentuk kurikulum yang bermakna; (7) motivasi pada diri siswa; (8) pembelajaran etika pada semua warga sekolah; (9) kepemimpinan bersama; (10) keterlibatan orang tua dan masayarakat; dan (11) penilaian sekolah berbasis budaya.
75
Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa pentingnya karakter untuk diterapkan pada sekolah. Jenis karakter yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi dan situasi sekolah, namun pada dasarnya yaitu semua pihak baik itu sekolah, keluarga dan masyarakat terlibat pada pembentukan karakter pada diri siswa. Terkait kondisi dan situasi sekolah yang dilakukan dalam penelitian ini, jenis karakter yang inging dikembangkan melalui media convertible books berbasis scientific approach yaitu karakter peduli lingkungan. Hal ini disebabkan tempat tinggal siswa dekat denga alam dan banyak dari keadaan alam mulai dari sungai, hutan banyak terjadi perusakan dan tidak terjaga kelestariannya.
Untuk itulah perlu adanya pendidikan karakter peduli lingkungan pada sekolah yang akan dilakukan penelitian.
c. Pengertian Karakter Peduli Lingkungan
Peduli lingkungan merupakan nilai yang penting untuk dibentuk dan ditumbuhkembangkan sejak dini, karena manusia yang berkarakter yaitu manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud yaitu berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Definisi sederhana dari lingkungan yaitu bagian dari alam yang ada disekeliling kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa (Prasetyo &
Hariyanto, 2017: 51) lingkungan merupakan daerah yang termasuk di dalamnya.
Sedangkan menurut Prasetyo & Hariyanto (2017: 53) lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memengaruhi
76
alam itu sendiri, kelangsungan kehidupan, dan kesejahteraan manusia makhluk hidup lain.
Peduli menurut Boff (2008: 14-15) yaitu“to care is more than a mere act; it is rather an attitude. Therefore, it encompases more than a moment of awareness, of zeal and of devotion. It represent an attitude of activity, of concern, of responsibility and of an affective involvement with other”. Kepedulian merupakan suatu sikap dasar yang terwujud dalam tindakan-tindakan yang dilandasi oleh perhatian, tanggung jawab dan keterlibatan afektif dengan yang lain.
Kepedulian merupakan suatu sikap dasar yang terwujud dalam tindakan-tindakan yang dilandasi oleh perhatian, tanggung jawab dan keterlibatan afektif dengan yang lain. Peduli secara umum dapat diartikan sebagai memberikan perhatian kepada yang lain. perhatian yang diberikan bertujuan untuk kebaikan bagi yang lain (for the wellbeing of the other).
Menurut Martin (2007: 58) yang lain dimaksud adalah orang, sesuatu, atau realitas yang lain termasuk lingkungan hidup.
Sedangkan lingkungan merupakan sebuah organisme tinggal, lingkungan yang nyaman tentu akan membuat organisme nyaman untuk tinggal. Hal ini sesuai dengan menurut Undang-undang no 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya.
Yaumi (2014: 111) menjelaskan bahwa peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya merawat kelestarian
77
lingkungan hidup dan mencegah kerusakan yang terjadi pada lingkungan alam di sekitarnya.
Sejalan dengan Yaumi, Kemdiknas mengartikan bahwa peduli lingkungan yaitu sikap atau tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam dan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (Kemdiknas, 2010: 10).
Berdasarkan pernyataan di atas, kepedulian lingkungan hidup merupakan wujud sikap mental individu yang direflesikkan dalam perilakunya. Kesadaran dan kepedulian manusia terhadap lingkungan tidak dapat tumbuh begitu saja, namun harus di usahakan yang dilakukan secara terus menerus sejak sedini mungkin. Agar individu sudah terbiasa dalam melakukan sikap peduli lingkungan, salah satu cara yang efektif agar menumbuhkan karakter peduli lingkungan adalah melalui pendidikan.
Pengertian lain tentang peduli lingkungan menurut Kementrian Pendidikan Nasional yaitu sikap atau tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (Faturrahman, 2013: 20).
Melalui proses belajar siswa diperkenalkan dengan pentingnya menjaga lingkungan di kelas dan di lingkungan sekolah. Diharapkan dengan siswa diberikan pembelajaran yang bermuatan karakter, maka akan tercipta sekolah yang nyaman dan bersih. Ketika karakter peduli
78
lingkungan sudah terbentuk, maka siswa akan bisa menyadari pentingnya menjaga lingkungan yang lebih luas dari pada lingkungan sekolah, misalnya ikut menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal, mulai menyadari pentingnya keberadaan tumbuhan hijau bagi kelangsungan hidup manusia dsb.
Pendidikan lingkungan mencakup bidang-bidang yang terkait seperti pendidikan luar ruangan, pendidikan pengalaman, yang berbasis tempat pendidikan dan ilmu lingkungan. Hal ini bertujuan agar siswa mengalami langsung pembelajaran terkait dengan merawat lingkungan sekitar, tanaman, hewan dan benda-benda sekitar yang terkait dengan lingkungan.
Berdasarkan pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa peduli lingkungan merupakan tindakan, usaha, atau upaya yang dilakukan manusia untuk memperbaiki alam yang telah rusak atau memelihara alam dari kerusakan. Penanaman sikap peduli lingkungan yang bisa di terapkan dalam lingkup sekolah yaitu seperti ikut memelihara tanaman disekolah, menajaga kebersihan kelas serta lingkungan dengan tidak membuah sampah sembarangan, mengikuti kegiatan kerja bakti sekolah.
d. Indikator Karakter Peduli Lingkungan
Shobeiri, Omidvar, & Prahallada (2007) menyatakan bahwa pendidikan lingkungan merupakan cara menciptakan pengetahuan, pemahaman, nilai-nilai, sikap, keterampilan, kemampuan dan kesadaran di antara individu dan kelompok sosial terhadap lingkungan. Hal ini sesuai
79
dengan yang ada pada Tbilisi 1977 (Hungerford & peyton, 1994: 14) sebagai berikut.
1) Kesadaran (awaHobbsss): membantu kelompok masyarakat dan individu untuk mendapatkan kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan secara keseluruhan beserta isu yang menyertainnya, pertanyaan, dan permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan dan pembangunan.
2) Pengetahuan (knowledge): membantu individu, kelompok, dan masyarakat untuk mendapatkan berbagai pegalaman dan mendapat pengetahuan tentang apa saja yang diperlukan untuk menciptakan dan menjaga lingkungan yang berkelanjutan.
3) Sikap (attitudes): membantu individu, kelompok, dan masyarakat untuk memperoleh serangkaian nilai dan perasaan peduli terhadap lingkungan serta motivasi untuk berpartisipasi aktif dalam perbaikan dan perlindungan lingkungan.
4) Keterampilan (skills): membantu individu, kelompok, dan masyarakat untuk mendapatkan keterampilan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, mencegah dan memecahkan masalah lingkungan.
5) Partisipasi (participation): memberikan kesempatan dan motivasi terhadap individu, kelompok, dan masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
80
Adapun indikator mengenai peduli lingkungan menurut Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum (2010: 31).
Tabel 3. Indikator Peduli Lingkungan
Nilai Indikator
Peduli lingkungan:
sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan alam di sekitarnya
dan mengembangkan upaya-upaya untuk
memperbaiki yang sudah terjadi
Kelas 1-3 Kelas 4-6