BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Dari hasil penelitian diketahui bahwa media alternatif dari air rebusan kacang merah dapat menumbuhkan koloni jamur Candida albicans. Hal ini dikarenakan di dalam kacang merah mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh jamur Candida albicans sebagai sumber nutrisinya. Seperti karbohidrat, protein, dan unsur-unsur lainnya untuk membantu proses metabolisme jamur Candida albicans. Kadar karbohidrat yang berasal dari penambahan dextrose sebagai sumber karbon merupakan substrat utama bagi jamur Candida albicans dalam membentuk sel-selnya.
Kacang merah mempunyai sumber karbon dan protein yang kompleks.
Kacang merah juga mempunyai kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin B yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan jamur. Dalam 100 gram kacang merah mengandung protein 22,3 gr, karbohidrat 61,2 gr, lemak 1,5 gr, vitamin B1 0,5 mg, fosfor 410 mg, zat besi 5,8 mg. Selain itu, kacang merah juga sangat mudah ditemukan dengan harga yang terjangkau.
(Astawan dalam Mayasari, 2015).
Dari kandungan gizi kacang merah, maka kacang merah berpotensi dijadikan sebagai bahan alami untuk pembuatan media alternatif pengganti media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Dimana komposisi dari media SDA adalah 5 gr peptone sebagai sumber nitrogen, 40 gr dextrose sebagai sumber karbohidrat, 15 gr agar-agar sebagai bahan tambahan yang berfungsi untuk pemadat, dan antibiotik chloramphenicol yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri (Getas, dalam Yuniarty dan Anita, 2018).
Diperkuat juga dengan pernyataan dari Jiwintarum, dkk (2017) bahwa syarat-syarat nutrisi media untuk pertumbuhan jamur antara lain harus mengandung karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain. Karbohidrat dan derivatnya merupakan substrat utama untuk metabolisme jamur. Sehingga media kacang merah juga berpotensi untuk menumbuhkan jamur Candida albicans.
Hal ini juga didukung oleh penelitian terdahulu terhadap media kacang merah dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Media ini kemudian ditanam
28
jamur Trichophyton sp dengan pengulangan sebanyak 9 kali pada masing- masing konsentrasi. Setelah diinkubasi, tumbuh koloni jamur Trichohyton sp pada setiap konsentrasi media. Pertumbuhan jamur yang baik adalah pada konsentrasi 15% dimana pertumbuhannya hampir mendekati media kontrol, karena pada konsentrasi tersebut kandungan karbohidrat dan protein pada media lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 10% (Yuniliani, Dewi, Wildiani Wilson, dan Joko Teguh Isworo, 2018).
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk menggunakan 300 gr kacang merah yang diambil air rebusannya. Pada proses pembuatan media alternatif kacang merah membutuhkan penambahan 10 gram dextrose sebagai sumber karbon untuk membantu kacang merah menyediakan sumber karbon bagi jamur Candida albicans. Kemudian penambahan agar-agar (swallow) sebanyak 5 gram yang berfungsi untuk memadatkan media kacang merah ini, selain itu juga dibutuhkan 0,1 gram antibiotik chlorampenichol untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Komposisi dari media kacang merah tersebut disusun mengacu kepada penelitian sebelumnya oleh Tamam (2019) dengan judul Potensi Kacang Kedelai Sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Jamur Candida Albicans. Pada penelitian ini didapatkan hasil jamur Candida albicans dapat tumbuh pada media kacang kedelai.
Pada penelitian ini juga digunakan media SDA sebagai kontrol positif (+) sekaligus pembanding terhadap ciri-ciri koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah. Sedangkan untuk kontrol negatif, digunakan media kacang merahtanpa inokulasi jamur Candida albicans, untuk membuktikan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah, bukan kontaminasi dari mikroba lain.
Setelah dilakukan pembuatan media SDA dan kacang merah, selanjutnya dilakukan proses inokulasi koloni jamur Candida albicans pada media SDA dan kacang merah. Adapun koloni jamur Candida albicans yang digunakan adalah biakan murni jamur Candida albicans yang sudah dilakukan identifikasi secara makroskopis, mikroskopis, dan uji tabung kecambah.
29
Secara makroskopis terlihat koloni memiliki ciri-ciri berwarna putih agak kekuningan, koloni terlihat sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin atau berlipat-lipat, dan memiliki bau seperti ragi.
Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Ariningsih, dalam Tamam (2019) yang mengatakan bahwa koloni jamur Candida albicans memiliki ciri-ciri berwarna putih kekuningan, koloni sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin atau berlipat-lipat, dan berbau ragi .
Sedangkan secara mikroskopis didapatkan ciri-ciri terlihat seperti sel ragi (blastospora), terlihat memiliki dinding yang tipis, jamur memiliki bentuk sel yang bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran sekitar 3-4 µm. Ciri- ciri mikroskopis tersebut, sesuai dengan pendapat Maharani (2012), yang mengatakan bahwa ciri-ciri mikroskopis jamur Candida albicans yaitu terlihat seperti sel ragi (blastospora), membentuk hifa semu (pseudohifa), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm.
Kemudian pada uji tabung kecambah, setelah diamati menggunakan mikroskopis, maka ditemukan pseudohifa dan clamydospora. Hal ini menandakan bahwa biakan murni tersebut merupakan jamur Candida albicans.
Karena, menurut Jawetz dalam Mujayana (2017) pada jamur Candida albicans, dijumpai clamydospora yang tidak ditemukan pada spesies Candida yang lain dan merupakan pembeda pada spesies tersebut. Hanya Candida albicans yang mampu menghasilkan Clamydospora. Clamydospora adalah spora yang dibentuk karena hifa, pada tempat-tempat tertentu, yang membesar, membulat, dinding menebal, dan letaknya di terminal, atau lateral.
Koloni jamur Candida albicans yang telah diidentifikasi sebelumnya, kemudian diinokulasikan pada media SDA dan kacang merah, selanjutnya diinkubasi selama 2x24 jam pada suhu 37°C. Kemudian dilakukan identifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA, secara makroskopis memiliki ciri-ciri berwarna putih agak kekuningan, koloni terlihat sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin, koloni berukuran sedang-besar, dan berbau ragi.
Sedangkan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang
30
merah, memiliki ciri-ciri makroskopis berwarna putih kekuningan, koloni sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin, ukuran koloni kecil-sedang, dan berbau ragi.
Terdapat satu perbedaan ciri-ciri makroskopis koloni jamur Candida albicans pada media kacang merah dan SDA yaitu ukuran koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah lebih kecil dibandingkan dengan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA. Karena media SDA merupakan media sintetik yang komposisi penyusunnya telah diketahui dengan pasti dan sudah teruji dapat menumbuhkan jamur dengan baik, salah satunya jamur Candida albicans. Selain itu, media SDA mengandung nutrisi yang sederhana, sehingga jamur Candida albicans dapat langsung menggunakan nutrisi tersebut untuk pertumbuhannya.
Sedangkan pada media kacang merah masih memiliki nutrisi yang kompleks sehingga jamur membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memecah terlebih dahulu nutrisi tersebut agar dapat diserap dan digunakan untuk pertumbuhannya.
Pernyataan tersebut, didukung oleh pendapat Saha, dkk dalam Amir (2018) bahwa ukuran koloni pada media SDA lebih besar dibandingkan dengan media tepung talas. karena media SDA merupakan salah satu media kultur yang paling umum digunakan karena formulasinya yangs sederhana dan merupakan media terbaik karena kemampuannya mendukung pertumbuhan pada berbagai jamur. Gandjar dalam Amir (2018) juga mengatakan bahwa dibandingkan dengan SDA, media tepung talas memiliki nutrisi yang lebih kompleks sehingga pertumbuhan jamur belum seoptimal media SDA. Kandungan kompleks dalam media menyebabkan jamur uji membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguraikan menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh sel yang digunakan untuk sintesis sel dan energi.
Di dalam media SDA terdapat peptone dan dextrose, sedangkan pada media kacang merah terdapat kandungan yang kompleks, seperti protein dan karbohidrat. Dextrose merupakan golongan monosakarida, yang merupakan golongan paling sederhana dari karbohidrat. Sehingga langsung dapat diserap
31
oleh jamur untuk pertumbuhannya. Sebaliknya, pada media kacang merah dextrose yang digunakan hanya 10 gr, sedangkan selebihnya didapatkan dari karbohidrat yang merupakan golongan polisakarida. Sehingga jamur harus memecahnya terlebih dahulu menjadi lebih sederhana sebelum digunakan untuk pertumbuhannya.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Hutagalung dalam Amir (2018) bahwa dextrose merupakan golongan monosakarida dengan rumus molekul C₆H₁₂O₆ yang berarti memiliki enam atom karbon, sedangkan karbohidrat merupakan pati atau amilum yang digolongkan sebagai polisakarida dan umumnya merupakan materi cadangan pada tubuh tumbuhan. Polisakarida merupakan gabungan puluhan bahkan ribuan glukosa yang berikatan melalui ikatan glikosidik dengan rumus molekul (C₆H₁₀O₅)ₙ yang berarti pati memiliki banyak atom karbon. Sehingga Candida albicans harus memecahnya terlebih dahulu agar dapat diserap dan digunakan untuk pertumbuhannya.
Selain itu, pada media SDA terdapat peptone sebagai sumber proteinnya. Dimana kita ketahui bahwa peptone merupakan senyawa yang lebih sederhana daripada protein. Sedangkan pada kacang merah sumber proteinnya masih dalam bentuk protein kompleks sehingga jamur Candida albicans harus memecahnya terlebih dahulu agar dapat diserap dan digunakan.
Setelah dilakukan pengamatan secara makroskopis, kemudian dilakukan pengamatan secara mikroskopis pada koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA dan kacang merah. Dimana pada media SDA didapatkan ciri-ciri mikroskopis terlihat seperti ragi (blastospora), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm.
Sedangkan pada media kacang merah, juga didapatkan ciri-ciri mikroskopis yang sama dengan jamur Candida albicans pada media SDA, yaitu terlihat seperti ragi (blastospora), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm.
Dari hasil penelitian ini, dapat dilihat jamur Candida albicans dapat ditumbuhkan pada media alternatif yang didapatkan dari tumbuh-tumbuhan, salah satunya media kacang merah. Namun, dalam pembuatan media kacang
32
merah ini, komposisi media tentu haruslah tepat, supaya jamur Candida albicans dapat tumbuh dengan baik.
Jiwintarum, dkk (2017) telah melakukan penelitian pada tepung biji kluwih (Artocarpus Communis) sebagai bahan alami untuk pembuatan media alternatif untuk pertumbuhan jamur Candida albicans. Media dari tepung biji kluwih ini dibuat sebanyak 250 ml dimana komposisinya adalah 25 gr tepung biji kluwih, 5 gr agar, 5 gr dextrose dan 0,1 gr Ciprofloxacin. Media tepung biji kluwih ini dibuat dalam beberapa konsentrasi, yaitu 10%, 20%, dan 30%.
Kemudian pada tiga konsentrasi ini ditanam jamur Candida albicans, yang kemudian diinkubasi selama 2x24 jam. Setelah diinkubasi, tumbuh koloni jamur Candida albicans pada setiap konsentrasi.
Media alternatif tepung biji kluwih dengan konsentrasi 30% memiliki pertumbuhan jamur Candida albicans terbanyak, kemudian disusul dengan konsentrasi 20%, kontrol (media PDA), dan terakhir konsentrasi 10%. Hal ini sangat berkaitan dengan jumlah nutrisi yang terkandung dalam masing-masing perlakuan, terutama kadar karbohidrat, karena karbohidrat dan derivatnya merupakan substrat utama untuk metabolisme karbon pada jamur (Gandjar, 2006 dalam Jiwintarum, dkk 2017).
Selain itu, Amir (2018) juga sudah melakukan penelitian pada tepung talas sebagai media alternatif pertumbuhan Candida albicans dan Aspergillus sp. Media tepung talas ini dibuat dalam beberapa konsentrasi, yaitu 2%, 4%, 6%, dan 8% dan sebanyak 4 kali pengulangan pada masing-masing konsentrasi yang kemudian diinokulasikan jamur Candida albicans dan diinkubasi selama 3x24 jam pada suhu 37°C.
Didapatkan hasil jamur Candida albicans tumbuh pada setiap konsentrasi dan pengulangan, dan rata-rata jumlah koloni paling banyak adalah pada konsentrasi media 8%, yaitu sebanyak 29,5 CFU/ml. Hal ini disebabkan karena pada konsentrasi 8% kandungan karbohidrat dan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6%, sehingga Candida albicans dapat memanfaatkan kandungan nutrisi pada media tepung talas terutama
33
karbohidrat dan protein untuk tumbuh dan berkembang dengan baik (Nuryati, 2015 dalam Amir 2018).
Dari hasil penelitian ini dapat dinyatakan bahwa kacang merah mempunyai kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin B yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan jamur Candida albicans sehingga media kacang merah bisa menjadi media alternatif pengganti Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang mudah didapatkan dengan harga terjangkau.
34 BAB V PENUTUP