BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Prosedur Kerja
3.5.1 Proses Pembuatan Biakan Murni Jamur Candida albicans
Untuk mendapatkan isolat murni jamur Candida albicans, maka dilakukan proses pemurnian biakan terlebih dahulu. Adapun prosedur yang dilakukan adalah: dilakukan proses sterilisasi jarum ose di atas api bunsen sampai berwarna merah pijar dan dibiarkan dingin. Kemudian diambil koloni jamur Candida albicans dengan jarum ose yang telah steril. Lalu disterilisasi mulut cawan petri berisi media dengan api bunsen, kemudian dilakukan penanaman biakan jamur Candida albicans pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan menggunakan teknik gores secara steril di dekat api bunsen.
Langkah selanjutnya ditutup cawan petri, kemudian dilakukan proses sterilisasi kembali mulut cawan petri dengan api bunsen. Lalu disterilkan kembali jarum ose untuk mematikan biakan yang tertinggal.
Setelah itu dibungkus cawan petri yang sudah ditanami biakan jamur Candida albicans menggunakan koran. Kemudian diinkubasi pada inkubator selama 24-48 jam pada suhu 37ºC.
3.5.2 Identifikasi Biakan Murni Jamur Candida albicans Secara Makroskopis dan Mikroskopis
Biakan murni jamur Candida albicans diidentifikasi terlebih dahulu secara makroskopis yaitu dengan cara mengamati ciri-ciri koloni jamur yang tumbuh pada media, setelah itu dilanjutkan dengan pengamatan ciri- ciri secara mikroskopis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah ditetesi 1-2 tetes KOH 10% di atas object glass. Kemudian dilakukan proses sterilisasi jarum ose di atas api bunsen sampai berwarna merah pijar dan dibiarkan dingin.
Lalu diambil koloni jamur Candida albicans, dilakukan secara steril di dekat api bunsen. Setelah itu ditempelkan jarum ose yang telah ada koloni jamur Candida albicans pada object glass yang telah ditetesi larutan KOH 10% dan ditutup dengan cover glass. Kemudian dilewatkan beberapa kali di atas api bunsen dan didiamkan selama 10 menit. Lalu dilakukan
17
pemeriksaan di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x (Tamam, 2019).
3.5.3 Identifikasi Biakan Murni Jamur Candida albicans dengan Uji Tabung Kecambah (Germ Tube)
Uji tabung kecambah dilakukan dengan cara: dimasukkan 0,5 ml serum ke dalam tabung reaksi, lalu dilakukan proses sterilisasi jarum ose di atas api bunsen sampai berwarna merah pijar dan dibiarkan dingin.
Kemudian diambil koloni jamur Candida albicans pada media SDA dan dimasukkan ke tabung reaksi yang telah berisi serum. Lalu Dihomogenkan koloni jamur dengan serum, kemudian diinkubasi selama 1-2 jam di dalam inkubator. Setelah itu, diambil 1 tetes koloni dan diteteskan pada object glass, lalu diamati pada mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 40x (Indrayati, Sri dan Reszki Intan Sari, 2018).
3.5.4 Tahap Pembuatan Media
3.5.4.1 Pembuatan Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA)
Pada penelitian ini digunakan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) sebagai kontrol, media SDA dibuat sebanyak 6,5 gram dilarutkan dengan 100 ml aquadest (65 gram per 1000 ml aquadest). Menurut Naim (2016) cara pembuatan media SDA adalah: ditimbang 6,5 gram serbuk media SDA, lalu dimasukkan ke dalam beaker glass, kemudian ditambahkan aquadest steril pH 5,6 sebanyak 100 ml. Dihomogenkan larutan dengan bantuan pemanasan dan pengadukan, pelarutan tidak sampai mendidih (pelarutan harus sempurna sehingga tidak ada kristal yang tersisa).
Setelah larutan homogen, dipindahkan larutan ke dalam erlenmeyer.
Lalu ditutup erlenmeyer yang sudah berisi media menggunakan kapas steril, dan dilapisi kapas dengan menggunakan koran, kemudian diikat dengan karet. Kemudian disterilisasi media di dalam autoclave selama 15 menit, pada suhu 121ºC, dengan tekanan 1-2 atm. Setelah proses sterilisasi selesai, media SDA dikeluarkan dari autoclave, dibiarkan suhu media turun hingga
± 50ºC. Disiapkan petri dish di atas meja yang datar, bersih, dan kering.
18
Lalu dituang media sebanyak 15-20 ml ke dalam 3 petri dish. Lalu didiamkan media di dalam petri dish sampai dingin dan memadat.
Kemudian media disimpan pada suhu 4ºC-8ºC.
3.5.4.2 Pembuatan Media Kacang Merah
Berdasarkan penelitian (Tamam, 2019) yang telah dilakukan sebelumnya, proses pembuatannya yaitu: ditimbang kacang merah sebanyak 300 gram, 10 gram dextrose, 5 gram agar-agar tepung (swallow), dan 0,1 gram antibiotik chloramphenicol menggunakan neraca analitik.
Dipotong kacang merah menjadi 2 bagian, setelah dipotong dimasukkan kacang merah ke dalam panci, kemudian ditambahkan 1000 ml aquadest.
Direndam kacang merah dan aquadest selama 1 jam. Kemudian direbus menggunakan hot plate selama 45 menit. Lalu disaring air rebusan kacang merah dan dimasukkan ke dalam beaker glass.
Langkah selanjutnya, dimasukkan 5 gram agar-agar tepung (swallow), 10 gram dextrose ke dalam beaker glass, dan ditambahkan secukupnya aquadest untuk melarutkannya, diaduk menggunakan batang pengaduk hingga larut. Kemudian dimasukkan larutan agar-agar dan dextrose ke dalam beaker glass yang berisi air rebusan kacang merah.
Setelah itu larutan dipanaskan menggunakan hot plate hingga mendidih sambil terus diaduk agar homogen. Setelah mendidih dan homogen, kemudian diukur pH-nya <7,0 (4,5-5,6) menggunakan pH universal.
Apabila pH larutan kurang basa, ditambahkan NaOH 0,01 N, atau ditambahkan HCl 0,01 N apabila pH larutan kurang asam. Kemudian dituangkan media ke dalam erlenmeyer. Lalu ditutup erlenmeyer yang sudah berisi media menggunakan kapas steril, dan dilapisi kapas dengan menggunakan koran kemudian diikat dengan karet.
Selanjutnya dilakukan proses sterilisasi media dengan menggunakan autoclave selama 15 menit dengan suhu 121ºC tekanan 1 atm. Lalu ditunggu sampai tekanan pada autoclave menjadi 0 atm dan dikeluarkan media dari autoclave. Setelah itu ditunggu hingga suhu media menjadi ± 50ºC, kemudian ditambahkan 0,1 gram antibiotik
19
chloramphenicol, dihomogenkan. Kemudian dituang media pada 4 petri dish steril sebanyak 15-20 ml yang dilakukan secara steril di dekat api bunsen. Lalu didiamkan media di dalam petri dish sampai dingin dan memadat. Kemudian media disimpan pada suhu 4ºC-8ºC.
3.5.5 Inokulasi Jamur Candida albicans
Menurut penelitian (Tamam, 2019) yang telah dilakukan sebelumnya, proses inokulasi jamur Candida albicans yaitu: dilakukan proses sterilisasi jarum ose di atas api bunsen sampai berwarna merah pijar dan dibiarkan dingin. Kemudian diambil koloni jamur Candida albicans dengan jarum ose yang telah steril. Lalu disterilisasi mulut cawan petri berisi media dengan api bunsen, kemudian dilakukan penanaman biakan jamur Candida albicans pada media kacang merah dan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan menggunakan teknik gores secara steril di dekat api bunsen.
Langkah selanjutnya ditutup cawan petri, kemudian dilakukan proses sterilisasi kembali mulut cawan petri dengan api bunsen. Lalu disterilkan kembali jarum ose untuk mematikan biakan yang tertinggal.
Setelah itu dibungkus cawan petri yang sudah ditanami biakan jamur Candida albicans menggunakan koran. Kemudian diinkubasi pada inkubator selama 24-48 jam pada suhu 37ºC.
3.5.6 Tahap Pengamatan Jamur Candida albicans 3.5.6.1 Pengamatan Secara Makroskopis
Pengamatan tahap awal dilakukan dengan cara makroskopis yaitu dilihat langsung dengan mata apakah pada media biakan ditumbuhi koloni.
Koloni jamur Candida albicans pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) memiliki ciri-ciri koloni berwarna putih kekuningan, koloni sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin atau berlipat- lipat, dan berbau ragi (Ariningsih, dalam Tamam, 2019).
Untuk memastikan koloni jamur yang tumbuh pada media alternatif kacang merah adalah koloni jamur Candida albicans, maka dibandingkan ciri-ciri atau karakteristik koloni yag tumbuh dengan koloni jamur Candida
20
albicans yang ada pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Setelah dilakukan pengamatan ciri-ciri atau karakteristik koloni jamur Candida albicans pada media kacang merah, selanjutnya dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada kedua media, kemudian dilihat perbedaan jumlah koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah dan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA).
3.5.6.2 Pengamatan Secara Mikroskopis
Setelah dilakukan pengamatan jamur Candida albicans secara makroskopis, maka dilanjutkan dengan tahap pengamatan jamur Candida albicans secara mikroskopis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah ditetesi 1-2 tetes KOH 10% di atas object glass. Kemudian dilakukan proses sterilisasi jarum ose di atas api bunsen sampai berwarna merah pijar dan dibiarkan dingin. Lalu diambil koloni jamur Candida albicans, dilakukan secara steril di dekat api bunsen. Setelah itu ditempelkan jarum ose yang telah ada koloni jamur Candida albicans pada object glass yang telah ditetesi larutan KOH 10% dan ditutup dengan cover glass. Kemudian dilewatkan beberapa kali di atas api bunsen dan didiamkan selama 10 menit.
Lalu dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x (Tamam, 2019).
Jika dilihat dengan menggunakan mikroskop, Candida albicans terlihat seperti sel ragi (blastospora), membentuk hifa semu (pseudohifa), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm (Maharani, 2012). Koloni jamur yang tumbuh di media kacang merah diamati morfologinya secara mikroskopis, dan dibandingkan dengan morfologi secara mikroskopis jamur Candida albicans yang tumbuh pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA), apabila pada kedua media morfologi jamur secara mikroskopis sesuai, hal ini menandakan bahwa koloni jamur yang tumbuh pada media kacang merah adalah jamur Candida albicans.
Dari mulai proses persiapan alat dan bahan hingga proses pengamatan dibutuhkan waktu selama 4 hari. Hari pertama digunakan
21
untuk proses persiapan alat dan bahan, yang dilanjutkan dengan proses pemurnian isolate jamur Candida albicans yang akan digunakan dalam penelitian. Pada hari kedua dilakukan pembuatan media alternatif dari bahan kacang merah. Hari ketiga digunakan untuk mengidentifikasi isolate murni jamur Candida albicans secara makroskopis, mikroskopis, dan uji germ tube, yang dilanjutkan dengan proses penanaman biakan jamur Candida albicans pada media kacang merah dan proses inkubasi biakan.
Dan hari keempat digunakan untuk pengamatan pertumbuhan biakan jamur Candida albicans.
3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data 3.6.1 Teknik Pengolahan Data
Setelah dilakukan pengumpulan data yang telah dilakukan peneliti, maka data akan diolah dengan tahap tabulating. Tabulating adalah pembuatan tabel data yang sudah sesuai dengan tujuan penelitian (Notoatmojo, 2010). Pada penelitian ini dilakukan pengolahan data dengan tabel yang menunjukkan pertumbuhan jamur Candida albicans secara makroskopis dan mikroskopis pada media kacang merah.
3.6.2 Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan mengolah data yang telah terkumpul dengan cara mengelompokkan data sesuai dengan kategori penelitian yang dilakukan, dengan melihat jamur Candida albicans pada media alternatif kacang merah dapat tumbuh (positif) atau tidak dapat tumbuh (negatif) dengan melihat ciri-ciri jamur Candida albicans secara makroskopis dan mikroskopis. Selanjutnya data dianalisa secara deskriptif.
22 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah media dari air rebusan kacang merah dapat menjadi media alternatif yang murah dan mudah didapatkan namun dapat menumbuhkan jamur Candida albicans sehingga dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit kandidiasis. Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan cara melihat ciri-ciri jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA dan kacang merah secara makroskopis dan mikroskopis dengan menggunakan mikroskop pembesaran lensa objektif 10x dan dilanjutkan dengan pembesaran lensa objektif 40x.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Karakteristik Air Rebusan Kacang Merah
Kacang merah yang dipilih dalam keadaan bersih, dan tidak busuk.
Kacang merah ditimbang sebanyak 300 gram direbus dengan 1000 ml aquadest dan diambil air rebusannya.
Hasil air rebusan kacang merah berwarna merah gelap seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 4.1 Air Rebusan Kacang Merah
23
4.1.2 Karakteristik Jamur Candida albicans
4.1.2.1 Karakteristik Jamur Candida albicans Secara Makroskopis
Sampel penelitian yang digunakan merupakan jamur Candida albicans yang didapatkan dari laboratorium Biomedik STIKes Perintis Padang. Dari koloni jamur tersebut, dilakukan proses pembuatan biakan murni terlebih dahulu, dan diperoleh hasil makroskopis seperti gambar di bawah ini.
Gambar 4.2 Koloni Jamur Candida albicans Secara Makroskopis Jamur Candida albicans ditanam pada media SDA, diinkubasi 2x24 jam pada suhu 37°C. Didapatkan koloni jamur Candida albicans berwarna putih kekuningan, permukaan halus licin, tepian rata, koloni sedikit timbul dari permukaan media, dan berbau ragi.
4.1.2.2 Karakteristik Jamur Candida albicans Secara Mikroskopis
Setelah dilakukan pengamatan koloni jamur Candida albicans secara makroskopis, maka dilanjutkan dengan pengamatan secara mikroskopis menggunakan larutan KOH 10% dan diamati dengan mikroskop menggunakan lensa objektif pembesaran 10x dilanjutkan dengan pembesaran 40x.
24
Gambar 4.3 Sel Jamur Candida albicans Secara Mikroskopis Secara mikroskopis, didapatkan hasil koloni terlihat seperti sel ragi (blastospora), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm.
4.1.2.3 Karakteristik Jamur Candida albicans pada Uji Tabung Kecambah (Germ Tube)
Setelah dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis, maka dilanjutkan dengan uji tabung kecambah, uji ini dilakukan untuk memastikan apakah benar atau tidak jamur yang digunakan merupakan jamur Candida albicans. Didapatkan hasil seperti gambar di bawah ini.
Gambar 4.4 Hasil Pengamatan Mikroskopis Jamur Candida albicans pada Uji Tabung Kecambah
Pada pengamatan secara mikroskopis uji tabung kecambah, didapatkan hasil koloni terlihat seperti sel ragi (blastopora), berdinding
25
tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm, terdapat hifa semu (pseudohifa), dan terdapat clamydospora.
4.1.3 Karakteristik Jamur Candida albicans pada Media SDA dan Media Alternatif Kacang Merah
Tabel 4.1 Hasil Observasi Koloni Jamur Candida albicans pada Media SDA dan Media Alternatif Kacang Merah Secara Makroskopis dan Mikroskopis
No. Pengamatan/Hasil
Media
SDA Kacang Merah
1. Makroskopis
Putih kekuningan, berbau ragi, permukaan halus licin, tepian rata, koloni sedikit timbul dari
permukaan media, koloni berukuran sedang-besar, dan koloni berjumlah banyak.
Putih kekuningan, berbau ragi, permukaan halus licin, tepian rata, koloni sedikit timbul dari permukaan media, koloni berukuran kecil- sedang, dan koloni berjumlah banyak.
2. Mikroskopis
Bulat, lonjong, berukuran kecil, berdinding tipis, dan sel seperti ragi (blastopora).
Bulat, lonjong, berukuran kecil, berdinding tipis, dan sel seperti ragi (blastopora).
Keterangan: Sumber data primer 2020
Setelah dilakukan pengamatan makroskopis dan mikroskopis pada media SDA dan kacang merah, maka pada media SDA didapatkan ciri-ciri
26
makroskopis Candida albicans berwarna putih kekuningan, berbau ragi, permukaan halus licin, tepian rata, koloni sedikit timbul dari permukaan media, koloni berukuran sedang-besar, dan koloni berjumlah. Sedangkan pada media kacang merah didapatkan ciri-ciri mikroskopis koloni berwarna putih kekuningan, berbau ragi, permukaan halus licin, tepian rata, koloni sedikit timbul dari permukaan media, koloni berukuran kecil-sedang, dan koloni berjumlah banyak.
(A) (B) (C)
Gambar 4.5 Pengamatan Makroskopis Jamur Candida albicans pada (A) Media SDA, (B) Media Kacang Merah, (C) Media Kontrol
Setelah dilakukan pengamatan secara makroskopis, dilanjutkan dengan pengamatan secara mikroskopis. Pada media SDA, didapatkan hasil mikroskopis sel berbentuk bulat, lonjong, berukuran kecil, berdinding tipis, dan sel seperti ragi (blastopora). Sedangkan pada media kacang merah didapatkan hasil mikroskopis yang sama dengan koloni jamur Candida albicans pada media SDA, yaitu sel berbentuk bulat, lonjong, berukuran kecil, berdinding tipis, dan sel seperti ragi (blastopora).
(A) (B)
Gambar 4.6 Pengamatan Mikroskopis Jamur Candida albicans pada (A) Media SDA, (B) Media Kacang Merah
27
4.2 Pembahasan
Dari hasil penelitian diketahui bahwa media alternatif dari air rebusan kacang merah dapat menumbuhkan koloni jamur Candida albicans. Hal ini dikarenakan di dalam kacang merah mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh jamur Candida albicans sebagai sumber nutrisinya. Seperti karbohidrat, protein, dan unsur-unsur lainnya untuk membantu proses metabolisme jamur Candida albicans. Kadar karbohidrat yang berasal dari penambahan dextrose sebagai sumber karbon merupakan substrat utama bagi jamur Candida albicans dalam membentuk sel-selnya.
Kacang merah mempunyai sumber karbon dan protein yang kompleks.
Kacang merah juga mempunyai kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin B yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan jamur. Dalam 100 gram kacang merah mengandung protein 22,3 gr, karbohidrat 61,2 gr, lemak 1,5 gr, vitamin B1 0,5 mg, fosfor 410 mg, zat besi 5,8 mg. Selain itu, kacang merah juga sangat mudah ditemukan dengan harga yang terjangkau.
(Astawan dalam Mayasari, 2015).
Dari kandungan gizi kacang merah, maka kacang merah berpotensi dijadikan sebagai bahan alami untuk pembuatan media alternatif pengganti media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Dimana komposisi dari media SDA adalah 5 gr peptone sebagai sumber nitrogen, 40 gr dextrose sebagai sumber karbohidrat, 15 gr agar-agar sebagai bahan tambahan yang berfungsi untuk pemadat, dan antibiotik chloramphenicol yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri (Getas, dalam Yuniarty dan Anita, 2018).
Diperkuat juga dengan pernyataan dari Jiwintarum, dkk (2017) bahwa syarat-syarat nutrisi media untuk pertumbuhan jamur antara lain harus mengandung karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain. Karbohidrat dan derivatnya merupakan substrat utama untuk metabolisme jamur. Sehingga media kacang merah juga berpotensi untuk menumbuhkan jamur Candida albicans.
Hal ini juga didukung oleh penelitian terdahulu terhadap media kacang merah dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Media ini kemudian ditanam
28
jamur Trichophyton sp dengan pengulangan sebanyak 9 kali pada masing- masing konsentrasi. Setelah diinkubasi, tumbuh koloni jamur Trichohyton sp pada setiap konsentrasi media. Pertumbuhan jamur yang baik adalah pada konsentrasi 15% dimana pertumbuhannya hampir mendekati media kontrol, karena pada konsentrasi tersebut kandungan karbohidrat dan protein pada media lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi 5% dan 10% (Yuniliani, Dewi, Wildiani Wilson, dan Joko Teguh Isworo, 2018).
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk menggunakan 300 gr kacang merah yang diambil air rebusannya. Pada proses pembuatan media alternatif kacang merah membutuhkan penambahan 10 gram dextrose sebagai sumber karbon untuk membantu kacang merah menyediakan sumber karbon bagi jamur Candida albicans. Kemudian penambahan agar-agar (swallow) sebanyak 5 gram yang berfungsi untuk memadatkan media kacang merah ini, selain itu juga dibutuhkan 0,1 gram antibiotik chlorampenichol untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Komposisi dari media kacang merah tersebut disusun mengacu kepada penelitian sebelumnya oleh Tamam (2019) dengan judul Potensi Kacang Kedelai Sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Jamur Candida Albicans. Pada penelitian ini didapatkan hasil jamur Candida albicans dapat tumbuh pada media kacang kedelai.
Pada penelitian ini juga digunakan media SDA sebagai kontrol positif (+) sekaligus pembanding terhadap ciri-ciri koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah. Sedangkan untuk kontrol negatif, digunakan media kacang merahtanpa inokulasi jamur Candida albicans, untuk membuktikan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah, bukan kontaminasi dari mikroba lain.
Setelah dilakukan pembuatan media SDA dan kacang merah, selanjutnya dilakukan proses inokulasi koloni jamur Candida albicans pada media SDA dan kacang merah. Adapun koloni jamur Candida albicans yang digunakan adalah biakan murni jamur Candida albicans yang sudah dilakukan identifikasi secara makroskopis, mikroskopis, dan uji tabung kecambah.
29
Secara makroskopis terlihat koloni memiliki ciri-ciri berwarna putih agak kekuningan, koloni terlihat sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin atau berlipat-lipat, dan memiliki bau seperti ragi.
Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Ariningsih, dalam Tamam (2019) yang mengatakan bahwa koloni jamur Candida albicans memiliki ciri-ciri berwarna putih kekuningan, koloni sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin atau berlipat-lipat, dan berbau ragi .
Sedangkan secara mikroskopis didapatkan ciri-ciri terlihat seperti sel ragi (blastospora), terlihat memiliki dinding yang tipis, jamur memiliki bentuk sel yang bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran sekitar 3-4 µm. Ciri- ciri mikroskopis tersebut, sesuai dengan pendapat Maharani (2012), yang mengatakan bahwa ciri-ciri mikroskopis jamur Candida albicans yaitu terlihat seperti sel ragi (blastospora), membentuk hifa semu (pseudohifa), berdinding tipis, berbentuk bulat, lonjong, atau bulat lonjong dengan ukuran 3-4 µm.
Kemudian pada uji tabung kecambah, setelah diamati menggunakan mikroskopis, maka ditemukan pseudohifa dan clamydospora. Hal ini menandakan bahwa biakan murni tersebut merupakan jamur Candida albicans.
Karena, menurut Jawetz dalam Mujayana (2017) pada jamur Candida albicans, dijumpai clamydospora yang tidak ditemukan pada spesies Candida yang lain dan merupakan pembeda pada spesies tersebut. Hanya Candida albicans yang mampu menghasilkan Clamydospora. Clamydospora adalah spora yang dibentuk karena hifa, pada tempat-tempat tertentu, yang membesar, membulat, dinding menebal, dan letaknya di terminal, atau lateral.
Koloni jamur Candida albicans yang telah diidentifikasi sebelumnya, kemudian diinokulasikan pada media SDA dan kacang merah, selanjutnya diinkubasi selama 2x24 jam pada suhu 37°C. Kemudian dilakukan identifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA, secara makroskopis memiliki ciri-ciri berwarna putih agak kekuningan, koloni terlihat sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin, koloni berukuran sedang-besar, dan berbau ragi.
Sedangkan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang
30
merah, memiliki ciri-ciri makroskopis berwarna putih kekuningan, koloni sedikit timbul dari permukaan media, permukaan koloni halus, licin, ukuran koloni kecil-sedang, dan berbau ragi.
Terdapat satu perbedaan ciri-ciri makroskopis koloni jamur Candida albicans pada media kacang merah dan SDA yaitu ukuran koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media kacang merah lebih kecil dibandingkan dengan koloni jamur Candida albicans yang tumbuh pada media SDA. Karena media SDA merupakan media sintetik yang komposisi penyusunnya telah diketahui dengan pasti dan sudah teruji dapat menumbuhkan jamur dengan baik, salah satunya jamur Candida albicans. Selain itu, media SDA mengandung nutrisi yang sederhana, sehingga jamur Candida albicans dapat langsung menggunakan nutrisi tersebut untuk pertumbuhannya.
Sedangkan pada media kacang merah masih memiliki nutrisi yang kompleks sehingga jamur membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memecah terlebih dahulu nutrisi tersebut agar dapat diserap dan digunakan untuk pertumbuhannya.
Pernyataan tersebut, didukung oleh pendapat Saha, dkk dalam Amir (2018) bahwa ukuran koloni pada media SDA lebih besar dibandingkan dengan media tepung talas. karena media SDA merupakan salah satu media kultur yang paling umum digunakan karena formulasinya yangs sederhana dan merupakan media terbaik karena kemampuannya mendukung pertumbuhan pada berbagai jamur. Gandjar dalam Amir (2018) juga mengatakan bahwa dibandingkan dengan SDA, media tepung talas memiliki nutrisi yang lebih kompleks sehingga pertumbuhan jamur belum seoptimal media SDA. Kandungan kompleks dalam media menyebabkan jamur uji membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguraikan menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh sel yang digunakan untuk sintesis sel dan energi.
Di dalam media SDA terdapat peptone dan dextrose, sedangkan pada media kacang merah terdapat kandungan yang kompleks, seperti protein dan karbohidrat. Dextrose merupakan golongan monosakarida, yang merupakan golongan paling sederhana dari karbohidrat. Sehingga langsung dapat diserap