• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

F. Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep yang menunjukkan kesahihan dan keadaan data yang diperoleh. Untuk itu peneliti menggunakan triangulasi. “Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada”.57

Triangulasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah triangulasi teknik dan triangulasi sumber.

1. Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam hal ini peneliti membandingkan hasil observasi atau pengamatan dengan data hasil wawancara, serta dokumentasi yang berkaitan.

2. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Dalam hal ini peneliti membandingkan berbagai pendapat atau pandangan dari beberapa sumber data/informan, seperti pengasuh pondok pesantren, tenaga pengajar (ustadz) dan santri.

G. Tahapan-tahapan Penelitian

Untuk melaksanakan proses penelitian dari awal hingga akhir, diperlukan beberapa tahapan-tahapan sebagai perencanaan sebelum terjun langsung pada lapangan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

57 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, 241.

1. Tahap pra penelitian lapangan

Dalam tahap penelitian lapangan terdapat enam tahapan.

Tahapan tersebut juga dilalui oleh peneliti sendiri. Adapun enam tahapan penelitian tersebut ialah:

a. Penyusunan rancangan penelitian;

b. Memilih lapangan penelitian;

c. Mengurus perizinan;

d. Menjajaki dan menilai lapangan;

e. Memilih dan memanfaatkan informan; dan f. Menyiapkan perlengkapan penelitian.58 2. Tahap pekerjaan lapangan

Pada tahap ini peneliti mulai mengadakan kunjungan langsung ke lokasi penelitian dan mulai mengumpulkan data-data yang diperlukan yaitu dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

3. Tahap anlisis data

Setelah data di lapangan terkumpul maka langkah selanjutnya adalah tahap analisis data, pada tahap ini aktivitas yang akan dilakukan adalah:

a. Data yang sudah terkumpul dianalisis secara keseluruhan dan dideskripsikan dalam bentuk teks;

58 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, 127.

b. Data yang telah diseleksi dan yang telah diidentifikasi disajikan dan diformulasikan dalam bentuk uraian kalimat; dan

c. Penarikan kesimpulan, memberikan kesimpulan atas data-data yang sudah terkumpul.

BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo Pondok Pesantren Nurul Hikam adalah salah satu Pondok Pesantren tua di Situbondo. Didirikan oleh seorang ulama yang berasal dari pulau Madura yakni almarhum KH. Muhammad Ra’is sekitar tahun 1890 M. Pondok ini terletak disebuah desa 4 km ke arah timur dari pusat kota Situbondo tepatnya di desa Kesambirampak kecamatan Kapongan kabupaten Situbondo, sebuah wilayah yang membentang luas di jalur pantai utara menuju kabupaten Banyuwangi. Pertama kali pondok ini diasuh oleh pendiri yang pertama yaitu KH. Muhammad Ra’is kemudian setelah beliau wafat tahun 1964 M pesantren ini dipimpin oleh KH. Muarif dan KH.Abdul Aziz kemudian oleh cucu pendiri pondok yakni KH. Ahmad Zaini bin Abdul Aziz. Setelah KH.Ahmad Zaini Kembali ke Rahmatullah maka pondok ini dikelola dan dikendalikan oleh putra putri beliau yang ada di desa Kesambirampak, mereka adalah Lora As’ad Zaini, Lora Abdul Qodir Zaini, Lora Farid Zaini, Lora Yunus Zaini, Ning Mutmainnah Zaini, Muflihah Zaini, dan Rahmatillah Zaini.

Pondok Pesantren Nurul Hikam ini mendirikan beberapa lembaga pendidikan formal di antaranya adalah Madrasah Aliyah Nurul Hikam, Madrasah Tsanawiyah Nurul Hikam, Madrasah Ibtidaiyah dan

yang terakhir adalah lembaga untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), sedangkan untuk lembaga pendidikan non-formal sebagai penunjang dari lembaga pendidikan formal di pesantren ini juga didirikan taman pendidikan al-Qur’an, Madrasah diniyah dan Majlis dzikir Thoriqoh Al- Mu’tabarah An Nahdliyah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

2. Visi dan Misi Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo a. Visi

a. َكَتَف رْعَم و َكَتَّبَحَم ىِنِطْع َأ ىِب وُلاْطَم َك اَض ِر َو ي ِد وُصْقَم َتْن َأ ىِهَل ِإ

“Ya Allah, Engkaulah yang aku tuju, keridloan-Mu yang aku cari, berilah aku (kemampuan untuk) mencintai-Mu dan mengenal-Mu”.

b. Misi

1) Meningkatkan kualitas ibadah dengan intensifikasi dzikrullah sebagai ruhnya.

2) Melatih diri dengan sungguh-sungguh untuk selalu:

a) Ber-Takhalli, yakni mensucikan hati dengan dzikrullah secara terus menerus.

b) Ber-Tahalli, yakni menghiasi diri dengan akhlaq terpuji dan menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah.

c) Ber-Tajalli, yakni kemampuan untuk melihat (musyahadad) keagungan Allah dengan segala sifat dan af’al-Nya dan dapat mengetahui segala rahasia dibalik rahasia.

Upaya dalam mewujudkan visi dan misi tersebut adalah dengan adanya Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Setiap malam jum’at manis terdapat pengajian khawajakan dan pembaiatan rutin yang dihadiri santri dan wali santri, masyarakat sekitar bahkan ikhwan dan akhwat dari berbagai daerah yang mengikuti Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

3. Kurikulum dan Materi Pelajaran Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo

Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo memakai pola pendidikan salaf dan kurikulum modern. Kurikulum yang ditetapkan di pondok pesantren Nurul Hikam Situbondo ialah pelajaran fiqih, tajwid, nahwu, sorrof, dan imla’. Di pondok ini juga memakai kurikulum Kementrian Agama yaitu terdapat sekolah PAUD, MI, MTs, dan MA.

Kemudian juga terdapat program Bahasa Arab Maktubah Nadatul Bayan, yang berisi mengenai pembelajaran membaca kitab. Bahasa Inggris RCBI (Rumah Cerdas Bahasa Inggris) dan PPTQ (Program Pelatihan Terjemah Qur’an) yang diikuti santri MTs dan MA selama 2 tahun dari kelas 1 hingga kelas 2. Untuk kelas 3 hanya dijalankan selama 1 tahun, karena santri lebih difokuskan pada Mata Pelajaran sekolah formal untuk mengikuti Ujian Nasional (UN). Program ini masih baru dijalankan pada tahun pelajaran 2017/2018.

4. Struktur Organisasi Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo a. Kepengurusan

Pengasuh 1 : Abdul Qodir Zaini, M.Si Pengasuh II : Moh. Yunus Zaini Ketua koordinator : Mutmainnah Zaini, S.Pd Ketua Yayasan : Rahmatillah Zaini, S.S Humas : Mufliha Zaini, S.Pd.I Bendahara : Hj. Murti’atun, M.Pd.I Sekretaris : Ana Nur Jannah, S.S

Biro Pendidikan & Pengendali Mutu : Dr. H. Amir Fath, M.Pd Biro Kepesantrenan : Lora Mahrus Ali b. Bidang Gali Potensi Santri

Bidang Seni : Ustd. Luthfi Nawawi, S.Ag Bidang Tata Rias : Kurnia Ningati

Bidang Tata Boga : Sumiati

Bidang Tata Busana : Hj. Murti’atun, M.Pd.I c. Pengurus Madrasah

Kepala TPQ : Ustadzah Isnaini Kepala PAUD : Bunda Nooryani Kepala MI : Badrus Sholeh, S.Pd Kepala MTS : Rahmatillah Zaini, S.S Kepala MA : Dr. H. Amir Fath, M.Pd Kepala MADIN : Lora Mahrus Ali

d. Koordinator Khaujakan Rutin antar Desa dan Kota Imam Khaujakan :

1) Ustad Luthfi Nawawi, S.Ag (Civitas Akademik Pesantren) 2) S.Sahari (Kesambirampak)

3) Ibrahim M. H. (Situbondo Kota) 4) Kyai Matrai (Bandilan-Bondowoso) 5) Kyai Hosen (Gading-Probolinggo) 6) Ustad Suber (Wangkal-Probolinggo) 7) Ustad Wahid (Wangkal-Probolinggo)

8) Ustad Marhun (Kampung Baru-Bondowoso) 9) Ustad Rawi (Ketapang-Banyuwangi)

10) Kyai Musri (Muncar-Banyuwangi) 11) H. Ansori (Muncar-Banyuwangi) 12) H. Hasan (Bringin Anum)

13) Kyai Isrokun Najah (Banun-Situbondo) 14) H. Jamhuri (Solek-Bondowoso)

15) Ustad Tekno (Besuki-Situbondo) 16) Sarkowi (Mlandingan-Situbondo) 17) Kyai Rahman (Banyuanyar-Kalibaru) 18) Pak Fiki (Curah Leduk-Kalibaru) 19) Kyai Musaro (Sempol-Bondowoso)

5. Jadwal Kegiatan Santri Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo Program kegiatan santri yang ada di Pesantren Nurul Hikam terbilang cukup padat, yaitu terjadwal mulai dari pagi hingga malam.

Kegiatan yang dijalani santri tentu menjadi suatu kegiatan rutin santri setiap harinya di Pesantren tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel 2

Jadwal kegiatan santri Ponpes Nurul Hikam

JAM KEGIATAN

03.30 – 05.00  Sholat tahajut berjamaah

 Sholat shubuh berjamaah

 Pengajian Al-Qur’an 05.00 – 06.00  Pengajian kitab 06.00 – 06.30  Mandi

06.30 – 06.50  Sholat dhuha 06.50 - 07.00  Ambil dekosan

07.00 – 13.00  Sekolah Formal MTs dan MA 11.30 – 12.00  Istirahat

12.00 – 12.15  Sholat dhuhur berjamaah 14.30 – 16.00  Sholat asar berjamaah

 Ngaji kitab

16.00 – 16.30  Sekolah Madrasah Diniyah 16.30 – 17.00  Ambil dekosan

17.30 – 18.30  Sholat magrib berjamaah

 Pengajian al-Qur’an 18.30 – 19.00  Sholat isya’ berjamaah 19.00 – 20.00  Pengajian kitab

20.00 – 21.00  Jam belajar 21.00 – 03.30  Istirahat Tambahan Kegiatan:

a. Malam Rabu : Khitobah b. Malam Kamis : Tilawatil Qur’an c. Malam Jum’at : Khaujakan

d. Jum’at Pagi : Ke Pasarean Masyayih (Santri Putra) e. Jum’at Sore : Ke Pasarean Masyayih (SantriPutri)

6. Data Asatidz Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo a. Ketua Madrasah Diniyah : Lora Mahrus Ali

b. Ketua Kurikulum : Ustadz Naseh Naji c. Tenaga Pengajar :

1) H. Malikul Irfan 2) H. Madani

3) Ustadz Zainal Abidin 4) Ustadz Rosyidi

5) Ustadz Ahmad Mahfud 6) Ustadz Aziz

7) Ustad Maksum 8) Ustadzah Nur ‘Aini 9) Ustadzah Ana Nurjannah

B. Penyajian Data dan Analisis

Hasil dari proses observasi dan wawancara serta dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo sesuai dengan fokus penelitian ini, yaitu mengenai penerapan metode tahsin tilawah, faktor pendukung dan penghambat penerapan metode tahsin tilawah serta solusinya dalam pembelajaran al-Qur’an.

1. Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al- Qur’an

Penerapan program dalam bidang al-Qur’an yang berjalan di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo terbagi dalam 3 tingkatan yang disebut kelas unggulan, yaitu tahsin tilawah al-Qur’an; tahfidz al- Qur’an; dan program pembelajaran terjemah al-Qur’an (PPTQ).59 Hal ini disampaikan oleh Ning Tillah selaku ketua yayasan Pondok Pesantren Nurul Hikam dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Jadi dalam pembelajaran al-Qur’an disini itu ada 3 program, ada tahsin, tahfidz dan program pembelajaran terjemah al- Qur’an (PPTQ). Dan untuk sampai di masing-masing tingkat itu tidak langsung, tapi sesuai dengan kriteria yang ditentukan”.60 Pembelajaran al-Qur’an melalui metode tahsin tilawah di Pesantren Nurul Hikam sudah berjalan hampir 1 tahun ini, karena program ini baru dijalankan pada tahun 2017/2018. Terkait penerapan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu meliputi tujuan, materi, media dan metode yang digunakan dalam metode tahsin tilawah al- Qur’an. Pembahasannya adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Tahsin Tilawah Al-Qur’an

Metode tahsin di Pesantren Nurul Hikam tidak hanya diterapkan pada santri yang kurang lancar dalam membaca al- Qur’an, tetapi juga diterapkan pada program tahfidz al-Qur’an,

59 Observasi, 12 Februari 2018.

60 Rahmatillah Zaini, Wawancara, Situbondo, 12 Februari 2018.

karena tujuannya sama yaitu memperbaiki bacaan santri dalam membaca al-Qur’an. Hanya saja santri yang bacaannya masih terbata-bata dan belum paham mengenai hukum bacaan, makharijul huruf dan sifatul huruf tidak bisa mengikuti metode tahsin dalam program tahfidz al-Qur’an. Sedangkan santri yang sudah sampai di tingkatan tahfidz al-Qur’an akan dikembangkan pemahamannya dalam membaca al-Qur’an melalui metode tahsin.61

Seperti yang diungkapkan oleh ustadzah ‘Aini selaku pengampu program tahsin bagi santri yang kurang lancar bacaan al- Qur’annya, dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Iya santri yang belum begitu lancar membaca al-Qur’an, yang masih belum bisa makharijul hurufnya, panjang pendeknya, biasanya ke saya dulu, diperbaiki.. tujuan tahsin kan memperbaiki bacaan yang salah.. baru setelah bisa dikatakan mampu, di lempar ke ustadz Madani”.62

Pernyataan tersebut juga didukung oleh dokumentasi yang didapatkan peneliti pada saat observasi langsung dilapangan, yaitu pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 : Pelaksanaan metode tahsin tilawah al-Qur’an

61 Observasi, 12 Februari, 2018.

62 ‘Aini, Wawancara, Situbondo, 15 Februari 2018.

Ustadz Madani selaku pengampu program tahsin bagi santri tahfidz al-Qur’an juga menjelaskan tentang tujuan tahsin sebagai alasan diterapkannya metode tahsin pada program tahfidz al-Qur’an, dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Sebenarnya tahsin semua, kurikulumnya tahsin.. tujuan utamanya adalah bagaimana siswa/santri dapat membaca al- Qur’an dengan baik, selesai.. karena bertingkat kemampuannya ada yang masih terbata-bata, jadi saya pecahkan menjadi dua, yang terbata-bata kepada ustadz dan ustadzah.. jadi metodenya sama tahsin, saya juga sama, nah dalam satu semester tahsin sudah selesai.. karena di dalamnya saya isi tilawah, kemudian saya isi dengan khotmil Qur’an, ketiga saya isi dengan bacaan-bacaan persurat.. maka apa targetnya yang akan dijalankan setelah ini? Kan bingung juga, semuanya siswa sudah bisa ditanyakan hukum-hukum sudah bisa, sudah selesai, walaupun tidak 90 persen, minimal 80 persen lah jadi temen-temen sudah bisa ini hukumnya apa, ini bacaannya bagaimana, kenapa dibaca panjang, kemudian kenapa dibaca dengung, contohnya bagaimana sudah bisa semua.. makharijul hurufnya juga bagus, nah akhirnya saya terapkan.. ke hufadzul Qur’an.. jadi plus juga di dalamnya ada tahsin.. selain menghafal, santri juga dikembangkan bacaannya melalui metode tahsin”.63

Dari beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa tujuan tahsin tilawah dalam pembelajaran al-Qur’an yaitu untuk memperbaiki dan memperbagus bacaan-bacaan al-Qur’an, sehingga para santri dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid yang telah ditetapkan.

b. Materi Tahsin Tilawah Al-Qur’an

Materi yang dibahas dalam kegiatan tahsin adalah seputar hukum-hukum bacaan, makharijul huruf, sifatul huruf dan

63 Madani, Wawancara, Situbondo, 12 Februari 2018.

fashohahnya. Santri diajarkan bagaimana melafalkan huruf dengan tepat dan benar, memahami hukum-hukum bacaan. Hal ini diungkapkan oleh ustadzah ‘Aini selaku pengampu program tahsin bagi santri yang belum lancar membaca al-Qur’an, dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Materinya ya itu, tentang makhrajnya.. hukum bacaannya kadang keliru.. fashihnya juga masih kurang.. panjang pendeknya juga dibalik-balik kadang.. yang panjang dibaca pendek, yang pendek dibaca panjang.. jadi ya itu masih banyak yang perlu diperbaiki”.64

Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu santri putri yang mengikuti tahsin di tingkat tahfidz, yaitu Wilda dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Semuanya mbak,, kayak hukum nun mati dan tanwin..

makhrajnya.. ghunnahnya.. panjang pendeknya gitu dah”.65 Pernyataan di atas menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dan diajarkan oleh para asatidz adalah mengenai hukum bacaan, makharijul huruf dan panjang pendeknya bacaan serta kefashihannya. Hal ini terkait pada kesalahan-kesalahan yang sering terjadi ketika santri membaca al-Qur’an.

c. Media Pembelajaran Tahsin Tilawah Al-Qur’an

Media yang digunakan dalam kegiatan tahsin yaitu hanya menggunakan kitab al-Qur’an dan terkadang menggunakan papan

64 Aini, Wawancara, Situbondo, 15 Februari 2018.

65 Wilda, Wawancara, Situbondo, 13 Februari 2018.

tulis untuk menjelaskan terkait hukum-hukum tajwid.66 Hal ini diungkapkan oleh ustadz Madani selaku pengampu program tahsin bagi santri tingkat tahfidz, dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Kalau media itu biasanya ya hanya menggunakan al-Qur’an langsung.. karena kebanyakan sudah mampu.. tapi terkadang menggunakan papan tulis, ketika dalam keadaan tertentu..

misalnya menjelaskan terkait hukum-hukum tajwid.. ketika satu waktu sering ditemukan kesalahan santri saat membaca itu dibagian mana harus dengung, mana harus jelas, itu baru saya jelaskan dengan papan tulis.. tapi itu sudah jarang sekali untuk saat ini..”.67

Pernyataan terkait media papan tulis didukung oleh dokumentasi yang didapatkan peneliti pada saat observasi langsung dilapangan, yaitu pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 : Penggunaan media papan tulis dalam kegiatan tahsin

Pernyataan ustadz Madani tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media yang digunakan pada saat kegiatan tahsin hanya

66 Observasi lapangan, 12 Februari 2018.

67 Madani, Wawancara, Situbondo, 12 Februari 2018.

menggunakan al-Qur’an saja, tetapi juga menggunakan papan tulis ketika dalam keadaan tertentu, seperti penjelasan materi mengenai hukum-hukum bacaan.

d. Metode Tahsin Tilawah Al-Qur’an

Penerapan metode tahsin tilawah di Pesantren Nurul Hikam, bagi santri tahfidz menggunakan metode wahdah (mengulang) dan kitabah (menulis), yang disebut dengan metode gabungan. Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan kitabah.

Prakteknya yaitu setelah menghafalkan, ayat-ayat yang telah dihafal kemudian ditulis, sehingga hafalan akan mudah diingat oleh santri.

Kemudian dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan pada bacaan yang salah. Hal ini diungkapkan oleh ustadz Madani dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Tahsin itu, sebenarnya tujuan utamanya kan memperbaiki bacaan, jadi teman-teman (santri) itu seperti menyelam sambil minum, di dalamnya saya isi dengan menghafalkan..

jadi setelah membaca sambilalu menghafalkan, ketika ada kesalahan.. saya perbaiki satu persatu.. metodenya yang pertama itu.. mengulang.. kemudian yang paling berat bagi santri yang tidak mampu untuk mengulang.. akhirnya saya kasih tambahan metode dengan cara menulis.. ketika dia mau menulis, pasti dia membaca.. dan mungkin untuk dia mengetahui bahwa ketika ini dibaca kasroh.. sehingga dapat membantu dia untuk menghafal”.68

Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu santri yang mengikuti tahsin di tingkat tahfidz, yaitu Jamila dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

68 Madani, Wawancara, Situbondo, 12 Februari 2018.

“Ya muroja’ah mbak.. mengulang terus sampai hafal banget..

kalau belum bisa pakai cara menulis.. habis menghafal, terus ditulis ayat yang dihafalkan itu..”.69

Penerapan metode di atas berbeda dengan metode yang digunakan bagi santri yang belum lancar. Ustadz Maksum yang mengajar tahsin bagi santri putra yang belum lancar, khususnya santri yang masih belajar hijaiyah menggunakan iqro’ dan at-tanzil.

Beliau mengungkapkan bahwa penerapan metode tahsin yang ia gunakan adalah dengan cara memberi contoh bacaan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh santri. Hal ini diungkapkan ustadz Maksum dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Kalau penerapannya itu em... sistem apa, saya baca dulu, lalu diikuti santri gitu... setelah dapat beberapa ayat... satu lembar tah, baru saya suruh satu persatu”.70

Beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an berbeda antara santri tahfidz dengan santri yang belum lancar bacaan al- Qur’annya. Metode yang digunakan bagi santri tahfidz yaitu metode gabungan antara metode mengulang dan menulis, sedangkan metode bagi santri yang belum lancar menggunakan metode demonstrasi, yaitu dengan cara memberi contoh bacaan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh santri.

69 Jamila dan Qotwah, Wawancara, Situbondo, 13 Februari 2018.

70 Maksum, Wawancara, Situbondo, 13 Maret 2018.

e. Teknik Mengajar Tahsin Tilawah Al-Qur’an

Teknik yang diterapkan secara umum dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an adalah dengan teknik berhadapan (individual) dan klasikal individual. Teknik individual yaitu ustadz mengajar santri dengan berhadapan, dan memberikan materi pada satu persatu santri sesuai kemampuan setiap santri. Klasikal individual yaitu ustadz memberikan materi secara bersama-sama kepada semua santri.71

Mengenai penerapan teknik dalam kegiatan tahsin, ustadz Madani menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Iya berhadapan.. satu-satu menghadap ke saya dan membacakan hafalannya.. baik yang mengulang maupun menyetor.. setelah itu saya periksa tulisannya dari ayat yang dia hafalkan itu.. nah kemudian di akhir, setelah semuanya selesai menghadap ke saya, kita bahas bersama-sama tentang kesalahan yang sering terjadi pada bacaan-bacaan mereka tadi.. sehingga materi bisa tersampaikan kesemuanya, tidak hanya ke satu santri itu lagi”.72

Salah satu santri putri juga mengungkapkan bahwa ketika belajar tahsin selalu berhadapan langsung dengan ustadz, kemudian diakhir dibahas bersama-sama. Hal ini diungapkan oleh Wilda dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Iya berhadapan, satu-satu ke ustadz... terus dibaca, sudah dibaca shodhaqallah... disuruh perhatikan, kalau yang salah diperhatikan, ghunnahnya diperhatikan.. panjang pendeknya, makhrajnya semuanya, nanti terakhir biasanya dibahas bareng”.73

71 Observasi lapangan, 12 Februari 2018.

72 Madani, Wawancara, Situbondo, 12 Februari 2018.

73 Wilda, Wawancara, Situbondo, 13 Februari 2018.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teknik dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an dilakukan dengan teknik individual dan klasikal individual. Hal ini juga didukung oleh dokumentasi yang didapatkan peneliti pada saat observasi langsung dilapangan, seperti gambar di bawah ini.

Gambar 3 : Pelaksanaan metode tahsin teknik individual

Gambar 4 : Pelaksanaan metode tahsin teknik klasikal individual

Berdasarkan beberapa pernyataan dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi di atas, dapat diketahui bahwa tujuan tahsin tilawah al-Qur’an adalah untuk memperbaiki dan memperbagus bacaan al-Qur’an. Materi yang diajarkan dalam tahsin tilawah al-Qur’an adalah mengenai hukum-hukum bacaan, makharijul huruf, sifatul huruf serta fashohahnya. Kemudian media yang digunakan dalam penyampaian materi tahsin yaitu dengan kitab al-Qur’an dan papan tulis.

Penerapan metode yang digunakan bagi santri tahfidz yaitu menggunakan metode gabungan yang merupakan gabungan antara metode wahdah (mengulang) dan kitabah (menulis). Sedangkan metode yang digunakan bagi santri yang belum lancar adalah dengan metode demonstrasi, yaitu dengan cara memberi contoh bacaan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh santri.

Teknik dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an dilaksanakan dengan berhadapan secara individual, yaitu ustadz mengajarkan materi pada satu persatu santri secara bergiliran, dan materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan setiap santri dalam membaca al-Qur’an. Kemudian dilaksanakan juga dengan klasikal individual, yakni ustadz memberikan materi secara bersama-sama kepada semua santri, dengan tujuan untuk memberikan materi pelajaran secara menyeluruh dari beberapa materi yang dibahas secara individual.

2. Faktor Pendukung Penerapan Metode Tahsin

Faktor pendukung dalam penerapan metode tahsin tilawah al- Qur’an yaitu faktor yang berasal dari dalam diri santri (internal), dan faktor dari luar santri (eksternal). Faktor internal salah satunya adalah minat atau kemauan santri yang tertanam dalam dirinya, serta motivasi yang timbul karena kemauannya untuk terus belajar al-Qur’an bahkan menghafalkan ayat-ayatnya. Kemudian kemampuan santri dalam melafalkan al-Qur’an juga menjadi faktor dilaksanakannya pembelajaran al-Qur’an dengan metode tahsin. Seperti yang di ungkapkan oleh Ning Tillah, selaku ketua yayasan Pesantren Nurul Hikam dalam sebuah wawancara dengan peneliti:

“Faktor pendukungnya banyak.. yang pertama minat dan kemauan santri untuk belajar al-Qur’an.. lingkungan juga mendukung, terutama untuk tahfidznya.. mereka mampu..

motivasi yang kita datangkan langsung narasumber dari Turki..

dan kita sudah kerjasama dengan united Islamic cultural center of Indonesia (UICCI), yayasan tahfidz sulaimaniyah jatim.. ada santri putra kemarin yang lulus seleksi program beasiswa tahfidz al-Qur’an kerjasama antara UICCI dengan direktorat jendral pendidikan kementrian agama RI.. jadi kemauan santri itu sangat tinggi dalam bidang al-Qur’an.. kamu bisa lihat fotonya itu ada dipampang disana”.74

Berdasarkan wawancara di atas, peneliti juga mengambil dokumentasi yang terkait sebagai pendukung, seperti di bawah ini.

74 Rahmatillah Zaini, Wawancara, Situbondo, 19 Februari 2018.

Dokumen terkait