BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS
C. Pembahasan Temuan
Berdasarkan hasil temuan yang peneliti dapatkan selama penelitian dengan judul “Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al- Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo” peneliti memperoleh data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data-data yang ditemukan tersebut peneliti akan melakukan analisis data untuk menjelaskan lebih lanjut dari penelitian. Data yang akan dipaparkan dan di analisa oleh peneliti sesuai dengan fokus masalah dalam penelitian.
Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut.
1. Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al- Qur’an
a. Tujuan Tahsin Tilawah Al-Qur’an
Pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an merupakan suatu proses yang bertujuan memperbaiki dan membaguskan bacaan al- Qur’an, artinya bagaimana siswa/santri dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ahmad Annuri dalam bukunya yang berjudul “Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an & Ilmu Tajwid” bahwa tahsin artinya memperbaiki, membaguskan, menghiasi, mempercantik, membuat lebih baik dari semula. Sedangkan tilawah artinya bacaan. Jadi,
“tahsin tilawah adalah upaya memperbaiki dan membaguskan
bacaan al-Qur’an”.92 Sehingga mengurangi adanya kesalahan- kesalahan dalam membaca al-Qur’an.
b. Materi Tahsin Tilawah Al-Qur’an
Materi yang di ajarkan dalam kegiatan tahsin tilawah al- Qur’an adalah seputar makharijul huruf, sifatul huruf, hukum bacaan, panjang pendeknya serta fashohahnya dan juga pembelajaran lagu untuk melantunkan bacaan al-Qur’an. Ahmad Annuri dalam bukunya yang berjudul “Panduan Tahsin Tilawah Al- Qur’an & Ilmu Tajwid” juga mengatakan bahwa “secara istilah tilawah adalah membaca al-Qur’an dengan bacaan yang menjelaskan huruf-hurufnya dan berhati-hati dalam melaksanakan bacaannya, agar lebih mudah memahami makna yang terkandung di dalamnya”.93 Hal ini menunjukkan bahwa membaca al-Qur’an tidak sekedar membaca, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidahnya.
c. Media Pembelajaran Tahsin Tilawah Al-Qur’an
Media yang digunakan dalam kegiatan tahsin ini adalah kitab al-Qur’an dan papan tulis. Menurut ustadz Madani, media ini sudah cukup membantu sebagai alat perantara untuk menyampaikan pesan atau materi dalam proses pembelajaran. “Media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar”.94 Jadi media adalah alat perantara yang dapat membantu proses pembelajaran yang berfungsi memperjelas makna pesan yang
92 Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an, 3.
93 Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an, 3.
94 Arsyad, Media Pembelajaran, 3.
disampaikan sehingga tujuan proses pembelajaran dapat tercapai dengan sempurna.
Al-Qur’an menjadi media utama untuk mencapai tujuan agar santri dapat memahami tentang tata cara membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Sedangkan papan tulis menjadi media kedua jika dibutuhkan pada saat tertentu, misalnya menjelaskan terkait hukum- hukum tajwid. “Papan tulis merupakan alat klasik yang tak pernah dilupakan orang dalam proses belajar mengajar dan peranannya masih tetap digunakan guru, sebab merupakan alat yang praktis dan ekonomis”.95
d. Metode Tahsin Tilawah Al-Qur’an
Penerapan metode yang digunakan dalam tahsin tilawah al- Qur’an, yaitu menggunakan metode wahdah (mengulang) dan kitabah (menulis), yang disebut dengan metode gabungan. Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan kitabah.
“Prakteknya yaitu setelah menghafalkan, ayat-ayat yang telah dihafal kemudian ditulis, sehingga hafalan akan mudah diingat oleh santri”.96 Kemudian dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan pada kesalahan dalam membaca al-Qur’an. Jadi metode wahdah (mengulang) dalam menghafalkan ayat al-Qur’an dapat terbantu dengan metode kitabah (menulis), untuk mendorong kemampuan santri dalam menghafal.
95 Ramli, Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, 143.
96 Sugiati, Jurnal Qothruna, 143.
Sedangkan penerapan metode pada santri yang belum lancar bacaan al-Qur’annya, menggunakan metode demonstrasi, yaitu dengan cara memberi contoh bacaan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh santri. “Sebaiknya dalam mendemontrasikan cara membaca al-Qur’an guru (ustadz) terlebih dahulu mendemontrasikan dengan sebaik-baiknya, kemudian peserta didik (santri) mengikuti dengan petunjuk guru”.97 Jadi santri yang belum lancar bacaan al- Qur’annya memerlukan contoh terlebih dahulu dari ustadz, kemudian diikuti oleh santri. Hal ini dikarenakan santri belum mampu atau memahami kaidah-kaidah tajwid.
e. Teknik Mengajar Tahsin Tilawah Al-Qur’an
Teknik dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an secara umum yaitu teknik individual dan klasikal individual. Teknik individual yakni ustadz mengajar santri dengan berhadapan, dan memberikan materi pada satu persatu santri secara bergiliran.
“Strategi mengajar individual adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara satu persatu sesuai dengan materi pelajaran yang dipelajari atau dikuasai anak didik”.98 Sehingga materi yang dibahas terkait dengan kesalahan-kesalahan santri saat membaca al- Qur’an dihadapan ustadznya.
97 Ariani, Jurnal Mudarrisuna, 130.
98 Lynda Fitri Ariynti, Implementasi Metode Tahsin Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an di SMP Negeri 4 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2016/2017, (Skripsi, IAIN Salatiga, Salatiga, 2016), 53.
Sedangkan “klasikal individual adalah belajar mengajar dengan cara memberikan materi pelajaran dengan cara bersama- sama kepada sejumlah anak didik dalam satu kelompok”.99 Tujuan dari teknik ini yaitu, untuk memberikan materi pelajaran secara menyeluruh dari beberapa materi yang dibahas secara individual.
Selain itu ustadz juga menyampaikan motivasi-motivasi agar santri tetap bersemangat dalam belajar al-Qur’an.
2. Faktor Pendukung Penerapan Metode Tahsin
Keberhasilan yang dicapai dalam proses belajar tentu akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung ketercapaian tersebut. Faktor-faktor tersebut biasanya berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (internal) dan dari luar (eksternal). Dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo, faktor internal siswa berasal dari minat dan kemauan kemampuan yang dimiliki santri itu sendiri. Menurut Djamarah “minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh”.100 Jadi minat dan keinginan santri dalam pembelajaran al-Qur’an sangat mendukung dan menjadi motivasi tersendiri untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa minat atau keinginan menjadi faktor utama bagi siswa untuk mendukung proses pembelajaran, yang kemudian juga
99 Ibid., 53.
100 Djamarah, Psikologi Belajar, 191.
dilandasi dengan kemampuan santri dalam membaca al-Qur’an sesuai kaidah-kaidahnya.
Selain faktor di atas, faktor eksternal yang menjadi pendukung dalam proses pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an juga berasal dari orang tua atau keluarga, guru (asatid) serta lingkungan santri. Menurut Sukmadinata, “keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pendidikan, lingkungan sekolah juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para siswanya, kemudian lingkungan masyarakat di mana siswa atau individu berada juga berpengaruh terhadap semangat dan aktivitas belajarnya”.101 Hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian orang tua dan keluarga yang mendukung siswa dalam proses pembelajaran, akan memberikan dampak yang baik terhadap hasil belajar siswa. Selain itu, keadaan lingkungan yang baik turut mendukung keberhasilan belajar siswa, misalnya kekompakan para santri untuk mempelajari al-Qur’an dengan semangat, serta program-program yang dijalankan untuk membangun semangat santri dalam bidang al-Qur’an.
3. Faktor Penghambat Penerapan Metode Tahsin
Adanya faktor pendukung dalam proses pembelajaran juga tidak terlepas dari faktor penghambatnya. Secara keseluruhan hasil kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an dapat dikatakan sudah memenuhi target, yaitu bagus. Hasil pembinaan diketahui dengan beberapa evaluasi, yaitu
101 Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, 163.
diadakannya kegiatan tilawah, khotmil Qur’an dan bacan-bacaan persurat. Dengan melakukan latihan membaca al-Qur’an secara terus menerus, maka akan diketahui kemampuan santri tersebut, yakni dengan semakin fasihnya bacaan yang dipraktekkan oleh santri. Jadi secara keseluruhan evaluasi yang dilakukan itu bisa dikatakan berhasil.
Keberhasilan tersebut tentu juga mengalami beberapa kendala yang menjadi faktor penghambat dalam kegiatan tahsin tilawah al- Qur’an. Salah satu hal yang menjadi penghambat, yaitu terdapat beberapa santri yang masih belajar huruf hijaiyah dan belum mampu memahami dengan baik mengenai hukum-hukum bacaan, makharijul huruf serta sifatnya. “Kemampuan membaca al-Qur’an adalah keterampilan melafadzkan setiap huruf dengan memberikan hak huruf (sifat-sifat yang menyertainya seperti qolqolah dan lain-lain) dan mustahaknya (perubahan-perubahan bunyi huruf ketika bersambung dengan huruf lain seperti gunnah, idgham dan lain-lain)”.102 Oleh karena itu, jika terdapat santri yang belum bisa memahami dan menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca al-Qur’an, tentu hal ini menjadi suatu penghambat bagi kelancaran proses pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an.
Kemampuan santri dalam membaca al-Qur’an tentu menjadi hal penting dan merupakan tujuan utama dari pembelajaran al-Qur’an, namun masih terdapat faktor lain yang menjadi penghambat dalam
102 Astuti, Jurnal Pendidikan Usia Dini, 353.
pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an yaitu minimnya waktu yang digunakan untuk kegiatan tahsin, sehingga tidak semua santri dapat terpanggil untuk belajar al-Qur’an secara individul. Kemudian kendala yang paling berat adalah ketika santri mulai merasa malas dan tidak semangat untuk belajar al-Qur’an, karena hal ini akan menghambat tingkat perkembangan dan kemajuan santri dalam pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an.
Selain itu sarana dan prasarana turut menjadi faktor yang dibutuhkan dan perlu disediakan untuk menunjang keberhasilan dalam suatu pembelajaran. “Sarana dan prasarana termasuk masalah klasik yang selalu dapat menjadi problem dalam proses pembelajaran, karena tidak semua sekolah/madrasah dapat menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan”.103 Karena itu kelengkapan sarana dan prasarana menjadi pendukung dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Sebaliknya, jika sarana dan prasarana tersebut tidak tersedia, maka menjadi suatu kendala dalam proses pembelajaran yang dijalankan.
4. Solusi dari Faktor Penghambat Penerapan Metode Tahsin
Solusi dari faktor penghambat penerapan metode tahsin tilawah al-Qur’an, yaitu dengan terus melatih dan memperbaiki bacaan santri yang belum lancar. Hal ini menjadi tugas para asatidz di pesantren untuk mengajarkan santri agar bisa membaca al-Qur’an dengan benar
103 Halil, Jurnal UM Palangkaraya, 6.
dan tepat sesuai kaidah tajwid. Selanjutnya memberikan teguran atau sanksi yang mendidik bagi santri yang malas, “membangun motivasi atau minat belajar, sehingga santri bersemangat untuk belajar al- Qur’an”.104 Selain itu juga mengenai minimnya durasi waktu dan sarana prasarana yang digunakan dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an, yaitu dengan memanfaatkan waktu dan sarana yang ada tersebut secara maksimal sehingga santri mendapat pengajaran secara merata.
104 http://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/05/19/masalah-belajar-dan-solusinya/
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah diuraikan dalam bab- bab sebelumnya dengan judul “Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo”, maka kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut.
1. Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al- Qur’an
Pembelajaran al-Qur’an melalui metode tahsin tilawah yang dijalankan di Pondok Pesantren Nurul Hikam terdiri dari beberapa pembahasan. Di antaranya yakni tujuan tahsin tilawah, materi tahsin tilawah, media yang digunakan dalam tahsin tilawah, metode penerapan tahsin tilawah serta teknik mengajar tahsin tilawah.
Tujuan dari tahsin tilawah al-Qur’an yaitu untuk memperbaiki dan memperbagus bacaan al-Qur’an. Materi yang diajarkan dalam tahsin tilawah al-Qur’an adalah mengenai hukum-hukum bacaan, makharijul huruf, sifatul huruf serta fashohahnya. Media yang digunakan dalam penyampaian materi tahsin yaitu dengan kitab al- Qur’an dan papan tulis. Penerapan metode yang digunakan bagi santri tahfidz yaitu menggunakan metode wahdah (mengulang) dan kitabah (menulis). Sedangkan metode yang digunakan bagi santri yang belum lancar adalah dengan metode demonstrasi. Kemudian teknik mengajar
dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an dilaksanakan dengan berhadapan secara individual dan klasikal individual.
2. Faktor Pendukung Penerapan Metode Tahsin
Faktor-faktor yang mendukung penerapan metode tahsin tilawah dalam pembelajaran al-Qur’an secara umum adalah adanya minat dan kemauan serta motivasi yang tinggi dalam diri santri, kemudian dukungan dari guru serta orang tua untuk terus mempelajari dan memperbaiki bacaan-bacaan al-Qur’an serta menghafalkannya.
Selain itu, keadaan lingkungan santri yang menunjukkan dukungan dalam kegiatan al-Qur’an. Seperti misalnya kekompakan santri dan adanya program-program yang dijalankan untuk membangun semangat santri dalam kegiatan ke-al-Qur’an-an, di mana hal ini juga didukung oleh kedisiplinan dan kemampuan para asatidz dalam bidang al-Qur’an sehingga dapat membimbing dan mengajarkan santri agar bisa membaca al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.
3. Faktor Penghambat Penerapan Metode Tahsin
Faktor-faktor yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran al-Qur’an khususnya tahsin tilawah al-Qur’an adalah adanya santri yang belum bisa memahami dan menerapkan kaidah- kaidah al-Qur’an seperti makharijul huruf, sifat-sifatnya dan hukum- hukum bacaannya. Faktor kedua yaitu minimnya waktu yang disediakan untuk pelaksanaan pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an.
Faktor ketiga yaitu adanya sikap malas santri untuk belajar al-Qur’an.
Faktor terakhir yang menjadi penghambat adalah belum terpenuhinya sarana prasarana yang dibutuhkan, seperti microfound, speaker (sound system), untuk lebih menghidupkan kegiatan ke-al-Qur’an-an santri di pesantren.
4. Solusi dari Faktor Penghambat Penerapan Metode Tahsin
Solusi dari beberapa foktor penghambat yang ada yaitu pertama, memberikan latihan dan mengajarkan cara membaca al-Qur’an sesuai kaidah tajwid. Kedua memanfaatkan waktu yang ada secara maksimal agar semua santri mendapat pengajaran secara merata. Ketiga memberikan penjelasan atau makna dari suatu ayat tentang semangat, pengorbanan sebagai upaya pendorong bagi santri agar terus bersemangat belajar al-Qur’an. Selain itu juga memberikan teguran berupa sanksi yang mendidik, seperti membaca dan menghafalkan ayat al-Qur’an. Keempat memanfaatkan sarana yang ada secara maksimal untuk memberikan pengajaran sesuai kemampuan santri.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang “Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo” dan dari kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat disampaikan khususnya untuk lembaga yang menjadi obyek penelitian ini.
Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Bagi Ketua Yayasan
Hendaknya terus meningkatkan pembinaan kegiatan ke-al-Qur’an- an di Pesantren karena masih ada beberapa santri yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik, serta tetap istiqomah dan bersabar dalam mendidik dan membimbing para santri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Bagi ustadz dan ustadzah
a. Hendaknya mengembangkan metode dalam pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an bagi para santri.
b. Hendaknya lebih menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan efektif.
c. Hendaknya meningkatkan ketegasan bagi santri yang tidak hadir tanpa alasan, agar tidak ada santri yang tertinggal dalam materi tahsin tilawah al-Qur’an.
3. Bagi santri
a. Santri perlu memotivasi diri untuk hadir dan mengikuti kegiatan yang berkenaan dengan ke-al-Qur’an-an di Pesantren.
b. Santri hendaknya dapat memaksimalkan diri dalam kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an.
c. Santri hendaknya lebih bersemangat dalam menyerap ilmu yang diberikan guru dengan disertai restu dan barokahnya guru, karena program tahsin kelak akan berguna di kehidupan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hafizh, Abdul Aziz Abdur Rauf. 2017. Pedoman Dauroh Al-Qur’an Panduan Ilmu Tajwid Aplikatif. Jakarta: Markaz Al-Qur’an.
Annuri, Ahmad. 2017. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an & Ilmu Tajwid.
Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Arsyad, Azhar. 2014. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Birri, Maftuh Basthul. 2012. Tajwid Jazariyyah. Kediri: Madrasah Murottilil Qur’anil Karim.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Kasiram, Moh. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif-Kualitatif. Yogyakarta:
UIN-Maliki Press.
Rauf, Abdur. 2003. Pedoman Dauroh Al-Qur’an. Depok: Pustaka Harun.
Sadiman, Arief S. 2007. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sangadji, Etta Mamang.. 2010. Metodologi Penelitian-Pendekatan Praktis Dalam Penelitian. Yogyakarta: ANDI OFFSET.
Shihab, M. Quraisy. 2007. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Sugiono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suwaid, Aiman Rusydi. 2015. Panduan Tajwid Berganbar. Solo: Zamzam.
Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Ulum, M. Samsul. 2007. Menangkap Cahaya Al-Qur’an. Malang: UIN-Malang Press.
Wiyani, Novan Ardy. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Sumber Jurnal
Halil, Muhammad. 2016. “Upaya Guru Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Al-Qur’an Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits (Studi pada Siswa Kelas IV MTs Miftahul Jannah)”. Jurnal UM Palangkaraya. 1: 6.
Ariani, Safrina. 2015. “Upaya Peningkatan Kemampuan Tahsin Al-Qur’an Mahasiswa PAI”. Jurnal Mudarrisuna. 1: 130.
Astuti, Rini. 2013. “Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Attention Deficit Disorder Melalui Metode Al-Barqy Berbasis Applied Behavior Analysis”. Jurnal Pendidikan Usia Dini. 353.
Ramli, M. 2015. “Media Pembelajaran Dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al- Hadits”, Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, 23: 137-147.
Sugiati. 2016. “Implementasi Metode Sorogan pada Pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Pondok Pesantren”, Jurnal Qothruna, 1: 143.
Sumber Skripsi
Ariynti, Lynda Fitri. 2016. “Implementasi Metode Tahsin Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an di SMP Negeri 4 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2016/2017”. Skripsi. IAIN Salatiga.
Kholifah, Ani. 2010. “Upaya Meningkatkan Kemampuan Tilawah Al-Qur’an Melalui Metode Tahsin Pada Siswa Kelas V SD Islam Terpadu Cahaya Ummat Bergas Kabupaten Semarang Tahun 2010”. Skripsi. STAIN Salatiga.
Setiawan, Dedi Indra. 2015. “Pelaksanaan Kegiatan Tahsin Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Mahasiswa di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang”. Skripsi. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sumber Internet
http://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/05/19/masalah-belajar-dan-solusinya/
Penerapan Metode Tahsin Tilawah dalam Pembelajaran Al-Qur’an di Pondok
Pesantren Nurul Hikam
Situbondo Tahun Pelajaran 2017/2018
A. Metode Tahsin Tilawah Dalam Pembelaja ran Al- Qur’an
1. Penerapan
2. Faktor Pendukung
3. Faktor Penghambat 4. Solusi dari
faktor
a. Tujuan tahsin tilawah al- Qur’an
b. Materi tahsin tilawah al- Qur’an
c. Media tahsin tilawah al- Qur’an
d. Metode tahsin tilawah al- Qur’an e. Teknik
mengajar tahsin tilawah al-Qur’an a. Faktor
internal b. Faktor
eksternal a. Kemampuan
membaca Al- Qur’an
b. Faktor Guru c. Sarana
1. Informan : a. Pengasuh
pondok pesantren b. Tenaga
pengajar (ustadz &
ustadzah) c. Santri 2. Kepustakaan 3. Dokumentasi
1. Penentuan Daerah Penelitian :
Ponpes Nurul Hikam Situbondo 2. Pendekatan & Jenis
Penelitian :
Kualitatif & jenis penelitian deskriptif 3. Metode penentuan
informan:
Purposive sampling 4. Metode
Pengumpulan Data a. Observasi b. Wawancara c. Dokumentasi 5. Teknik Analisis
Data:
Model Milles &
Hubermen 6. Keabsahan Data :
Triangulasi Teknik dan Sumber
1. Bagaimana penerapan metode tahsin tilawah dalam pembelajaran al- Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo?
2. Apakah faktor pendukung penerapan metode tahsin tilawah dalam pembelajaran al- Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo?
3. Apakah faktor penghambat penerapan metode tahsin tilawah dalam pembelajaran al- Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo?
4. Apakah solusi dari faktor penghambat penerapan metode tahsin tilawah dalam pembelajaran al- Qur’an di Pondok
Masjid al-Mukarromah Ponpes Nurul Hikam
Pondok Pesantren putri Nurul Hikam Pondok Pesantren Putra Nurul Hikam
Fggggb
Mushola putri Ponpes Nurul Hikam Mushola putra Ponpes Nurul Hikam
Pelaksanaan tahsin tilawah al-Qur’an Santri putra Ponpes Nurul Hikam
Santri putri Ponpes Nurul Hikam Wawancara dengan beberapa santri
S
Denah Pondok Pesantren Nurul Hikam
Situbondo
Jln. Situbondo
Masjid AL - Mukarromah
MA Nurul Hikam
Kantor MA
Koperasi Santri
Asrama Putra
Mushola Putra
Dhalem Ning Tillah
PAUD Nurul Hikam
Dhalem Ning
Mutmainnah
MTS Nurul Hikam
1. Posisi geografis Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo
2. Keadaan bangunan dan sarana Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo 3. Susana penerapan metode tahsin tilawah al-Qur’an di Pondok Pesantren
Nurul Hikam Situbondo
4. Denah Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo
PEDOMAN WAWANCARA
1. Apa tujuan pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikam Situbondo?
2. Apa materi yang sering dibahas dan diajarkan pada saat kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an?
3. Apa saja media yang biasa digunakan dalam pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an?
4. Bagaimana metode dalam pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an bagi santri yang belum lancar dan yang sudah tahfidz?
5. Bagaimana teknik mengajar yang digunakan dalam pembelajaran tahsin tilawah al-Qur’an?
6. Apa saja faktor pendukung dan penghambat, serta solusi dalam penerapan metode tahsin tilawah al-Qur’an?