• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

B. Faktor Pendukung dan Penghambat

Semua kegiatan apapun pasti ada faktor penghambat dan pendukungnya.

Begitupun juga dalam proses pelaksanaan pembentukan akhlak santri dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim ini. Hambatan dan pendukung itu bisa datang dari guru, santri, dan faktor fasilitas.97

Dari teori tersebut didapatkan beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pembentukan akhlak santri dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim diantaranya :

1. Faktor Pendukung

Faktor pendukung yang benar – benar sebagai penentu kemajuan dan perkembangan lembaga pendidikan adalah terletak bagaimana lembaga itu sendiri mengelola pesantren, disamping ustadz sebagai tokoh utama keberhasilan suatu pendidikan. Adapun faktor pendukung pembentukan akhlak santri melalui kitab Adabul Alim Wal Muta’allim di pondok pesantren Ponpes Annur Haji Alwi Jember,

96 Joseph Murphy D.R.S, Rahasia Kekuatan Pikiran Bahwa Sadar, ( Jakarta : 2002 ), 6.

97 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), 153

sebagai berikut :

a. Sarana dan Prasarana Pembelajaran

Fasilitas atau sarana – prasarana merupakan salah satu faktor terpenting untuk menunjang keberhasilan proses pendidikan. Secara umum sarana – prasarana di madrasah ini sudah sangat baik. Seperti yang disampaikan ustadz Siddiq selaku pengajar kitab Adabul Alim bahwa sudah tersedia kitab Adabul Alim Wal Muta’allim, kelas, meja dan kursi serta papan tulis. Hasil temuan diatas relevan dan didukung dengan pernyataan Mulyasa sebagai berikut :

Secara sederhana sarana dan prasarana dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar mengajar. Meningat pentingnya sarana dan prasarana dalam kegiatana pembelajaran, maka peserta didik, guru dan sekolah akan terkait secara langsung. Peserta didik akan lebih terbantu dengan dukungan sarana dan prasarana pembelajaran. Tidak semua peserta didik mempunyai tingkat kecerdasan yang bagus sehingga penggunaan sarana dan prasarana pembelajaran akan membantu peserta didik, khususnya yang memiliki kelemahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.98

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan

98 Juhairiyah, Sarana dan Prasarana Administrasi Pendidikan, 2012. 54

b. Materi Pembelajaran

Sistem pendidikan yang dipakai oleh pondok pesantren Annur Haji Alwi Jember. Dalam Madrasah Diniyah ini terbagi pula kelas – kelas yang diurut sesuai dengan kemampuan santri. Dalam setiap tingkatan kelas, materi yang diajarkan oleh ustadz/ustadzah memiliki keterkaitan dengan kitab yang lainnya. Sehingga dengan ini santri akan lebih memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang diajarinya. Hasil temuan diatas relevan dan didukung dengan pernyataan Yusuf Munir sebagai berikut : Materi atau isi pembelajaran memiliki fungsi yang sangat penting, karena kemampuan yang ingin dibentuk dalam proses belajar mengajar berkaitan erat dengan materi yang harus dipelajari. Jadi, tanpa adanya materi pembelajaran, atau apabila materi yang dipelajari tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Dengan demikian, pemilihan dan penetapan materi pembelajaran menjadi sangat penting keberadaannya.

c. Santri dan Ustadz

Santri sebagai salah satu komponen dalam pembelajaran kitab Adabul Alim Wal Muta’allim juga memiliki peran penting terhadap usaha pencapaian pembentukan akhlak santri melalui nilai – nilai dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dan faktor pendukung lainnya yaitu ustadz/ustadzah yang berkualitas Hasil temuan diatas didukung sesuai dengan buku karangan Husein Syahatah sebagai berikut : Mereka akan disebut sebagai pengajar yang berkualitas apabila ia mampu mengadakan penelitian dan pengembangan ilmu

yang ditekuninya.99

Menurut Raka Joni ( Cony R.Semiawan dan Soedijarto, 1991 ) hakekat tugas guru pada umumnya berhubungan dengan pengembangan SDM yang pada akhirnya akan paling menentukan kelestarian dan kejayaan kehidupan bangsa.

Dalam proses pendidikan, pada dasarnya guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar peserta didik agar dapat menjadi manusia yang dapat melaksanakan tugas kehidupan yang selaras dengan kodratnya sebagai manusia yang baik dalam kaitan hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan.

Tugas mendidik berkaitan dengan transformasi pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik.

2. Faktor Penghambat

Adapun faktor penghambat dari pembentukan akhlak santri melalui kitab Adabul Alim Wal Muta’allim meliputi; santri dan pengajar/ustadz, dan metode pembelajaran.

a. Tenaga Pengajar/Ustadz dan Santri

Dari hasil wawancara dengan ustadz Khofifi bahwa selama pembelajaran kitab Adabul Alim Wal Muta’allim berlangsung, santri yang kurang aktif ( tidak hadir ), kurang memiliki semangat tinggi dalam belajar, akan menghambat jalannya pembelajaran Adabul Alim Wal Muta’allim. Hasil temuan diatas didukung sesuai dengan buku karangan Muhibbin Syah sebagai berikut : Selama pembelajaran berlangsung, maka saat itu pula keaktifan dari ustadz dan santri sangat diperlukan. Sebab, tujuan pembelajaran dikatakan berhasil apabila

99 Husein Syahatah, Quantum Learning plus Sukses Belajar Cara Islam. (Bandung: Mizan, 1999), 46.

ada timbal balik antara guru dan murid.100

Seperti yang telah kita ketahui, tugas guru yang paling utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga tumbuh minat dan nafsunya untuk belajar.101

b. Metode Pembelajaran

Metode yang digunakan di Pondok Pesantren Ponpes Annur Haji Alwi Jember adalah metode bandongan. Dalam metode ini ustadz/ustadzah membaca, menerjemahkan, dan menerangkan kandungan yang terdapat di dalam kitab kuning, sedangkan santri menyimak dengan seksama dan menulis ulang apa yang telah disampaikan oleh ustaz/ustadzahnya. Ibnu Hadjar mengatakan bahwasanya, pendidikan agama tidak hanya sekedar mengajarkan ajaran agama kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan komitmen terhadap ajaran agama yang dipelajarinya. Hal ini berarti bahwa pendidikan agama memerlukan pendekatan pengajaran yang berbeda dari pendekatan subjek pelajaran lain.

Karena disamping mencapai penguasaan juga menanamkan komitmen, maka metode yang digunakan dalam pengajaran pendidikan agama harus mendapatkan perhatian yang seksama dari pendidik agama karena memiliki pengaruh yang sangat berarti atas keberhasilannya.102 Metode tidak hanya berpengaruh pada peningkatan penguasaan materi saja akan tetapi juga pada

100 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan. (Bandung: Rosda, 2004), 180.

101 Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Bandung: Rosda, 2004), 188.,kk. Implementasi endidikan Akhlak di Sekolah. (Yogyakaa: Gava Media, 2013), 61.

102 Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo, Metodologi Pengajaran Agama. (Semarang : Pustaka Pelajar, 2004), 2.

penanam komitmen beragama, karena yang terakhir ini lebih ditentukan oleh proses pengajarannya daripada materinya.

C. Kontribusi pengembangan akhlak santri melalui pelaksanaan kitab Adabul

Dokumen terkait