• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

C. Kontribusi Pengembangan Akhlak Santri

penanam komitmen beragama, karena yang terakhir ini lebih ditentukan oleh proses pengajarannya daripada materinya.

C. Kontribusi pengembangan akhlak santri melalui pelaksanaan kitab Adabul

bagaimana cara kita untuk mengembangkannya. Adapun dampak penerapan nilai kitab Adabul Alim Wal Muta’allim adalah sebagai berikut :

a. Santri memiliki etika dan kesopanan

Etika merupakan hasil yang diharapkan dari pendidikan. Seseorang akan terlihat terdidik ketika mampu merubah akhlak dalam kaitannya hubungan dengan makhluk akhlakul karimah. Nilai akhlak menjadi nilai penting yang harus di hasilkan dari pendidikan utamanya pengembangan karakter religius mahasantri. Hal ini sesuai dengan pendapat Abuddin Nata dalam bukunya “Studi Islam Komprehensif” bahwa nilai akhlak adalah nilai yang perlu dikembangkan oleh seseorang. Karena nilai akhlak berhubungan dengan bagaimana seseorang hidup bermasyarakat. Berdasarkan temuan peneliti dalam penelitian mengungkapkan bahwa santri memiliki nilai kesopanan atau tawadhu’ terhadap kyai atau ustad

b. Santri bisa memposisikan dirinya sebagai pencari ilmu

Sifat dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang pencari ilmu adalah rendah hati dan cinta ilmu. Sedangkan sifat dan sikap itu semua mulai ada dalam diri santri setelah mempelajari kitab Adabul Alim Wal Muta’allim, tidak hanya memahami saja seorang santri bahkan hampir keseluruhan yang mengikuti kajian kitab ini bisa mengamalkan dengan baik sesuai kaidah yang diajarkan.

BAB VI KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Ponpes Annur Haji Alwi dengan judul Implementasi Pengajian Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dalam mengembangkan Akhlak Santri di Ponpes Annur Haji Alwi Jember, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1) Dalam Pelaksanaan pengajian kitab Alim Wal Muta’allim yang diterapkan di Madrasah Diniyah Annur terdapat dua model pembelajaran yaitu di dalam kelas dan di luar kelas. Di luar kelas semua siswa melakukan kegiatan belajar bersama tutor kelompoknya masing-masing dengan waktu yang telah ditentukan 14.30 – 15.30 WIB, dalam hal ini guru hanya sebagai pengawas kegiatan belajar siswa di waktu tersebut. Baru kemudian di jam berikutnya siswa mulai memasuki kelas untuk menyetorkan hasil belajarnya kepada guru masing-masing pada waktu 15.45 – 16.30 WIB. Malam hari digunakan oleh Ustadz dan Ustadzah untuk menaikkan materi pelajaran.

2) Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembentukan akhlak santri melalui kitab Adabul Alim Wal Muta’allim di ponpes Annur Haji Alwi Jember meliputi beberapa komponen dalam pembelajaran kitab itu sendiri.

Adapun faktor pendukung mencakup sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, materi pembelajaran, serta santri dan ustadz, yang mayoritas memiliki ilmu yang memadai. Sedangkan pada faktor penghambat meliputi santri yang tidak aktif atau kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran

kitab, dan metode pembelajaran ustadz yang monoton mengakibatkan santri merasa jenuh.

3) Kontribusi yang dirasakan santri-santri setelah mempelajari kitab Adabul Alim Wal Muta’allim ialah banyak dari mereka yang tadinya tidak mengerti akhirnya mengerti. Hal ini dapat dilihat dari ketika mereka akan melakukan kegiatan belajar yang tadinya tidak pernah baca do’a ataupun niat sekaligus sekarang mereka membiasakannya dengan niat, yang tadinya tidak peduli dengan teman akhirnya sekarang peduli dan yang tadinya menyepelekan ilmu akhirnya mereka bisa mengagungkan atau menghormati ilmu tersebut.

Mereka mencium tangan ustadznya selesai pelajaran kitab, mendahulukan ustadznya untuk keluar kelas dan tutur kata yang baik kepada ustadz dan teman-temannya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka peneliti dalam kesempatan ini menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Untuk santri diharapkan menjaga adab di dalam menuntut ilmu terutama terhadap guru. Sebagaimana maqalah dari Syaikh Yusuf bin Husain “ بدلااب ملعلا مهفت” dengan adab engkau akan faham ilmu.

2. Untuk semua guru dan pengurus pondok agar selalu berusaha membangun hubungan yang baik dengan semua santri di Ponpes Annur Haji Alwi Jember. Ingatlah bahwa Rasul pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah “املعم تثعب امنا” sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru. Ingat bahwa guru adalah profesi para nabi dan kalian akan ditiru.

Daftar Pustaka

Alfan, M. 2011. Filsafat Etika Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Amin, A. 2005. Hakikat Manusia. Menggali Potensi Kesadaran Pendidikan Diri dalam Psikologi Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Aminudin, Rosyad. 2003. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Uhamaka Press.

Asy’ari, Hasyim. 1415. Adabul alim wal mutaallim fima yahtaju ilaihi almutaallimu fI ahwalitta‟limihi wama yatawaqqofu alaihi al muallimu fi maqoomati talimihi”. Jombang: Maktabah Atturos Al islami.

Az Zarnuji, B. 2018. Syarh Ta‟lim al Muta‟allim Thoriq Al Ta‟lim, Surabaya:

Dar Al Kutub Asy Syifa’.

Balinessen, Martin Van. 1995. Kitab Pesantren dan Tarekat. Bandung:

Mizan. Dhofier, Z. 1985. Tradisi Pesantren: Studi tentang Padangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3S.

Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES. Efendi dan Drajad. 2014. Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.

Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Ombak.

Khaldun, Ibnu. 2010. Muqadimah Ibnu Khaldun. Mesir: Darut Taufiqiyyah Litturats.

Ismaraidha. 2016. Implementasi Pendidikan Akhlak Pada Mata Pelajaran PAI di SDIT Ulul Ilmi Islamic School Medan Denai. Kediri: Santri Salaf Press.

Luthfi, A. 2015. Implementasi Pemikiran Pendidikan Islam Menurut Hasyim Asy‟ari (Studi Multi Situs di MTs Aswaja Tunggangri dan NTs Wahid Hasyim Wonodadi Blitar. Tulungagung: IAIN Tulungagung.

Mudlofir, Ali. 2012. Pendidik Profesional: Konsep, Strategi, dan Aplikasinya dalam Peningkatan Mutu Pendidik di Indonesia.

Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Muflihaini. 2017. Implementasi Pendidikan Akhlak dalam Membentuk Kepribadian Muslim Siswa di Madrasah Aliyah PP. Hidayatullah Tanjumg Morawa. Medan: UIN Sumatara Utara Medan.

Muslim, Nurdin. 2010. Moral dan Kognisi Islam Buku Teks Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum. Bandung: Rosdakarya.

Priatna, Tedi. 2012. Etika Pendidikan: Panduan bagi Guru Profesional.

Bandung: CV Pustaka Setia.

Salam, Burhanudin. 2003. Pengantar Pedagogik, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Rineka Cipta.

Shofa, MH. 2018. Implementasi Pembelajaran Kitab Adabul a‟lim wal- Muta‟allim (Studi Muli Kasus Terhadap Sikap Guru dan Murid di Pondok Pesantren Al- Hikmah Lumajang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sholahuddin, M. Napak Tilas Masyayikh Biografi 15 Pendiri Pesantren Tua di Jawa Timur- Madura, Kediri: Zam

Suharto, T. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sumadina, Nana. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Syukri, Zarkasyi. 1999. Pesantren sebagai Alternatif Pendidikan. Surakarta:

Muhammadiyah University Press.

Thohir, Kholis. 2018. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume. I, Nomor.1. Kota Binjai: Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Washliyah.

Wangsa, Teguh Gandi. 2017. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Yahdi, M. 2017. Implementasi Isi Kandungan Ta’lim Al-Muta’allim dalam membentuk etika belajar santri MA Al-Amin Sooko Mojokerto.

Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya.

Lampiran-lampiran :

Wawancara dengan Ustadz Fatkhur selaku kepala Madin Annur Haji Alwi

Suasana muroja’ah pelajaran sebelumnya sebelum dimulai

PEDOMAN OBSERVASI 1) Sejarah berdirinya Ponpes Annur Haji Alwi.

2) Visi, misi, motto dan tujuan Ponpes Annur Haji Alwi 3) Struktur organisasi Madin Haji Alwi

4) Keadaan SDM Madin Ponpes Haji Alwi

5) Keadaan Santri Madin Ponpes Annur Haji Alwi

6) Keadaan sarana dan prasarana Madin Ponpes Annur Haji Alwi 7) Jadwal Pembelajaran kitab Adabul Alim Wal Muta’allim Ponpes

Annur Haji Alwi

8) Denah lokasi Pondok Pesantren Annur Haji Alwi

9) suasana pembelajaran kitab Adabul Alim Wal Muta’allim.

PEDOMAN WAWANCARA

Kegiatan wawancara ini merupakan wawancara semi terstruktur sehingga lebih fleksibel dalam menggali data dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada informan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan data dalam rangka menjawab fokus penelitian. Berikut adalah pedoman wawancara yang peneliti gunakan :

Implementasi Pengajian Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim di Ponpes Annur Haji Alwi Jember

1. Bagaimana pelaksanaan pengajaran Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim?

2. Bagaimana menerapkan nilai adabul alim kepada santri?

3. Bagaimana Implementasi nilai Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dalam pengembangan akhlak santri kepada Allah SWT?

4. Bagaimana Implementasi nilai Kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dalam mengembangkan akhlak santri kepada ustadz dan ustadzah?

5. Menurut sampean apakah santri – santri disini dan sampean sendiri sudah bisa menerapkan apa yang diajarkan dalam kitab Adabul Alim seperti tawadhu’?

Faktor penghambat dan pendukung dalam pembentukan akhlak santri melalui implementasi kitab Adabul Alim Wal Muta’allim

1. Santri 2. Ustadz 3. Sarana 4. Teman

Implikasi dalam pembentukan akhlak santri melalui pelaksanaan kitab Adabul Alim Wal Muta’allim di Ponpes Annur Haji Alwi.

1. Lebih baik 2. Biasa saja

TRANSKIP WAWANCARA Nama Informan : Ustadz Fatkhur Rahman Identitas Informan : Kepala Madin

Hari /Tanggal Wawancara : Minggu / 4 Maret 2023 Waktu Wawancara : 15.00 WIB

Bagaimana implementasi pengajaian kitab Adabul Alim di Ponpes Annur Haji Alwi Jember?

” Implementasi pengajian kitab adabul alim di madrasah diniyah annur terdapat dua strategi pembelajaran yang pertama strategi di luar kelas yang kedua strategi di dalam kelas. Strategi diluar kelas dikemas dengan program belajar alam, yakni setiap kelas dibentuk beberapa klompok sesuai dengan jumlah siswa disetiap kelasnya dan masing-masing kelompok terdapat tutor sebaya atau teman sekelasnya yang telah ditentukan oleh madrasah.

Strategi didalam kelas yang dikemas dengan program ngaji sore dimana setiap masing-masing siswa menyetorkan hasil belajar mereka kepada guru kelasnya (sorogan). dan program ngaji malam atau ngaji diniyah yang biasa dikenal oleh para santri dengan berbagai mata pelajaran.”

Bagaimana pengamalan isi dari kitab Adabul alim?

“ Isi dari kitab Adabul Alim Wal Muta’allim itu tidak cukup bila hanya diamalkan secara lahir saja, melainkan batin juga, serta mendapatkan ridha dari Allah SWT”.

Terkait sarana prasarana dan mengatasi santri yang bosan?

“Untuk tentang sarana dan prasarana sudah bisa dilihat ya kelas ada, kitab Adabul alim juga ada, papan tulis juga selalu tersedia. Jika santri bosan bisa dilakukan praktek dan diskusi mengenai pembelajaran yang ada sangkut pautnya tentang nilai – nilai dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim begitupun juga dengan nahwu sharrafnya”

Bagaimana pembagian kelas? “Disini sistem pembagian kelasnya tidak seperti sampean dulu, kalau dulu kan dicampur ya yang membedakan hanyak anak khos ( kelas khusus ) tapi kalau sekarang di bagi berdasarkan tingkatan. Jadi ada 3 tingkatan yaitu : Awal, Wushto, Ulya seperti itu. Dan tingkat pembelajarannya pun juga berbeda.

Akan tetapi ketika mereka nanti pas ujian nilainya tidak mencakupi standart yang diberikan di sini ya terpaksa mereka tinggal dikelas tersebut sampai nilainya benar – benar mencukupi”

Apa faktor pendukung terhadap akhlak santri?

“Dengan ketekunan santri – santri dalam belajar kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dan kemudian mereka bisa menerapkan itu bagi saya sudah poin plus dan bisa menjadi faktor

pendukung atas pengembangan akhlak santri ini. Meskipun masih ada beberapa santri yang belum bisa menerapkan tetapi dengan mereka melihat temannya sudah bisa menerapkan pasti lambat laun saya yakin mereka akan mengikuti. Untuk ustadz sudah bisa diliat ya, ustadz yang mengajar juga bukan ustadz yang sembarangan dan menurut saya cara pengajaran dan penyampaian ustadz/ustadzah juga sudah menarik”.

Adakah santri yang belum bisa mengikuti dan bagaimana caranya?

“Ada beberapa santri disini yang masih belum bisa menerapkan dan kebanyakan mereka dari kelas 3 yang masih baru mempelajari kitab Adabul Alim Wal Muta’allim tapi saya yakin dengan berjalannya waktu nanti dikelas 4 mereka sudah bisa menerapkan apa yang telah disampaikan dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim. Untuk ustadz

mungkin ada beberapa

ustadz/ustadzah yang mengajarnya tidak menarik atau penyampaian materi kurang mengena kepada para santri itu juga bisa menyebabkan para santri tidak mempunyai semangat untuk belajar”.

Apa yang menyebabkan belum bisa “Kalau yang saya amati kenapa

menerapkan isi dari kitab Adabul Alim?

mereka masih ada yang belum bisa menerapkan itu dikarenakan mereka kurang aktif ( tidak hadir ), kurang memiliki semangat tinggi dalam belajar dan akhirnya berdampak mereka tidak memahami nilai – nilai yang ada di dalam kitab Adabul Alim Wal Muta’allim. Dan untuk pengajar juga demikian terkadang banyak ustadz/ustadzah yang kurang mengenal karakter yang dimiliki santri. Padahal menurut saya memahami karakter santri itu sangat penting karena dapat mempermudah seorang pengajar untuk bisa menyampaikan materi”.

Apakah ada mereka setelah mempelajari kitab adabul alim?

“Selama ini saya mengamati dari perilaku santri – santri di sini dari yang sebelum mengenal apa itu kitab Adabul Alim Wal Muta’allim dan sampai mereka sedang mempelajarinya banyak perubahan – perubahan positif kepada mereka. Seperti mereka sudah mau melaksanakan bahwa sebelum memulai pelajaran harus berdoa terlebih dahulu, kemudia menghormati ilmu, berperilaku sopan kepada Ustadz-ustadzah

walaupun di sini banyak yang masih muda. Saya selalu menekankan kepada santri – santri disini untuk mengamalkan apa saja yang sudah mereka pelajari tidak hanyak dalam pembelajaran Adabul Alim Wal Muta’allim saja akan tetapi semua pelajaran yang mereka dapatkan”

TRANSKIP WAWANCARA Nama Informan : Ustadz Siddiq

Identitas Informan : Ustadz Adabul Alim Hari /Tanggal Wawancara : Sabtu/ 5 Maret 2023 Waktu Wawancara : 14.30

Apakah ada kendala dalam fasilitas? “Jika dilihat dari fasilitas menurut saya juga sudah memenuhi kelas ada, kitab juga ada, kalau mereka bosan dikelas biasanya saya alihkan ngajinya di masjid atau perpustakaan. Jadi tidak ada kendala insyaAllah mengenai fasilitas”.

Bagaimana untuk membedakan santri yang bisa dan tidak bisa?

“Dibuat tingkatan seperti ini agar ustadz/ustadzah lebih mudah membedakan mana santri yang sudah bisa menguasai pelajaran diniyah dan yang belum. Dan memberikan motivasi tersendiri bagi santri yang kurang bersungguh – sungguh agar lebih bisa bersungguh – sungguh. Karena sekarang kalau nilainya kurang ya tidak naik kelas dan harus mengulang berbeda dengan zaman dahulu yang nilainya kurang tetap naik kelas karena dikatrol nilainya

Bagaimana mengatasi santri saat bosan?

“Santri – santri yang sudah mau merelakan hatinya untuk belajar kitab Adabul Alim ini suatu bentuk faktor pendukung karena kalau tidak ada mereka siapa yang mau saya ajar. Dan untuk para pengajar setiap pengajar memiliki keunikan mengajar masing –

masing dan menurut pandangan saya ustadz/ustadzah yang mengajar disini ialah orang – orang yang bersungguh – sungguh, mempunyai inovasi tidak sekedar ngajar yang ecek–ecekan.

Kalau saya pribadi yang mengajar kalau mereka bosan dikelas biasanya saya alihkan ngajinya di masjid atau perpustakaan agar ada suasana baru atau saya beri sedikit motivasi melalui cerita – cerita”.

Apa faktor penghambat dalam pembelajaran kitab adabul alim

“Menurut saya ketika santri belum bisa menerapkan itu bukan faktor penghambat dikarenakan semua manusia melakukan hal – hal itu butuh proses jadi faktor penghambat menurut saya ya guru dan santri. Ketika santri malas atau tidak mau masuk itu bisa jadi faktor penghambat begitu juga sebaliknya jika guru mengajar atau menyampaikan tidak bagus otomatis itu juga jadi faktor penghambat

“Kalau saya mendengar dari suara hati santri – santri yang saya ajar itu mereka jenuh dengan metode yang begini – begini saja. Mungkin harus ada metode – metode baru seperti pondok – pondok lainnya. Mungkin dengan adanya metode baru mereka jadi mempunyai semangat belajar yang tinggi dan bisa

memahami pelajaran Adabul Alim Wal Muta’allim kemudian mereka bisa

mengamalkannyaa atau

melaksanakannya Adakah pengaruh pengajaran kitab

adabul alim?

“Kitab Adabul Alim ini sangat berpengaruh untuk membentuk akhlak santri. Karena dulu ketika saya masih sekolah menengah dan belum belajar kitab ini saya kalau keluar kelas tidak melalui pintu malah melalui jendela.

Tapi, setelah saya mempelajari kitab ini akhirnya saya tau dan mengerti.

Maka dari itu kalau ada santri disini yang berbuat aneh – aneh saya nggak pusing menanganinya karna dulu saya juga pernah mengalami hal tersebut.

Sebenarnya mereka melakukan kesalahan bukan karena mereka nakal atau apa. Akan tetapi, mereka emang dasarnya tidak tahu. Memandang mereka dengan sayang seperti itulah yang akan membuat pengaruh akhlak mereka yang tadinya kurang baik menjadi baik”.

TRANSKIP WAWANCARA Nama Informan : Nauvalus

Identitas Informan : Santri

Hari /Tanggal Wawancara : Sabtu/ 4 Maret 2023 Waktu Wawancara : 14.30

Bagaimana seharusnya sikap tawadhu santri pada guru?

“Kalau saya pribadi ya kak saya masih belum bisa sepenuhnya tawadhu’ sama ustadz ataupun ustadzah terkadang saya masih khilaf gitu kak suka kelepasan kalau ngomong, terus dikelas saya itu kadang masih suka rame sendiri tapi bukan karena apa kak karena saya kalau diam itu ngantuk.

Jadi, saya masih belum bisa sepenuhnya tawadhu’ sih kak”.

Apa dampak belajar kitab adabul alim? “Dulu waktu saya kelas 1 saya termasuk anak yang tidak peduli teman dan sekitar kak, tapi setelah ada belajar kitab adabul alim ditambah lebih peduli ke sesama dan lebih sering membantu teman yang ada kesulitan”

TRANSKIP WAWANCARA Nama Informan : Iqbal

Identitas Informan : Santri

Hari /Tanggal Wawancara : Sabtu/ 4 Maret 2023 Waktu Wawancara : 14.30

Apakah ada perubahan setelah belajar kitab adabul alim?

“Yang saya rasakan ketika sebelum mondok itu saya sering membantah guru, berlaku tidak sopan dan banyak hal pokoknya yang saya rasa itu tidak baik. Akan tetapi, setelah saya mondok di sini sedikit – sedikit saya bisa berubah setelah mengenal dan membelajari kitab Adabul Alim. Yang tadinya tidak sopan dengan guru sekarang lebih sopan, lebih tawadhu’

dan lebih bertata krama”

Bagaimana akhlak santri kepada teman dan pada guru?

“Berbanding jauh ketika akhlak kepada sesama santri dengan akhlak santri kepada guru. Ketika sesama santri hanya sekedar menghargai, sedang ketika dengan guru lebih menghormati, patuh dan taat”

Dokumen terkait