• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Belajar 3. Otonomi Daerah

Dalam dokumen Modul PKn (Halaman 87-97)

A. Kompetensi dan Indikator Kompetensi:

Setelah mempelajari materi Otonomi Daerah, diharapkan anda memahami tentang Otonomi Daerah, dan pentingnya partisipasi masyarakat dalam merumuskan kebijakan publik di daerah.

Adapun indikatornya adalah

1. Menjelaskan sejarah perkembangan otonomi daerah di Indonesia 2. Menguraikan tentang penyelenggara pemerintahan negara.

3. Menguraikan asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan negara, 4. Menjelaskan asas-asas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, 5. Menguraikan hak dan kewajiban Pemerintah Daerah,

5. Menjelaskan arti kebijakan umum.

6. Menguraikan macam-macam kebijakan umum

7. Menguraikan peranan masyarakat dalam menetapkan kebijakan umum 8. Menjelaskan peran partai politik dalam menyerap kebijakan umum.

B. Uraian Materi

1. Latar Belakang Otonomi Daerah

Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang terdiri beribu- ribu pulau, baik besat maupun kecil yang tersebar di seluruh Nusantara yang sangat luas. Negara Indonesia adalah negara heterogen yang memiliki keberagaman suku bangsa dan kebudayaan. Dengan kemajemukan tersebut tentu akan berimplikasi terhadap berbagai masalah yang mendasar. Setiap daerah memiliki permasalahan yang tidak sama dengan daerah yang lain. Kondisi itu memerlukan strategi dan pendekatan yang berbeda untuk pemecahannya. Oleh karena itu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan daerah diperlukan pendekatan yangsesuai dengan kondisi permasalahan masing-masing daerah.

Semasa pemerintahan oerde baru, kebijakan didaerah ditetapkan dari pusat (pendekatan top down). Banyak kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kondisi daerah. Misalnya, UU. No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, dimana nama-nama desa diseragamkan di seluruh Indonesia. Oleh karena itu kebijakan tersebut kurang mendapat tanggapan dari masyarakat, sebab tidak sejalan dengan keinginan atau harapan masyarakat. Salah satu upaya untuk mengatasi ketidak sesuaian antara kebijakan pusat dengan kondisi daerah harus segera ditetapkan sebuah kerangka kebijakan yang sangat strategis, yaitu otonomi daerah. Sejarah otonomi daerah di Indonesia cukup panjang, yang diatur dengan undang-undang sebagai berikut:

1) UU. No. 1 Tahun 1945 2) UU. No. 28 Tahun 1948 3) UU. No. 1 Tahun 1957

4) UU. No. 18 Tahun 1965 e. UU. No. 5 Tahun 1974

5) UU. No. 22 Thaun 1999, yang disempurnakan dengan UU. No. 32 Tahun 2004 2. Penyelenggaraan Pemerintahan

Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden dan para Menteri Negara. Sedangkan penyelenggara pemerintah daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Azas Umum Penyelenggaraan Negara yang terdiri atas:

a. Asas kepastian hukum

b. Asas tertip penyelenggara negara c. Asas kepentingan umum

d. Asas keterbukaan e. Asas proporsionalitas f. Asa akuntabilitas g. Asas Efisiensi

h. Asas efektifitas (Ps. 3 UU. No. 28 Tahun 1999, yo Ps 19 dan 20 UU. No. 32 Tahun 2004)

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Pemerintah menggunakan tiga asas, yaitu asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi. Khusus penyelenggaraan pemerintahan daerah, Pemerintahan Daerah menggunakan asas desentralisasi dan tugas pembantuan.

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah dengan Daerah Otonom. Pembagian urusan pemerintahan tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagai urusan pemerintahan yang tetap menjadi kewenangan Pemerintah.

Urusan pemerintahan tersebut menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan Pemerintahan dimaksud meliputi:

Politik Luar Negeri dalam arti mengangkat pejabat diplomatik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam lembaga internasional, menetapkan kebijakan luar negeri, melakukan perjanjian dengan negara lain, menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri, dan lain sebagainya.

a. Pertahanan, misalnya mendirikan dan membentuk Angkatan Bersenjata, menyatakan damai dan perang, menyatakan negara atau sebagian wilayah negara dalam keadaan behaya, membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan pesenjataan, menetapkan kebijakan wajib militer, dan lain sebagainya.

b. Keamanan, misalnya mendirikan dan membentuk Kepolisian Negara, menetapkan kebijakan keamanan nasional, menindak kelompok atau organisasi yang mengganggu kemanan nasional dan lain sebagainya.

c. Moneter, misalnya mencetak uang dan menentukan nilai mata uang, mentukan kebijakan moneter, mengendalikan peredaran uang, dan lain sebagainya.

d. Agama, misalnya menetapkan hari lebir keagamaan, pengakuan terhadap keberadaan suatu agama, dan lain sebagainya.

e. Yustisi, misalnya mendirikan lembaga peradilan, merngangkat Hakim dan Jaksa, mendirikan Lembaga Pemasyarakatan, menetapkan kebijakan kehakiman dan Keimigrasian, memberi grasi, amnesti, abolisi, dan rehabilitasi, dan lain sebagainya.

Penyelenggaraan Pemerintahan Ps. 19 7 ps 20

Asas Umum 1. Kepastian Hukum 2. Tertip Penyelenggaraan

Negara

3. Kepentingan Umum 4. Keterbukaan 5. Proporsionalitas 6. Profesionalitas 7. Akuntabilitas 8. Efisiensi 9. Efektifitas

(Ps. 3 UU. 28 Th. 1999 Ps. 20 ayat 1

Ps. 20 ayat 2 1. Asas Desentralisasi 2. Asas Dekonsentrasi 3. Asas Tugas Pembantuan

Ps. 20 ayat 3 1. Asas Otonomi

2. Asas Tugas Pembantuan Presiden dibantu

Wapres & Menneg Pemerintah

Daerah & DPRD Penyelenggaraan

Pemerintahan

Penyelenggaraan Pemerintahan

daerah

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Sedangkan dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar keenam urusan pokok di atas, Pemerintah dapat: (a) menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan; (b) melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah (dekonsentrasi), (c) menugaskan sebagian urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah dan/atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan (medebewind).

Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.

Sedangkan tugas pembantuan (medebewind) pada dasrnya merupakan keikut sertaan Daerah atau Desa termasuk masyarakatnya atas penugasan atau kuasa dari Pemerintah atau pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah di bidang tertentu.

3. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind). Prinsip otonomi daerah menggunakan otonomi daerah yang seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusa pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-undang. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Pemberian otonomi luas diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan di daerah, dalam rangka meneingkatkan kesejahtraan rakyat. Di samping itu otonomi luas juga akan meningkatkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat dalam pemberdayaan potensi yang ada di daerah. Sehubungan dengan itu maka pemberian otonomi luas pada derah dimaksudkan untuk lebih mempercepat proses pembangunan sosial, ekonomi, dan politik di daerah. Bukan bertujuan untuk memperkuat kemampuan daerah agar dapat melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejalan dengan asas otonomi luas, dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas,wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.

Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya.

Otonomi bertanggungjawab adalah otonomi yang disertai dengan dengan pertanggungjawaban daerah sebagai konsekuensi dari pemberian kewenangan dan hak yang luas kepada daerah. Dalam hal ini pelaksanaan otonomi benar-benar harus sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi yang pada dasarnya untuk pemberdayaan daerah termasuk peningkatan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. Pemberian otonomi daerah yang bertanggungjawab akan memperkokoh NKRI. Dengan kata lain memberikan tanggungjawab kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan prinsip Negara Kesatuan.

Sehubungan dengan prinsip-prinsip di atas penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Selain itu pelaksanaan otonomi daerah harus pula dapat menjalin kerja sama dengan daerah lainnya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bersama, serta mencegah terjadinya ketimpangan antar daerah. Selanjutnya otonomi daerah harus pula dapat menjamin hubungan yang serasi antara daerah dengan pemerinta, artinya harus dapat memelihara dan menjaga keutuhan wilayah negara dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Dalam rangka pelaksanaan pemerintahan daerah, hak daerah adalah:

a. Mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan;

b. Memilih pimpinan daerah c. mengelola aparatur daerah d. mengelola kekayaan daerah

e. memungut pajak dan retribusi daerah

f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnyayang berada di daerah

g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah

h. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang- undangan.

Sedang yang menjadi kewajiban daerah, meliputi:

a. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan, dan kerukunan nasional serta keutuhan NKRI

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat c. mengembangkan kehidupan demokrasi d. mewujudkan keadilan dan pemerataan e. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan

g. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak h. mengembangkan sistem jaminan sosial

i. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah j. mengembangkan sumber daya produktif di daerah k. melestarikan lingkungan hidup

l. mengelola administrasi kependudukan m. melestarikan nilai sosial budaya

n. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai denga kewenangannya o. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

4. Kebijakan Umum (Kebijakan Publik)

Kebijakan umum adalah program-program yang ditetapkan oleh pemerintah (dalam arti luas) untuk mencapai tujuan masyarakat. Ketetapan MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah merupakan bentuk-bentuk kebijakan umum di Indonesia. Kebijakan umum merupakan terjemahan dari kata public policy. Kebijakan umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Kebijakan umum yang bersifat ekstraktif

Kebijakan umum yang bersifat ekstraktif adalah keputusan poitik pemerintah yang berisi ketentuan untuk menyerap sumber-sumber material maupun sumber daya manusia yang ada di masyarakat. Misalnya: Undang Undang dan Peraturan tentang pajak, retribusi sebagai kebijakan umum menyerap sumberr daya material dari masyarakat. Peraturan Pemerintah tentang penerimaan pegawai negeri sipil sebagai kebijakan umum yang mnyerap sumber daya manusia dari masyarakat.

b. Kebijakan umum yang bersifat alokatif dan distributif

Kebijakan umum yang bersifat alokatif dan distributif adalah kebijakan politik pemerintah berisi ketentuan untuk memilih dan membagikan sumber-sumber mareial kepada masyarakat. Misalnya:

kebijakan membangun jalan tol, memberi distribusi bahan bakar minyak. Memberi bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat miskin, dan lain sebagainya.

c. Kebijakan umum yang bersifat regulatif

Kebijakan umum yang bersifat regulatif adalah kebijakan politik yang berisi ketentuan-ketentuan untuk mengatur perilaku anggota masyarakat. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjamin ketertiban masyarakat dan menjamin hak-hak asasi warga dari penyalah gunaan kekuasaan oleh para penyelenggara negara atau kelompok-kelompok dominan di masyarakat.

Apakah peranan masyarakat dalam menetapkan kebijakan publik? Dan bagaimana cara menyalurkannya ?

Peranan masyarakat sangat diperlukan dalam merumuskan kebijakanumum/publik, agar ada sinkronisasi antara keinginan masyarakat dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Hal- hal yang termuat dalam kebijakan umum merupakan perpaduan antara berbagai kepentingan yang berkembang di masyarakat. Berbagai kepentingan tersebut ada klalanya sejalan, tetapi sering pula bertentangan. Berbagai kepentingan itu kemudia dipadukan oleh partai-partai politik dan para pembuat kebijakan umum agar memunculkan kebaikan untuk bersama. Peranan masyarakat tentu sangat diperlukan, dan menyalurkannya pada partai-partai politik yang berperan mengumpulkan beragam aspirasi yang berasal dari masyarakat, lalu memdukannya menjadi alternatif kebijakan umum untuk diperjuangkan melalui wakil-wakil mewreka di DPR/DPRD atai Pemerintah dan/atau Pemda.

Langkah-langkah Partai politik menyerap aspirasi masyarakat, terdiri atas:

1. Pengumpulan data 2. Pengolahan data

3. Pengakjian bahan pustaka 4. Klarifikasi aspirasi

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

E. Latihan Tugas Kelompok

1. Bentuk kelompok, setiap kelompok maksimal 5 orang

2. Diskusikan dalam kelompok, apa yang melatarbelakangi dilakukannya amanedemen terhadp UUD 1945.

3. Buat laporan tiap kelompok 4. Sampaikan dalam disikusi kelas F. Rangkuman

1. Konstitusi merupakan dasar susunan badan politik negara. Konstitusi menggambarkan seluruh sistem ketatanegaraan suatu negara, yaitu berupa kumpulan peraturan yang dipakai untuk membentuk, mengatur, atau memerintah negara.

2. UUD 1945 sebagai hukum dasar negara RI berfungsi sebagai sumber hukum tertinggi dan juga sebagai alat kontrol. Sebagai alat kontrol berarti menjadi papan uji atau alat untuk mengecek kesesuaian norma hukum yang berada di bawahnya.

3. UUD 1945 sebagai peraturan hukum tertinggi menurut tata urutan norma hukum yang berlaku di Indonesia. Adapun tata urutan Peraturan Perundang-undangan RI menurut Undang- undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2004 sebagai berikut ini.

a. UUD 1945;

b. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang;

c. Peraturan Pemerintah;

d. Peraturan Presiden;

e. Peraturan Daerah.

4. Konstitusi yang pernah berlaku dan masa berlakunya konstitusi- konstitusi tersebut adalah sebagai berikut ini.

a. Undang-undang Dasar Proklamasi yang dikenal dengan Undang-undang 1945 Periode pertama. Masa berlakunya 18 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949.

b. Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Masa berlakunya 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950.

c. Undang-undang Dasar Sementara 1950. Masa berlakunya 17 Agustus 1950 sampai dengan 5 Juli 1959.

d. Undang-undang Dasar 1945 Periode kedua. Masa berlakunya 5 Juli 1959 sampai dengan tahun 1998.

e. Undang-undang Dasar 1945 Hasil Amandemen. Masa berlakunya mulai tahun 1999 sampai dengan sekarang.

5. Pada hakekatnya sistem pemerintahan yang diberlakukan di negara-negara demokrasi adalah sistem parlementer atau presidensiil. Kriteria yang dipakai untuk membedakan sistem pemerintahan parlementer dan presidensiil adalah tergantung proses terbentuknya badan/lembaga negara yang bersangkutan.

6. Berkaitan dengan perubahan UUD 1945, terjadi kesepakatan dasar yang dicapai oleh fraksi- fraksi MPR sebagai berikut:

a. tidak mengubah pembukaan UUD 1945;

b. tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

c. tetap mempertahankan sistem pemerintahan presidensiil;

d. penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal yang normatif dimasukkan ke dalam pasal- pasal UUD 1945;

e. perubahan dilakukan dengan cara “adendum”; dan

f. pasal-pasal dalam batang tubuh menjadi: 21 bab, 73 pasal, 170 ayat, 3 pasal aturan peralihan, dan 2 pasal aturan tambahan.

7. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind). Prinsip otonomi daerah menggunakan otonomi daerah yang seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang- undang.

8. Sejalan dengan asas otonomi luas, dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas,wewenang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

9. Penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi padapeningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikankepentingan dan aspirasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Selain itu pelaksanaan otonomi daerah harus pula dapat menjalin kerja sama dengan daerah lainnya, sehinggadapat meningkatkan kesejahteraan bersama, serta mencegah terjadinya ketimpangan antar daerah.

10. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah dengan Daerah Otonom. Pembagian urusan pemerintahan tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagai urusan pemerintahan yang tetap menjadi kewenangan Pemerintah. Urusan pemerintahan tersebut menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan.

11. Kebijakan umum adalah program-program yang ditetapkan oleh pemerintah (dalam arti luas) untuk mencapai tujuan masyarakat. Peranan masyarakat sangat diperlukan dalam merumuskan kebijakan umum/publik, agar ada sinkronisasi antara keinginan masyarakat dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Tes Formatif I. Pilihan ganda

Jawablah Soal-soal dibawah ini dengan memberikan tanda silang (X) pada huruf a, b, c atau d yang kalian anggap betul atau paling tepat!

1. Konstitusi dan Undang-Undang Dasar memiliki perbedaan yang sebenarnya tidak prinsip, yaitu:

a. Konstitusi merupakan bagian dari Undang-Undang Dasar b. Konstitusi mencakup di dalamnya Undang-Undang Dasar c. Konstitusi merupakan hukum dasar yang tertulis

d. Undang-Undang Dasar mencakup hukum dasar tak tertulis

2. Konstitusi suatu negara dirumuskan umumnya mengatur tentang, kecuali:

a. bentuk negara

b. dasar negara

c. bentuk pemerintahan d. sistem pemerintahan

3. Konstitusi suatu negara disusun sesuai dengan ....

a. wawasan kebangsaannya b. karakteristik bangsanya c. falsafah bangsanya d. sistem ketatanegaraannya

4. Agar dapat berpartisipasi aktif membangun negaranya maka setiap warga negara harus ....

a. mengetahui isi konstitusi b. tahu arti konstitusi negaranya c. memahami konstitusi negaranya d. berjiwa besar sebagai bangsa

5. Konstitusi dapat disamakan dengan UUD, karena ....

a. baik konstitusi maupun UUD itu ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis b. Konstitusi dan UUD itu dibuat untuk tujuan yang sama

c. Konstitusi dan Undang-undang Dasar 1945 mempunyai arti yang sama

d. semua peraturan dasar yang didokumentasikan dapat disebut Konstitusi atau UUD 6. Konstitusi atau UUD itu memuat hak-hak rakyat yang diperintah karena ....

a. hak-hak rakyat itu awal lahirnya konstitusi

b. konstitusi itu memuat peraturan yang bersifat legal c. konstitusi merupakan sekumpulan asas-asas hukum

d. adanya jaminan dan perlindungan hukum pada hak-hak rakyat 7. Konvensi adalah konstitusi yang tidak bersifat hukum sehingga ....

a. konvensi itu tidak tertulis

b. konvensi itu tidak didokumentasikan c. konvensi itu berbeda dengan konstitusi

d. jika terjadi pelanggaran tidak dapat dituntut dimuka pengadilan

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

8. Kedudukan konstitusi atau UUD 1945 dalam peraturan perundang- undangan negara Indonesia ...

a. orang tabu untuk memperbaharui Undang-undang Dasar

b. melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen itu yang dikehendaki c. Undang-undang Dasar 1945 itu memang sudah bersifat supel

d. Undang-undang Dasar 1945 itu merupakan peraturan perundangan yang tertinggi dalam Negara

9. Ketidakberhasilan UUD 1945 sebagai dasar pelaksanaan prinsip demokrasi, prinsip negara hukum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia karena

a. UUD 1945 memiliki sifat singkat b. UUD 1945 tidak bersifat lengkap

c. UUD 1945 tidak memuat sistem keseimbangan dan pengawasan d. UUD 1945 memberikan kekuasaan yang seluas-luasnya kepada MPR

10. Reformasi sistem ketatanegaraan Republik Indonesia menurut UUD 1945 setelah amandemen khususnya dalam hak kekuasaan eksekutif adalah ....

a. adanya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) b. penghapusan Dewan Pertimbangan Agung

c. pembatasan jabatan presiden dan pemilihan langsung d. Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui Pemilu

11. Siapakah yang dimaksud dengan penyelenggara pemerintahan ? A. Presiden dibantu seorang Wakil Presiden dan para menteri ngara B. Presiden, Gubernur, Bupati, dan Wali Kota

C. Presiden dan para penasihat-penasihat Presiden D. Presiden dibantu oleh para menteri-menteri

12. Sebutkan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan daerah!

A. Desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas perbantuan B. Sentralisasi, desentralisasi, dan tugas perbantuan C. Otonomi dan tugas perbantuan

D. Desentralisasi, otoinomi, dan dekonsentrasi

13. Penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan disebut….

A. Tugas Perbantuan B. Sentralisasi

C. Dekonsentrasi D. Desentralisasi

14. Pelimpahan wewenang pemerintahan dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah di wilayah tertentu, disebut ….

A. Sentralisasi B. Dekonsentrasi C. Desentralisasi D. Tugas Perbantuan

15. Salah satu hak Pemerintah Daerah adalah ….

A. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat B. Mengembangkan kehidupan demokrasi C. Memilih pimpinan daerah

D. Mengelola administrasi kependudukan

16. Keputusan politik pemerintah yang berisi ketentuan untuk menyerap sumber-sumber material maupun sumber daya manusia yang ada di masyarakat, disebut ….

A. Kebijakan umum yang bersifat deklaratif B. Kebijakan umum yang bersifat konstitutif C. Kebijakan umum yang bersifat distributif D. Kebijakan umum yang bersifat ekstraktif

17. Peraturan perundang-undangan tentang Pajak dan Retribusi Termasuk …..

A. Kebijakan umum yang bersifat ekstraktif B. Kebijakan umum yang bersifat konstitutif C. Kebijakan umum yang bersifat distributive D. Kebijakan umum yang bersifat regulative

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

18. Kebijakan umum pemberian Bantuan Langsung Tunai, termasuk ….

A. Kebijakan umum yang bersifat ekstraktif

B. Kebijakan umum yang bersifat alokatif dan distributif C. Kebijakan umum yang bersifat konstitutif

D. Kebijakan umum yang bersifat regulatif

19. Salah satu kewajiban pemerintah daerah adalah ….

A. Mengelola kekayaan daerah B. Mengelola apratur daerah C. Memilih pemimpin daerah

D. Melestarikan nilai-nilai sosial budaya

20. Pelaksanaan Pemilihan Umum di daerah, termasuk pelaksanaan asas….

A. Tugas Perbantuan B. Sentralisasi C. Dekonsentrasi D. Desentralisasi

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Arief. 2002. Amandemen Undang-Undang Dasar 1945: Analisis Kritis dari Perspektif Ketatanegaraan (Makalah Seminar). Semarang: Tidak Diterbitkan.

Mahfud MD, Moh. 2000. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Said, Moch. 1961. Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat.

Strong, C.F. 2004. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern. Kajian Tentang Sejarah & Bentuk-bentuk Konstitusi Dunia. Bandung : Nuansa dan Nusamedia.

Sugito, A.T. 2004. Pendidikan Pancasila. Semarang : C.V. Unnes Press. Joeniarto. 2001. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Jakarta :

Bumi Aksara.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan-Undangan

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

BUKU 4. SISTEM HUKUM, PERUNDANG-UNDANGAN, DAN PERADILAN NASIONAL BAB I PENDAHULUAN

A. Deskripsi

Buku ajar ini akan membahas tentang (1) sistem hukum nasional; (2) sistem peradilan nasional; (3) peranan lembaga-lembaga peradilan; (4) sikap yang sesuai ketentuan hukum yang berlaku; (5) upaya pemberantasan korupsi di Indonesia; dan (6) peran serta dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Sesuai ruang lingkup materi yang tercakup dalam buku ajar ini, maka penyajiannya dibagi ke dalam empat kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1 membahas sistem hukum di Indonesia; kegiatan belajar 2 membahasa perundang-undangan nasional; kegiatan belajar 3 membahas sistem peradilan nasional; dan kegiatan belajar 4 membahasa pemberantasan korupsi di Indonesia.

B. Prasyarat --

C. Petunjuk belajar

1. Bacalah dengan cermat bagian Pendahuluan agar Anda mengetahui kemampuan yang diharapkan dapat dicapai dan kegiatan belajar yang akan disajikan.

2. Bacalah sekilas uraian dalam setiap kegiatan belajar dan carilah istilah-istilah yang Anda anggap baru. Carilah makna istilah-istilah itu dalam glosarium.

3. Pelajari secara rinci pengertian-pengertian dalam setiap kegiatan belajar, diskusikan sesama peserta.

4. Jawablah semua pertanyaan yang diberikan dalam kegiatan belajar sebagai latihan, diskusikan dengan sesama peserta, teman sejawat guru atau instruktur Anda.

5. Kerjakan soal-soal Tes Formatif pada setiap akhir kegiatan belajar, diskusikan dengan sesama peserta PLPG, teman sejawat guru atau instruktur Anda. Cocokkan jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif pada akhir modul ini.

6. Buatlah rencana kegiatan belajar yang berkaitan dengan isi modul ini berdasarkan RPP di sekolah Anda.

D. Kompetensi dan Indikator

Kompetensi umum yang diharapkan setelah Anda mempelajari buku ajar ini adalah dapat menguasai konsep kedaulatan rakyat, demokrasi, hak azasi manusia, dan kemerdekaan berpendapat serta penerapannya di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Setelah mempelajari buku ajar ini diharapkan Anda dapat:

1. Menjelaskan pengertian, tujuan, dan fungsi hukum;

2. mengidentifikasi jenis-jenis hukum nasional;

3. membuktikan bahwa Indonesia adalah negara hukum;

4. menjelaskan hirarkhi peraturan perundang-undangan di Indonesia;

5. mendeskripsikan hirarki pengadilan umum;

6. menjelaskan fungsi lembaga peradilan;

7. menunjukkan perbedaan proses antara peradilan sipil, 8. peradilan militer, dan proses peradilan khusus korupsi;

9. mendeskripsikan proses perkara pidana dan perdata dalam lingkungan peradilan umum;

10. menghormati setiap keputusan pengadilan; serta

11. mampu mendemonstrasikan proses peradilan perkara di pengadilan.

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar

Dalam dokumen Modul PKn (Halaman 87-97)