A. Penelitian Terdahulu
2. Kegiatan Ekstrakurikuler
a. Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang pendidikan di luar jam pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan siswa sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui
47 Juwariyah, Hadis Tarbawi (Yogyakarta: Teras, 2010), 102-103.
kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.48
Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di luar kegiatan pembelajaran, selain dapat dijadikan sebagai media dalam pembentukan karakter siswa juga dapat membantu siswa mengembangkan minatnya serta membantu siswa agar memiliki semangat baru untuk lebih giat belajar serta menanamkan tanggung jawabnya sebagai warga Negara yang mandiri.49
Deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah yang dilaksanakan oleh siswa diluar jam pembelajaran untuk mengembangkan potensi, bakat, minat wawasan pengetahuan, sikap, kemampuan,/keterampilan, serta karakter siswa secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan.
Melalui kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan upaya pembentukan manusia seutuhnya.
b. Tujuan Ekstrakurikuler
Petunjuk teknis pelaksanaan ekstrakurikuler pada Sekolah Menengah Kejuruan membedakan tujuan kegiatan ekstrakurikuler menjadi 2 tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1) Tujuan umum
48 Zainal Aqib dan Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan., 68.
49 Najib, dkk, Manajemen Masjid Sekolah., 64.
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian siswa Sekolah Menengah Kejuruan.
2) Tujuan khusus
Secara khusus, kegiatan ekstrakurikuler dimasukkan untuk menumbuhkembankan bakat, minat, kreativitas, kompetensi, dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kegamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karier, kemampuan memecahkan masalah, kemandirian, dan kemampuan- kemampuan lain yang mendukung pembentukan watak dan kepribadian siswa.50
c. Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler
Depdiknas dalam buku pendidikan karakter konsep dan aplikasi living values education menegakkan prinsip pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di Indonesia sebagai berikut:
1) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat siswa masing-masing.
2) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela siswa.
3) Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan siswa.
50 Novan Ardy Wiyani, Konsep, Praktik & Strategi., 111.
4) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan siswa.
5) Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat siswa untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6) Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.51
d. Pentingnya pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler Nilai-nilai karakter juga dapat diinternalisasikan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler merupakan proses menanamkan nilai-nilai karakter yang berguna bagi masyarakat melalui kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di luar kegiatan pembelajaran agar siswa mampu meyakini dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiatan pembiasaan merupakan proses menanamkan nilai-nilai karakter yang berguna bagi masyarakat melalui kegiatan pembiasaan yang dilakukan secara rutin dan spontan agar siswa mampu meyakini dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sukring mengungkapkan bahwa pembiasaan rutin maupun spontan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran suatu agama dapat memudahkan para guru dalam membentuk karakter siswa.
Semakin banyak pengalaman agama yang diterima siswa melalui pembiasaan rutin dan pembiasaan spontan dapat menjadikan siswa memiliki pengetahuan keagamaan yang semakin luas, semakin mudah
51 Kokom Komalasari dan Didin Saripudin, Pendidikan Karakter Konsep dan Aplikasi Living Values Education, (Bandung: PT Refika Aditama, 2017), 125.
memahami ajaran agama, dan semakin terdorong untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai karakter menurut agamanya. Selain itu pelaksanaan pembiasaan rutin maupun pembiasaan spontan juga sangat didukung oleh ketaladanan guru. Keteladanan berasal dari kata teladan yang berarti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (mengenai perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya).52
Kegiatan ekstrakurikuler mempunyai peran penting dalam mengembangkan watak dan kepribadian siswa. Cakupan kompetensi siswa yang dikembangkan dalam kegiatan meliputi bakat, minat, kreatifitas, kompetensi dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian.
e. Bentuk Ekstrakurikuler
1) Ekstrakurikuler Remaja Masjid
Masjid merupakan kata benda yang menunjukkan suatu tempat (dlaraf makan) berasal dari kata sajada yang memiliki arti tempat sujud. Sedangkan secara etimologis masjid dapat diartikan sebagai bangunan khusus yang diyakini memiliki keutamaan tertentu untuk melakukan shalat jamaah dan shalat Jum‟at serta aktivitas keagamaan yang lain.53 Masjid bukanlah tempat ibadah yang dikhususkan untuk shalat dan I‟tikaf semata. Masjid menjadi pusat kegiatan positif kaum muslimin dan bermanfaat bagi umat.
52 Najib, dkk, Manajemen Masjid Sekolah., 71-72.
53 Najib, dkk, Manajemen Masjid Sekolah., 7.
Menurut Siswanto dalam jurnal peran Orema Al-Ikhlas dalam pemberdayaan remaja masjid Islam di Patukan mengatakan remaja masjid adalah wadah kerja sama yang dilakukan oleh dua orang remaja muslim atau lebih yang memiliki keterkaitan dengan Masjid untuk mencapai tujuan bersama. Mengingat keterkaitannya yang erat dengan Masjid, maka peran organisasi ini adalah memakmurkan Masjid.54
Tujuan Remaja Masjid yaitu memegang peranan dalam penyebaran budaya Islam. Melalui remaja masjid secara bertahap kita dapat menanamkan nilai-nilai keimanan dasar, sehingga dapat membentengi generasi Islam dalam pergaulannya. Sekarang ini seakan tiada batas pergaulan para pemuda, karena itu dengan remaja masjid inilah kita bisa mengontrol dan mencegah pergaulan bebas yang setiap saat mengintai generasi Islam. Internalisasi nilai-nilai karakter dalam ekstrakurikuler remaja masjid seperti religius, tanggung jawab, peduli sosial dan mandiri dengan melalui kegiatan:
a) Rajin beribadah/shalat
Shalat adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT tentang wajib melaksnakan shalat dalam Al-Qur‟an surat Al- Baqarah, 2: 43:
54 Pujangga Atmaja dan Amika Wardana, Peran Orema Al-Ikhlas dalam Pemberdayaan Remaja Islam di Patukan (Jurnal: Universitas Negeri Yogyakarta, t.t.).
Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku”.55
Begitu pentingnya, kelak dihari kiamat amalan shalatlah yang pertama kali akan dihitung dan dievaluasi. Bagusnya dan tidaknya kualitas shalat akan mempengaruhi penilaian terhadap seseorang hamba pada amal perbuatan yang lainnya. Allah SWT menilai manusia bukan dari paras wajah, keturunan, dan harta kekayaan melainkan tingkat ketaqwaannya kepada Allah, tantangannya adalah seberapa kuat kita menjalaninya dan seberapa kuat kita mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari bahwa dengan shalat kita akan tercegah dari melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.
b) Membaca Al-Qur‟an secara tartil
Membaca Al-Qur‟an tidak sama dengan membaca bahan bacaan lainnya karena ia adalah kalam Allah SWT. Makna membaca dengan tartil adalah dengan perlahan-lahan sambil memperhatikan huruf-huruf dan barisnya. As-Suyuti mengatakan bahwa disunnahkan membaca Al-Qur‟an dengan tartil. Allah SWT berfirman, surat Al-Muzammil ayat 4:
55 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya., 7.
Artinya: Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.56
Asal perintah Al-Qur‟an adalah wajib dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi SAW., dan umat yang mengikuti beliau.
Oleh karena itu, az-Zarkasyi berkata, „setiap orang muslim yang membaca Al-Qur‟an wajib membacanya dengan tartil.57
c) Peringatan Hari Besar Islam
Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) adalah kegiatan memperingati Hari Besar Islam, dengan maksud syiar Islam sekaligus menggali arti dan makna dari Hari Besar Islam.
Hari Besar Islam yang dimaksud antara lain, Maulid Nabi, Isra‟
Mi‟raj, Nuzulul Qur‟an, dan Tahun Baru Islam atau bulan Muharram, Idul fitri, dan Idul Adha.
Di dalam PHBI, siswa juga ditanamkan sikap bertanggung jawab dan kepemimpinan melalui kepanitiaan yang terbentuk.
Oleh sebab itu, dalam kegiatan apa pun selalu tersimpan nilai- nilai pendidikan karakter yang tidak berdiri sendiri, tetapi terpadu antara satu dengan yang lain.58 Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Pemendiknas 39 Tahun 2008 adalah:
(1) Melaksanakan peribadatan sesuai dengan ketentuan agama masing-masing
56 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya., 458.
57 Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), 231.
58 Asmaun Sahlan & Teguh Prastyo, Desain Pembelajaran, 37.
(2) Memperingati hari hari besar keagamaan
(3) Melaksanakan perbuatan amaliah sesuai dengan norma agama
(4) Membina toleransi kehidupan antar umat beragama (5) Mengadakan kegiatan lomba yang bernuansa keagamaan (6) Mengembangkan dan memberdayakan kegiatan keagamaan
di sekolah59
d) Kegiatan sosial kemasyarakatan
Kegiatan ekstrakurikuler Remaja Masjid sebagai lembaga dakwah Masjid dalam melakukan kegiatannya tidak hanya terbatas bidang keremajaan, akan tetapi kegiatan yang diselenggarakan juga harus menyentuh masyarakat secara luas.
Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya kegiatan yang diselenggarakan harus terencana dan terorganisir secara baik, salah satunya mengadakan bakti sosial. Bakti sosial adalah kegiatan mengumpulkan bantuan untuk orang yang memerlukan.
Contoh kegiatan adalah menolong korban bencana alam dan kegiatan SMK Negeri 1 salah satunya program KARISMAH (komunitas remaja peduli mushola dan mukenah indah) peduli mukena bersih di musholla-musholla fasilitas umum yang nantinya masyarakat bisa nyaman dalam beribadah.
59 Kokom Komalasari dan Didin Saripudin, Pendidikan Karakter Konsep, 129.
e) Santunan anak yatim
Kegiatan santunan anak yatim merupakan sikap meneladani pribadi Rasulullah SAW. terhadap anak yatim.
Tujuan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian kepada anak yatim dan kaum duafa, sekaligus untuk meningkatkan rasa cinta kasih dan kepedulian kita terhadap masa depan anak yatim.
f) Lembar Muhasabah
Muhasabah dapat diartikan sebagai perenungan diri untuk menghitung apa yang telah kita lakukan sebelum Allah SWT.
menghisab amal kita pada hari pembalasan. Merenung, melakukan intropeksi, mawas diri kemudian melakukan perbaikan, dan peningkatan prestasi semaksimal mungkin.60 Allah berfirman dalam Al-Qur‟an, Surat Al-Hasyr (59 ayat18:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.61
Dari firman Allah di atas tersirat suatu perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari esok akan lebih baik. Maka dalam melakukan muhasabah, seorang muslim
60 Saifuddin Bachrun, Manajemen Muhasabah Diri (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2011), 35.
61 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 437.
menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik ataukah lebih banyak berbuat kesalahan dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan penilaian menggunakan Al-Qur‟an dan Sunnah sebagai dasar penilaian.
2) Ekstrakurikuler Pramuka
Kepramukaan adalah proses pendidikan diluar lingkugan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan dialam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.62
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang gerakan pramuka, peranan gerakan pramuka dalam pendidikan karakter bangsa menjadi besar. Disebutkan di dalam konsideran “...
bahwa gerakan Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda sehingga memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntunan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.63
Kata Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya. Pendidikan Pramuka berperan sebagai komplemen dan suplemen terhadap
62 Zainal Aqib, Panduan dan Aplikasi Pendidikan karakter (Bandung: Yrama Widya, 2011), 81.
63 Hudiyono, Membangun Karakter Siswa., 84.
pendidikan formal. Dalam pramuka anak akan mendapatkan dua hal, yakni belajar berorganisasi dan melakukan beragam kegiatan, baik didalam ruangan ataupun diluar ruangan. Secara rinci ekstrakurikuler Pramuka bisa internalisasi nilai-nilai karakter seperti religius, disiplin, tanggung jawab, mandiri, peduli lingkungan dan bersahabat/komunikatif dengan melalui beberapa kegiatan diantaranya:
a) Baris-berbaris
Baris-berbaris adalah suatu wujud latihan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu. Maksud dan tujuan baris-berbaris adalah menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa persatuan, rasa disiplin, dan tanggung jawab.
(1) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
(2) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
(3) Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada
hakikatnya tidak lain dari pada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
(4) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.64 b) Berkemah dalam kepramukaan
Berkemah atau perkemahan adalah salah satu macam kegiatan dalam kepramukaan yang dilaksanakan secara outbond. Kegiatan ini merupakan salah satu media pertemuan untuk Pramuka.
Ditinjau dari tujuannya yaitu:
(1) Kemah Bakti. Seperti; Perkemahan Wirakarya (PW)
(2) Kemah Pelantikan. Seperti; Perkemahan Pelantikan Tamu Ambalan, Pelantikan Penggalang ramu dan lain-lain
(3) Kemah Lomba. Seperti; Lomba Tingkat (LT) (4) Kemah Rekreasi
(5) Kemah Jambore65
3) Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR)
Palang Merah Remaja merupakan organisasi kepemudaan dengan anggota para siswa sekolah. Oleh karena itu, keberadaan PMR terdapat di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan dan yang sederajat. Bahkan di beberapa sekolah organisasi binaan Palang
64 PAH Tim, Panduan Lengkap Gerakan Pramuka (Surabaya: Pustaka Agung Harapan, t.t.), 110.
65 PAH Tim, Panduan Lengkap Gerakan Pramuka.,, 68.
Merah Indonesia ini menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di antara aneka kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
Jiwa dan semangat kemanusiaan perlu ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak, khususnya siswa. Pembinaan dan pengembangannya juga perlu secara terus-menerus dilakukan agar mereka siap siaga setiap waktu untuk membuktikan diri bagi tugas- tugas kemanusiaan sebagai wujud rasa tanggung jawab.
Pembinaan dan pengembangan jiwa dan semangat kemanusiaan dikalangan siswa dapat dilakukan pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan. Palang Merah Remaja (PMR), yang merupakan bagian dari Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satu wadah untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan kepada siswa karena PMR mendidik siswa menjadi manusia yang berprikemanusiaan dan mempersiapkan kader PMI yang baik dan mampu membantu melaksanakan tugas kepalangmerahan.
Sebagai binaan PMI, PMR tentu saja masih bagian dari tubuh PMI itu sendiri, hanya saja ruang lingkup kegiatan PMI jauh lebih luas dibandingkan PMR, tetapi pada intinya sama, yaitu sosial dan kemanusiaan.66
Mengingat pembinaan PMR terfokus pada pembangunan karakter, maka standarisasi pelatihan untuk PMR terdapat 7 (tujuh)
66 Rohmat Kurnia, Pedoman Palang Merah Remaja (Jakarta: Bee Media Pusaka, 2017), 30.
materi yang harus dikuasai anggota PMR yaitu gerakan kepalangmerahan, kepemimpinan, pertolongan pertama, kesehatan remaja, kesiapsiagaan bencana, dan donor darah.67
Kegiatan membuat majalah dinding sebagai jenis media komunikasi termasuk dalam media representasi. Media ini menggunakan konvensi-konvensi budaya dan estetik untuk menciptakan „teks‟ sejenis media representasi. Teks-teks tersebut bersifat representasi, dan kreatif. Media ini membuat sebuah teks yang dapat merekam media dari kategori satu dan dapat eksis secara mandiri tanpa komunikator media ini memproduksi karya-karya komunikasi.68 Secara rinci kegiatan ekstrakurikuler PMR dapat internalisasi nilai-nilai karakter peduli sosial dan tanggung jawab.
4) Ekstrakurikuler Jurnalistik
Jurnalistik atau jounalisme berasal dari perkataan journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.69
Jurnalisme sebagai proses mengumpulkan, menyiapkan, dan menyebakan berita melalui media massa. Effendi mengatakan
67 Zainal Aqib, Panduan dan Aplikasi Pendidikan karakter, 87-88.
68 John Fiske, Pengantar ilmu Komunikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 30.
69 Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2012), 15.
jurnalistik sebagai suatu pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak mulai dari peliputan sampai penyebaran ke masyarakat. Untuk menghindari kekeliruan antara pemakaian istilah jurnalisme dan jurnalistik, Soeheoet menempatkan keduanya sebagai istilah yang sama artinya yakni lebih menekankan pada suatu proses, pengelolaan, dan penyampaian laporan (berita).70 Allah SWT berfirman dalam surat Al-Imran ayat 104:
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”71
Berdasarkan ayat tersebut, menjadi visi-misi jurnalistik sebagai dakwah, karena informasi, pesan, tulisan, atau berita yang disebarkan dalam konteks jurnalistik senantiasa mengacu pada kebaikan dalam perspektif Islam dan bertujuan menegakkan kebenaran serta mencegah hal-hal munkar (bertentangan dengan syariat Islam).
Secara rinci nilai-nilai karakter yang dapat diinternalisasikan dalam ekstrakurikuler jurnalistik yaitu nilai karakter tanggung jawab,
70 Helmi Syaifuddin, Jurnalisme Sastra dan Dakwah Islam: Analisis Rubrik “Nganal-Kodew”
(Jurnal: Universitas Islam Negeri (UIN) Malang), 2014.
71 Al-Aliy, Al-Qur’an dan Terjemahnya., 50.
disiplin, kreatif, gemar membaca dan jujur dengan melalui beberapa kegiatan diantaranya:
a) Melakukan wawancara
Wartawan atau reporter adalah yang bertugas meliput berita. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif. Detak jantung jurnalisme terletak pada sumber berita dan keberhasilan wartawan dalam mengorek informasi dari sumber berita. Di antara keduanya terletak pula kemampuan wartawan dalam menggunakan teknik wawancara.
Wawancara adalah suatu proses yang mengharuskan penafsiran dan penyesuaian terus-menerus. Wawancara adalah salah satu cara untuk mencari fakta dengan meminjam indera (mengingat dan merekonstruksi) sebuah peristiwa, mengutip pendapat dan opini narasumber.
b) Menulis berita dengan lead yang menarik
Berita adalah informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik perhatian orang. Kalimat pembuka yang memuat ringkasan berita disebut lead. Lead yang fungsinya sama dengan sebuah intro dalam musik disebut juga teaser karena pada hakekatnya bagian awal dari tulisan tak ubahnya seperti penggoda agar pembaca tertarik untuk membaca terus .72
72 Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik., 129.