• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Sarjana Pendidikan Islam di IAIN Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Sarjana Pendidikan Islam di IAIN Jember"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

SITI SOLECHA NIM. 084 141 351

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

NOVEMBER 2018

(2)
(3)
(4)







Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.1

1 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2005), 336.

(5)

Ayah dan Ibu, ( Solihin dan Rochima), yang telah ikhlas membesarkan, mengasuh, mendidik, dan selalu memberikan do’a serta mendukungku untuk terus

semangat dalam setiap langkah menuju kesuksesan masa depan.

Adik-adikku yang selalu menjadi semangatku dalam penyusunan skripsi ini.

Seluruh saudara dan kerabat yang senantiasa selalu memberikan motivasi dan do’a untukku.

(6)

Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM. selaku Rektor IAIN Jember yang telah mengizinkan saya melaksanakan pendidikan di kampus tercinta ini.

2. Bapak Dr. H. Abdullah, S.Ag, M.H.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah memberikan izin kepada saya untuk belajar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, khususnya Jurusan Pendidikan Islam Prodi PAI.

3. Bapak Dr. H. Mundir, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam IAIN Jember yang selalu memberikan arahannya dalam perkuliahan yang kami tempuh.

4. Bapak H. Mursalim, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam yang memberikan persetujuan kepada penulis untuk melaksanakan proses skripsi.

5. Bapak Dr. H. Mas’ud, M.Pd.I. selaku dosen pembimbing skripsi yang sudah memberikan bimbingan, arahan dan saran dengan penuh kesabaran hingga tugas akhir ini dapat terselesaikan.

(7)

penelitian di lembaga yang dipimpin.

7. Serta guru beserta karyawan yang telah memberikan bantuan dalam memperoleh data untuk penyusunan skripsi ini.

8. Semua sahabat seperjuangan yang tiada henti memberikan semangat, dorongan, serta motivasi selama proses penyusunan skripsi.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena keterbatasan wawasan penulis maka dari itu penulis sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Aamiin ya Robbal ‘alamin.

Jember, 26 November 2018

Penulis

(8)

Pendidikan mampu menanamkan karakter mulia bagi siswa. Pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan yang dapat membawa bangsa menjadi bangsa yang maju dan mempunyai karakter. Kenyataan saat ini maraknya perubahan perilaku, kasus kenakalan dan kemerosotan moral pelajar karena memiliki karakter yang kurang baik dan memiliki kecenderungan untuk mengisi waktunya dengan kegiatan yang dapat merugikan kehidupan mereka, inilah alasan penting upaya terciptanya sistem yang menjadikan karakter sebagai poros utamanya.

Karakter merupakan aktualisasi potensi dari dalam dan internalisasi nilai-nilai moral dari luar menjadi bagian kepribadiannya. Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri (sudah melekatkan) dalam diri melalui pendidikan, pola asuh, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan perilaku. Pentingnya pembentukan karakter bangsa yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Karakter semacam ini dipercaya dapat meminimalkan perilaku yang kurang baik seperti kenakalan remaja, koruptif, manipulatif dan sebagainya. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter bangsa yang baik adalah pendidikan, dengan internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana program ekstrakurikuler yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Probolinggo dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter pada siswa? 2) Bagaimana dampak kegiatan ekstrakurikuler terhadap pembinaan karakter siswa di SMK Negeri 1 Probolinggo?.

Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penentuan subyek penelitiannya menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.

Hasil penelitian ini adalah 1) Program ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMKN 1 Probolinggo dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter siswa melalui pembiasaan rutin, spontan, keteladanan dan program masing-masing kegiatan ekstrakurikuler yang meliputi ekstrakurikuler remaja masjid, ekstrakurikuler pramuka, ekstrakurikuler PMR dan ekstrakurikuler jurnalistik. 2) Kegiatan ekstrakurikuler memberikan dampak positif terhadap siswa bukan hanya di lingkungan sekolah melainkan di lingkungan keluarga, dampaknya yaitu secara internal maupun eksternal, dampak internal diantaranya: a)siswa dapat meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, b)berakhlak mulia, c)memiliki sikap peduli sosial d)percaya diri e)disiplin f)menjaga kelestarian lingkungan, g) toleransi terhadap agama yang lain, h)meningkatkan keterampilan menulis dalam mengekspresikan hasil tulisan dan karya-karyanya. Dampak eksternal yang di rasakan oleh orang tua siswa karena berdampak langsung terhadap perilaku anaknya, diantaranya siswa melaksanakan Shalat lima waktu, berjiwa Qur’ani dengan membaca Al-Qur’an ketika selesai Shalat, melaksanakan puasa sunnah, perubahan siswa memakai jilbab ketika berada di rumah, memiliki akhlak mulia seperti membantu orang tua di rumah, sopan dan santun kepada orang tua.

(9)

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 14

A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 17

BAB III METODE PENELITIAN... 53

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ... 53

(10)

D. Teknik Pengumpulan Data... 56

E. Analisis Data ... 60

F. Keabsahan Data ... 62

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 62

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 65

A. Gambaran Objek Penelitian ... 65

B. Penyajian Data dan Analisis ... 73

C. Pembahasan Temuan ... 108

BAB V PENUTUP ... 132

A. Kesimpulan ... 132

B. Saran ... 133

DAFTAR PUSTAKA ... 134 LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Surat Pernyataan Keaslian Tulisan 2. Matrik Penelitian

3. Surat Izin Penelitian

4. Surat Keterangan Selesai Penelitian

5. Struktur Organisasi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Probolinggo 6. Struktur Ekstrakurikuler

7. Jadwal Ekstrakurikuler

8. Jadwal Program Kegiatan Kesiswaan 9. Sarana Prasarana

10. Prestasi Siswa

11. Lembar Muhasabah Harian 12. Jurnal Penelitian

13. Dokumentasi 14. Biodata Penulis

(11)

2.1 Persamaan dan Perbedaan ... 16

4.1 Profil Sekolah ... 67

4.2 Keadaan Guru dan Tenaga Kependidikan... 69

4.3 Nama Pembina Kegiatan Ekstrakurikuler ... 70

4.4 Program Kegiatan Ekstrakurikuler ... 71

4.5 Keadaan Siswa... 72

4.6 Keadaan Anggota Ekstrakurikuler di SMK Negeri 1 Probolinggo ... 72

4.7 Matrik Hasil Temuan ... 129

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki setiap manusia untuk meningkatkan harkat, martabat, serta kualitas hidup manusia karena dengan diperolehnya pendidikan seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang dapat dikembangkan dan digunakan untuk melanjutkan hidupnya kelak.

Pendidikan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 menyebutkan bahwa:

“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa dan negara.2

Memahami konsep pendidikan nasional tersebut, seharusnya pendidikan mampu menanamkan karakter mulia bagi siswa. Pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan yang dapat membawa bangsa menjadi bangsa yang maju dan mempunyai karakter.

Kenyataan saat ini banyak siswa memiliki karakter yang kurang baik dan memiliki kecenderungan untuk mengisi waktunya dengan kegiatan yang dapat merugikan kehidupan mereka, hal ini disebabkan karena siswa kurang

2 UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Undang-Undang SISDIKNAS, (Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), 3.

(13)

memaksimalkan waktunya dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat. Ini terlihat dari maraknya kasus kenakalan remaja dan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh siswa.

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai kondisi Indonesia saat ini, di mana penurunan etika dan moral pelajar yang didapat di era globalisasi memberikan pengaruh terhadap perilaku remaja seperti pergaulan bebas, narkoba, kurang adanya tata krama siswa terhadap orang yang lebih tua, beberapa kasus misalnya merokok dan duduk tak sopan di samping gurunya yang sudah lanjut usia. Kasus siswa menganiaya gurunya hingga meninggal dunia. Kasus bullying terhadap pelajar, dan tawuran antar pelajar yang menewaskan seorang pelajar, dan empat pelaku tawuran di Bogor SMK Tri Dharma di Jalan Raya Bogor-Sukabumi, Cigombong, Bogor.3

Mengingat saat ini generasi muda Indonesia sedang berada dalam masa-masa kritis karena kemerosotan moral. Hal ini dapat merugikan siswa sendiri, tetapi juga berdampak pada pencitraan sekolah serta dapat mempersulit pihak sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Melihat fakta-fakta mengenai kemerosotan moral di atas, inilah alasan penting di mana upaya terciptanya sistem yang menjadikan karakter sebagai poros utamanya.

Menurut Kepmendiknas dalam buku pendidikan karakter internalisasi dan metode pembelajaran di Sekolah karakter adalah sebagai nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik,

3 Haryudi, "Tewaskan seorang pelajar, empat pelaku taawuran di Bogor diringkus”, https://metro.sindonews.read/1296180/170/tewaskan-seorang-pelajar-empat-pelaku-tawuran-di- bogor-diringkus-1523188066, (12 April 2018).

(14)

dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Pertimbangan di atas juga dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.4

Adanya karakter ini adalah bentuk nyata dari upaya terencana untuk menjadikan siswa mengenal, peduli dan internalisasi nilai-nilai karakter sehingga siswa berperilaku sebagai insan kamil. Menurut Screnco, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh dengan cara, kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian serta praktik emulasi.5 Firman Allah telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13 sebagai berikut:































Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".6

Penyampaian materi pendidikan dalam ayat ini bentuk komunikasi efektif antara Luqman dan anaknya yang mengisyaratkan bahwa hendaknya

4 Imas Kurniasih & Berlin Sani, Pendidikan Karakter Internalisasi dan Metode Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta: Kata Pena, 2017), 23.

5 Novan Ardi Wiyani, Konsep, Praktik, & Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 27.

6 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2005), 329.

(15)

seorang pendidik menempatkan anak didiknya sebagai objek yang memiliki potensi fikir, yang didorong oleh rasa kasih sayang serta merealisasikannya dalam pemberian bimbingan dan arahan agar anak didiknya terhindar dari perbuatan yang dilarang. Nilai karakter yang ada pada ayat ini adalah menjadikan Tauhid atau Aqidah sebagai pondasi awal bagi anak sebelum anak mengenal disiplin ilmu pengetahuan yang lain.

Pendidikan agama setidaknya mengajarkan pengetahuan agama yang meliputi Al-Quran/Hadis sebagai dasar agama, sejarah kebudayaan Islam, aqidah berkenaan dengan keimanan/keyakinan, fiqih untuk faktor yang berhubungan dengan ibadah ataupun pengamalan aliran agama dalam konteks ibadah, dan adab sebagai pembentukan budi pekerti yang luhur, yang di dalamnya tergolong adab terhadap Allah, sesama manusia, diri sendiri, dan dengan lingkungan alam semesta. Pendidikan karakter adalah pendidikan adab terpuji, yaitu pendidikan yang mengajarkan, membina, mengajar dan melatih supaya siswa mempunyai karakter, sikap mental positif, dan beradap terpuji. Pendidikan agama merupakan basis dari pendidikan karakter yang pada akhirnya pendidikan karakter bermuara kepada terwujudnya insan kamil.

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Probolinggo, di tengah maraknya perubahan perilaku dan kasus kenakalan yang dilakukan para pelajar saat ini. Berdasarkan pra observasi yang telah dilakukan peneliti, bahwa perilaku baik siswa terlihat saat berpapasan dengan peneliti dan bertanya mengenai keperluan peneliti dan ini menunjukkan karakter

(16)

bersahabat dan komunikatif. Kebudayaan di SMK Negeri 1 yang sangat terkesan dengan nilai religius yaitu siswa menggunakan hijab dan memakai baju dan rok panjang, siswa berjabat tangan dengan guru dan karyawan ketika berpapasan, mengerjakan Shalat sunnah dhuha, dhuhur dan shalat jum’at berjamaah dengan masyarakat disekitar lingkungan sekolah, JUMPA BERLIAN (Jum’at Pagi Bersih-Bersih Lingkungan), dan adanya “jum’at amal” siswa dibiasakan untuk peduli terhadap sesama yang membutuhkan di mana amal ini nantinya setiap satu minggu sekali bergantian dikumpulkan dan di serahkan kepada fakir miskin khususnya orang tua siswa yang tidak mampu dan kepada anak yatim. Nilai karakter religius inilah membuktikan bahwa sekolah umum pun mampu mengembangkan kegiatan keagamaan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadist Nabi.7

Oleh karena itu, SMKN 1 Probolinggo sebagai salah satu sekolah favorit yang berada di kawasan Probolinggo, ingin membuktikan bahwa sekolah umumpun mampu mengembangkan nuansa religi di dalam sekolah serta dapat menginternalisasikan nilai-nilai karakter, di mana salah satu wujud pelaksanaannya melalui kegiatan ekstrakurikuler agar terbentuk jiwa- jiwa yang berakhlakul karimah. Selain itu, siswa SMK Negeri 1 Probolinggo termasuk sekolah yang berbudaya dan sering meraih prestasi dalam kegiatan perlombaan baik tingkat daerah maupun tingkat nasional, hal ini terlihat dari banyaknya piala yang terpajang dikoridor sekolah.

7 Khoirul Anwar, wawancara, SMKN 1 Probolinggo, 14 Maret 2018.

(17)

Pihak sekolah memberikan sarana yang cukup baik untuk siswa agar menyalurkan bakat dan menggunakan waktunya dengan baik yaitu dengan menawarkan kegiatan-kegiatan yang ada disekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehinggga siswa dapat mengisi waktunya dengan kegiatan- kegiatan yang bermanfaat.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembinaan potensi yang dilakukan diluar jam pelajaran. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, siswa memiliki kebebasan penuh dalam memilih dan memilah bentuk-bentuk kegiatan yang sesuai potensi dan bakat yang ada dalam dirinya dan sejalan dengan cita-cita pendidikan yang sedang ditekuninya.

Sekolah ini memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti, ekstrakurikuler Remas (remaja masjid) yang didalamnya terdapat nilai religius, tanggung jawab dan peduli sosial dalam beberapa kegiatan seperti program kegiatan unggulan KARISMAH (komunitas remaja peduli musholla dan mukena bersih). Adanya muhasabah, mengikuti PHBI (Peringatan Hari Besar Islam).

Ekstrakurikuler pramuka dengan nilai toleransi, disiplin, tanggung jawab, mandiri, peduli lingkungan dan bersahabat/komunikatif dalam kegiatan PAB (Penerimaan Anggota Baru), kemah tamu ambalan dan diklat ambalan srikandi. Ekstrakurikuler PMR dengan nilai karakter peduli sosial, tanggung jawab dan kreatif dalam kegiatan ASB (Ayo Siaga Bencana) pelatihan dapur umum bersama, pembuatan mading, kunjungan panti asuhan, pelantikan dan donor darah bekerja sama dengan PMI kota Probolinggo. Ekstrakurikuler

(18)

jurnalistik dengan nilai kreatif, disiplin, tanggung jawab, gemar membaca dan jujur dalam kegiatan pembuatan majalah Sinxapro, meliput berita di dalam dan di luar sekolah.

Melalui hal sepele tetapi sangat bermakna seperti inilah yang dilakukan sekolah membantu mendidik dan membentuk siswa yang berkarakter. Dangan menginternalisasikan nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler ini agar dapat menumbuhkan karakter yang baik dalam diri siswa selain melalui pembelajaran formal dan sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat karena siswa merupakan out put untuk merealisasikan masa depan bangsa sebagai generasi penerus dalam melanjutkan pembangunan nasional dan kemasyarakatan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti terdorong untuk mengamati dan mengkaji tentang “INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SMKN 1 PROBOLINGGO”.

B. Fokus Penelitian

Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang dicari jawabannya melalui proses penelitian. Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam

(19)

kalimat tanya.8 Untuk lebih mudah melakukan penelitian ini, maka peneliti merumuskan fokus penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana program ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMKN 1 Probolinggo dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter siswa?

2. Bagaimana dampak kegiatan ekstrakulikuler terhadap pembinaan karakter siswa di SMKN 1 Probolinggo ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan di tuju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.9 Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan program ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMKN 1 Probolinggo untuk menginternalisasikan nilai-nilai karakter siswa.

2. Untuk mendeskripsikan dampak kegiatan ekstrakurikuler terhadap pembinaan karakter siswa di SMKN 1 Probolinggo.

D. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan memiliki manfaat, manfaat tersebut bisa bersifat teoritis dan praktis.10 Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang di berikan setelah selesai penelitian. Manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian sebagai berikut :

8 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah IAIN Jember (Jember Press, 2015), 44-45.

9 Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah IAIN Jember., 45.

10 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2015), 291.

(20)

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran guna memperkaya khazanah keilmuan di bidang pendidikan terutama untuk siswa.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

1) Penelitian ini memberikan pengalaman bagi peneliti dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler yang nantinya sebagai bekal untuk meningkatkan pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni yaitu dalam bidang pendidikan program Pendidikan Agama Islam.

2) Sebagai calon tenaga kependidikan dapat dijadikan acuan dan pedoman peneliti dalam usaha meningkatkan kualitas sebagai tenaga kependidikan.

b. Bagi lembaga yang diteliti

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang positif, untuk terus mempertahankan eksistensinya dan sebagai bahan masukan yang konstruktif dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan dan kemajuan lembaga pendidikan.

(21)

c. Bagi IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan sebagai penambahan literatur guna kepentingan akademik kepustakaan IAIN Jember dan referensi bagi mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut terkait dengan internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler.

d. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai refrensi untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan tentang internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti didalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.11 Maka dikemukakan beberapa difinisi istilah sebagai berikut:

1. Internalisasi

Internalisasi berasal dari kata internal yang berarti menyangkut bagian dalam. Sedangkan internalisasi diartikan sebagai proses penanaman dan penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga menjadi keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.12

11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 45.

12 Najib, dkk, Manajemen Masjid Sekolah sebagai Laboratorium Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasinya (Yogyakarta: Gava Media, 2015), 61.

(22)

Pada penelitian ini internalisasi adalah suatu proses yang mendalam dalam menghayati nilai-nilai karakter yang sasarannya menyatu dalam kepribadian siswa, sehingga menjadi kepribadian yang utuh.

2. Nilai

Nilai artinya harga, angka kepandaian, mutu, sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.13 Yang dimaksud nilai adalah sesuatu yang sangat berarti/berguna bagi kehidupan manusia.

3. Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, watak.14

Pada penelitian ini karakter seperti sifat, moral, akhlak, budi pekerti individu yang kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain.

4. Ekstrakurikuler

Ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar jam peelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan siswa sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan

13 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1004.

14 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar., 639.

(23)

yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.15

Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler adalah sebuah proses atau cara menanamkan nilai-nilai normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan melalui kegiatan ekstrakurikuler menuju terbentuknya kepribadian yang baik.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan sebuah kerangka skripsi yang dimaksudkan untuk memberikan petunjuk mengenai pokok-pokok pembahasan yang akan ditulis dalam skripsi ini mulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Penelitian ini akan dicetak dalam bentuk skripsi yang membahas beberapa pokok bahasan yang terdiri dari lima bab dan setiap bab memiliki beberapa sub bab, antara bab satu dan yang lainnya saling berhubungan bahkan merupakan pendalaman pemahaman dari bab sebelumnya. Untuk lebih mudah dibawah ini akan dikemukakan gambar umum secara singkat dari pembahasan skripsi ini.

Bab Satu Pendahuluan Memuat komponen dasar penelitian yaitu latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian secara teoritis dan praktis, definisi istilah, serta sistematika pembahasan.

15 Zainal Aqib dan Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter (Bandung: Yrama Widya, 2011), 68.

(24)

Bab Dua Kajian Kepustakaan Pada bagian ini berisi tentang kajian ringkasan kajian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini serta memuat kajian teori.

Bab Tiga Metode Penelitian Memuat tentang metode penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data serta tahap-tahap penelitian.

Bab Empat Hasil Penelitian Pada bagian ini berisi tentang data atau hasil penelitian yang meliputi latar belakang objek penelitian, penyajian data, analisis data serta pembahasan temuan yang diperoleh di lokasi penelitian.

Bab Lima Penutup Merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari beberapa pembahasan tentang hasil analisis data penelitian yang diteliti, serta saran-saran yang berkaitan dengan pokok bahasan dari objek penelitian.

(25)

A. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan tinjauan terhadap hasil penelitian terdahulu ada beberapa hasil penelitian yang penulis anggap mempunyai relevansi dengan penelitian ini lakukan diantaranya:

1. Syarifatul Imama, 2016, “Pendidikan Karakter Gemar Membaca melalui Ekstra Kurikuler Jurnalistik (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Raudlotul Muta‟allimin Simbar Tampo Cluring Banyuwangi 2015/2016”.

Metode penelitian yang digunakan dalam pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan menyimpulkan data. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Tujuan pendidikan karakter gemar membaca melalui ekstra kurikuler jurnalistik di MA Roudlatul Muta‟allimin adalah tercapainya misi sekolah, membiasakan siswa untuk membaca, memaksimalkan waktu luang siswa untuk kegiatan bernilai positif, memotivasi siswa untuk berkarya (2) Pelaksanaan pendidikan karakter gemar membaca melalui ekstrakurikuler jurnalistik di MA Roudlatul Muta‟allimin, dilaksanakan sesuai jadwal yaitu seminggu dua kali, melalui kegiatan pembiasaan membaca, pelatihan keterampilan

(26)

melalui tulisan, penyediaan fasilitas perpustakaan untuk melatih kedisiplinan siswa (3) Evaluasi pendidikan karakter gemar membaca melalui ekstra jurnalistik di MA Roudlatul Muta‟allimin, dilaksanakan melalui pengamatan/pembinaan langsung, pembiasaan, keteladanan serta evaluasi melalui perubahan sikap dan penilaian diri siswa.16

2. Siti Wikoyatul Khoiroh, 2016, “Penerapan Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Kesiswaan melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember.

Hasil penelitian ini adalah penelitian nilai karakter dalam hubungan dengan diri sendiri dalam pembinaan kesiswaan melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa di MAN 1 Jember yaitu dengan aturan sekolah tata tertib sekolah dan juga pada program kerja masing-masing kegiatan ekstrakurikuler yang meliputi kegiatan ekstrakurikuler ketaqwaan, ekstrakurikuler paskibraka, ekstrakurikuler kewirausahaan, ekstrakurikuler pramuka dan ekstrakurikuler PMR.17

3. Moch. Badrus Sholeh, 2017, “Penanaman Nilai-Nilai Karakter pada Mahasiswa di Pesantren Nuris II Jember”

Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penentuan subyek penelitian menggunakan purposive sampling. Tekhnik pengumpulan data

16 Syarifatul Imama, Pendidikan Karakter Gemar Membaca Melalui Ekstra Kurikuler Jurnalistik (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Raudlotul Muta’allimin Simbar Tampo Cluring Banyuwangi) (Skripsi, IAIN Jember, 2016).

17 Siti Wikoyatul Khoiroh, Penerapan Pendidikan Karakter dalam Pembinaan Kesiswaan melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler Siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember (Skripsi, IAIN Jember, 2016).

(27)

menggunakan tiga, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Analisis datanya menggunakan analisis model Miles dan Hubberman yaitu reduksi data, display/penyajian data, dan kesimpulan. Keabsahan datanya menggunakan triangulasi yaitu triangulasi sumber dan tekhnik.

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) penanaman nilai karakter religius pada mahasiswa di pesantren Nuris II Jember melalui pembiasaan shalat berjamaah setiap harinya, melaksanakan qiyamul lail, burdah, diba‟iyah, dan kegiatan tahlil serta melaksanakan kegiatan fathul qorib setiap hari Rabu. 2) penanaman nilai karakter toleransi pada mahasiswa di pesantren Nuris II Jember melalui metode musyawarah (mengharagai pendapat orang lain). 3) penanaman nilai karakter kreatif pada mahasiswa di pesantren Nuris II Jember dengan cara kewirausahaan atau berbisnis.18

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dan penelitian yang dilakukan, dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Judul

Nama Judul Penelitian Persamaan Perbedaan

1 2 3 4

1. Syarifatul Imama 2016

Pendidikan Karakter Gemar Membaca melalui Ekstra Kurikuler Jurnalistik (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Raudlotul Muta‟allimin

a. Pendekatan kualitatif deskriptif b. Teknik

pengumpulan data: observasi, wawancara

a. Lokasi dan tahun penelitian

b. Lebih fokus pendidikan karakter gemar membaca dan ekstrakurikuler

18 Moch. Badrus Sholeh, Penanaman Nilai-Nilai Karakter pada Mahasiswa di Pesantren Nuris II Jember (Skripsi, IAIN Jember, 2017).

(28)

1 2 3 4 Simbar Tampo

Cluring Banyuwangi 2015/2016

dan dokumentasi juranalistik sedangkan peneliti

internalisasi nilai- nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler 2. Siti

Wikoyatu l Khoiroh 2016

Penerapan pendidikan karakter dalam pembinaan

kesiswaan melalui kegiatan

ekstrakurikuler siswa

di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember

a. Pendekatan kualitatif deskriptif b. Teknik

pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi c. Pendidikan

karakter dan kegiatan ekstrakurikuler

a. Lokasi dan tahun penelitian

b. Penerapan pendidikan karakter sedangkan peneliti tentang internalisasi nilai- nilai karakter c. Ekstrakurikuler

ketaqwaan, paskibraka dan kewirausahaan 3. Moch.

Badrus Sholeh 2017

Penanaman Nilai- Nilai Karakter pada Mahasiswa di Pesantren Nuris II Jember

a. Pendekatan kualitatif deskriptif b. Teknik

pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi c. Sama-sama

nilai-nilai karakter

a. Lokasi dan tahun penelitian

b. Meneliti

penanaman nilai- nilai karakter pada mahasiswa sedangkan peneliti

internalisasi nilai- nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler B. Kajian Teori

1. Internalisasi Nilai-Nilai Karakter a. Pengertian Internalisasi

Internalisasi berasal dari kata internal yang berarti menyangkut bagian dalam. Sedangkan internalisasi diartikan sebagai proses

(29)

penanaman dan penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga menjadi keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.19

Internalisasi mempunyai makna penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan, dan sebagainya. Sedangkan tokoh psikologi modern, Chaplin dalam buku desain pembelajaran berbasis pendidikan karakter bahwa internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam kepribadian.20

Jadi, dapat disimpulkan bahwa internalisasi adalah suatu proses yang mendalam dalam menghayati nilai-nilai karakter yang sasarannya menyatu dalam kepribadian siswa, sehingga menjadi kepribadian yang utuh.

Tahap proses internalisasi pendidikan karakter kepada siswa, Muhaimin dalam buku desain pembelajaran berbasis pendidikan karakter melewati tiga fase, sebagai berikut:

1) Tahap Transformasi Nilai: Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara guru dan siswa.

19 Najib, dkk, Manajemen Masjid Sekolah., 61.

20 Asmaun Sahlan & Angga Teguh Prastyo, Desain Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 32.

(30)

2) Tahap Transaksi Nilai: Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dengan guru yang bersifat interaksi timbal-balik.

3) Tahap Transinternalisasi. Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal, melainkan juga sikap mental dan kepribadian ke dalam diri siswa. Jadi, pada tahap ini komunikasi kepribadian yang dijalankan guru kepada siswa lebih dominan dan berperan secara aktif. 21

Proses internalisasi hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangannya. Dengan dilakukannya internalisasi secara bertahap akan mempermudah pemahaman materi yang diberikan pendidik kepada siswa, sehingga akan tercipta sikap baik pada anak.

b. Pengertian Nilai

Nilai artinya harga, angka kepandaian, mutu, sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.22 Nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, yang mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai itu lebih dari keyakinan, nilai selalu menyangkut tindakan. Nilai seseorang diukur melalui tindakan. Oleh karena itu, karakter menyangkut nilai.23 Yang dimaksud nilai adalah sesuatu yang sangat berarti/berguna bagi kehidupan manusia.

21 Asmaun Sahlan & Angga Teguh Prastyo, Desain Pembelajaran., 33.

22 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 1004.

23 Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), 29.

(31)

c. Pengertian Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, watak.24

Secara teoritis, karakter seseorang dapat diamati dari tiga aspek, yaitu: mengetahui kebaikan, (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melalukan kebaikan (doing the good).

Pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekadar mendidik benar dan salah, tetapi mencakup proses pembiasaan tentang perilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami, merasakan, dan mau berperilaku baik sehingga terbentuklah tabiat yang baik. Menurut ajaran Islam, karakter identik dengan pendidikan akhlak sering disebut tidak ilmiah karena terkesan bukan sekuler, namun sesungguhnya antara karakter dengan spiritualitas memiliki keterkaitan yang erat.25

Sejalan dengan itu, Nabi Muhammad hadir di tengah umat manusia membawa risalah penyempurnaan akhlak. Rasulullah SAW.

bersabda:

Artinya: “Aku diutus terutama untuk menyempurnakan akhlak”.26

Artinya: “Yang paling banyak dimasukkan ke dalam surga, ialah orang yang taqwa dan berakhlaq baik.”27

24 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 639.

25 Retno Listyarti, Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, & Kreatif (Jakarta:

Erlangga, 2012), 3-4.

26 Ali Usman dkk, Hadits Qudsi Firman Allah yang tidak dicantukam dalam Al-Qur’an Pola Pembinaan Akhlak Muslim (Bandung: CV. Diponegoro, 1994), 357.

(32)

Hadis di atas dijelaskan bahwasannya karakter tertuju pada akhlak seperti penyempurnaan akhlak Nabi Muhammad SAW dan seorang yang berakhlaq baik dan orang yang taqwa adalah yang paling banyak dimasukkan syurga.

Jadi, dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat, akhlak, budi pekerti yang diwujudkan melalui nilai-nilai moral yang dipatrikan untuk menjadi semacam nilai intrinsik dalam diri, yang akan melandasi sikap dan perilaku seseorang. Tentu karakter tidak datang dengan sendirinya melainkan harus di bentuk, di tumbuhkembangkan dan di bangun secara sadar dan sengaja.

Terdapat sembilan pilar karakter yang bersumber dari nilai-nilai luhur universal manusia, namun lebih adaptif dengan kultur sekolah di Indonesia, yakni:

1) Cinta Tuhan dan segenap citaan-Nya;

2) Kemandirian dan tanggung jawab;

3) Kejujuran/ amanah;

4) Hormat dan santun;

5) Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasa;

6) Percaya diri dan pekerja keras;

7) Kepemimpinan dan keadilan;

8) Baik dan rendah hati, dan;

27 Ali Usman dkk, Hadits Qudsi Firman Allah., 357.

(33)

9) Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.28

Kemudian, Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk pada sifat-sifat mulia Allah SWT yaitu Asmaul Husna.

Asmaul Husna inilah sumber sejati karakter positif yang dirumuskan oleh siapa saja. Dari sekian banyak karakter yang bisa diteladani dari Asmaul Husna, Ari dalam buku konsep, praktik, & strategi membumikan pendidikan karakter di SD merangkum dalam tujuh karakter dasar yaitu:

1) jujur,

2) tanggung jawab, 3) disiplin,

4) visioner, 5) adil, 6) peduli, dan 7) kerja sama29

d. Nilai-Nilai Karakter

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, nilai-nilai karakter tertuang dalam pasal 3 yang berisi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan

28 Suyanto, Model Pembinaan Pendidikan Karakter di Lingkungan Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya), 45.

29 Novan Ardy Wiyani, Konsep, Praktik, & Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 50.

(34)

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.30

Sebagai salah satu penunjang internalisasi nilai karakter, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional yang dimuat dalam buku pendidikan karakter internalisasi dan metode pembelajaran di sekolah mengungkapkan ada 18 (delapan belas) nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa (Kemendiknas), sebagai berikut:

1) Nilai religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan memeluk agama lain.

2) Nilai jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sendiri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3) Nilai toleransi adalah Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4) Nilai disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

30 Direktoral Jenderal Pendidikan Islam, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Depag RI, 2003), 8-9.

(35)

5) Nilai kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta penyelesaian tugas dengan sebaik-baiknya.

6) Nilai kreatif adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7) Nilai mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dan penyelesaian tugas-tugas.

8) Nilai demokratis adalah cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9) Nilai rasa ingin adalah tahu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10) Nilai semangat kebangsaan adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

11) Nilai cinta tanah air adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12) Nilai menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

(36)

13) Nilai bersahabat/komuniktif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14) Nilai Cinta Damai adalah Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang atas kehadiran dirinya.

15) Nilai gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16) Nilai peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam dan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17) Nilai peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat membutuhkan.

18) Nilai tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.31

Nilai-nilai yang di kembangkan dalam pendidikan karakter bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional.

Dari sumber-sumber tersebut kemudian diidentifikasi nilai-nilai yang termuat dalam pendidikan karakter. Sehingga diperoleh 18 nilai yang sudah dipaparkan di atas, akan tetapi dalam penelitian ini internalisasi nilai-nilai karakter melalui kegiataan ekstrakurikuler diantaranya nilai

31 Imas Kurniasih & Berlin Sani, Pendidikan Karakter Internalisasi., 138-139.

(37)

karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, bersahabat/komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab.

a) Nilai karakter religius

Sikap dan perilaku religius merupakan sikap dan perilaku yang dekat dengan hal-hal spiritual. Seseorang disebut religius ketika ia merasa perlu dan berusaha mendekatkan dirinya dengan Tuhan (sebagai penciptanya), dan patuh melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.32 Nilai-nilai religius dapat diajarkan kepada siswa di sekolah melalui beberapa kegiatan yang sifatnya religius. Kegiatan religius yang dapat diajarkan kepada siswa di sekolah tersebut yang dapat dijadikan sebagai pembiasaan, diantaranya:

(1) Berdoa atau bersyukur. Berdoa merupakan ungkapan syukur secara langsung kepada Tuhan. Ungkapan syukur dapat pula diwujudkan dalam relasi atau hubungan seseorang dengan sesama, yaitu dengan membangun persaudaraan tanpa dibatasi oleh suku, ras, dan golongan. Ungkapan syukur terhadap lingkungan alam misalnya menyiram tanaman, membuang sampah pada tempatnya, dan memperlakukan binatang dengan baik.

(2) Melaksanakan kegiatan di mushalla. Berbagai kegiatan di mushalla sekolah dapat dijadikan pembiasaan untuk

32 Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter: Konsepsi & Implementasinya secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), 127.

(38)

menumbuhkembankan perilaku religius. Kegiatan tersebut di antaranya shalat dhuhur berjamaah setiap hari, sebagai tempat untuk mengikuti kegiatan belajar baca tulis Al-Qur‟an, dan shalat Jum‟at berjamaah.

(3) Merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya. Untuk yang beragama Islam, momen-momen hari raya Idul Adha, Isra‟

Mi‟raj dan Idul Fitri dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan Iman dan Takwa. Begitu juga beragama Nasrani, perayaan Natal dan Paskah akan dapat dijadikan momen penting untuk menuntun siswa agar bermoral dan beretika.

(4) Mengadakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya.33 b) Nilai karakter jujur

Dalam pandangan umum, kata jujur sering dimaknai “adanya kesamaan antara realitas (kenyataan) dengan ucapan”, dengan kata lain “apa adanya”. Kata jujur identik dengan “benar” yang lawan katanya adalah “bohong”. Makna jujur lebih jauh dikorelasikan dengan kebaikan (kemaslahatan). Kemaslahatan memiliki makna kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok tetapi semua orang yang terlibat.34

Kejujuran merupakan fondasi atas tegaknya suatu nilai-nilai kebenaran karena jujur identik dengan kebenaran. Firman Allah SWT.

dalam Al-Qur‟an surah Al-Ahzab ayat 70 sebagai berikut:

33 Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter: Konsepsi., 128-129.

34 Dharma Kesurma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 16.

(39)



















Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah SWT. dan ucapkanlah perkataan yang benar.”35

Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat.

c) Nilai karakter toleransi

Toleransi membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain; membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru; serta menghargai orang lain tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya, agama, kepercayaan, kemampuan.

Dengan toleransi ia akan memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengertian serta menghargai orang lain berdasarkan karakternya.

Ada dua langkah penting yang dapat ditempuh untuk membangun toleransi. Berikut ini tiga langkah tersebut menurut Borba dalam buku pendidikan karakter Islam:

(1) Mencontohkan dan menumbuhkan toleransi. Ada enam cara mendidik anak menjadi toleran, yaitu (a) perangi prasangka buruk Anda, (b) tekadkan untuk mendidik anak yang toleran, (c) jangan dengarkan komentar bernada diskrimunasi, (d) beri kesan

35 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2005), 341.

(40)

positif tentang semua suku. (e) doronglah anak agar banyak terlibat dengan keragaman, dan (f) contohkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

(2) Menumbuhkan apresiasi terhadap perbedaan. (a) menerima perbedaan sejak dini, (b) kenalkan anak terhadap keragaman (c) beri jawaban tegas dan sederhana terhadap pertanyaan tentang perbedaan, dan (d) bantu anak melihat persamaan.36

d) Nilai karakter disiplin

Menurut AS. Moenir dalam buku membangun karakter siswa melalui profesionalisme guru dan gerakan pramuka bahwa disiplin adalah ketaatan terhadap aturan.37 Karakter disiplin tercermin dari perilaku membiasakan diri untuk menepati janji, mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku.

Karakter disiplin yang paling baik adalah yang ditimbulkan dari diri sendiri (self imposed dicipline), yang timbul atas dasar kerelaan, kesadaran, bukan atas dasar paksaan atau ambisi terterntu.

Disiplin ini timbul karena siswa merasa terpenuhi kebutuhannya dan merasa telah menjadi bagian dari lingkungan sehingga tergugah hatinya untuk sadar dan secara sukarela mematuhi peraturan yang berlaku.38

36 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam (Jakarta: Grafika Offset, 2017), 59-60.

37 Hudiyono, Membangun Karakter Siswa melalui Profesionalisme Guru dan Gerakan Pramuka (Surabaya: Erlangga, 2012), 74.

38 Hudiyono, Membangun Karakter Siswa., 74.

(41)

e) Nilai karakter kreatif

Menurut Akhmad Sudrajat dalam buku pendidikan karakter:

konsepsi & implementasinya secara terpadu di lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat bahwa seorang siswa dikatakan memiliki kreativitas manakala mereka senantiasa menunjukkan beberapa hal berikut.

(1) Merasa penasaran dan memiliki rasa ingin tahu, mempertanyakan, dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah-kaidah yang ada.

(2) Memiliki kemampuan berpikir lateral dan mampu membuat hubungan-hubunga diluar hubungan yang lazim.

(3) Memimpikan tentang sesuatu, dapat membayangkan, melihat berbagai kemungkinan, bertanya “apa jika seandainya...?”, dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

(4) Mengeksplorasi berbagai pemikiran dan pilihan, memainkan idenya, mencobakan alternatif-alternatif dengan memiliki pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka, dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif.

(5) Merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan, dan hasil- hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan dapat melakukan pengamatan secara cerdik.39

39 Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter Konsepsi., 141.

(42)

f) Nilai karakter mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Karakter mandiri tercermin dari tindakan dan hidup secara mandiri saat menjalankan tugas pribadi, membiasakan diri untuk mengendalikan dan mengatur diri, serta siap mendapatkan tugas untuk keberhasilan masa depan.

Orang yang paling bahagia adalah orang yang terus menerus belajar, mencoba, dan selalu memperbaiki diri secara mandiri. Dengan mulai mengambil tindakan secara mandiri seseorang akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang mengarahkan pada keberhasilan.40

g) Bersahabat/komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Karakter bersahabat/komunikatif tercermin dari belajar mendengar, menghargai dan menerima pendapat/gagasan orang lain, dan bersikap terbuka.

Bersahabat/komunikatif adalah seni membina hubungan dan emosi dengan orang lain, seseorang harus mampu mengenal dan mengelola emosi mereka. Caranya adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Orang lain akan menganggap kita memahami perasaannya apabila kita sabar dan menyesuaikan diri untuk mendengarkan segala pembicaraannya, itulah kunci bersahabat dan komunikasi.

40 Hudiyono, Membangun Karakter Siswa., 76.

(43)

h) Nilai karakter gemar membaca

Sikap kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.41 Ayat Al-Qur‟an yang pertama diturunkan kepada Rasulullah SAW. menunjuk pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkan membaca sebagai kunci ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman:



















































Artinya: (1) bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, (2) dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, (4) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.42

Iqra’ atau perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur‟an. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad SAW semata-mata, tetapi juga untuk

41 Imas Kurniasih & Berlin Sani, Pendidikan Karakter Internalisasi., 153.

42 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2005),

(44)

umat manusia karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

i) Nilai karakter peduli lingkungan

Kepedulian siswa pada lingkungan dapat dibentuk melalui budaya sekolah yang kondusif. Keseluruhan latar fisik lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi tumbuh kembangnya karakter siswa seperti yang diharapkan. Misalnya dengan: (1) Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah; (2) Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan; (3) Menyediakan kamar mandi dan air bersih; (4) Pembiasaan hemat energi; (5) Membuat biopori di area sekolah; (6) Membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik; (7) Melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan onorganik; (8) Penugasan pembuatan kompos dari sampah organik; (9) Menyediakan peralatan kebersihan; (10) memrogramkan cinta bersih lingkungan; (11) lain- lain.43

j) Nilai karakter peduli sosial

Karakter peduli sosial adalah sebuah tindakan, tindakan peduli tidak hanya tahu tentang sesuatu yang salah atau benar, tapi ada kemauan melakukan gerakan sekecil apa pun. Memiliki jiwa kepedulian sosial sangat penting bagi setiap orang, begitu juga

43 Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter: Konsepsi., 156.

(45)

pentingnya bagi seorang siswa. Dengan jiwa sosial yang tinggi, mereka akan lebih mudah bersosialisasi serta akan dihargai. Misalnya memfasilitasi kegiatan yang bersifat sosial, melakukan aksi sosial, menyediakan fasilitas untuk menyumbang dan lain-lain.44

Sikap peduli sosial sangat dianjurkan dalam agama Islam, karena dengan sikap peduli sosial maka akan timbul persaudaraan antar umat manusia. Peduli terhadap orang lain berarti sama saja membantu orang lain dalam Al-Qur‟an. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ma‟un ayat 1-7:

































































Artinya: (1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. (4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang- orang yang lalai dari shalatnya, (6) Orang-orang yang berbuat riya, (7) Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.45

Berdasarkan kandungan ayat di atas, dijelaskan bahwa sesungguhnya orang yang mendustakan agama adalah orang yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya yaitu sholat, orang yang tidak menghargai orang lain, orang yang tidak mau membantu orang lain

44 Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter Konsepsi., 157-158.

45 Al Aliyy, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2005), 483.

(46)

yang membutuhkan, dan orang yang tidak memberi makan anak yatim dan fakir miskin. Artinya orang yang mendustakan agama itu tidak percaya adanya kebenaran agama, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli orang lain. Oleh karena itu, dalam ayat tersebut dianjurkan kepada umat manusia untuk saling peduli terhadap sesama dan saling tolong menolong karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

k) Nilai karakter tanggung jawab

Tanggung jawab adalah perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan kewajiban.46 Sikap orang yang bertanggung jawab berarti melaksanakan sebuah pekerjaan atau kewajiban yang menjadi tanggungan dirinya baik dalam keluarga, sekolah, maupun di tempat kerja dengan sepenuh hati dan menyelesaikannya dengan baik. Melaksanakan kewajiban merupakan upaya untuk menciptakan keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya serta merupakan perbuatan yang baik. Nabi bersabda dalam buku hadis tarbawi sebagai berikut:

46 Akh Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa (Surabaya: Erlangga, 2012), 321.

(47)

Artinya: Setiap kamu bertanggungjawab atas kepemimpinannya:

Maka seorang imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggungjawab atas kepemimpinannya, pembantu adalah pemimpin/penanggung jawab terhadap harta tuannya dan dia bertanggungjawab atas kepemimpinannya, seorang anak adalah pemimpin terhadap harta ayahnya dan dia bertanggungjawab atas kepemimpinannya, maka setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab atas kepemimpinannya.47 Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa tanggung jawab merupakan kewajiban individu se

Gambar

Tabel 4.7  Matrik Hasil Temuan
Foto even-even di sekolah           Kegiatan membaca di perpustakaan

Referensi

Dokumen terkait

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

Terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, man- diri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung

Generasi Emas 100 Tahun Indonesia Merdeka Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi

1. Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya

Agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara