• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Kegiatan Khusus

Gambar 23. A. Pembersihan Lahan B. Menggemburkan Lahan C. Pemberian Pupuk Kandang D. Penanaman Benih E. Penyiraman F. Pemupukan G.

Penyiangan Gulma H. Aplikasi PGPR (Sumber : Dok. Pribadi) 5.2.2. Pembuatan Pestisida Nabati

Proses ini dimulai dengan mengambil sekitar 500 gram daun bintaro yang sudah tua. Daun ini kemudian dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran dan partikel asing lainnya, memastikan kebersihan bahan baku. Selanjutnya, daun yang telah dibersihkan dikeringkan di bawah sinar matahari. Langkah ini penting untuk mengurangi kadar air dalam daun dan menjaga kualitas ekstrak yang akan dihasilkan. Daun yang telah kering selanjutnya diolah lebih lanjut. Daun dipotong-potong kecil dan dihaluskan dengan menggunakan mesin penghalus, dalam hal ini, menggunakan blender. Hasil akhir dari proses ini adalah serbuk daun yang dikenal sebagai simplisia. Serbuk daun simplisia yang dihasilkan kemudian ditimbang, dengan berat masing-masing sekitar 500 gram, untuk memastikan jumlah yang tepat untuk proses selanjutnya. Simplisia kemudian dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Proses maserasi ini adalah bagian kunci dalam ekstraksi senyawa aktif dari bintaro ke dalam pelarut. Setelah 4-5 hari proses maserasi, rendaman diekstraksi. Langkah selanjutnya adalah menyaring ekstrak menggunakan corong Buchner yang dilapisi dengan kertas saring. Ini memisahkan ekstrak dari sisa bahan tumbuhan yang tidak larut dalam pelarut. Ekstrak yang telah disaring dihasilkan dan disimpan dalam lemari pendingin sampai digunakan untuk proses pengujian lebih lanjut.

G H

Gambar 24. A. Pencucian Daun Bintaro B. Pengeringan C. Pemotongan Daun D.

Penghalusan Daun E. Proses Maserasi F. Pestisida Nabati yang Telah Jadi (Sumber : Dok. Pribadi)

5.2.3. Persiapan Media Pemeliharaan Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)

Tahap pertama dalam pemeliharaan ulat adalah menyiapkan kotak pemeliharaan. Wadah yang digunakan adalah nampan plastik transparan dengan diameter sekitar 25 cm. Kebertransparanannya penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan ulat. Kemudian membuat lubang di penutup wadah plastik. Bagian penutup wadah plastik perlu dilubangi. Lubang ini harus memiliki luas sekitar 50% dari luas total wadah. Lubang ini akan berfungsi sebagai akses udara segar dan cahaya alami ke dalam wadah. Udara segar dan cahaya alami adalah faktor penting dalam pemeliharaan ulat karena memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Setelah itu melapisi lubang penutup dengan kain kasa. Setelah dilubangi, lubang pada penutup wadah plastik perlu dilapisi dengan kain kasa. Kain kasa digunakan untuk mencegah ulat masuk atau keluar dari lubang dan juga sebagai filter udara. Ini membantu menjaga kondisi udara dalam wadah agar tetap bersih dan terhindar dari kontaminasi. Kemudian menutup wadah plastik. Setelah lubang di penutup wadah dilapisi dengan kain kasa, wadah plastik ditutup. Penutup yang digunakan harus memiliki lubang yang

A B C

D E

sesuai dengan lubang pada wadah plastik, sehingga udara segar dan cahaya alami masih dapat masuk ke dalam wadah tanpa masalah.

Gambar 25. Wadah Pemeliharaan Ulat Grayak (Sumber : Dok. Pribadi)

5.2.4. Persiapan Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)

Proses ini dimulai dengan pengambilan larva ulat grayak dari kebun jagung manis di beberapa daerah di kota Kalimantan Selatan. Untuk menjaga kondisi larva yang diperoleh, maka larva ditempatkan dalam toples plastik berdiameter 10 cm dan tinggi 13,0 cm. Tahap awal ini bertujuan untuk mengisolasi larva tersebut sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya. Selanjutnya, larva ulat grayak yang terkumpul ini digunakan dalam pembiakan. Proses ini memerlukan transfer ke dalam toples plastik yang lebih besar, berdiameter 25 cm. Dalam toples plastik yang lebih besar ini, larva ulat grayak dibiarkan tumbuh dan berkembang hingga mencapai instar III, yaitu salah satu tahap perkembangan larva sebelum mereka menjadi pupa. Hal ini penting untuk memungkinkan pengamatan dan pengujian yang lebih teliti terhadap larva uji yang akan digunakan dalam penelitian. Pada saat pemeliharaan larva, peran pakan alami sangat penting. Daun jagung manis menjadi pilihan yang sesuai karena merupakan makanan alami ulat grayak.

Pemberian pakan alami ini mendukung pertumbuhan dan perkembangan larva, sehingga hasil penelitian menjadi lebih representatif. Terakhir, toples plastik yang digunakan untuk pemeliharaan larva harus memiliki ventilasi yang memadai.

Untuk mencapai hal ini, penutup toples plastik dilengkapi dengan lubang-lubang yang dibiarkan terbuka dengan kain kasa. Ini memastikan sirkulasi udara yang

cukup dan memungkinkan pertukaran oksigen, yang merupakan faktor penting dalam menjaga kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan ulat grayak.

Gambar 26. Pemberian Pakan Alami (Sumber : Dok. Pribadi) 5.2.5. Aplikasi Pestisida

Pada awal pengujian, pakan alami yang digunakan adalah daun jagung manis muda dengan ukuran luas daun sekitar 5x5 cm. Daun jagung ini digunakan sebagai media untuk memberikan larva ulat grayak nutrisi selama percobaan.

Larutan ekstrak etanol daun bintaro disiapkan dengan memasukkan daun bintaro ke dalam gelas beaker. Selanjutnya, ditambahkan air suling (akuades) secara perlahan-lahan hingga mencapai volume 1000 ml. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memastikan bahwa larutan ekstrak daun bintaro tercampur homogen.

Setelah larutan ekstrak etanol daun bintaro dibuat, pengenceran dilakukan untuk masing-masing konsentrasi yang ingin diuji. Pengenceran ini juga dilakukan dengan menambahkan akuades hingga mencapai volume yang diinginkan.

Pengenceran ini dilakukan dengan cara yang sama untuk semua konsentrasi yang akan diuji. Sebanyak 2 ekor larva ulat grayak instar III yang telah dipuasakan selama 3 jam digunakan untuk setiap perlakuan. Tujuan dari mempuasakan hama ini adalah mengoptimalkan efektivitas pestisida. Mempuasakan hama sebelum pengaplikasian pestisida dapat membuat hama menjadi lebih aktif dalam mencari makanan, sehingga lebih rentan terhadap efek pestisida. Ketika hama lapar, mereka cenderung lebih aktif dan lebih mungkin untuk mengonsumsi pestisida yang telah diterapkan. Selanjutnya daun jagung manis yang telah disiapkan

dicelupkan ke dalam masing-masing larutan uji ekstrak etanol daun bintaro.

Setelah dicelupkan, daun jagung dikeringkan dengan angin sehingga daun tersebut membawa ekstrak ekstrak daun bintaro yang sesuai dengan konsentrasi yang ingin diuji. Setelah perlakuan pakan, larva ulat grayak instar III ditempatkan dalam wadah toples yang sesuai. Evaluasi dan pengamatan dilakukan 6 jam sekali sampai semua larva mati.

Gambar 27. A. K0 Setelah Aplikasi B. K1 Setelah Aplikasi C. K2 Setelah Aplikasi D. K3 Setelah Aplikasi

(Sumber : Dok. Pribadi) Tabel 1. Rerata Mortalitas Ulat Grayak

Perlakuan Pengamatan Mortalitas Larva (%)

6 jam 12 jam 18 jam 24 jam 30 jam 36 jam 42 jam K0

(Kontrol) 0 0 0 0 50 50 100

K1 (25

ml/l air) 0 0 0 0 100 100 100

K2 (50

ml/l air) 0 0 0 0 100 100 100

K3 (75

ml/l air) 0 0 0 50 100 100 100

A B

C D

Keterangan : Pengamatan pemberian pestisida nabati dengan dosis 0 ml/liter air,, 25 ml/ liter air, 50 ml/liter air, 75 ml/liter air terhadap ulat grayak (Spodoptera frugiperda)

Percobaan ini dirancang dengan mengaplikasikan empat perlakuan yang berbeda untuk menguji efektivitas pestisida nabati dari daun bintaro terhadap larva ulat grayak. Keempat perlakuan tersebut dinamakan K0 (Kontrol), K1 (25 ml/l air), K2 (50 ml/l air), dan K3 (75 ml/l air). Masing-masing perlakuan diberikan dua ekor larva ulat grayak instar 3, sehingga keseluruhan populasi larva yang terlibat dalam eksperimen ini adalah delapan ekor.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada semua perlakuan, termasuk (K0), K1, K2, dan K3, tidak terdapat kematian larva dalam 6 jam, 12 jam, 18 jam setelah aplikasi pestisida nabati. Namun, pada 24 jam setelah aplikasi, terlihat adanya kematian larva sebesar 50% pada perlakuan K3 dengan konsentrasi 75 ml/l air. Pada tahap berikutnya, yaitu pada 30 jam dan 36 jam setelah aplikasi, kematian larva mencapai 100% pada perlakuan K1, K2, dan K3, sedangkan pada kontrol (K0) mencapai 50%. Selanjutnya, pada 42 jam setelah aplikasi, seluruh perlakuan menunjukkan kematian larva sebesar 100%.

Berdasarkan hasil tersebut diperoleh K3 (75 ml/liter air) adalah dosis yang paling efektif dalam membunuh ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Hal ini sesuai dengan penelitian Analisa et al., yaitu, hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda) pada tanaman jagung, dengan aplikasi ekstrak daun bintaro (75 g/l) juga memiliki efektifitas cenderung sama dengan insektisida sintetis dalam menekan populasi larva dan Spodoptera frugiperda (Analisa et al., 2022). Hal ini terjadi karena daun bintaro memliki senyawa azadiracthin dan carberine yang bersifat sebagai antifedant bagi serangga yang dapat menyebabkan penghambatan bahkan menghentikan aktivitas makan serangga, sehingga menyebabkan kematian serangga (Rahman, 2020). Kemudian menurut penelitian Suriati 2011, daun tanaman Bintaro memiliki kandungan flavonoid, steroid dan saponin, sedangkan racun carberine yang juga terdapat pada daun bintaro juga dapat mempengaruhi kerja otot jantung (Suriati, 2011).

Penting untuk dicatat bahwa waktu yang diukur dalam jam setelah aplikasi (jsa) adalah parameter penting dalam mengevaluasi efektivitas pestisida. Hasil ini dapat memberikan petunjuk mengenai waktu optimal untuk mengaplikasikan pestisida nabati dari daun bintaro guna mencapai kontrol yang maksimal terhadap larva ulat grayak.

VI. PENUTUP

Dokumen terkait