• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kegiatan Umum

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.2. Eksplorasi Trichoderma sp dan Perbanyakan Trichoderma sp

Trichoderma sp. merupakan spesies kosmopolitan yang dapat dijumpai di berbagai lingkungan terutama dalam tanah. Spesies ini tidak hanya mampu berperan sebagai pengurai melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati.

Eksplorasi Tricoderma sp. dilakukan dengan metode perangkap yaitu, mengambil bambu dan memotong menjadi satu ruas, tidak menghilangkan bukunya di samping kiri dan kanan. Memasukkan nasi dan daun serai ke dalam bambu dan merekatkan kembali bambu dengan tali rafiah, Kemudian mengubur bambu di daerah perakaran manga dan di tunggu selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, dilakukan perbanyakan. Bambu digunakan sebagai alat pemancingan Trichoderma sp. karena tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat.

Struktur akar ini menjadikan bambu dapat mengikat tanah dan air dengan baik.

Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40% air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %. Hal ini dapat menangkal kelembaban yang terdapat di dalam tanah. Perbanyakan dilakukan pada media padat yaitu nasi setengah matah dengan memasukkan starter Tricoderma ke dalam nasi setengah matang kemudian diinkubasi selama 10 hari. Nasi setengah matang digunakan sebagai media pemancingan Trichoderma karena mengandung karbohidrat, protein, air dan lemak.

Gambar 11. A. Eksplorasi Tricoderma B. Perbanyakan Tricoderma (Sumber : Dok. Pribadi)

A B

5.1.3. Sosialisasi, Pembuatan, Identifikasi dan Aplikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)

Sosialisasi PGPR merupakan proses edukasi mengenai kelompok bakteri menguntungkan yang mengkolonisasi rizosfir tanaman untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman. PGPR berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan nutrisi, mengendalikan patogen tanaman, dan mempromosikan pertumbuhan akar, sehingga mendukung produksi tanaman yang lebih baik.

Gambar 12. Sosialisasi PGPR (Sumber : Dok. Pribadi)

Pembuatan PGPR dari bambu, putri malu, dedak, MSG, gula, dan terasi adalah sebuah proses yang menarik dan dapat memberikan manfaat besar bagi pertanian. Proses ini dimulai dengan langkah pertama, yaitu mengambil akar bambu dan putri malu. Setelah itu, akar bambu dan putri malu dimasukkan ke dalam sebuah ember yang kemudian diisi dengan air. Rendaman ini dibiarkan selama 7 hari untuk mengalami proses fermentasi alami. Setelah 7 hari, proses dilanjutkan dengan merebus air hingga mendidih. Saat air mendidih, dedak, MSG, gula, dan terasi dimasukkan ke dalam rebusan air tersebut. Selanjutnya, menunggu selama sekitar 30 menit setelah air mendidih untuk memastikan bahwa bahan- bahan tersebut tercampur dengan baik. Setelah larutan air yang telah dicampur dengan dedak, MSG, gula, dan terasi dingin, langkah berikutnya adalah memasukkan larutan ke dalam sebuah tong. Air rendaman akar bambu kemudian juga dimasukkan ke dalam tong ini. Proses pengadukan kemudian dimulai untuk memastikan larutan menjadi homogen. Langkah terakhir dalam proses ini adalah ketika aroma dari PGPR mulai mirip dengan bau tapai dan airnya tampak keruh, menunjukkan bahwa PGPR siap untuk diaplikasikan sebagai pupuk cair.

Gambar 13. A.Akar bambu B. Akar Putri Malu C. Dedak D. Terasi E. MSG F.

Gula G. Campuran Bahan Untuk Pembuatan PGPR I. Inkubasi PGPR Selama 14 Hari

(Sumber : Dok. Pribadi)

Identifikasi PGPR (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) adalah dengan menggunakan mikroskop. Dalam proses ini, mikroskop digunakan untuk mengamati dan mengidentifikasi mikroorganisme yang memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Cara identifikasi PGPR menggunakan mikroskop melibatkan beberapa tahap, yakni : a). Sampel diambil beberapa tetes dan di letakkan di atas slide glass dan ditutup menggunakan cover glass; b). Mengamati ukuran, bentuk sel, dan distribusi sel; c). membandingkan karakteristik mikroorganisme yang diamati dengan referensi atau database yang berisi informasi tentang PGPR yang telah dikenal sebelumnya.

G I

D E F

A B C

Gambar 14. A. Pengambilan Sampel B. Identifikasi Menggunakan Mikroskop C. Hasil Identifikasi

(Sumber : Dok. Pribadi)

Cara aplikasi PGPR pada tanaman meliputi beberapa tahap yaitu: a).

Mempersiapkan larutan yang akan digunakan untuk perlakuan pada tanaman.

Untuk ini, Anda akan memerlukan 15 cc dari PGPR yang telah dipilih, yang biasanya tersedia dalam bentuk cairan konsentrat. Pastikan juga bahwa air yang akan digunakan sebagai larutan pembawa bersih dan bebas dari kontaminasi serta zat-zat yang dapat mengganggu aksi PGPR; b). Mengukur dan mencampur PGPR dengan air. Gunakan alat pengukur yang tepat untuk mengukur 15 cc PGPR dan tambahkan ke dalam 1 liter air. Ini akan menghasilkan larutan PGPR dengan dosis yang sesuai; c). Menyebarkan larutan PGPR ke tanaman yang dituju. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyiraman atau penyemprotan, tergantung pada jenis tanaman dan kondisi lingkungan. Pastikan larutan terdistribusi secara merata di sekitar akar tanaman.

Gambar 15. A. Pencampuran PGPR dengan Air B. Penyemprotan PGPR (Sumber : Dok. Pribadi)

5.1.4. Sosialiasi dan Pembuatan Biosaka

Sosialisasi pembuatan biosaka adalah proses dimana mahasiswa diperkenalkan dan diajari secara teori menghasilkan dan menggunakan biosaka,

A B C

A B

yaitu elisitor yang berfungsi sebagai signaling bagi tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih bagus.

Proses pembuatan biosaka ini melibatkan pengambilan 5 jenis tanaman liar yang sehat, penambahan 5 liter air, dan penggunaan ember. Selanjutnya, tanaman tersebut dimasukkan ke dalam ember dan diremas dengan tangan kiri memegang tanaman dan tangan kanan meremas tumbuhan dengan gerakan berlawanan arah jarum jam selama kira-kira satu jam. Tujuan dari pengremasan ini adalah untuk mencapai homogenitas. Setelah proses selesai, jika biosaka tampak mengkilap, itu menandakan bahwa biosaka tersebut telah jadi. Cara pengaplikasian biosaka adalah dengan menguapkannya, bukan dengan membasahi daun tanaman, melainkan dengan melakukan pengembunan. Dengan cara ini, biosaka dapat digunakan dengan lebih baik.

Gambar 16. A. Sosialisai Biosaka B. Proses Pembuatan Biosaka C. Produk Biosaka

(Sumber : Dok. Pribadi) 5.1.5. Sosialisasi dan Pembuatan Trikokompos

Sosialisasi trikokompos merupakan bagian penting dalam memperkenalkan penggunaan Trichoderma sebagai bagian dari proses pengomposan. Trichoderma adalah genus fungi yang dapat membantu dalam mempercepat dekomposisi bahan organik selama tahap komposisi tengah dalam metode trikokompos. Dalam sosialisasi ini, mahasiswa diajarkan tentang peran Trichoderma dalam meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan serta mengurangi waktu yang diperlukan dalam prosesnya. Selain itu, sosialisasi ini juga dapat mencakup aspek penting seperti cara mendapatkan dan mengaplikasikan Trichoderma, serta peranan mahasiswa dalam menjaga kondisi yang ideal bagi pertumbuhan fungi ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kontribusi Trichoderma dalam

A B C

proses trikokompos, masyarakat dapat memaksimalkan potensi metode ini untuk pengelolaan sampah organik yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Proses pembuatan trikokompos dimulai dengan pengumpulan beberapa bahan utama seperti daun gamal, petai cina, Trichoderma, pupuk kandang kambing, kapur tohor, dan air bersih. Kemudian, untuk menciptakan kondisi ideal bagi dekomposisi organik, diperlukan tempat inkubasi seperti kotak. Proses ini melibatkan penyusunan lapisan-lapisan yang saling mendukung. Lapisan pertama menggunakan pupuk kandang, yang akan memberikan nutrisi penting bagi mikroorganisme dalam dekomposisi. Lapisan kedua memasukkan daun gamal dan petai cina sebagai bahan organik utama yang akan dirombak menjadi kompos.

Lapisan ketiga mencakup Trichoderma, fungi yang membantu mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan kualitas kompos. Proses selanjutnya melibatkan penyiraman dengan air bersih dan penaburan kapur tohor untuk menjaga keseimbangan pH. Setelah itu, terpal digunakan untuk menutupi kotak inkubasi. Trikokompos yang baik adalah yang tidak berbau, tidak menggumpal, dan tidak panas saat disentuh. Proses inkubasi berlangsung selama sekitar 21 hari, yang merupakan periode yang optimal untuk menghasilkan kompos berkualitas tinggi. Dengan metode ini, sampah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang berharga dengan dampak lingkungan yang minimal.

A B C

D E F

Gambar 17. A. Sosialisasi Pembuatan Trikokompos B. Persiapan Bahan dan Alat C. Pemberian Pupuk Kandang Kambing D. Pemberian Daun Gamal dan Petai

Cina E. Pemberian Trichoderma F. Penyiraman G. Pemberian Kapus Tohor (Sumber: Dok. Pribadi)

5.1.6. Pembuatan Pestisida Nabati dari Pasak Bumi

Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) merupakan tanaman berbentuk pohon dengan pertumbuhan lambat, memiliki tinggi pohon 15-18 m dan mulai berbuah pada umur 2-3 tahun setelah ditanam. Bagian tanaman pasak bumi yang potensial sebagai sumber insektisida nabati adalah bagian akar. Bahan aktif pada akar pasak bumi terbawa oleh pelarut metanol dan efisien dengan metode ekstraksi langsung.

Adapun cara pembuatan pestisida nabati dari akar pasak bumi adalah, Sebelum memulai proses pembuatan pestisida, pastikan Anda telah menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan. Ini termasuk akar pasak bumi segar, panci, jerigen atau botol bekas, dan perlengkapan lain yang diperlukan. Kemudian potong akar menjadi potongan kecil dan rebus dalam panci hingga mendidih.

Biarkan rebusan ini tetap mendidih selama sekitar 10 menit. Setelah rebusan telah mendidih selama 10 menit, matikan api dan biarkan rebusan akar pasak bumi mendingin. Ini akan memungkinkan ekstrak pestisida nabati terkumpul dalam rebusan. Setelah rebusan dingin, tuangkan rebusan akar pasak bumi ke dalam jerigen atau botol bekas. Pastikan wadah penyimpanan telah dibersihkan sebelumnya. Selanjutnya, biarkan rebusan tersebut mengendap selama satu malam. Ini akan memungkinkan endapan pestisida nabati untuk terpisah dari cairan. Setelah satu malam, pestisida nabati siap diaplikasikan.

G

Gambar 18. A. Proses Pembuatan Pestisida Nabati B. Hasil Rebusan Pestisida Nabati

(Sumber : Dok. Pribadi) 5.1.7. Pembuatan Media PDA

Media PDA digunakan untuk kultivasi jamur dan bakteri. Proses pembuatan media ini melibatkan beberapa langkah penting yaitu antara lain : Sebelum memulai pembuatan media PDA, pastikan telah menyiapkan semua bahan dan alat yang diperlukan, termasuk kentang, dekstrosa, agar, beaker glass. Langkah pertama adalah mencuci dan mengupas kentang. Kemudian, potong kentang menjadi potongan-potongan kecil dan rebus dalam air bersih hingga kentang lunak. Setelah mendapatkan cairan kentang, tambahkan dekstrosa dan agar ke dalam cairan tersebut. Panaskan campuran ini hingga mendidih sambil diaduk secara merata. Setelah mendidih, media PDA harus di-autoklaf untuk membunuh mikroorganisme yang ada. Kemudian, media PDA dapat diletakkan dalam petri dish atau wadah lainnya sesuai kebutuhan dan disimpan dalam lemari pendingin.

Sebelum digunakan, media PDA harus di-sterilkan dengan proses autoklaf selama beberapa menit untuk memastikan tidak ada kontaminan mikroorganisme yang tersisa.

Gambar 19. Media PDA yang Sudah Jadi

A B

(Sumber : Dok. Pribadi)

5.1.8. Sosialisasi PHT dan Lampu Perangkap

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pendekatan yang mencakup berbagai metode untuk mengelola hama tanaman tanpa terlalu mengandalkan pestisida kimia. Sosialisasi PHT merupakan langkah penting dalam memperkenalkan dan mengedukasi mahasiswa. Berikut adalah beberapa poin yang dibahas dalam sosialisasi PHT: a). Defenisi dan prinsip pht; b). Manfaat pht;

c). Teknik pht; d). Tantangan dan solusi dalam penerapan pht; e). Pemantauan dan evaluasi pht; f). peran mahasiswa dalam pht.

Sosialisasi tentang lampu perangkap hama adalah langkah penting dalam memperkenalkan teknologi ini kepada mahasiswa. Berikut adalah beberapa poin yang dibahas dalam sosialisasi lampu perangkap hama: a). Defenisi dan fungsi lampu perangkap hama; b). Jenis-jenis lampu perangkap hama; c). Manfaat penggunaan lampu perangkap hama; d). Cara penggunaan lampu perangkap hama; e). Keamanan lampu perangkap dan dampak terhadap lingkungan; f).

Pemeliharaan dan perawatan lampu perangkap; g). Studi kasus dan bukti keberhasilan; h). Pembuatan lampu perangkap, dan dukungan pemerintah.

Gambar 20. Sosialisasi PHT dan Lampu Perangkap (Sumber : Dok. Pribadi)

5.1.9. Sosialisasi Pertanian Berkelanjutan

Sosialisasi tentang pertanian berkelanjutan adalah langkah penting untuk memperkenalkan konsep dan praktik-praktik yang mendukung sistem pertanian yang ramah lingkungan, ekonomis, dan sosial. Berikut adalah beberapa poin yang dibahas dalam sosialisasi pertanian berkelanjutan : a). Defenisi pertanian

berkelanjutan; b). Prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan; c). Manfaat pertanian berkelanjutan; d). Teknologi dan inovasi; e). Pendekatan parsipatif; f). Kemitraan dengan pemerintah; g). Pemantauan dan evaluasi.

Gambar 21. Sosialisasi Pertanian Berkelanjutan (Sumber : Dok. Pribadi)

5.1.10. Penyuluhan Kepada Petani

Penyuluhan ini mencerminkan komitmen BPTPH Provinsi Kalimantan Selatan dalam memberikan edukasi secara berkala. Dalam acara ini, peserta diberikan informasi mendalam mengenai pemberian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), beserta metode penggunaannya yang efektif. Selain itu, pengetahuan tentang pembuatan biosaka dan cara optimal mengaplikasikannya turut dibahas dalam rangka memberikan wawasan yang lebih luas kepada peserta penyuluhan. Bapak Lintong, yang menjabat sebagai Kasi Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura dari BPTPH Kalimantan Selatan, memainkan peran kunci dalam memimpin penyuluhan ini. Dengan pengalaman dan keahliannya, Bapak Lintong menjadi sumber daya yang berharga dalam menyampaikan informasi mengenai cara-cara yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga kesehatan tanaman. Selain itu, penyuluhan ini juga memberikan solusi konkret terkait dengan pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) berupa tikus. Peserta, yang merupakan Kelompok Tani Kota Banjar Baru, diberikan pemahaman mendalam mengenai strategi pengendalian tikus yang efektif dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan upaya untuk meningkatkan hasil pertanian secara berkelanjutan dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Melalui penyuluhan ini, diharapkan peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh secara praktis di lapangan. Dengan demikian, penyuluhan ini tidak hanya menjadi acara informatif, tetapi juga menjadi langkah konkrit dalam mendukung kemajuan sektor pertanian di Kalimantan Selatan.

Gambar 22. Penyuluhan Kepada Petani (Sumber : Dok. Pribadi)

Dokumen terkait