• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan pengetahuan siswa sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran yang didukung dengan sumber belajar yang lain.31

30 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), hlm. 85-86.

31Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1-11.

21

Sedangkan pengertian Fiqih ialah mengetahui, memahami dan mendalami ajaran agama secara keseluruhan. Dalam perkembangan Islam, setelah ajaran Islam tersebar luas dan Fiqih menjadi ilmu tersendiri, maka Fiqih diartikan dengan sekumpulan hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan yang diketahui dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Al-Jurjani dalam bukunya Djazuli sebagai berikut:

Fiqih menurut bahasa berarti pemahaman terhadap tujuan seseorang pembicara, menurut istilah: Fiqih ialah mengetahui hukum- hukum syara’ yang terperinci. Fiqih adalah ilmu yang dihasilkan oleh pikiran, oleh sebab itu Allah tidak bisa disebut dengan

“faqih” (ahli dalam fiqih) karena bagiNya tidak ada yang tidak jelas.32

Ilmu Fiqih juga disebut ilmu furu’, ilmu alhal, ilmu halal wal al- haram, syara’i wa al-ahkam. Imam Al-Ghazali dari mazhab fiqih mendifinisikan “fiqih itu berarti mengetahui dan memahami, akan tetapi dalam tradisi para ulama’.33 Fiqih didefinisikan sebagai salah satu dimensi hukum islam, yakni berupa produk penalaran fuqaha terhadap syari’ah yang secara empiris dijadikan hukum terapan oleh umat muslim diberbagai kawasan.34

Adapun yang dimaksud dengan pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah salah satu sub mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pelajaran PAI di MTs terdiri dari 4 sub mata pelajaran yaitu: Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadits, Fiqih dan Sejarah

32A. Djazuli, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 4.

33Ibid, hlm. 5.

34Hasan Basri, Pilar-Pilar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004), hlm. 40.

22

Kebudayaan Islam. Pembelajaran Fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah didefinisikan sebagai salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan penggunaan pengalaman dan pembiasaan.

Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik tentang hukum-hukum Islam di Madrasah Tsanawiyah.

b. Tujuan Dan Fungsi Pembelajaran Fiqih MTs

Tujuan merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Mau dibawa kemana siswa, apa yang harus dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar, hal ini tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan pembelajaran Fiqih di MTs bertujuan untuk35:

a. Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan tata cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.

b. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan

35 PERMENAG RI No. 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.

23

ajaran agama Islam baik dalam hubungan dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya.

Pembelajaran Fiqih di MTs juga bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli, sebagai pedoman hidup bagi kehidupan pribadi dan sosial serta melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar, sehingga dapat menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Adapun tujuan akhir dari pembelajaran Fiqih adalah untuk mencari keridhoan Allah SWT, dengan melaksanakan syari’ah sebagai pedoman individual, hidup berkeluarga maupun hidup bermasyarakat. Agar hidup sesuai dengan syari’ah, maka dalam kehidupan harus terlaksana nilai-nilai keadilan, kemaslahatan, mengandung rahmat dan hikmah.36

Untuk itu, Imam As-Syatibi melakukan istiqra (penelitian) yang digali dari Al-Qur’an maupun Sunnah, yang menyimpulkan bahwa tujuan hukum Islam ada lima yaitu: memelihara agama, memelihara diri, memelihara keturunan dan kehormatan, serta memelihara harta dan akal.37

36Hasan Basri, Pilar-Pilar Penelitian, hlm. 40.

37Ibid, hlm. 28.

24

Sedangkan fungsi pembelajaran Fiqih di MTs yaitu sebagai berikut:

1) Penanaman nilai-nilai dan kesadaran beribadah peserta didik kepada Allah SWT sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

2) Penanaman kebiasaan melaksanakan hukum Islam dikalangan peserta didik dengan ikhlas dan perilaku yang sesuai dengan aturan yang berlaku di madrasah dan masyarakat.

3) Pembentukan kedisiplian dan rasa tanggung jawab sosial di madrasah dan masyarakat.

4) Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, untuk melanjutkan yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga.38

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan pembelajaran Fiqih di MTs adalah agar siswa mampu memahami prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan hukum-hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh baik menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dapat dilaksanaan dan diamalkan dengan baik dan benar untuk dijadikan pedoman hidup bagi kehidupan pribadi dan sosial.

c. Ruang Lingkup Pelajaran Fiqih Di MTs

Secara umum raung lingkup pembelajaran Fiqih di MTs meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia

38Kurikulum Madrasah Tsanawiyah (Standar Kompetensi), (Jakarta: Depag RI, 2005), hlm. 46-47.

25

dengan Allah SWT, hubunngan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya. Adapun fokus pembelajaran Fiqih adalah dalam bidang-bidang berikut yaitu fiqih ibadah, muamalah, jinayah dan siyasah.

Berdasarkan uraian di atas, maka ruang lingkup pembelajaran fiqih di MTs secara garis besar diklasifikasikan kedalam dua bagian yaitu:

1) Hubungan vertikal, yakni hubungan manusia dengan sang pencipta alam semesta. Ruang lingkupnya meliputi ketentuan-ketentuan tentang thaharah, shalat, puasa, zakat, haji-umroh, jinayah dan sebagainya.

2) Hubungan horizontal, yakni hubungan manusia dengan makhluk.

Ruang lingkupnya meliputi ketentuan-ketentuan tentang muamalah seperti, jual beli, riba, upah, hutang piutang dan pinjam meminjam, serta siyasah seperti siyasah maliyah dan siyasah idariyah.39

G.Metode Penelitian

Kehadiran peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai instrumen kunci yang secara langsung terlibat dalam kehidupan subjek penelitian.

Kehadiran peneliti langsung dilapangan sangat mutlak, karena peneliti merupakan instrumen kunci yang harus aktif dalam pengumpulan data dilapangan. Sehingga kehadiran peneliti bersifat mutlak untuk mendapatkan data yang valid, akurat, dapat dipertanggung jawabkan keterlibatan peneliti secara langsung dilapangan dalam proses penelitian sekaligus sebagai tolak ukur keberhasilan penelitian utuk mendapatkan hasil yang optimal.

Sedangkan instrumen lain yang berbentuk alat-alat bantu dan dokumen- dokumen lainnya dapat pula digunakan, namun fungsinya hanya sebagai

40Nana Syaudih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 60.

41Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan Jenis, Metode dan Prosedur, (Jakarta:

Kencana, 2013), hlm. 46.

27

instrumen pendukung. Pengamatan sangat membutuhkan instrumen pengumpulan data dalam pendekatan penelitian kualitatif dengan tujuan untuk menghindari data yang tidak valid yang diperoleh dari partisipan yang bisa jadi obyek akan menutup diri terhadap fakta yang sebenarnya. Oleh karena itu peneliti dalam mengamati sangat dituntut dengan serius.

3. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di MTs Ad-Dinul Qayyim Kapek, salah satu madrasah yang ada di desa Gunungsari, Kec.

Gunungsari, Lombok Barat. Peneliti memilih MTs Ad-Dinul Qayyim sebagai lokasi penelitian berdasarkan prinsipnya untuk memudahkan peneliti dalam mengadakan penelitian, baik dari faktor sarana dan prasarana dan tempat yang strategis sehingga memudahkan peneliti menjangkaunya.

Madrasah ini merupakah salah satu madrasah yang dominan menggunakan model problem solving dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar didalam kelas, khusunya pada mata pelajaran Fiqih, oleh karena itu peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian di madrasah ini.

4. Sumber Data

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini sudah barang tentu harus berhubungan dengan orang-orang yang menjadi objek penelitian. Dengan demikian, sumber-sumber data yang dibutuhkan diantaranya:

a. Guru mata pelajaran Fiqih

b. Siswa kelas VIII MTS Ad-Dinul Qayyim

Pengumpulan data merupakan suatu hal yang harus di lakukan dalam proses penelitian. Dalam mengumpulkan data, seorang peneliti akan mengamati objek yang diteliti dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data. Adapun beberapa metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Pengamatan (Observasi /al-ta-ammul)

Observasi adalah pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena objek yang diteliti dan hasilnya akan ditulis secara objektif dengan sistematis agar diperoleh gambaran yang lebih konkrit tentang kondisi dilapangan.

Dapat dipahami bahwa observasi merupaka metode pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung peristiwa atau keadaan yang terjadi dilapangan. 42

Menurut Sugiyono dalam bukunya ada beberapa macam observasi yang dapat dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif, yaitu sebgaai berikut:

1) Observasi Partisipatif

Peneliti dalam melakukan observasinya ikut melibatkan diri ke dalam kehidupan sosial sehari-hari di lokasi penelitian.

42Koejaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 310.

29

a) Partisipasi Pasif: Jadi, hal ini peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

b) Partisipasi Moderat: Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.

c) Partisipasi Aktif: Dalam observasi ini peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh nara sumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.

d) Partisipasi Lengkap: Peneliti sudah terlihat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data. Jadi suasananya sudah natural, peneliti tidak melakukan penelitian.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti menggunakan metode observasi partisipatif pasif, peneliti akan datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Melalui metode observasi ini peneliti dapat mengetahui tentang bagaimana guru menerapkan model pembelajaran problem solving, bagaimana tahapan- tahapan dari penerapan model pembelajaran problem solving di lokasi penelitian, dan faktorapa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam meerapkan model pembelajaran problem solving. sehingga peneliti dapat mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang diucapkan, dan mengamati lingkungan sekitar madrasah.

b. Wawancara (interview/al-hiwar)

30

Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.43

Wawancara atau interview terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

1) Wawancara terstruktur, yaitu wawancara baku terbuka. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara pengumpulan data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaannya tertulis.

Dengan wawancara terstruktur ini sangat efektif dilakukan untuk menjaring data atau informasi dari banyak orang.

2) Wawancara semiterstruktur, yaitu wawancara bebas terpimpin.

Pendekatan ini menggunakan petunjuk umum wawancara yang merupakan kombinasi wawancara terpimpin dan tak terpimpin yang menggunakan beberapa inti pokok pertanyaan yang akan diajukan, yaitu membuat garis besar pokok pembicaraan. Pertanyaan ini tidak perlu diurutkan secara beraturan dan pemilihan katanya juga tidak baku.

3) Wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara tak terpimpin.

Pewancara melakukan wawancara dengan subjek secara informal dengan bentuk pertanyaan yang diajukan sangat tergantung pada spontanitas interviewer itu sendiri, terjadi dalam suasana wajar dan

43Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pedidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 76.

31

bahkan interviewer tidak merasa atau menyadari dirinya bahwa ia sedang diwawancarai.44

Jenis wawancara yang diterapkan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara semiterstruktur dengan begitu peneliti dengan mudah mewawancarai subjek atau sumber data yang dimana pertanyaan- pertanyaannya tidak keluar dari rumusan masalah yang ada, yaitu garis besarnya tentang tahapan-tahapan dari penerapan model pembelajaran problem solving serta faktor pendukung dan penghambat penerapan model pembelajaran problem solving pada mata pelajaran Fiqih Siswa Kelas VIII MTs Ad-Dinul Qayyim Kapek Gunungsari Tahun Pelajaran 2018/2019.

c. Dokumentasi

Teknik ini adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil/hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. Dalam penelitian kualitatif teknik ini berfungsi sebagai alat pengumpul data pendukung, karena pembuktian hipotesanya dilakukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori atau hukum-hukum yang diterima kebenarannya, baik yang menolak maupun mendukung hipotesa tersebut.45

44Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

ALFABETA, 2014), hlm. 133.

45Hadari Nawawi, Metode Penelitian Dibidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005), hlm. 133.

32

Dengan teknik dokumentasi ini peneliti dapat memperoleh informasi bukan dari narasumber, tetapi peneliti memperoleh informasi dari macam-macam sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada informan. Studi dokumentasi ini adalah pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara.Metode ini sangat efisien untuk melengkapi kekurangan dan kelemahan dari metode observasi dan wawancara. Adapun data-data yang digali melalui teknik dokumentasi adalah sejarah Madrasah Ad-dinul Qayyim, struktur organisasi Madrasah Ad-dinul Qayyim, jumlah karyawan, jumlah siswa dan keadaan sarana dan prasarana di MTs Ad-dinul Qayyim.

33

menemukan pola, menemukan yang penting dan apa yang dipelajari, membuat keputusan apa yang dapat dipelajari orang lain.47

Menurut Punaji Setyosari dalam bukunya mengemukakan tahap- tahap analisis data antara lain:

1)Mengorganisasikan data

Tahap pertama dalam analisis data adalah mengorganisasi dan mengelompokkan data sesuai dengan jenis atau tipenya. Peneliti mengumpulkan dan mengorganisasikan data penelitian menurut misalnya, aspek yang dikaji, waktu dan tanggal pengumpulan, jenis data dan sebagainya, dengan tujuan agar memudahkan peneliti tersebut untuk mengenali kembali atau mengidentifikasikan data yang telah dikumpulkan.

2)Kode dan Reduksi

Tahap kedua yaitu, melakukan proses pengkodean. Menyebutkan tahap ini sebagai inti analisis kualitatif dan mencakup identifikasi kategori- kategori dan tema-tema atau topik-topik. Pemberian kode atau label atau nama memberikan kemudahan bagi peneliti untuk melakukan kategorisasi data, dan memudahkan menemukan persamaan dan perbedaan.

3)Interprestasi dan Representasi

Interpretasi data berkenaan dengan penafsiran tentang kata atau ungkapan dan tindakan dari subjek atau partisipan dan objek. Suatu kegiatan atau

47Basrowi Dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 169.

34

proses yang bersifat induktif dan membuat kesimpulan berdasarkan hubungan dari kategori-kategori data yang telah diberi kode atau label.48

Jadi, analisis data dalam pendekatan penelitian kualitatif dilakukan dari sejak pertama kali turun ke lapangan atau observasi awal sampai berakhirnya observasi tersebut. Dalam proses analisis data ini peneliti akan menelaah seluruh data yang tersedia dari hasil teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti. Seperti halnya dari wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Apabila hasil analisis yang dilakukan peneliti belum menunjukkan kepuasan, maka peneliti mengulangi hingga diperoleh hasil analisis yang diinginkan.

7. Keabsahan Data

Untuk memperoleh data yang akurat, maka peneliti menguji keabsahan data yang ada dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.49Hal ini perlu dilakukan dalam upaya untuk memenuhi informasi yang dikemukakan oleh peneliti sehingga mengandung nilai kebenaran.

Dalam menguji validasi data atau keabsahan data yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik tentang pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai

48Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, (Jakarta:

Kencana, 2015), Cet-4, hlm.75-76.

49Sugiyono, Metode Penelitian, hlm. 268.

35

perbandingan terhadap data itu.50 Dalam hal ini peneliti menggunakan triangulasi teknik untuk menguji keabsahan data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh dari satu informan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda. Misalnya, dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan data yang diperoleh dari hasil obervasi.

H.Sistematika Pembahasan

Adapun pemaparan skripsi ini terdiri dari empat bagian, masing-masing bagian berisi pemaparan yang berbeda tetapi merupakan kelanjutan dari pemaparan pada bagian-bagian sebelumnya. Isi dari masing-masing bagian pemaparan adalah sebagai berikut:

1. Pendahuluan

A.Latar Belakang Masalah B.Rumusan Masalah C.Tujuan Penelitian

D.Ruang Lingkup dan Setting Penelitian E.Telaah Pustaka

F. Kerangka Teori G.Metode Penelitian H.Sistematika Pembahasan 2. Paparan Data dan Temuan

50Ibid, hlm.273.

36

Di bagian ini diungkapkan seluruh data dan temuan peneliti. Dalam hal ini, peneliti sebisa mungkin menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak mencampuri fakta terlebih dahulu.

Untuk judul bab paparan data dan temuan dibuat judul bab tersendiri yang merefleksikan isi bab dan tidak harus menurunkan kembali kata

“Paparan Data dan Temuan” sebagai judul bab.

3. Pembahasan

Di bagian pembahasan ini diungkapkan proses analisis terhadap temuan penelitian sebagaimana dipaparkan di bagian kedua berdasarkan pada perspektif penelitian atau kerangka teoritik sebagaimana diungkap di bagian pendahuluan. Jadi, peneliti tidak menulis ulang data-data atau temuan yang telah diungkapkan di bagian kedua.

4. Penutup A.Simpulan

Dokumen terkait