PERSPEKTIF KALIMAT EFEKTIF
B. Kehematan Kata
Kalimat efektif harus hemat dalam penggunaan kata. Hindari penggunaan kata, frasa, atau bentuk lain yang tidak perlu. Hindari pengulangan subjek.
Subjek hanya perlu disebutkan sebanyak satu kali dalam satu kalimat. Hindari kesinoniman dalam satu kalimat. Jangan menggunakan dua kata dalam satu kalimat yang maknanya sama. Hati-hati menggunakan kata jamak. Jika terdapat kata yang sudah bermakna jamak, maka tidak perlu menambahkan kata lain yang juga bermakna jamak. Mari kita simak contoh-contoh berikut.
Hadirin sekalian dimohon berdiri (Salah) Hadirin dimohon berdiri (Benar)
Dalam kehematan kata hindari pengulangan subjek, seperti di bawah ini.
Karena dia tidak diundang dia tidak datang ke tempat itu. (Salah) Karena tidak diundang dia tidak datang ke tempat itu. (Benar) Hindari kesinoniman dalam satu kalimat.
Sejak dari pagi kami menunggu bapak dosen (Salah) Sejak pagi kami menuanggu bapak dosen (Benar)
Dalam kalimat efektif terdapat kecermatan penalaran. Kecermatan penalaran artinya dalam membuat kalimat kita memperhatikan pemilihan kata agar tidak menimbulkan makna ganda.
Contoh:
Mahasiswa fakultas sastra yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat ini dapat menimbulkan tafsiran ganda. Dalam kalimat itu siapa yang terkenal, mahasiswanya yang terkenal atau fakultas sastranya yang terkenal? Agar kalimatnya efektif, tidak memiliki makna ganda, kalimat di atas bisa diubah menjadi seperti di bawah ini.
Mahasiswa terkenal itu menerima hadiah.
Gunakan bentuk di atas jika yang terkenal adalah mahasiswanya. Kata
‘fakultas sastra” dihilangkan supaya kalimatnya tidak ambigu. Kalau memang yang dimaksud dalam kalimat di atas fakultas sastranya yang terkenal, maka kalimatnya haris diubah menjadi berikut ini.
Mahasiswa dari fakultas satra yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat efektif harus memiliki kelogisan bahasa. Artinya, ide pada kalimat efektif tersebut dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Dalam keseharian kita, dalam pertemuan-pertemuan formal sering kita jumpai atau dengarkan kalimat-kalimat ganjil seperti di bawah ini.
a. Waktu dan tempat kami persilakan.
b. Jenazah peria yang menjadi korban itu sebelumnya sering mondar- mandir di sekitar sini.
Kedua kalimat di atas tidak logis karena. Tidaklah masuk akal bila kita mempersilakan waktu dan tempat. Waktu dan tempat adalah benda mati.
Pada b, hal yang mustahil jenazah bisa mondar mandir. Kalau kedua kalimat di atas diubah menjadi kalimat efektif maka kalimatnya akan menjadi:
a. Bapak Rektor (atau orang lain) kami persilakan
b. Peria yang menjadi korban itu sebelumnya sering mondar-mandir di sini.
IV HASIL DAN DISKUSI
Pada bagian ini diuraikan pengalaman baik yang penulis alami dalam proses melaksanakan penjaminan mutu, terutama terkait penjaminan mutu eksternal, yaitu pada saat pembuatan borang. Praktek baik yang dimaksud di sini adalah praktek baik dalam menarasikan borang Akreditasi Institusi Universitas Warmadewa dan borang Program Pascasarjana, khususnya dalam menarasikan borang Prodi Magister Ilmu Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Warmadewa. Fokus uraian praktek baik yang dimaksud adalah pengalaman baik pada saat menarasikan borang dengan menggunakan kalimat-kalimat efektif bahasa Indonesia. Pilihan diksi juga menjadi sasaran dalam penarasian dimaksud.
Pengalaman yang saya sampaikan pada kesempatan ini adalah pengalaman pada saat menarasikan Borang AIPT Universitas Warmadewa Tahun 2014 dan Borang Prodi Magister Ilmu Lingustik Tahun 2022. Perlu disampaikan bahwa pada saat penulisan borang AIPT Universitas Warmadewa,
penulis bertugas sebagai penarasi standar 5. Pada saat itu saya dibantu oleh Bapak Hartwan, S.E dan bapak Lodra sebagai penghimpun data. Pada saat penulisan borang Prodi Magister Ilmu Linguistik penulis ikut menjadi tim borang akreditasi yang ditugaskan di bagian penjaminan mutu. Tugas lain pada saat itu adalah saya ditunjuk sebagai editor bahasa yang digunakan dalam borang dimaksud.
Pengalaman baik yang saya uraikan berikut ini bukan tentang konten dari borang-borang dimaksud, tetapi lebih pada bagaimana membahasakannya agar mudah dipahami oleh asesor. Ada beberpa hal yang telah saya lakukan dalam penarasian borang-borang dimaksud, yaitu penggunaan ejaan, pemakaian diksi, dan peggunaan kalimat efektif.
Sebelum saya sampaikan praktek baik menarasikan borang, perlu saya uraikan bahwa pada saat Universitas Warmadewa mengikuti ass
Apa yang saya maksudkan di sini bukanlah kesombongan atas keberhasilan mempertanggungjawabkan standar 5 tersebut, tetapi saya bangga saya mampu menjelaskan, menguraikan, dan membahasakan standar 5 dengan baik. Setelah saya cermati, ternyata saya mampu mengimplementasikan penggunaan kalimat efektif bahasa Indonesia untuk standar 5 dimaksud. Pengalaman yang sejenis juga saya alami pada saat ditugasi sebagai editor borang akredaitasi Prodi Magister Ilmu Linguistik, Program Pascasarjana Universitas Warmadewa. Pada saat itu saya diminta bapak Rektor untuk memperbaiki pernyataan-pernyataan yang ada pada borang kalau ada hal-hal yang ingin diubah untuk penyempurnaan atau essment lapangan borang AIPT Tahun 2014, yaitu pada saat saya diberi tanggung jawab untuk standar 5, dan pada saat sesi presentasi dan diskusi panel tentang masing-masing standar, ada peristiwa yang sangat membanggakan yang kami alami selaku tim standar 5. Pada saat itu kami terkejut mendengar ketika asesor pertama mengatakan “Siapa yang bertanggung jawab pada standar 5?”
tanya asesor tersebut dengan lantang. “Saya pak, nama saya Nyoman Sujaya, saya dosen Fakultas Sastra” jawab saya dengan tenang. “Untuk standar 5, saya tidak ada pertanyaan, semuanya sudah jelas” katanya Kembali. “Silakan prof”
katanya sambil mempersilakan asesor lain yang duduk di sebelahnya. Kami bertambah senang dan bangga ketika asesor kedua juga tidak memberikan pertanyaan karena standar 5 telah diuraikan dengan jelas. Asesor ketiga juga mengatakan hal yang sama, yaitu tidak ada pertanyaan. Asesor keempat pun sebenarnya tidak ingin mengajukan pertanyaan prihal standar 5, tetapi biar ada saja katanya pertanyaan, lalu asesor yang keempat menanyakan satu pertanyaan yiitu tentang implementasi visi misi ke dalam kurikulum.
peningkatan nilai. Kami hanya diberi waktu sebanyak satu setengah jam utuk memperbaikinya. Pengeditan saya lakukan dengan cepat, dan saya bersyukur hampir tidak ada perbaikan.
Begitu hasil assessment lapangan Borang Akreditasi Prodi Magister Ilmu Linguistik diumumkan, seluruh civitas akademika Universitas Warmadewa merasa bahagia dan bangga karena Prodi Magister Ilmu Linguistik mendapat peringkat Unggul. Rupanya ini juga menunjukkan bahwa bukan hanya kontennya yang membuat suatu prodi mendapatkan predikat unggul, tetapi pembahasaannya juga memegang peran penting dalam menguraikan borang dimaksud sehingga isi borang tersebut mudah dipahami oleh asesor.
Memperhatikan pengalaman di atas, tampaknya ada beberapa poin sebagai praktek baik yang telah dilakukan dalam menguraikan borang akreditasi. Praktik baik yang dimaksud meliputi penggunaan kalimat efektif dalam borang yang mencakup, ejaan, pilihan diksi, dan pengimplementasian syarat kalimat efektif lainnya. Tentang hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.
4.1 To the point menjawab pertanyaan dalam borang Pertanyaan dalam borang
Jelaskan unit organisasi yang melaksanakan kegiatan pengkajian dan pengembangan sistem dan mutu pembelajaran yang menghasilkan capaian pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan lulusan yang mampu berpikir kritis, bereksplorasi, bereksperimen, dan memiliki integritas, serta pemanfaatan hasilnya
Jawaban
Unit organisasi di Unwar yang melaksanakan kegiatan pengkajian dan pengembangan sistem dan mutu pembelajaran yang menghasilkan capaian pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan lulusan yang mampu berpikir kritis, bereksplorasi, bereksperimen, dan memiliki integritas, serta pemanfaatan hasilnya adalah unit kajian dan pengembangan pembelajaran di bawah LPM. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Rektor Nomor 791/UNWAR/KP-02/2012 tentang …… (AIPT Unwar, 2014: 5.9)
Pada pertanyaan borang di atas sudah jelas yang diminta adalah unit yang melaksanakan kegiatan pengkajian dan pengembangan …… Untuk itu, maka
jawaban yang to the point atas pertanyaan di atas adalah dengan menyebutkan unit yang melaksanakan kegiatan pengkajian dan pengembangan …… adalah ……. Dalam hal ini kita tidak perlu bertele-tele menjawab pertanyaan di atas dengan mengatakan, misalnya Universitas Warmadewa dalam melaksanakan kegiatan …. Memiliki organisasi atau unit yang …… Jawaban seperti ini cenderung bertele-tele dan membosankan pembaca. Saya pikir tugas asesor adalah membaca keseluruhan borang yang kita tulis, nah kalau yang kita tulis dalam borang itu bertele-tele dan bahkan tidak jelas maknanya, tentunya pembaca akan tidak senang membacanya, informasi yang didapatpun belum tentu optimal.
4.2 Pemilihan kata yang meyakinkan
Sebelum menarasikan borang tentunya kita terlebih dahulu membaca matrik borang yang disediakan oleh BAN-PT. Usakan yang kita acu adalah matrik yang memiliki skor 4 agar nilai atau pringkat borang kita mendapat nilai atau peringkat tertinggi. Pada saat menjawab pertanyaan yang ada pada matrik, kita harus to the point memberikan jawaban, tidak perlu beretorika.
Jawablah sesuai permintaan yang ada pada matrik.
Pengalaman baik yang pernah saya lakukan pada saat menarasikan borang adalah saya selalu menggunakan kalimat yang meyakinkan, paling tidak meyakinkan asesor bahwa kita telah melakukan sesuatu yang terbaik untuk pengembangan institusi. Kata “sudah” atau “telah” merupakan kata yang ampuh dalam menarasikan borang. Tentunya keyakinan-keyakinan dimaksud harus ditunjang dengan data dan harus bisa dibuktikan. Jadi kita tidak mengada-ada. Dengan menuliskan kata-kata yang meyakinkan tersebut, paling tidak kita telah berupaya untuk yang terbaik, berupaya untuk memenuhi apa yang diminta oleh borang untuk mendapat peringkat yang tertinggi. Berikut saya kutip beberapa kalimat yang meyakinkan yang saya tulis dalam borang.
Memperhatikan Surat Keputusan Rektor yang dimaksud di atas, masing- masing program studi dan program pascasarjana di lingkungan Unwar telah secara konsekuen melaksanakan tridharma perguruan tinggi sesuai dengan amanat Surat Keputusan Rektor tersebut (SIPT,2014: 5.15)
Rupanya apa yang membuat para asesor tidak mengajukan pertanyaan terhadap standar 5 pada Borang AIPT Universitas Warmadewa pada Tahun 2014 tersebut adalah di samping kalimat yang ditulis dalam borang tersebut
sudah jelas, subjek dan predikatnya jelas, kalimatnya logis, efektif dan tidak memiliki kerancuan makna, rupanha penggunaan kata “telah” atau “sudah”
juga memegang peranan penting dalam meyakinkan asesor. “Sudah” dan
“telah” merupakan kata yang dapat memberikat penjelasan bahwa kita telah melakukan sesuatu, tentunya sesuatu yang positif. Sebaliknya, kalau kita menggunakan kata “belum” atau “akan” tentunya asesor akan ragu-ragu untuk memberikan penilaian yang terbaik.
4.3 Pengimplementasian kalimat efektif bahasa Indonesia.
Mengimplementasikan kalimat efektif berarti menerapkan kaidah-kaidah kalimat efektif. Ada beberapa syarat kalimat efektif yang sempat digunakan dalam menarasikan atau menulis borang akreditasi AIPT Universitas Warmadewa tahun 2014 dan Borang Akreditasi Prodi Magister Ilmu Linguistik tahun 2021. Syarat-syarat yang dimaksud dapat dilihat pada uraian berikut.
4.3.1 Kesepadanan struktur
Subjek dan predikat kalimat yang dituangkan dalam borang tentunya sudah jelas. Strukturnya sudah jelas dan lengkap, siapa melakukan apa, di mana dan kapan juga sudah jelas. Kalimat-kalimat yang dituangkan dalam borang sudah memenui kaidah sehingga tidak ada subjek yang rancu atau yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada data berikut.
Kurikulum yang diberlakukan di Unwar telah memiliki kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi yang memuat mata kuliah wajib, yaitu agama, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan,
……….(AIPT Unwar, 2014: 5.2)
Pada data di atas dapat kita lihat bahwa kalimat tersebut memiliki struktur yang tepat, subjek dan predikatnya jelas. Dapat kita lihat bahwa yang menjadi subjek adalah Kurikulum yang diberlakukan di Unwar, dan predikatnya adalah telah memiliki kerangka….. Dengan demikian kalimat ini telah memiliki kesatuan ide yang logis, siapa melakukan apa. Semua kalimat yang tertuang pada borang AIPT Unwar, utamanya standar 5 telah menerapkan kaidah dimaksud.
Bersyukur sekali dalam menarasikan borang syarat kaimat efektif dari segi kejelasan subjek dan predikat selalu kami penuhi. Namun untuk menguasai
kalimat efektif secara tuntas ada baiknya kita lihat contoh kalimat yang subjeknya tidak jelas. Perhatikan contoh berikut
Oleh karena itu, dengan terbitnya buku ini diharapkan dapat membantu para penyusun laporan evaluasi diri dalam rangka akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Kalau diperhatikan secara seksama, predikat kalimat di atas adalah
“diharapkan dapat membantu”. Biasanya frasa di depan predikat adalah subjek. Tetapi frasa yang mendahului predikat, yaitu “dengan terbitnya buku itu” tidak bisa berfungsi sebagai subjek kalimat karena frasa tersebut didahului oleh kata depan “dengan”. Frasa ini cenderung termasuk keterangan, dan keterangan tentunya bukan subjek. Jadi, subjek kalimat di atas tidak jelas.
Untuk menjadikan kalimat di atas efektif, maka kata depan atau preposisi
“dengan” yang mendahului kata “terbitnya” harus dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi
Oleh karena itu, terbitnya buku ini diharapkan dapat membantu para penyusun laporan evaluasi diri dalam rangka akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
4.3.2 Keparalelan bentuk
Keparalelan dalam kalimat sering mengecoh kita dalam membuat kalimat efektif. Untuk memahami syarat ini berikut disajikan contoh kalimat yang tidak paralel.
Pendidikan tinggi hendaknya berkomitmen untuk melaksanakan pendidikan yang bermutu dengan sistem pengelolaan yang berorientasi pada pemenuhan prinsip-prinsip tata kelola kelembagaan yang baik yang meliputi prinsip transparansi, akuntabilitas, kredibilitas, bertanggung jawab dan adil
Kalimat di atas tidak memiliki syarat keparelan yang tepat karena kalau kita perhatikan kata-kata yang ditebalkan, semuanya itu tidak paralel. Kata transparasi, akuntabilitas, dan kredibilitas semuanya termasuk kelas kata benda atau nomina, sedangkan bertanggung jawab adalah kata kerja atau
adjektif, dan adil termasuk kata sifat. Kata-kata tersebut tidak paralel dan ini menyalahi syarat kalimat efektif. Kami bersyukur tidak melakukan kesalahan seperti ini dalam menarasikan borang. Agar kalimatnya menjadi efektif, maka kalimat di atas bisa diubah menjadi kakimat berikut.
Pendidikan tinggi hendaknya berkomitmen untuk melaksanakan pendidikan yang bermutu dengan sistem pengelolaan yang berorientasi pada pemenuhan prinsip-prinsip tata kelola kelembagaan yang baik yang meliputi prinsip transparansi, akuntabilitas, kredibilitas, pertanggungjawaban, dan keadilan.
4.3.3 Kehematan kata
Suatu kalimat bisa dikatakan menggunakan kata yang hemat bila kalimat tersebut tidak terlalu banyak menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang tidak perlu. Kalimat seperti ini tidak melakukan pengulangan subjek, tidak mengunakan kata-kata yang bersinonim dalam satu kalimat, dan memperhatikan kata jamak.
Contoh:
Evaluasi kurikulum juga dilakukan melalui evaluasi hasil belajar yang mencakup semua ranah belajar untuk mengetahui sampai dimana mahasiswa mampu mencapai tujuan pembelajaran sehingga diketahui kesesuaian kurikulum dalam proses pembelajaran (AIPT Unwar, 2014: 5.7).
Walaupun kalimat di atas sangat Panjang, bukanlah berarti bahwa kalimat tersebut tidak hemat kata karena pada kalimat tersebut tidak mengandung pengulangan subjek ataupun menggunakan kata-kata yang bersinonim.
4.3.4 Kecermatan penalaran
Syarat kalimat efektif yang keempat adalah kecermatan penalaran.
Kecermatan penalaran memiliki fungsi yang penting karena dapat mencegah adanya makna ganda. Agar suatu kalimat dapat memiliki kecermatan penalaran, pemilihan kata dalam menyusun kalimat harus diperhatikan.
Contoh kalimat yang mengabaikan penalaran.
Mahasiswa prodi Magister Ilmu Linguistik terkenal itu menerima beasiswa
Pada kalimat di atas terdapat kerancuan, siapa yang terkenal, mahasiswanya atau prodi Magister Ilmu Linguistiknya? Kalau mahasiswanya yang terkenal maka kalimatnya semestinya menjadi “Mahasiswa yang terkenal itu menerima beasiswa”. Kalau prodinya yang terkenal maka cukup menyisipi kata “dari” di depan kata prodi.
4.3.5 Kelogisan bahasa
Praktek baik dalam mengimplementasikan syarat kalimat efektif yang menyatakan kelogisan bahasa juga sudah dilakukan dalam menarasikan borang. Yang dimaksud kelogisan bahasa dalam suatu kalimat adalah ide yang ada dalam suatu kalimat dapat diterima dan dipahami oleh akal sehat. Selain itu, kelogisan bahasa juga dapat dilihat dari cara penulisannya yang sesuai dengan ejaan yang berlaku. Kalimat seperti “Untuk bapak Rektor dipersilakan”
termasuk kalimat tidak logis karana untuk bapak rektornya yang dipersilakan.
Semestinya kalimat tersebut diubah dengan menghilangkan kata “untuk”.
Sering sekali kita dengar kalimat “Waktu dan tempat kami persilakan”.
Bagaimana mungkin benda mati seperti “waktu” dan “tempat” dipersilakan.
Kalimat seperti ini mestinya diubah menjadi “Bapak dan Ibu kami persilakana”
atau “Hadirin kami persilakan”.
V SIMPULAN
Praktik baik tentang penjaminan mutu, termasuk praktek baik penarasian borang akreditasi, memang perlu ditulis karena akan sangat bermanfaat bagi mereka yang akan membuat narasi borang atau yang lainnya. Praktek baik setidaknya bisa dipakai sebagai pembanding atau rujukan dalam menarasikan borang. Ada beberapa poin yang dapat disimak dalam praktek baik penarasian borang akreditasi. Poin-poin itu antara lain; kefokusan dalam hal menjawab pertanyaan yang ada dalam borang, pilihan kata yang dapat meyakinkan asesor, dan pengimplementasian kalimat efektif yang mampu membuat makna kalimat mudah dimengerti oleh asesor. Dalam upaya menarasikan borang, hendaknya terlebih dahulu penarasi paham dengan kalimat efektif dan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Kiranya kalimat efektif masih perlu dipelajari oleh seluruh civitas akademika karena dalam surat menyurat yang ada di internal Universitas Warmadewa masih banyak dijumpai kalimat yang tidak efektif. Masih banyak dijumpai kalimat yang tidak berkepala, kalimat yang tidak memiliki subjek.
Bahkan, banyak dijumpai kalimat yang terdiri atas keterangan saja, tidak ada
ide siapa melakukan apa. Ini berarti masih banyak yang belum paham dengan kalimat efektif. Walaupun demikian, dengan diuraikannya praktek baik penjaminan mutu, diuraikannya praktek baik penarasian borang, diharapkan ada vibrasi positif dalam pengembangan penggunaan kalimat efektif dalam penarasian borang ataupun penarasian yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arifin, E.Z. dkk (2010) Bahasa Indonesia Akademik: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Tangerang: Pustaka Mandiri.
2. Dulay, Heidi; Burt, Mariana; Krashen, Stephen, 1982. Language Two Oxford: Oxfoerd Univeersity Press.
3. Effendy. S. Dkk (2015) Tata Bahasa Dasar Bahasa Indonesia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
4. Hoerudin, C. W. dkk. (2017). Mata Kuliah Umum Pengembangan Karakter:
Bahasa Indonesia. Bandung: Semiotika.
5. Noviastuti, Lia, dkk. 2017. Tata Bahasa Indonesia Pedoman Lengkap, Mudah, dan Praktis Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Araska.
6. Putra Yadnya Ida Bagus, Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung PT Refika Aditama.
7. Quirk, Randolp, Sidney Greenbaum. 1976. A Unversity Grammar of Eng lish. Longman.
8. Quirk, et al., 1985. A Comprehensive Grammar of The English Language. New York: Longman Group Limited.
9. Tarigan, Guntur H (1997) Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta:
Depdikbud.
10. Tarigan, Guntur H. (1988). Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: