a. Adapun yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran AIR (dalam Fitryani, 2013:22-23) adalah sebagai berikut;
1. Melatih pendengaran dan keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat (Auditory).
2. Melatih siswa untuk memecahkan masalah secara kreatif (Intellectually).
3. Melatih siswa untuk mengingat kembali tentang materi yang telah dipelajari (Repetition).
4. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif.
5. Peserta didik dengan kemampuan yang tinggi akan memecahkan masalah dengan cara mereka sendiri dan peserta didik rendah menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
6. Peserta didik akan termotivasi untuk memberikan sumber atau bukti yang lengkap dari jawaban yang didapat.
b. Kekurangan
1. Membutuhkan waktu yang cukup banyak dalam setiap pertemuan tatap muka dikelas, karena model pembelajaran ini menggabungkan tiga aspek:
Auditory, Intellectually, Repetition, oleh karena itu, guru dalam setiap pertemuan harus mempertimbangkan waktu dengan cermat, agar bisa tercapai semua aspek dalam model ini.
2. Sulit bagi guru untuk menemukan masalah yang yang bermakna bagi siswa.
85
Dalam proses pembelajaran kemampuan guru dalam menentukan dan memilih model pembelajaran akan memengaruhi peserta didik dalam hal menguasai materi ajar yang diberikan guru. Seorang guru dituntut untuk dapat mengelola pengajaran yang efektif, dinamis dan efisien, sebagaimana tugas dan tanggung jawab seorang guru yang dikemukakan Rohani (2004:11):
Model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) merupakan salah satu model pembelajaran cooperative learning yang menggunakan pendekatan konstruktivis yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki oleh peserta didik. Model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) meliputi tiga aspek yaitu: Auditory (mendengar), Intellectually(berpikir), dan Repetition(pengulangan).(Sumarni, Sugiarto, & Sunarmi, 2016).
Dalam model pembelajaranAuditory Intellectualy Repetition (AIR) ini adalah model pembelajaran dimana guru sebagai fasilitator dan siswalah yang lebih aktif.
86
DAFTAR PUSTAKA
Alan, U.F. and Afriansyah, E.A., 2017. Kemampuan pemahaman matematis siswa melalui model pembelajaran auditory intellectualy repetition dan problem based learning. Jurnal Pendidikan Matematika, 11(1), pp.67-78.
Astuti, R., Yetri, Y. and Anggraini, W., 2018. Pengaruh Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Kemagnetan Kelas IX SMP N 1 Penengahan Lampung Selatan. Indonesian Journal of Science and Mathematics Education, 1(2), pp.97-108.
Fitryani, F. (2013). Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematis Antara Siswa Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) Dengan Snowball Throwing. Skripsi STKIP. Garut:
Tidak diterbitkan.
Rohani, Ahmad, 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Sumarni, Sugiarto, & Sunarmi. (2016). Implemetasi Pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR)
87
terhadap Kmampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Peserta Didik pada Materi Kubus dan Balok.
Unnes Journal of Mthemaics Education, 5(2), 109–117.
Wedyawati, N., & Lisa, N. (2017). Developing integrated natural sciences disaster mitigation model for elementary school sintang. Journal of Educational Science and Technology Volume 3Nomor 2, 164-172.
http://www.jejak-pendidikan.com/2017/03/Model-
Pembelajaran-Auditory-Intellectualy-Repetition (Air) .html
88
TENTANG PENULIS
Nama : Kristian Rumangun
Tempat Tanggal Lahir: Dian Darat, 20 Januari 1995 Alamat : Jl. Telkomas Raya Lorong 2
Status : Belum Kawin
Tinggi/berat badan : 175 cm/70 kg Nomor Handphone : 082399234022
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
SD Inpres Rahareng : 2001 - 2007 SMP Savio Katlarat : 2007 - 2010 SMA Negeri 1 Kei Kecil : 2010 - 2013 Universitas Bosowa (PGSD) : 2013 - 2017
Di tahun 2021 penulis sedang melanjutkan pendidikan strata dua (S-2) Program Studi Pendidikan Dasar di Universitas Bosowa.
89
MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIRS SHARE (TPS)
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mengubahtingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok dalam upayamendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan (Sugihartono,2007:3).
Pendidikan adalah proses pembelajaran yang dapat meningkatkankualitas sumber daya manusia. Manusia dapat mengembangkan potensidirinya serta membangun kepribadian yang baik dalam dirinya melaluipendidikan.
Salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pencapaian tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan melibatkan kegiatan belajar dan proses pembelajaran. Sebagai salah satu faktor dalam proses pelaksanaan pembelajaran, guru selalu dituntut untuk meningkatkan kualitasnya dalam pembelajaran.
Kualitas guru dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, guru dapat dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam pembelajaran.
Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku
90
sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik.
Dalam proses pembelajaran di kelas harus terus diupayakan peningkatan–peningkatan ke arah berkembangnya kemampuan siswa. Peserta didik akan menghadapi tantangan berat pada masa yang akan datang karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat.
Pembelajaran tradisional yang tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kreatif harus segera ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan-pendekatan atau metode- metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Maka dari itu, konsep pembelajaran saat ini harus berubah dari guru mengajar menjadi siswa belajar. Siswa tidak lagi diposisikan sebagai objek belajar, melainkan siswa diposisikan sebagai subjek yang belajar sesuai bakat, minat, dan kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran seperti inilah yang disebut pembelajaran berpusat kepada siswa (student centered).
Inovasi pembelajaran berasal dari kata inovasi dan pembelajaran.Inovasi berasal dari kata latin,innovation yang artinya perubahan danpembaruan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arahperbaikan atau ke arah yang berbeda dari yang sebelumnya, dan dilakukandengan sengaja dan berencana. Istilah perubahan dan pembaruan memilikiperbedaan dan persamaan. Perbedaan diantara keduanya adalah jikapembaruan terdapat unsur kesengajaan, sedangkan perubahan lebih cenderungpada unsur ketidaksengajaan. Persamaan dari pembaruan dan perubahanadalah sama-sama akan menimbulkan suatu unsur yang berbeda darisebelumnya.Salah satu cara yang dapat
91
dipakai agar mendapatkan hasil optimalseperti yang diinginkan adalah memberi tekanan dalam proses pembelajaran.Hal ini dapat dilakukan dengan memilih salah satu model pembelajaran yangtepat. Karena pemilihan model pembelajaran yang tepat pada hakikatnyamerupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar pesertadidik. Oleh karena itu, akan dibahas “Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)”.
Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakansalah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memiliki prosedursecara eksplisit sehingga model pembelajaran Think-Pair-Share dapat disosialisasikan dan digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran disekolah.
Beberapa manfaat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah peserta didik dapat berkomunikasi secara langsung oleh individu lain yangdapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatihuntuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.
Model TPS juga merupakan bentuk refleksi dari strukturalkelas yang kurang optimal. Oleh karena itu, model pembelajaran ini dapat memperbaiki struktur kelas yang baik dengan menerapkan model pembelajaran tipe Think Pair Share (TPS).
II. PEMBAHASAN