153
problem solving dalam konteks baru yang kadang- kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut.
Gambar 1 Fase Learning Cycle
E. Prosedur Penerapan Model pembelajaran Learning
154
pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa; (2) informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu; (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan proses perolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Dapat juga diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa berperan aktif untuk dapat menguasai kompetensi- kompetensi yang harus dicapai dalam tujuan pembelajaran.
Implementasi Learning Cycle (LC) dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir.
Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.
155
2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.
(Hudojo, 2001)
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri pebelajar menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pebelajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi LC dalam pembelajaran sain menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa (Budiasih dan Widarti, 2004; Fajaroh dan Dasna, 2004). Marek dan Methven (dalam Iskandar, 2005) menyatakan bahwa siswa yang gurunya mengimplementasikan LC mempunyai ketrampilan menjelaskan yang lebih baik dari pada siswa yang gurunya menerapkan metode ekspositori
Menurut Lawson (1989) dalam Bybee (1996:205) siklus belajar sains adalah satu cara berpikir dan bertindak yang cocok untuk siswa belajar. Penggunaan siklus belajar (learning cycle) memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan pengetahuan sebelumnya dan kesempatan untuk menyanggah, mendebat gagasan-gagasan mereka, proses
156
ini menghasilkan ketidakseimbangan kognitif, sehingga mengembangkan tingkat penalaran yang lebih tinggi, dan merupakan suatu pendekatan yang baik untuk pembelajaran sains.
Menurut Renner dan Marek dalam Martin (1994:202- 203) bahwa dari riset yang mereka lakukan tentang penggunaan model siklus belajar (learning cycle) pada pembelajaran ternyata hasilnya dapat meningkatkan prestasi anak-anak dan meningkatkan pengembangan keterampilan prosesnya. Mereka juga mengakui bahwa siklus belajar (learning cycle) dapat meningkatkan intelektual anak.
Bagaimanapun juga mereka menyimpulkan bahwa model siklus belajar (learning cycle) adalah suatu cara untuk membantu anak-anak menerapkan matematika, keterampilan ilmu kemasyarakatan, menginterpretasikan grafik, tabel, dan poster serta asimilasi data untuk memecahkan masalah, dan menentukan maksud atau arti kalimat. Para peneliti mengungkapkan bahwa siklus belajar (learning cycle) adalah suatu cara alami untuk belajar dan memenuhi tujuan pendidikan utama membantu anak-anak belajar bagaimana cara berpikir.
Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsepdalam konteks yang berbeda.
157
Pada tahapan pelaksanaan, model pembelajaran learning cycle mempergunakan beberapa tahapan yang nantinya akan dilalui. Inti dari kegiatan pembelajaran ini adalah siswa diberikan kesempatan untuk mengkonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang diperolehnya dari hasil diskusi bersama dengan teman-teman sekelompoknya dan selanjutnya akan digunakan untuk dipaparkan di depan teman-teman semuanya. Oleh sebab itu, model pembelajaran learning cycle ini temasuk dalam kelompok pembelajaran cooperative.
Secara garis besar peran siswa pada setiap tahapan learning cycle 5E model dapat disajikan pada Gambar :
Gambar 3 Peran siswa pada setiap tehapan
158
Pada fase engagement, siswa dituntut untuk meningkatkan rasa ingin tahu terhadap materi yang diajarkan, pada fase exploration, siswa harus mengeksplor pengetahuan yang dimiliki menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide secara berkelompok sehingga dapat melatih kerjasama, toleransi, teliti dan bertanggung jawab contohnya dengan melakukan demonstrasi. Selanjutnya pada fase explaination siswa harus memaparkan hasil diskusi sehingga melatih kepercayaan diri siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Pada fase elaborasi, siswa menerapkan konsep yang telah dimiliki pada situasi baru sehingga melatih siswa untuk berpikir kritis. Kemudian fase evaluation, evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya : evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut.
159
Tabel Perbandingan Tipe-Tipe Learning Cycle
• Deskriptif; para siswa menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi); guru memberi nama pada pola itu (pengenalan istilah atau konsep), kemudian pola itu ditentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi konsep)
• Empiris-induksi; para siswa juga menemukan pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya mengemukakan sebab yang mungkin tentang terjadinya suatu pola.
• Hipotesis deduktif; dimulai dengan pernyataan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban hipotesis- hipotesis yang mungkin pada terhadap pernyataan itu.
Pada awalnya Robert Karplus membagi model Learning Cycle ke dalam 3 fase, yaitu Eksplorasi (exploration), Pengenalan konsep (concept introduction) dan Aplikasi konsep (concept application).