F. Kelebihan dan Kekurangan
I. PENDAHULUAN
Seorang guru profesional dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi, seperti yang diamanatkan Undang- Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru sebagai penggagas perubahan di tengah masyarakat, dituntut untuk menguasai komptensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Oleh karena itu seorang guru memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran khususnya kepada peserta didik demi meningkatkan pengetahuan dan hasil pengalaman belajarnya. Sebagai agen pembelajaran guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar dan pendidik saja, tetapi harus pula memiliki kemampuan dalam memilih metode pembelajaran yang paling akomodatif dan kondusif untuk siswa sehingga siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara efektif dan efesien.
Sebagaimana yang telah dinyatakan pada ketentuan berikut, sekolah dasar merupakan salah satu jenjang pendidikan yang sangat penting untuk menuju ke tingkat pendidikan selanjutnya dan merupakan tempat dimana awal terbentuknya bibit-bibit generasi bangsa yang berkualitas (Kesumaningrum, 2016).
Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
38
(Handayaningrat, 1990). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satau pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai SMP, IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial (Maryani, 2014).
Guru sebagai ujung tombak keberhasilan dalam menyampaikan materi pembelajaran IPS kepada Siswa harus memahami betul bagaimana tugas dari seorang guru. Tidak hanya memahami tetapi juga dapat menjalankan tugas-tugas tersebut agar pembelajaran IPS di kelas menjadi efektif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh Siswa dapat terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya.
Sebab dalam proses pembelajaran aktivitas yang menonjol ada pada Siswa (Damanhuri, 2016).
Pengertian belajar tidak hanya terbatas pada usaha mendapatkan pengetahuan saja, melainkan pengetahuan mencakup aspek kepribadian, dimana orang yang belajar akan memiliki sesuatu yang sebelumnya belum dimiliki dan mengalami perubahan baik pengethuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap (Muryani, 2010).
Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling meonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Guru yang efektif adalah guru yang menemukan cara dan selalu berusaha agar anak didiknya terlibat secara tepat dalam suatu pelajaran dengan presentasi waktu belajar akademis yang tinggi dan pelajaran berjalan tanpa menggunakan teknik yang memaksa, negatif atau hukuman Soemosasmito (Trianto, 2009).
39
Inovasi pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai variasi terhadap penggunaan metode, media, model dan lain sebagainya yang mampu membantu guru dalam menyampaikan materi dengan kreatif. Berbagai variasi yang diterapkan nantinya akan memotivasi dan menarik perhatian siswa dalam pembelajaran (Lestari, 2017). Hasil belajar dari proses pembelajaran IPS pada siswa kelas III memang sudah cukup baik tetapi proses pembelajaran yang diterapkan pada siswa yang kurang optimal. Pada model pembelajaran tersebut siswa tidak memahami betul materi dan hanya menghafal pada saat sebelum tes. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan dalam proses pembelajaran diantarnyanya pemilihan dan penerapan model pembelajaaran yang tepat.
Model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas, termasuk didalamnya penyusunan kurikulum, mengatur materi, menentukan tujuan-tujuan pembelajaran, menentukan tahap- tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Hapsari Era Agni, 2017).
Salah satu pendekatan yang secara potensial memiliki kapasitas untuk mendorong para guru dan siswa melakukan pembelajaran yang efektif adalah pendekatan pembelajaran kooperatif. Menurut Depdiknas, melalui pembelajaran kooperatif siswa mampu meningkatkan kemampuan akademik, menerima segala bentuk perbedaan teman-temannya, mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Stahl (1994) “Cooperative learning dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial”.
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat bermacam-macam
40
tipe, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Jigsaw merupakan salah satu tipe metode pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Sejumlah riset telah banyak dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatifdengan dasar jigsaw (Purnamasari, 2016).
Melalui pembelajaran jigsaw diharapkan dapat memberikan solusi dan suasana baru yang menarik dalam pembelajaran sehingga memberikan konsep baru.
Pembelajaran jigsaw membawa konsep pemahaman inovatif, dan menekankan keaktifan siswa, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan memiliki banya kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Mawardi, 2011).
Model pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan “positive interdependence” dan saling pengertian diantara peserta didik (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and Snapp, 1978). Hal ini disebabkan oleh karakteristik pembentukan kelompok peserta didik memiliki tugas setara.
Model pembelajaran ini dilakukan dengan membentuk tim ahli (model tim ahli) dari beberapa kelompok sebagai fasilitator didalam kelompok asalnya.
Beberapa alasan lain yang menyebabkan metode jigsaw perlu diterapkan sebagai metode pembelajaran yaitu tidak adanya persaingan antar siswa atau kelompok. Mereka bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dalam mengatasi cara pikiran yang berbeda. Siswa dalam kelompok bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan padanya lalu mengajarkan bagian tersebut pada anggota lain. Siswa
41
juga senantiasa tidak hanya mengharapkan bantuan dari guru serta siswa termotivasi untuk belajar cepat dan akurat seluruh materi (Mawardi, 2011). Menurut Slavin (2011) pembelajaran kooperatif adalah cara bekerjasama dalam tim dengan anggota heterogen.
II. PEMBAHASAN A. Pengertian
Pengertian pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikan rupa sehingga tingkah laku siswa menjadi ke arah yang lebih baik. Metode pembelajaran kooperatif tipe jigasaw adalah pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok dan bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota kelompok lain.
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, kemudian diadaptasikan oleh Slavin dan temen-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et.al.sebagai model Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis,berbicara, ataupun mendengarkan. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemataatau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan schemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai kesempatan untuk
42
mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.
Jigsaw dalam bahasa inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebut dengan istilah puzzle.
Pembelajaran model ini seperti pola cara bekerja sebuah gergaji yaitu zigzag. Dalam model ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok lebih kecil. Kelompok- kelompok tersebut disebut kelompok asal, selanjutnya guru membagi siswa dalam kelompok belajar, jumlah kelompok tergantung pada jumlah topik yang akan dipelajari, biasanya terdiri dari empat orang siswa dan setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan sub topik yang ditugaskan oleh guru. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap sub topik yang sama kemudian membentuk kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga orang dan kelompok tersebut dinamakan kelompok ahli. Siswa-siswi ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya, setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok asalnya sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi dalam sub topik tersebut kepada anggota kelompoknya. Seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan.
Tujuan metode jigsaw adalah sebagai berikut:
a. Menyajikan metode alternatif di samping ceramah
b. Mengkaji kebergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima diantaraanggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berfikir
43
c. Menyediakan kesempatan berlatih bicara dan mendengarkan untuk melatih kognisi siswa dalam menyampaikan informasi.
Selama pelaksanaan metode jigsaw guru memantau kerja kelompok- kelompok kecil untuk mengetahui bahwa kegiatan berlangsung dengan lancar. Dalam metode ini guru juga tidak banyak menjelaskan materi kepada siswa sebagaimana yang terjadi dalam proses belajar mengajar metode konvensional. Guru hanya perlu menyiapkan garis besar materi dalam bentuk pertanyaan- pertanyaan yang akan menjadi petunjuk atau kerangka diskusi bagi kelompok ahli 27 agar diskusi dapat terfokus. Disamping itu, guru berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Dari uraian di atas, dapat dilihat kelebihan metode jigsaw, yaitu: a. Memacu siswa untuk berfikir kritis b. Memaksa siswa untuk membuat kata- kata yang tepat agar dapat menjelaskan kepada teman lain, hal ini akan membantu siswa mengembangkan kemampuan sosialnya. c. Diskusi yang terjadi tidak didominasi oleh siswa-siswa tertentu, tetapi semua siswa dituntut untuk menjadi aktif. Disamping kelebihan- kelebihan di atas, metode Jigsaw juga mempunyai kekurangan, yakni: a. Kegiatan belajar mengajarnya membutuhkan lebih banyak waktu dibanding metode ceramah b. Bagi guru, metode ini membutuhkan konsentrasi dan tenaga yang lebih ekstra, karena setiap kelompok membutuhkan penanganan berbeda-beda.
Durmus Kilic (2008: 113) menyatakan dalam
44
penelitiannya bahwa: “Teknik Jigsaw harus digunakan dalam semua fase dalam pendidikan. Pekerjaan siswa yang menggunakan teknik jigsaw harus diawasi dengan hati-hati dan staf pengajar ikut campur hanya jika dibutuhkan. Menggunakan teknik kolaborasi dalam kursus sebuah paket program dari fakultas pendidikan akan memberikan efisiensi dan kemudahan dalam mengajar pada calon pengajar”. Metode Jigsaw merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Penerapannya dalam proses belajar mengajar dapat dimodifikasi dengan model-model belajar yang lain, dengan menyesuaikan pokok bahasan yang akan dipelajari.
B. Sejarah, Tokoh dan Perkembangannya
Teknik jigsaw adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif yang pertama kali diterapkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas pada tahun 1971 dan dipublikasin tahun 1978. Pada awalnya penelitian ini dipakai untuk tujuan agar mengurangi rasa kompetisi pembelajar dan masalah ras yang terdapat di sebuah kelas yang berada di Austin, Texas. Kota texas ini termasuk mengalami masalah rasis yang sangat parah, dan itu pun memunculkan intervensi dari sekolah-sekolah untuk menghilangkan masalah tersebut. Didalam suatu kelas banyak pembelajar Amerika keturunan Afrika, keturunan Hispanik (Latin), dan pembelajar kulit putih Amerika untuk yang pertama kalinya berada dalam sebuah kelas bersama-
45
sama. Situasipun semakin memanas dan mangancam lingkungan belajar mereka.
Kemudian pada tahun 1971 Aronson dan teman- temannya menciptakan jigsaw dan mencoba untuk menerapkannya didalam kelas. Eksperimen ini terdiri dari membentuk kelompok pembelajaran (kelompok jigsaw) dimana tiap pembelajar tergantung kepada anggota kelompoknya untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk lulus dalam ujian. Tanpa memandang ras, mereka digabungkan menjadi sebuah grup dan wajib berkerjasama diantara anggotanya agar mencapai sukses akademik. Ketika dibandingkan dengan kelas tradisional dimana pembelajar-pembelajar bersaing secara individu, pembelajar-pembelajar di dalam kelas jigsaw menunjukkan diskriminasi yang lebih rendah, timbulnya rasa percaya diri, dan prestasi akademik yang meningkat. Akhirnya usaha keras Aronson dan teman-temannya berhasil dengan sukses, maka kemudian metode jigsaw ini diadaptasikan oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson dan kawan-kawannya sebagai model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, berbicara, ataupun mendengarkan. Dalam Teknik ini, guru memperhatikan schemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan schemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai kesempatan untuk mengolah
46
informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Tipe jigsaw ini menuntut siswa yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran, dan bukan gurunya.